Ad-Daqqoq: Journal of Religion and Social Movement Vol. 1 Issue 2, 2025 DOI: XX. x/x E-ISSN: x-x From Falak to Fiqh Muamalah: Deconstructing the Socio-Economic Movement of KH. Sholeh Darat as a Counter-Hegemony Strategy Against Colonialism Maulana MasAoudi 1. Dwi Jaka Anandika Kutsi2. Agiel Laksamana Putera3 Universitas Muhammadiyah Surabaya12. Ahlul Bayt International University3 1maulanam@um-surabaya. id, 2dwijaka86@gmail. com, 3agillaksamana26@gmail. Abstract Article History Received: 19-05-2025 Reviced: 28-06-2025 Accepted: 20-07-2025 This study aims to deconstruct the socio-economic movement of KH. Sholeh Darat . , a Javanese cleric and anti-colonial figure, by analyzing his integrative approach in combining Islamic theology, contextual jurisprudence . , and cultural politics as a form of counter-hegemony against Dutch colonial economic and Keywords: cultural penetration. Using a qualitative historical-philosophical KH. Sholeh Darat. Counter-Hegemony. Islamic Economics. Colonialism. Local Wisdom approach, this research analyzes primary data from KH. Sholeh Darat's works, especially Majmu'at al-Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam and Faid al-Rahman, through content analysis and critical The findings reveal that KH. Sholeh Darat developed a threefold empowerment strategy: . contextualizing Islamic economic law . , zakat using local Javanese measurement. to make it accessible and empowering for common people. criticizing irrational and unproductive economic practices . ceremonial offering. to promote rational and productive economic . strengthening cultural identity through the use of Javanese language and Pegon script, as well as rejecting colonial symbols, to build mental and economic independence. This study contributes to the understanding of Islamic social movements in the colonial era that went beyond political resistance to encompass holistic socio-economic empowerment. This is an open access article under CC BY-SA 4. 0 license. Copyright A 2024 by Author. Pu blished by CV. Zamron Pressindo Available online at: https://journal. id/index. php/addaqqo/issue/archive M. Maulana MasAoudi, et. ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi gerakan sosial-ekonomi oleh KH. Sholeh Darat . , seorang ulama Jawa dan tokoh anti-kolonial, dengan menganalisis pendekatan integratifnya dalam menggabungkan teologi Islam, fikih kontekstual, dan politik budaya sebagai bentuk counter-hegemony terhadap penetrasi ekonomi dan budaya kolonial Belanda. Menggunakan pendekatan historis-filosofis kualitatif, penelitian ini menganalisis data primer dari karya-karya KH. Sholeh Darat, terutama Majmu'at al-Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam dan Faid al-Rahman, melalui analisis isi dan hermeneutika kritis. Temuan mengungkapkan bahwa KH. Sholeh Darat mengkontekstualisasikan hukum ekonomi Islam . isalnya zakat dengan ukuran lokal Jaw. agar dapat diakses dan memberdayakan masyarakat awam. mengkritik praktik ekonomi yang tidak rasional dan tidak produktif . isalnya sesaje. untuk memajukan etika ekonomi yang rasional dan produktif. memperkuat identitas budaya melalui penggunaan bahasa Jawa dan aksara Pegon, serta penolakan simbol kolonial, untuk membangun kemandirian mental dan ekonomi. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman gerakan sosial Islam di era kolonial yang melampaui resistensi politik hingga mencakup pemberdayaan sosial-ekonomi holistik. Kata Kunci: KH. Sholeh Darat. Counter-Hegemony. Ekonomi Islam. Kolonialisme. Kearifan Lokal INTRODUCTION/PENDAHULUAN Akhir abad ke-19 di Jawa merupakan periode krusial yang ditandai bukan hanya oleh dominasi politik kolonial Belanda, tetapi juga oleh penetrasi hegemoni ekonomi dan budaya yang sistemik. 1 Melalui kebijakan tanam paksa . , restrukturisasi pajak, serta integrasi ekonomi lokal ke dalam pasar kapitalis global, kolonialisme Belanda secara signifikan mengubah pola produksi, distribusi, dan konsumsi masyarakat pribumi. 2 Pada saat yang sama, kolonialisme juga menjalankan Islam John R W Smail. AuThe PeasantsAo Revolt of Banten in 1888: Its Conditions. Course and Sequel. A Case Study of Social Movements in Indonesia. By Sartono Kartodirdjo. [Verhandelingen van Het Koninklijk Instituut Voor Taal-. Land- En Volkenkunde. Number 50. ] (The Hague: Martin,Ay The American Historical Review 73, no. 2 (December 1, 1. : 576Ae77, https://doi. org/10. 1086/ahr/73. 2 M. Ricklefs. A History of Modern Indonesia since c . A History of Modern Indonesia since c . 3rd ed. (London: PALGRAVE, 2. , https://doi. org/10. 5040/9781350394582. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. menggantikannya dengan rasionalitas kolonial-modern yang menempatkan agama sebagai urusan privat dan non-produktif. Dalam konteks tersebut. IslamAikhususnya melalui jaringan ulama dan pesantrenAitidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan religius, tetapi juga sebagai medium artikulasi resistensi sosial, ekonomi, dan kultural. 4 Sejumlah studi menunjukkan bahwa ulama Nusantara pada masa kolonial memainkan peran strategis dalam mempertahankan otonomi moral masyarakat, sekaligus menawarkan kerangka etika alternatif terhadap eksploitasi ekonomi kolonial. 5 Namun demikian, kajian tentang resistensi Islam sering kali terjebak pada narasi perlawanan politik atau militer semata, sehingga mengabaikan bentuk-bentuk resistensi kultural dan ekonomi yang bersifat gradual, edukatif, dan berbasis praksis sosial sehari-hari. Salah satu tokoh penting dalam konteks ini adalah KH. Sholeh Darat . 0Ae 1. , seorang ulama Jawa dari Semarang yang memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan intelektual Islam Nusantara menjelang abad ke-20. 7 Ia dikenal sebagai guru dari tokoh-tokoh sentral seperti KH. Hasyim AsyAoari dan KH. Ahmad Dahlan, serta sebagai penerjemah dan penafsir Al-QurAoan ke dalam bahasa Jawa melalui karya Faid al-Rahman, yang secara historis juga berkontribusi pada pembentukan kesadaran keislaman R. Kartini. 8 Meskipun demikian, sebagian besar kajian akademik tentang Sholeh Darat masih berfokus pada aspek tasawuf, tafsir, dan biografi intelektualnya, sementara dimensi sosial-ekonomi pemikirannya relatif belum mendapatkan perhatian yang memadai. Studi-studi mutakhir menunjukkan bahwa KH. Sholeh Darat menempati posisi penting dalam jaringan ulama Jawa abad ke-19 yang merespons kolonialisme tidak melalui perlawanan bersenjata, melainkan melalui produksi pengetahuan keagamaan yang berorientasi pada pemberdayaan umat. Bizawie menegaskan bahwa Sholeh Kees van Dijk. Islam En Politiek in IndonesieaO (Muiderberg Coutinho: Publicaties van de Vereniging voor de Studie van het Midden-Oosten en de Islam (MOI) . , 1. 4 Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVi: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Perenial (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. 5 Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai Dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Cet. 8 rev (Jakarta: LP3ES, 2. 6 Talal Asad. Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam (Maryland: The Johns Hopkins University Press, 1. 7 Azyumardi Azra. Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation (Bandung: Mizan, 2. 8 Ali Fahrudin. NASIONALISME SOEKARNO DAN KONSEP KEBANGSAAN MUFASSIR JAWA (Jakarta: LITBANGDIKLAT PRESS, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. Darat merupakan contoh ulama pesantren yang secara sadar memanfaatkan fikih dan tafsir sebagai medium transformasi sosial dalam konteks kolonial Jawa. Karya-karya Sholeh DaratAiterutama MajmuAoat al-ShariAoah al-Kafiyah li alAoAwamAimenunjukkan upaya sistematis untuk mentransformasikan fikih dari sekadar norma legal menjadi instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi umat. Dengan Jawa Pegon. Sholeh Darat mendemokratisasi akses pengetahuan keislaman bagi masyarakat awam, sekaligus membangun ruang epistemik tandingan terhadap bahasa dan simbol kolonial. Strategi ini tidak hanya bersifat pedagogis, tetapi juga politis dalam arti kultural, mengingat bahasa merupakan arena penting dalam produksi dan reproduksi Lebih jauh. Sholeh Darat juga mengembangkan kritik terhadap praktik-praktik ekonomi yang dianggap tidak rasional dan tidak produktifAiseperti pengeluaran berlebihan untuk ritual tertentuAiyang menurutnya justru melemahkan daya ekonomi umat. 12 Kritik ini tidak diarahkan pada kebudayaan lokal secara keseluruhan, melainkan pada aspek-aspek yang dinilai bertentangan dengan prinsip maslahat dan keadilan ekonomi Islam. Dengan demikian, pemikiran Sholeh Darat memperlihatkan sintesis antara fikih, etika ekonomi, dan reformasi budaya yang berorientasi pada kemandirian umat. Untuk membaca gerakan intelektual dan sosial-ekonomi Sholeh Darat secara lebih komprehensif, artikel ini menggunakan kerangka teori counter-hegemony Antonio Gramsci, yang menekankan bahwa dominasi tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan koersif, tetapi terutama melalui kepemimpinan budaya dan persetujuan sosial. 14 Dalam konteks Jawa kolonial, strategi Sholeh Darat dapat dipahami sebagai upaya membangun hegemoni alternatif berbasis Islam lokalAiyang Zainul Milal Bizawie. Masterpiece Islam Nusantara: Sanad Dan Jejaring Ulama-Santri, 1830-1945 (Tangerang Selatan: Pustaka Compass, 2. 10 Martin van Bruinessen. Kitab Kuning. Pesantren Dan Tarekat: Islam Di Nusantara (Kuala Lumpur: IBDE Sdn. Bhd. , 2. 11 Antonio Gramsci. Selections from the Prison Notebooks, ed. Q Hoare and GN Smith (New York: International, 1. 12 Agus Irfan. AuLocal Wisdom Dalam Pemikiran Kyai Sholeh Darat: Telaah Terhadap Kitab Fiqh MajmuAoat Al-ShariAoah Al-Kafiyah Li Al-AoAwam,Ay Ulul Albab 01, no. : 88Ae109. 13 James C Scott. The Moral Economy of the Peasant (London: Yale University Press, 1. , http://w. org/stable/j. 14 Gramsci. Selections from the Prison Notebooks. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. menantang logika ekonomi kolonial sekaligus memperkuat identitas dan agensi masyarakat Muslim. METHOD / METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain historisfilosofis, yang bertujuan untuk menafsirkan konstruksi pemikiran dan orientasi etis KH. Sholeh Darat sebagaimana tercermin dalam teks-teks karyanya. Pendekatan ini dipilih karena objek kajian penelitian tidak hanya berupa fakta historis, tetapi juga konstruksi makna, gagasan normatif, serta orientasi etis yang tertuang dalam karyakarya keagamaan dan praktik intelektual tokoh. 16 Dengan demikian, penelitian ini tidak diarahkan untuk menguji hipotesis kuantitatif, melainkan untuk menafsirkan relasi antara teks, konteks sosial, dan struktur kekuasaan kolonial. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer berupa karya-karya KH. Sholeh Darat, khususnya MajmuAoat al-ShariAoah alKafiyah li al-AoAwam dan Faid al-Rahman, yang dipilih karena merepresentasikan dua dimensi utama pemikirannya, yaitu fikih praktis untuk masyarakat awam dan tafsir Al-QurAoan berbahasa Jawa. Kedua karya tersebut dianalisis sebagai teks keagamaan yang tidak hanya memuat norma hukum dan ajaran teologis, tetapi juga refleksi sosial-ekonomi serta sikap kultural terhadap realitas masyarakat Jawa di bawah 18 Data sekunder meliputi buku, artikel jurnal ilmiah, disertasi, dan penelitian terdahulu yang membahas sejarah Islam Nusantara, ulama Jawa, pesantren, kolonialisme, serta teori hegemoni dan ekonomi moral. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan . ibrary researc. , dengan menelusuri, membaca, dan mengkaji secara kritis sumber-sumber Robert W. Hefner. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, 2011, https://doi. org/10. 2307/3557788. 16 John W. Creswell. Cheryl N. Poth. AuQualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches - John W. Creswell. Cheryl N. Poth,Ay SAGE Publications, 2017. 17 Quentin Skinner. AuMeaning and Understanding in the History of Ideas,Ay History and Theory 8, no. (January 21, 1. : 3Ae53, https://doi. org/10. 2307/2504188. 18 Abdul Khobir. Muhamad Jaeni, and Abdul Basith. AuMultikulturalisme Dalam Karya Ulama Nusantara,Ay IBDA` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya 17, no. : 319Ae44, https://doi. org/10. 24090/ibda. 19 Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVi: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. primer dan sekunder yang relevan. 20 Karya-karya KH. Sholeh Darat dibaca secara tekstual dan kontekstual untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan fikih muamalah, etika ekonomi, praktik keagamaan lokal, serta penggunaan bahasa dan simbol budaya. Sementara itu, sumber sekunder digunakan untuk memperkaya pemahaman konteks historis, memperkuat analisis teoretis, dan memposisikan temuan penelitian dalam diskursus akademik yang lebih luas mengenai Islam, kolonialisme, dan resistensi kultural. Analisis data dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu analisis isi . ontent analysi. dan hermeneutika kritis. Analisis isi digunakan untuk mengidentifikasi polapola tematik, konsep kunci, dan argumentasi normatif dalam teks-teks Sholeh Darat, terutama yang berkaitan dengan kritik terhadap praktik ekonomi ritualistik, kontekstualisasi hukum Islam, dan pembentukan etos kemandirian umat. Selanjutnya, hermeneutika kritis diterapkan untuk menafsirkan teks dalam relasinya dengan konteks sosial, budaya, dan politik kolonial. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk membaca karya-karya Sholeh Darat tidak sebagai teks yang netral, melainkan sebagai praktik diskursif yang terlibat dalam relasi kekuasaan dan Untuk memperdalam analisis, penelitian ini juga menggunakan kerangka teori counter-hegemony yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci. Teori ini digunakan sebagai alat bantu analitis untuk memahami bagaimana pemikiran dan praksis keagamaan Sholeh Darat berfungsi sebagai bentuk resistensi kultural dan ekonomi terhadap dominasi kolonial, terutama melalui produksi pengetahuan alternatif, penggunaan bahasa lokal, dan reformulasi etika ekonomi Islam. 24 Dengan mengombinasikan analisis tekstual dan pendekatan teoretis tersebut, penelitian ini berupaya merekonstruksi pemikiran Sholeh Darat sebagai sebuah proyek sosialekonomi yang bersifat integratif dan emansipatoris. Pendekatan pembacaan teks-teks keagamaan tidak hanya sebagai produk normatif, tetapi juga sebagai respon diskursif terhadap struktur kekuasaan kolonial. Pendekatan ini Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan, 3rd ed. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. Ricklefs. A Hist. Mod. Indones. since c . 22 Klaus Krippendorff. Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (London: SAGE Publications, 2. 23 Asad. Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam. 24 Gramsci. Selections from the Prison Notebooks. 25 Scott. The Moral Economy of the Peasant. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. relevan untuk mengungkap relasi antara produksi pengetahuan keislaman dan konteks sosial-ekonomi kolonial, sebagaimana dikembangkan dalam kajian Islam historis-kritis. RESULTS AND DISCUSSION Overview of Findings Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran dan praksis keagamaan KH. Sholeh Darat tidak dapat dipahami semata sebagai produksi wacana fikih normatif atau spiritualitas individual, melainkan sebagai sebuah proyek sosial-ekonomi yang terstruktur dan berorientasi pada pemberdayaan umat. Melalui pembacaan kritis terhadap MajmuAoat al-ShariAoah al-Kafiyah li al-AoAwam dan Faid al-Rahman, ditemukan bahwa Sholeh Darat mengembangkan strategi counter-hegemony yang bekerja pada level hukum Islam, etika ekonomi, dan identitas budaya. Strategi ini berfungsi untuk membangun kemandirian mental dan material masyarakat Muslim Jawa dalam menghadapi hegemoni ekonomi dan kultural kolonial. Secara analitis, temuan penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga sosial-ekonomi . kontekstualisasi fikih ekonomi untuk masyarakat awam. kritik terhadap praktik ekonomi ritualistik yang tidak produktif. penguatan identitas budaya sebagai basis kemandirian ekonomi umat. Kontekstualisasi Fikih Ekonomi sebagai Instrumen Pemberdayaan Umat Temuan pertama menunjukkan bahwa KH. Sholeh Darat secara sadar melakukan kontekstualisasi fikih muamalah untuk menjawab realitas sosial-ekonomi masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19. Dalam MajmuAoat al-ShariAoah al-Kafiyah li alAoAwam, ia tidak hanya menyampaikan ketentuan zakat, sedekah, dan muamalah dalam kerangka normatif fikih klasik, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam bahasa, logika, dan ukuran yang dipahami oleh masyarakat awam. Penggunaan satuan lokal Jawa dalam penjelasan zakat, misalnya, mencerminkan upaya sistematis untuk mendekatkan hukum Islam dengan pengalaman ekonomi sehari-hari umat. Pola ini sejalan dengan tradisi fikih pesantren Nusantara yang menempatkan hukum Mohammed Arkoun and Robert D. Lee. Rethinking Islam: Common Questions. Uncommon Answers (New York: Routledge, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. Islam sebagai pedoman praktis yang hidup dalam struktur sosial lokal, bukan sebagai norma abstrak yang terpisah dari realitas masyarakat. Pendekatan tersebut memiliki implikasi sosial-ekonomi yang signifikan. Dengan menjadikan fikih mudah diakses dan aplikatif. Sholeh Darat mendorong partisipasi ekonomi umat dalam sistem distribusi kekayaan berbasis keadilan sosial. Fikih muamalah tidak diposisikan sebagai beban normatif, melainkan sebagai instrumen etika ekonomi yang memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi ketergantungan masyarakat Muslim terhadap struktur ekonomi kolonial. Dalam konteks Jawa kolonial, peran ulama sebagai penerjemah norma keagamaan ke dalam praktik sosial-ekonomi lokal merupakan pola yang umum, di mana syariat Islam diartikulasikan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Lebih jauh, kontekstualisasi fikih yang dilakukan Sholeh Darat juga menunjukkan orientasi etis yang melampaui aspek legal-formal. Fikih muamalah dipahami sebagai sarana untuk membentuk kesadaran ekonomi umat yang rasional, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Pendekatan ini selaras dengan pandangan kontemporer bahwa fikih muamalah harus dibaca secara kontekstual agar mampu merespons dinamika ekonomi masyarakat dan berfungsi sebagai perangkat pemberdayaan sosial, bukan sekadar regulasi hukum yang kaku. 29 Dengan demikian, fikih dalam pemikiran Sholeh Darat bertransformasi menjadi etika ekonomi praktis yang menopang kemandirian umat di tengah tekanan hegemoni kolonial. Kritik terhadap Praktik Ekonomi Ritualistik dan Rasionalisasi Etika Ekonomi Umat Temuan kedua menunjukkan bahwa KH. Sholeh Darat mengembangkan kritik sistematis terhadap praktik-praktik ekonomi masyarakat yang ia anggap tidak rasional dan tidak produktif, terutama pengeluaran berlebihan untuk ritual-ritual tertentu yang tidak memiliki dasar syarAoi yang kuat. Kritik ini tidak diarahkan pada dimensi spiritual masyarakat secara keseluruhan, melainkan pada pola ekonomi ritualistik yang berpotensi menguras sumber daya umat tanpa menghasilkan manfaat sosial yang nyata. Dalam sejumlah bagian MajmuAoat al-ShariAoah al-Kafiyah li al-AoAwam. Sholeh Darat menekankan pentingnya membedakan antara ibadah yang bernilai van Bruinessen. Kitab Kuning. Pesantren Dan Tarekat: Islam Di Nusantara. Ricklefs. A Hist. Mod. Indones. since c . 29 Dimyati Dimyati. Abdul Wahid, and Syafiul Umam. AuKONTEKSTUALISASI NILAI-NILAI FIQH MUAMALAH DALAM AKTIVITAS EKONOMI,Ay TIJAROTANA : Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Syariah 5, 01 (July 14, 2. : 1Ae7, https://doi. org/10. 64454/tj. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. maslahat dan kebiasaan ritual yang lebih bersifat simbolik, terutama ketika praktik tersebut menimbulkan beban ekonomi bagi keluarga Muslim. Dalam konteks masyarakat Jawa, ritual-ritual keagamaan dan sosial memang memiliki fungsi simbolik yang kuat dalam menjaga kohesi komunitas. Namun, sebagaimana dicatat oleh Clifford Geertz, praktik ritual dalam masyarakat Jawa sering kali juga berkaitan dengan distribusi sumber daya ekonomi yang signifikan, terutama dalam bentuk pengeluaran kolektif dan konsumsi simbolik. 30 Kritik KH. Sholeh Darat terhadap praktik ritualistik yang menguras sumber daya ekonomi umat dapat dipahami dalam kerangka moral economy, di mana praktik keagamaan dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap kesejahteraan sosial. Perspektif ini sejalan dengan pandangan bahwa etika keagamaan memiliki peran sentral dalam membentuk orientasi ekonomi masyarakat Muslim, terutama dalam situasi ketimpangan Dalam situasi kolonial, kritik ini memperoleh makna sosial-ekonomi yang lebih Tekanan ekonomi akibat pajak, kerja paksa, dan eksploitasi kolonial membuat masyarakat Muslim berada dalam kondisi rentan. Dalam konteks demikian. Sholeh Darat memandang bahwa praktik ekonomi yang tidak produktifAitermasuk pengeluaran berlebihan untuk ritualAidapat memperparah ketergantungan ekonomi Oleh karena itu, ia mendorong rasionalisasi pengeluaran dengan mengarahkan sumber daya umat pada kebutuhan yang lebih mendesak dan produktif, seperti pemeliharaan keluarga, sedekah yang tepat sasaran, dan penguatan ekonomi Lebih jauh, kritik terhadap ritualisme ekonomi ini mencerminkan upaya pembentukan etika ekonomi Islam yang rasional dan bermoral. Rasionalitas yang ditawarkan Sholeh Darat bukan rasionalitas kapitalistik yang berorientasi akumulasi, melainkan rasionalitas etis yang menilai praktik ekonomi berdasarkan kemaslahatan sosial dan tanggung jawab moral. Pandangan ini sejalan dengan analisis Robert W. Hefner yang menunjukkan bahwa reformasi keagamaan di kalangan Muslim Jawa sering kali berjalan beriringan dengan upaya pembentukan etika ekonomi baru yang menekankan disiplin, tanggung jawab sosial, dan kemandirian umat. Harry J Benda. AuThe Religion of Java. By Clifford Geertz. Glencoe: The Free Press, 1960, x, 392. ,Ay The Journal of Asian Studies 21, no. : 403Ae6, https://doi. org/DOI: 10. 2307/2050716. 31 Hefner. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Scott. The Moral Economy of the Peasant. 32 Hefner. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. Dari perspektif teori counter-hegemony, kritik terhadap praktik ekonomi ritualistik dapat dipahami sebagai strategi membangun kesadaran ekonomi alternatif di tingkat akar rumput. Dengan mendorong umat untuk bersikap kritis terhadap kebiasaan ekonomi yang mapan. Sholeh Darat berupaya membentuk subjek Muslim yang lebih mandiri secara ekonomi dan tidak mudah terkooptasi oleh struktur Rasionalisasi etika ekonomi ini berfungsi sebagai fondasi kultural bagi resistensi sosial-ekonomi umat, sekaligus memperkuat basis moral bagi upaya kemandirian di tengah hegemoni kolonial. Bahasa Jawa. Aksara Pegon, dan Politik Identitas sebagai Basis Kemandirian Umat Temuan ketiga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa dan aksara Pegon dalam karya-karya KH. Sholeh Darat merupakan strategi kultural yang sadar dan bermuatan politis dalam konteks kolonial. Melalui karya seperti Faid al-Rahman. Sholeh Darat memilih menyampaikan tafsir Al-QurAoan dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon, alih-alih menggunakan bahasa Arab murni atau bahasa Melayu beraksara Latin yang mulai dipromosikan oleh administrasi kolonial. Pilihan ini tidak semata-mata bersifat pedagogis, tetapi juga mencerminkan proses vernacularization Islam, yakni upaya menerjemahkan ajaran keagamaan ke dalam bahasa dan horizon makna lokal agar dapat diakses secara luas oleh umat. Dalam konteks kolonial, bahasa dan aksara berfungsi sebagai instrumen kekuasaan dan kontrol pengetahuan. Kebijakan pendidikan kolonial Belanda mendorong standardisasi bahasa dan aksara tertentu untuk membentuk subjek kolonial yang patuh serta terintegrasi ke dalam sistem epistemik Barat. Dengan mempertahankan bahasa Jawa dan aksara Pegon sebagai medium transmisi tafsir dan fikih. Sholeh Darat secara implisit menolak dominasi epistemik kolonial dan membangun ruang intelektual alternatif bagi masyarakat Muslim Jawa. Ronit Ricci mencatat bahwa penggunaan aksara non-Latin dalam teks-teks keislaman di Asia Tenggara Azyumardi Azra and T. Daniels. AuTHE ORIGINS OF ISLAMIC REFORMISM IN SOUTHEAST ASIA: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern AoUlamAi in the Seventeenth and Eighteenth Century,Ay American Journal of Islamic Social Sciences, 2007, https://doi. org/https://doi. org/10. 35632/ajis. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. memungkinkan komunitas Muslim mempertahankan otonomi intelektual mereka dari proyek kolonial modernitas. Lebih jauh, penggunaan bahasa lokal dalam diskursus keagamaan memiliki implikasi sosial dan ekonomi yang signifikan. Dengan menghadirkan ajaran AlQurAoan dan fikih dalam bahasa yang dipahami masyarakat awam. Sholeh Darat memperluas literasi keagamaan sekaligus literasi etika sosial. Literasi ini berperan penting dalam membentuk kesadaran kolektif umat, termasuk dalam memahami kewajiban ekonomi, etika muamalah, dan tanggung jawab sosial. Dalam perspektif ini, bahasa berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai medium . ollective kemandirian sosial dan ekonomi masyarakat Muslim. Dari sudut pandang teori counter-hegemony, strategi kebahasaan Sholeh Darat dapat dibaca sebagai upaya merebut kepemimpinan kultural di tingkat masyarakat akar rumput. Dengan memproduksi dan menyebarkan pengetahuan keislaman melalui bahasa Jawa dan aksara Pegon, ia membangun narasi alternatif yang menantang hegemoni kolonial atas pendidikan, budaya, dan ekonomi. Politik identitas berbasis bahasa ini memperkuat kemandirian mental umat, yang pada gilirannya menjadi fondasi bagi kemandirian sosial-ekonomi dan resistensi kultural terhadap kolonialisme. Synthetic Discussion KH. Sholeh Darat dan Formulasi Counter-Hegemony Sosio-Ekonomi Islam Jawa Pembacaan sintetik atas tiga temuan utama menunjukkan bahwa pemikiran dan praksis keagamaan KH. Sholeh Darat membentuk sebuah proyek counterhegemony yang bekerja secara simultan pada level hukum Islam, etika ekonomi, dan politik budaya. Ketiga dimensi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam membangun kemandirian umat Muslim Jawa di tengah dominasi ekonomi dan epistemik kolonial Belanda. Dengan demikian, resistensi yang dikembangkan Sholeh Darat tidak mengambil bentuk perlawanan politik terbuka, melainkan transformasi kesadaran dan praktik sosial-ekonomi dari dalam komunitas, sebuah pola yang Ronit Ricci. Islam Translated: Literature. Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia (Chicago: The University of Chicago Press, 2. 35 Benedict Anderson. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Revised (New York: Verso, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. sejalan dengan konsep counter-hegemony Antonio Gramsci yang menekankan pentingnya kepemimpinan kultural dan intelektual dalam melawan dominasi Pada level fikih, kontekstualisasi muamalah (Temuan . berfungsi sebagai mekanisme demokratisasi otoritas keagamaan. Dengan menerjemahkan norma fikih ke dalam bahasa dan ukuran lokal. Sholeh Darat menggeser fikih dari ranah elit tekstual menuju praktik sosial masyarakat awam. Proses ini tidak hanya memperluas akses umat terhadap hukum Islam, tetapi juga membangun kerangka etika ekonomi alternatif yang berakar pada keadilan distributif dan solidaritas sosial. Dalam perspektif teoretis, temuan ini berkontribusi pada pengembangan studi fikih Nusantara dengan menunjukkan bahwa kontekstualisasi fikih dapat dipahami sebagai praktik politik pengetahuan . nowledge politic. , bukan sekadar adaptasi Pada level etika ekonomi, kritik terhadap praktik ritualistik yang tidak produktif (Temuan . memperlihatkan upaya rasionalisasi internal masyarakat Muslim. Sholeh Darat tidak menolak tradisi secara total, tetapi melakukan seleksi normatif dengan menimbang dampak sosial dan ekonomi dari praktik keagamaan. Rasionalitas yang ditawarkan bukan rasionalitas utilitarian kolonial atau kapitalistik, melainkan rasionalitas etis berbasis kemaslahatan. Dalam kerangka teori gerakan sosial, strategi ini dapat dibaca sebagai bentuk everyday resistanceAiyakni perlawanan halus yang bekerja melalui perubahan kebiasaan, nilai, dan orientasi ekonomi umat tanpa konfrontasi langsung dengan kekuasaan kolonial. 38 Dengan demikian, reformasi keagamaan di sini berfungsi sebagai sarana emansipasi sosial-ekonomi. Sementara itu, pada level budaya dan bahasa (Temuan . , penggunaan bahasa Jawa dan aksara Pegon menjadi fondasi kultural yang memungkinkan keberlanjutan proyek counter-hegemony tersebut. Politik bahasa yang dijalankan Sholeh Darat memungkinkan produksi dan distribusi pengetahuan keislaman di luar kontrol epistemik kolonial, sekaligus memperkuat identitas kolektif umat. Literasi keagamaan dalam bahasa lokal tidak hanya meningkatkan pemahaman teologis, tetapi juga membentuk kesadaran moral dan ekonomi bersama. Dalam perspektif ini. Gramsci. Selections from the Prison Notebooks. Azra and Daniels. AuTHE ORIGINS OF ISLAMIC REFORMISM IN SOUTHEAST ASIA: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern AoUlamAi in the Seventeenth and Eighteenth Century. Ay 38 James W. Scott. Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (New Haven: Yale University Press, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. bahasa berfungsi sebagai medium pembentukan moral economy umat, sebagaimana ditunjukkan oleh Hefner bahwa etika keagamaan dan formasi budaya memiliki peran sentral dalam membangun orientasi ekonomi masyarakat Muslim. Secara teoretis, sintesis tiga temuan ini menawarkan kontribusi penting bagi kajian Islam Nusantara dan studi gerakan sosial Islam. Artikel ini menunjukkan bahwa counter-hegemony Islam di konteks kolonial tidak selalu termanifestasi dalam bentuk gerakan politik atau pemberontakan, tetapi juga melalui reformulasi fikih, rasionalisasi etika ekonomi, dan produksi pengetahuan berbasis budaya lokal. Dengan kata lain. KH. Sholeh Darat merepresentasikan model ulama-organik yang memadukan otoritas keilmuan, kepemimpinan moral, dan strategi kultural untuk membangun kemandirian umat. Model ini memperluas pemahaman tentang peran ulama dalam sejarah kolonial, dari sekadar penjaga ortodoksi atau aktor spiritual, menjadi agen transformasi sosial-ekonomi yang sadar terhadap struktur kekuasaan. CONCLUSION Artikel ini menunjukkan bahwa KH. Sholeh Darat tidak hanya berperan sebagai ulama dan pendidik keagamaan, tetapi juga sebagai aktor sosial yang secara sadar merumuskan strategi counter-hegemony terhadap kolonialisme Belanda melalui pendekatan sosio-ekonomi yang terintegrasi. Dengan mengkaji karya-karya utamanya, terutama MajmuAoat al-ShariAoah al-Kafiyah li al-AoAwam dan Faid al-Rahman, penelitian ini menemukan bahwa pemikiran Sholeh Darat bekerja secara simultan pada tiga ranah utama: kontekstualisasi fikih muamalah, rasionalisasi etika ekonomi umat, dan penguatan identitas budaya berbasis bahasa lokal. Pertama, kontekstualisasi fikih muamalah memperlihatkan bagaimana hukum Islam digunakan sebagai instrumen pemberdayaan sosial-ekonomi. Dengan menerjemahkan norma fikih ke dalam bahasa dan ukuran lokal. Sholeh Darat mendemokratisasi akses umat terhadap hukum Islam sekaligus membangun etika ekonomi berbasis keadilan dan solidaritas sosial. Kedua, kritik terhadap praktik ekonomi ritualistik yang tidak produktif menunjukkan upaya rasionalisasi internal masyarakat Muslim, di mana tradisi tidak ditolak secara total, tetapi diseleksi berdasarkan kemaslahatan sosial dan daya tahan ekonomi umat. Ketiga, penggunaan bahasa Jawa dan aksara Pegon sebagai medium transmisi keilmuan berfungsi sebagai Hefner. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 M. Maulana MasAoudi, et. strategi kultural untuk membangun kemandirian mental dan epistemik umat di tengah hegemoni kolonial. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi Islam Nusantara dan gerakan sosial Islam dengan menunjukkan bahwa resistensi kolonial tidak selalu termanifestasi dalam bentuk perlawanan politik terbuka. Sebaliknya, melalui reformulasi fikih, etika ekonomi, dan politik budaya. KH. Sholeh Darat menawarkan model counter-hegemony berbasis pengetahuan dan moralitas yang bekerja di tingkat akar rumput. Temuan ini memperluas pemahaman tentang peran ulama sebagai agen transformasi sosial-ekonomi yang aktif dan reflektif terhadap struktur kekuasaan. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada fokus analisis teks dan konteks historis, sehingga belum mengeksplorasi secara empiris dampak langsung pemikiran Sholeh Darat terhadap praktik ekonomi masyarakat Jawa secara luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dapat diarahkan pada kajian komparatif antara Sholeh Darat dan ulama Nusantara lainnya, atau pada analisis resepsi pemikiran fikih dan etika ekonominya dalam tradisi pesantren dan komunitas Muslim kontemporer. Hal ini menjadi semakin urgen mengingat pesantren modern saat ini masih menghadapi tantangan dominasi keilmuan Barat yang berpotensi mengikis identitas budaya dan keilmuan lokal. 40 Warisan intelektual Sholeh Darat tentang kontekstualisasi fikih, rasionalisasi ekonomi, dan politik bahasa dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan kurikulum pesantren yang lebih berakar pada tradisi lokal namun tetap responsif terhadap dinamika global. REFERENCES