Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Efektivitas Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Putri Nur Alviatussyamsiah1*. Yulidar Yanti2. Kurniaty Ulfah3 1,2,3Poltekkes Kemenkes Bandung *Email korespondensi: alviasyams@gmail. Info Artikel Dikirim: 04 September 2024 Diterima: 17 September 2024 Diterbitkan: September 2024 Kata Kunci: Booklet. Keputihan. Pendidikan Kesehatan. SDGs Keywords: Booklet. Health Education. Leucorrhoea. SdGs. Abstrak Latar Belakang: Masalah sistem reproduksi pada remaja memerlukan perhatian yang Dari seluruh wanita di dunia 75% pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali dalam seumur hidup dan sebanyak 45% akan mengalaminya 2 kali atau lebih. Indonesia sebanyak 90% remaja putri di Indonesia berpotensi mengalami keputihan karena Indonesia merupakan daerah dengan iklim tropis, sehingga bakteri, virus, dan jamur seperti Candida albicans mudah berkembang biak. Tujuan: Mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan meggunakan media booklet terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri. Metode: quasi experiment, dengan rancangan pre-post with control group. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas X di SMAN 1 Dramaga dengan sampel berjumlah 80 orang. Analisis data yang digunakan adalah Uji Wilcoxon. Hasil: booklet lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan nilai p value <0,05. Kesimpulan: Penyuluhan menggunakan media booklet lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja putri mengenai keputihan. Abstract Background: Problems of the reproductive system in teenagers require serious attention. In the world, 75% will experience vaginal discharge at least once in their lifetime, and as many as 45% will experience it two times or more. In Indonesia, as many as 90% of young women in Indonesia have the potential to experience vaginal discharge because Indonesia is an area with a tropical climate, bacteria, viruses and fungi such as Candida albicans quickly breed. Purpose: This study aimed to determine the effectiveness of health education through booklet media on knowledge, attitudes, and leucorrhoea prevention behaviour in female teenagers. Method: The research method was a quasi-experiment with a pre-post design and a control group. The population in this study were tenth-grade girls at SMAN 1 Dramaga, with a sample of 80 people. Data analysis was performed using the Wilcoxon. MannWhitney, and Chi-square tests. Results: Booklets were more effective in increasing knowledge, attitudes, and behaviours to prevent leucorrhoea in young women compared to conventional counselling with a p-value <0. Conclusion: Education using booklet media was more effective in increasing knowledge, attitudes, and behaviour of adolescent women regarding vaginal discharge. PENDAHULUAN Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi kesehatan yang berkaitan dengan sistem reproduksi yang dimiliki secara fisik, mental, sosial dan spiritual oleh Masalah sistem reproduksi pada remaja memerlukan perhatian yang serius, karena masalah tersebut paling banyak terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang dialami oleh remaja salah satunya adalah keputihan. (Aisyaroh, 2. Angka kejadian keputihan menurut WHO dalam Darma tahun 2017 menyatakan bahwa 75% dari seluruh wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali dalam seumur hidup dan sebanyak 45% di antaranya akan mengalaminya 2 kali atau lebih. (Darma et al. , 2. Di Eropa, angka kejadian keputihan hanya 25%, sedangkan untuk di Indonesia didapatkan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 sebanyak 50% wanita mengalami keputihan hal ini disebabkan Indonesia merupakan daerah tropis. Di Indonesia, sebanyak 90% keputihan karena Indonesia merupakan daerah dengan iklim tropis, sehingga bakteri, virus, dan jamur seperti Candida albicans mudah berkembang biak. (Azizah & Widiawati, 2015. Darma et al. , 2. Banyaknya kejadian keputihan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya perilaku personal hygiene genitalia yang kurang baik. (Salamah et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Abrori tahun 2017 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan vulva hygiene dengan kejadian keputihan patologis pada remaja putri SMA di Kabupaten Kayong Utara, pada kelompok yang memiliki pengetahuan vulva hygiene kurang baik kejadian keputihan patologis yang dialami sebesar 63,8% sedangkan pada kelompok yang memiliki pengetahuan vulva hygiene yang baik mengalami kejadian keputihan patologis sebesar 25%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan mengenai vulva hygiene dengan kejadian keputihan patologis dengan nilai . =0,. (Abrori et , 2. Didukung oleh penelitian Muzayyanatul tahun 2018 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara personal hygiene genitalia dengan kejadian keputihan patologis pada remaja putri di SMK Ashabul Kahfi Gunung Jati, pada kelompok yang tidak melakukan personal hygiene genitalia memiliki kejadian keputihan sebanyak 79% melakukan personal hygiene genitalia kejadian keputihan yaitu sebanyak 25%, kelompok yang tidak melakukan personal hygiene genitalia 11,8 kali lebih berisiko mengalami kejadian keputihan dibandingkan dengan kelompok yang melakukan personal hygiene genitalia (Muzayyanatul lA Midwifery & Ratih Wulan, 2. Keputihan patologis yang terjadi sangat fatal apabila lambat ditangani. Selain mengakibatkan infertilitas dan hamil ektopik . ehamilan di luar kandunga. , keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim yang merupakan pembunuh nomor satu bagi wanita dengan angka insiden kanker serviks mencapai 100 per 000 penduduk per tahun. (Marhaeni. Pradnyandari et al. , 2. Hal ini mendapatkan pengetahuan tentang cara pencegahan dan perawatan masalah kesehatan reproduksi sehingga kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan kesehatan bagi remaja putri perlu diberikan. Banyak kesehatan yang bisa dilakukan salah satunya adalah menggunakan media booklet yaitu media yang berbentuk buku yang berisi tulisan dan gambar yang di dalamnya dapat Pemberian penyuluhan kesehatan dengan booklet dapat meningkatkan pengetahuan remaja. (Iswatun et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Setiawati tahun 2022 yang menunjukkan dari 180 orang yang memiliki pengetahuan baik hanya 22 orang, setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan booklet meningkat menjadi 130 orang yang memiliki pengetahuan baik. Hal ini menunjukkan bahwa booklet efektif sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan dengan nilai p value . =0,. (Setiawati, 2. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan melalui media booklet terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri. METODE Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Metode penelitian yang digunakan adalah desain quasi experiment, dengan rancangan pretestAeposttest with control group Populasi dalam penelitian ini yaitu semua siswi kelas X di SMAN 1 Dramaga yang berjumlah 272 siswa. Penentuan sampel menggunakan perhitungan besar sampel dengan rumus analitik numerik tidak berpasangan dihasilkan sebanyak 37 orang menambahkan 3 orang pada setiap kelompok dengan pertimbangan antisipasi dropout, sehingga jumlah total 80 siswa untuk kedua kelompok. Sampel diambil dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan Adapun teknik sampling yang digunakan untuk pengambilan besar sampel adalah simple random sampling dengan melakukan randomisasi menggunakan website pengundi kelompok rakkotools di internet. Pengumpulan data dilakukan pada bulan JanuariAeMei 2023. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan lembar Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner yang terbagi menjadi tiga Bagian pengetahuan dengan jumlah soal 10 pertanyaan menggunakan skala nominal dengan jumlah skor tertinggi adalah 10 dan terendah adalah 0. Bagian kedua kuisioner sikap dengan jumlah soal 10 pertanyaan menggunakan skala likert dengan skor tertinggi 40 dan skor terendah 10. Bagian ketiga kuisioner perilaku dengan jumlah soal 10 pertanyaan skala nominal dengan skor tertinggi 1 dan terendah 0. Kuisioner yang peneliti adaptasi dan modifikasi dari beberapa penelitian sebelumnya. Kuisioner penelitian Dwi Susanti tahun 2016 mengenai pengetahuan keputihan pada kuisoner pengetahuan di nomor 1, 2, dan 10. (Susanti, 2. Kuisioner pengetahuan Reineke tahun 2016 pada nomor 3 dan 4. (Kolle, 2. Kuisioner pengetahuan Rani Purnama Sari tahun 2020 pada nomor 8,9, dan 10. (SARI, Penelitian Anugrahi Ayu tahun 2017 pada nomor 5,6, dan 7. (Anugrahi, 2. Kuisioner sikap dan perilaku disusun sendiri oleh peneliti. Semua kuisioner telah dilakukan uji validitas dan reabilitas sebelumnya oleh peneliti dengan hasil semua poin pertanyaan pada kuisioner sudah teruji valid dan reliabel. Intervensi yang diberikan adalah edukasi menggunakan media booklet AuMari Mengenal KeputihanAy. Pengumpulan data dilakukan setelah mendapatkan izin etik dari Komite Etik penelitian kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung No. 37/KEPK/EC/I/2023. Analisis yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis Pada analisis univariat peneliti responden melaui distribusi frekuensi dari karakteristik responden yaitu usia responden dan menarche. Pada analisis bivariat kedua kelompok responden diuji homogenitas pengetahuan, sikap, dan perilaku terlebih dahulu, sebelum diberikan pendidikan kesehatan artinya kedua kelompok tersebut setara dan dapat diuji serta diperbandingkan. Karena hasil uji normalitas data tidak menggunakan Uji Wilcoxon, dan untuk membandingkan peningkatan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi maupun kontrol. Lalu membandingkan selisih peningkatan pengetahuan dan sikap kedua kelompok menggunakan Uji Mann-Whitney, sedangkan menggunakan Uji Mc Nemar dan Chi-square. Pengaruh bermakna jika p<0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Tabel 1. Distribusi karekteristik responden berdasarkan usia dan menarche Interfensi Kontrol Variabel Usia 15 tahun 16 tahun Menarche 10 tahun 11 tahun 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun 16 tahun Total 100,0 40 100,0 Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada kelompok intervensi usia terbanyak yaitu usia 16 tahun dengan jumlah 29 remaja putri . ,5%), untuk kelompok kontrol usia terbanyak pada usia 16 tahun dengan jumlah 31 remaja putri . ,5%). Usia menarche pada kelompok intervensi terbanyak berada pada usia 12 tahun dengan jumlah 21 remaja putri . ,5%) dan untuk menarche kelompok kontrol paling banyak berada pada usia 13 tahun dengan jumlah 15 remaja putri . ,5%). Tabel 2. Hasil Uji Analisis Pengetahuan Remaja Putri Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Mengenai Keputihan Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Variabel Min Max Median Selisih P value Pengetahuan Median Kelompok Intervensi . entang skor 1-. Sebelum 1,196 <0,001a Sesudah 0,939 Kelompok Kontrol . entang skor 1-. Sebelum 1,300 <0,001a Sesudah 1,003 a: Uji Wilcoxon Dari Tabel 2 di atas dapat dilihat pada uji statistik kelompok intervensi memiliki nilai p value p < 0,001. Pada uji statistik kelompok kontrol memiliki nilai p value <0,001. Artinya terdapat perbedaan pengetahuan pencegahan keputihan pada remaja putri sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pencegahan keputihan menggunakan media booklet dan penyuluhan Tabel 3. Hasil uji analisis perbedaan pengetahuan mengenai keputihan pada remaja putri pada kelompok intervensi dan kelompok control . Variabel Kelompok Kelompok kontrol p-value Peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah 3 . <0,001b b : Uji Mann-Whitney Pada Tabel 3 di atas berdasarkan hasil uji statistik Mann-Whitney pada selisih peningkatan pengetahuan kedua kelompok memiliki nilai p value <0,001 atau p<0,05. Artinya terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan pencegahan keputihan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Tabel 4. Hasil Uji Analisis Sikap Remaja Putri Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Mengenai Keputihan pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Control (N=. Variabel Min Max Median Selisih P value Sikap Median Kelompok Intervensi . entang skor 10-. Sebelum 1,838 <0,001a Sesudah 2,037 Kelompok Kontrol . entang skor 10-. Sebelum 1,728 <0,001a Sesudah 3,113 a : uji wilcoxon Dari tabel 4 di atas di atas dapat dilihat pada uji statistik kelompok intervensi memiliki nilai p value <0,001 atau p<0,05. Pada uji statistik kelompok kontrol memiliki nilai p value <0,001 atau p<0,05. Artinya, terdapat perbedaan sikap pencegahan keputihan pada remaja putri sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pencegahan keputihan menggunakan media booklet dan penyuluhan konvensional. Tabel 5. Hasil Uji Analisis Perbedaan Sikap Mengenai Keputihan pada Remaja Putri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Control . Variabel Kelompok Kelompok p-value Peningkatan sikap sebelum dan 13 . <0,001b sesudah intervensi b : Uji Mann-Whitney Pada tabel 5 di atas dilakukan berdasarkan hasil uji statistik Mann-Whitney pada selisih peningkatan sikap kedua kelompok menunjukkan nilai p value p<0,001. Artinya terdapat perbedaan peningkatan sikap pencegahan keputihan pada kelompok intervensi dan kelompok Tabel 6. Hasil Uji Analisis Perilaku Pencegahan Keputihan Remaja Putri Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Mengenai Keputihan pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Control . Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol . P-Value P-Value Pengetahuan Pretest Posttest Pretest Posttest Kurang Baik <0,001c <0,001c Baik Total c: Uji Mc Nemar Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pada tabel 6 diatas berdasarkan hasil uji statistik Mc Nemar pada perilaku sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan kelompok intervensi memiliki nilai p value p < 0,001 dan perilaku pencegahan keputihan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan pada kelompok kontrol memiliki nilai p value p < 0,001. Artinya terdapat perbedaan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan menggunakan media booklet dan penyuluhan konvensional. Tabel 7 Hasil Uji Analisis Perbedaan Perilaku Pencegahan Keputihan pada Remaja Putri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Control . Perilaku Kelompok Baik Kurang baik Total P-value Intervensi . Kontrol 0,012d . Total d: Uji Chi-square Berdasarkan tabel 7 pada hasil uji statistik yang telah dilakukan dengan menggunakan uji chi-square maka diperoleh nilai p value p<0,001. Artinya, terdapat perbedaan peningkatan perilaku pencegahan keputihan pada kelompok intervensi dan kelompok control Hasil analisis statistik pengetahuan responden menunjukkan bahwa terdapat pengetahuan pencegahan keputihan sebelum kesehatan pada kelompok intervensi menggunakan media booklet dengan nilai pvalue p<0,05. Pada kelompok kontrol juga memiliki nilai p value p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pencegahan keputihan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Artinya menggunakan media booklet ataupun penyuluhan konvensional dua duanya dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan keputihan pada remaja putri. Hasil penelitian sebelumnya juga menganalisis hal yang sama bahwa terjadi peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan pendidikan kesehatan seperti pada penelitian Permadi tahun 2021 yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada media booklet terhadap peningkatan pengetahuan siswa dibuktikan dengan nilai p<0,05. (Permadi et al. , 2. Didukung oleh penelitian Mayasari tahun 2016 yang menyatakan bahwa bahwa media pengetahuan dengan nilai p<0,05. (Mayasari & Wahyono, 2. Didukung juga oleh penelitian Putri tahun 2020 mengenai booklet didapatkan hasil bahwa adanya peningkatan yang bermakna antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi melalui media booklet pada siswi dengan hasil nilai p<0,05. (Kartika et al. , 2. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pada hasil penelitian ini 97,5% pengetahuan setelah diberikan pendidikan Hal ini dibuktikan oleh Notoatmodjo tahun 2012 bahwa salah satu alasan pokok seorang berperilaku kesehatan karena adanya pemikiran dan perasaan, yang meliputi pengetahuan. (Notoatmodjo, 2. Menurut Sari tahun 2013 menyarankan melakukan perubahan perilaku melalui pendidikan kesehatan sehingga diharapkan pengetahuan masyarakat menjadi meningkat. Dengan demikian maka akan menimbulkan kesadaran yang pada akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. (Sari, 2. Menurut Notoatmodjo tahun 2014 pendidikan kesehatan merupakan bagian dari menitikberatkan pada upaya meningkatkan perilaku yang tidak sehat menjadi perilaku (Notoadtmodjo. Analisis penelitian ini menunjukkan terjadinya keputihan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan, pada kelompok intervensi menggunakan booklet terjadi peningkatan yang signifikan, begitu juga peningkatan yang signifikan juga. Namun setelah dibandingkan secara statistik pada kedua kelompok ternyata booklet lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan mengenai keputihan dibandingkan dengan kelompok kontrol menggunakan metode konvensional Berdasarkan didapatkan bahwa median skor sikap pencegahan keputihan pada responden kelompok intervensi sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 25 dan median setelah diberikan pendidikan kesehatan adalah 38 dengan demikian selisih median skor sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah 13. Lalu, pada kelompok kontrol didapatkan hasil median sikap sebelumnya adalah 25 dan median sikap setelah diberikan pendidikan kesehatan adalah 35, begitu juga dengan median peningkatannya yaitu 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sikap sebelum dan pendidikan kesehatan kelompok intervensi maupun kelompok Artinya pendidikan kesehatan baik menggunakan media booklet ataupun penyuluhan konvensional dua duanya dapat meningkatkan sikap pencegahan keputihan pada remaja putri. Hal ini sejalan dengan penelitian Dayaningsih tahun 2022 yang mengatakan bahwa terdapat peningkatan sikap responden sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan yaitu sebanyak 40,83 % dengan p value 0,000 . <0,. (Diana Dayaningsih, 2. Sejalan dengan penelitian booklet lebih efektif dan dapat memberi pengaruh pada peningkatan Hal ini menunjukkan pendidikan kesehatan dapat meningkatkan sikap remaja putri mengenai keputihan. Pada penelitian Ersila tahun 2021 pengaruh media booklet terhadap sikap diperoleh nilai p<0,001 (<0,. sehingga terdapat perbedaan yang siginifikan sikap sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan menggunakan media (Ersila, 2. Faktor pembentukan sikap antara lain pengetahuan, pengalaman pribadi, emosional, pendidikan, orang lain yang dianggap penting. Penelitian Irawati tahun 2019 mengatakan bahwa dari pendidikan kesehatan, responden kemudian mencerna dan memahami informasi yang Sehingga perubahan sikap ini menjadikan responden lebih peduli dengan kesehatan reproduksinya. (Irawati et al. , 2. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Berdasarkan hasil analisis uji statistik perilaku pencegahan keputihan didapatkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan perilaku kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak memiliki perbedaan, dapat dikatakan sama atau homogen dibuktikan dengan hasil uji statistik perilaku sebelum pendidikan kesehatan dengan nilai p=0,644 . >0,. Setelah diberikan pendidikan kesehatan terdapat pengaruh terhadap jumlah responden yang melakukan perilaku pencegahan keputihan pada dua kelompok dilihat dari jumlah frekuensi, dikuatkan dengan hasil uji statistik menggunakan chisquare dengan nilai p=0,012 . <0,. dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan pendidikan kesehatan terhadap perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri. Hal ini sejalan dengan penelitian Yulfitria tahun 2022 yang menemukan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan perilaku remaja dalam mencegah keputihan patologis dibuktikan dengan nilai p=0,000 . <0,. (Yulfitria et , 2. Didukung juga oleh penelitian Cholida tahun 2022 bahwa pendidikan kesehatan dalam pencegahan keputihan pada remaja putri dibuktikan dengan nilai p=0,001 . <0,. (Cholida & Isnaeni, 2. Dasar dari perilaku yang positif dari responden dalam mencegah keputihan adalah pengetahuan mereka tentang kondisi Jika seorang remaja memiliki pemahaman yang baik tentang keputihan, termasuk tanda-tanda, penyebab, dan cara mengobatinya, maka mereka akan bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka. Karena berbahaya, jika mereka mengalami gejala keputihan, mereka akan menjadi lebih berhati-hati. Potensi untuk mencegah keputihan juga dapat dilakukan jika remaja memiliki pengetahuan yang memadai. Perilaku kebersihan area genital, mengganti celana dalam 2-3 kali sehari, akan muncul secara alami jika remaja memiliki pengetahuan yang cukup tentang keputihan. (Kartika et al. Pengetahuan terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan, akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan perilaku yang tidak berdasarkan pada Setiap orang memiliki dorongan untuk mengetahui, memahami, pengetahuan yang beragam, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian pendidikan harus dilakukan dengan metode dan media yang menarik perhatian responden agar pendidikan kesehatan dapat diterima oleh banyak orang. Pengukuran perilaku pencegahan keputihan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan memiliki jeda selama tujuh hari. Tujuh hari setelah diberikan pendidikan kesehatan telah terjadi tahapan menanamkan pengetahuan untuk memengaruhi pola pikir dan internalisasi untuk menjadikan suatu perilaku yang telah diketahui sebagai pola sikap atau kebiasaan (Notoadtmodjo, 2. Pada hasil analisis uji statistik Mann-Whitney pengetahuan mengenai keputihan pada dua kelompok, selisih pengetahuan kelompok intervensi adalah 3 dan kelompok kontrol adalah 2 secara nilai, lalu secara hasil uji statistik didapatkan hasil p-value <0,001 . <0,. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua perlakuan tersebut dapat keputihan, namun booklet lebih efektif meningkatkan pengetahuan dibandingkan dengan metode penyuluhan konvensional. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hal ini sejalan dengan penelitian Subdari tahun 2020 yang menemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian informasi kesehatan menggunakan media booklet dan metode ceramah tanya jawab dibandingkan hanya dengan metode ceramah tanya jawab dibuktikan dengan nilai p-value <0,001 . <0,. (Subdari et al. , 2. Didukung oleh penelitian Fitriani dan Sodikin 2020 menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan atara hasil pretest dan postest kelompok booklet dan kelompok Media booklet hasilnya lebih baik daripada diberi perlakuan dengan media (Fitriyani & Sodikin, 2. Pada hasil analisis uji statistik Mann-Whitney pengetahuan mengenai keputihan pada dua kelompok, selisih pengetahuan kelompok intervensi adalah 13 dan kelompok kontrol adalah 13 setara secara nilai, namun secara hasil uji statistik didapatkan hasil p-value 0,000 . <0,. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua perlakuan tersebut dapat meningkatkan sikap mengenai keputihan, namun booklet lebih efektif meningkatkan sikap dibandingkan dengan metode penyuluhan konvensional. Hal ini sejalan dengan penelitian Apriani tahun 2013 tahun yang menemukan bahwa ada perbedaan pengaruh pendidikan dibandingkan dengan booklet terhadap sikap dengan mengontrol tingkat pendidikan formal serta sikap sebelum perlakuan dengan nilai p-value 0,000 . <0,. (Apriani, 2. Didukung oleh penelitian Muslih tahun 2020 yang menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dengan booklet memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan sikap dibandingkan dengan (Muslih et al. , 2. Berdasarkan hasil analisis data secara statistik dengan menggunakan uji chi-square maka diperoleh nilai p=0,012 < 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 40 responden yang kelompok intervensi, sebesar 95% . dan 40 responden kelompok kontrol sebesar 75% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian pendidikan kesehatan dengan pencegahan keputihan pada remaja putri. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hal tersebut sejalan dengan penelitian Rani Purnama Sari tahun 2022 bahwa terdapat pengaruh pendidikan pencegahan keputihan patologis pada remaja putri dengan nilai uji statistik p<0,05. (SARI, Penelitian serupa yang dilakukan oleh Khandi tahun 2015 menemukan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tindakan dalam pencegahan keputihan patologis pada remaja putri dengan p value <0,05. (Khandi, 2. Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa ada pengaruh penyuluhan melalui media booklet terhadap perilaku dengan nilai p value <0,05. (Latifiani, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri, sehingga booklet efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja Rekomendasi selanjutnya untuk membuat inovasi baru terkait media edukasi terhadap remaja putri. Bagi pihak sekolah agar menerapkan program kesehatan menggunakan media booklet bagi remaja mengenai kebersihan genitalia khususnya pencegahan keputihan patologis Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 untuk membantu para siswi memperoleh informasi yang benar dan tepat. Bagi remaja purti diharapkan dapat memanfaatkan informasi pada booklet untuk menerapkan tindakan yang benar lam pencegahan keputihan agar tidak mengalami kejadian keputihan patologis. DAFTAR PUSTAKA