JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Pemetaan. Pengendalian Dan Sistem Pendukung Keputusan Mitigasi Risiko Rantai Pasok Proses Bisnis PT. XYZ Ari Andriyas Puji1. Satriardi2 Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Jl. Tuanku Tambusai. Tampan. Pekanbaru. Riau. Indonesia, 28292 E-mail: Andriyasari@umri. ABSTRAK Rantai pasokan penting untuk operasi bisnis suatu organisasi. Dalam hal biaya dan kualitas produk, rantai pasokan merupakan faktor penting bagi banyak bisnis dalam memastikan kelancaran operasi Berdasarkan wawancara awal, saat ini terdapat berbagai permasalahan besar di PT. Lini proses bisnis rantai pasokan XYZ. Prosedur produksi yang tidak sesuai dengan rencana. Kelelahan pekerja karena sistem waktu pekerjaan belum di kelola dengan baik. Pemberlakuan jam kerja lembur sehingga karyawan tidak produktif. Keterlambatan bahan baku yang berdampak pada jadwal produksi. Kesalahan Perencanaan Produksi dan Fluktuasi harga bahan baku. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki masalah pada lini rantai pasok operasional menggunakan integrasi metode pengendalian risiko dan sistem pendukung keputusan. Kajian ini juga diharapkan dapat dijadikan standar dalam penyelesaian masalah pada lini rantai pasok produksi. Kebaruan penelitian ini belum ada kajian integrasi metode pengelolan risiko dan sistem pendukung keputusan pada objek yang serupa. Pada tahap ini dimulai dengan mengidentifikasi risiko yang diperoleh 12 agen risiko dan 26 kejadian risiko yang dipetakan melalui supply chain operation reference. Selanjutnya melalui house of risk tahap 1 dan diagram Pareto diperoleh 6 agen risiko yang harus diberikan tindakan mitigasi. menghitung House of Risk tahap 2 dengan mengkorelasikan antara 6 agen risiko dan 11 tindakan preventif sehingga menghasilkan prioritas tindakan mitigasi berdasarkan Ratio of Effectiveness to Difficulty. Selanjutnya melakukan perhitungan sistem pendukung keputusan menggunakan Analytic Hierarchy Process yang diperoleh hasil eigen vector tertinggi sebesar 13,2% dengan nilai konsistensi rasio (CR) sebesar 0. 096, maka dianggap valid karena < 0,1. Model ini dianggap konsisten dan dapat Implikasi dari penelitian ini adalah perusahaan dapat memperbaiki performa lini rantai pasok dengan memperhatikan risiko yang terjadi dan melakukan mitigasi yang tepat berdasarkan hasil perbandingan multi kriteria. ABSTRACT Supply chains are crucial for the functioning of an organization's business activities. The supply chain plays a crucial role in ensuring the efficient functioning of enterprises by impacting both cost and product quality. According to the initial interview, there are now several significant issues in PT's supply chain business process line. XYZ. Deviation from planned production methods, worker tiredness due to inadequate management of the work time system, adoption of excessive overtime leading to decreased productivity among employees, and delays in the procurement of raw materials resulting in disruptions to production schedules. Issues with production planning and volatility in raw material prices. This research aims to enhance operational supply chain lines by using risk control techniques and decision support technologies. Furthermore, this study is anticipated to serve as a benchmark for resolving issues within the production supply chain. The novelty of this research lies in the necessity of investigating the integration of risk management methodologies and decision support systems about comparable entities. This stage commences by identifying hazards acquired from 12 risk agents and 26 risk events, which are then mapped using the supply chain operation reference. Next, we identify six risk agents that require mitigation activities by utilizing the house of risk, stage 1 and the Pareto diagram. Next, the House of Risk stage 2 will be determined by establishing a correlation between six risk factors and 11 preventative measures to generate a prioritized mitigation plan based on the Ratio of Effectiveness to Difficulty. Subsequently, the decision support system was computed using the Analytic Hierarchy Process, yielding a dominant eigenvector outcome of 13. and a consistency ratio (CR) value of 0. Consequently, it was deemed valid since it fell below the threshold of 0. This model is regarded as reliable and relevant. This study suggests that firms can DOI: /10. 24853/jisi. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X enhance their supply chain performance by focusing on the risks that arise and implementing suitable measures to mitigate them based on the outcomes of multi-criteria comparisons. Kata kunci: House of Risk. Risk Mitigation. Supply Chain. Risk Management PENDAHULUAN Salah satu prosedur bisnis suatu perusahaan adalah rantai pasok. Rantai pasok menjelaskan operasional suatu perusahaan dari hulu hingga hilir yang terkadang menimbulkan Rantai pasokan rentan terhadap beberapa masalah yang sering terjadi. Bullwhip Effect (BE). Variasi Produk. Usia Produk. Kebutuhan Pelanggan. Fragmentasi Pemilik, dan Globalisasi adalah beberapa di antaranya (Brauch et al. , 2024. Dubey et al. , 2020, 2022. Zhao et al. , 2. Bullwhip effect mengacu pada fenomena di mana variabilitas pesanan meningkat seiring dengan bergeraknya pesanan ke hulu dalam rantai pasokan (Durach et al. , 2015. Wang et al. , 2. Rantai pasokan penting untuk operasi bisnis suatu (Aman & Seuring, 2. Dalam hal biaya dan kualitas produk, rantai pasokan merupakan faktor penting bagi banyak bisnis dalam memastikan kelancaran operasi mereka. Bisnis harus mengelola rantai pasokan sebagai satu kesatuan. Pada setiap saluran rantai pasok perusahaan, koordinasi dari rantai pasok akan mencegah terjadinya kekurangan komoditas dan kelebihan barang yang berlebihan (Dubey et al. , 2020. El Wali et al. Piplani & Fu, 2. Artinya jika rantai pasok tidak dikelola dengan baik maka akan berdampak pada proses bisnis perusahaan yang akan terganggu dan dapat mengakibatkan kerugian(Harju et al. , 2. Bisnis pengadaan memerlukan manajemen risiko yang efektif. Kurangnya manajemen risiko yang sistematis akan mempengaruhi seberapa baik kinerja perusahaan. (Harju et al. , 2023. Khojasteh-Ghamari & Irohara, 2018. Verma. Manajemen risiko berfokus pada pengenalan dan analisis dampak kerugian terhadap faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan, perencanaan untuk mencari informasi anggaran, dan pengembangan langkah-langkah untuk menjaga keberlanjutan rantai pasokan dari risiko-risiko tersebut (Khojasteh-Ghamari & Irohara, 2. (Zamani et al. , 2. juga menyatakan bahwa manajemen risiko rantai pasokan berdampak signifikan terhadap kesuksesan perusahaan secara keseluruhan. PT. XYZ adalah produsen bahan dan produk plastik yang berbasis di Pekanbaru yang didirikan pada tahun 1997. PT. XYZ memproduksi semua barang Fiberglass (FRP) dan menerima permintaan desain pelanggan. Berdasarkan wawancara awal, saat ini terdapat berbagai permasalahan besar di Lini proses bisnis rantai pasokan PT. XYZ. Tabel 1. Permasalahan Umum PT. XYZ No Permasalahan Kesalahan Perencanaan Produksi Prosedur produksi yang tidak sesuai dengan rencana Kelelahan pekerja karena sistem waktu pekerjaan belum di kelola dengan baik Pemberlakuan jam kerja lembur sehingga karyawan tidak produktif Keterlambatan bahan baku yang berdampak pada jadwal produksi Ketidakstabilan Pasokan Bahan Baku . arga dan persediaa. Fluktuasi Permintaan Sumber: Data diolah 2023 Masalah diatas juga sejalan dengan permasalahan rantai pasok bisnis (Choi & Hartley, 1996. Flynn et al. , 2. Dinamika pembelian juga menimbulkan beberapa bahaya yang secara signifikan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang (Harju et al. , 2. Banyak item yang tidak terselesaikan dalam beberapa kasus karena banyaknya bahan pada bahan adonan . iber/mat. yang terlambat datang sehingga menyebabkan proses produksi menjadi lebih lama. Hal ini juga menyebabkan diberlakukannya jam kerja lembur yang menyebabkan para pekerja mengalami Permasalahan lain juga timbul karena kegagalan perencanaan produksi, seperti ketika proses bisnis berjalan, produk harus lebih seimbang atau berlebihan sehingga menyebabkan peningkatan biaya penyimpanan Selain itu, karena kurangnya pemahaman pekerja, terdapat masalah pada barang yang harus lolos kendali mutu sehingga menyebabkan produk ditolak. Fluktuasi harga JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI bahan baku dan Fluktuasi permintaan juga menjadi alasan kegagalan pencapaian target. Selama ini mitigasi risiko dari perusahaan hanya berupa teguran dan anjuran saja tanpa ada pemecahan akar masalah. Sehingga untuk keberlanjutan produksi perusahaan dinilai cukup kewalahan. Perbedaan mendasar pada penelitian ini adalah mengenai pemetaan rantai pasok pada proses acuan operasi rantai pasok karena setiap tahapan rantai pasok selalu unik khususnya pada setiap proses operasionalnya. Penelitian ini diperlukan untuk memperbaiki masalah menggunakan integrasi metode yang dipilih. Kajian ini juga diharapkan dapat dijadikan standar dalam penyelesaian masalah pada lini rantai pasok produksi khususnya perusahaan yang bergerak di bidang fiberglass. House of risk diidentifikasi sebagai pendekatan yang tepat untuk mengidentifikasi bahaya di sepanjang Rantai pasok proses bisnis PT. XYZ. Model ini didasarkan pada metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysi. dan QFD (Quality Function Deploymen. yang ditetapkan oleh Laudine H. Geraldin dan I. Nyoman Pujawan (Geraldin, 2. Secara umum tahapan dalam kerangka ini dibagi menjadi dua fase yaitu identifikasi risiko dan penanganan risiko (Puji & Yul, 2. Proses ini dimulai dengan memetakan aktivitas rantai pasok dan menemukan risiko. Selanjutnya, matriks sumber risiko dan kejadian risiko diolah untuk menentukan urutan prioritas sumber risiko yang akan Selanjutnya, matriks tersebut diolah Pada akhirnya, proses ini menghasilkan urutan prioritas mitigasi risiko (Puji et al. , 2. Penerapan house of risk pada Proses bisnis rantai pasok PT. XYZ menjadi salah satu solusi terbaik terhadap permasalahan yang Hal ini berupaya untuk membentuk permasalahan di seluruh Kegiatan bisnis rantai pasokan PT. XYZ. Kemudian, bekerja sama Volume 11 No 2 Agustus 2024 dengan pembuat kebijakan, memilih prioritas mitigasi yang sesuai untuk perusahaan (Puji et , 2. TINJAUAN PUSTAKA Risiko didefinisikan sebagai suatu jenis peristiwa yang tidak dapat diprediksi yang akan timbul di masa depan, dengan pengambilan keputusan yang dilakukan saat ini berdasarkan berbagai factor (Yuswardi et al. , 2. Risiko dibagi menjadi risiko murni dan risiko Risiko murni adalah risiko yang ada, seperti risiko aset fisik, risiko karyawan, dan risiko yang mungkin timbul, dengan kemungkinan kerugian. Risiko spekulatif adalah risiko untung dan rugi Misalnya saja risiko dan risiko operasional (Fahmi, 2. Model SCOR (Supply Chain Operation Referenc. didukung oleh SCC (Supply Chain Counci. Model ini dibuat oleh SCC untuk memberikan penelitian independent metode dan perbandingan aktivitas dan kinerja pasokan sebagai manajemen rantai standar di industri (John Paul, 2. Mengembangkan model Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menentukan agen risiko yang harus diprioritaskan untuk tindakan pencegahan selanjutnya House of Risk (HOR) adalah model dua distribusi ini, yang merupakan modifikasi dari model FMEA. Peringkat untuk masing-masing agen risiko didasarkan pada besaran nilai ARPj (Pujawan & Mahendrawathi, 2. AHP adalah teknik yang sering digunakan untuk mengubah sudut pandang subjektif suatu evaluasi menjadi rasio kuantitatif. Mengubah hasil ini menjadi nilai rasio memudahkan pemahaman pengguna terhadap masalah dan evaluasi, yang mengarah pada perolehan keputusan yang berguna. (Rio Aurachman. METODE PENELITIAN Bagian ini menjelaskan teknik penelitian yang tersaji pada gambar berikut. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Risk Potential (ARP) dari yang tertinggi hingga terendah. Seperti yang ditunjukkan pada tabel 3. Setelah melalui house of risk tahap 1, menggunakan diagram Pareto, seperti terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Alur Penelitian Sumber: Data diolah, 2023 Tahap pertama adalah proses pemetaan rantai pasokan menggunakan pendekatan SCOR . eferensi operasi rantai pasoka. (Bagian 3. dan model matematika untuk memproses data pengukuran yaitu House of Risk dan Analytical Hierarchy Process (Bagian . 1 Pemetaan Risiko Rantai Pasok SCOR Pemetaan aktivitas Supply Chain mengidentifikasi aktivitas dan ruang lingkup Supply Chain. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh pemetaan proses Supply Chain di PT. XYZ tersaji di tabel 1. 2 Perhitungan House of Risk Key informan yang memahami proses operasional perusahaan mengisi skor dari tabel tingkat keparahan dan kejadian. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2. Lalu dilanjutkan menghitung matriks House of Risk Tahap 1. Nilai Agreggat Risk Potential (ARP) dihitung untuk menentukan prioritas ketika dikorelasikan dengan agen Setelah menentukan nilai Potensi Risiko Agregat, dilakukan pengurutkan nilai Agreggat Gambar 2. Pareto Diagram Sumber: Data diolah, 2023 Diagram Pareto, juga disebut sebagai 80:20, mengidentifikasi kategori faktor risiko berprioritas tinggi dan berprioritas rendah. Menurut Diagram Pareto, 80% kerugian suatu perusahaan disebabkan oleh 20% risiko yang paling signifikan. Dengan memprioritaskan 20% risiko paling kritis teratas, maka dampaknya dapat dikurangi sebesar 80% terhadap keseluruhan risiko perusahaan . HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan tahap Pemetaan Risiko menggunakan SCOR yang didapat melalui wawancara dengan key informan PT. XYZ, didapatkan sebanyak 26 Risk Event dan 12 Risk Agent pada rantai pasok proses bisnis PT. XYZ yang tersaji pada tabel 1 dan tabel 2. Langkah Selanjutnya adalah menghitung house of risk tahap 1 dengan hasil risk agent yang sudah di kelompokan menggunakan diagram pareto berdasarkan wawancara dengan expert yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu severity . ingkat keparaha. dan occurence . ingkat keseringa. Hasil dari pengelompokan beserta tindakan mitigasinya tersaji di tabel 5. Preventive Action digunakan sebagai tindakan mitigasi atas risk agent Setelah menentukan preventive action dan nilai tingkat kesulitan, langkah selanjutnya adalah mencari hubungan antara preventive action dengan risk agent yang ada melalui JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 house of risk tahap 2 dengan cara dari prioritas preventive action berdasarkan mengkorelasikan antara risk agent dan Analytic Hierarchy Process tersaji pada preventive action untuk mendapatkan prioritas tindakan dari preventive action yang akan di Dari hasil perhitungan bobot didapatkan implementasikan di PT. XYZ. data tersaji pada hasil eigen vector pada gambar 5. Nilai consistency ratio (CR) sebesar 0. 096 dengan Berdasarkan hasil perhitungan House of nilai tersebut dianggap valid. Risk tahap 2, urutan pengendalian risiko Adapun Syarat Konsisten apabila nilai ditentukan berdasarkan nilai Efektifitas hingga CR < 0,1. Sehingga hasil ini di anggap tingkat kesulitan yang paling tinggi. Prioritas preventive action ditunjukkan pada tabel 7. Pendekatan sistem pendukung keputusan dengan cara melihat nilai Effectiveness to Analytic Hierarchy Process, membebaskan key difficulty ratio tertinggi ke terendah. informan untuk memilih kriteria yang akan di Kemudian Langkah selanjutnya adalah bandingkan dengan alternatif secara luas. menghitung Analytic Hierarchy Process Sehingga prioritas mitigasi risiko . reventive diawali dengan membangun hierarki yang action ) dapat diterapkan berdasarkan terdiri dari tujuan, kriteria, dan alternatif seperti pada gambar 3. membandingkan tingkat kepentingan antar Setelahnya dilanjutkan menghitung alternatif mitigasi risiko . reventive actio. matriks perbandingan antar alternatif, dan hasil Tabel 2. Supply Chain Operation Reference Process Activity Code Risk Event Code Risk Agent Plan Perencanaan dan Kelebihan Stok Ketidakpastian jumlah order dari konsumen Kekurangan Stok Perubahan rencana A2 Penyesuaian Permintaan Perencanaan pengadaan bahan dan alat Source Pengadaan bahan dan alat Persediaan bahan baku berlebih Perubahan biaya Proses produksi terkendala karna kekurangan bahan Target produksi tidak tercapai Terdapat cacat pada bahan baku yang dikirim Pemeriksaan bahan Penyimpanan . empat simpan Persediaan bahan baku kurang E10 E11 Kesalahan perhitungan bahan baku Fluktuasi Harga bahan Keterlambatan pengiriman bahan baku Supplier tidak profesional Spesifikasi bahan baku yang dikirim tidak sesuai JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi Process Make Activity Penyimpanan bahan Mempersiapkan bahan baku untuk di Pencampuran bahan katalyst dan resin dan warna produk Code E12 E13 E14 E15 E16 Deliver Return P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Risk Event Penumpukan bahan baku Kesalahan pada bahan yang di Campuran mengeras lebih cepat sehingga tidak bisa di Campuran tumpah Campuran tidak sesuai takaran Penyusunan memakan waktu Code Risk Agent Pengelolaan gudang tidak Human error Cuaca yang tidak Human error Potongan matt fiber kecil Matt fiber diletakkan di E17 Pengolesan campuran ke matt fiber pada cetakan E18 Lapisan tidak Human error Pemasangan kerangka kayu pada E19 Cetakan tidak A10 Bahan kerangka menggunakan Kayu Pemisahan antara cetakan dan produk yang sudah jadi E20 E21 Produk Pecah Produk Bolong Human error Peralatan Tidak Memadai Finishing hasil Penyimpanan produk ke bagian Gudang Pendistribusian Pengembalian produk tidak sesuai E22 Produk reject Human error E23 Produk cacat fisik Human error E24 Keterlambatan Pengembalian produk dari Biaya distribusi A11 Armada Transportasi Spesifikasi produk tidak E25 E26 A12 Tabel 3. Pembobotan Severity dan Occurrence Code Risk Agent Ketidakpastian jumlah order dari Code Risk Event Kelebihan Stok produk Penyesuaian Permintaan konsumen Kesalahan perhitungan bahan baku Kekurangan Stok produk Perubahan rencana produksi Fluktuasi harga bahan baku Penyimpanan produk bermasalah . empat JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Keterlambatan pengiriman bahan Supplier tidak profesional Pengelolaan gudang tidak sistematis Human error A10 Cuaca yang tidak mendukung Bahan kerangka menggunakan Kayu E10 A11 Armada Transportasi terbatas E11 A12 Spesifikasi produk tidak sesuai E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 E19 E20 E21 E22 E23 E24 E25 E26 simpan terbata. Persediaan bahan baku kurang Persediaan bahan baku berlebih Perubahan biaya pengadaan Proses produksi terkendala karna kekurangan bahan Target produksi tidak tercapai Terdapat cacat pada bahan baku yang Spesifikasi bahan baku yang dikirim tidak Penumpukan bahan baku Kesalahan pada bahan yang di siapkan Campuran mengeras lebih cepat sehingga tidak bisa di produksi Campuran tumpah Campuran tidak sesuai takaran Penyusunan memakan waktu Lapisan tidak merata Cetakan tidak simetris Produk Pecah Produk Bolong Produk reject Produk cacat fisik . Keterlambatan pengiriman Pengembalian produk dari konsumen Biaya distribusi bertambah Tabel 4. House of Risk Tahap 1 Risk Agents (A. Risk Event (E. E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 Severity of Risk Event (S. A10 A11 A12 JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi E17 E18 E19 E20 E21 E22 E23 E24 E25 E26 Occurrence of Agent Aggregate Risk Potential Priority Rank of Agent P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Tabel 5. Preventive Action Code Risk Agent PAi Preventive Action Meningkatkan Keterampilan Menerapkan pembagian jam kerja. Menambah jumlah karyawan Memberikan penghargaan atas prestasi kerja tanpa kesalahan Membuat sistem penghitungan pengadaan yang baik untuk mengurangi kesalahan Menciptakan Standar Operasional Prosedur yang baik Melakukan pemeriksaan setiap perhitungan bahan baku Mencari cadangan vendor lain yang memenuhi kriteria Memperbaiki sistem administrasi pemesanan antara produsen dan Menentukan harga jual berdasarkan variasi harga bahan baku. Human Error PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 Kesalahan Perhitungan Bahan Baku PA6 PA7 Distributor yang tidak profesional Ketidakpastian jumlah order dari Fluktuasi harga bahan baku Keterlambatan pengiriman bahan PA8 PA9 PA10 PA11 Memperbaiki sistem persediaan agar tidak terjadi kekurangan bahan baku Degree Difficulty JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Tabel 6. House of Risk Tahap 2 Risk Event (E. Total of action Degree of Effectiveness to difficulty Code PA1 PA6 PA2 PA4 PA3 PA9 PA7 PA8 PA5 PA11 PA10 Risk Agents (A. PA1 PA2 PA3 ARP PA4 PA5 PA6 PA7 PA8 PA9 PA10 PA11 62694 62694 62694 62694 47628 47628 26730 26082 45810 16443 31347 31347 15673,5 20898 11907 23814 13365 13041 15270 4111 Tabel 7. Prioritas Preventive Action Preventive Action Meningkatkan Keterampilan Menciptakan Standar Operasional Prosedur yang baik Menerapkan pembagian jam kerja Memberikan penghargaan atas prestasi kerja tanpa kesalahan Menambah jumlah karyawan Memperbaiki sistem administrasi pemesanan antara produsen dan konsumen Melakukan pemeriksaan setiap perhitungan bahan baku Mencari cadangan vendor lain yang memenuhi kriteria Membuat sistem penghitungan pengadaan yang baik untuk mengurangi kesalahan Memperbaiki sistem persediaan agar tidak terjadi kekurangan bahan baku Menentukan harga jual berdasarkan variasi harga bahan baku ETD Rank Gambar 3. Hierarki Alternatif Preventive Action Sumber: Data diolah, 2023 JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Gambar 4. Matriks Perbandingan Bobot Alternatif Sumber: Data diolah, 2023 Gambar 5. Eigen Vector Sumber: Data diolah, 2023 JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Gambar 6. Prioritas Preventive Action Berdasarkan Analytic Hierarchy Process Sumber: Data diolah, 2023 Kesimpulan Berdasarkan SCOR (Supply Chain Operation Referenc. didapatkan sebanyak 26 Risk Event dan 12 Risk Agent pada rantai pasok proses bisnis PT. XYZ. Kemudian setelah dihitung melalui pareto diagram terdapat 6 risk agent terpilih yang akan di beri Preventive Action. Setelah perhitungan House of Risk Tahap 2 didapatkan prioritas preventive action dengan nilai tertinggi 31347 yaitu PA1 (Meningkatkan Keterampila. Lalu dilanjutkan perhitungan Analytical Hierarchy Process didapatkan hasil eigen vector tertinggi sebesar 13,2% dengan nilai consistency ratio (CR) sebesar 0. 096 dianggap valid karna < 0,1. Model ini dianggap konsisten dan dapat diterapkan. Dengan hasil tertinggi yaitu PA5 (Membuat sistem penghitungan pengadaan yang baik untuk mengurangi kesalaha. dengan prioritas sebesar 16,5%. Dari hasil ini diharapkan 11 tindakan mitigasi yang diusulkan oleh key informan dapat menjadi referensi dalam kebijakan yang tujuannya untuk memperbaiki lini rantai pasok proses bisnis industri fiberglass. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih untuk semua pihak yang terlibat dalam penulisan artikel ini baik dari Universitas Muhammadiyah Riau maupun PT. XYZ sehingga artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA