SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SERTA HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS 5 SD NEGERI MANGUNSARI 01 Theresia Marisa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Kristen Satya Wacana e-mail: shantamarisa78@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan dari model pembelajaran problem based learning (PBL) agar dapat mengetahui pengaruh model pembelajaran PBL terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Penelitian dilaksanakan di SDN Mangunsari 01. Salatiga dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan teknik tes untuk mengumpulkan data yang mengukur kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dan teknik observasi untuk mengumpulkan data dari keterlaksanaan model pembelajaran PBL. Untuk memperkuat keakuratan data peneliti menjabarkan analisis data pada penelitian ini menggunakan deskriptif komparatif dan diskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dari penelitian ini adalah data tentang kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar dengan menggunakan teknik tes serta data keterlaksanaan model pembelajaran PBL melalui teknik observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang terbukti pada penelitian yang telah dilaksanakan dengan hasil sebagai berikut, tingkat nilai pra siklus 47,25, siklus I dengan nilai kemampuan berpikir kritis 85,5, dengan hasil 7 siswa kritis sekali . ,5%), 33 siswa kritis ( 82,5%), lalu meningkat lagi siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 86,5. Kata kunci: Problem Based Learninng. Kemampuan Berpikir Kritis. Hasil Belajar. Matematika. Abstract The purpose of this study is to describe the application of the problem based learning (PBL) learning model in order to know the effect of PBL learning models on increasing critical thinking skills and student learning outcomes in mathematics. The study was conducted at SDN Mangunsari 01. Salatiga using Classroom Action Research (CAR). This study uses test techniques to collect data that measures critical thinking skills and student learning outcomes and observation techniques to collect data from the implementation of PBL learning models. To strengthen the accuracy of the data the researchers describe the data analysis in this study using descriptive comparative and descriptive qualitative. Data collected from this study are data about critical thinking skills and learning outcomes using test techniques as well as data on the implementation of PBL learning models through observation techniques. The results showed that the application of the PBL model was able to improve critical thinking skills as evidenced in the research that had been carried out with the following results, the pre-cycle value level 47. 25, the first cycle with a critical thinking ability value 5, with the results of 7 very critical students ( 17. 5%), 33 critical students . 5%), then increased again to cycle II with an average value of 86. Keywords: Problem Based Learning. Critical Thinking Ability. Learning Outcomes. Mathematics. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENDAHULUAN Dirancangnya kurikulum 2013 bertujuan untuk memenuhi kebutuhan anak generasi Z yang dilandaskan pada karakter dan kompetisi dimana kurikulum ini dirancang agar siswa dapat mengkomunikasikan materi pembelajaran yang sedang dipelajari dengan melakukan observasi, bertanya-jawab dan menalar bersama. Dibuatnya kurikulum 2013 oleh pemerintah bertujuan untuk mengajak masyarakat memiliki sikap kritis, kreatif dan inovatif dalam meningkatkat kemampuan keterampilan dan pengetahuan. Standart isi kurikulum 2013 jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk mendorong peserta didik agar dapat melakukan observasi, tanya-jawab, menalar, serta komunikasi yang lebih baik terhadap materi pembelajaran yang telah mereka terima. Pada standart kompetensi kelulusan minimal kemampuan peserta didik dipertimbangkan melalui hasil belajar yang dimana mencakup pengetahuan, keterampilan serta sikap peserta didik. Au hasil belajar merupakan tingkat keberhaslan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dapat dinilai melalui pemberian skor menurut hasil tes pada sejumlah mata pelajaranAy Susanto . Hasil belajar diharapkan dapat dicapai setiap peserta didik dengan hasil yang memuaskan dengan cara memberikan stimulasi dan latihan-latihan untuk meingkatkan proses berpikir kritis peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar yang baik. Menurut Costa (Dinar, 2013:. Au berpikir kritis adalah suatu proses penggunaan kemampuan berpikir secara lebih maksimal dan kritis untuk membantu seseorang lebih tepat dalam pengambilan keputusan maupun evaluasiAy Dibutuhkanya kemampuan berpikir kritis pada anak sangat membantu anak dalam mengekplorasi diri menemukan jawaban-jawaban dari sebuah permasalahan yang sedang dihadapi, selain itu adanya kemampuan ini membuat anak lebih teliti dalam mengevaluasi suatu pernyataan tertentu secara logis. Sedangkan berpikir kritis menurut Johnson . 7 : . adalah Au sebuah proses yang melibatkan kegiatan mental yang lebih terarah dan jelas untuk pemecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, serta dalam melakukan penelitian ilmiah. Ay AuPemilihan pembelajaran matematika adalah tepat untuk melatih kemampuan anak dalam berpikir kritis. Pembelajaran matematika juga adalah salah satu disiplin ilmu pasti yang mengungkap tentang ide-ide abstrak yang berisi tentang bilangan, simbol operasi hitung yang mempunyai aktivitas seperti berhitung yang dimana aktifitas ini mampu menguatkan kemampuan berpikir siswa. Susanto . 3 : . Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SD Negeri Mangunsari 01 terdapat 19 siswa dari 40 anak yang masih mendapat nilai dibawah KKM pada hasil uji pra-siklus mata pembelajaran matematika sedangkan KKM mata pembelajaran matematika sendiri adalah 70, maka dari itu terdapat 19 siswa dengan rata-rata presentase 47,5% yang belum memiliki nilai diatas KKM dan tingkat berpikir kritis yang Beberapa faktor yang ditemukan sangat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar siswa diantaranya adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang sesuai degan kebutuhan siswa, kurang aktifnya siswa dalam berkomunikasi dua arah antara guru dan murid dalam pembelajaran, siswa asik berbicara dengan teman sebangku saat guru menjelaskan materi pembelajaran sehingga siswa kurang menerima pembelajaran dengan baik akan tetapi beberapa siswa yang belum menerima pembelajarn dengan baik masih terbantu dengan les diluar sekolah sehingga tetap mendapatkan nilai yang baik sedangkan siswa lain yang harus membantu orang tuanya bekerja atau tidak punya waktu belajar diluar jam sekolah tidak dapat terbantu dan sangat mempengaruhi penurunan nilai siswa jika siswa belum menerima pembelajaran dengan baik. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar siswa perlu ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajara yang tepat pula. Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran seperti yang diinginkan dalam kurikulum 2013. Hal tersebut yang melatar belakangi dilaksanakannya penelitian perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis siswa. Pengertian Model Problem Based Learning Penggunaan model PBL adalah langkah yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sekaligus mampu membantu meningkatkan hasil belajar siswa Menurut Nuraini dan Kristin ( 2017 : . AuPBL adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah secara kontekstual dalam pengembangan pemahaman mengenai topic yang tesedia agar siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka pada sebuah masalah, dan dapat mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah baik dalam kolaborasi kelompok maupun individualAy Pendapat lain juga dikemukakan oleh Wee dan Kek . 2 :. yaitu Ay PBL adalah suatu model pembelajaran yang dimulai dengan memberikan suatu masalah kepada siswa yang berhubungan dengan dunia nyata. Ay Pendapat lain juga turut dikemukakan bahwa Au PBL adalah model pendekatan dengan memanfaatkan permasalahan dunia nyata sebagai suatu bahan utama agar merangsang kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah siswa agar siswa mampu memahami konsep dan prinsip dari materi pelajaran. Ay Rahmadani dan Anugraheni ( 2017 : . PBL adalah model pembelajaran yang memfokuskan peserta didik pada pembelajaran yang disajikan dengan ebuah permasalahan yang disajikan diawal pembelajaran untuk memancing siswa mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih kritis agar siswa mampu melakukan penelitian maupun penyelidikan suatu permasalahan dalam sebuah pembelajaran yang dapat membantu siswa pula dalam kehidupan nyata. Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir yang lebih kritis diperlukan oleh setiap peserta didik agar dapat membantu siswa di kehidupan nyata, melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis perlu diajarkan oleh guru. selama ini pengajaran yang diterapkan hanya mengajarkan mengenai isi materi pelajaran dan mengesampingkan pelatihan kemampuan berpikir padahal kemampuan-kemampuan berpikir perlu diajarkan" ( Fisher 2009:. Dalam pembelajaran matematika anak akan lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu diri mereka sendiri dalam melengkapi informasi yang dibutuhkan. Menurut Kuhn (Suwarma, 2009:. mengatakan bahwa berpikir kritis matematika secara epistimologi berbeda dengan berpikir kritis pada aspek bidang lain. Ada 6 tingkatan berpikir menurut bloom dalam Sudjana . 8 : 2. yaitu : . Mengingat: Tipe belajar ini adalah tipe belajar yang masuk dalam kognitif tingkat paling dasar atau rendah akan tetapi hasil belajar ini adalah syarat bagi tipe hasil belajar di tingkat berikutnya dengan menghafal. Memahami: Tipe hasil belajar ini berada sati tingkat dari tipe belajar mengingat, tipe ini dibagi kedalam tiga kategori yaitu pemahaman terjemahan, pemahaman penafsiran dan pemahaman ekstrapolasi/memperluas data. Mengaplikasikan: Aplikasi merupakan abstraksi disituasi nyata dimana situasi ini akan dijadikan situasi baru bila terjadi proses pemecahan masalah berdasarkan kehidupan yang ada dimasyarakat maupun realitas dalam teks bacaan yang tersedia. Menganalis: tipe belajar ini dikelompokan menjadi tiga, yaitu analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi untuk mengajak peserta didik untuk menguraikan keadaan tertentu ke Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 dalam komponen pembentuknya 5. Mengevaluasi: Tipe belajar ini mengajak peserta didik dalam mengevaluasi suatu pernyataan atau konsep tertentu berdasarkan kriteria. Mensintesis: Tipe belajar ini mengajak peserta didik menggabungkan berbagai faktor untuk menghasilkan produk yang baru. Hasil dari tipe belajar ini dapat berupa tulisan maupun sebuah mekanisme. Pengertian Matematika Materi pembelaran berpengaruh dalah melatih kemampuan berpikir siswa seperti pembelajaran matematika menjadi salah satu pembelajaran yang dapat melatih anak dalam mengembangkan konsep belajar pula. enurut James dalam Suherman, dkk . Aumatematika terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri dimana matematika merupakan ilmu tentang logika degan mengenal konsep dari bentuk, susunan, besaran, dan konsep. Ay Matematika melatih siswa untuk memahami konsep-konsep abstrak dan pola yang ada didalamnya yang dapat membantu siswa menyelesaikan masalah sehingga dapat meningkatkan kemmapuan berpikir kritis siswa. Dalam Rahmadani dan Anugraheni ( 2017 : . Au matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat mengajak siswa dalam meningkatkan kemampuan berfikir serta beragumentasi dalam memberikan kontribusi untuk penyelesaian masalah sehingga berguna dalam kehidupan sehari-hariAy Kesimpulan dari beberapa pendapat ahli adalah bahwa matematika mampu melatih pola pikir peserta didik secara terstruktur, logos, dan terorganisir dengan mempelajari tiga raung lingkup matematika . ljabar, analisis dan geometr. Dalam Mulyasa . Aypembelajaran merupakan proses interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga menimbulkan sebuah perbedaan perilaku dengan memberikan perubahan baik terhadap peserta didik dikarenakan memberikan pengetahuan, pemahaman serta keterampilan pada siswaAy. Pembelajaran matematika di SD bertujuan untuk megajak siswa agar dapat memiliki konsep berpikir yang tersruktur dan logis untuk membantu siswa sendiri dalam pemecaha masalah yang dapat diterapkan di kehidupan nyata. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas / Classroom Action Research (CAR) dengan menggunakan model PBL untuk membantu peneliti menaggulangi permasalahan pembelajaran yang terjadi di SDN Manginsari 01. Menurut Suharsimi dalam (Asrori, 2. Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah tindakan pengamatan terhadap kegiatan belajar yang terjadi didalam kelas. Tentu saja pengamatan ini memiliki tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses sebuah pembelajaran, tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru (Asrori, 2009:. Penelitian ini merupakan salah satu penelitian yang melibatkan kemampuan dengan berkolaborasi sehingga dapat dikatakan penelitian ini adalah penelitian tindakan yang Tujuan dari tindakan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki permasalahan yang sedan terjadi di SDN Mangunsari 01 Salatiga. Model PBL merupakan salah satu model yan dimanfaatkan untuk membantu penelitian dalam menanggulangi permasalahan dikelas, permasalahan yang sedang terjadi adalah kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar yang Model ini merupakan model yang menyajikan permasalahan diawal pembelajaran yang mempunyai kaitan dengan materi pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga memancing siswa untuk bereksplorasi sehingga diharapkan melalui penggunaan model PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang berjudul Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas 5 SDN Mangunsari 01 menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dirancangkan untuk melaksanakan 2 tahapan siklus. Pada tanggal 27dan 28 Januari 2020 dilaksanakan siklus pertama yang memiliki satu kali pertemuan dan pada tanggal 17 dan 18 Februari 2020 dilaksanakan siklus kedua yang memiliki satu kali pertemuan juga. Sehingga total keseluruhan pertemuan siklus I dan silus II adalah sebanyak dua kali pertemuan. Pada Penelitian yang dilaksanakan peneliti mendapat data penelitian dengan setelah melakukan dua siklus penelitian, penelitian terdiri dari empat tahapan pelaksanaan atara lain, perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Pada penelitian siklus I menghasilkan data sebagai berikut : Tabel 4. 4 Persentase Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Siklus I Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Interval Kategori 90 Ae 100 80 Ae 89 65 Ae 79 55 Ae 64 A < 55 Jumlah Frekuensi Persentase 17,5% 82,5% Deskripsi Kritis Sekali Kritis Cukup Kritis Kurang Kritis Tidak Kritis Berikut penjelasan tabel di atas, sebelum dilaksanakan tindakan diketahui 6 siswa yang memperoleh nilai 90-100 adalah 17,5% dengan kategori kritis sekali dan yang terakhir 33 siswa yang memperoleh nilai 80-89 adalah 82,5% dengan kategori Kritis. Dari pencapaian tes kemampuan berpikir kritis siswa yang telah dipaparkan di atas, sekarang dapat kita lihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan siklus I. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat hasil belajar siswa pada tabel 4. 6 dibawah ini : Tabel 4. 6 Persentase Hasil Belajar Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Siklus I Ketuntasan Ou 62 < 62 Kriteria Tuntas Tidak tuntas Frekuensi Persentase Penjelasan Tabel 4. 6 adalah sebagai berikut, 40 siswa dengan persentase 100% mendapatkan nilai diatas KKM yang telah ditetapkan yaitu 70. Sehingga siklus satu dengan penggunaan model pembelajaran PBL untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar dapat dikatan berhasil. Pada penelitian selanjutnya dilakukan penelitian siklus II dengan hasil yang menunjukan penurunan rata-rata hasil berpikir kritis siswa namun terdapat peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dengan hasil sebagai berikut : Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Siklus II Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Interval 90 Ae 100 80 Ae 89 65 Ae 79 55 Ae 64 A < 55 Kategori Frekuensi Persentase 82,5% 2,5% Jumlah Deskripsi Kritis Sekali Kritis Cukup Kritis Kurang Kritis Tidak Kritis Berikut penjelasan tabel di atas, sebelum dilaksanakan tindakan diketahui 6 siswa yang memperoleh nilai 90-100 adalah 15% dengan kategori kritis sekali lalu 33 siswa yang memperoleh nilai 80-89 adalah 82,5% dengan kategori Kritisn dan terakhir 1 siswa yang memperoleh nilai 70-79 adalah 2,5% dengan kategori cukup kritis. Dari pencapaian tes kemampuan berpikir kritis siswa yang telah dipaparkan di atas, sekarang dapat kita lihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan siklus II. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat hasil belajar siswa pada tabel 4. 9 dibawah ini : Tabel 4. 9 Persentase Hasil Belajar Siswa Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Tahun Ajaran 2017/2018 Siklus II Ketuntasan Ou 62 < 62 Kriteria Tuntas Tidak tuntas Frekuensi Persentase Tabel 4. 6 Menunjukkan bahwa dari 40 siswa . %) siswa mendapatkan nilai sama dengan atau di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 70. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 94,5 dan nilai terenddah yang diperoleh siswa adalah 79,5. Rata-rata nilai hasil belajar pada tindakan siklus II adalah 86,5. Hasil yang didapatkan oleh oleh peneliti dari penelitian pra-siklus. Siklus I dan Siklus II dapat dibandingkan dengan hasil seperti berikut : Pra-Siklus Siklis I Siklus II Tidak Kritis Kurang KritisCukup Kritis Kritis Kritis Sekali Diagram Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Sedangkan pada hasil belajar siswa dapat dilihat pada table dibawah bahwa siswa mulai mengalami peningkatan perbaikan. Berikut table hasil belajar pra-siklus, siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 4. 13 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II Kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Ketuntasan Tuntas Tidak Tuntas Jumlah Pra siklus 47,5% 52,5% Siklus I Siklus II Menurut hasil data yang disajikan pada tabel 5. 2 Menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika materi volume bangun ruang meningkat dengan baik mulai dari siklus sebelum tindakan sampai ke siklus I dan II. Terlihat pada siklus I dan II dengan jumlah 40 siswa yang mencapai KKM sehingga mencapai persentase kelulusan 100%. Pembahasan Kondisi awal sebelum dilakuaknya penelitian kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas 5 SD Negeri Mangunsari 01 Salatiga Kecamatan menunjukkan bahwa terdapat 19 siswa memiliki kategori KK . urang Kriti. pada penilaian kemampuan berpikir kritis, hal itu menyebabkan menunrunya hasil belajar yang didapatkan oleh siswa yang sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa, maka dari itu untuk eningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning untuk membantu permasalahan yang terjadi di SD. Dengan didampingi oleh pembimbing peneliti merancang RPP yang di konsultasikan juga oleh guru kelas 5 lalu dilakukan tindakan dengan melalui dua siklus dimana setiap siklus terdapat satu pertemuan yang dilaksanakan. Untuk mendapatkan hasil Pelaksanaan dilakukan menggunakan tes . untuk megukur aspek kemampuan berpikir kritis yang telah dicapai siswa serta hasil belajar yang didapat oleh siswa. Kemudian penggunaan instrument lembar observasi guru dan siswa digunakan guna mengamati dan menilai proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dirancang, proses dokumentasi juga dilaksanakan guna mendukung bukti pelaksanaan penelitian. Penerapan tindakan siklus I dan siklus dua menunjukan peningkatan seperti yang telah dijabarkan diatas bahwa sebelum dilaksanakanya tindakan pada rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada pra-siklus mencapai 47,5 pada penelitian siklus I dengan rata-rata 85,5 dan siklus II 86,5. Hasil belajar siswapun meningkat, pada awal sebelum dilakukanya pra-siklus 19 siswa tidak tuntas KKM yang dimana KKM pembelajaran matematika adalah 70 kemudian setelah dilaksanakanya penelitian siklus I dan Siklus II tidak ada siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Selama pelaksanaan Siklus I dan Siklus II siswa mencoba menyesuaikan dan dapat mulai focus terhadap materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru, siswa mulai aktif berdiskusi untuk bersama-sama bertukar ide untuk pemecahan masalah yang diberikan oleh guru. Guru mulai lebih aktif dalam pengkontrolan keaktifan siswa sehingga dengan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning siswa lebih dominan untuk aktif dalam melakukan kegitaan dikelas. Maka dari itu penggunaan model pembelajaran ini mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa serta hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 256-263 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan didapatkan pembahasan dengan kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning dengan sintaks pemberian orientasi permasalahan diawal pembelajaran bagi siswa, membantu siswa mengorganisasi serta investigasi secara mandiri maupun dalam kelompokmampu mempresentasikan hasil pembelajaran dengan baik, mengajak mengevaluasi masalah-masalah yang timbul selama proses pembelajaran, dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada mata pelajaran matematika siswa kelas V SDN Mangunsari 01. DAFTAR PUSTAKA