The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Risiko Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir pada Ibu Hamil dengan Preeklampsia Maretha Florencia*1. Diyan Indriyani1. Sri Wahyuni Adriani1. Asmuji1 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Jember *Penulis Korespondensi: Maretha Florencia. Email: florenciaretha128@gmail. Diterima: 7 Maret 2022 | Disetujui: 19 Juni 2. Dipublikasikan: 30 Juni 2022 Abstrak Pendahuluan: Kompleksitas preeklampsia dapat mempengaruhi ibu dan janin. Pada ibu hamil dengan preeklampsia terjadi peningkatan pergerakan sel trofoblas yang menyebabkan gangguan aliran darah melewati arteri dan mengakibatkan iskemia plasenta. Berkurangnya suplai darah ke plasenta pada ibu hamil dengan preeklampsia akan menyebabkan terganggunya aliran nutrisi, karbondioksida, dan oksigen yang menyebabkan asfiksia. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu korelasional dengan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 75 Penelitian ini dilaksanakan pada Mei 2021 dengan melakukan penelusuran dokumen rekam medis. Analisis data pada penelitian ini yaitu Spearman Rho dengan tingkat kemaknaan = 0,05. Hasil: Sebanyak 49 responden . ,3%) mengalami preeklampsia berat, dan 26 responden . ,7%) mengalami preeklampsia ringan. Sedangkan bayi yang mengalami asfiksia sebanyak 36 responden . ,0%) mengalami asfiksia sedang, 32 responden . ,7%) mengalami asfiksia ringan dan 7 responden . ,3%) mengalami asfiksia berat. Hasil dari uji spearman rho ditemukan bahwa p value = 0,0005 < 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. Nilai r 0,399 yang berarti hubungan antara preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir memiliki kekuatan korelasi yang lemah dengan arah korelasi positif yang berarti semakin berat preeklampsia, maka semakin besar risiko asfiksia. Simpulan dan Implikasi: Penelitian ini menganjurkan lebih gencarnya upaya untuk pemeriksaan antenatal care dan skrining atau deteksi dini preeklampsia untuk menghindari asfiksia. Kata Kunci: Asfiksia. Ibu Hamil. Preeklampsia Sitasi: Florencia. Indriyani. Adriani. W & Asmuji. Risiko Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir pada Ibu Hamil dengan Preeklampsia. The Indonesian Journal of Health Science. , 103109. DOI: 10. 32528/ijhs. Copyright: A2022 Florencia, et. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited. Diterbitkan Oleh: Universitas Muhammadiyah Jember ISSN (Prin. : 2087-5053 ISSN (Onlin. : 2476-9614 DOI: 10. 32528/ijhs. The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Abstract Background and Aim: The complexities of preeclampsia can affect both mother and fetus. In pregnant women with preeclampsia there is an increase in trophoblast cell movement which causes disruption of blood flow through the arteries and causes placental ischemia. Reduced blood supply to the placenta in pregnant women with preeclampsia will cause disruption of the flow of nutrients, carbon dioxide, and oxygen which causes asphyxia. Methods: The research design used in this study was correlational with a retrospective approach with a sample of 75 respondents. This research was conducted in May 2021 by searching medical record documents. Data analysis used in this study was Spearman Rho with a significance level = 0,05. Results: A total of 49 respondents . ,3%) had severe preeclampsia and 26 respondents . ,7%) had mild preeclampsia. Meanwhile, 36 respondents . ,0%) had moderate asphyxia, 32 respondents . ,7%) had mild asphyxia and 7 respondents . ,3%) had severe asphyxia. The results of the spearman rho test found that p value = 0,0005 < 0,05 which means there is a significant relationship between preeclampsia in pregnant women and the incidence of asphyxia in newborns. Discussion: This study recommends more intensive efforts for antenatal care and screening or early detection of preeclampsia to avoid asphyxia. Keywords: Asphyxia. Preeclampsia. Pregnant mother PENDAHULUAN Angka kematian ibu (AKI) umum dan pencapaian perbaikan di negara tertentu. AKI yang cukup tinggi di daerah tertentu, secara umum melambangkan tingkat kesejahteraan umum yang rendah (Sari, 2. Derajat kesehatan perempuan dapat dilihat melalui salah satu indikator yaitu status kesehatan maternal. Sedangkan penanda yang signifikan kesejahteraan ibu dapat dilihat lewat angka kematian dan kesakitan ibu (Yuniarti et al. , 2. Angka kematian ibu di Indonesia tahun 2016 sejumlah 4. 912 kematian. Pada tahun 2017, terdapat penurunan AKI menjadi 4. 167 kematian. Untuk Angka kematian bayi di Indonesia tahun 2016 sebanyak 32. 009 kematian dan mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2017 menjadi DOI: 10. 32528/ijhs. 972 kematian (Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2. Pada tahun 2017. AKI di Wilayah Jawa Timur hingga 91,92 / 000 kelahiran hidup. Pemicu kematian ibu yang paling menonjol tahun 2017 adalah penyebab yang berbeda sebesar 29,11% atau 154 orang, preeklampsia / eklampsia sebanyak 28,92% atau 153 orang, dan perdarahan sebesar 26,28% atau 139 Sementara itu, pemicu terkecil yaitu infeksi sebesar 3,59% atau sekitar 19 kasus. Pada tahun 2017 AKB berada pada angka 23,1 / 1. kelahiran hidup. AKB Jawa Timur sampai dengan tahun 2017 masih di atas target yang ditetapkan (Dinas Kesehatan Propinsi JawaTimur, 2. Pada tahun 2018, kematian ibu berjumlah menjadi 41 kematian dengan rincian 12 kematian ibu hamil, 10 kematian ibu bersalin, dan 19 kematian ibu nifas. AKI tahun 2018 yang dilaporkan di Kabupaten Jember The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 sejumlah 114/100. 000 kelahiran (Profil Kesehatan Kabupaten Jember 2018. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Putri & Respitowati, 2. jumlah kasus ibu bersalin di Rumah Sakit Kalisat tahun 2018 untuk kasus preeklampsia berada pada angka Salah satu pendorong terbesar tingginya jumlah kesakitan dan Indonesia Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Kalisat, pada tahun 2019 ditemukan angka kejadian ibu yang melahirkan dengan riwayat preeklampsia sebanyak 75 kejadian (Medis, 2. Preeklampsia keadaan kompleks terkait pembuluh darah ibu, janin dan plasenta yang jaringan mati, perubahan iskemik dan abruption, sehingga hasil perinatal dipengaruhi oleh gangguan ini (Yuniarti et al. , 2. Komplikasi preeklampsia dapat mempengaruhi ibu dan bayi. (Yuliani et al. , 2. Hipertensi membuat tidak adanya suplai darah menuju plasenta yang menyebabkan persediaan oksigen dan nutrisi untuk janin juga berkurang, intrauterine dan asfiksia neonatus (Indah & Apriliana, 2. Asfiksia neonatorum adalah kejadian saat bayi mengalami kesulitan dalam bernafas spontan dan reguler saat terlahir, yang digambarkan dengan PaO2 penurunan . , hiperkarbia (PaCO2 mengalami peningkata. dan asidosis (Indah & Apriliana, 2. Patofisiologi asfiksia neonatorum terjadi karena perubahan vaskular selama kehamilan. Pada kehamilan biasa, invasi trofoblas terjadi ke dalam lapisan arteri yang menyebabkan DOI: 10. 32528/ijhs. lapisan otot dan jaringan sekitarnya mengalami degenerasi, akibatnya arteri mengalami dilatasi dan menjadi bebas sehingga memudahkan lumen arteri untuk meregang dan melebar. Efek distensi dan dilatasi yaitu terjadi pengurangan resistensi vaskular dan terjadi kenaikan pada aliran darah di daerah uteroplasenta. Selanjutnya, aliran darah menuju plasenta menjadi berlimpah dan hal ini dapat menjaga perkembangan janin. Siklus ini disebut "remodeling arteri spinalis". Meskipun pada preeklampsia tidak ada serangan sel trofoblas pada arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya, dengan tujuan agar arteri spiralis mengalami vasokonstriksi dan terjadi kegagalan "remodeling mengakibatkan berkurangnya aliran darah uteroplasenta dan iskemia plasenta intrauterin. Apabila janin kekurangan oksigen di dalam rahim, maka akan menggerakkan organ mekonium, terlebih lagi janin akan mengalami nafas intrauterin yang menimbulkan aspirasi akan cairan ketuban dan mekonium di paru-paru yang menimbulkan bronkus terhambat dan ketika bayi lahir, alveolus tidak bekerja secara maksimal sehingga terjadi asfiksia (Indah & Apriliana. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, salah satu faktor tingginya morbiditas dan mortalitas adalah preeklampsia. Di Indonesia angka kejadian preeklampsia masih sangat tinggi. Selain itu, angka kejadian asfiksia pada bayi bayu lahir juga tinggi. Penyebab umum yang terjadi dalam banyak literatur pada bayi baru lahir dengan asfiksia yaitu preeklampsia ibu hamil. Sehingga The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional menggunakan pendekatan retrospektif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah ibu preeklampsia yang diambil melalui teknik total sampling yang berada di Rumah Sakit Kalisat selama tahun 2019 sebanyak 75 orang. Variabel independen pada penelitian ini yaitu preeklampsia ibu hamil dan variabel dependen pada penelitian ini yaitu kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. Instrumen pengumpulan data yang digunakan peneliti berupa lembar observasi yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan data yang dibutuhkan telah tertera pada dokumen rekam medis. Lembar mencakup 2 bagian yaitu bagian A berisi data umum perihal karakteristik responden yang meliputi: usia, suku, paritas, jenis persalinan, jenis kehamilan, usia persalinan, riwayat antenatal care, dan riwayat hipertensi sebelum hamil. Pengisian data umum dilakukan dengan menentukan salah satu pilihan yang telah disediakan dengan pilihan ganda. Bagian B berisi data khusus mengenai variabel . Pengisian data khusus disesuaikan dengan interpretasi yang meliputi variabel independen . reeklampsia ringan dan preeklampsia bera. dan variabel dependen . sfiksia ringan, asfiksia sedang dan asfiksia bera. yang telah ada pada data rekam medis yang kemudian diberi kode oleh DOI: 10. 32528/ijhs. Analisis data pada penelitian ini yaitu analisis univariat yang berupa data umum responden dan analisis Jenis menggunakan uji spearman dengan nilai =0,05. Penelitian ini telah mendapatkan Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember nomor 0565/KEPK/FIKES/V/2021. HASIL Gambaran responden dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Karakteristik responden . = Karakteristik Usia Suku Paritas Jenis Jenis Usia Riwayat antenatal care Riwayat Kategori Madura Multi Normal Tunggal Aterm Tidak Tidak Tabel Distribusi Preeklampsia . = . Frekuensi Preeklampsia Preeklampsia Preeklampsia Total The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Asfiksia pada bayi baru lahir . = . Variabel Kategori Asfiksia Asfiksia Asfiksia Asfiksia Total Tabel 4 Hubungan Preeklampsia Ibu Hamil Dengan Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir . = . Variabel Preeklampsia Variabel Asfiksia 0,000 Nilai 0,399 Berdasarkan menerangkan bahwa ibu melahirkan dengan riwayat preeklampsia, jumlah paling banyak pada usia produktif yaitu pada rentang usia 20 Ae 35 tahun sejumlah 44 responden . ,7%). Mayoritas ibu melahirkan dengan riwayat preeklampsia bersuku madura dengan jumlah 71 responden . ,7%). Sebagian besar ibu melahirkan dengan riwayat preeklampsia memiliki jumlah persalinan 2 Ae 5 kali yaitu sebanyak 51 responden . ,0%). Mayoritas ibu normal dengan 68 responden . ,7%). Seluruh ibu melahirkan dengan riwayat preeklampsia mengalami kehamilan tunggal yaitu sebanyak 75 responden . %). Mayoritas ibu preeklampsia mengalami persalinan pada usia cukup bulan yaitu pada 3740 minggu yaitu sebanyak 74 responden . ,7%). Mayoritas ibu preeklampsia tidak memiliki riwayat antenatal care sehingga tidak bisa DOI: 10. 32528/ijhs. mendeteksi secara dini adanya komplikasi kehamilan yaitu sebanyak 71 responden . ,7%). Mayoritas ibu hipertensi sebelum masa kehamilan yaitu sebanyak 74 responden . ,7%). Pada tabel 2 menjelaskan bahwa sebagian besar responden mengalami preeklampsia berat yaitu sebanyak 49 responden . ,3%). Tabel 3 menunjukkan bahwa ibu dengan preeklampsia melahirkan bayi asfiksia sedang dengan jumlah terbanyak yaitu 36 responden . ,0%). Berdasarkan menunjukkan bahwa p value < ( = 0,. , dengan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. Nilai r yaitu 0,399 preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir mempunyai kekuatan korelasi lemah dengan arah korelasi positif yang berarti semakin berat preeklampsia, maka semakin besar risiko asfiksia. PEMBAHASAN Preeklampsia keadaan kompleks terkait pembuluh darah ibu, janin dan plasenta yang jaringan mati, perubahan iskemik dan abruption, maka dapat dikatakan jika hasil perinatal dipengaruhi oleh gangguan ini, terutama yang berkaitan dengan penyakit serius. Penyebab lain untuk preeklampsia sebagian besar terkait dengan luka plasenta. Indikasi dasar vaskular, dan terdapat tekanan oksidatif dan obstruksi endotel, akan mempengaruhi aliran uteroplasenta dan dapat mengakibatkan keterbatasan perkembangan pada janin dengan The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 hipoksia dan asidosis yang memicu Intrauterine Fetal Death (IUFD). Pada bayi menyebabkan terjadinya asfiksia dan beberapa komplikasi lain yang berisiko pada kematian (Yuniarti et al. , 2. Asfiksia merupakan kejadian krisis pada bayi baru lahir karena kesulitan menghirup O2 dan mengeluarkan CO2 secara spontan dan reguler, sehingga kadar O2 berkurang dan CO2 bertambah yang dapat mempengaruhi kehidupan (Indah & Apriliana. Perubahan fisiologis yang hilangnya hubungan plasenta yang metabolisme, terutama suplai oksigen dan pelepasan karbon dioksida (Muliawati et al. , 2. Preeklampsia menyebabkan asfiksia neonatorum karena peningkatan pemindahan sel tropoblas menjadi meningkat yang mengakibatkan transfer darah melalui pembuluh arteri gagal hingga terjadi iskemia plasenta. Aliran darah yang mengecil yang terjadi pada ibu hamil dengan preeklampsia menyebabkan Akibatnya vasospasme dan kerusakan arteri spiral selama kehamilan dan terjadi gangguan pertukaran O2 dan CO2 ketika bayi dilahirkan sehingga terjadi asfiksia pada bayi baru lahir. Penelitian yang dilakukan oleh (Mansyarif, 2. mengatakan bahwa pada ibu hamil yang menderita preeklampsia memiliki risiko 2,06 kali melahirkan bayi asfiksia dari pada ibu yang tidak menderita preeklampsia. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Camelia, 2. yang menyebutkan bahwa hipertensi dalam kehamilan berpengaruh terhadap DOI: 10. 32528/ijhs. mengakibatkan gangguan pernafasan karena pembuluh darah perifer uteroplasenta tidak lancar. Penelitian yang dilakukan oleh (Setyawati, 2. juga mengungkapkan hal serupa bahwa 90,8% ibu preeklampsia melahirkan bayi dengan asfiksia. SIMPULAN DAN SARAN Terdapat signifikan antara preeklampsia ibu hamil dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir dengan kekuatan korelasi yang lemah dan arah korelasi positif yang berarti semakin berat preeklampsia, maka semakin besar risiko asfiksia. Diharapkan pemberian informasi seputar preeklampsia pada ibu hamil melakukan deteksi dini pada saat antenatal care dan juga meningkatkan kesadaran ibu hamil akan pentingnya antenatal care. Selain itu, perlu adanya peningkatan mutu pelayanan maternal melalui upaya promotif dan preventif. Selanjutnya, disarankan bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan menggunakan desain penelitian quasi intervensi berupa edukasi terkait pencegahan preeklampsia dengan komplikasi pada janin berupa asfiksia. Dengan desain penelitian tersebut, mengobservasi secara langsung proses kehamilan ibu dengan preeklampsia hingga melahirkan. DAFTAR PUSTAKA