Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 ANALISIS KESIAPAN BELAJAR SISWA KELAS IV DENGAN KURIKULUM MERDEKA Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali. Bangli. Indonesia Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali. Bangli. Indonesia Sekolah Dasar Negeri 1 Menanga. Karangasem. Indonesia nnilasantika@gmail. com1, suantara. wayan07@gmail. com2, ,sriyanthi005@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajar yang menggunakan sistem kurikulum merdeka . Jenis metode yang digunakan adalah deskriftif kualitatif . Populasi dalam penelitian ini adalah kelas IV SD yang berjumblah 32 orang. Data kesiapan belajar siswa diproleh melalui hasil observasi dan melalui teks lisan oleh karena itu Agar siswa mampu memahami pembelajaran dengan baik maka siswa harus meningkatkan kesiapan belajar yaitu pada kondisi fisik,mental, kebutuhan dan pengetahuan yang baik demi tercapainya tujuan kesiapan pembelajaran. Hasil dari penelitian inimenunjukkan rata-rata kesiapan belajar siswa melalui angket adalah nilai kategori AuKurangAy sebanyak 20 siswa dengan persentase 90/32%, sedangkan nilai kategori AuCukupAy sebanyak 11 siswa dengan persentase 9,67%. Kata Kunci : kesiapan belajar siswa Kurikulum Merdeka Abstract This study aims to determine student learning readiness in following the learning process using an independent curriculum system. the type of method used is a qualitative the population in this study was the fourth grade elementary school which amounted to thirty two people. data on student learning readiness is obtained through observations and through oral texts. Therefore, in order for students to be able to understand learning readiness well, students must improve learning readiness, namely in physical, mental conditions as well as needs and knowledge in order to achieve the objectives of learning The results of this study showed that the average student learning readiness through the questionnaire was the value of the "Less" category of 20 students with a percentage of 90/32%, while the value of the "Enough" category was 11 students with a percentage of 9. Key words : student Aoreadiness for independent curriculum PENDAHULUAN Untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan berusaha untuk mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang dewasa, bertanggung jawab, lebih pandai dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yang dapat dilihat dari perubahan diri peserta Siswa mengalami perubahan perilaku serta perubahan fisik. Perubahan fisik dapat Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 diamati pada perubahan biologis siswa, perubahan tingkah laku yang bergantung pada jenjang pendidikan dan selalu meningkat, serta perkembangan keterampilan dalam berbagai bidang sebagai akibat kegiatan organisasi di lingkungannya. Karena modifikasi yang diinginkan akan menjadi tujuan akhir proses, perubahan ini mewakili tindakan pembelajaran yang diinginkan (Mulyani, 2. Belajar adalah rangkaian proses yang rumit yang mencakup perubahan perilaku, pengetahuan, kemampuan, dan sikap seseorang, serta semua elemen kehidupannya seharihari (Sasmita, 2. Penyimpanan informasi berlangsung selama proses tersebut, dan informasi yang disimpan secara kognitif kemudian diwujudkan dalam keterampilan praktis untuk mewujudkan perilaku siswa dalam menanggapi peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Thobroni, 2. Menurut Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan mengembangkan potensi peserta didik adalah untuk menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakal budi luhur, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, berkembang menjadi warga negara yang demokratis, dan menunjukkan kepekaan terhadap isu-isu kontemporer. Untuk memberikan jawaban yang benar, siswa tentunya harus memiliki pengetahuan dari membaca dan mempelajari mata pelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Siswa yang siap belajar dari guru akan berusaha untuk bereaksi terhadap pertanyaan yang telah disajikan oleh guru. Namun, dalam hal ini, siswa kurang memiliki sarana atau referensi belajar yang membuat mereka kurang siap untuk belajar (Abdillah, 2. Menurut Djamarah dalam (Kurniasih Nila, 2. , kesiapsiagaan belajar harus dipahami dalam artian psikis dan materil disamping kesiapan dalam artian fisik. Kesiapan fisik dapat dilihat dari kondisi tubuh yang sehat dan bugar, kesiapan psikis dapat dilihat dari adanya keinginan untuk belajar, mampu berkonsentrasi, dan adanya motivasi intrinsik, sedangkan kesiapan material dapat dilihat dari adanya keinginan untuk belajar. dipelajari atau dikerjakan dalam bentuk buku teks, catatan pelajaran, modul. Slameto . menawarkan perspektif yang berbeda, menyatakan bahwa kesiapan adalah keadaan umum seseorang yang mempersiapkannya untuk bereaksi atau menanggapi dengan cara tertentu terhadap peristiwa tertentu. Keadaan khusus yang dimaksud adalah keadaan psikologis dan fisik yang paling memungkinkan untuk mendorong Kurikulum berfungsi sebagai peta jalan untuk mempraktekkan pendidikan serta alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum bangsa saat ini berfungsi sebagai cerminan falsafah hidup bangsa, membantu membentuk arah dan detail cara hidup tersebut. Menurut Sanjaya . , kurikulum direncanakan dan dibuat untuk memenuhi tujuan pendidikan, termasuk mendidik anak didik agar berfungsi dalam masyarakat. Atas dasar itu, kurikulum perlu diperbaharui untuk mencerminkan perkembangan zaman. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan telah mengalami sebelas kali pergantian kurikulum, terhitung sejak Sedangkan kurikulum baru hanyalah penyempurnaan dari kurikulum lama. Setiap perubahan tunduk pada kebijakan pihak yang bertanggung jawab atas sistem pendidikan Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak tahun 2019, pemerintah telah melaksanakan program kemandirian belajar di semua lini pendidikan formal melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, membawa revolusi pendidikan di tingkat SD. SMP, dan SMA. Memberikan kesempatan belajar yang sebebas dan senyaman mungkin kepada peserta didik atau anak didik untuk belajar dengan tenang, santai, dan ceria tanpa stress atau tekanan dengan tetap memperhatikan kemampuan alamiah yang telah dimilikinya tanpa memaksanya untuk belajar atau menguasai suatu pengetahuan yang melampaui minat dan keterampilan mereka sehingga setiap orang memiliki portofolio yang mencerminkan siapa mereka dan di mana mereka berada. Adalah salah dan tidak mungkin bagi seorang guru yang cerdas untuk memberikan tanggung jawab Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 kepada siswa yang berada di luar kemampuan mereka. Hal ini sebanding dengan seorang murid buta yang diminta oleh gurunya untuk menggambarkan seekor kerbau kepada temanteman sekelasnya. Kebebasan untuk belajar mirip dengan kebebasan untuk berpikir. Tentu saja, guru pertama-tama harus memiliki esensi dari kebebasan pikiran ini. Tidak mungkin hal itu terjadi pada siswa jika tidak terjadi pada guru. Tingkat kesiapan belajar siswa sangat bervariasi di sekolah. yang tingkat kesiapan belajarnya tinggi mencapai hasil belajar yang tinggi, sedangkan yang tingkat kesiapan belajarnya rendah mencapai hasil belajar yang rendah. Namun, ada juga siswa yang tingkat kesiapan belajarnya tinggi dan rendah. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuAnalisis Kesiapan Belajar Siswa Kelas IV dengan Kurikulum MandiriAy berdasarkan uraian di atas. METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan merupakan bagian dari penelitian deskritif kualitatif. Responden merupakan peserta didik kelas IV yang berjumblah 32 orang,yang dilakukan di SDN 1 Menanga. Desa Menanga. Kecamatan Rendang. Kabupaten Karangasem, dengan jangka waktu dari awal agustus sampai akhir bulan Nopember. Metode penelitian ini merupakan prosedur atau langkah-langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau Penelitian ini menggunakan metode kualititaf karena metode ini menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan cara pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik komunikasi/observasi langsung berupa teks lisan. Subjek dipakai pada penelitian ini yaitu siswa kelas IV. Observasi kepada siswa dilkakukan melalui pengamatan langsung di kelas. Intrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Intrumen pendukung yang digunakan adalah pedoman wawancara, angket, lembar pencatatan dokumen,dan lembar pencatat harian. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesiapan merupakan kondisi awal dari suatu kegiatan belajar yang membuat seseorang siap untuk memberi respon atau jawaban pada diri siswa itu sendiri dengan cara tertentu terhadap suatu kondisi dalam mencapai suatu tujuan daam hal ini,kesiapan belajar siswa kesiapan belajar siswa merupakan salah satu kegiatan awal yang harus dimiliki siswa sebelum memulai pembelajaran demi mengoftimalkan tujuan-tujuan mereka dalam belajar, melipti: kondisi fisik merupakan kesiapan kondisi tubuh jasmani seseorang untuk mengikuti kegiatan belajar. Mental , merupakan keadaan siswa yang berhubungan dengan kecerdasan Emosional merupakan kemampuan siswa untuk mengatur emosional dalam menghadapi masalah, ketika kegiatan belajar dimulai maka seharusnya siswa dapat berkonsentrasi terhadap apa yang telah disampaikan oleh guru mereka. Pengetahuan merupakan suatu kondisi mana siswa dapat menyerap stimulus dari guru ketika disekolah dan juga siswa dapat memahami walapun sudah diluar sekolah. kebutuhan,merupakan suatu rasa membutuhkan terhadapmateri yang diajarkan dalam hal ini ,kebutuhan merupakan rasa yang sangat penting bagi siswa untuk selalu merasa bahwa setiap pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam kesiapan belajar ini mengenai kondisi fisik siswa dapat mengontrol waktu merekan ketika dirumah baik dari segi menjaga pola makan,menjaga waktu dalam beristirahat demi kesehatan tubuh mereka. Belajar adalah suatu aktifitas mental atau pisikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. berubahan ini bersifat relative konstan dan berbekas. Siswa ada yang sakit dan ada yang sehat, sesuai hasil wawancara pada indikator kondisi fisik, karena ada siswa yang pergi ke sekolah untuk sarapan dan ada yang tidak, sesuai keterangan guru mata pelajaran dan keterangan beberapa siswa yang ditanya apakah Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 mereka sarapan di sekolah dan beberapa siswa yang tidak. Kemampuan mendengar siswa baik, tetapi beberapa kesulitan untuk melihat apa yang ditulis guru di papan tulis dengan jelas dari sudut pandang visual. Dapat disimpulkan dari keadaan mental bahwa jika ada materi yang tidak mereka pahami, mereka lebih suka bertanya kepada teman sekelas atau teman yang lebih mengerti materi tersebut, bahkan ada beberapa siswa yang lebih memilih diam daripada bertanya kepada temannya. atau guru yang menjelaskan pelajaran hari itu. Mayoritas siswa secara emosional senang belajar, dan mereka berkeinginan untuk mengerjakan ulangan harian dengan baik yang diberikan pada akhir pelajaran ini. Dari segi indikator kebutuhan, anak merasa harus mengikuti pelajaran tanpa ada Kebutuhan ini terlihat dari kehadiran siswa di sekolah, karena sebagian besar siswa datang tepat waktu hampir setiap hari, namun masih ada beberapa yang datang terlambat. Selain itu, pada indikator pengetahuan, kita dapat melihat bahwa siswa menggunakan LKS dan buku siswa sebagai bahan atau referensi pembelajaran. Selain itu, beberapa siswa mencari sumber atau referensi lain secara online menggunakan mesin pencari seperti Google, sementara yang lain mencari buku teks lain yang tersedia. Meskipun mereka memiliki akses ke materi pelajaran mereka, beberapa siswa memilih untuk membatasi penelitian mereka pada LKS dan buku teks siswa mereka. Berdasarkan pengamatan penulis, temuan menunjukkan bahwa semua siswa yang mengikuti proses pembelajaran dalam keadaan sehat jasmani, utuh jasmani atau tidak memiliki cacat jasmani. Mereka juga memiliki pendengaran yang baik, namun beberapa siswa memiliki penglihatan yang buruk sehingga sulit bagi mereka untuk melihat apa yang guru tulis di papan tulis selama proses pembelajaran. Penulis memperhatikan bahwa anak-anak tertentu secara mental tidak siap untuk mempelajari kurikulum merdekadikarenakan kondisi mental mereka belum siap. Telah dibuktikan bahwa ketika seorang guru mengajukan pertanyaan, tidak ada siswa yang berani menjawabnya secara individu. Sebaliknya, kelas akan menjadi riuh ketika semua orang merespons secara kolektif, bahkan jika guru menyatakan hal itu akan menghasilkan nilai mereka masing-masing merespons secara individual setelah itu. Selanjutnya jika ada materi pembelajaran yang belum diketahuinya, siswa akan bertanya kepada temannya dan jika belum mendapatkan jawaban yang sesuai maka akan bertanya lagi kepada teman yang lain sehingga membuat kelas menjadi gaduh. Berdasarkan hasil angket dapat diketahui bahwa dari 31 responden atau mahasiswa yang mengisi angket tersebut. Skor rata-rata adalah 68, dengan 32 sebagai yang terendah. Nilai masing-masing siswa diperoleh sebelum dilakukan pengelompokan menurut kategori. Nilai kategori AuKurangAy sebanyak 20 siswa dengan persentase 90/32%, sedangkan nilai kategori AuCukupAy sebanyak 11 siswa dengan persentase 9,67%. Kategori "Baik" dan "Sangat Baik" menerima 0%. Hal ini menunjukkan perlunya meningkatkan semangat belajar siswa, dan dimaksudkan agar instruktur dapat memanfaatkan secara maksimal sumber belajar yang ada untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi kurikulum belajar mandiri. Data hasil belajar siswa kelas IV pada keadaan awal disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Deskripsi Statistik Hasil Belajar Kondisi Awal Range Minimum Maksimum Mean 65,63 Dari tabel 1. Tampak bahwa dari hasil belajar dari jumlah siswa 31 pada mata pelajaran IPAS kondisi awal nilai terendah yang diproleh siswa adalah 65 sedangkan nilai Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 tertinggi yaitu 86. Nilai rata-ratanya adalah 70,08 dengan rentang nilai 60. Dibahwah ini disajikan daftar distribusi hasil belajar siswa pada kondisi awal. Katagori Sangat tinggi Tabel 2. Distribusi hasil belajar siswa kondisi awal Rentang Nilai Jumlah siswa Persentase Tinggi 8,57% Sedang 31,41% Rendah 45,71% Jumlah Tuntas Tidak Tuntas Hasil belajar siswa pada kondisi akhir, ketika hasil belajar mengalami peningkatan ditunjukkan pada tabel di atas. Skor rata-rata 70, skor terendah 65, dan skor tertinggi 89. Angka ini naik 15% menjadi 40%. Akibatnya, hasil survei kesiapan belajar siswa menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang perlu berbuat lebih banyak untuk bersiap-siap Agar anak-anak mencapai nilai terbaik, bimbingan harus diulang. Demikian pula orang tua harus memperhatikan kesiapan anaknya dalam hal menyiapkan buku, perlengkapan sekolah, dan barang-barang lainnya agar ketika tiba di sekolah benar-benar siap mengikuti proses pembelajaran. Jika orang tua tidak memperhatikan anaknya sebelum masuk sekolah, otomatis anak akan kurang bisa menyiapkan bahan-bahan untuk sekolah. Meskipun kesiapan belajar sangat penting untuk membantu proses pembelajaran dan memberikan hasil yang berhasil dalam pembelajaran, namun kesiapan belajar siswa kelas IV menunjukkan bahwa kesiapan belajar siswa secara keseluruhan masih belum sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah Siswa yang siap untuk belajar dari guru akan berusaha untuk menanggapi secara positif pertanyaan atau arahan mereka selama proses pembelajaran. Menurut derajat kesiapan masing-masing siswa, siswa yang siap akan mencapai tujuan pembelajaran (Slameto, 2. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian Bujuri . yang menemukan bahwa semakin besar prestasi belajar maka kesiapan belajar siswa semakin baik, begitu pula sebaliknya semakin rendah prestasi belajar maka semakin rendah kesiapan belajar siswa. Karena semua sudah direncanakan sesuai dengan apa yang akan dipelajari, maka siswa yang memiliki tingkat kesiapan belajar yang tinggi dalam belajarnya akan lebih baik karena hasil belajar yang diterimanya juga akan baik. Siswa yang tidak siap belajar akan terlihat dari tindakannya yang kurang baik karena tidak memperhatikan pelajaran. Siswa pertama-tama harus membuat diri mereka siap untuk belajar agar dapat menerima instruksi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyani . bahwa peserta didik cenderung menunjukkan tingkat prestasi belajar yang tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang tidak siap belajar. Kesiapan belajar merupakan prasyarat dari kegiatan belajar itu sendiri, sebagaimana penelitian Budiman dari tahun 2017. tanpa kesiapan atau kemauan tersebut, proses pembelajaran tidak akan berlangsung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Effendi . yang memperoleh kuesioner dengan persentase 76,02% dalam kategori cukup secara statistik tidak berbeda dengan penelitian ini. dimana beliau melakukan penelitian untuk mengetahui keterkaitan antara hasil belajar fisika siswa dengan persiapan siswa untuk belajar. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 KESIMPULAN Persiapan merupakan kondisi awal dari suatu kegiatan belajar yang membuat seseorang siap untuk memberi respon atau jawaban pada diri siswa itu sendiri dengan cara tertentu terhadap suatu kondisi dalam mencapai suatu tujuan daam hal ini,kesiapan belajar siswa kesiapan belajar siswa merupakan salah satu kegiatan awal yang harus dimiliki siswa sebelum memulai pembelajaran demi mengoftimalkan tujuan-tujuan mereka dalam belajar,melipti: kondisi fisik merupakan kesiapan kondisi tubuh jasmani seseorang untuk mengikuti kegiatan belajar. Kesiapan belajar siswa mengenai motivasi siswa dapat merasakan bahwa pembelajaran bukan beban bagi mereka melainkan suatu kesenangan bagi mereka untuk mencapai cita-cita mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara mereka belajar ketika di kelas yaitu selalu terlihat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Kesiapan belajar siswa mengenai tujuan yang dimiliki siswa dapat merencanakan dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin mereka capai melalui kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti Kesiapan belajar siswa mengenai keterampilan yang dimiliki diharapkan siswa dapat menginterpretasikan atau mengungkapkan pendapat mereka ketika ditanya oleh guru serta mereka dapat menyusun ringkasan-ringkasan materi yang mereka anggap penting tanpa harus diperintah oleh guru jadi siswa harus mempersiapkan diri dalam mengikuti pembelajaran dan harus siap dalam pembelajaran apapun. demikian hasil kesiapan belajar siswa bahwa ada berberpa siswa masih rendah dalam menyiapkan pembelajarandan harus di berikan bimbingan lagi agar siswa mampu mendapatkan nilai yang terbaik. begitu pula kesiapan siswa dalam menyiapkan buku,peralatan sekolah dan yang lainya harus diperhatikan oleh orang tua agar sampai kesekolah dia benar-benar siap dalam mengikuti pembelajaran tersebut,jika orang tua tidak memperhatikan anaknya sebelum kesekolah otomatis anak itu kurang mampu dalam menyiapkan peraklatan kesekolah dan mentalnya akan kurang baik jika di asah dalam pembelajaran tersebut. DAFTAR RUJUKAN Abdillah. Pengaruh Kesiapan Belajar terhadap Hasil Pembelajaran Bahasa Arab Kajian Kitab Ibnu Aqil di Kelas Alfiyyah II Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah Yogyakarta Tahun akademik 2014/2015. Skripsi, 26-52. Bajuri. Pengaruh Motivasi Belajar dan Kesiapan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Geografi SMA Swadhipa. Lampung: Universitas Lampung. Skripsi, 56-57 Effendi, . Hubungan Readiness (Kesiapa. Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X Smk Muhammadiyah 03 Sukaraja. Jurnal Pendidikan Fisika, 5. , 110. Kurniasih. Pengaruh Readiness dan Self Confidence terhadap Penguasaan Geometri Transformasi Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo. Beta, 9. , 1-14 Mulyani. Hubungan Kesiapan Belajar Siswa dengan Prestasi Belajar. Konselor Sanjaya. Pembelajaran dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana. Sasmita. Pengaruh Kesiapan Belajar. Disiplin Belajar Dan Manajemen Waktu Terhadap Motivasi Belajar Mata Diklat Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan Pada Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran Di Smk Negeri 2 Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Nila Santika1. I Wayan Suantara2. Ni Kadek Sri Aryanthi3 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 Semarang. Semarang: UNS. Skripsi, 150-156. Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Citpa. Thobroni. Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media. Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka