AL-HUDA JURNAL PENDIDIKAN DASAR Penerbit: Prodi Pendidikan Guru MI STAI Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: P-ISSN: https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alhuda/index UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PELAJARAN IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD KELAS IV SDN BRAJAN KECAMATAN KASIHAN BANTUL 1Muhamad Ikhwan Nugraha 1Universitas PGRI Yogyakarta Email: Ikhwannugraha21@gmail. ARTICLE HISTORY Received: Juni 2025 Revised: Agustus 2025 Accepted: September 2025 Abstract: Penggunaan metode yang sering digunakan guru adalah metode ceramah kurang memberikan atau membentuk sikap aktif dalam diri siswa, karena metode ceramah hanya berpusat pada guru, oleh karena itu metode ceramah menimbulkan suasana kebosanan dan kebosanan dalam lingkungan belajar. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPA yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai alternative guna meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. Prosedur dalam pelaksanaan pembelajaran IPA yaitu melalui empat tahap yang pertama Perencanaan, kedua Pelaksanaan Tindakan, ketiga Observasi, dan keempat Refleksi. Penelitian ini dilakukan pada sisiwa Kelas IV SDN Brajan pada tahun ajaran 2022/2023 pada semester II . Hasil belajar kognitif pada mata pelajaran IPA yang diperoleh siswa dari pemeberian tes dan observasi pada semester II . Tahun Ajaran 2022/2023 ini meningkat menjadi 72,73% dari hasil belajar kognitif Berdasarkan hasil analisis hasil data tersebut, maka disimpulkan bahwa pada semester II 2022/2023 hasil belajar kognitif IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IV SDN Brajan meningkat, yang dapat dilihat pada nilai ketuntasan belajar klasikal yaitu 72,73% dimana KBK adalah 65% lebih dari nilai yang Keywords: Hasil Belajar Kognitif IPA, model pembelajaran kooperatif tipe STAD. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 65 A. PENDAHULUAN Sekolah adalah lembaga pendidikan yang diciptakan untuk pembelajaran siswa . di bawah bimbingan guru . untuk membentuk siswa . sehingga mereka dapat maju setelah belajar. Sagala . 6: . mengatakan bahwa sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan suatu sistem tempat berlangsungnya pembelajaran dan memiliki berbagai perangkat, unsur-unsur yang saling berhubungan seperti guru dan siswa. Sekolah menjadi lembaga pendidikan formal secara sistematis membentuk lingkungan yang berbeda, yaitu. pendidikan yang menawarkan siswa kesempatan yang berbeda untuk melakukan kegiatan belajar yang berbeda. Kesempatan belajar yang berbeda membimbing dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan siswa menuju cita-citanya. Lingkungan disusun dan ditata sebagai kurikulum, yang selanjutnya diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran Hamalik . Arifin . menyatakan bahwa sekolah adalah lembaga yang terorganisasi dengan baik dan merupakan wadah pembentukan karakter . haracter formatio. dan lingkungan yang mampu menanamkan pemahaman dan budi pekerti hidup sehat . ara hidup seha. Pola hidup sehat dan lingkungan pendidikan yang sehat bagi siswa harus diterapkan dan itu menjadi tujuan penyelenggaraan kesehatan sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memegang peranan penting. Menurut Sonhadji . , upaya yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas manusia adalah pendidikan. Sehingga lingkungan dan segala aktivitas-aktivitas siswa terkait dengan lingkungan pendidikan yang sehat Sekolah harus baik, aman dan bermutu untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui pendidikan yaitu sekolah. Sekolah yang dimaksud dalam konteks ini adalah Sekolah Dasar yang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 Pasal 17 dinyatakan merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Berdasarkan undang-undang tersebut, peran sekolah dasar menjadi pendidikan formal yang sangat penting dan strategis yang diterima siswa sebagai dasar untuk menempuh pendidikan lebih lanjut, yaitu sebagai pemberi pengaruh pada jenjang sekolah menengah atas (SMP) dan pendidikan lanjutan. Sonhadji . 4: . Sekolah dasar bisa disebut sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, terutama untuk mengatasi perkembangan teknologi yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dipraktikkan di sekolah kita. Peningkatan mutu pendidikan sangat penting untuk mengantisipasi Perkembangan teknologi tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan alam (IPA). Ilmu pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara belajar tentang alam secara sistematis, sehingga IPA tidak hanya mengatur suatu tubuh pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip, tetapi juga tentang proses penemuan. IPA diharapkan dapat menjadi alat bagi siswa untuk belajar tentang diri dan lingkungannya, serta peluang pengembangan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan keahlian, sehingga lingkungan alam dapat dipelajari dan dipahami secara ilmiah Trianto . AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 66 Pembelajaran Ilmiah (IPA) adalah ilmu yang mempelajari fenomena alam melalui pengamatan, percobaan, kesimpulan, penciptaan teori agar siswa mengetahui informasi. Menurut Trianto . , dalam pembelajaran IPA, siswa diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi siswa dengan teori melalui percobaan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Pembelajaran IPA sekolah dasar menekankan pengembangan pengalaman langsung sehingga siswa dapat memahami lingkungan alam melalui AumengeksplorasiAy dan AumelakukanAy yang membantu siswa memperdalam pemahamannya. Kebutuhan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sekolah dasar (IPA) tidak lepas dari peran guru dalam menentukan keberhasilan akademik siswa dalam penggunaan model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran mata pelajaran yang sebenarnya. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat membuat siswa mencapai hasil belajar yang tinggi dan mengembangkan potensi yang tersimpan dalam diri siswa, sehingga siswa lebih termotivasi untuk mempelajari mata pelajaran IPA dan tidak menganggap pelajaran IPA sebagai pelajaran yang membosankan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 26 Mei 2023 pukul 07. 30 dengan guru kelas IV SD Negeri Brajan, guru menerapkan dan menggunakan pengajaran tradisional yaitu guru selalu menggunakan ceramah. metode Pembelajaran seperti ini membuat siswa kurang berani mengemukakan pendapat, lebih pendiam dan ragu-ragu, serta melemahkan hasil belajar kognitif siswa dibandingkan KKM. Metode ceramah kurang memberikan atau membentuk sikap aktif dalam diri siswa, karena metode ceramah hanya berpusat pada guru, oleh karena itu metode ceramah menimbulkan suasana kebosanan dan kebosanan dalam lingkungan belajar. Hasil diskusi siswa mengungkapkan bahwa siswa tidak puas dengan pelajaran IPA karena prakteknya kurang dan membaca tidak menarik. Selain itu, siswa kurang begitu jelas saat guru menjelaskan dan menerangkan materi karena materi yang disajikan kurang menarik. Hasil belajar kognitif adalah pola perilaku yang terjadi pada ranah berpikir. Pembelajaran kognitif meliputi kegiatan menerima stimulus eksternal oleh sensori, menyimpan dan mengolahnya sebagai informasi di otak, dan mengembalikan informasi tersebut bila diperlukan untuk memecahkan masalah. Dalam hubungan dengan suatu pelajaran, ranah kognitif memainkan peran paling penting. Tujuan utama pengajaran biasanya untuk meningkatkan keterampilan kognitif siswa Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan hasil belajar kognitif siswa, diperlukan strategi yang dapat membantu siswa aktif dan fokus dalam belajar. Peserta didik dapat langsung berpartisipasi dalam perolehan pengetahuan dan mengulangi hasil dari pengetahuan tersimpan yang diperoleh sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Salah satu alternatif model pembelajaran yang ingin peneliti terapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisio. Model pembelajaran STAD merupakan metode pembelajaran kolaboratif yang paling sederhana dan model terbaik untuk guru pemula yang hanya menggunakan pendekatan kolaboratif. Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Slavin ini merupakan tipe kolaboratif yang menekankan aktivitas dan interaksi siswa untuk memotivasi dan saling membantu mencapai hasil yang maksimal dalam penguasaan mata pelajaran. Sehingga model pembelajaran ini dapat AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 67 meningkatkan kepekaan, daya pikir, kreativitas, pemahaman, inovasi, bahkan interaksi sosial antara siswa dan guru untuk saling menghargai, menghargai, berpendapat, kerjasama dan lain-lain (Suhartati, 2010: . Berdasarkan pemaparan diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalahAuApakah penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar kognitif IPA siswa kelas IV SD?Ay tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar kognitif pembelajaran IPS kelas IV SD. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian menggunakan model kooperatif STAD dengan subjek siswa kelas IV SD pada mata pelajaran IPA untuk mengetahui hasil belajar kognitif. METODE PENELITIAN Metode dalam penelitian ini menggunakan metode jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Setyaningsih. Dwiyanti, & Budiarti . menyatakan bahwa Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan . ction researc. yang dilakukan oleh seorang guru di dalam kelas untuk memecahkan suatu masalah sampai masalah tersebut terpecahkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan, karena peneliti berada di sekolah dari awal hingga akhir penelitian, menganalisis situasi dan melihat kesenjangan, kemudian menyiapkan rencana tindakan dan berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran dan pemantauan rencana tersebut. Pelaksanaan penelitian di Sekolah dasar SD Negeri Brajan. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IV dengan jumlah peserta didik sebanyak 11 siswa yang terdiri dari 4 laki-laki dan 7 perempuan. Prosedur penelitian tindakan kelas dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, berdasarkan siklus pertama apabila terdapat kendala atau kesenjangan maka dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya. Prosedur dalam pelaksanaan pembelajaran IPA yaitu pertama perencanaan yang dimana dalam penelitian ini perencanaannya yaitu dengan menyiapkan media pembelajaran dan sumber belajar, menyusun lembar kerja siswa (LKS) dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kedua, yaitu pelaksanaan tindakan yang dimana selama pembelajaran guru mengajar sesuai dengan RPP yang dibuat menggunakan pendekatan kooperatif STAD. Kelompok yang dibentuk meliputi siswa yang heterogen sesuai dengan kemampuannya, yang ditentukan oleh nilai dasar siswa. Ketiga, yaitu tahap observasi yang dimana observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan sumber yang telah disiapkan. Dengan mengumpulkan informasi dan observasi juga dibuat untuk mengetahui apakah perkembangan siswa ada dalam proses pembelajaran atau tidak. Terakhir yaitu tahap refleksi, yang dimana pada tahap ini peneliti mengamati dan mempelajari hasil kegiatan siklus I. Berdasarkan hasil evaluasi, dijelaskan hasil belajar siswa pada siklus I, kemudian dipikirkan solusi yang lebih efektif yang sesuai dengan karakteristik siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada IPA. Ukuran alternatif ini diterapkan menjadi tindakan baru pada rencana tindakan dalam penelitian tindakan kelas siklus II. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 68 Indikator yang ingin ditingkatkan atau dicapai pada penelitian ini yaitu meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada pelajaran IPA menggunakan metode kooperatif STAD. Teknik pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan observasi langsung, catatan dan tes. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tes untuk mengukur kemampuan kognitif atau kemampuan belajar siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi hasil penelitian tindaan kelas yang berjudul AuMeningkatkan Hasil Belajar Kognitif Pelajaran IPA Melalui Model Pembelajaran Kooperatif STAD Kelas IV SDAy. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data tes untuk mengukur ketertarikan siswa terhadap metode STAD dan hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran IPA. Observasi yang dilakukan peneliti. Siswa dikatakan tuntas belajar secara individu jika presentase daya secara individu minimal 60% Ketuntasan Belajar klasikal OcycA (KBK) = OcycI ycu 100% Keterangan OcN = Jumlah siswa yang tuntas OcS = Jumlah siswa seluruhnya KBK = Ketuntasan belajar klasikal Suatu kelas dikatakan tuntas jika presentase klasikal siswa yang dicapai 65% Data hasil aktivitas siswa dan guru diperoleh melalui lembar observasi yang dianalisis dalam bentuk presentase yang dihitung dalam menggunakan rumus. yaycycoycoycaEa ycIycoycuyc ycEyceycycuycoyceEaycaycu Presantase nilai rata-rata (NR) ycu 100% ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco 90 % O ycAycI O 100 % ycIycaycuyciycayc yaAycaycnyco 80 % O ycAycI O 90 % yaAycaycnyco 70 % O ycAycI O 80 % yaycycoycycy 60 % O ycAycI O 70 % yaycycycaycuyci 0 % O ycAycI O 60 % ycIycaycuyciycayc yaycycycaycug Adapun hasil peneliti yang di peroleh oleh siswa dalam lembar observasi adalah pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai hasil yang diperoleh dalam lembar observasi Nama dan Sangat Jenis Setuju Netral Kurang Tidak Setuju Setuju Aa Tdk Kelamin Rafa (L) Farel (L) Geo (L) Aa Aa AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 69 Amar (L) Aa Meisya (P) Aa Dini (P) Tasya (P) Aa Tata (P) Aa Naila (P) Amira (P) Aa Ayu (P) Aa Jumlah Aa Aa Jumlah siswa yang tuntas : 8 siswa dari 11 siswa Tuntas secara klasikal : 11 ycu 100% = 72,73% Tingkat ketuntasan klasikal murid SD Negeri Brajan kelas IV adalah 72,73%, maka dengan hasil yang diperoleh ketuntasan belajar klasikal sangat baik dan mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan yaitu 65%. Bahkan dalam ketuntasan belajar pada tahun 2022/2023 pada kelas IV semester II meningkat menjadi 72,73% dan kriteria pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD dinyatakan sangat baik dan cukup berhasil, dan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai yang diperoleh dalam lembar observasi KETUNTASAN JUMLAH PRESENTASE Tuntas 8 Orang 72,73% Tidak Tuntas 3 Orang 27,27% JUMLAH 11 Orang Jelas terlihat bahwa dari hasil observasi siswa, terdapat siswa yang menyukai metode pembelajaran kooperatif STAD. Peningkatan hasil belajar yang kooperatif pada siswa sangat baik, dimana diperoleh ketuntasan presentase observasi hasil belajar siswa rata-rata 72,73% dari jumlah presentase ketuntasan yang dicapai 65% sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) lebih dari atau sama dengan 65% pada SD Negeri Brajan kelas IV. Berdasarkan hasil nilai rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 8 dari 11 siswa. Data tersebut sangat terlihat jelas bahwa peningkatan siswa mengalami peningkatan lebih baik di banding sebelum menggunakan metode kooperatif STAD pada pembelajaran IPA di kelas IV SD. Perbedaan peningkatan hasil belajar IPA dapat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman siswa dalam menguasai materi yang diajarkan. Dimana pada saat sebelum observasi siswa sama sekali tidak mempelajari tentang materi penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya, sehingga hasil belajar siswa meningkat setelah mempelajari materi tersebut. Perbedaan hasil belajar IPA yang dicapai siswa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 70 mengikuti pembelajaran dengan metode tradisional tidak lepas dari peran tahap metode pembelajaran ditetapkan. Jika siswa diharapkan mau bekerja sama dalam metode pembelajaran kooperatif STAD, maka dengan bekerja sama siswa akan lebih mudah memahami materi, karen belajar bersama teman sebaya dan di bawah bimbingan guru merupakan proses penerimaan dan pemahaman siswa lebih mudah dan cepat untuk dipelajari. Materi IPA yang diajarkan dalam penelitian ini adalah penggolongan hewan berdasarkan jenis makannya. Pada bagian inti kehiatan belajar - mengajar siswa dilatih untuk lebih mudah menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD lebih aktif dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara langsung dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dengan pemberian tugas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data penelitian, maka penelitian ini disimpulkan terjadi peningkatan, hal ini dapat diketahui melalui perhitungan klasikal ketuntasan 72,73% sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran secara langsung. Kepada Guru kiranya dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan mudah untuk dimengerti seperti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam kegiatan pembelajaran sebagai alternatif model pembelajaran dan model ini dapat diterapkan disekolah dasar terutama dikelas atas karena kooperatif tipe STAD yang paling sederhana diantara model pembelajaran lain. REFERENSI