Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 GAMBARAN KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUP PROF. Dr. NGOERAH PADA TAHUN 2020-2022 Luh Putu Ayu Puspasari1. Ika Widi Astuti*1. Luh Mira Puspita1. Ida Arimurti Sanjiwani1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: ika. widi@unud. ABSTRAK Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah sebanyak 500 ml setelah bayi lahir akibat persalinan pervaginam atau kehilangan darah lebih dari 1000 ml akibat persalinan caesar. Faktor - faktor yang mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum yaitu umur, paritas, lama kala, kadar Hb, jarak kehamilan, dan riwayat persalinan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran atas kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah. Sementara itu, jenis studi ini ialah deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi riset ini yaitu rekam medis pasien rawat inap yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof Ngoerah tahun 2020-2022 sebanyak 37 kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik ibu lebih banyak terjadi perdarahan postpartum primer . arly HPP) yaitu . ,1%), sisa plasenta sebanyak . ,1%), usia 20-35 tahun . ,7%), paritas multipara (P2-P. ,3%), lama kala II normal (< 2 ja. ,6%), anemia . %), jarak kelahiran > 2 tahun . ,9%), persalinan normal . ,6%), dan mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tidak diberikan penatalaksanaan berupa transfusi darah . ,15%). Diharapkan puskesmas dan tenaga kesehatan dapat mengoptimalkan penyuluhan pada ibu hamil untuk mendeteksi dini faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan postpartum dan meningkatkan manajemen aktif kala i. Kata kunci: karakteristik, kejadian, ibu, perdarahan, postpartum ABSTRACT Postpartum hemorrhagic is a loss of 500 ml of blood after a baby is born as a result of pervaginal delivery or a loss of more than 1000 ml of blood due to caesarean delivery. Factors that influence the occurrence of postpartum bleeding are age, parity, longevity. Hb rate, pregnancy distance, and birth history. The study of the research is to find out description of postpartum bleeding cases at RSUP Prof. Dr. Ngoerah. This type of research is descriptive with a retrospective approach. The population in this study was the medical records of inpatients who experienced postpartum hemorrhage at Prof. Ngoerah Hospital in 2020-2022, totaling 37 cases. The founding of the study showed that maternal characteristics were more likely to experience primary postpartum hemorrhage . arly HPP) namely . ,1%), retained placenta . ,1%), age 20-35 years . ,7%), multiparous parity (P2-P. ,3%), normal second stage duration (< 2 hour. ,6%), anemia . %), birth interval > 2 years . ,9%), normal delivery . ,6%), and the majority of mothers experienced postpartum hemorrhage at RSUP Prof. Dr. Ngoerah was not given treatment in the form of a blood transfusion . ,15%). It is hoped that community health centers and health workers can optimize education for pregnant women to detect early factors that influence postpartum bleeding and improve active management of the third stage. Keywords: bleeding, characteristics, occurrence, postpartum, mother Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Angka Kematian Ibu (AKI) adalah satu dari berbagai tolak ukur guna meninjau tingkat keberhasilan usaha kesehatan ibu. Tidak hanya demikian, tetapi juga berguna untuk melakukan penilaian program upaya kesehatan ibu lebih lanjut. Lebih jauh lagi, hal ini juga menjadi indikator atas derajat status kesehatan ibu. AKI ini juga bisa dimaknai sebagai banyaknya kematian pada perempuan di masa kehamilannya atau dalam rentang waktu 42 hari sesudah masa bersalin, dimana hal ini berkaitan dengan sebagaimana hal ini terjadi di masa kehamilannya, namun bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cedera (Hamdanillah et al. , 2. Pemerintah sejak lama membangun strategi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, yaitu dengan menerapkan tiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) (Profil Kesehatan Indonesia, 2. Sebelum masa pandemi Covid-19 kematian ibu sudah menjadi satu problematika kesehatan masyarakat yang serius dan perlu mendapatkan perhatian khusus di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia (Girum & Wasie. Angka kematian ibu di Indonesia secara nasional selalu berada pada tingkat yang tinggi (WHO, 2. Masa pandemi Covid-19 khususnya pada kematian ibu, karena terjadinya perubahan sistem pelayanan kesehatan ibu yang berhubungan dengan akses pelayanan, manajemen pasien, prosedur rujukan berikut dengan protokol screening Covid-19. Isu tersebut sejatinya berdeterminasi pada adanya peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) di masa pandemi karena Covid-19 (Purnamasari et , 2. AKI dalam hal ini ialah banyaknya mortalitas sebagaimana pada pada ibu selama masa kehamilan maupun dalam periodik 42 hari sesudah mengandung. Menurut Data World Health Organization (WHO) diperkirakan 287. 000 kematian ibu terjadi di seluruh dunia pada tahun 2020, sebagian besar kasus tersebut terjadi di negara-negara Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 berpendapatan rendah (WHO, 2. AKI secara global saat ini masih berada dalam kategori tinggi menurut standar yang ditetapkan oleh WHO. Angka kematian ibu (AKI) menurut program kesehatan keluarga Kemenkes memperlihatkan angka sebanyak 7. kematian pada ibu di Indonesia (Profil Kesehatan Indonesia, 2. Angka mortalitas ibu di Provinsi Bali secara general dalam rentang lima tahun yang mana angkanya di bawah target sebagaimana ditetapkan secara nasional sebagaimana telah ditetapkan yakni 100 /100. 000 kelahiran atau natalitas hidup. Tahun 2021 persentase meningkat menjadi 189,7/100. 000 natalitas hidup yang merupakan persentase tertinggi, dan pada tahun 2022 sudah terdapat penurunan case dibandingkan tahun 2021 menjadi sejumlah 110,4/100. 000 natalitas hidup (Dinkes Bali. Perdarahan postpartum ialah suatu kondisi kehilangan darah sebanyak 500 ml setelah bayi lahir akibat persalinan pervaginam atau perkiraan kehilangan darah lebih dari 1000 ml akibat persalinan caesar (Oktariza et al. , 2. Komplikasi utama sebagaimana dalam hal ini menjadi faktor atas kematian ibu, dengan persentase hampir 75% dari keseluruhan mortalitas ibu merupakan perdarahan hebat (WHO, 2. Kasus mortalitas ibu pada tahun 2020 di Indonesia dikarenakan oleh perdarahan 330 kasus (Profil Kesehatan Indonesia, 2. Sedangkan di Bali yang masih menjadi perhatian adalah masih ada kejadian AKI yang meningkat disebabkan karena perdarahan sebesar 14,71% (Dinkes Bali, 2. Dampak atas kejadian perdarahan sebagaimana efek dari kegiatan bersalin, dapat menjadi penyebab ibu terkena anemia atau kekurangan darah, serta jika dibiarkan maka bisa menjadi komplikasi ketika nifas (Sari, 2. Perdarahan postpartum dapat menjadi faktor utama mortalitas, tetapi tidak hanya berkaitan dengan pendarahan terjadi sekaligus tetapi perdarahan yang terjadi secara berkelanjutan dan secara Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 perlahan mampu menjadi penyebab adanya kekurangan darah pada ibu hingga dapat mengalami resiko terparah yakni kematian (Simanjuntak, 2. Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi tiga keterlambatan atau Three Delays Model (Tria. , antara lain meningkatkan kapasitas dari nakes dengan suatu pelatihan yang didesainkan secara khusus terkait asuhan persalinan normal, meningkatkan capacity dari nakes dalam kaitannya penanganan kegawatdaruratan melakukan perbaikan sistem rujukan, penyediaan sarana dan juga prasarana yang mampu mendukung pasien dan nakesnya, dan berupaya pemerataan distribusi nakes (Wardani, 2. Kementerian Kesehatan (Kemenke. penetapan atas pemeriksaan ibu hamil atau Antenatal Care (ANC) dilaksanakan setidaknya enam kali dalam rentang kehamilan . sebagai suatu wujud komitmen dalam menyediakan pelayanan yang esensial bagi ibu hamil (Kemenkes RI. Perdarahan postpartum dapat menjadi suatu prediksi bahwasanya terdapat berbagai faktor resiko yang seharusnya Melakukan identifikasi atas berbagai faktor resiko tinggi pada ibu hamil amatlah krusial, sebab hal ini adalah wujud usaha untuk mencegah serta melakukan perencanaan tempat Usaha preventif yang lain terkait kejadian perdarahan postpartum bisa dilaksanakan melalui penilaian pada status . , pelaksanaan manajemen aktif dalam pemberian pertolongan melahirkan dan uterotonika (Yuliyati, 2. RSU Pusat Prof. Ngoerah merupakan rumah sakit Tipe A di Bali, memiliki pelayanan terlengkap di Bali serta merupakan rumah sakit pendidikan. RSUP Prof. Ngoerah sebagai rumah sakit rujukan, melakukan penanganan atas beribu kasus persalinan setiap tahunnya, baik proses bersalin normal ataupun disertai tindakan, dari kunjungan pasien yang datang dengan kehendaknya sendiri maupun disertai dengan rujukan (Juliathi et al. , 2. Mengacu pada studi awal di RSUP Prof Ngoerah kecenderungan peningkatan kejadian angka kematian ibu di masa pandemi sebanyak 22 kasus di tahun 2020, 51 kasus pada tahun 2021, dan sebanyak 19 kasus pada tahun Angka perdarahan postpartum pada ibu terhitung sangat tinggi pada tahun 2020 sebanyak 63 kasus, 38 kasus pada tahun 2021, dan meningkat pada tahun 2022 yaitu sebanyak 43 kasus. Terjadinya angka kejadian perdarahan postpartum ini bisa saja terjadi karena dampak dari kebijakan karena keterbatasan akses untuk ke pelayanan kesehatan terutama akses pada pemeriksaan ibu hamil pada masa pandemi. Mengacu pada penjelasan tersebut, meninjau seberapa tinggi resiko kematian bagi ibu akibat perdarahan postpartum, maka peneliti melakukan studi ini terkait gambaran kejadian perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah pada tahun 2020-2022. METODE PENELITIAN Klasifikasi yang diimplementasikan dalam studi ini ialah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Riset ini dilaksanakan di RSU Pusat Prof. Dr. Ngoerah. Denpasar. Bali pada tanggal 13 Maret - 15 April 2024. Data yang dikumpulkan berupa data Sampel target riset ini adalah data Rekam Medis yang lengkap dari seluruh pasien rawat inap yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof Ngoerah pada rentang tahun 2020-2022 sejumlah 37 Rekam Medis. Sampel didapatkan menggunakan teknik total Data dalam penelitian ini dihimpun melalui Rekam Medis yang lengkap dari ibu bersalin yang terdiagnosa perdarahan postpartum pada periode 1 Januari 2020 - 31 Desember 2022. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HASIL PENELITIAN Melalui pengumpulan data sampel postpartum berdasarkan rekam medis di RSUP Prof Ngoerah, didapatkan hasil postpartum yang dapat dicermati pada grafik dan tabel berikut. Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun 2022 Gambaran Kasus Perdarahan Berdasarkan Tahun Gambar 1. Gambaran Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Tahun Berdasarkan Gambar 1, terlihat bahwa gambaran kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah dari tahun ke tahun yaitu terdapat 2 kasus . ,4%) pada tahun 2020, 15 kasus . ,5%) pada tahun 2021, dan 20 kasus . ,1%) pada tahun 2022. Early PPH Late PPH Gambaran Kasus PPH Berdasarkan Jenis Perdarahan Gambar 2. Gambaran Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Jenis Perdarahan Berdasarkan Gambar 2, terlihat bahwa sebagian besar penyebab kasus PPH di RSUP Prof. Dr. Ngoerah Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 terjadi pada Early PPH yaitu sebanyak 30 kasus . ,1%). Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Gambaran Kasus PPH Berdasarkan Penyebab Perdarahan Gambar 3. Gambaran Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Penyebab Perdarahan Berdasarkan Gambar 3, terlihat bahwa sebagian besar penyebab kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah diketahui karena sisa plasenta sebanyak 13 kasus . ,1%). Tidak Gambaran Kasus PPH Berdasarkan Penatalaksanaan (Tranfusi Dara. Gambar 4. Gambaran Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Penatalaksanaan Berdasarkan Gambar 4, terlihat bahwa mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Ngoerah tidak diberikan penatalaksanaan berupa transfusi darah yaitu sebanyak 20 kasus . ,15%). Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 1. Gambaran Karakteristik Kasus Perdarahan Postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun Variabel Frekuensi . Persentase (%) Karakteristik Pasien Umur <20 tahun 20-35 tahun >35 tahun Paritas Primipara (P. Multipara (P2-P. Grandemultipara (OuP. Lama Kala II Kala II normal (<2 ja. Kala II Memanjang (>2ja. Tidak Tercatat Kadar Hb Tidak Anemia (Hb > 11 g%) Anemia (Hb < 11g%) Jarak Antar Kelahiran Kelahiran Pertama < 2 Tahun > 2 Tahun Riwayat Persalinan Normal Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa mayoritas penyebab kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah jika dilihat dari karakteristik pasien ditemukan sebesar 29 kasus . ,4%) dengan usia 20-35 tahun. Ibu bersalin dengan paritas multipara (P2-P. sebanyak 26 kasus . ,3%), kemudian untuk lama kala II normal (< 2 ja. sebanyak 25 kasus . ,6%). PEMBAHASAN Perdarahan postpartum primer . arly PPH) lebih banyak dibandingkan dengan perdarahan postpartum sekunder . ate PPH) yaitu sebesar 30 kasus . ,1%). Perdarahan postpartum primer (Early PPH) merupakan perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Hasil penelitian ini didukung bahwa pada kejadian perdarahan postpartum primer berkaitan dengan penyebab perdarahan postpartum Penyebab postpartum primer mayoritas disebabkan karena adanya sisa plasenta yang masih tertinggal dalam rentang 1 hari atau dua puluh empat jam pasca bersalin (Ramadhan et al. , 2. Faktor multifaktorial, antara lain Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Berdasarkan Hb sebelum persalinan sebanyak 27 kasus . %) ibu yang mengalami anemia dengan Hb <11 g%. Dilihat dari segi riwayat jarak melahirkan sebelumnya, sebanyak 24 kasus . ,9%) ibu dengan jarak kehamilan > 2 tahun dan berdasarkan cara persalinan didapatkan sejumlah 25 kasus . ,6%) ibu melahirkan secara normal. rujukan, perdarahan yang aktif, pemberian manajemen kala i yang tidak benar, dan tenaga kesehatan yang kurang terampil dalam penanganan kasus kategori gawat darurat (Yuliani, 2. Hasil studi ini sejalan dengan penelitian di RSUP Dr. Djamil oleh Ramadhan et al . yang menyatakan bahwa jumlah kejadian postpartum primer paling banyak terjadi yaitu sebanyak 31 kasus . ,5%). Penyebab postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun 2020 - 2022 diketahui karena sisa plasenta sebanyak 13 kasus . ,1%). Sisa plasenta adalah plasenta yang meninggalkan sisa berupa fragmen plasenta dan selaput ketuban di dalam uterus Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 perdarahan aktif. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya sisa plasenta, yaitu kekeliruan manajemen di kala tiga persalinan, sebagaimana contohnya adalah manipulasi uterus yang tidak diperlukan sebelum terjadinya proses pelepasan plasenta yang menjadi penyebab adanya kontraksi uterus yang tidak ritmis, memberi uterotonik yang tidak sesuai juga dapat menjadi penyebab disfungsi kontraksi uterus (Mastiningsih, 2. Temuan ini sejalan dengan hasil studi Ramadhan et al . yang menemukan bahwa penyebab terjadinya perdarahan postpartum akibat sisa plasenta sebanyak 8 kasus . ,5%). Sebagian besar kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun 2020 - 2022 terjadi pada ibu usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 28 kasus . ,7%). Ibu dengan umur di bawah 20 tahun atau diatas 35 tahun ke atas, 2-5 kali lebih berisiko dalam mengalami kejadian Usia di bawah 20 tahun dalam hal ini fungsi reproduksi panggul dapat dikatakan belum maksimal, sementara usia di atas 35 tahun sudah mulai terjadinya kemunduran yang progresif pada endometrium, dimana hal tersebut dapat berkaitan dengan kekuatan kontraksi (Ximenes et al. , 2. Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukkan bahwa responden berusia 2035 tahun menjadi jumlah tertinggi karena usia ini merupakan masa usia produktif yang baik untuk hamil sehingga banyak ibu hamil yang melahirkan pada usia 20 sampai 35 tahun dan tidak memperhatikan jarak antara kelahiran sebelumnya dan hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi perdarahan postpartum (Kristianingsih et , 2. Tingginya angka kejadian ini dapat terjadi disebabkan oleh faktor lain penanganan kala i yang kurang benar (Harumi dan Kasiati, 2. Kendati usia 20-35 tahun sejatinya adalah usia yang dapat dikatakan aman untuk bersalin, tetapi hal ini tidak serta merta menutup probabilitas mengalami kondisi perdarahan postpartum. Temuan riset ini serupa dengan studi Nopiyanti . yang dilakukan di RSUD Pangkep. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 dimana penelitian tersebut menemukan bahwa 72,5% ibu bersalin yang mengalami perdarahan postpartum berada pada rentang usia 20-35 tahun (Nopiyanti, 2. Kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah pada tahun 2020-2022 terjadi pada ibu bersalin dengan paritas multipara (P2-P. sebanyak 26 kasus . ,3%). Persalinan berulang dapat menjadi faktor rusaknya pembuluh darah pada bagian dinding rahim dan melemahkan fungsi dan kinerja dari otototot organ reproduksi yang berdampak pada peningkatan resiko terjadinya perdarahan postpartum (Rachman et al. , 2. Riset ini selinier dengan studi yang dilakukan oleh Nopiyanti . yang mendapatkan hasil bahwa ibu yang mengalami perdarahan postpartum adalah ibu dengan multipara yaitu sebesar 37 kasus . ,5%) dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami et al . yang menemukan bahwa mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum adalah paritas multipara dimana pada tahun 2019 sejumlah 22 orang . %) dan tahun 2020 sejumlah 14 orang . %) (Utami et al. Sebagian besar kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun 2020-2022 terjadi pada ibu dengan kala II normal (< 2 ja. sebanyak 25 kasus . ,6%). Kala II dalam hal ini diawali oleh pembukaan lengkap . sampai bayi lahir, proses ini umumnya terjadi lebih dari dua jam pada primipara dan satu jam pada multipara. Suatu persalinan yang berlangsung lama dapat menjadi penyebab komplikasi, baik terhadap ibu dan bayi. Partus lama dapat terjadi akibat beberapa faktor yakni power . ekuatan his dan mengeja. , passage . kuran dan bentuk panggu. , passanger . anin besar, berat janin, kelainan letak (Destariyani, 2. Persalinan lama pada kala II, jika dalam hal ini tidak mendapatkan suatu penanganan yang tepat maka akan menjadi penyebab kelelahan yang berkepanjangan dan dehidrasi. Hal ini akan berdampak pada kontraksi uterus saat mengeluarkan plasenta, serta pada akhirnya akan menjadi penyebab pelepasan plasenta Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 tidak optimal (Asmilawati, 2. Faktor penyebab perdarahan postpartum tidak hanya terjadi pada kala II. Adapun faktorfaktor lain yang dapat mempengaruhi, antara lain pertolongan kala i yang kurang tepat, tindakan pengeluaran plasenta yang dipaksa, dan kurang hati-hati (Wardani. Kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah pada tahun 2020-2022 dialami ibu dengan anemia yaitu sebanyak 27 kasus . %). Ibu membutuhkan hemoglobin sebagai protein dan pengangkut oksigen untuk memberikan energi ke seluruh tubuh agar otot-otot uterus dapat berkontraksi dengan baik. Pada postpartum, pasien memiliki Hb yang Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kadar Hb rendah pada ibu anemia menyebabkan pasokan O2 pada uterus kemampuan uterus berkontraksi juga akan Temuan studi ini selaras dengan penelitian Sumiaty . di RSUD Undata, memiliki risiko dengan tingkat yang lebih tinggi dalam terkena kasus anemia (Sumiati et al. , 2. Penyebab postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah pada tahun 2020 - 2022 banyak terjadi pada ibu dengan jarak kehamilan > 2 tahun yaitu sebanyak 24 kasus . ,9%). Jarak melahirkan yang <2 tahun ataupun > 5 tahun dapat menyebabkan perdarahan postpartum (Rifdiani, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil bahwa jarak kehamilan > 2 tahun dan > 5 tahun postpartum dan mengalami komplikasi, yaitu preeklamsia dan demam intrapartum. Jarak kehamilan yang panjang membuat kondisi fisiologis ibu kembali seperti semula waktu pertama kali melahirkan anaknya . (Dhea et al. , 2. Faktor-faktor mempengaruhi seperti paritas pada penelitian ini banyak terjadi pada ibu bersalin dengan paritas multipara (P2-P. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 sebanyak 26 kasus (Wardani, 2. Temuan riset ini berbeda dengan penelitian Ramadhan et al . yang menemukan bahwa, mayoritas respondennya adalah ibu hamil dengan jarak kehamilan sebelumnya adalah < 2 tahun sebanyak 26 pasien . ,8%) (Ramadhan et al. , 2. Sebagian besar kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun 2020 - 2022 terjadi pada ibu pervaginam yaitu sebanyak 25 kasus . ,6%). Pada persalinan pervaginam yang disertai dengan bayi besar, akan berdampak pada adanya penekanan pada kandung kemih serta uretra ketika terjadi penurunan Hal ini dapat menjadi penyebab trauma pada bayi dan ruptur pada organ reproduksi ibu. Persalinan yang dibantu dengan vacuum atau forcep juga dapat menyebabkan ruptur spontan pada uterus dan menyebabkan laserasi yang dapat mengenai uterus, cervix, vagina, atau vulva sehingga hal tersebut dapat menyebabkan perdarahan saat persalinan (Rizky et al. Hasil penelitian ini selinier dengan riset Utami et al . yang menemukan bahwa mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum dengan cara persalinan pervaginam sebanyak 35 pasien . ,8%). Sebagian besar ibu yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tahun 2020 - 2022 tidak diberikan penatalaksanaan berupa transfusi darah yaitu sebanyak 20 kasus . ,15%). Pada penelitian ini sebagian besar ibu tidak diberikan transfusi darah dikarenakan ada beberapa kriteria pasien yang diberikan transfusi darah seperti pasien kehilangan volume darah lebih dari 10-20% sesuai dengan keadaan medis pasien tersebut serta ada / tidaknya prosedur bedah. Transfusi mengalami penurunan hingga 24% atau hemoglobin kurang dari 8 g/dl (Sirait. Beberapa pasien membutuhkan intervensi yang lebih ketika berada dalam kondisi anemia. Adapun penatalaksanaan yang diberikan selain transfusi darah, yaitu memberikan resusitasi dengan cairan kristaloid baik normal salin (NaCl 0,9%) Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 atau cairan Ringer Laktat melalui akses intravena perifer, pemberian tatalaksana konservatif non bedah sesuai indikasi medis seperti mengeluarkan sisa plasenta melalui prosedur kuretase, melakukan kompresi SIMPULAN Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan, yaitu: perdarahan postpartum primer . arly PPH) lebih banyak ditemukan kasusnya . ,1%). Mayoritas ibu mengalami perdarahan postpartum karena adanya sisa plasenta . ,1%). Mayoritas responden berusia 20-35 tahun . ,7%), ibu bersalin dengan paritas multipara (P2-P. sebanyak 26 kasus . ,3%), kemudian untuk lama kala II normal (< 2 ja. sebanyak 25 kasus . ,6%). bimanual atau kompresi aorta abdominal, dan juga melakukan pemasangan tampon uterus vagina dan kondom kateter (Simanjuntak, 2. Berdasarkan Hb sebelum persalinan sebanyak 73% ibu mengalami anemia dengan Hb <11 g%. Dilihat dari segi riwayat jarak melahirkan sebelumnya, sebanyak 64,9% ibu dengan jarak kehamilan > 2 tahun dan berdasarkan cara persalinan didapatkan sejumlah 67,6% ibu melahirkan secara normal. Berdasarkan penatalaksanaannya, mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. Ngoerah tidak diberikan penatalaksanaan berupa transfusi darah . ,15%). DAFTAR PUSTAKA