https://jurnal. id/index. php/pustakamitra DOI : https://doi. org/10. 55382/jurnalpustakamitra. Vol. No. E ISSN : 2808-2885 Pengembangan Kapasitas Pengurus Desa Inklusi melalui Pelatihan Peer Counseling dan Keterampilan berbasis Sustainable Development Goals Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 1Prodi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Pancasakti Tegal 2Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhadi Setiabudi 3Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Pancasakti Tegal 4Prodi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Pancasakti Tegal 5Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta 1sriadinurhayati@upstegal. id, 2laelianurpratiwiningsih@umus. id, 3aninekas28@upstegal. 4ikeflorina@upstegal. id, 5sesyadiasmumpuni@uny. Abstract The 2025 Community Partnership Service Program (PKM) was a continuation of previous research on strengthening social capital through peer counseling among persons with disabilities toward the realization of sustainable inclusive villages. The partner organization. Difabel Slawi Mandiri, established in 2010 and legally registered in 2015, had been actively engaged in disability advocacy and the promotion of inclusive village development in Tegal Regency. Despite these efforts, challenges remained in building internal capacity, particularly in peer counseling skills and organizational management, including among new members who had never received formal training, either online or offline. This PKM focused on two main issues: . limited mastery of peer counseling skills among members, and . the need to strengthen organizational capacity for sustainability. The activities implemented included the dissemination of basic counseling skills, digital literacy training for online counseling, group dynamics workshops, gender awareness sessions, and direct peer counseling practice. A total of 20 participants took part in the program, consisting of persons with disabilities, women with disabilities, people affected by leprosy, and representatives of inclusive villages. The activities were aligned with the Sustainable Development Goals (SDG. , specifically Goal 10 (Reduced Inequalitie. Goal 5 (Gender Equalit. , and Goal 3 (Good Health and Well-bein. The results indicated a 44. 0% increase in empowerment levels in social-community aspects and a 46. 2% increase in management aspects, reflecting enhanced peer counseling competence, stronger organizational capacity, and a solid foundation for sustainable inclusive community empowerment. Keywords: empowerment. non-government organization. disability-friendly Abstrak Program Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2025 ini merupakan tindak lanjut dari penelitian sebelumnya tentang penguatan modal sosial melalui konseling sebaya disabilitas menuju desa inklusi Mitra kegiatan adalah Difabel Slawi Mandiri, sebuah organisasi masyarakat yang berdiri sejak 2010 dan berbadan hukum sejak 2015. Selama ini, organisasi telah aktif dalam advokasi disabilitas dan mendorong terbentuknya desa inklusi di Kabupaten Tegal. Namun, masih terdapat kendala dalam pengembangan kapasitas internal, terutama keterampilan konseling sebaya dan pengelolaan organisasi, termasuk bagi anggota baru yang belum pernah mendapat pelatihan secara luring maupun daring. PKM 2025 ini berfokus pada dua permasalahan utama: . keterbatasan penguasaan keterampilan konseling sebaya di kalangan anggota, dan . kebutuhan penguatan kapasitas organisasi agar berkelanjutan. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi keterampilan dasar konseling, peningkatan literasi digital untuk konseling daring, pelatihan dinamika kelompok, penguatan kesadaran gender, hingga praktik konseling sebaya secara langsung. Peserta berjumlah 20 orang, terdiri atas penyandang disabilitas, difabel perempuan, orang yang pernah mengalami kusta, serta perwakilan desa inklusi. Submitted : 20-09-2025 | Reviewed : 29-09-2025 | Accepted : 30-09-2025 Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 353 Ae 359 Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. yakni tujuan 10 (Berkurangnya Kesenjanga. , tujuan 5 (Kesetaraan Gende. , dan tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahter. Hasil yang diharapkan adalah meningkatnya kompetensi anggota dalam konseling sebaya, terbangunnya kapasitas organisasi yang lebih kuat, serta terciptanya pondasi bagi pemberdayaan masyarakat inklusi yang berkesinambungan. Peningkatan level keberdayaan mitra pada aspek sosial kemasyarakatan sebesar 44,0% dan aspek manajemen sebesar 46,2%. Kata kunci: pemberdayaan. organisasi non-pemerintah. ramah disabilitas A 2025 Author Creative Commons Attribution 4. 0 International License Pendahuluan Analisis Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2025 yang kami usulkan berdasarkan kondisi berikut Mitra adalah Difabel Slawi Mandiri yang merupakan NGO (Non Government Organizatio. yang sudah berdiri sejak tahun 2010 yang kemudian disahkan dengan berbadan hukum pada tahun 2015. Mitra adalah non-produktif. PKM ini merupakan kegiatan lanjutan dari penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2023 mengenai AuStudi Penguatan Modal Sosial melalui Peer Counseling Disabilitas menuju Desa Inklusi BerkelanjutanAy . Selain itu di Kabupaten Tegal telah mendapatkan perlindungan secara hukum melalui Peraturan Bupati Tegal Nomor 87 Tahun 2022 tentang Kelurahan/ Desa Inklusi. Difabel yang berada di desa Ae desa di wilayah Kabupaten Tegal penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak masyarakat marjinal. Kegiatan pemberdayaan warga disabilitas menjadi kegiatan utama yang dilakukan Difabel Slawi Mandiri. Berbagai kegiatan advokasi yang dilakukan Difabel Slawi Mandiri telah membantu anggota dan juga warga disabilitas termasuk dalam pemberdayaan desa-desa inklusi di Kabupaten Tegal . Permasalahan mitra terjadi dengan adanya berbagai Difabel Slawi Mandiri membutuhkan adanya bantuan dari universitas untuk mengembangkan kapasitas anggotanya. Difabel Slawi Mandiri memiliki sumber daya anggota yang tidak seluruhnya menguasai keterampilan peer counseling atau konseling sebaya . yang menyebabkan anggota Difabel Slawi Mandiri terkendala dalam kegiatan. Anggota Difabel Slawi Mandiri belum sepenuhnya menguasai dalam keterampilan peer counseling . secara luring maupun daring . enggunaan media daring seperti Zoom dan Google Mee. Selain itu anggota Difabel Slawi Mandiri pada tahun-tahun setelah covid-19 memiliki anggota baru yang mana mereka belum pernah bergabung dalam organisasi. Berbagai kegiatan yang dilakukan Difabel Slawi Mandiri sebagai LSM membutuhkan bantuan dari universitas untuk dapat mengembangkan kapasitas . anggota baru yang juga pengurus desa inklusi . untuk dapat berkontribusi pada lembaga. Secara organisasi Difabel Slawi Mandiri melakukan berbagai advokasi sepanjang tahun kegiatan ke desa-desa inklusi . Namun, untuk kegiatan di dalam organisasi Difabel Slawi Mandiri sendiri belum dilakukan. Keinginan Difabel Slawi Mandiri untuk mengadakan capacity building untuk anggota membutuhkan bantuan dari pembentukan keterampilan bagi anggota difabel. Hal ini yang menjadi permasalahan untuk ditangani melalui Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2025 ini dengan judul AuPengembangan Kapasitas Pengurus Desa Inklusi melalui Pelatihan Peer Counseling dan Keterampilan berbasis Sustainable Development GoalsAy. Dengan adanya dua permasalahan mitra di atas, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG. Berkurangnya Kesenjangan . Kesetaraan Gender . dan Kehidupan Sehat dan Sejahtera . yang bisa didapatkan oleh anggota Difabel Slawi Mandiri. Berkurangnya kesenjangan anggota Difabel Slawi Mandiri yang akan belajar pengetahuan baru tentang bagaimana peer counseling . yang baik termasuk penggunaan teknologi . uring dan darin. sebagai sarana konseling sebaya. Kesetaraan gender . dirasakan anggota Difabel Slawi Mandiri adalah dengan adanya difabel perempuan yang mengikuti kegiatan PKM 2025. Jumlah difabel perempuan yang menjadi anggota Difabel Slawi Mandiri semakin bertambah kesadarannya untuk terlibat didalam kegiatan pada PKM 2025 ini. Kehidupan sehat dan sejahtera . akan dicapai dengan adanya pengembangan kapasitas . apacity buildin. anggota mitra untuk dapat sehat secara Merawat aset anggota merupakan hal yang paling sulit dilakukan karena keberlangsungan organisasi bergantung pada kebersamaan anggotanya secara berkelanjutan . Kondisi mitra sasaran memiliki dua permasalahan mitra Difabel Slawi Mandiri yaitu . anggota tidak mendapatkan pelatihan peer counseling yang baik termasuk penggunaan teknologi . uring dan darin. sebagai sarana konseling sebaya dan . pengembangan kapasitas diri anggota Difabel Slawi Mandiri. Jumlah peserta PKM 2025 sejumlah 20 orang yang terdiri dari difabel dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kust. termasuk perwakilan Submitted : 20-09-2025 | Reviewed : 29-09-2025 | Accepted : 30-09-2025 Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 353 Ae 359 desa inklusi, perwakilan difabel perempuan dan anggota baru forum desa inklusi. Adanya desa inklusi di Kabupaten Tegal membawa dampak positif sebagai tempat dan ruang difabel berkarya . Sebagai mitra pemerintah dan juga organisasi nirlaba. Difabel Slawi Mandiri membutuhkan bantuan untuk dapat mengembangkan kapasitas anggota yang juga pengurus desa inklusi. Para anggota inilah yang menjadi prioritas permasalahan dari Difabel Slawi Mandiri. Pengetahuan akan peer counseling secara luring dan daring harus dipahami bagaimana cara Kemudian pengembangan kapasitas internal anggota Difabel Slawi Mandiri memiliki tujuan untuk dapat berdaya bersama dan Dari permasalahan tersebut dapat dikategorikan mitra Difabel Slawi Mandiri membutuhkan . peningkatan pengetahuan pada aspek sosial dan kemasyarakatan dan . peningkatan kemampuan manajemen pada aspek manajemen. Metode Pengabdian Masyarakat Tahapan atau langkah-langkah dalam melaksanakan solusi yang ditawarkan pada PKM 2025 sebagai Sebelum pelaksanaan, peserta PKM mengisi instrumen kuesioner dalam bentuk Google Form pretest dan sesudah pelaksanaan mengisi post-test. Adapun hasil tiap aspek sebagai berikut. Tabel 1. Peningkatan level keberdayaan mitra: Aspek Sosial Kemasyarakatan Aspek Manajemen Pretest Posttest Peningkatan Persentase Partisipasi Kegiatan 42,3% Kepedulian Sosial 44,0% Kerjasama Solidaritas 45,8% Advokasi dan Inklusi Sosial 44,0% Rata-rata 44,0% Tabel 2. Peningkatan level keberdayaan mitra: Aspek Manajemen Aspek Manajemen Perencanaan Program Pre Post -test Peningkata Persentas 48,0% Pengorganisasia n Tim 46,2% Pelaksanaan Kegiatan 44,4% 48,0% 46,2% Monitoring Evaluasi Rata-rata Sosialisasi Pada tahapan sosialisasi ini melibatkan dasar-dasar . memperkenalkan dasar literasi dan penggunaan bahasa . , edukasi hubungan sosial . , dan macam keterampilan konseling . Literasi dan penggunaan bahasa menjadi langkah dasar bagi difabel dan OYPMK untuk dapat melakukan komunikasi dengan sesama. Pada kondisi mitra ini penggunaan bahasa lokal dan Bahasa Indonesia dapat Jika diperlukan untuk difabel tuna rungu wicara maka dapat menggunakan bahasa isyarat. Eduaksi hubungan sosial akan menjadi jembatan bagi difabel dan OYPMK untuk membangun hubungan konseling sebaya. Dasar ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman akan edukasi tidak hanya dilakukan di meja sekolah, namun akan terus berlanjut sepanjang hayat. Berbagai kegiatan dan langkah-langkah untuk memperkenalkan, mendukung, dan meningkatkan pemahaman serta pemanfaatan penggunaan teknologi rapat daring terkait dengan pengetahuan mitra mengenai urgensi penggunaan dan pemanfaatan rapat daring secara berkelanjutan. Macam keterampilan konseling menjadi dasar bagi difabel dan OYPMK untuk memahami peer counseling. Macam Ada 12 macam keterampilan dasar konseling yang penting dilakukan yaitu opening session/pembukaan, penyampaian informed consent, attending, empati, bertanya, empathic confrontation, encouraging, parafrase, merangkum / meringkas, observation skills, perilaku genuine, terminating/ kemampuan penutup. Bentuk kegiatan sosialisasi ini sebagai langkah solusi aspek sosial kemasyarakatan yaitu peningkatan pengetahuan mitra. Sosialisasi ini memberikan pengetahuan bagi mitra Difabel Slawi Mandiri secara aktif dalam proses sosialisasi . Presentasi dan tutorial ditunjukkan kepada mitra Difabel Slawi Mandiri sebagai langkah memberikan pengetahuan tentang peer counseling. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan dan wawasan kesetaraan gender dan kesetaran difabel . Sekaligus dalam sosialisasi ini solusi aspek manajemen yaitu kemampuan manajemen mitra dapat terlaksana. Langkah yang dilakukan adalah Submitted : 20-09-2025 | Reviewed : 29-09-2025 | Accepted : 30-09-2025 Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 353 Ae 359 mengumpulkan 20 peserta PKM dengan latar belakang yang berbeda untuk dapat aktif bekerja sama selama jalannya sosialisasi. Pelatihan Pada tahapan pelatihan ini penggunaan teknologi daring sebagai media peer counseling. Praktik konseling sebaya dilakukan secara luring dan daring . Para pelaksanaan daring diberikan tahapan pelatihan menggunakan perangkat digital, aplikasi, dan platform rapat daring Zoom dan Google Meet yang digunakan secara bergiliran. Termasuk di dalamnya adalah pelatihan penggunaan perangkat laptop/ komputer dalam mengakses rapat daring secara berkelanjutan. Bentuk pelatihan untuk peningkatan pengetahuan mitra Difabel Slawi Mandiri yaitu membantu pengetahuan akan penggunaan teknologi dalam Perlu dibangun pengetahuan akan pengguaan teknologi untuk mempermudah informasi khususnya terkait desa inklusi. Beberapa hal teknis yang dirasa lama akan menjadi lebih mudah dan cepat diakses jika menggunakan teknologi rapat daring . Seperti pendataan difabel di desa inklusi, agenda rapat desa inklusi dan hasil-hasil dari diskusi anggota Pada aspek kemampuan manajemen melalui training capacity kepada anggota mitra untuk melatih kerja sama, kebersamaan, keakraban secara berkelanjutan dapat memberikan berkontribusi kepada organisasi Difabel Slawi Mandiri dalam pembangunan masyarakat . Selain itu juga penerapan dinamika kelompok penting dalam tahapan pelatihan mitra untuk membangun adanya rasa kekeluargaan. Penerapan Teknologi Pada tahapan penerapan teknologi memberikan pendampingan dan pelatihan kepada mitra Difabel Slawi Mandiri secara luring dan daring. Untuk mengasah keterampilan dalam rapat daring perlu penerapan teknologi yang dilakukan dengan Praktik peer counseling dilakukan penggunaan Zoom dan Google Meet. Bentuk dari peningkatan pengetahuan mitra dengan mengenalkan rapat daring sebagai sarana efektif bagi pengurus desa inklusi oleh Difabel Slawi Mandiri . Selain itu penerapan teknologi pada capacity building dengan training capacity kepada anggota mitra untuk mempererat kebersamaan dan meningkatkan Kegiatan ini dilakukan secara outdoor untuk memberikan suasana yang baik bagi coping strategies anggota mitra. Sumber daya yang dibutuhkan dalam capacity building ini antara lain: anggota tim, peer issue dan implementasi traning . Dibutuhkan perlengkapan capacity building yang mendukung adanya kebersamaan . Seluruh perlengkapan ini nantinya diberikan kepada mitra Difabel Slawi Mandiri. Pendampingan dan Evaluasi Pada tahapan pendampingan dan evaluasi dilakukan dalam bentuk daring dan luring. Pendampingan daring bertujuan mengenalkan teknologi yang sudah dilakukan pada tahapan yang sudah dilakukan. Pendampingan secara daring akan memberikan manfaat dalam berkomunikasi dengan mitra sebagai antisipasi komunikasi jarak dengan mitra. Evaluasi yang dilakukan dengan pemetaan kebutuhan mitra pemberdayaan untuk mengidentifikasi areaarea di mana mereka membutuhkan bantuan, dukungan, atau pengembangan. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut pada tahun berikutnya. Pemetaan ini dilakukan melalui survei, wawancara, atau diskusi dengan mitra Difabel Slawi Mandiri. Keberlanjutan Program Pada tahapan keberlanjutan program dengan mitra Difabel Slawi Mandiri secara berkelanjutan yaitu dengan peningkatan keberdayaan mitra dalam isu yang juga semakin berkembang. Beberapa ketidakbahagiaan dalam bekerja menjadi pekerjaan rumah yang diselesaikan pada PKM 2025. Partisipasi mitra dalam Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini yaitu mitra Difabel Slawi Mandiri secara aktif mengikuti seluruh jalannya kegiatan. Anggota mitra yang akan mengikuti kegiatan yaitu anggota Difabel Slawi Mandiri yang mendapatkan tugas sebagai pengurus desa inklusi. Anggota ini berjumlah 20 yang termasuk perwakilan desa inklusi, perwakilan difabel perempuan dan anggota baru forum desa inklusi. Dengan adanya PKM 2025 diharapkan mitra disabilitas dapat melakukan konseling sebaya sebagai penguat sesama dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan komunitas, seperti olahraga, seni, kegiatan sosial, dan kegiatan sukarela yang berada di desa inklusi. Mereka dapat berperan sebagai peserta aktif, pemimpin, atau kontributor dalam memajukan kegiatan komunitas Mitra Difabel Slawi Mandiri dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari adanya forum desa inklusi dan terus dapat berkontribusi mengawal difabel penerus organisasi. Kami mengharapkan tidak ada stigma dan diskriminasi kepada teman-teman Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini dilakukan selama bulan Juli Ae Agustus 2025. Adapun hasil dari pelaksanaan tersebut adalah: rancangan modul konseling sebaya difabel, sosialisasi materi konseling sebaya difabel, dan praktik konseling sebaya difabel. Submitted : 20-09-2025 | Reviewed : 29-09-2025 | Accepted : 30-09-2025 Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 353 Ae 359 inklusif dalam manajemen kegiatan. Dengan demikian, aspek manajemen yang sebelumnya hanya bersifat reaktif dan individual, kini mulai berkembang menjadi lebih terstruktur, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Aspek sosial kemasyarakatan mencakup kemampuan mitra dalam berinteraksi, berpartisipasi aktif, serta menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan desa yang lebih inklusif. Pada tahap awal . re-tes. , skor rata-rata berada di kisaran 2,4Ae2,6, yang menunjukkan bahwa partisipasi sosial masih terbatas pada lingkup individu atau kelompok kecil. Gambar 1. Peserta PKM antusias mengikuti rangkaian agenda Pengambangan kapasitas pengurus desa inklusi dilakukan dengan pelatihan konseling sebaya. Rancangan konseling sebaya perlu dibuat agar saat pelaksanaan dapat dipahami dengan mudah oleh Rancangan ini disusun dalam modul konseling sebaya. Isi modul berupa petunjuk pelaksanaan konseling sebaya, materi kegiatan konseling sebaya, lembar persetujuan konseling sebaya, keterampilan konseling sebaya, dan pedoman observasi konselor sebaya. Tahap kedua adalah peningkatan pengetahuan dalam bentuk sosialisasi materi SDGs berkaitan dengan inklusi disabilitas yaitu kesetaraan gender dan pemberdayaan Tahap ketiga adalah capacity building yaitu penguatan sumberdaya anggota desa inklusi, dinamika kelompok dan keterampilan komunikasi. Tahap keempat adalah training capacity yaitu keterampilan konseling mendengar aktif, empati, membangun rasa percaya dan menjaga kerahasiaan. Tahap kelima adalah pendampingan SDGs yaitu penggunaan media daring Google Meet sebagai sarana komunikasi dan konseling sebaya. Tahap keenam adalah praktik peer counseling yang sudah dipelajari dalam modul dan disampaikan oleh tim pengabdian selama sosialisasi. Data hasil kuantitatif Rata-rata skor peserta sebelum dan sesudah pelatihan dijelaskan sebagai berikut. Aspek manajemen merupakan salah satu dimensi penting dalam menilai keberdayaan mitra. Setelah mengikuti PKM, terjadi peningkatan yang nyata dalam kemampuan pengurus desa dalam mengelola kegiatan, menyusun Pada tahap pre-test, kemampuan manajemen peserta berada pada kategori sedang, dengan skor rata-rata 2,6. Hal ini mencerminkan bahwa sebagian besar pengurus desa masih terbatas dalam hal perencanaan program, pengelolaan administrasi, dan pelaksanaan kegiatan secara sistematis. Namun, hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan menjadi 3,8, atau naik sebesar 1,2 poin. Peningkatan ini terjadi karena peserta mendapatkan pembekalan terkait perencanaan berbasis kebutuhan, pembagian peran yang lebih jelas, serta pemanfaatan prinsip Setelah diadakan PKM, terjadi peningkatan signifikan pada tahap post-test. Skor rata-rata naik menjadi 3,6Ae3,8 atau meningkat sekitar 1,1 poin di setiap sub-aspek. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta semakin percaya diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial, mampu melakukan advokasi inklusif, serta lebih proaktif dalam memfasilitasi partisipasi kelompok difabel dan masyarakat umum di desa. Dengan demikian, program ini berhasil memperkuat jejaring sosial, solidaritas, dan partisipasi aktif pengurus desa inklusi sebagai agen perubahan sosial. Faktor pendukung. Kendala, dan Keberlanjutan Pelaksanaan kegiatan PKM tidak lepas dari sejumlah faktor pendukung yang berperan penting terhadap keberhasilan program. Faktor pendukung pertama adalah komitmen dan antusiasme peserta yang sangat Pengurus desa inklusi berpartisipasi aktif dalam setiap sesi pelatihan, mulai dari pre-test, diskusi kelompok, praktik konseling, hingga evaluasi Motivasi untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi modal utama dalam memperkuat kapasitas individu maupun kelembagaan desa inklusi. Selain itu, dukungan Universitas Pancasakti Tegal dan Universitas Muhadi Setiabudi dan Difabel Slawi Mandiri, juga menjadi pendorong keberhasilan Mitra Difabel Slawi Mandiri turut berperan dalam membantu mobilisasi peserta, tim teknis kegiatan, dan memastikan pelatihan benar-benar menyentuh kebutuhan forum desa inklusi. Kesesuaian materi pelatihan dengan kondisi lapangan juga menjadi faktor penting. materi tentang konseling sebaya, advokasi inklusif, dan komunikasi efektif dianggap sangat relevan dengan realitas yang dihadapi peserta di lapangan. Faktor pendukung lain yang signifikan adalah pendekatan partisipatif dan inklusif yang diterapkan selama pelatihan. Metode pelatihan menggunakan presentasi materi, diskusi selama PKM dan simulasi konseling sebaya membuat materi mudah dipahami secara langsung. Peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh. Selain itu, penerapan teknologi informasi dalam PKM berupa video konseling sebaya difabel dan modul panduan konseling sebaya, turut memperkuat efektivitas Submitted : 20-09-2025 | Reviewed : 29-09-2025 | Accepted : 30-09-2025 Sri Adi Nurhayati1. Laelia Nurpratiwiningsih2. Anin Eka Sulistyawati3. Ike Desi Florina4. Sesya Dias Mumpuni5 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 353 Ae 359 Peserta dapat mencatat berbagai temuan selama PKM di dalam modul yang dibagikan dan diberikan kepada peserta. Namun demikian, pelaksanaan program tidak terlepas dari beberapa kendala. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu pelatihan, sehingga beberapa topik lanjutan, seperti evaluasi konseling dan pendampingan pascapelatihan, belum dapat dilaksanakan secara mendalam. Meskipun menghadapi kendala, program ini memiliki prospek keberlanjutan yang kuat. Strategi keberlanjutan program dirancang melalui beberapa langkah konkret. Pertama, modul konseling sebaya akan dilakukan penyempurnaan agar dapat menjadi buku panduan yang dapat diberikan kepada mitra Difabel Slawi Mandiri. Kedua, adanya call center layanan konseling sebaya pada mitra Difabel Slawi Mandiri. Ketiga, pengembangan jejaring kemitraan akan diperluas dengan melibatkan lembaga disabilitas, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah terkait agar kegiatan ini memperoleh dukungan sumber daya dan kebijakan yang lebih Kesimpulan Pelaksanaan PKM tahun 2025 dengan mitra Difabel Slawi Mandiri telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas pengurus desa inklusi dalam bidang pengetahuan, keterampilan konseling, dan kemampuan manajerial. Melalui PKM ini, berhasil mendorong terwujudnya pengurus desa inklusi yang lebih adaptif, empatik, dan berdaya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat Pada aspek manajemen terjadi peningkatan sebesar 46,2%, sedangkan pada aspek sosial kemasyarakatan peningkatannya mencapai 44,0%. Data ini mengindikasikan bahwa para peserta pelatihan tidak hanya memperoleh peningkatan menerapkannya dalam kegiatan nyata, seperti memimpin kelompok, melakukan pendampingan sebaya, serta menjalin kemitraan antarwarga dan lembaga desa. Selain berdampak pada peningkatan kapasitas individu, kegiatan ini juga menghasilkan inovasi teknologi dalam bentuk video konseling sebaya difabel dan modul panduan konseling sebaya. Kedua produk ini berperan penting sebagai sarana teknologi informasi dan alat bantu praktis bagi pengurus desa inklusi untuk memperluas jangkauan layanan konseling sebaya di tingkat komunitas. Produk tersebut juga menjadi wujud nyata penerapan teknologi tepat guna yang relevan, mudah diakses, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dari sisi kelembagaan, kegiatan PKM telah memperkuat jejaring sosial antara pengurus desa, komunitas difabel, dan universitas. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi terbangunnya sistem pendampingan berbasis masyarakat yang lebih Pelatihan dan praktik konseling sebaya juga memperkuat nilai-nilai solidaritas, kesetaraan, dan partisipasi aktif antarwarga desa, sehingga mampu menumbuhkan lingkungan sosial yang lebih mendukung pemberdayaan difabel. Ucapan Terimakasih