Jurnal Jendela Inovasi Daerah Badan Perencanaan Pembangunan. Riset dan Inovasi Daerah Kota Magelang E-ISSN: 2621-8739 http://jurnal. Volume Vi No. Magelang. Februari 2025. Hal. Jurnal Inovasi Daerah. Volume II No 1. Magelang. Maret 2019. Hal. PENYEBAB DAN DAMPAK PENURUNAN KOGNITIF PADA KUALITAS HIDUP LANSIA Ganesha Syalom Lintang Panggayuh . Zakia Putri Junio. Sachiko Aqila Naila Ismail . Suparmi . Universitas Sebelas Maret e-mail: ganeshasyalom@student. ABSTRAK Penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada lansia ditandai dengan munculnya tanda -tanda dan gejala berupa gangguan memori, perubahan persepsi, masalah dalam berkomunikasi, penurunan fokus dan perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab serta menganalisis dampak penurunan kognitif terhadap kualitas hidup lansia d engan pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara fungsi kognitif dan kualitas hidup. Penelitian ini dilakukan dengan literature review, yaitu dengan mencari artikel yang relevan dengan topik penelitian dan bersumber dari berbagai sumber artikel yang diterbitkan sepuluh tahun terakhir dan didapat pada aplikasi publish or perish. Data diperoleh dari google scholar dengan mendapat 7 artikel yang sesuai dengan tema penelitian. Penelitian ini mengidentifikasi lansia berusia Ou60 tahun yang mengalami penurunan kognitif, dengan pengecualian bagi mereka yang memiliki gangguan komunikasi berat sehingga tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Analisis data kemudian digabungkan dengan narasi untuk membuat kesimpulan yang menjawab tujuan penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa penurunan kognitif pada lansia berpengaruh pada kualitas hidup lansia yang menyebabkan ketergantungan terhadap orang lain. Penurunan fungsi kognitif biasanya diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu usia, faktor pendidikan, dan faktor kesehatan. Kata Kunci: Kualitas Hidup. Lansia. Penurunan Kognitif. ABSTRACT The decline in cognitive function in the elderly is known by the appearance of signs and symptoms in the form of memory impairment, changes in perception, problems in communicating, and decreased focus and attention. This study aims to identify causal factors and analyze the impact of cognitive decline on the quality of life of the elderly. With a better understanding of the relationship between cognitive function and quality of life. This research was conducted by conducting a literature review by searching for articles relevant to the research topic and sourcing from various sources of articles published in the last ten years obtained in the publish or perish application. Data was obtained from Google Scholar by getting 7 articles that match the research theme. This stud y identified elderly aged Ou60 years who experienced cognitive decline, except those with severe communication impairment who were unable to provide the required information. Data analysis was then combined with narrative to create a report that answered th e research objectives. That cognitive decline in the elderly affects the quality of life of the elderly which causes dependence on Decreased cognitive function is usually caused by several factors, namely age, education factors, and health factors. Keywords: Quality of Life. Elderly. Cognitive Impairment. PENDAHULUAN Seiring bertambahnya usia, sistem dalam tubuh mengalami perubahan fungsi secara bertahap. Masa lanjut usia . adalah masa terakhir dalam siklus Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. kehidupan manusia. Seseorang bisa disebut sebagai lansia apabila berumur 65 tahun ke atas. Saat terjadinya proses penuaan terdapat penurunan fungsi pada lansia, penurunan, termasuk penurunan fungsi kognitifnya. Dimensi kognitif yang dapat mengalami penurunan fungsi saat terjadi proses penuaan adalah kecepatan serta ketepatan dari proses berfikir yang berkaitan dengan penggunaan panca indra, atensi sensori motorik serta visual fungsi perbedaan, perbandingan dan kategorisasi (Santrock, 2. Defisit kognitif pada lansia merupakan kondisi yang sangat umum terjadi dan meningkat seiring bertambahnya usia. Secara global, prevalensi demensia diperkirakan mempengaruhi 1,8% individu berusia 60-an, 5,1% individu berusia 70-an, 15,1% individu berusia 80-an, dan 35,7% individu berusia 90-an. Lanjut usia . bukanlah masalah kesehatan, melainkan suatu tahap lebih lanjut dalam dinamika kehidupan yang ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh beradaptasi terhadap tekanan lingkungan (Efendi & Makhfudli, 2. Kualitas hidup lansia adalah pandangan mengenai kondisi lanjut usia . yang memperlihatkan kehidupan untuk merenungi perjalanan hidup dan siap meninggal dengan keadaan damai (Kathiravellu, 2. Akdag et al. , . berpendapat bahwa kognitif mampu mempengaruhi kualitas hidup lansia karena kerusakan pada kognitif sehingga dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya usia di mana adanya perubahan pada fungsi otak yang dialami lansia yaitu kesulitan dalam mengingat kembali atau mudah lupa . ejala ringa. (Agustia. Sabrian. & Woferst, 2. Karakteristik lansia mengenai kualitas hidup yang baik yaitu mempunyai kondisi organ tubuh yang optimal saat menjalankan kegiatan sehari hari secara mandiri dan mempunyai fungsi kognitif yang masih baik penilaian tentang kualitas hidup lansia dengan gangguan kognitif perlu di lakukan untuk mengetahui sejauh apa gangguan kognitif memperngaruhi kualitas hidup pada masalah yang seringkali dialami oleh lansia yakni menurunnya fungsi kognitif. Fungsi kognitif adalah proses di mana semua syaraf sensori . isual, taktil dan dan auditori. akan diubah, diolah, disimpan, dan selanjutnya digunakan untuk menghubungkan interneuron dengan prima sehingga seseorang bisa melakukan pemikiran terhadap syaraf sensori tersebut (Akhmad dkk, 2. Terdapat tiga jenis penurunan kognitif yang biasanya terjadi pada lanjut Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. yaitu delirium, demensia dan gangguan amnestik Gopalkrishnan et al. Penurunan kognitif pada lansia, yang biasanya disebut pikun oleh masyarakat Indonesia, apabila berkelanjutan akan dapat menyebabkan demensia atau alzheimer. Demensia adalah penurunan daya ingat dengan mengganti cara berpikir, sedangkan alzheimer diikuti penurunan kemampuan bicara berkomunikasi dan perubahan perilaku. Kondisi alzheimer tidak bisa disembuhkan tetapi bisa Penyebab generik demensia terkait menggunakan morbiditas, mortalitas, kecatatan dan ketergantungan yang menyebabkan penurunan dan kelangsungan hidup. Penurunan kognitif berlanjut bisa mengakibatkan tekanan demensia di mana semakin bertambah usia, maka semakin tinggi juga demensianya (Kawakami. Iga. Takahasi. Lin. , & Fujishiro. , 2. Pada bidang medis telah mengembangkan pelaksanaan berbasis web untuk pencegahan melalui memindai otak menggunakan struktural dua dimensi dan tiga dimensi bisa membantu pasien dan dokter dalam mengidentifikasi (Helaly. Badawy. Haikal. , 2. Penurunan fungsi kognitif pada lansia akan ditandai dengan munculnya Gejala yang dimaksud yaitu mudah lupa, yang merupakan bentuk gangguan kognitif yang paling ringan yang sering dialami oleh lansia, dan diperkirakan sekitar 39% lansia yang berusia 50-59 tahun mengalami masalah ini. Angka ini meningkat menjadi lebih dari 85% pada lansia yang berusia di atas 80 tahun. Meskipun demikian, pada fase ini lansia masih dapat beraktivitas secara normal meskipun mulai mengalami kesulitan dalam mengingat informasi yang telah Jika populasi lansia di Indonesia yang berusia lebih dari 60 tahun mencapai 7% dari total penduduk, maka sekitar 3% dari populasi tersebut mengalami keluhan mudah lupa. Gejala tersebut dapat berkembang menjadi kognitif ringan (MILD Cognitive Impairment/MCI) demensia, yang merupakan bentuk gangguan kognitif paling serius dari gangguan kognitif (Wreksoatmodjo,2010 dalam Yeni, 2. Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Penurunan fungsi kognitif dapat terjadi karena disebabkan oleh faktor usia dan penurunan aktivitas fisik lansia. Penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada lansia ditandai dengan adanya indikasi atau tanda-tanda seperti perubahan presepsi, gangguan memori kasus pada berkomunikasi, penurunan fokus dan perhatian. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya usia lansia yang menyebabkan perubahan dalam anatomi, misalnya menyusutnya otak dan perubahan biokimiawi dalam System Saraf Pusat (SSP) lansia dengan gangguan atau kemunduran kognitif yang progresif akan mengalami perubahan dalam kehidupanya. Perubahan tersebut antara lain perubahan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan akitivitas sehariharinya yang akan mulai bergantung dengan alat bantu atau bergantung dengan orang lain. Hal ini berlawanan dengan teori aktivitas yang berpendapat bahwa orang tua akan merasa lebih bahagia dan puas jika mereka tetap aktif secara fisik dan sosial (Neugarten. Havighurst & Tobin, 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab serta menganalisis dampak penurunan kognitif terhadap kualitas hidup lansia dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara fungsi kognitif dan kualitas METODE Metode yang di terapkan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka atau literatur review. Proses penelitian dilakukan dengan cara mencari artikel yang relevan dengan topik penelitian. Literatur review ini menggunakan artikel ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2012-2024, yang bisa di akses di google scholar dengan kata kunci Aufungsi kognitifAu dan Aulanjut usiaAy. Dengan kata kunci tersebut terdapat 7 artikel yang sesuai dengan tema penelitian. Proses pengumpulan data ini melibatkan pembacaan dan peninjauan literatur yang ada untuk menemukan penelitian yang berkaitan. Analisis data kemudian digabungkan dengan narasi untuk membuat hasil dan pembahasan yang menjawab tujuan penelitian. Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan literatur yang telah diperoleh menunjukan bahwa penurunan fungsi kognitif pada lansia memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup mereka. Fungsi kognitif mencakup beberapa aspek mentalitas seperti perhatian, berbicara, daya ingat, serta proses berpikir. Lansia yang mengalami gangguan atau penurunan kognitif secara tersruktur menyebabkan terjadinya perubahan pada hidup lansia. Perubahan yang dimaksud adalah berubah dalam menjalankan kehidupan dan aktivitas sehari-hari yang menyebabkan adanya ketergantungan pada orang lain atau alat bantu. Berdasarkan data yang diperoleh ketergantungan terhadap orang lain, sehingga hal ini akan berdampak terhadap perubahan dalam hidup dan aktivitas lansia. Tabel 1. Hasil dari Lieratur Review 7 Artikel Kata Kunci Penulis. Tahun DOI Metode Hasil Aktivitas Fisik. GPPAQ. Kognitif. Lanjut Usia. MMSE Oktafiana Safita Nisa. Arief Wahyudi Jadmoko https://doi. 23917/bik. Penelitian Deskriptif Penelitian menunjukan terdapat intensitas aktivitas fisik lansia dan fungsi Responden fisik kurang aktif mengalami gangguan fungsi kognitif yang Lansia. Fungsi Kognitif. MoCA-Ina Muhammad Dirga Isawra. Dyan Roshinta Laksmi Dewi. Syarifah Nurul Yanti R. Penelitian Deskriptif Dari penelitian yang sebagian besar lansia Diantara semua itu didapatkan pendidikan tamat SD, riwayat sakit berat yaitu DM tipe 2 dan Lansia Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Kata Kunci Penulis. Tahun DOI Metode Lanjut Usia. Fungsi Kognitif. Kualitas Hidup Latifah Susilowati. Umi Istianah Penelitian Kuantitatif Senam Vitalisasi Otak. Fungsi Kognitif. Lansia Tri Nugroho. Fuji Pratiwi. Penelitian Kuantitatif Nia Kurniawati. Abdurrahman Berbudi BL. Ditta Rizqi Mumpuni . Penelitian Kuantitatif Hasil bawasannya mereka secara fisik . lahraga Penelitian menghasilkan, dari seluruh responden kognitifnya normal kognitif yang ringan dan berat. Penelitian menghasilkan, semua lansia menunjukan adanya kemungkinan dilakukannya senam Setelah pelaksanaan besar orang lanjut fungsi kognitifnya. Terdapat perbedaan yang signifikan pada fungsi kognitif antara kondisi sebelum dan sesudah melakukan senam vitalisasi otak. Hasil menunjukan bahwa fungsi kognitif yang keseimbangan baik 60% dan sisanya keseimbangan yang Hanya Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Kata Kunci Penulis. Tahun DOI Metode Aktivitas Fisik. Fungsi Kognitif. Lansia Sopiyah Nutwati. Asep Novi Taufik. Rizaluddin Akbar https://doi. 32534/ply. Penelitian Kuantitatif Lanjut Usia. Fungsi Kognitif Fadilah Aisyah Nurusman . Penelitian Kuantitatif Hasil keseimbangan baik, sedangkan sebagian keseimbangan yang Penelitian menunjukan bahwa aktivitas fisik rendah mengalami gangguan Sementara sebagian responden mengalami gangguan responden 29 orang. Berdasarkan penelitian, ditemukan tertinggi lansia yang mengalami gangguan kognitif berada pada kategori lansia 90 tahun, dengan jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir tidak pernah bekerja, sakit stoke, tidak mengetahui silsilah , lansia di Panti Werda A dan Panti Werda D, serta mengalami ingatan daerah yang paling Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Penurunan Fungsi Kognitif Fungsi kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk memperhatikan, berpikir, memahami, belajar, mengingat, memecahkan masalah, dan membuat Penurunan fungsi kognitif lebih sering terjadi pada orang lanjut usia . dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penurunan ini antara lain usia, pendidikan, dan kesehatan. Untuk menilai fungsi kognitif terdapat dua tes yang umum digunakan yaitu MMSE (Mini Mental State Examinatio. dan MOCA-INA (Montreal Cognitive Assessment versi Indonesi. Saat menggunakan tes ini, penting untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien serta tingkat pendidikan mereka. Penurunan fungsi kognitif dapat disebabkan oleh faktor bawaan atau Selain itu, bertambahnya usia atau penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi fungsi kognitif. Kerusakan pada bagian tertentu pada otak, seperti grey matter yang mencakup korteks, thalamus, dan ganglia basalis, atau white matter yang terdiri atas selubung akson, dapat menyebabkan berbagai jenis penurunan fungsi kognitif. Biasanya, area yang paling terpengaruh meliputi kecepatan pemrosesan fungsi eksekutif. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan fungsi kognitif. Apabila semakin rendah aktivitas fisik pada lansia, maka semakin besar risiko mereka mengalami penurunan fungsi kognitif. Dan sebaliknya, semakin tinggi aktivitas fisik pada lansia, maka semakin kecil risiko mereka mengalami penurunan fungsi kognitif. Penelitian oleh Effendi . menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga fungsi kognitif. Kualitas Hidup Kualitas hidup merupakan di mana seseorang dapat merasakan dan menikmati berbagai peristiwa dalam hidupnya, hidupnya menjadi sejahtera. Menurut Hardiwinoto, kesejahteraan merupakan salah satu indikator utama dari kualitas hidup yang baik bagi orang lanjut usia, sehingga mereka dapat menikmati masa tua mereka. WHOQOL Group menjelaskan bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh kesehatan fisik, kesehatan mental, hubungan sosial. Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. dan lingkungan sekitar. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, orang lanjut usia akan menghadapi berbagai masalah yang dapat mengurangi kualitas hidup mereka. Untuk mencapai kualitas hidup yang optimal, lansia perlu menjaga, merawat, dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Melakukan aktivitas fisik, kognitif, serta kegiatan sosial dan spiritual secara rutin sangat penting bagi Penilaian terhadap kualitas hidup lansia yang mengalami gangguan kognitif juga perlu dilakukan untuk memahami seberapa besar pengaruh gangguan tersebut terhadap kehidupan mereka. Dengan memantau perubahan dalam kualitas meningkatkan kualitas hidup lansia. Usia Penelitian menunjukan bahwa usia adalah faktor risiko utama dalam penurunan fungsi kognitif. Penurunan kognitif pada lansia yang di sebabkan oleh faktor usia merupakan fenomena yang umum terjadi seiring bertambahnya tahun, di mana proses penuaan membawa perubahan signifikan dalam struktur dan fungsi Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan jumlah neuron dan koneksi sniaptik yang mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi baru dan mengingat informasi lama. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori penuaan Wear and Tear. Teori Wear and Tear menyatakan bahwa sel dalam tubuh manusia akan mengalami kerusakan jaringan apabila dipakai secara terus menerus dengan seiring bertambahnya usia (Mashithoh, 2. Dampak dari penurunan ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari lansia, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan, meningkatkan risiko depresi dan isolasi sosial (Mardiana & Sugiharto, 2. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang hubungan antara usia dan penurunan kognitif sangat penting untuk merancang intervensi yang efektif dalam menjaga kesehatan mental dan kognitif lansia. Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Pendidikan Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukan bahwa semakin rendah mengalami penurunan kemampuan kognitif saat lanjut usia. Hal ini dikarenakan pendidikan tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga melatih otak untuk berpikir dan memecahkan masalah secara aktif. Kurangnya stimulasi intelektual akibat dari pendidikan yang rendah dapat berdampak buruk pada kesehatan kognitif Studi menemukan bahwa orang yang putus sekolah pada usia rendah akan mengalami penurunan kognitif yang signifikan dibandingkan orang yang menyelesaikan pendidikan lebih lanjut. Hal ini menunjukan pendidikan yang lebih lama dan lebih tinggi dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan Kegitan ringan seperti membaca, menggunakan internet, dan berinteraksi sosial akan dapat membantu menjaga kesehatan otak dan mencegah penurunan Pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan kemampuan otak yang lebih baik dalam menghadapi penyakit degeneratif saraf dan gangguan pembuluh Orang berpendidikan lebih tinggi cenderung memiliki otak yang lebih berat dan lebih mampu mengatasi penurunan fungsi kognitif yang sering terjadi seiring bertambahnya usia (Larasati, 2. Ngandu . berpendapat bahwa pendidikan yang tinggi dapat melindungi seseorang dari demensia. Mengutip Paddick dkk. dari Murray et al berpendapat bahwa pendidikan berperan penting dalam membangun cadangan kognitif. Proses belajar yang lebih lama dapat merangsang otak untuk membentuk koneksi saraf yang lebih kuat dan kompleks, sehingga otak yang memiliki cadangan kognitif lebih tinggi dapat berfungsi lebih baik meskipun mengalami kerusakan karena penyakit seperti demensia. Faktor Kesehatan Penurunan fungsi kognitif merupakan penyakit tertentu yang menunjukkan adanya masalah dalam kemampuan berpikir dan memahami. Penurunan fungsi kognitif akan cenderung menjadi demensia atau pikun. Deteksi dini sangat diperlukan untuk menemukan gejala awal demensia pada lansia. Sayangnya, akses Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. informasi tentang demensia termasuk gejala, penyebab, dan faktor risikonya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, diperlukan adanya penyuluhan dan deteksi dini demensia yang harus dilakukan oleh tenaga medis. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar tentang demensia dan hasil deteksi dini tentang demensia, serta cara mengatasi atau meminimalisir demensia. Di banyak negara Asia, masih sedikit orang yang menyadari hubungan antara hipertensi dan gangguan fungsi kognitif atau Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang dapat merusak organ tubuh, termasuk otak. Penurunan fungsi kognitif bisa menjadi tanda adanya kerusakan di otak. Selain itu, tekanan darah dalam jangka waktu 24 jam dapat berkaitan dengan gangguan kognitif seperti silent cerebral infarct atau white matter lessions, yang dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia. Hipertensi yang muncul di usia muda juga dapat mempengaruhi gangguan fungsi kognitif di masa Cara Mengatasi Penurunan Kognitif Lansia Otak merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pusat kendali tubuh Selain itu, otak adalah organ yang berfungsi sebagai pusat berpikir Menyadari betapa pentingnya otak dalam tubuh manusia, maka otak memerlukan sebuah perawatan. Perawatan otak dapat dilakukan dengan cara menjaga keselarasan gerak dan pernapasan, juga melakukan aktivitas yang melibatkan fungsi kognitif seperti visual, imajinasi, dan emosi. Aktivitas seperti olahraga atau senam dapat meningkatkan kekuatan dan efesiensi gerak, serta melatih daya ingat. Aktivitas senam untuk lansia harus mempertimbangkan kondisi fisik individu agar tidak terjadi cidera. Senam otak dapat menjadi pilihan yang tepat karena tidak memerlukan banyak energi. Senam otak merupakan serangkaian aktivitas yang sederhana, dirancang untuk mengoordinasikan fungsi otak melalui keterampilan gerak (Dennison et al. Siti Maryam, 2008 . Anggriyana dan Atikah, 2. Selain senam otak, bermain puzzel juga dapat menjadi aktivitas untuk merawat otak. Puzzel berfungsi untuk permainan edukatif guna melatih kecepatan berpikir dan ketarampilan Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. Kegiatan tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kognitif Berdasarkan penelitian di Wisma Melati, lansia yang mengalami penurunan fungsi kognitif jarang melakukan senam otak dan tidak bermain puzzel sebab kondisi fisiknya yang menurun. Kombinasi senam otak dan terapi puzzel dapat menstimulasi otak, meningkatkan fungsi kognitif, menjernihkan pikiran, daya ingat, semangat, kreativitas dan dapat mengurangi stress pada lansia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Desilia . yang menyatakan bahwa senam vitalisasi otak dapat meningkatkan fungsi kognitif lansia. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penurunan kognitif pada lansia berdampak pada kualitas hidup mereka yang mengakibatkan Penurunan disebabkan oleh banyak faktor seperti usia, tingkat pendidikan, kondisi kesehatan dengan semakin bertambahnya usia, dan proses penuaan yang menyebabkan perubahan struktur dan fungsi otak. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam Faktor berpengaruh pada penurunan fungsi kognitif lansia, semakin tinggi pendidikan seseorang maka dapat memberikan manfaat jangka panjang pada kesehatan otak, sehingga semakin kecil kemungkinan mereka mengalami penurunan kognitif. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami penurunan kemampuan kognitif saat lanjut usia. Selain itu, faktor kesehatan pada lansia juga menjadi faktor penting yang dapat menyebabkan penurunan kognitif. Penyakit hipertensi dan diabetes merupakan penyakit yang memiliki risiko tinggi yang dapat merusak otak. Lansia dapat melakukan perawatan otak dengan cara senam otak dan bermain puzzel. Saran yang dapat disampaikan kepada peneliti selanjutnya adalah sebaiknya dapat melakukan penelitian serupa menggunakan metode yang berbeda agar dapat digunakan sebagai pembanding dari hasil penelitian Bila diperlukan, peneliti selanjutnya juga dapat melakukan wawancara secara langsung kepada lansia dan tenaga medis. Jurnal Jendela Inovasi Daerah,E-ISSN:2621-8739,Vol. Vi No. 1,Februari 2025,Hal. DAFTAR PUSTAKA