Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 11. November 2025 ISSN: 27342488 IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DAN ANALISIS SENYAWA BERPOTENSI OBAT HASIL EKSTRAKSI KOMBINASI DAUN SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L) DAN DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA) Marina Anriani Mbere Email: marinaanriani@gmail. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ABSTRAK Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman obat yang tinggi, termasuk sirih hijau (Piper betle L. dan sirsak (Annona muricat. yang banyak digunakan secara tradisional. Daun sirsak dikenal memiliki potensi untuk membantu pengobatan kanker, menurunkan kadar gula darah, dan mengatasi gangguan paru. Sementara itu, daun sirih hijau sering dimanfaatkan sebagai antioksidan serta obat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia, skrining fitokimia, serta komponen kimia hasil GC-MS dari ekstrak kombinasi kedua daun tersebut. Hasil uji fisikokimia menunjukkan bahwa ekstrak memiliki massa jenis 0,78 g/mL, larut dalam aquades, etanol, kloroform, dan aseton, serta memiliki titik didih 82AC. Skrining fitokimia mengonfirmasi adanya alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, dan steroid. Analisis GC-MS mengidentifikasi berbagai senyawa seperti hexadecane, nonadecane, methyl gamma-linolenoate, serta turunan asam lemak lainnya. Beberapa senyawa seperti asam hexadecenoic, phytol, dan hexadecenoic acid methyl ester berpotensi sebagai senyawa obat karena aktivitas biologisnya. Penelitian ini menunjukkan potensi kombinasi kedua daun sebagai bahan obat herbal. Kata Kunci: Daun Sirih Hijau. Daun Sirsak. Analisis GC-MS. ABSTRACT Green betel leaves (Piper betle L. ) and soursop leaves (Annona muricat. are among the traditional medicinal plants widely used in Indonesia. Soursop leaves are commonly utilized to help treat cancer, stabilize blood sugar levels, and support lung health, while green betel leaves are often used as antioxidants and natural remedies for cough. This study aims to determine the physicochemical properties, phytochemical profile. GC-MS chemical composition, and potential medicinal compounds of the combined extract of green betel and soursop leaves. Physicochemical tests included density, solubility, and boiling point analysis. Phytochemical screening identified alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and steroids. GC-MS analysis revealed compounds such as hexadecane, nonadecane, methyl gamma-linolenate, 9,12-octadecadienoic acid methyl ester, and other fatty acid Several componentsAiincluding hexadecenoic acid, phytol, and hexadecenoic acid methyl esterAiwere identified as potential bioactive compounds. These findings indicate that the combined extract contains chemical constituents with promising medicinal properties. Keywords: Green Betel Leaves. Soursop Leaves. GC-MS Analysis. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk berbagai tanaman obat. Kondisi tanah yang subur dan iklim tropis mempermudah pertumbuhan berbagai spesies tanaman, khususnya di hutan tropis yang menjadi rumah bagi lebih dari 30. 000 spesies tumbuhan. Dari jumlah tersebut, sekitar 9. 600 spesies memiliki manfaat sebagai obat, namun hanya sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri herbal. Tumbuhan obat adalah tanaman yang dapat digunakan untuk tujuan pengobatan, baik yang sengaja dibudidayakan maupun tumbuh liar. Tumbuhan ini dimanfaatkan masyarakat untuk diramu menjadi obat tradisional, baik berupa jamu maupun ekstrak sederhana. Beberapa spesies tanaman yang banyak dimanfaatkan masyarakat karena mengandung senyawa bioaktif antara lain daun sirih hijau (Piper betle L. ) dan daun sirsak (Annona muricata L. Kedua tanaman ini memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional dan pembuatan produk herbal. Daun sirih hijau dikenal sebagai sumber antioksidan alami dan digunakan sebagai obat batuk. Beberapa senyawa aktif yang terkandung dalam daun sirih hijau adalah alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid, steroid, tanin, minyak atsiri, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dan fenol dalam daun sirih hijau memiliki aktivitas antibakteri, sehingga secara empiris masyarakat memanfaatkan daun ini dengan merebus beberapa lembar daun untuk diminum sebagai obat batuk. Sementara itu, daun sirsak banyak digunakan untuk menjaga kesehatan, menstabilkan kadar gula darah, mencegah pertumbuhan sel kanker, dan mendukung kesehatan paru. Daun sirsak mengandung berbagai metabolit sekunder dan senyawa bioaktif, termasuk tanin, flavonoid, polifenol, saponin, dan asetogenin. Senyawa asetogenin pada daun sirsak dilaporkan memiliki aktivitas sitotoksik yang mampu menghambat dan mereduksi radikal bebas, serta memperlambat pertumbuhan sel kanker. Penggunaan empiris daun sirsak di beberapa wilayah, seperti Desa Nduaria. Kecamatan Kelimutu. Kabupaten Ende, dilakukan dengan merebus sejumlah lembar daun dan meminum air rebusannya secara teratur. Identifikasi kandungan metabolit sekunder pada daun sirih hijau dan daun sirsak dapat dilakukan melalui uji fitokimia, yang meliputi uji alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, dan steroid. Metode ini dapat dikombinasikan dengan teknik instrumen modern, seperti spektrofotometer inframerah dan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometr. , untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai komponen kimia dan potensi aktivitas biologis senyawa. Analisis metabolit sekunder penting untuk mengetahui senyawa bioaktif yang memiliki potensi sebagai obat herbal, baik sebagai antioksidan, antikanker, maupun antibakteri. Berdasarkan konsep teoritis, fakta empiris, dan data penelitian sebelumnya, daun sirih hijau dan daun sirsak memiliki kandungan metabolit sekunder yang signifikan dan beragam, yang mendukung pemanfaatannya dalam pengembangan obat tradisional dan produk herbal. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis kombinasi ekstrak kedua daun ini, guna mengetahui secara spesifik komponen fitokimia dan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai obat. Penelitian ini berjudul AuIdentifikasi Metabolit Sekunder dan Analisis Senyawa Berpotensi Obat Hasil Ekstrak Kombinasi Daun Sirih Hijau dan Daun SirsakAy, yang diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah untuk pengembangan obat herbal berbasis tanaman lokal Indonesia. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirih hijau yang diambil secara acak dari Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende dan daun sirsak yang diambil dari kabupaten Ende desa Nduaria dengan memilih daun yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, namun masih segar. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Hasil Interpretasi Massa 0,78 g/mL Menunjukkan ekstrak mengandung molekul Titik didih Stabil pada pemanasan Kelarutan Larut dalam etanol, aquades, kloroform. Mengandung senyawa polar & semipolar Golongan Senyawa Hasil Indikasi Reaksi Flavonoid Positif Warna hijau (Mg HC. Alkaloid Positif Endapan coklat/hijau (Maye. Saponin Positif Busa stabil Tanin Positif Steroid Positif Warna hijau kebiruan (LB) Warna (FeClCE) Hasil GC-MS Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sifat fisikokimia, kandungan fitokimia, serta senyawa bioaktif hasil analisis GC-MS dari ekstrak kombinasi daun sirih hijau (Piper betle ) dan daun sirsak (Annona muricata L. Ekstraksi dilakukan melalui metode maserasi menggunakan pelarut metanol p. , menghasilkan filtrat yang kemudian diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental dengan rendemen 4,6%. Analisis fisikokimia menunjukkan bahwa ekstrak memiliki massa jenis 0,78 g/mL, titik didih 82AC, serta kelarutan baik dalam pelarut polar . tanol, aquade. maupun semipolar . loroform, aseto. Hasil uji fitokimia memperlihatkan bahwa ekstrak mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, serta steroid. Kandungan tersebut ditunjukkan melalui perubahan warna maupun pembentukan endapan sesuai reaksi spesifik tiap golongan metabolit sekunder. Temuan ini mengindikasikan adanya senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, antikanker, dan antiinflamasi. Analisis GC-MS mengidentifikasi berbagai senyawa penting, di antaranya hexadecane, heptadec-8-ene, nonadecane, 2-tridecanol, 9-hexadecanoic acid methyl ester, 9,12octadecadienoic acid-methyl ester, phytol, neophytadiene, dan eicosene. Dari keseluruhan komponen, senyawa yang dinilai memiliki potensi aktivitas obat paling signifikan adalah hexadecenoic acid, phytol, dan hexadecenoic acid methyl ester, yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri, antiradang, dan sitotoksik. Secara keseluruhan, kombinasi daun sirih hijau dan daun sirsak menunjukkan profil kimia yang kaya akan metabolit sekunder dan senyawa bioaktif sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat bahan obat herbal. KESIMPULAN Dari analisis data dan pembahasan Ekstrak kombinasi daun sirih hijau dan daun sirsak memiliki sifat fisikokimia sebagai berikut: Mempunyai kelarutan dalam pelarut seperti methanol dan aquades. Titik didih: 82oC Masa jenis : 0,78 gr/mL Ekstrak kombinasi daun sirih hijau dan daun sirsak mengandung kelompok senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid. Hasil analisis GC-MS ekstrak kombinasi daun sirih hijau dan daun sirsak mengandung senyawa hexadecane, heptadic-8-ene, nonadecane, 2-tridecanol, oxirane-tetradecyl, 9hexadecanoic acid,methyl ester, hexadecanoic acid,methyl ester, hexadecanoic acid, , 7hexadecanoic acid,methyl ester, methyl gamma-linolenoate, 9,12- octadecadienoic acidmethyl ester, 2- hexadecen-1-ol,3,7,11,15-tetramethyl, 1,2-benzenedicarboxylic acid, 9eicosene, 1h-purin-6-amine, 17-pentatriacontene, dodecanoicacid,1,2,3-propanetryl ester, hexadecenoic acid,2-hidroxy-1,3-propanedyl ester. Hasil analisis GC-MS senyawa berpotensi obat ekstrak kombinasi daun sirih hijau dan daun sirsak menunjukan adanya yang berpotensi sebagai obatara lain asam hexadecenoic,phytol,hexadecenoic acid,methyl ester DAFTAR PUSTAKA