JIMP Vol 6 . (Maret 2. hal: 36 Ae 51 e - ISSN 2775-9679 p - ISSN 2774-9525 e-jurnal : http://journal. id/index. php/JIMP/ PENGARUH KETERBATASAN UANG SAKU DAN PENGGUNAAN PAYLATER TERHADAP PENGELOLAAN KEUANGAN MAHASISWA DENGAN LITERASI KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI Mutiara Aulia1. Tyahya Whisnu Hendratni2. Chaerani Nisa3. Rika Kaniati4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pancasila. Jakarta. Indonesia *E-mail : 1121210187@univpancasila. Diterima 18 Februari 2026. Disetujui 16 Maret 2026. Terbit 31 Maret 2026 Abstrak Perkembangan teknologi dan kemudahan akses layanan keuangan digital mendorong perubahan perilaku keuangan mahasiswa, terutama dalam mengelola keuangan di tengah keterbatasan uang saku dan penggunaan layanan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterbatasan uang saku dan penggunaan paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa dengan literasi keuangan sebagai variabel moderasi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang berdomisili di wilayah JABODETABEK, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara daring dan dianalisis menggunakan metode Partial Least SquaresAeStructural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, sedangkan penggunaan paylater tidak berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa. Selain itu, literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, namun tidak mampu memoderasi pengaruh keterbatasan uang saku maupun penggunaan paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengelolaan keuangan mahasiswa lebih dipengaruhi oleh kondisi keterbatasan dana dan tingkat literasi keuangan dibandingkan dengan penggunaan layanan paylater. Kata kunci: Keterbatasan Uang Saku. Penggunaan Paylater. Literasi Keuangan. Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Abstract The rapid development of digital financial services has significantly influenced studentsAo financial behavior, particularly in managing personal finances amid limited allowances and the increasing use of paylater services. This study aims to analyze the effect of allowance constraints and paylater usage on studentsAo financial management, with financial literacy as a moderating variable. The population of this study consists of university students domiciled in the Greater Jakarta area (JABODETABEK). The sampling technique employed was nonprobability sampling using the purposive sampling method. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using Partial Least SquaresAeStructural Equation Modeling (PLS-SEM) with the assistance of SmartPLS 4 software. The results indicate that allowance constraints have a positive and significant effect on studentsAo financial management, while paylater usage does not have a significant effect. Furthermore, financial literacy has a positive and significant effect on studentsAo financial management. However, financial literacy does not moderate the relationship between allowance constraints and studentsAo financial management, nor does it moderate the relationship between paylater usage and studentsAo financial management. These findings suggest that studentsAo financial management is more strongly influenced by allowance constraints and financial literacy than by the use of paylater services. Keywords: Allowance Constraints. Paylater Usage. Financial Literacy. StudentsAo Financial Management JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 PENDAHULUAN Pengelolaan keuangan pribadi merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi. Kemampuan ini menjadi semakin krusial di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang tidak menentu. Memasuki tahun 2025. Indonesia menghadapi berbagai tantangan ekonomi, seperti inflasi dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok, yang turut berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Mahasiswa harus cermat dalam mengelola uang saku yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, konsumsi, transportasi, dan kebutuhan mendesak lainnya. Ketidakmampuan dalam mengelola keuangan pribadi dapat menimbulkan masalah finansial yang berpotensi mengganggu kesejahteraan serta konsentrasi dalam studi. Oleh karena itu, kemampuan manajemen keuangan yang baik menjadi hal yang sangat penting agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang Secara ideal, mahasiswa diharapkan mampu mengatur dan memprioritaskan pengeluaran, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta mampu menabung dan menghindari perilaku konsumtif. Namun, kenyataannya tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan tersebut. Berdasarkan artikel (OCBC, 2. , uang saku mahasiswa di Indonesia bervariasi tergantung pada kota tempat mereka tinggal. Tabel 1. Rata-rata Uang Saku Mahasiswa di Indonesia Berdasarkan Kota dan Tempat Tinggal . Kategori Mahasiswa Rantau di Kota Besar Rantau di Kota Kecil Tinggal dengan Orang tua Kota tempat tinggal Jakarta. Surabaya. Bandung Yogyakarta. Malang Beragam . omisili sendir. Rata-Rata Uang Saku per bulan Rp 3,500,000 AeRp 5,000,000 Rp 2,000,000 Ae Rp 3,000,000 Rp 1,000,000 Ae Rp 2,000,000 Sumber: (OCBC, 2. Mahasiswa rantau yang tinggal di kota besar rata-rata uang sakunya lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa rantau yang tinggal di kota kecil dan mahasiswa yang tinggal dengan keluarganya karena biaya hidup yang diperlukan untuk membayar kos, makan, dan aktivitas sehari-hari lebih besar. Perbedaan besaran uang saku ini memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangannya, terutama dalam menyeimbangkan antara kebutuhan akademik, sosial, dan gaya hidup. Di sisi lain, tingkat kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan juga masih beragam. Sebagian mahasiswa sudah mampu membuat prioritas pengeluaran dan mengatur anggaran secara mandiri, tetapi sebagian lainnya masih menghadapi kesulitan dalam mengelola keuangan secara efektif. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya tingkat literasi keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi keuangan kelompok pelajar/mahasiswa mencapai 61,76%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 84,42%. (OJK, Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa telah memiliki akses yang tinggi terhadap layanan keuangan, kemampuan mereka dalam memahami dan mengelola keuangan secara optimal Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan masih perlu ditingkatkan. Literasi keuangan yang baik sangat penting untuk membantu mahasiswa membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran yang realistis, serta mengontrol pengeluaran agar terhindar dari masalah finansial. Kurangnya pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan dapat membuat mahasiswa lebih rentan terhadap perilaku konsumtif dan ketergantungan pada layanan keuangan seperti Paylater, yang jika tidak digunakan secara bijak dapat menimbulkan beban finansial di masa depan. Perkembangan teknologi finansial (Fintec. turut mengubah perilaku keuangan mahasiswa. Salah satu produk Fintech yang populer di kalangan mahasiswa adalah layanan Paylater. Layanan ini memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi terlebih dahulu dan membayar kemudian tanpa proses yang rumit, sehingga sangat menarik bagi mahasiswa dengan keterbatasan dana tunai. Namun, kemudahan tersebut juga berpotensi menimbulkan perilaku konsumtif dan memperburuk kondisi keuangan pribadi apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Penelitian oleh Harfian et al. , . menunjukkan bahwa sekitar 69% mahasiswa Universitas Negeri Makassar menggunakan layanan Paylater, dan terdapat korelasi signifikan antara penggunaan Paylater dengan perilaku konsumtif yang tidak terkendali. Gambar 1. Survei Jumlah Pengguna Paylater di Indonesia Sumber: https://databoks. id/ (Databoks, 2. Berdasarkan survei kolaborasi Kredivo dan Katadata Insight Center (KIC) tahun 2023, diketahui bahwa sebanyak 26,5% pengguna Paylater di Indonesia berasal dari kelompok usia 18Ae25 tahun, yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Kelompok usia ini menempati posisi kedua terbesar setelah kelompok usia 26Ae35 tahun dengan persentase 43,9%. Data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa termasuk dalam segmen pengguna aktif Paylater yang cukup signifikan. Fenomena ini mencerminkan adanya kecenderungan generasi muda untuk JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 memanfaatkan layanan keuangan digital dalam memenuhi kebutuhan konsumtif, terutama di tengah keterbatasan uang saku atau penghasilan bulanan. Lebih lanjut, tingginya tingkat penggunaan Paylater di kalangan mahasiswa dapat menjadi indikasi adanya pergeseran perilaku keuangan, dari yang sebelumnya mengandalkan uang tunai menuju sistem kredit digital yang lebih instan. Di sisi lain, kondisi ini juga menimbulkan potensi risiko finansial, seperti penumpukan utang dan kesulitan dalam mengatur arus kas pribadi, terutama apabila penggunaan Paylater tidak diiringi dengan literasi keuangan yang memadai. Gambar 2. Survei Aplikasi Paylater Paling Populer Sumber: https://goodstats. id/ (Goodstats, 2. Berdasarkan survei yang dipublikasikan oleh GoodStats . mengenai merek layanan Paylater yang paling banyak digunakan oleh Gen Z dan milenial di Indonesia, terlihat bahwa Shopee Paylater menempati posisi teratas sebagai layanan paling populer dan paling sering digunakan oleh responden yaitu sebesar 50% dari total responden. disusul oleh GoPaylater sebesar 35%. Traveloka Paylater sebesar 30%, sedangkan Kredivo Paylater, dan Akulaku Paylater lebih rendah yakni masing-masing sebesar 25% dan 15%. Kelima aplikasi Paylater ini seringkali digunakan untuk kebutuhan belanja Online, transportasi, dan gaya hidup. Hasil survei ini menunjukkan bahwa layanan Paylater semakin dikenal luas oleh masyarakat, khususnya generasi muda seperti mahasiswa, yang cenderung mencari kemudahan dalam bertransaksi meskipun memiliki keterbatasan dana. Fenomena ini dapat berdampak pada perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa, terutama jika penggunaan layanan tersebut tidak diimbangi dengan tingkat literasi keuangan yang memadai. Tanpa pemahaman literasi keuangan yang baik, mahasiswa cenderung menggunakan Paylater secara impulsif, yang dapat menimbulkan beban utang dan tekanan finansial di kemudian hari. Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan Penelitian oleh Gili Gesiradja, . mengungkap bahwa penggunaan Shopee Paylater mendorong perilaku konsumtif pada mahasiswa, terutama bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran literasi keuangan dalam mengontrol perilaku konsumtif dan meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan mahasiswa. Penelitian yang dilakukan oleh Lestiani dan Bahtiar, . juga menemukan bahwa literasi keuangan dan uang saku berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan, serta variabel Financial self-efficacy dapat memoderasi hubungan antara literasi keuangan dan perilaku pengelolaan keuangan, meskipun tidak memoderasi pengaruh uang saku terhadap pengelolaan keuangan. Selanjutnya, penelitian oleh Muhammad Hafizd Fauzi et al. , . menegaskan bahwa mahasiswa yang memiliki pemahaman literasi keuangan yang baik cenderung lebih mampu mengatur pengeluaran dan kebutuhan hidupnya, meskipun dengan uang saku terbatas. Namun, secara umum tingkat literasi keuangan mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu hanya 49,68%. Adapun penelitian oleh Adelia Mega Hutami dan Astuning Saharsini, . menunjukkan bahwa literasi keuangan dan kontrol diri berpengaruh positif terhadap pengelolaan keuangan, sedangkan pendapatan dan gaya hidup konsumtif berpengaruh Menariknya, sebanyak 60% mahasiswa STIE Surakarta menggunakan layanan Paylater untuk kebutuhan konsumtif seperti pakaian dan gadget, menunjukkan lemahnya kontrol keuangan di kalangan Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa meskipun literasi keuangan, uang saku, dan perilaku konsumtif telah banyak diteliti, masih terdapat kesenjangan dalam memahami bagaimana ketiga faktor tersebut berinteraksi, terutama di era keuangan digital. Sebagian besar penelitian terdahulu belum menggabungkan variabel keterbatasan uang saku dan penggunaan Paylater dalam satu model penelitian yang terintegrasi, serta belum menempatkan literasi keuangan sebagai variabel moderasi yang berpotensi memperkuat hubungan antar variabel tersebut. Padahal, di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, literasi keuangan berperan penting sebagai kemampuan protektif yang membantu individu mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna mengisi kesenjangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterbatasan uang saku dan penggunaan Paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, serta menilai sejauh mana literasi keuangan dapat memoderasi hubungan tersebut. Dengan meningkatnya penggunaan Paylater dan masih rendahnya literasi keuangan, urgensi penelitian ini menjadi sangat tinggi untuk membantu mahasiswa mencapai kesejahteraan finansial dan kemandirian ekonomi di masa depan. KAJIAN TEORI Theory of Planned Behaviour Theory of Planned Behaviour (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen . merupakan salah satu teori psikologi sosial yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku individu, termasuk dalam konteks pengelolaan keuangan pribadi. TPB menjelaskan bahwa perilaku seseorang ditentukan JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 oleh tiga faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku . ttitude toward behavio. , norma subjektif . ubjective nor. , dan perceived behavioral control (PBC). Ketiga faktor ini berperan dalam membentuk niat berperilaku . ehavioral intentio. yang pada akhirnya memengaruhi perilaku aktual individu (Purwanto dkk, 2. Dalam konteks pengelolaan keuangan, sikap terhadap perilaku mencerminkan pandangan individu mengenai pentingnya mengatur keuangan dengan baik, seperti menyusun anggaran, menabung, atau menghindari utang konsumtif. Norma subjektif menggambarkan pengaruh lingkungan sosial, seperti teman sebaya atau keluarga, terhadap perilaku keuangan seseorang. Sementara itu, perceived behavioral control menunjukkan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatur dan mengendalikan Scarcity Theory Scarcity Theory dalam kajian empiris de Bruijn and Antonides . memberikan sudut pandang perilaku ekonomi yang berfokus pada dampak psikologis dari kelangkaan sumber daya, terutama Teori ini menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami kondisi kekurangan, seperti keterbatasan uang atau waktu, maka pikirannya cenderung terpusat hanya pada kebutuhan yang mendesak . unneling effec. dan mengabaikan aspek lain yang bersifat jangka panjang. Keterbatasan uang saku yang dialami mahasiswa dapat menciptakan kondisi scarcity mindset, yaitu pola pikir yang fokus pada kekurangan dan kebutuhan mendesak. Dalam kondisi ini, mahasiswa mungkin cenderung menggunakan fasilitas Paylater sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, meskipun keputusan tersebut dapat berdampak negatif terhadap pengelolaan keuangan mereka di masa depan. Keterbatasan Uang Saku Menurut Tumangger . Uang saku merupakan uang yang diberikan oleh orangtua kepada anak sebagai tanggungannya. Dalam hal ini uang saku umumnya digunakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan dan keperluan selama masa studi seperti untuk transportasi, jajan, tabungan, buku, dan semua yang menyangkut proses pendidikan di sekolah maupun kampus. Tujuan memberi uang saku sebagai media pembelajaran kepada individual agar ia mampu mengelola keuangan dengan benar (Nur Assyfa. Sedangkan. Keterbatasan Uang Saku adalah kondisi dimana jumlah kebutuhan seseorang, utamanya seorang pelajar, baik siswa maupun mahasiswa dirasa lebih besar daripada jumlah uang saku yang diterima dari orangtua setiap bulannya, yang kemudian menyebabkan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan pengelolaan keuangan pribadi secara keseluruhan. Variabel keterbatasan uang saku diukur melalui empat indikator, yaitu jumlah uang saku, manajemen uang saku, kecukupan terhadap kebutuhan, serta perilaku konsumsi dan pengeluaran yang mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan dan mengelola keuangannya. Penggunaan Paylater Layanan Paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL) merupakan layanan yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian sekarang dan menunda pembayaran ke belakang . aik secara penuh Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan atau dengan cicila. melalui Platform e-commerce atau Fintech, sering dengan persyaratan yang lebih ringan dibanding kredit tradisional (Zhu, 2. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pengguna memilih fitur Aupembelian sekarang bayar nantiAy karena kemudahan akses dan fleksibilitas pembayaran (El Hasan, 2. Meskipun layanan ini menawarkan tingkat kenyamanan dan fleksibilitas yang tinggi dalam bertransaksi, penggunaannya perlu disertai dengan tanggung jawab finansial. Mahasiswa perlu memastikan bahwa kemudahan yang diberikan Paylater benar-benar membantu kebutuhan mereka, bukan justru menimbulkan beban keuangan di kemudian hari (Amelia. Nailah et al. , 2. Variabel penggunaan PayLater diukur melalui empat indikator, yaitu kemudahan akses dan penggunaan, persepsi manfaat, perilaku penggunaan, serta keamanan, risiko, dan kontrol dalam penggunaan layanan tersebut. Literasi Keuangan Menurut Novi Ratna Sari & Agung Listiadi . Literasi keuangan adalah kemampuan individu dalam memahami, menganalisis, mengelola, serta mengkomunikasikan kondisi keuangan pribadinya yang berdampak pada kesejahteraan ekonomi. Ketika literasi keuangan tidak dikelola dengan baik atau tidak disertai dengan kendali diri, individu yang terjebak utang atau memiliki berbagai instrumen keuangan beresiko mengalami peningkatan konsumsi (Aprilia, 2. Individu dengan pengetahuan keuangan yang baik akan mengatur dan mengelola keuangan pribadinya dengan sebaik baiknya. pengetahuan keuangan yang tepat, individu diharapkan bisa terhindar dari masalah keuangan (Indraswari, 2. Variabel literasi keuangan diukur melalui empat indikator, yaitu pengetahuan umum pengelolaan keuangan, pengetahuan tentang asuransi, pengetahuan tentang investasi, serta pengetahuan tentang tabungan dan pinjaman. Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Perilaku pengelolaan keuangan dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengatur dan mengendalikan keuangannya sehari-hari, yang mencakup serangkaian aktivitas mulai dari perencanaan, penyusunan anggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengawasan, hingga upaya memperoleh dan menyimpan dana secara efektif (Novi Ratna Sari dan Agung Listiadi, 2. Dalam lingkungan perkuliahan, mahasiswa berada pada masa transisi keuangan, di mana mereka mulai beralih dari ketergantungan finansial terhadap orang tua menuju kemandirian dalam mengelola serta mengambil keputusan keuangan secara mandiri tanpa pengawasan langsung. Pada tahap ini, mahasiswa kerap menghadapi berbagai permasalahan baru, termasuk dalam aspek finansial. Kondisi tersebut dapat berdampak pada timbulnya masalah keuangan akibat kemampuan pengelolaan keuangan yang masih rendah (Rahma dan Susanti, 2. Variabel pengelolaan keuangan mahasiswa diukur melalui empat indikator, yaitu penggunaan dana, penentuan sumber dana, manajemen risiko, serta perencanaan JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 Hipotesis Hipotesis 1 (H. : Keterbatasan Uang Saku berpengaruh terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hipotesis 2 (H. : Penggunaan Paylater berpengaruh terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hipotesis 3 (H. : Literasi Keuangan berpengaruh terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hipotesis 4 (H. : Literasi Keuangan Memoderasi pengaruh Keterbatasan Uang Saku terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hipotesis 5 (H. : Literasi Keuangan Memoderasi pengaruh Penggunaan Paylater terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menganalisis data secara objektif dan sistematis. Data diperoleh dari sumber primer berupa kuesioner. Analisis terhadap item pernyataan dilakukan dengan memanfaatkan Software SmartPLS 4. Populasi meliputi mahasiswa yang berdomisili di wilayah JABODETABEK. Sampel dalam studi ini berjumlah 100 orang. Karena jumlah populasi tidak diketahui secara pasti, maka ukuran sampel ditentukan menggunakan Jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan rumus Rao Purba sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono . , sebagai berikut: ycu= 4 . cAycuyc. 2 Keterangan: ycu = Besarnya sampel ycs = Tingkat keyakinan dalam penentuan sampel . % = 1,. ycAycuyce = Margin of Error. Tingkat kesalahan maksimum yang dapat ditoleransi 10% Dengan rumus yang digunakan dan perhitungan sebagai berikut : ycu= . 2 4 . 2 2,706 = yiyi, yiye 0,04 Berdasarkan perhitungan rumus maka jumlah responden yang akan dijadikkan sampel adalah 67,65 orang dibulatkan menjadi 100 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Analisis Deskriptif Responden Mayoritas responden berusia 22 tahun, yaitu sebanyak 34% dari total responden. Kelompok usia ini umumnya merupakan mahasiswa semester akhir yang telah memiliki pengalaman dalam mengelola keuangan pribadi, baik untuk kebutuhan kuliah, transportasi, maupun konsumsi sehari-hari. Responden Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan penelitian ini tersebar di lima wilayah utama Jabodetabek, yaitu Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang, dan Bekasi. Sebagian besar responden berdomisili di Bogor, yaitu sebanyak 33%, diikuti oleh responden yang tinggal di Jakarta sebesar 31%. Tangerang sebesar 17%. Depok sebesar 14%, dan Bekasi sebesar mayoritas berasal dari Universitas Pancasila, yaitu sebanyak 23 orang . %). Berikutnya berasal dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sebanyak 8 orang . %), serta Institut Pertanian Bogor (IPB). Universitas Pamulang (UNPAM), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) masingmasing sebanyak 5 orang . %). Hasil Uji Statistik Deskriptif Tabel 2. Interpretasi Penilaian Nilai Rata - Rata 1,00 Ae 1,80 1,81 Ae 2,60 2,61 Ae 3,40 3,41 Ae 4,20 4,21 Ae 5,00 Interpretasi Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Sumber: (Sugiyono, 2. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh variabel termasuk ke dalam kategori sangat tinggi, keterbatasan uang saku termasuk kedalam kategori sangat tinggi dengan total rata-rata sebesar 4,26 . angat tingg. , variabel penggunaan Paylater termasuk ke dalam kategori sangat tinggi dengan total rata-rata sebesar 4,22 . angat tingg. , variabel pengelolaan keuangan termasuk ke dalam kategori sangat tinggi dengan total rata-rata sebesar 4,22 . angat tingg. , dan variabel literasi keuangan termasuk ke dalam kategori sangat tinggi dengan total rata-rata sebesar 4,38 . angat tingg. Hasil Uji Outer Model Gambar 3. Model Latent Variabel Penelitian JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 Seluruh indikator pada variabel keterbatasan uang saku, literasi keuangan, pengelolaan keuangan mahasiswa, dan penggunaan Paylater memiliki nilai outer loading di atas 0,70, dengan nilai AVE masing-masing sebesar 0,644. 0,695. 0,621. dan 0,635. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh konstruk telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Tabel 3. Hasil Cross Loading Indikator Keterbatasan Uang Saku (X. Literasi Keuangan (Z) KUS01 KUS02 KUS03 KUS04 KUS05 KUS06 KUS07 KUS08 LK01 LK02 LK03 LK04 LK05 LK06 LK07 LK08 PKM01 PKM02 PKM03 PKM04 PKM05 PKM06 PKM07 PKM08 PP01 PP02 PP03 PP04 PP05 PP06 PP07 PP08 Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Penggunaan Paylater (X. Ket. VALID TIDAK VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID TIDAK VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID TIDAK VALID Sumber: Data diolah penulis 2026 Uji cross loading menunjukkan bahwa indikator KUS02. PKM03, dan PP08 memiliki nilai loading yang relatif dekat dengan konstruk lain, namun seluruhnya tetap memenuhi batas minimum dan Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan perbedaan nilai yang kecil masih dapat ditoleransi, sehingga indikator tetap dipertahankan berdasarkan pertimbangan teoritis. Tabel 4. Hasil Construct Reliability Variabel Keterbatasan Uang Saku (X. Literasi Keuangan (Z) Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Penggunaan Paylater (X. Sumber: Data diolah penulis 2026 Cronbach's alpha Composite reliability . Keterangan RELIABEL RELIABEL RELIABEL RELIABEL Seluruh variabel memiliki nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability di atas 0,70, yang mengindikasikan konsistensi internal yang baik. Dengan demikian, seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel serta layak digunakan dalam pengujian model struktural. Hasil Uji Inner Model Tabel 5. Hasil Model Fit Parameter SRMR NFI Saturated model Estimated model Keterangan FIT CUKUP FIT Sumber: Data diolah penulis 2026 Hasil evaluasi model menunjukkan nilai SRMR sebesar 0,054 pada saturated model dan 0,060 pada estimated model, yang berada di bawah batas maksimum, sehingga model memenuhi kriteria goodness of fit. Nilai NFI sebesar 0,751 pada saturated model dan 0,746 pada estimated model menunjukkan tingkat kecocokan model berada pada kategori marginal fit. Secara keseluruhan, model penelitian dinyatakan cukup fit dan layak untuk analisis struktural. Tabel 6. Hasil R Square Variabel Dependen Pengelolaan Keuangan Mahasiswa(Y) R-square R-square adjusted Sumber: Data diolah penulis 2026 Nilai R-square sebesar 0,896 dan R-square adjusted sebesar 0,890 pada variabel pengelolaan keuangan mahasiswa menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku, penggunaan Paylater, dan literasi keuangan mampu menjelaskan variasi pengelolaan keuangan mahasiswa sebesar 89,6%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Nilai tersebut mengindikasikan daya jelaskan model yang sangat kuat. Tabel 7. Hasil F Square Variabel Keterbatasan Uang Saku(X. Literasi Keuangan (Z) Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Penggunaan Paylater (X. Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Keterangan Pengaruh Besar Pengaruh Kecil Pengaruh Sangat Kecil JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 Literasi Keuangan (Z) x Keterbatasan Uang Saku (X. Literasi Keuangan (Z) x Penggunaan Paylater (X. Pengaruh Sangat Kecil Pengaruh Sangat Kecil Sumber: Data diolah penulis 2026 Hasil analisis effect size . -squar. menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku memiliki pengaruh besar . , literasi keuangan memiliki pengaruh kecil hingga sedang . , sedangkan penggunaan Paylater memiliki pengaruh sangat kecil . Peran moderasi literasi keuangan terhadap keterbatasan uang saku dan penggunaan Paylater juga tergolong sangat kecil dengan nilai f-square masing-masing 0,002 dan 0,001. Tabel 8. Hasil Path Coefficient Variabel Keterbatasan uang saku (X. Literasi keuangan (Z) Pengelolaan keuangan mahasiswa (Y) Penggunaan Paylater (X. Literasi Keuangan (Z) x Keterbatasan Uang Saku (X. Literasi Keuangan(Z) x Penggunaan Paylater(X. Pengelolaan keuangan mahasiswa . Keterangan Positif kuat Positif sedang Positif lemah Positif lemah Negatif lemah Sumber: Data diolah penulis 2026 Koefisien jalur menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku berpengaruh positif terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa ( = 0,. , diikuti oleh literasi keuangan ( = 0,. dan penggunaan Paylater ( = 0,. Interaksi literasi keuangan dengan keterbatasan uang saku menunjukkan penguatan yang sangat lemah ( = 0,. , sedangkan interaksi literasi keuangan dengan penggunaan Paylater menunjukkan pelemahan yang sangat lemah ( = Ae0,. Tabel 9. Hasil Uji Bootsrapping Variabel Keterbatasan Uang Saku (X. -> Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Literasi Keuangan (Z) -> Pengelolaan Keuangan Mahasiswa (Y) Penggunaan paylater (X. -> pengelolaan keuangan mahasiswa (Y) Literasi keuangan (Z) x keterbatasan uang saku (X. -> pengelolaan keuangan mahasiswa (Y) Literasi keuangan (Z) x penggunaan paylater (X. -> pengelolaan keuangan mahasiswa (Y) Sumber: Data diolah penulis 2026 Original sample (O) T statistics (|O/STDEV|) P values Keterangan Diterima Diterima Ditolak Ditolak Ditolak Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku dan literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa . < 0,. , sehingga H1 dan H3 Sebaliknya, penggunaan Paylater tidak berpengaruh signifikan . > 0,. , sehingga H2 ditolak. Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan Selain itu, literasi keuangan tidak terbukti memoderasi pengaruh keterbatasan uang saku maupun penggunaan Paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, sehingga H4 dan H5 ditolak. Pembahasan Pengaruh Keterbatasan Uang Saku terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hasil pengujian menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa . = 5,167. p = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang mengalami keterbatasan uang saku cenderung lebih disiplin dalam mengatur pengeluaran, menyusun prioritas keuangan, serta menghindari pemborosan, sehingga pengelolaan keuangan menjadi lebih terkontrol. Temuan ini dapat dijelaskan melalui Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. , khususnya konsep perceived behavioral control, di mana keterbatasan sumber daya keuangan mendorong individu untuk meningkatkan kontrol atas perilaku keuangannya. Keterbatasan uang saku juga membentuk sikap positif terhadap perilaku hemat dan perencanaan keuangan, yang kemudian memperkuat niat dan perilaku pengelolaan keuangan yang lebih baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan Derek et al. , . serta Novi Ratna Sari & Agung Listiadi . yang menemukan bahwa keterbatasan uang saku mendorong mahasiswa untuk bersikap lebih terencana, berhati-hati dalam pengeluaran, dan memiliki kecenderungan menabung. Pengaruh Penggunaan Paylater terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Paylater tidak berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa . = 1,050. p = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan Paylater belum menjadi faktor utama yang memengaruhi perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan Paylater oleh mahasiswa masih bersifat situasional dan tidak menjadi sumber pembiayaan utama dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa cenderung tetap mengandalkan uang saku sebagai sumber utama keuangan, sementara Paylater digunakan pada kondisi Selain itu, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menyoroti Paylater dalam konteks perilaku konsumtif, sehingga dampaknya terhadap pengelolaan keuangan secara komprehensif masih Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hasil pengujian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa . = 2,744. p = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat literasi keuangan, semakin baik kemampuan mahasiswa dalam merencanakan, mengelola, dan mengendalikan keuangannya. Temuan ini mendukung penelitian Novi Ratna Sari dan Agung Listiadi . , yang menyatakan bahwa pemahaman keuangan yang baik membantu mahasiswa dalam mengambil keputusan keuangan yang rasional dan terarah. JIMP Vol 6 . (Maret 2. : 36 - 51 Pengaruh Literasi Keuangan dalam Memoderasi Keterbatasan Uang Saku terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hasil uji moderasi menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak memoderasi pengaruh keterbatasan uang saku terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa . = 0,268. p = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat literasi keuangan tinggi maupun rendah tetap menunjukkan pola pengelolaan keuangan yang relatif sama ketika menghadapi keterbatasan uang saku. Hasil ini sejalan dengan Lestiani & Bahtiar . yang menyatakan bahwa variabel moderasi tidak selalu memperkuat hubungan antara uang saku dan perilaku keuangan. Keterbatasan uang saku secara langsung mendorong perilaku hemat tanpa dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan. Pengaruh Literasi Keuangan dalam Memoderasi Penggunaan Paylater terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Hasil pengujian menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak berperan sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara penggunaan Paylater dan pengelolaan keuangan mahasiswa . = 0,147. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan belum mampu memperkuat atau memperlemah Paylater Temuan mengindikasikan bahwa penggunaan Paylater belum menjadi faktor dominan dalam pengelolaan keuangan mahasiswa, sehingga ruang bagi literasi keuangan untuk berperan sebagai variabel moderasi masih terbatas. Selain itu, penelitian mengenai peran moderasi literasi keuangan dalam hubungan Paylater dan pengelolaan keuangan masih relatif jarang, sehingga temuan ini memberikan kontribusi empiris bahwa literasi keuangan tidak selalu berfungsi sebagai variabel pemoderasi, terutama ketika variabel independen tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterbatasan uang saku dan penggunaan Paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa dengan literasi keuangan sebagai variabel moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan uang saku berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, yang mengindikasikan bahwa kondisi keterbatasan dana mendorong mahasiswa untuk lebih disiplin dalam mengatur pengeluaran dan menyusun prioritas Selain itu, literasi keuangan juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, yang menunjukkan bahwa pemahaman keuangan yang baik meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam merencanakan, mengelola, dan mengendalikan Sebaliknya, penggunaan Paylater tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa, yang menunjukkan bahwa layanan tersebut belum menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pengelolaan keuangan mahasiswa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak berperan sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara keterbatasan uang Mutiara dkk. Pengaruh Keterbatasan Uang Saku Dan Penggunaan Paylater Terhadap Pengelolaan Keuangan saku dan pengelolaan keuangan mahasiswa maupun antara penggunaan Paylater dan pengelolaan keuangan mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa literasi keuangan tidak memperkuat maupun memperlemah pengaruh kedua variabel independen tersebut terhadap pengelolaan keuangan Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keterbatasan uang saku dan literasi keuangan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa, sementara penggunaan Paylater dan peran moderasi literasi keuangan belum menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam model penelitian ini. Saran Mahasiswa disarankan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan melalui perencanaan anggaran dan penentuan prioritas pengeluaran serta tetap bersikap disiplin meskipun kondisi keuangan membaik. Penggunaan Paylater perlu dilakukan secara bijak dan terkontrol untuk menghindari risiko keuangan di masa depan. Perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat program literasi keuangan melalui pembelajaran dan pelatihan yang bersifat aplikatif agar mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain yang relevan, memperluas jumlah dan karakteristik responden, serta menggunakan metode analisis yang berbeda guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA