JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 832-840 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP BUDAYA LITERASI SISWA DI MADRASAH ALIYAH AL-HIKMAH BANDAR LAMPUNG Eliza Fadila Syafitri1. Yetri2. Eni Amaliah3. Riyuzen Praja Tuala4 1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Indonesia Email: elizafadila869@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Lingkungan Sosial Budaya Literasi Siswa ABSTRAK One factor that can influence the development of a student's literacy culture is their social environment. The social environment is a system of interactions between individuals and various parties around them that can influence their attitudes, behaviors, and habits in everyday life. This study aims to analyze the influence of the social environment on studentsAo literacy culture and its contribution to literacy culture at Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung. The research employs a quantitative correlational approach. The population consisted of 323 students, with a sample of 179 students selected using cluster sampling. Data were collected through Likert-scale questionnaires, and simple linear regression was used for data analysis. The results indicate that the t-value is 12. 171, which is greater than the t-table value 973, leading to the rejection of HCA and acceptance of HCa. This finding confirms that the social environment significantly affects studentsAo literacy culture. Furthermore, the coefficient of determination (RA) is 0. 456, suggesting that the social environment contributes 45. 6% to studentsAo literacy culture, while the remaining 4% is influenced by other factors not examined in this study. ABSTRAK Salah satu faktor yang dapat memengaruhi berkembangnya budaya literasi siswa adalah lingkungan sosial di sekitar mereka. Lingkungan sosial merupakan sistem interaksi antara individu dengan berbagai pihak di sekitarnya yang dapat memengaruhi sikap, perilaku, serta kebiasaan individu dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan Literasi Sekolah dirancang melalui tiga tahapan utama, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran yang melibatkan peran guru, peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa dan kontribusi yang diberikan terhadap budaya literasi di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung yang berjumlah 323 siswa. Sampel pada penelitian ini sebanyak 179 siswa dengan teknik cluster Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner berbasis skala Likert. Untuk analisis data menggunakan metode regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan t hitung sebesar 12,171 > t tabel 1,973 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa. Sedangkan dalam uji koefisien determinasi didapatkan nilai R Square = 0,456, artinya kontribusi lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa sebesar 45,6%, sedangkan sisanya 54,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata kunci : Lingkungan Sosial. Budaya Literasi. Siswa Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung PENDAHULUAN Pendidikan abad ke-21 menuntut peserta didik tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga kemampuan literasi yang komprehensif. Literasi modern tidak lagi dipahami sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan mencakup kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, serta memahami konteks sosial dan budaya(Gee, 2. Menurut UNESCO, literasi merupakan seperangkat keterampilan dasar membaca dan menulis yang bersifat universal dan menjadi fondasi bagi pengembangan pengetahuan serta partisipasi aktif dalam masyarakat(Ismanto Didipu, 2. Oleh karena itu, literasi tidak hanya berfungsi sebagai alat akademik, tetapi juga menjadi dasar pembentukan budaya literasi, yaitu kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik(Almufariz et al. , 2. Namun, pengembangan budaya literasi di Indonesia masih menghadapi berbagai Urgensi penelitian ini didasarkan pada masih rendahnya kemampuan literasi peserta didik di Indonesia yang tercermin Data statistik dari UNESCO menunjukkan bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, yakni sekitar 0,001 yang berarti dari setiap 1. 000 penduduk hanya satu orang yang memiliki minat membaca(UN Educational, 2. Kondisi ini diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment tahun 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-68 dari 81 negara dengan skor membaca 371, matematika 379, dan sains 398, yang masih berada di bawah ratarata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development(Yusmar & Fadilah, 2. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama dalam memahami, mengolah, dan menganalisis informasi secara kritis. Sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi siswa, pemerintah Indonesia meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 pada masa kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Program ini merupakan implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang bertujuan menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis di lingkungan sekolah (Mustika, 2. Gerakan Literasi Sekolah dirancang melalui tiga tahapan utama, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran yang melibatkan peran guru, peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Namun demikian, implementasi program literasi di berbagai sekolah masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sarana pendukung, kurangnya koleksi bacaan yang memadai, serta belum optimalnya keterlibatan lingkungan sosial dalam mendukung budaya literasi siswa (Rohmadi, 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, aktivitas membaca dan menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini tercermin dalam firman Allah dalam Al-QurAoan Surah Al-AoAlaq ayat 1Ae5 yang memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar sebagai jalan memperoleh pengetahuan. Ayat tersebut menegaskan bahwa membaca merupakan langkah awal dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter Oleh karena itu, penguatan budaya literasi di kalangan peserta didik tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga nilai spiritual dan moral(Adila Farizqy Nur Rahimi. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi berkembangnya budaya literasi siswa adalah lingkungan sosial di sekitar mereka. Lingkungan sosial merupakan sistem interaksi antara individu dengan berbagai pihak di sekitarnya yang dapat memengaruhi sikap, perilaku, serta kebiasaan individu dalam kehidupan sehari-hari (Firmansyah, 2. Dalam perspektif teori ekologi perkembangan yang dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung lingkungan sosial dipahami sebagai suatu sistem lingkungan yang saling berkaitan dan tersusun secara bertingkat yang memengaruhi perkembangan individu. Sistem tersebut meliputi mikrosistem yang mencakup lingkungan terdekat seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya. eksosistem yang meliputi lingkungan yang tidak berinteraksi secara langsung tetapi tetap memberikan pengaruh, seperti kebijakan lembaga pendidikan atau lingkungan kerja orang tua. serta makrosistem yang mencakup nilai-nilai budaya, norma sosial, dan kebijakan yang berkembang dalam masyarakat(Sadownik, 2. Interaksi yang terjadi dalam berbagai sistem lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan perilaku dan kebiasaan individu, termasuk dalam menumbuhkan budaya literasi siswa(Julianti et al. , 2. Selain itu, pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar juga dijelaskan melalui teori sosiokultural yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Teori ini menekankan bahwa perkembangan kognitif individu terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain yang lebih berpengalaman, seperti guru, orang tua, maupun teman sebaya. Melalui proses interaksi tersebut, individu memperoleh bantuan atau scaffolding yang memungkinkan mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi(Tabroni et al. , 2. Dalam konteks literasi, dukungan dari lingkungan sosial sangat penting untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan membaca, menulis, serta memahami informasi secara lebih mendalam. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lingkungan belajar dan lingkungan sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan minat baca serta budaya literasi siswa. Penelitian yang dilakukan oleh (Enteding, 2. menunjukkan bahwa lingkungan sekolah berpengaruh positif terhadap minat baca peserta didik, di mana kondisi lingkungan sekolah yang kondusif dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan Penelitian lain oleh (Rofiqoh Nirwana, 2. juga menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan belajar yang mendukung berkontribusi terhadap terbentuknya budaya literasi siswa di sekolah. Selain itu, penelitian(Fitri Handayani et al. , 2. menegaskan bahwa lingkungan sosial serta perkembangan teknologi memiliki pengaruh positif terhadap minat baca siswa. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung, baik di sekolah maupun dalam lingkungan sosial siswa, dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan aktivitas literasi Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji hubungan antara lingkungan sosial dengan motivasi belajar maupun minat baca siswa, kajian yang secara khusus meneliti pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa masih relatif terbatas, khususnya pada jenjang Madrasah Aliyah. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada motivasi belajar atau minat baca, sehingga belum secara spesifik mengkaji bagaimana lingkungan sosial memengaruhi terbentuknya budaya literasi siswa secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan . dengan mengkaji secara lebih spesifik pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa pada jenjang Madrasah Aliyah, khususnya di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung yang memiliki karakteristik lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian mengenai hubungan antara lingkungan sosial dan budaya literasi siswa dalam konteks pendidikan madrasah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa berdasarkan data empiris yang diperoleh dari responden penelitian. Desain ini digunakan untuk mengkaji hubungan serta besarnya pengaruh variabel lingkungan sosial sebagai variabel independen terhadap budaya literasi siswa sebagai variabel dependen melalui analisis regresi linier Penelitian dilaksanakan di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung pada bulan September 2025 hingga Maret 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung yang berjumlah 323 siswa. Penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, sehingga diperoleh sebanyak 179 siswa sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode cluster sampling untuk memastikan keterwakilan setiap kelas dalam populasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang disusun berdasarkan skala Likert dengan rentang skor 1Ae4. Variabel lingkungan sosial diukur melalui tiga indikator, yaitu mikrosistem, eksosistem, dan makrosistem. Adapun variabel budaya literasi siswa diukur melalui tiga indikator, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji coba kepada 30 responden di luar sampel penelitian untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen. Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Product Moment, sedangkan uji reliabilitas dianalisis menggunakan koefisien CronbachAos Alpha. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak IBM SPSS 25 Statistics yang meliputi statistik deskriptif uji normalitas, uji linearitas, serta analisis regresi linier sederhana pada taraf signifikansi 0,05. Uji t digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, sedangkan koefisien determinasi (RA) digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Sebelum analisis data dilakukan, instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 25. Uji coba instrumen dilakukan pada 30 siswa yang memiliki karakteristik serupa dengan responden penelitian untuk memastikan setiap butir pernyataan mampu mengukur variabel penelitian secara tepat dan konsisten. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa pada variabel lingkungan sosial dari 25 butir pernyataan yang diuji terdapat 20 butir yang dinyatakan valid dengan nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,385Ae0,651, lebih besar dari r tabel 0,361 pada taraf signifikansi 0,05, sedangkan 5 butir tidak valid. Pada variabel budaya literasi, dari 20 butir pernyataan terdapat 18 butir valid dengan nilai koefisien korelasi 0,379Ae0,757 yang juga lebih tinggi dari r tabel 0,361, sementara 2 butir lainnya tidak valid. Uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha menunjukkan nilai 0,889 pada Variabel lingkungan sosial dan 0,903 pada variabel budaya literasi. Kedua nilai tersebut melebihi batas minimal 0,60, sehingga instrumen dinyatakan reliabel dan layak digunakan dalam penelitian. Uji Analisis Deskriptif Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung data penelitian melalui beberapa indikator, yaitu nilai minimum, nilai maksimum, nilai ratarata . , dan standar deviasi pada variabel Lingkungan Sosial dan Budaya Literasi. Hasil analisis deskriptif dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 1. 1 Hasil Deskriptive statistic Variabel Minimun Maximum Mean Lingkungan Budaya 66,14 Std. Deviation 6,757 57,03 4,268 Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa variabel lingkungan sosial (X) memiliki nilai minimum sebesar 41 dan nilai maksimum sebesar 80. Nilai rata-rata . yang diperoleh sebesar 66,14 dengan standar deviasi 6,757. Sementara itu, variabel budaya literasi (Y) memiliki nilai minimum sebesar 36 dan maksimum sebesar 68 dengan nilai ratarata sebesar 57,03 serta standar deviasi sebesar 4,268. Nilai rata-rata pada kedua variabel tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sosial maupun budaya literasi siswa berada pada kategori cukup baik. Selain itu, nilai standar deviasi yang relatif kecil menunjukkan bahwa variasi data tidak terlalu besar, sehingga penyebaran data cenderung homogen dan mendekati nilai rata-rata. Uji Prasyarat Analisis Sebelum dilakukan pengujian hipotesis melalui analisis regresi linier sederhana, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji Uji normalitas dilakukan menggunakan metode One Sample Kolmogorov Smirnov dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil pengujian menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200, yang lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 . ,200 > 0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa data residual pada variabel lingkungan sosial dan budaya literasi siswa berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji linearitas untuk mengetahui pola hubungan antara variabel lingkungan sosial sebagai variabel independen dan budaya literasi siswa sebagai variabel Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai Sig. Deviation from Linearity sebesar 0,621, yang lebih besar dari 0,05 . ,621 > 0,. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut bersifat linear. Dengan demikian, hasil uji normalitas dan linearitas menunjukkan bahwa data penelitian telah memenuhi prasyarat analisis sehingga dapat dilanjutkan pada tahap analisis regresi linier sederhana. Uji Regresi Sederhana Pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 25. Sebelum dilakukan interpretasi terhadap koefisien regresi, terlebih dahulu dilakukan uji F untuk menilai kelayakan model regresi. Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 1, yang menunjukkan kemampuan model dalam menjelaskan hubungan antara variabel lingkungan sosial dan budaya literasi siswa. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung Model Regression Tabel 1. 2 Hasil Uji F 148,137 Sig. 0,000 Berdasarkan tabel tersebut diperoleh nilai F hitung sebesar 148,137 dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian ini layak untuk menjelaskan pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya literasi siswa. Selanjutnya, dilakukan uji t untuk mengetahui pengaruh Lingkungan Sosial terhadap budaya literasi siswa. Tabel 1. 3 Hasil Uji T Variabel Std. Beta Sig. Error Constant 28,828 2,329 12,378 <0,000 Lingkungan 0, 426 0,035 0,675 12,171 <0,000 Sosial (X) Variabel dependen : Budaya Literasi (Y) Berdasarkan tabel di atas, analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya literasi siswa, dengan koefisien regresi (B) sebesar 0,426, t hitung 12,171, dan signifikansi 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas lingkungan sosial diikuti oleh peningkatan budaya literasi Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 28,828 0,426X Hasil persamaan regresi memperlihatkan bahwa Budaya Literasi siswa (Y) meningkat seiring dengan peningkatan Lingkungan Sosial (X). Tingkat signifikansi yang sangat rendah menunjukkan bahwa pengaruh ini kuat secara statistik. Dengan demikian. Lingkungan Sosial berperan penting dalam mendukung peningkatan Budaya Literasi siswa. Untuk menilai besarnya kontribusi Lingkungan Sosial dalam menjelaskan variasi Budaya Literasi, dilakukan uji koefisien determinasi (RA) dengan hasil sebagai berikut: Model Tabel 1. 4 Hasil Uji Koefisien Determinasi R Square Adjusted Std. Error R Square of the Estumate 0,675 0,456 0,453 Berdasarkan tabel tersebut, nilai RA sebesar 0,456 menunjukkan bahwa 45,6% variasi Budaya Literasi siswa dapat dijelaskan oleh Lingkungan Sosial, sedangkan 54,4% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa Lingkungan Sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk Budaya Literasi siswa. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap budaya literasi siswa. Analisis regresi linier sederhana menghasilkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,. dan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,456, yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial memberikan kontribusi sebesar 45,6% terhadap budaya literasi siswa, sedangkan sisanya sebesar 54,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Temuan ini menegaskan bahwa lingkungan sosial yang positif, baik pada tingkat makrosistem, eksosistem, maupun mikrosistem, dapat mendorong siswa mengembangkan kebiasaan membaca, menulis, serta memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sosial . ocial environmen. merupakan lingkungan yang terbentuk melalui interaksi individu dengan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekolah yang memengaruhi perkembangan individu (Mahmudah et al. , 2. Sementara itu, budaya literasi dipahami sebagai kebiasaan membaca, menulis, serta memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari siswa (Rofiqoh Nirwana, 2. Lingkungan sosial yang kondusif dapat mendorong terbentuknya kebiasaan literasi melalui interaksi sosial yang dialami Secara teoretis, temuan ini sejalan dengan teori sosiokultural Lev Vygotsky, yang menjelaskan bahwa perkembangan kognitif individu terbentuk melalui interaksi sosial dan pengaruh lingkungan budaya. Menurut (Tabroni et al. , 2. , kemampuan individu berkembang melalui proses internalisasi nilai, norma, dan praktik sosial yang diperoleh melalui bahasa, simbol, serta aktivitas sosial. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding menunjukkan bahwa dukungan lingkungan sosial membantu individu mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Temuan penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya. (Enteding, 2. menemukan bahwa lingkungan sekolah berpengaruh positif terhadap minat baca siswa, sedangkan (Rofiqoh Nirwana, 2. menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan belajar berkontribusi terhadap terbentuknya budaya literasi siswa. (Fitri Handayani et al. menambahkan bahwa lingkungan sosial dan perkembangan teknologi berpengaruh positif terhadap minat baca siswa. Temuan ini menegaskan bahwa lingkungan di sekitar siswa, baik sekolah, keluarga, maupun masyarakat, memiliki peran penting dalam meningkatkan aktivitas literasi. Secara praktis, pengembangan budaya literasi siswa memerlukan dukungan lingkungan yang kondusif dari sekolah, keluarga, dan masyarakat, melalui program membaca rutin, penyediaan pojok bacaan di kelas, kegiatan diskusi dan penulisan yang melibatkan siswa secara aktif, serta kebiasaan membaca yang ditumbuhkan di rumah dan didukung oleh lingkungan sosial di masyarakat. Keterbatasan penelitian ini meliputi sampel yang terbatas pada satu sekolah, penggunaan instrumen yang mengandalkan data berdasarkan persepsi responden yang berpotensi menimbulkan bias jawaban, serta belum mencakup analisis terhadap faktor-faktor lain yang memengaruhi budaya literasi siswa. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dianjurkan untuk memperluas sampel dan menambahkan variabel lain guna memperoleh hasil yang lebih menyeluruh dan dapat digeneralisasikan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa lingkungan sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk budaya literasi siswa. Lingkungan sekolah yang kondusif, keluarga yang mendukung, serta partisipasi masyarakat dapat mendorong siswa mengembangkan kebiasaan membaca, menulis, dan memanfaatkan informasi secara aktif, sehingga budaya literasi dapat terbentuk secara berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pendidikan di era modern. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Budaya Literasi Siswa Di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap budaya literasi siswa di Madrasah Aliyah Al-Hikmah Bandar Lampung. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis regresi linier sederhana yang menunjukkan nilai t hitung sebesar 12,171 > t tabel 1,973, serta nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,456. Artinya, 45,6% variasi budaya literasi siswa dapat dijelaskan oleh lingkungan sosial, sedangkan sisanya 54,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa AuLingkungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap budaya literasi siswaAy dinyatakan diterima. Temuan ini menegaskan pentingnya peran lingkungan sosial dalam mendukung pengembangan budaya literasi siswa secara berkelanjutan. REFERENSI