ABDI SAMULANG : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT e-ISSN: 2964-7215 (Onlin. Valume. Nomor. Edisi: Januari 2025. PP: 31-38 DOI: https://doi. org/10. 61477/abdisamulang. Pencegahan Kekerasan Dalam Olaraga: Pendekatan Edukasi Dan Hukum Keolaragaan Bagi Komunitas Olahraga Lokal Di Kelurahan Bontoraya Wahyu Munandar1 Program Studi Pendidikan Pendidikan Jasmani. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Megarezky. Makassar. Indonesia e-mail: wm. munandar@unimerz. Article history Received : 2025-01-20 Revised : 2025-01-27 Accepted : 2025-01-27 *Corresponding author E-mail: wm. munandar@unimerz. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Abstrak Kekerasan dalam olahraga sepakbola meningkat dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya dikaji secara sosiologis, tetapi juga melalui pendekatan hukum. Sosialisasi kegiatan dilakukan di Kelurahan Bontoraya. Kecamatan Batang. Kabupaten Jeneponto. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah pendekatan edukasi dan pendekatan hukum keolahragaan yang mana pendekataan ini digunakan untuk menelaah kerusuhan yang biasa terjadi dalam even olaraga dan mentransformasikannya menjadi peraturan atau undang-undang tentang kekerasan dalam Kekerasan dapat dilakukan siapa saja, dan konsekuensinya harus dipahami. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan sosialisasi kepada Komunitas Olaraga Lokal di Kelurahan Bontoraya bahwa kekerasan tersebut merupakan tindak pidana atau pelanggaran biasa. Materi sosialisasi ini bertujuan meningkatkan nilai-nilai olahraga untuk menekan kekerasan pada event olahraga. Kata Kunci: Edukasi. Kekerasan. Olahraga. Hukum Keolarahgaan Abstract Violence in football has increased in the last decade. This phenomenon is not only studied sociologically, but also through a legal approach. The socialization of activities was carried out in Bontoraya Village. Batang District. Jeneponto Regency. The approach used in this Community Service activity is an educational approach and a sports law approach, where this approach is used to examine the riots that usually occur in sports events and transform them into regulations or laws on violence in football. Violence can be committed by anyone, and the consequences must be Therefore, it is necessary to conduct socialization to the Local Sports Community in Bontoraya Village that this violence is a criminal act or ordinary The material for this socialization aims to improve sports values to reduce violence at sporting events. Keywords: Education. Violence. Sports. Sports Law A 2025 Author. All rights reserved PENDAHULUAN Tujuan utama dari pembinaan olahraga adalah untuk meraih prestasi yang optimal. Dalam konteks olahraga, prestasi menjadi salah satu tolok ukur penting dalam menilai keberhasilan pengembangan bidang tersebut. Dengan kata lain, pencapaian prestasi olahraga dapat dijadikan sebagai indikator langsung untuk mengukur status, tingkat pencapaian, dan Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang kesuksesan dalam olahraga. Prestasi yang diraih juga mencerminkan efektivitas program pembinaan yang diterapkan, sehingga dapat menjadi dasar evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan di masa depan. Lebih jauh lagi, prestasi olahraga tidak hanya menjadi kebanggaan individu atau tim, tetapi juga mampu mengangkat nama baik suatu bangsa di kancah internasional. Kekerasan dalam olahraga di Indonesia telah menjadi perhatian yang kian mendesak seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap berbagai jenis olahraga. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat banyak kasus yang menunjukkan fenomena kekerasan baik di tingkat kompetisi amatir maupun profesional. Situasi ini tidak hanya mencerminkan adanya pelanggaran terhadap prinsip fair play, tetapi juga dapat berakibat serius terhadap kesehatan mental dan fisik para atlet serta penggemar olahraga. Sebagai negara yang kaya akan ragam olahraga seperti sepak bola, bulu tangkis, dan pencak silat. Indonesia seharusnya menjadi contoh positif dalam mempromosikan perilaku sportif yang sehat. Menurut (Munandar & Afriansya, 2. berolahraga akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik sehingga perlu meluangkan waktu untuk bisa melakukan kegiatan olahraga secara rutin. Beberapa komponen fisik akan meningkat jika berolahraga dengan memperhatikan intensitas dan repetisi dari setiap gerakan. Kesadaran akan pentingnya berolahraga harus tetap digalakkan di Masyarakat agar timbul kesadaran akan pentinya bagi beberapa komponen fisik kita. Menurut (Munandar, 2. Komponen-komponen kondisi fisik tersebut terdiri dari kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, daya lentur, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, ketepatan dan reaksi. Di tingkat nasional, meningkatnya kekerasan dalam olahraga sering kali berakar pada rivalitas yang sangat tinggi antar tim maupun supporter. Beberapa insiden kerusuhan yang terjadi di stadion menggambarkan bagaimana emosi dan tekanan untuk menang dapat berujung pada tindakan kekerasan yang tidak dapat diterima. Selain itu, sikap agresif yang muncul dari para penggemar dan media sosial juga berkontribusi menciptakan suasana yang tidak kondusif bagi perkembangan olahraga yang sehat. Oleh karena itu, pemahaman dan penanganan isu ini menjadi semakin krusial untuk menegakkan keamanan dan kenyamanan dalam berolahraga. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai organisasi tertinggi sepak bola di Indonesia memiliki berbagai aturan yang mengatur semua aspek terkait sepak bola, termasuk penyelenggaraan pertandingan resmi. Dalam Kode Etik PSSI, diatur pula kewajiban bagi seluruh anggotanya untuk mematuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan. Semua ketentuan mengenai perilaku pemain sepak bola di lapangan telah dirumuskan, dicantumkan, dan dijelaskan dalam sejumlah regulasi. Namun, dalam praktiknya, tindakan keras yang cenderung kasar dari pemain sepak bola di Indonesia masih sering terlihat. Kekerasan, baik yang disebabkan oleh kelalaian maupun kesengajaan pemain, masih menjadi fenomena umum yang terjadi di lapangan, baik pada level liga amatir maupun profesional di Indonesia. Menurut (Sunarya, 2. Pertandingan sepak bola memang sudah memiliki Rules of The Game, yang mengatur sejauh mana kontak fisik antar pemain boleh di lakukan dalam suatu pertandingan sepak bola, sehingga para pemain dari kedua tim tidak bisa seenaknya berlaku kasar dan melakukan kekerasan baik sengaja maupun tidak sengaja dalam sebuah pertandingan sepak Sementara itu, jika melihat lebih dekat kondisi di Kota Makassar, kekerasan dalam dunia olahraga juga menjadi salah satu isu yang mencuat. Dengan keberadaan klub-klub sepak bola yang memiliki basis pendukung fanatik, seperti PSM Makassar, bentrokan antarpendukung tim yang berbeda sering kali terjadi, khususnya selama pertandingan derby. Ketidaktepatan dalam penanganan oleh pihak keamanan, ditambah dengan pengaruh kepentingan bisnis dan komersialisasi olahraga, semakin memperumit situasi ini. Untuk menciptakan atmosfer olahraga yang lebih aman, diperlukan sinergi antara pemerintah, klub sepak bola, dan komunitas dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sportivitas serta membangun infrastruktur yang menunjang keamanan selama penyelenggaraan acara olahraga. Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang Upaya ini menjadi langkah awal untuk mengatasi kekerasan dalam olahraga sekaligus mendorong terciptanya budaya olahraga yang lebih positif di Makassar maupun di seluruh Indonesia. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah: Sosialisasi kegiatan, meliputi pemberian materi tentang Kekerasan dalam Olahraga. Diskusi/Tanya jawab: Pada bagian ini, masyarakat kelurahan Bontoraya. Kec. Batang. Kab. Jeneponto dalam bentuk diskusi. Pemecahan masalah: Pemateri memberikan tips tentang bagaimana berolahraga dengan menekankan nilai-nilai olahraga dan bukan tentang menang dan kalah. Waktu dan cara Pelaksanaan Kegiatan PKM ini dilaksanakan di Kelurahan Bontoraya. Kecamatan Batang. Kabupaten Jeneponto, pada tanggal 18 November 2024, pukul 09:00-12:00 WITA HASIL PEMBAHASAN Kekerasan Kekerasan dapat diartikan sebagai penggunaan kekuatan fisik yang berlebihan dengan tujuan atau akibat yang menyebabkan kerusakan atau kehancuran. Secara umum, kekerasan mencakup tindakan agresif dan pelanggaran, seperti penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan sebagainya, yang bertujuan atau berpotensi menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Namun, pengaruh kekerasan juga bergantung pada situasi serta nilai-nilai sosial yang Menurut (Abduh, 2. Kekerasan merupakan tindakan agresi yang dikategorikan dalam pelanggaran yang termasuk didalamnya . emukulan, penyiksaan, kekerasan seksual dan lain-lai. yang menyebabkan penderitaan bagi orang lain baik fisik maupun mental. Kekerasan semakin sering terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, baik di ranah sosial maupun profesional. Dalam dunia olahraga, ambisi untuk meraih kemenangan tanpa mengedepankan sportivitas sering kali berujung pada penderitaan fisik maupun emosional bagi pihak lawan, yang pada gilirannya dapat memicu konflik atau tindakan kekerasan antar Di sisi lain, fenomena kekerasan juga kerap muncul di kalangan suporter, khususnya dalam olahraga sepak bola, yang telah menjadi sorotan utama media massa. Tidak jarang, insiden ini menimbulkan kerugian besar, termasuk korban jiwa di antara para suporter. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang menyeluruh melalui edukasi sportivitas kepada para pemain dan pendukung, penegakan aturan yang tegas, serta peningkatan sistem keamanan selama pertandingan. Upaya kolaboratif antara pihak klub, asosiasi olahraga, dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan atmosfer olahraga yang aman dan positif, serta mengurangi potensi kekerasan yang merusak esensi olahraga sebagai sarana pemersatu masyarakat. Dalam dunia olahraga, kekerasan sering kali dianggap sebagai bagian dari dinamika permainan untuk mencapai prestasi tertentu. Namun, pada kenyataannya, kekerasan dalam olahraga cenderung membawa dampak negatif, seperti perseteruan fisik antar pemain, konflik antara pemain dan wasit, hingga bentrokan yang melibatkan suporter. Jenis kekerasan ini umumnya mengacu pada tindakan fisik yang disengaja, tidak sesuai kebutuhan, dan bahkan membahayakan, yang sering terjadi selama pertandingan atau dipicu oleh semangat kompetisi yang berlebihan. Edukasi pencegahan kekerasan dalam olaraga di kelurahan Bontoraya dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang . Gambar 1: . Sesi penyampai edukasi pencegahan kekersan dalam olaraga, . Sesi tanya jawab dengan Masyarakat Kelurahan Bontoraya. Olahraga kontak fisik, seperti sepak bola Amerika, hoki es, rugby, lacrosse, sepak bola, tinju, pencak silat, gulat, dan polo air, kerap dikaitkan dengan kekerasan fisik. Pada level pemain, tindakan ini dapat mencakup kontak fisik yang sangat keras, bahkan melampaui batas aturan permainan yang diizinkan. Tidak hanya antar pemain, kekerasan juga dapat melibatkan individu lain, seperti pelatih atau penonton, yang secara sengaja berupaya mencederai pihak lawan. Selain itu, ancaman atau cedera fisik nyata sering kali dialami oleh pemain maupun pelatih, bahkan merambat pada perseteruan antar suporter yang memicu kekerasan massal. Menurut (Warta et al. , 2. Olahraga dengan segala aspek dan dimensi kegiatannya, lebih-lebih yang mengandung unsur pertandingan dan kompetisi, harus disertai dengan sikap dan perilaku berdasarkan kesadaran moral. Sehingga penting untuk membangun perilaku dan kebiasaan bermain secara fairplay dimulai dari kompetisikompetisi pada skala lokal agar melahirkan para pelaku olahraga yang sesuai dengan Selain itu, program edukasi yang berkelanjutan harus dirancang untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya etika dalam olahraga sejak usia dini. Upaya ini dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, dan kampanye publik yang melibatkan berbagai elemen Dengan adanya langkah-langkah ini, olahraga dapat kembali kepada fungsinya sebagai sarana untuk mempererat persatuan, membangun karakter yang kuat, serta mendukung kesehatan fisik dan mental. Lebih jauh lagi, suasana kompetisi yang sehat dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjunjung tinggi integritas dalam segala aspek Untuk mencegah terjadinya insiden serupa, semua pihak yang terlibat dalam dunia olahraga, termasuk federasi, klub, pemain, dan suporter, harus bersinergi dalam mengedepankan nilai-nilai sportivitas dan semangat fair play. Penegakan aturan yang tegas, perbaikan sistem keamanan, dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya saling menghormati, baik antar pemain maupun antar penonton, menjadi langkah yang esensial untuk menciptakan lingkungan olahraga yang aman dan kondusif. Kekerasan dan Agresi Perkembangan dunia olahraga saat ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, seiring dengan semakin berkembangnya industri olahraga yang didukung oleh pertumbuhan komunitas pendukung atau basis suporter. Hal ini terutama terlihat jelas salah satunya dalam olahraga sepak bola, di mana basis suporter memainkan peran penting dalam mendukung tim Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang mereka, baik secara langsung di stadion maupun melalui media sosial. Kehadiran basis suporter tidak hanya menjadi faktor motivasi bagi para atlet, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi industri olahraga, termasuk penjualan tiket, merchandise, dan hak siar pertandingan. Menurut (Sulistiyono, 2. Kekerasan dapat didefinisikan beberapa perilaku yang mengakibatkan perasaan sakit, kerugian, atau cedera pada diri sendiri atau pada orang lain, dan akibat perilaku kekerasan adalah adanya korban. Perilaku kekerasan yang terjadi diberbagai bidang kehidupan manusia khususnya bidang olahraga dapat disebabkan berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Sedangkan menurut (Bambang Priyonoadi, n. ) Agresi adalah semua pedlaku yang diarahkan untuk menyakiti atau mencederai orang lain yang dimotivasi untuk menghindarl perilaku semacam itu. Kenyataannya bahwa banyak olahraga memerlukan tingkah laku yang agresif, banyaknya perilaku agresif yang dapat diterima dan dibutuhkan sangatlah berbeda, tergantung dari tingkat pertandingan dan jenis olahraganya. Perilaku kekerasan dan agresi dalam dunia olahraga sering terjadi diakibatkan ulah para suporter yang fanatik. Menurut (Abduh, 2. Fanatisme menjadi salah satu hal yang mengakibatkan tindakan kekerasan pada supporter. Fanatisme dalam olahraga dapat menjadi hal yang positif jika dikelola dengan baik, karena dapat membangun semangat dan solidaritas di antara para penggemar. Namun, fanatisme yang tidak terkendali dan disertai pandangan sempit dalam penerapannya dapat menjadi sangat berbahaya. Fanatisme sendiri merujuk pada suatu kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan yang sangat kuat, baik dalam bidang olahraga, politik, agama, maupun budaya, hingga mencapai tingkat yang Ketika hal ini terjadi, sering kali timbul rasa intoleransi atau ketidaksukaan terhadap pandangan atau keyakinan yang berbeda dari yang dianutnya. Dalam konteks olahraga, fanatisme yang tidak terkendali dapat memicu tindakan anarkis, seperti bentrokan antar-suporter, yang tidak hanya merugikan individu tetapi juga mencoreng citra olahraga sebagai sarana pemersatu. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan pendekatan yang tepat untuk mendorong suporter agar mengekspresikan dukungannya dengan cara yang positif dan Faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan dalam olahraga Kekerasan disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, dimana faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan kondisi biologis, psikologis, dan sosio-kultural seseorang dan faktor kebiasaan menjadikan kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah, serta memudarnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menurut (Sakti Rumpoko, 2. beberapa faktor yang mempercepat timbulnya keributan dan kekerasan pada sebuah pertandingan olahraga beregu . Penggemar tidak realistis terhadap penampilan regu atau kesebelasannya, harapan terhadap kesebelasannya terlalu tinggi. Ikatan yang kuat antara penggemar dan kesebelannya. Hasil penampilan timnya pada pertandingan sangat berbeda. Wasit dan ofisial kurang kompeten, terlalu memihak pada salah satu tim yang bertanding. Permainan tim yang mencapai prestasi rendah akan menambah ketegangan, sebaliknya prestasi yang tinggi akan mengurangi ketegangan. Banyak pelanggaran pada permulaan pertandingan. Harapan yang terlalu tinggi dari penggemar terhadap tim kesayangan sering kali menyebabkan kekecewaan besar ketika hasil pertandingan tidak sesuai ekspektasi. Ketidakmampuan menerima kenyataan tersebut sering kali berujung pada tindakan Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi kepada suporter agar memiliki harapan yang realistis dan mampu menerima hasil pertandingan dengan sikap Klub juga dapat berperan dengan memberikan informasi yang transparan mengenai Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang kondisi tim, sehingga penggemar dapat memahami kekuatan dan kelemahan tim secara Ikatan emosional yang berlebihan antara penggemar dan tim dapat memicu tindakan agresif, terutama ketika tim mengalami kekalahan. Untuk mengatasinya, suporter perlu diarahkan untuk mendukung tim dengan cara yang lebih positif, seperti menekankan semangat kebersamaan daripada hasil pertandingan. Selain itu, kampanye suporter damai dapat membantu menciptakan hubungan yang sehat antara penggemar dan tim. Di sisi lain, keputusan wasit yang dianggap tidak adil sering menjadi pemicu utama keributan. Oleh karena itu, kompetensi wasit perlu ditingkatkan dengan pelatihan yang berkualitas dan penggunaan teknologi seperti VAR untuk memastikan transparansi dan keadilan. Agar budaya kekerasan tidak lagi menjadi bagian dari pertandingan olahraga, perlu kerja sama antara klub, pemain, ofisial, dan penggemar. Edukasi yang konsisten mengenai nilai-nilai sportifitas dan aturan yang adil harus diterapkan. Selain itu, penyediaan fasilitas stadion yang aman dan nyaman juga menjadi langkah penting untuk menciptakan atmosfer pertandingan yang damai. Dengan upaya ini, olahraga dapat kembali menjadi sarana hiburan yang mempererat persaudaraan dan persatuan. Meminimalisir Tingkat Kekerasan Dalam Olahraga Menurut (Abduh, 2. bahwa Tindakan edukasi tentang pentingnya penegakan aturan dalam lapangan dan internalisasi nilai-nilai fair play sangat penting dilakukan baik bagi pemain maupun kepada penonton atau supporter sebagai cara dalam meredam tindakan kerasan yang mungkin akan terjadi. Langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalah tersebut ada dua yaitu Upaya represif dan Pentingnya edukasi tentang penegakan aturan di lapangan dan penerapan nilai-nilai fair play harus menjadi prioritas, baik untuk pemain maupun penonton atau suporter. Edukasi ini berperan sebagai langkah preventif dalam meredam potensi kekerasan yang dapat terjadi selama pertandingan. Selain itu, perlu dilakukan gerakan edukasi yang menyasar komunitas pendukung agar proses perekrutan anggota dilakukan secara selektif. Kriteria seleksi ini meliputi latar belakang sosial, pendidikan, dan riwayat kekerasan dalam keluarga, karena faktor-faktor tersebut dapat berkontribusi pada kecenderungan perilaku agresif dalam diri individu. Dalam upaya pencegahan kekerasan, regulasi yang tegas dan komprehensif harus dituangkan dalam bentuk peraturan atau undang-undang. Regulasi ini perlu diterapkan tanpa pandang bulu untuk memberikan efek jera kepada pelaku kekerasan, baik pemain maupun suporter. Penegakan hukum juga harus memberikan perlindungan bagi korban serta menjatuhkan sanksi yang adil kepada pelanggar. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan rasa aman di lingkungan olahraga. Menurut (Dinamika Kekerasan Penonton Olahraga, n. ) dalam tulisannya menyatakan bahwa pemberitaan media yang memihak atau sensasional sering memicu emosi, menciptakan bias, dan memperbesar konflik di kalangan suporter. Anonimitas di media sosial memungkinkan provokasi, troll, dan komentar negatif yang tidak bertanggung jawab, yang turut mendorong konflik di dunia nyata. Semua narasumber sepakat bahwa media sosial sering menjadi ruang bebas bagi perilaku negatif tersebut. Artinya media baik massa maupun elektronik serta media sosial sebagai sumber informasi dapat mempengaruhi emosional masyarakat terhadap fenomena dan situasi yang terjadi dalam suatu kompetisi olahraga. Lebih lanjut, pendekatan kolaboratif diperlukan untuk mengatasi kekerasan dalam Klub, federasi olahraga, dan otoritas terkait dapat bekerja sama dalam menyediakan fasilitas yang mendukung suasana kondusif, seperti pemisahan area suporter untuk mencegah gesekan. Teknologi seperti kamera pengawas dan sistem tiket berbasis identitas juga dapat membantu memonitor perilaku suporter. Di samping itu, pelatihan khusus bagi aparat keamanan stadion dan penggunaan teknologi seperti VAR dapat memastikan bahwa keputusan dalam pertandingan diambil secara adil, sehingga mengurangi potensi ketegangan akibat ketidakpuasan. Dengan langkah-langkah ini, kekerasan dalam Published By : Yayasan Habiburrahman Jamalu Bina Ummat | Alamat: Desa Samulang. Kecamatan Bajo. Kabupaten Luwu. Sulawesi. Indonesia | URL: https://journal. id/index. php/abdi_samulang olahraga dapat diminimalisir secara signifikan. Pada sesi terakhir dari kegiatan ini adalah dilakukan sesi foto Bersama peserta / masyarakay Kelurahan Bontoraya. Adapun foto Bersama dengan peserta dapat dilihat pada gambar 2 dibawah. Gambar 2: Foto Bersama dengan peserta/Masyarakat Kelurahan Bontoraya. Kematan Batang. Kabupaten Jeneponto KESIMPULAN Kekerasan dalam olahraga adalah fenomena yang kerap terjadi dan dapat merusak integritas serta tujuan positif dari aktivitas fisik itu sendiri. Kekerasan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pelanggaran yang disengaja hingga kekerasan verbal antara pemain atau antara pemain dengan ofisial. Meskipun olahraga dirancang untuk memperkuat kerjasama tim dan pengembangan fisik, adanya kekerasan dapat menciptakan ketegangan yang merusak semangat sportivitas. Faktor-faktor seperti tekanan untuk menang, kurangnya pengawasan yang ketat, serta budaya kompetitif yang berlebihan dapat memperburuk masalah ini. Di sisi lain, untuk mengatasi kekerasan dalam olahraga, diperlukan pendekatan yang holistik yang melibatkan para pelatih, wasit, atlet, dan organisasi olahraga itu sendiri. Program edukasi tentang nilai-nilai sportivitas, pentingnya penghormatan terhadap lawan, serta penerapan hukuman yang tegas bagi pelanggaran kekerasan dapat menjadi langkah preventif yang efektif. Selain itu, perhatian lebih terhadap kesejahteraan psikologis atlet juga penting untuk mencegah ketegangan yang bisa berujung pada tindakan kekerasan. Dengan upaya bersama, kekerasan dalam olahraga bisa diminimalkan, sehingga olahraga tetap menjadi arena yang membangun karakter dan kesehatan. PUSTAKA