Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Gastronomi dalam Tiga Cerita Pendek Rusia Gustav Gallenius1*. Mochamad Aviandy1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Kampus Baru UI Depok. Jawa Barat, 16424, 081314831499 Penulis untuk Korespondensi/E-mail: aviandy@ui. Abstract - This study aims to analyze gluttonny shown in three short-stories by Anton Chekhov through the behaviour and action of the characters towards cuisine. The three short-stories are AA (Siren. Oysters (Ustrits. , and Silly Frenchman (Gluppy Frantsu. This study uses descriptive analysis method by analyzing the quotations in the short-stories. Through gastronomic literature approach within analyzing this research, it can be concluded that gluttony arises from poshlost and the carnal apettite inside human beings. addition, character acted as catallisator of gluttony existed in order to create temporary pleasure for the characters as they enjoy their food and ultimately falling into the gluttonous bottomless pit. Abstrak - Penelitian ini bertujuan dalam menganalisis kerakusan manusia yang terdapat dalam tiga cerita pendek karya Anton Chekhov melalui sifat dan perilaku tokoh terhadap makanan dan minuman. Tiga cerita pendek yang menjadi korpus penelitian ini adalah AA (Siren. Tiram (Ustrits. , dan Orang Perancis Bodoh (Gluppy Frantsu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif melalui kutipan di dalam cerita Melalui pendekatan gastronomi sastra dalam menganalisis penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kerakusan timbul dari poshlost dan keinginan daging yang berada dalam diri manusia. Kehadiran tokoh lain yang berperan sebagai katalisator kerakusan membuat para tokoh terjebak dalam kenikmatan semu dalam menikmati makanan maupun minuman dan hingga jatuh ke dalam jurang kerakusan. Keywords - Gastronomy. Gluttony. Poshlost, . Russia. Short-story. PENDAHULUAN ehadiran kuliner atau makanan dalam sebuah karya sastra bukanlah suatu hal yang Makanan atau gastronomi memiliki keterkaitan yang sangat dekat dengan karya sastra (Thompson, 2. Menurut Wellek & Warren . , karya sastra merupakan suatu kegiatan kreatif dan imajinatif sekaligus sebuah karya seni. Makanan pun turut menyimpan keindahan. Keindahan tersebut dapat disalurkan dan diceritakan dalam sebuah karya sastra. Seperti karya sastra yang berfungsi dalam memenuhi kebutuhan estetis manusia, makanan juga berfungsi dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Makanan tidak selalu mengenai persoalan hidup dan konsumsi, melainkan juga merupakan sebuah produk kebudayaan seperti karya sastra. Terdapat fungsi sosial-kultural di dalamnya yang berkembang sesuai keadaan lingkungan, agama, adat dan kebiasaan (Endraswara, 2. Fungsi sosial- kultural tersebut dapat mencerminkan identitas sosial dan budaya yang unik sekaligus dapat dikonstruksikan dalam sebuah karya sastra. Pendapat tersebut selaras dengan pendapat Montanari . bahwa makanan merupakan bagian dari kebudayaan saat dimasak, disiapkan dan Saat dimasak, manusia tidak hanya menggunakan sesuatu yang hanya ia temukan menciptakan makanannya sendiri. Saat disiapkan, suatu makanan dihasilkan dari bahan baku dasar yang dipadukan dengan bentuk budaya lain dalam Sementara saat dimakan, makanan menjadi budaya karena manusia memilih makanan sesuai dengan kondisi ekonomi, gizi, agama dan tradisi yang dipercayai masing-masing manusia. Selain itu, makanan juga dapat berfungsi sebagai medium dalam membangun karakterisasi tokoh. Menurut Endraswara . perwatakan dan sifat tokoh dalam sebuah karya sastra dapat terlihat melalui makanan. Hal tersebut disebabkan, makanan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 sebagai ekspresi rasa dapat mempengaruhi manusia dan terkadang sifat manusia terpengaruh oleh rasa Dalam khazanah kesusastraan Rusia, terdapat begitu banyak sastrawan yang mengindahkan makanan dalam karya-karya mereka, semisal: Gavril Derzhavin . Ivan Goncharov . Lev Tolstoy . Nikolai Gogol . Anton Chekhov . , dan lain-lain. Relasi antara makanan dengan karya sastra Rusia memang begitu dekat, sesuai dengan pernyataan Lev Losev . alam Weil, 2. bahwa AuEa CAACEA AA. CAU C AEAA EIAy (Sastra Rusia selalu di dukung oleh masakan Rusi. Pendapat tersebut didukung juga dengan pernyataan Tatyana Tolstaya dalam LeBlanc . bahwa kesusastraan Rusia hadir sehubungan dengan erotisme dan kecintaan duniawi yang ditunjukkan melalui puisi epik dengan tujuan untuk menyenangkan perut. Peran makanan dalam karya sastra Rusia secara umum ditunjukkan sebagai penggambaran identitas sosial-budaya masyarakat Rusia maupun sebagai medium karakterisasi dan kecenderungan tokoh terhadap makanan tersebut. Salah satu contoh penggambaran tersebut adalah perilaku rakus terhadap makanan. Kata rakus atau kerakusan berasal dari istilah latin gluttiere yang berarti meneguk maupun menelan. Dalam bahasa Rusia, kata rakus dapat disebut (AAC) chrevougodie (NAAEA). Secara etimologis, kata chrevougodie berasal dari kata chrevo (NAA) yang berarti perut. Oleh karena itu, kerakusan dapat dimaknai sebagai hal maupun aktivitas yang berhubungan dengan perut. Terutama aktivitas konsumsi yang berlebihan terhadap makanan maupun minuman dan sesuai dengan pengertian KBBI yaitu, suka makan banyak dengan tidak Menurut Tolstoy . alam LeBlanc, 2. kerakusan merupakan keinginan untuk makan secara baik, makan secara terus menerus,dan makan sebanyak mungkin. Tolstoy mengatakan bahwa kerakusan merupakan pertanda awal dari kehidupan moral yang buruk, dikarenakan orang yang rakus sulit untuk berjuang melawan kemalasan, kemudian orang yang rakus dan orang yang tidak berguna juga tidak akan pernah cukup kuat untuk berjuang melawan nafsu seksual. Berdasarkan definisi tersebut, perilaku rakus dipandang sebagai salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh manusia dan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Hal tersebut disebabkan, perilaku rakus sering diasumsikan sebagai penyebab dari obesitas, yang diakui sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sangat vital karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit berbahaya seperti diabetes, penyakit kardiovaskuler, hiperlipidemia, hipertensi, dan stroke (Wells, 2. Selain itu, kerakusan juga terkait erat dengan Poshlost masyarakat Rusia terhadap sifat buruk dan sisi gelap seorang manusia. Menurut Nabokov dalam Vysotska . poshlost merupakan banalitas, kurangnya spiritualitas, dan kecabulan seksual. Dalam konteks gastronomi, kenikmatan dalam seringkali ditandai sebagai poshlost, terutama dalam karya-karya karangan Chekhov. Hal tersebut disebabkan poshlost merupakan salah satu musuh lama sekaligus moral estetika yang dianut olehnya (Vysotska, 2. Beberapa karya sastra Rusia juga sering bertemakan kerakusan, yang dapat digambarkan melalui tema Salah satu contohnya adalah Oblomov . karya Ivan Goncharov yang menceritakan tokoh Ilya Oblomov yang tidak hanya malas, tetapi juga rakus. Kemalasan dan kerakusan Ilya Oblomov akhirnya membawanya ke kuburannya sendiri. Selain itu, contoh lainnya adalah ZavistAo karya Yuri Olesha yang menceritakan kerakusan maupun kekuasaan merupakan hal yang sangat destruktif. Terdapat pula karya Gogol mengenai kerakusan dalam Mertvye Dushi . yang menunjukkan perilaku rakus tokoh Sobakevich dan sanggup menghabiskan satu meja makan secara penuh. Serta Starosvetskiye Pomeshchiki . menunjukkan bahwa kerakusan tidak mengenal usia dan berujung pada penderitaan. Anton Chekhov juga turut menjadikan tema kerakusan sebagai salah satu tema besar cerita pendeknya, bersamaan dengan tema birokrasi, korupsi, cinta, dan kematian (Basharkina, 2. mengutuk kerakusan sebagai simbol atas kemunduran manusia serta penyerahan diri pada naluri kebinatangan (Makolkin, 2. Beberapa cerita pendeknya, seperti Kleveta . Ariadna . , dan Dama s Sobachkoi . merupakan beberapa karya yang mengambil tema serupa. Oleh karena itu, tiga cerita pendek karangan Chekhov, yaitu Sirena . Tiram . , dan Orang Prancis Bodoh . dipilih sebagai korpus penelitian dalam penelitian ini. Masalah penelitian ini adalah bagaimana makanan dan minuman mempengaruhi kerakusan manusia dan perilaku Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 rakus yang ditunjukkan tokoh di dalam ketiga cerita Gastronomi sastra merupakan teori yang mengaitkan karya sastra dengan kuliner maupun hal-hal di sekitarnya seperti kesehatan, kedokteran, perut, dan lambung. Hal tersebut disebabkan kata gastro berasal dari bahasa Yunani kuno, gastronomia yang bermakna perut atau lambung. Selain itu, gastronomi dapat pula diartikan sebagai makanan, karena makanan adalah suatu hal yang paling lekat dengan perut (Endraswara, 2. Tidak ada keterkaitan antara gastronomi dan sastra pada awalnya. Secara definitif, didefinisikan sebagai seni maupun ilmu makan dengan baik (Tigner & Carruth, 2. Fossali . berpendapat bahwa gastronomi merupakan bentuk apresiasi dari seni makan dengan baik sekaligus mempelajari relasi antara komponen budaya dan makanan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Gillespie dan Cousins . bahwa gastronomi merupakan studi dan apresiasi terhadap semua makanan dan minuman, khususnya yang melibatkan pengetahuan terperinci tentang hidangan nasional dari negara-negara di dunia. Akan tetapi, gastronomi turut membahas mengenai produksi dan penyiapan makanan dan minuman (Seyitolu. Seiring berjalannya waktu, dapat terlihat keselarasan antara makanan dan karya sastra melalui asumsi dasar yaitu gastronomi dan karya sastra sebagai hasil kreativitas seorang pengarang yang terpengaruhi oleh budaya serta lingkungan Berdasarkan asumsi tersebut, budaya serta lingkungan sosial bergabung dan menghasilkan disiplin baru dalam ilmu sastra, yaitu gastronomi Oleh karena itu, gastronomi sastra dapat digunakan untuk membedah karya sastra yang berhubungan dengan makanan secara umum, kemiskinan dan kelaparan, kesehatan perut atau lambung, kegemukan, dan persoalan perut lainnya (Endraswara, 2. Sebagai suatu disiplin baru dalam kesusastraan, gastronomi sastra menjelaskan bahwa makanan tidak hanya berperan sebagai pemuas rasa lapar, tetapi terdapat hal-hal lain yang berhubungan dengan rasa . terkait dengan makanan tersebut. Selain itu, gastronomi sastra merupakan suatu bidang ilmu multidisipliner serta dapat diaplikasikan dalam ruang lingkup sastra yang luas, seperti sastra lisan, sastra tulisan, dan mitos. Meskipun saat ini, ruang lingkup sastra dalam gastronomi sastra baru dipandang sebagai karya estetis yang menjadi corong makanan di sekitar sastrawan, dokumen budaya dan multikultur yang tergambar dalam aneka bentuk makanan, serta penyemai ideologi suatu bangsa melalui bentuk-bentuk khas makanan (Endraswara, 2. Beberapa cabang disiplin gastronomi sastra antara antropogastronomi sastra, zoogastronomi sastra, dan geogastronomi sastra. Selain itu, terdapat juga aliran gastro kritik atau gastrocriticism yang digagas oleh kritikus Perancis bernama Ronald Tobin. Gastro kritik mengacu pada studi antropologi, sosiologi, semiotika, sejarah, dan sejarah. Oleh karena itu, gastro kritik secara garis besar merupakan etika seseorang dalam menghargai suatu kuliner (Tobin. Saryono . yang memiliki pendapat yang sama dengan Tobin berpendapat bahwa gastro kritik merupakan perpaduan antara gastronomi dan kritik sastra transdisipliner yang memusatkan perhatian dan mempelajari hal-ihwal saling paut serta jalin-kelindan gastronomi atau boga dengan METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif analisis deskriptif. Metode kualitatif digunakan dalam memahami dan kelompok yang bersumber pada masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2. Penelitian diawali dengan pengumpulan data dan fakta serta mendeskripsikan objek berbentuk tulisan, yaitu kutipan-kutipan di dalam teks cerita pendek. Dilanjutkan menginterpretasikan kutipan-kutipan tersebut secara Hal tersebut berkesinambungan dengan pendapat R. D Jameson . alam Endraswara, 2. bahwa dalam menganalisis teks gastronomi sastra diawali dengan pengumpulan data, kemudian dilanjutkan dengan menganalisis kecenderungan sosial dan psikologis dalam teks gastronomi sastra. Penelitian pun diakhiri dengan pengkajian fungsi teks gastronomi sastra tersebut. Berdasarkan metode analisis deskriptif, kerakusan yang muncul melalui kecenderungan gastronomi terhadap tokoh dalam Sirena . Tiram . , dan Orang Prancis Bodoh . dapat terlihat jelas. Penelitian terhadap karya-karya Anton Chekhov telah banyak dilakukan, meskipun masih jarang penelitian terhadap cerpen Chekhov melalui pendekatan gastronomi sastra. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti belum ada penelitian yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 membahas mengenai karya Chekhov melalui pendekatan gastronomi sastra. Salah satu penelitian yang membahas karya Chekhov melalui pendekatan gastronomi sastra adalah penelitian yang dilakukan oleh Oksana Basharkina dan Irina Borisova yang eACANa CAC aI a. AI . Penelitian tersebut membahas tema-tema gastronomi dalam beberapa cerita pendek Chekhov, antara lain adalah. Zakuska (EA). Sirena (AA). O Brennosti ( aC), dan Ariadna . A). Melalui penelitian tersebut, diketahui bahwa tema gastronomi dalam keempat cerpen direfleksikan melalui penjelasan makanan, penamaan dan karakteristik tokoh, serta plot cerita itu sendiri. Meskipun turut menganalisis cerita pendek karya Chekhov, terdapat perbedaan korpus cerita pada penelitian ini. Selain itu, pendekatan gastronomi sastra juga digunakan dalam menganalisis kerakusan dalam cerita pendek, tidak hanya membahas mengenai tema gastronomi. Selain penelitian yang dilakukan oleh Oksana Basharkina dan Irina Borisova, terdapat pula penelitian lain yang membahas karya Chekhov melalui pendekatan gastronomi sastra. Penelitian tersebut ditulis oleh Veronika Katermina dengan judul eACANa AC A CANAACA a. AI . Penelitian Veronika Katermina penggambaran dunia gastronomi dalam beberapa karya-karya Anton Chekhov. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa penggambaran gastronomi Chekhov terbagi menjadi makanan dalam tradisi rakyat Rusia, makanan sebagai gaya hidup, makanan sebagai penentu status sosial, dan karakterisasi tokoh dalam cerita. Penelitian tersebut juga menggunakan pendekatan linguistik dalam menggunakan pendekatan gastronomi sastra dan kesamaan antara penelitian tersebut dan penelitian ini berupa kesamaan pengarang. Penelitian berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh ynretim yuyesi dan Javid Aliyev yang berjudul Rethinking Literature Through Gastrocritical PerspectiveAe Gastrocritical Analysis of AuThe SirenAy . Penelitian tersebut menawarkan perspektif baru, yaitu perspektif gastrokritik dalam membedah cerita pendek Sirena. Penelitian berikutnya yang berjudul An Approach to Reevaluating and Understanding Chekhov in the Perspective of Theme. Motif. Symbol and Writing Style . karya Jubair Uddin dan Khurshedul Alam membahas tema-tema yang diusung Chekhov dalam karangannya, antara lain membahas mengenai tema gastronomi dan satir terhadap birokrasi maupun kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat Rusia. Penelitian tersebut juga meneliti karya Chekhov, tetapi tidak membahas kerakusan ataupun gastronomi yang akan menjadi topik utama penelitian ini. Terdapat juga penelitian yang membahas kerakusan dalam karya sastra Rusia berjudul Gluttony and Power in Iurii OleshaAos Envy . Penelitian yang dilakukan oleh Ronald D. LeBlanc membahas kerakusan dan kekuasaan di dalam cerpen Envy karya Iurii Olesha. Meskipun sama-sama membahas kerakusan dalam karya sastra Rusia, terdapat perbedaan korpus penelitian dan pengarang antara penelitian tersebut dan penelitian ini. Kemudian, gastronomi sastra merupakan penelitian berjudul Kuliner dan Identitas Keindonesiaan Dalam Novel Pulang . karya Dwi Anantama & Suryanto. Penelitian tersebut menganalisis identitas nasional Indonesia melalui sajian kuliner dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Melalui penelitian-penelitian terdahulu tersebut dapat terlihat keterkaitan satu sama lain. Karyakarya Anton Chekhov memiliki esensi gastronomi di dalamnya dan hal tersebut dapat dibahas melalui perspektif baru dalam sastra, yakni gastronomi Selain itu, simbol-simbol gastronomi dalam karya sastra Rusia dapat mencerminkan sifat manusia dan berujung pada kerakusan, khususnya karya Chekhov yang didominasi dengan tema-tema keserakahan dan perilaku buruk manusia lainnya. Akan tetapi, penelitian-penelitian sebelumnya belum membahas kerakusan manusia dalam cerita pendek Chekhov melalui perspektif gastronomi secara spesifik. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan dalam mengisi bagian rumpang yang ditinggalkan penelitian-penelitian sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sirena (AA) merupakan cerita pendek karangan Anton Chekhov pada tahun 1887. Cerpen tersebut menceritakan sekelompok pejabat pengadilan yang terjebak dalam ruang pengadilan, sembari menunggu sang ketua sidang. Pyotr Nikolayevich mengeluarkan keputusan akhir. Mereka telah menunggu lama dan pada saat itu waktu telah menunjukkan pukul empat, jam waktu makan siang. Akan tetapi. Pyotr Nikolayevich belum juga mengeluarkan keputusan akhirnya. Pada saat itu. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Ivan Guryich, seorang sekretaris yang berkumis tipis dan memiliki senyuman manis yang licik melakukan aksinya untuk menghasut para pejabat pengadilan menjadi rakus. Bagaikan seekor Sirin, makhluk mitologi dari Slavia yang memiliki wujud setengah burung setengah perempuan dan dapat membuat seseorang lupa dan pada akhirnya meninggal melalui nyanyiannya. Begitu pula Ivan Guryich tak hentinya bercerita mengenai lezatnya menyantap santapan babi dengan lobak kepada mereka dan juga hidangan lain yang menggugah selera. Terjebak dengan waktu dan hasutan tiada henti membawa mereka satu per satu ke dalam jurang kerakusan. Pada akhirnya, mereka menyerah terhadap rasa lapar dan meninggalkan ruangan sidang tersebut, sebagai suatu tanda kekalahan atas kerakusan. Korban pertama Ivan Guryich adalah Grigory Savich, juri berperawakan gemuk yang sudah tidak sabar untuk menunggu jam makan siangnya. Dalam cerpen, dapat dilihat bahwa kegemukan merupakan suatu tanda kerakusan seseorang dan digambarkan melalui ketidakmampuannya untuk menahan nafsunya dan menjadi orang pertama yang keluar dari ruang sidang. Meskipun kegemukan sendiri belum tentu pertanda dari kerakusan dan tidak setiap orang gemuk rakus, dikarenakan perilaku rakus dapat dimiliki siapa saja, bahkan oleh orang kurus sekalipun (Hill, 2. Akan tetapi, perilaku rakus yang ia tunjukkan, tidak semata-mata disebabkan oleh kegemukan yang ia miliki, melainkan Nafsu makan memang merupakan suatu salah satu pemicu utama manusia menjadi rakus. Ketidakmampuan untuk menjaga nafsu makan dan terbawa oleh kenikmatan sesaat menjadi alasan utama seseorang dapat menjadi rakus, terutama saat dikelilingi oleh godaan dan rasa lapar. Ketidakberdayaan manusia tersebut semata-mata diakibatkan oleh poshlost. Poshlost merupakan versi Rusia atas kejahatan dengan bumbu-bumbu metafisika dan moralitas, serta hubungan khas antara spiritual dan seksual (Boym, 2. Menurut LeBlanc . , poshlost dalam karya Chekhov seringkali ditandai melalui kenikmatan tokoh saat mengonsumsi makanan dan minuman, serta dikodekan sebagai suatu penanda materialisme kasar, kekosongan spiritual, dan filistinisme borjuis tokoh di dalam cerita. Selain itu, keinginan daging . arnal appetit. turut menjadikan manusia terbenam dalam jurang Keinginan daging seperti poshlost yang hadir dalam diri manusia dan dapat berujung pada perilaku buruk manusia. Hal tersebut sama dengan pendapat Augustine dan Aquinas . alam LeBlanc, 2. bahwa keinginan daging menjadikan manusia tidak mampu mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi dan keinginan untuk makan makanan lezat terkait erat dengan keinginan untuk berhubungan Hal tersebut disebabkan kerakusan sama dengan keinginan untuk berhubungan seksual karena keduanya dipengaruhi oleh nafsu dan Saat manusia menunjukkan perilaku rakus, ia akan melihat sebuah makanan sebagai suatu hal yang indah seperti seorang perempuan. Berdasarkan alasan tersebut, secara singkat keinginan daging . arnal appetit. sama dengan selera makan . astronomical appetit. Dalam cerpen Sirena. Ivan Guryich juga mendefinisikan nafsu makan kepada Grigory Savich sebagai awal dari Aunyanyian mautAy nya. menganalogikan nafsu makan seperti seekor serigala yang buas dan tidak segan untuk memakan apapun di depannya, tidak terkecuali ayahnya sendiri. Hal tersebut dapat terjadi jika seseorang sudah sangat lapar dan tidak mampu menahannya lagi, terutama setelah melakukan pekerjaan yang berat. AuiEO a eAA N. A ACaO ACC. yACaO. N ACC, . ACAa. CI A AOA U. UAC CU AA ENAAI A, a. ICU A N. CIAOU UCAUAI aC AC A aUO. (AI,1. AuSayangku Grigory Savich, bukan itu yang anda sebut sebagai nafsu makan yang sebenarnya. Sesungguhnya, rasa lapar yang sebenarnya adalah bagaikan serigala yang mampu memakan ayahnya sendiri, setelah melakukan pekerjaan fisik, sebagai contoh, setelah berburu dengan anjing pemburu, atau berlari sejauh 100 verst tanpa istirahat. Ay Pekerjaan berat yang disinggung olehnya berupa berburu dengan anjing atau berlari sejauh 100 verst . verst setara dengan 1. 0668 kilomete. Dalam cerita, kedua pekerjaan berat tersebut merupakan kiasan dari sidang panjang yang baru saja mereka lakukan dan sekaligus menunggu hingga Pyotr Nikolayevich mengeluarkan keputusan akhirnya. lalu menambahkan bahwa hal terpenting dalam mewujudkan nafsu makan tersebut diperlukan imajinasi yang kuat sebagai pendorongnya. Makanan turut memiliki keindahan di dalamnya. Oleh karena itu, keinginan atau nafsu makan tidak Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 akan muncul tanpa adanya imajinasi yang kuat atas keindahan makanan itu sendiri. Selain imajinasi yang kuat, manusia juga harus menghilangkan pemikiran-pemikiran berlebih yang dapat mematikan nafsu makan itu sendiri. Ivan Guryich mengungkapkan bahwa pemikiran tersebut muncul pada diri seorang ilmuwan dan filsuf yang tidak paham terhadap keindahan makanan, dikarenakan mereka hanya memikirkan hal lain secara berlebihan. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa tidak perlu memikirkan hal lain selain makanan lezat maupun anggur yang nikmat dalam menjaga nafsu makan tersebut. Berdasarkan pernyataannya bahwa nafsu makan dapat ditafsirkan sebagai jalan pembuka menuju Diawali ketika seseorang tidak mampu memikirkan hal lain selain makanan dan bersamaan dengan rasa lapar yang tidak tertahankan. Menjadikan orang tersebut tidak dapat berpikir secara rasional dan akan menyantap apapun di Pada saat itulah orang tersebut telah berada di depan pintu kerakusan. Akan tetapi, saat seseorang telah terjebak dengan sensasi nikmat semu, dalam hal ini adalah nafsu makan, serta telah dikendalikan oleh kenikmatan sementara tersebut, seseorang tersebut sudah menunjukkan perilaku Kelemahan tersebut ditunjukkan oleh Grigory Savich setelah mendengar segala buaian Ivan Guryich. Keinginannya untuk segera makan siang dan menyantap makanan lezat semakin menjadi-jadi setelah dirinya terus digoda dengan berbagai makanan lezat, seperti ikan herring . , jamur asin (AU AAUA), kaviar (A), dan hati burbot (Ua ANA). Pada saat itu. Grigory Savich sudah dikendalikan oleh kerakusan dalam Selanjutnya, didukung dengan imajinasi yang kuat, ia mulai membayangkan dirinya sedang menyantap hidangan sup jamur putih (EOUA AUA AU) sebagai makanan pembuka meskipun ia mengetahui bahwa dirinya sedang bekerja. Perilaku rakus tersebut ditanggapi negatif oleh Milkin, seorang hakim distrik yang memiliki wajah lesu dan melankolis. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang filsuf yang tidak memiliki tujuan hidup dan selalu tidak puas dengan kehidupan yang ia jalani. Ia mengecam Grigory Savich sebagai seseorang yang tidak mampu berhenti berbicara soal makanan dan tidak mampu memikirkan hal lain selain makanan dalam hidupnya, meskipun menurutnya masih banyak hal menarik yang dapat seorang manusia pikirkan selain persoalan perut. dan tidak selalu mengenai persoalan perut yang dipikirkan dan dibicarakan. Menurutnya, manusia dapat hidup selayaknya manusia tanpa harus memikirkan kulebyaka atau sup jamur yang dibicarakan oleh Grigory Savich dan juga Ivan Guryich. AucAC A AC. CU AA EAC! AAN EAE Aa aCAUEa AAE. Ai yAEA. AA A EAa. AC AEI Ca ?Ay (AI,1. AuBahkan iblis pun tahu, bahwa dirinya hanya memikirkan tentang makanan! gerutu filsuf Milkin Sungguh, apakah tiada hal yang menarik dalam kehidupan selain sup jamur dan kulebyaka?Ay Akan tetapi, perkataan Milkin tidak membuat Grigory Savich merasa terhina atau malu. Pada saat itu, dirinya sudah di bawah kendali kenikmatan yang ditawarkan oleh sang sekretaris. Ivan turut menjelaskan bahwa justru seharusnya hidangan tersebut menjanjikan kenikmatan yang tidak mampu diucapkan, dan dapat memberikan sensasi yang menggoda ketika menikmatinya. Selain itu, dalam cerpen tersebut juga dijelaskan bahwa bagi Grigory Savich makan hanya dua potong kulebyaka saja melainkan potongan dipersiapkan untuk hidangan berikutnya, yaitu shchi dan juga borscht gaya Ukraina yang berisikan ham dan sosis. Shchi merupakan hidangan lokal Rusia yang berupa sup berisikan kubis dan sayuran lainnya, sedangkan borscht merupakan sup berwarna merah berisikan daging, sayur-sayuran seperti wortel, kubis, kentang, dan buah bit sebagai bahan yang memberikan warna merah pada hidangan tersebut. Selain itu. Ivan juga mengatakan bahwa rassolnik, sup asam yang umumnya berisikan acar timun juga merupakan hidangan lain yang patut dipertimbangkan bersamaan dengan hidangan sup Setelah itu. Ivan Guryich masih menganjurkan Grigory Savich untuk melanjutkan menikmati hidangan berikutnya yakni, ikan mas dengan krim asam (AAU AAU AACA). Hal tersebut membuat Grigory Savich semakin tidak mampu menahan keinginannya untuk segera makan. Anjuran Ivan Guryich penggambaran dari pola makan orang Rusia. Bagi orang Rusia, hidangan sup merupakan hidangan pembuka dan kedua sup yang disinggung oleh Ivan merupakan hidangan yang sangat digemari oleh Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 orang Rusia. Borscht sendiri bahkan dapat disebut sebagai hidangan nasional dan sangat penting bagi orang Rusia, terlebih, sup memang menjadi hidangan wajib di meja makan orang Rusia. Dalam kantin-kantin di Rusia, dua atau tiga hidangan sup selalu disediakan, entah itu shchi, borscht, rassolnik, ukha . up ika. , kharcho . up pedas Georgi. , atau hidangan sup lainnya (Smith, 2. Setelah itu, hidangan dilanjutkan dengan makanan Dalam cerpen Sirena, makanan berat tersebut berupa ikan mas dengan krim asam. Pola makan orang Rusia tersebut secara umum tidak menggambarkan kerakusan. Mereka tidak memakan semuanya secara bersamaan, meskipun mereka sangat menyukai sup. Akan tetapi dalam cerpen Sirena. Grigory Savich justru dianjurkan untuk memakan semuanya secara bersamaan setelah menghabiskan dua potong kulebyaka. Ia bahkan menikmati makanan berat setelah kulebyaka dan sup hanya agar nafsu makannya tidak hilang. Oleh karena itu. Grigory Savich dapat dikatakan telah jatuh dalam jurang kerakusan dan tidak ingin nafsu makannya hilang dari dirinya. Akhirnya. Grigory Savich berteriak histeris karena tidak kuat menahan nafsunya tersebut. Ia memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan makan sendiri. Setelah berhasil membawa Grigory Savich jatuh dalam kerakusan. Ivan Guryich menjadikan Stephan Frantzych seorang jaksa penuntut asal Jerman sebagai korban berikutnya. Akan tetapi, saat Ivan mulai mencoba Stephan Frantzych menolaknya dengan beralasan bahwa dirinya mengidap gastritis. Gastritis merupakan penyakit pencernaan yang disebabkan oleh pembengkakkan lapisan dalam dinding lambung . Hal tersebut tidak menghentikan Ivan Guryich. Ia berargumen bahwa sebuah penyakit datang dari diagnosa seorang dokter, seorang intelektual dan seperti yang telah ia katakan sebelumnya, pemikiran-pemikiran semacam itu hanya akan mematikan nafsu makan. Ivan Guryich menyarankan Stephan Frantzych untuk tidak perlu memikirkan penyakitnya saat menikmati makanan. Ia mengatakan bahwa Stephan Frantzych dapat melupakan penyakit yang dideritanya sejenak melalui makanan. Meskipun seseorang sedang merasa tidak enak makan atau mual, menikmati makanan dan terus makan merupakan hal yang terpenting. Perilaku rakus dapat terlihat jelas melalui pernyataan tersebut. Sesuai dengan makna kerakusan itu sendiri, yaitu makan secara berlebih tanpa memikirkan apapun, termasuk kesehatan diri sendiri. Auo AANACUa, a A E ANEACCU: E Aa CA AE. Ai CA. AEAU! oCA AE CA UE! cUOA C UEAC C AAC UAC sC AU. eU A AOCA a. EOCU A INACAa CO. U A AOCA a EOCA a. iA, . EC AE ANE EAA. AA ACU sCE EACNE ANE aNA AAUI. C CEC A Aa CA EACA. NAACA AA A. Ay (AI,1. AuSayangnya, saya tidak bisa bersimpati dengan Anda: saya menderita gastritis. Lengkap sudah! Gastritis merupakan akal-akalan dokter! Penyakit tersebut lebih banyak berasal dari kesombongan dan pemikiran bebas. Jangan pikirkan hal tersebut. Misalnya. Anda tidak ingin makan atau merasa sakit, jangan pedulikan rasa sakit tersebut dan Katakanlah, misalnya, mereka akan menyajikan beberapa snipe panggang, dan menambahkan ayam hutan atau beberapa puyuh kecil yang gemuk, maka Anda akan melupakan penyakit apapun. Saya berkata dengan jujur. Ay Meskipun pada awalnya Stephan Frantzych terlihat ragu-ragu dan tidak yakin atas nafsu miliknya sendiri, akhirnya, ia mengakui dan menerima kenikmatan tersebut serta memilih menjadi rakus tanpa memikirkan penyakit yang dideritanya. Demikian pula yang terjadi dengan Milkin sang filsuf, pemikiran filosofisnya yang menjaga dirinya dari hawa nafsu secara perlahan mulai pudar dan ia mulai membayangkan lezatnya hidangan kalkun dan bebek panggang. Milkin yang sebelumnya mencela Grigory Savich karena tidak berhenti untuk Hal tersebut dianalogikan sebagai kekuatan misterius di dalam cerita. Milkin memilih untuk meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apa pun dan dalam kondisi sedang memikirkan Dalam cerpen Sirena, kerakusan yang ditunjukkan oleh para tokoh terhadap makanan tidak hanya berperan dalam menggambarkan sifat dan watak para tokoh. Chekhov juga menggambarkan kerakusan tersebut sebagai ekspresi satir terhadap pejabat birokrasi Rusia pada saat itu. Tema birokrasi dan kerakusan memang merupakan tema yang diusung oleh Chekhov terhadap cerita pendek tersebut (Basharkina, 2. Pejabat Rusia Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 digambarkan dalam cerita sebagai seorang yang terus memikirkan makanan sebagai rutinitas dalam kehidupan mereka dan beranggapan bahwa tidak ada hal yang menarik dalam kehidupan selain Sebaliknya. Chekhov menggambarkan filsuf sebagai seorang yang selalu mencari tujuan hidup dan pembenaran, meskipun pada akhirnya, tetap tidak mampu membendung kerakusan saat rasa lapar menyerang dan makanan sebagai kebutuhan hidup manusia harus dipenuhi. A AA: Fames Ai AU. CA AC AIAI ENAI. Ay (AI,1. Au A Aku merasakan penyakit aneh menguasaiku secara perlahan. Tidak ada rasa sakit, tetapi kakiku lemas, kata-kata berhenti di tenggorokanku, kepalaku mulai jatuh ke satu sisi. Sepertinya, saya harus jatuh dan kehilangan kesadaran. Jika saya berada di rumah sakit saat ini, para dokter seharusnya menulis di papan saya: Fames, penyakit yang tidak ada dalam buku teks kedokteran. Ay Cerpen berikutnya yang akan dianalisis adalah Tiram (ACAIU) karya Chekhov pada tahun 1884. Cerpen tersebut bercerita mengenai seorang anak laki-laki dan ayahnya sedang mengemis uang di jalanan kota Moskow. Pada saat itu, ia mengenal tiram, hidangan yang belum pernah ia nikmati sebelumnya karena keterbatasan ekonomi. Menurut Jack Goody dan Pierre Bourdieu . alam LeBlanc, 2. perilaku, selera, dan preferensi makan individual sangat terkait erat dengan kelas sosial ekonomi dalam stratifikasi sosial. Rasa lapar yang dialami anak tersebut semakin kuat seiring dengan ia dan ayahnya mulai berjalan melewati satu restoran ke restoran lain. Secara perlahan, ia mulai kehilangan kesadarannya dan tidak mampu membaca tulisan yang terpampang di restoran-restoran tersebut, meskipun ia sudah memaksakan diri. Rasa lapar telah mengambil alih tubuh anak tersebut. Akan tetapi, saat dirinya akan kehilangan kesadaran seutuhnya. Nafsu makan dan kelima panca inderanya mulai bereaksi ketika ia melihat tiram. Ia mulai menunjukkan tanda-tanda kerakusan karena terpengaruh rasa lapar dan nafsu Hal tersebut terlihat dari cara ia membayangkan kelezatan seekor tiram dengan sangat nikmat, meskipun ia belum pernah melihat tiram sekalipun serta membuatnya harus bertanya kepada ayahnya dan dijawab sebagai hewan yang tinggal di laut. Tiram sendiri telah dikenal sebagai suatu hidangan mewah di Eropa, meskipun pada abad ke-19 dianggap sebagai makanan jalanan di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Akan tetapi, pada abad ke-18 Rusia baru mengalami AuwesternisasiAy oleh Peter Agung dan, menjadikan tiram sebagai salah satu bahan masak bagi para bangsawan (Smith, 2. Dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa mereka yang mampu memakan tiram terdiri dari pria-pria terhormat yang memakai topi tinggi dan tertawa seakan merendahkan ketika sang anak mengaku telah memakan tiram. Kerakusan yang ditunjukkan oleh tokoh anak berawal dari rasa lapar yang tidak tertahankan. menggambarkan rasa laparnya tersebut seperti sedang diserang oleh sebuah penyakit aneh. Penyakit tersebut tidak memberikannya rasa sakit melainkan membuat kakinya melemah dan membuatnya tidak mampu berbicara. Penyakit tersebut secara perlahan membuat dirinya kehilangan kesadaran. Meskipun ia pergi ke rumah sakit, dokter pun tidak dapat menemukan penjelasan penyakit tersebut dalam buku kedokteran. AuA NEACEa, a ACAA AAC ACAa AU. c AC , aCAa. A ACaCAa a A, aU aCAa . -E, a AANA A EACU CaCU AA. a sC ECU UIE. CA U U U ACU Berdasarkan informasi singkat tersebut anak kecil tersebut mampu mengolahnya menjadi sebuah penjelasan yang kompleks. Hal tersebut disebabkan oleh imajinasi yang kuat dan didukung oleh nafsu makannya akibat rasa lapar. Ia mampu membayangkan tiram sebagai hewan laut yang berbentuk antara ikan dan kepiting, dua bahan laut Dalam pemikirannya, kelezatan dan kenikmatan tiram bersatu dengan ikan panas dan sup kepiting. Imajinasi miliknya juga memberikan suatu kenikmatan bagi indera penciuman dan perasanya. Kenikmatan tersebut secara perlahan mulai menguasai seluruh tubuhnya bahkan membuat mulutnya mulai bergerak sendiri tanpa ia sadari. Mulutnya bergerak seolah, sedang menggigit satu potongan lezat daging tiram. Kakinya pun mulai melemah dan harus berpegangan kepada ayahnya agar tidak jatuh, seakan menggambarkan kenikmatan tersebut. Akan tetapi, kenikmatan tersebut tidak bertahan Setelah sang ayah menjelaskan bahwa sebuah tiram dimakan hidup-hidup dan memiliki cangkang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 layaknya seekor kura-kura, pemikiran filosofis langsung membuyarkan kenikmatan yang ia rasakan dan dalam sekejap berubah menjadi rasa jijik. Seekor katak yang muncul dari dalam cangkang menjadi gambaran baru atas tiram. Katak tersebut, memiliki mata besar yang berkilau dan kulit berlendir yang menjijikkan. Begitu menjijikan, sampai-sampai menurutnya dapat membuat anakanak bersembunyi ketika sedang dimasak dan juga membuat para juru masak mengerutkan dahi dan menatap tiram dengan jijik. Menjadikan orang dewasa sebagai satu-satunya yang mampu menikmati tiram dan memakannya secara hiduphidup. Meskipun pandangannya terhadap tiram berubah menjadi seekor hewan laut yang menjijikan, tanpa ia sadari dirinya telah terbawa oleh kenikmatan yang membawanya ke dalam jurang kerakusan. Semakin ia memandang jijik tiram, dirinya semakin tidak mampu berhenti menggerakkan giginya seakan sedang mengunyahnya. Kerakusan yang telah muncul dalam dirinya membuatnya tidak cukup memakan satu tiram. Potongan demi potongan tiram menjadi obsesi barunya, meskipun ia melihat tiram tersebut dengan jijik. Anak kecil itu sadar dengan penampilan mengerikan tiram yang berada dalam bayangannya, sehingga ia pun merasa jijik saat berpikir harus memakannya. Akan tetapi, hal mengkonsumsinya karena, hanya terdapat kata makan yang muncul dipikirannya. Kerakusan yang muncul dari rasa lapar yang tidak dapat ditahan semakin besar hingga, dirinya sanggup untuk makan apapun yang berada di hadapannya, baik makanan ataupun bukan. Dalam cerpen tersebut, anak kecil itu digambarkan tidak segan untuk memakan serbet meja, piring, sepatu ayahnya, dan papan restoran demi mampu memuaskan nafsu makan serta rasa laparnya. dapat sembuh dari penyakit laparnya hanya dengan makanan, tanpa mempedulikan penampilan ataupun rasa makanan tersebut. Au AOEAU, . NA A EU NaC ACU? AA, CACCAU. ACAO, a A A. A A ACUa, aAU ACU A EA I. CA AOAA, a EA E AACaOA AE. CAACUA. sCI. yAI A AEACE. CAAE. O CI. AEa UAAE. i Ac. NC CU ACAa A . CE NC a NEACEa. NC CU C AU AAC a AU. ACAIU ACAO aaC CACCAUU, a AE C UA I, a INE AACU! iACU!Ay (AI,1. AuAku meringis, tetapi. tetapi kenapa gigiku mulai mengunyah sendiri? Hewan itu memuakkan, menjijikkan, menakutkan, tetapi saya memakannya, saya memakannya dengan rakus, takut menebak rasa dan baunya. Sesaat setelah makan potongan pertama, aku sudah dapat melihat mata bersinar di potongan kedua, begitu pula yang ketiga. Aku makan semuanya. Pada akhirnya saya makan serbet, piring, sepatu karet ayah saya, papan Aku makan semuanya yang ada di mata saya, karena aku merasa penyakitku akan hilang hanya dari makanan. Tiram memiliki mata yang menakutkan dan menjijikkan, aku gemetar memikirkannya, tetapi aku ingin makan! Makan! Keinginan untuk menyantap tiram membuatnya histeris dan berteriak kepada siapapun untuk memberikannya tiram. Walaupun ia sadar bahwa perbuatannya akan membuat malu dirinya dan ayahnya, tetapi ia tidak mempermasalahkan hal Rasa malu bukan sebuah penghalang untuk memuaskan nafsunya terhadap tiram bagi dirinya yang sudah terjebak dalam kerakusan. Perbuatannya tersebut tentu menjadi sebuah hiburan bagi para orang kaya yang mampu menyantap tiram. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa tiram merupakan makanan untuk kaum elit. Banyak orang yang menertawainya dan mencelanya menatap tidak percaya bahwa sang anak mampu untuk membeli dan menikmati tiram. Seseorang dari mereka membawanya ke sebuah restoran dan memesan sepiring tiram sebagai bukti bahwa anak tersebut pernah memakan tiram. Perlakuan tersebut bertujuan untuk membuatnya semakin malu dan menjadi hiburan bagi para kaum elit. Sebuah hidangan yang belum pernah anak kecil itu rasakan dan hanya mampu dibayangkanya pun, tersaji di depan matanya untuk pertama kalinya. Seperti kerakusan yang ditunjukkan dalam Sirena, perilaku rakus yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerpen Tiram ini juga terpicu oleh manusia di Orang-orang kaya di sekitarnya tersebut yang memicu kerakusan dalam dirinya. Sama seperti Ivan Guryich yang mengajak tokoh-tokoh dalam Sirena menjadi rakus, orang-orang kaya tersebut mencela dan dan mengajak tokoh utama ke dalam restoran untuk menikmati tiram dan membiarkannya untuk melepas rasa lapar serta dan kerakusannya terhadap tiram. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Anak kecil tersebut tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk segera menyantapnya dengan rakus karena dirinya berada di bawah pengaruh Ia menggambarkan tiram sebagai sesuatu yang berlendir sekaligus menciptakan rasa asin yang tercampur dengan tekstur basah yang dimiliki tiram. Ia menyantap tiram dengan rakus hingga dijelaskan bahwa ia tidak mengunyahnya dan langsung menelannya secara utuh. Anak kecil tersebut bahkan juga memakan cangkang tiram Aua. NUa-C AUa AE COC Aa AAOAE CACAE. a ECE aCAa AE C aC Aa A aUCAC AAI. AE AC A NC-C AA, a. CaOAA AUAACUa aUa. A A ACUa. A Ea. A aa A aU. NC a A. uA ACAa. NC AA a CAa . C a EE AACaOA . AO ACAUA EU. Ay (AI,1. Au Aku ingat, seseorang menarik tanganku dengan keras menuju sebuah kedai. Beberapa menit kemudian terdapat keramaian mengitariku, memperhatikanku penuh penasaran dan penuh Aku duduk di sebuah meja dan makan sesuatu yang berlendir,asin, basah dan lembab. Aku makan dengan rakus, tanpa mengunyahnya, tanpa melihat dan mencari tahu apa yang telah aku makan. Aku pikir, jika aku membuka mataku, aku dapat melihat mata yang berkilauan, cakar dan gigi yang Ay Aksi yang dilakukan anak tersebut tentu menjadi bahan tertawaan oleh mereka yang berkumpul di tempat tersebut. Hal tersebut merupakan akibat dari ketidakmampuannya menahan kerakusan yang ia Tindakannya tersebut membuktikan bahwa seseorang yang berada dalam pengaruh nafsu makan dapat berujung pada kerakusan dan melahap apapun di depannya, baik sesuatu yang dapat dikonsumsi atau tidak. Perilaku yang anak kecil itu lakukan sesuai dengan definisi kerakusan itu sendiri, yaitu mengonsumsi makanan secara berlebihan dan tidak dapat dikendalikan. Kerakusan tersebut terjadi saat seseorang mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan, tidak sehat, dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri (Brannon, 2. Selain esensi gastronomi yang dapat terlihat di dalam cerita pendek Tiram, dapat terlihat pula bahwa Chekhov juga memberikan penggambaran terhadap kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat Rusia, khususnya kaum elit dan kaum Penggambaran tersebut terlihat dari tokoh anak yang kelaparan dalam cerita karena tidak mampu membeli makanan yang disebabkan Sementara itu, di sisi lain kaum elit dapat makan dengan layak bahkan mampu membayar tiram untuk yang akan diberikan secara gratis kepada tokoh anak sebagai lelucon yang menghibur bagi mereka. Perbedaan pengetahuan mengenai makanan antara kedua kasta juga dapat terlihat dengan jelas dalam cerpen tersebut. Selain itu, kesenangan dalam makan makanan mewah yang hanya dapat dikonsumsi oleh kaum elit tidak hanya berujung kepada kerakusan, tetapi juga sebagai status dari kemewahan yang mereka miliki. Hal tersebut disebabkan segala kelimpahan dan kemewahan sosial dapat direpresentasikan melalui konsumsi makanan dan minuman yang berlebihan (Uddin, 2. , meskipun, kerakusan tidak memandang kasta antara yang kaya dan miskin seperti yang dipertunjukkan tokoh di dalam cerpen tersebut. Tolstoy dalam LeBlanc . juga menjelaskan bahwa kerakusan merupakan tujuan utama dari kepuasan hidup baik dari masyarakat termiskin hingga masyarakat terkaya dalam tatanan sosial. Cerpen terakhir yang akan dianalisis berjudul Orang Perancis Bodoh . EU EAIE) Chekhov pada tahun 1886. Cerpen tersebut mengenai seorang badut bernama Henry Pourquoi yang mengunjungi sebuah kedai di Rusia dan terkejut ketika melihat cara besarnya nafsu makan orang Rusia. Kerakusan manusia memang menjadi gagasan utama yang ditunjukkan Chekhov dalam cerpen tersebut. Hal tersebut langsung dapat terlihat ketika dirinya melihat seseorang bertubuh gemuk yang duduk di sampingnya sedang bersiap-siap untuk memesan bliny, sebuah panekuk tradisional Rusia yang terbuat dari gandum atau tepung buckwheat dan umumnya disajikan dengan smetana, mentega maupun kaviar. Terdapat perbedaan porsi yang dipesan oleh Pourquoi dan pria bertubuh gemuk tersebut. Pourquoi diceritakan memesan dengan porsi sedikit dan ketika ia memesan consomme, ia memesannya tanpa telur rebus karena hal itu terlalu mengenyangkan untuk nya. Sementara itu, pria bertubuh gemuk justru memesan lima bliny sekaligus dan mampu menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima menit. Berdasarkan perbedaan tersebut dapat terlihat kembali kecenderungan Chekhov untuk menjadikan kegemukan sebagai suatu lambang dari kerakusan, meskipun Chekhov sendiri yang menjelaskan bahwa Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 kerakusan tidak hanya dilakukan oleh orang bertubuh gemuk, melainkan semua orang. Pernyataan banyaknya orang yang memesan makanan dengan porsi yang sama besarnya di akhir cerita. AuACA. Ai E EAE, aCAa a. Ai OA aCU EA CAAC AOA AAC! eANA. CA EAAU A AACaaC aC. Aa E A cAAC U aa AAE. CAU A AOA A CAA AEE aCU AUI CAC. eAaC. NC AACU CA A. AaC. AAy. (AI,1. AuAneh. " pikir Pourquoi, melihat tetangganya. Dia makan lima potong dan meminta lebih banyak lagi! Namun, fenomena seperti itu tidak jarang Saya sendiri memiliki seorang paman seorang Perancis di Inggris, yang makan dua mangkuk sup dan lima irisan daging domba. Mereka mengatakan bahwa ada juga penyakit ketika mereka makan banyak . Perilaku rakus yang ditunjukkan oleh pria tersebut tidak hanya pada adegan tersebut. Setelah menghabiskan lima bliny, ia kembali memesan sepuluh hingga lima belas bliny disertai salmon atau balyk, semacam dendeng yang terbuat dari ikan Salmon, dan beluga atau Sturgeon. Oleh karena itu, kerakusan yang ditunjukkannya tidak hanya melalui keinginan untuk makan secara berlebih, melainkan juga dari ketidakmampuannya untuk berhenti makan setelah menghabiskan satu hidangan. Tindakannya tentu bukan suatu hal yang mengherankan lagi. Hal tersebut disebabkan seseorang dapat jatuh ke dalam kerakusan jika orang tersebut terpengaruhi oleh rasa Dalam cerpen Orang Perancis Bodoh, orang bertubuh gemuk tersebut diceritakan makan secara terburu-buru, seseorang yang kelaparan. Akan tetapi. Pourquoi dalam cerita menjelaskan bahwa kerakusan tersebut bukan suatu fenomena yang asing. Ia menjadikan pamannya yang mampu menghabiskan dua mangkuk sup dan lima potong domba sekaligus sebagai contoh. Pourquoi juga mengatakan bahwa terdapat penyakit yang disebabkan makan terlalu banyak yang disebut dengan Binge Eating Disorder. Binge Eating Disorder merupakan sebuah penyakit yang mengakibatkan seseorang makan dengan jumlah banyak dalam waktu yang singkat dan tidak mampu mengontrol seberapa banyak yang ia makan. Seseorang dengan penyakit tersebut terkadang merasa tidak nyaman dan merasa sedih setelah mengonsumsi makanan. Melalui Pourquoi berargumentasi bahwa sang pria gemuk sudah sakit dan ingin bunuh diri secara perlahan. Menurut Pourquoi, hal tersebut dapat terlihat dari kesedihan yang ditunjukkan oleh pria gemuk tersebut. Tolstoy . alam LeBlanc, 2. berpendapat bahwa seseorang harus makan secukupnya dan nafsu makan yang tidak terkendali dapat menyebabkan makan secara berlebihan atau kerakusan yang membuat seseorang merasakan ketidakpuasan fisik, moral, dan spiritual. AuCC NAA INAC EaCU! yAUa A AOAACU CEa AAE! i, . INAC EaCU. C A AEACE IE. Ay (AI,1. AuOrang ini ingin mati! Mustahil untuk makan sebanyak itu tanpa berpikir panjang! Ya, ya, dia ingin mati. Terlihat dari raut wajahnya yang Ay Kekhawatirannya tersebut menjadikannya untuk bersimpati terhadap pria gemuk tersebut dan juga menyarankan kepada pelayan kedai untuk tidak memberikan sesuatu yang pria gemuk inginkan untuk menghentikan kerakusannya tersebut. Akan tetapi, pelayan tersebut beralasan bahwa ia tidak dapat menolak permintaan yang diajukan oleh Berdasarkan penolakan tersebut, dapat terlihat bahwa pelayan tersebut memiliki kemiripan peran dengan tokoh Ivan Guryich dan orang-orang kaya pada dua cerita pendek sebelumnya, yaitu manusia yang berperan sebagai katalisator agar orang-orang dapat menunjukkan kerakusan mereka. Penggambaran pelayan tersebut dari cara dirinya memberikan saran kepada pria gemuk untuk memesan hidangan lain, meskipun sebenarnya sang pria gemuk hanya meminta untuk dibawakan satu panekuk lagi dan sebotol anggur. Akhirnya, pria gemuk tersebut pun memesan satu hidangan lagi untuk memenuhi hasrat makan Meskipun awalnya ia makan dengan banyak karena dorongan dari pelayan tersebut, kerakusan datang dari dirinya sendiri ketika ia berpesan kepada berlama-lama membawakan pesanannya. Hal itu disebabkan menunggu hanya akan mematikan nafsu makannya. Kemudian pria gemuk tersebut juga berkata waktu telah menunjukkan pukul tiga dan ia harus segera makan malam pada pukul lima. AuuAa EA aC sC UA CACU! C AI AI U CU Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 NA! C ACC AAC NcACE. AOU. ANA CA NA. A aC UCU aA AA. Ay (AI,1. AuJeda waktu yang panjang ini sangat mengganggu saya! Dari porsi ke porsi lainnya, saya harus menunggu setengah jam! Itu akan merusak selera makanku dan aku akan terlambat. Sekarang jam tiga dan saya harus berada di acara makan malam pada jam lima. Ay Pernyataan kerakusannya, melalui keinginannya untuk tetap makan malam meskipun dirinya telah makan untuk waktu yang lama dan dengan porsi yang besar layaknya sedang sarapan, makan siang, dan makan malam secara bersamaan. Akan tetapi, semua porsi besar tersebut tidak ada artinya baginya. Ia bahkan terkejut bahwa Pourquoi menganggapnya telah makan besar. Menurut pria gemuk tersebut, ia hanya makan sesuai porsinya, sesuai dengan porsi yang sama dengan yang lainnya. Melalui cerpen Orang Perancis Bodoh. Chekhov berupaya melakukan sindiran terhadap pola makan orang Rusia, terutama di Moskow. Chekhov memang kerap memasukkan kota Moskow, baik sebagai latar, diperkenalkan dalam narasi sebagai kenangan atau hanya disebutkan dalam beberapa karyanya (Lavrukhina. Pola makan orang Rusia tersebut dapat dianggap sebuah kerakusan sehingga membuat Pourquoi merasa bahwa mereka makan banyak sebagai tindakan bunuh diri. Selain itu, dapat meninggalkan restoran bahwa Rusia merupakan sebuah negara yang indah, tidak hanya iklim mereka yang mengejutkannya namun juga kapasitas perut mereka yang dianggapnya sebuah keajaiban. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa makanan dalam karya sastra tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi makanan turut menyimpan keindahan dan dapat diluapkan dalam sebuah karya sastra. Melalui makanan, perwatakan dan sifat para tokoh dapat ditunjukkan dalam karya sastra. Hal tersebut disebabkan oleh rasa yang dimiliki sebuah hidangan dapat mempengaruhi sifat manusia. Kesusastraan Rusia pun menjadi salah satu yang menghadirkan keberagaman hidangan sebagai landasan cerita dan juga pembangunan karakterisasi tokoh, terutama karya-karya Chekhov menyindir pemerintah dan masyarakat Rusia melalui tema-tema birokrasi, korupsi, cinta, kematian, dan kerakusan yang dapat digambarkan melalui kecenderungan tokoh terhadap makanan. Kerakusan tersebut timbul dari poshlost, yaitu sifat buruk yang hadir dalam diri manusia. Terutama saat mengkonsumsi makanan ataupun minuman dan menimbulkan kenikmatan yang tidak terkendali. Selain itu, keinginan daging . arnal appetit. atau nafsu duniawi yang ada dalam diri manusia turut membuat manusia masuk ke dalam jurang Rasa lapar yang tidak tertahankan menjadi awal dari perilaku rakus, kemudian ditambah oleh nafsu makan yang dimiliki oleh para tokoh. Pada cerpen Sirena, para tokoh merasa sangat lapar setelah mereka baru saja menyelesaikan sidang dan sudah masuk waktu jam makan siang. Pada cerpen Tiram, kelaparan yang dialami oleh tokoh disebabkan keterbatasan ekonomi. Sementara itu, pada cerpen Orang Perancis Bodoh kelaparan ditunjukkan para tokoh dari nafsu makan yang besar dan begitu lapar hingga mampu sarapan, makan siang, dan makan malam dalam waktu yang sama demi memuaskan hasratnya untuk terus makan. Selain itu, tokoh yang memiliki peran untuk memengaruhi tokoh lainnya untuk terus makan dan tidak mematikan nafsu makan yang semakin lama semakin besar juga Tokoh tersebut berperan sebagai katalisator yang membawa tokoh lainnya menjadi rakus. Pada cerpen Sirena, terdapat tokoh Ivan Guryich yang menghasut tokoh lainnya untuk terus makan, terlepas dari alasan dan penyakit yang mencegah mereka untuk makan banyak. Selanjutnya, terdapat orang-orang kaya yang membawa tokoh utama pada cerpen Tiram ke dalam mengkonsumsi tiram secara berlebihan. Terakhir adalah tokoh pelayan yang terus membawakan makanan tanpa henti kepada pelanggannya dalam Orang Perancis Bodoh. Akhirnya, rasa lapar dan nafsu makan serta kehadiran tokoh penghasut menjadikan para tokoh-tokoh di dalam cerita terbawa dalam sensasi kenikmatan semu saat Kenikmatan yang dirasakan oleh para tokoh tersebut secara perlahan menjadikan mereka sebagai seseorang yang rakus dan tidak berhenti memikirkan dan mengonsumsi makanan. DAFTAR PUSTAKA