Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Keterlibatan Ayah Dan Implikasinya Terhadap Pola Asuh Anak Usia Dini Di KB Auladul Ihsan Titik Nurhidayati1. Itsnaini Muslimati Alwi2 *titiknurhidayati@gmail. com1, itsnaini. alwi@gmail. * Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan. Indonesia ABSTRAK Keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini masih relatif rendah dan cenderung dipengaruhi oleh konstruksi budaya serta tuntutan pekerjaan, sehingga berdampak pada kurang optimalnya perkembangan sosial-emosional Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, intensitas, dan kualitas keterlibatan ayah serta implikasinya terhadap pola asuh anak usia dini di KB Auladul Ihsan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield stud. Subjek penelitian meliputi ayah, ibu, dan guru yang dipilih secara Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah mencakup keterlibatan langsung, emosional, dan pengambilan keputusan, namun masih bersifat situasional dan belum optimal. Keterlibatan emosional yang tinggi terbukti meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan sosial anak, sedangkan rendahnya keterlibatan ayah berdampak pada perilaku pasif dan kurang percaya diri. Selain itu, kualitas interaksi yang hangat dan responsif lebih berpengaruh dibandingkan frekuensi kehadiran. Keterlibatan ayah juga dipengaruhi oleh faktor internal berupa kesadaran peran, serta faktor eksternal seperti pekerjaan dan budaya. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki peran strategis dalam membentuk pola asuh yang berkualitas serta mendukung perkembangan sosial-emosional anak. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas keterlibatan ayah melalui interaksi yang bermakna, serta perlunya program parenting yang melibatkan ayah secara aktif di lembaga pendidikan anak usia dini dan dukungan kebijakan untuk memperkuat peran ayah dalam Kata Kunci: Keterlibatan Ayah. Pola Asuh. Anak Usia Dini. Perkembangan Sosial Emosional ABSTRACT Father involvement in early childhood parenting remains relatively low and is often influenced by cultural constructions and work demands, which in turn affect the optimal social-emotional development of children. This study aims to analyze the forms, intensity, and quality of father involvement and its implications for parenting patterns in early childhood at KB Auladul Ihsan. This research employed a qualitative approach with a case study The research subjects consisted of fathers, mothers, and teachers selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that father involvement includes direct involvement, emotional involvement, and participation in decision-making. however, it remains situational and not yet optimal. High emotional involvement significantly enhances childrenAos self-confidence, independence, and social skills, while low father involvement tends to result in passive behavior and lower self-confidence. Furthermore, the quality of interactionAicharacterized by warmth and responsivenessAihas a greater impact than the frequency of presence. Father involvement is influenced by internal factors, such as awareness of parental roles, and external factors, including occupational demands and cultural norms. In conclusion, father involvement plays a strategic role in shaping quality parenting and supporting childrenAos social-emotional development. The implications of this study highlight the importance of enhancing the quality of father involvement through meaningful interactions, as well as the need for parenting programs that actively engage fathers in early childhood education settings and supportive policies to strengthen fathersAo roles in parenting. Keywords: Father Involvement. Parenting Patterns. Early Childhood. Social Emotional Development 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Pada masa pertumbuhan, orang tua menjadi teladan utama bagi anak. Anak-anak cenderung meniru segala hal yang mereka lihat dari perilaku ayah dan ibu dalam keseharian. Peran kedua orang tua sangatlah penting bagi perkembangan mereka. Bukan hanya ibu, kehadiran dan keterlibatan ayah juga memiliki peran besar dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini sangat dibutuhkan (Arianti et , 2025. Hardiningrum et al. , 2. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini merupakan isu yang semakin mendapat perhatian dalam kajian pendidikan dan perkembangan anak, baik di tingkat global maupun nasional. Peran ayah tidak lagi dipandang sebatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur penting dalam pembentukan karakter, emosi, dan sosial Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini masih tergolong rendah, terutama di lingkungan masyarakat yang masih memegang pola asuh tradisional. Berdasarkan studi terkini, jika ayah tidak terlibat dalam pola asuh anak, maka anak berisiko mengalami hambatan dalam perkembangan emosi, seperti kurang mampu mengendalikan perasaan dan mudah mengalami masalah perilaku (Retnowati & Alwi, 2. Selain itu, kemampuan pengaturan diri anak juga tidak berkembang secara optimal, yang berdampak pada aspek sosial dan kognitif. Kurangnya perhatian dan waktu dari ayah dapat membuat anak merasa kurang diperhatikan, sehingga memengaruhi rasa percaya diri dan kebahagiaannya (Mashudi & Nazilah, 2024. Mil & Natasha, 2. Hal ini menjadi semakin relevan untuk dikaji pada lembaga pendidikan anak usia dini seperti Kelompok Bermain (KB), termasuk di KB Auladul Ihsan. Peneliti berpendapat bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini merupakan hal yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan. Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal yang dianalisis, ketidakhadiran ayah dalam merawat dan mengasuh anak dapat menyebabkan tekanan psikologis yang berdampak pada perkembangan sosial-emosional anak (Fasya & Alwi, 2025. Lestari & Alam, 2. Sebaliknya, anak yang mendapatkan keterlibatan ayah secara aktif cenderung memiliki kepribadian yang positif, seperti percaya diri, mampu bersaing, dan berani mengambil risiko. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki hubungan positif dengan kemampuan penyesuaian diri anak. Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan, maka semakin baik kemampuan anak dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya (Nurhani & Putri, 2. Hal ini menunjukkan bahwa peran ayah tidak hanya berpengaruh pada aspek emosional, tetapi juga pada kemampuan sosial anak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peneliti menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dalam membentuk perkembangan emosi, perilaku, dan kemampuan sosial anak secara optimal. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji pentingnya pola asuh orang tua dalam perkembangan anak usia dini. Penelitian oleh (Dhiu et al. , 2. menunjukkan bahwa pola pengasuhan orang tua masih belum optimal, di mana terdapat paradigma bahwa ibu bertanggung 2 Ae JOECES jawab penuh dalam mengasuh anak, sedangkan ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah. Kondisi ini menyebabkan tidak adanya keseimbangan peran dalam keluarga, sehingga berdampak pada kurang optimalnya pembentukan karakter anak. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan bahwa banyak orang tua menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada lembaga pendidikan, sehingga peran keluarga sebagai lingkungan utama menjadi minim. Sejalan dengan itu, penelitian sebelumnya yang telah dibahas juga menunjukkan bahwa kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat menimbulkan tekanan psikologis serta berdampak pada perkembangan sosial-emosional anak. Anak yang tidak mendapatkan peran ayah secara optimal cenderung memiliki masalah dalam pengendalian emosi, kepercayaan diri, dan perilaku sosial (Lestari & Alam, 2. Selain itu, keterlibatan ayah juga terbukti memiliki hubungan positif terhadap kemampuan penyesuaian diri anak, sehingga peran ayah sangat penting dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh (Nurhani & Putri, 2. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih bersifat umum dalam membahas pola asuh orang tua dan belum secara spesifik mengkaji bagaimana keterlibatan ayah memengaruhi pola asuh anak usia dini dalam konteks lembaga pendidikan tertentu. Selain itu, belum banyak penelitian yang mengkaji fenomena keterlibatan ayah secara langsung pada lingkungan lokal seperti di Kelompok Bermain (KB). Oleh karena itu, terdapat kesenjangan penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut, yaitu mengenai peran keterlibatan ayah terhadap pola asuh anak usia dini secara lebih spesifik, kontekstual, dan mendalam. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan memfokuskan pada keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini secara kontekstual di KB Auladul Ihsan, yang belum banyak dikaji Studi ini juga mengintegrasikan teori keterikatan . ttachment theor. (Wayan et al. dan teori peran orang tua . arental involvement theor. sebagai landasan analisis untuk memahami bagaimana interaksi ayah dengan anak memengaruhi pola asuh yang diterapkan (Hidayatulloh & Fauziyah, 2. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam memperkaya kajian tentang peran ayah, khususnya dalam konteks pendidikan anak usia dini di tingkat lokal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran keterlibatan ayah terhadap pola asuh anak usia dini di KB Auladul Ihsan. Secara khusus, penelitian ini berfokus pada bentuk keterlibatan ayah, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta implikasinya terhadap pola asuh yang diterapkan kepada anak. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif serta menjadi dasar dalam upaya meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan anak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield stud. untuk memahami secara mendalam fenomena keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini serta implikasinya dalam konteks nyata di KB Auladul Ihsan. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali makna, pengalaman, serta dinamika interaksi sosial yang terjadi secara alamiah di lingkungan penelitian, sehingga menghasilkan pemahaman yang holistik dan 3 Ae JOECES kontekstual (Creswell, 2. Adapun desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus, di mana peneliti memusatkan perhatian pada satu kasus spesifik, yaitu keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini di KB Auladul Ihsan, untuk dikaji secara mendalam dan komprehensif (Yin, 2. Subjek penelitian terdiri dari ayah yang memiliki anak usia dini di KB Auladul Ihsan sebagai informan utama, serta ibu dan guru sebagai informan pendukung yang memberikan perspektif tambahan terkait pola asuh dan perkembangan anak. Penentuan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, seperti tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sehingga data yang diperoleh dapat menggambarkan variasi fenomena yang diteliti (Sugiyono, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung interaksi antara ayah, anak, dan lingkungan pendidikan. Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman, persepsi, serta bentuk keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data melalui berbagai arsip, catatan kegiatan, dan bukti visual yang relevan dengan penelitian (Moleong, 2. Penggunaan berbagai teknik ini bertujuan untuk memperoleh data yang komprehensif dan saling melengkapi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian, kemudian data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis, dan selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan yang bersifat sementara maupun final berdasarkan temuan di lapangan (Miles et al. , 2. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik, yaitu dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai informan . yah, ibu, dan gur. serta melalui berbagai metode pengumpulan data . bservasi, wawancara, dan dokumentas. Selain itu, dilakukan pula member check dengan cara mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan guna memastikan keakuratan data yang diperoleh. Peneliti juga menerapkan ketekunan pengamatan dan diskusi dengan sejawat sebagai upaya meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap hasil penelitian (Denzin & Lincoln, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterlibatan Ayah pada Anak Usia Dini dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Hasil penelitian di KB Auladul Ihsan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini memiliki variasi dalam bentuk, intensitas, dan kualitas interaksi, yang secara langsung memengaruhi pola asuh serta perkembangan sosial-emosional anak. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan ibu dan guru, keterlibatan ayah dapat dikategorikan ke dalam keterlibatan langsung, emosional, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Namun, secara umum keterlibatan tersebut masih belum optimal dan cenderung bersifat situasional. 4 Ae JOECES Gambar 1. Keterlibatan Ayah dalam mendampingi anak di sekolah Gambar 1 menunjukkan bentuk keterlibatan ayah dalam mendampingi anak usia dini pada kegiatan sekolah. Kehadiran ayah dalam situasi ini mencerminkan keterlibatan langsung dalam mendukung kegiatan sekolah serta memberikan rasa aman dan dukungan emosional kepada Selain itu, interaksi yang terjalin antara ayah, anak, dan guru menggambarkan adanya kerja sama antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendukung perkembangan anak usia dini. Keterlibatan ayah seperti ini penting karena dapat memperkuat hubungan emosional dengan anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, serta menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga melibatkan peran aktif ayah. Pada aspek keterlibatan langsung, sebagian ayah terlibat dalam aktivitas pengasuhan seperti mengantar anak ke sekolah dan bermain bersama, meskipun frekuensinya masih terbatas. Salah satu ibu menyampaikan bahwa Aukalau pagi kadang ayahnya yang antar ke sekolah, tapi lebih sering saya, karena ayahnya kerja. Kalau bermain sama anak biasanya pas libur sajaAy (Wawancara Ibu . Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah masih bergantung pada ketersediaan waktu. Guru juga mengonfirmasi bahwa keterlibatan ayah belum merata, sebagaimana diungkapkan bahwa Aumemang ada beberapa ayah yang terlihat aktif, misalnya ikut mengantar anak atau hadir saat kegiatan sekolah, tapi sebagian besar masih didominasi ibuAy (Wawancara Guru . Temuan ini menegaskan bahwa peran ayah dalam pengasuhan sehari-hari masih belum terintegrasi secara konsisten. Dalam aspek keterlibatan emosional, ditemukan bahwa ayah yang aktif berinteraksi dengan anak cenderung membangun kedekatan yang lebih kuat. Salah satu ibu menyatakan bahwa Aukalau ayahnya sering ngobrol sama anak, anaknya jadi lebih berani cerita dan tidak takut, lebih dekat juga kelihatannyaAy (Wawancara Ibu . Guru juga mengamati bahwa anak-anak dengan keterlibatan ayah yang baik menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi, sebagaimana diungkapkan bahwa Auanak-anak yang sering didampingi ayah biasanya lebih 5 Ae JOECES percaya diri dan aktif di kelas, berani tampil dan berinteraksi dengan teman-temannyaAy (Wawancara Guru . Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan keterlibatan ayah cenderung lebih pasif, seperti disampaikan oleh guru bahwa Auada juga anak yang jarang sekali terlihat dengan ayahnya, biasanya anaknya lebih pendiam dan kurang beraniAy (Wawancara Guru . Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan emosional ayah memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan kepercayaan diri dan kemampuan sosial anak. Sementara itu, dalam aspek pengambilan keputusan, ayah umumnya terlibat dalam hal-hal yang bersifat strategis, seperti pemilihan sekolah, namun pengasuhan sehari-hari masih didominasi oleh ibu. Hal ini terlihat dari pernyataan ibu bahwa Aukalau untuk sekolah anak, biasanya kami diskusikan bersama, tapi kalau kegiatan sehari-hari lebih banyak saya yang mengurusAy (Wawancara Ibu . Kondisi ini mencerminkan bahwa pola asuh yang diterapkan masih dipengaruhi oleh budaya tradisional yang menempatkan ibu sebagai pengasuh utama. Dari segi intensitas dan kualitas keterlibatan, ditemukan bahwa kualitas interaksi memiliki peran yang lebih penting dibandingkan frekuensi kehadiran. Ayah yang mampu meluangkan waktu untuk berinteraksi secara hangat dan komunikatif memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu ibu. Auayahnya kalau pulang kerja masih sempat main sama anak, tanya kegiatan di sekolah, jadi anaknya senang dan dekatAy (Wawancara Ibu . Namun, terdapat pula kondisi di mana keterlibatan ayah rendah karena kelelahan setelah bekerja, seperti diungkapkan bahwa Aukadang ayahnya capek pulang kerja, jadi jarang berinteraksi langsung sama anakAy (Wawancara Ibu . Guru menegaskan bahwa Aubukan hanya seringnya bertemu, tapi bagaimana ayah itu berinteraksi. Anak yang diajak komunikasi dengan baik biasanya lebih berkembangAy (Wawancara Guru . Hal ini menunjukkan bahwa kualitas interaksi menjadi faktor kunci dalam keterlibatan ayah. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan ayah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kesadaran ayah akan pentingnya peran dalam pengasuhan, sedangkan faktor eksternal meliputi tuntutan pekerjaan dan budaya masyarakat. Sebagian besar ibu menyatakan bahwa keterbatasan waktu menjadi kendala utama, seperti diungkapkan bahwa Auayahnya kerja dari pagi sampai sore, jadi waktunya terbatas untuk anakAy (Wawancara Ibu . Selain itu, faktor budaya juga berperan, di mana Audi lingkungan sini memang kebanyakan yang mengasuh anak itu ibu, ayah lebih fokus bekerjaAy (Wawancara Ibu . Guru juga menguatkan bahwa Aumasih banyak yang berpikir bahwa pengasuhan itu tanggung jawab ibu, sehingga ayah kurang terlibatAy (Wawancara Guru . Meskipun demikian, terdapat kecenderungan positif di mana beberapa ayah mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya keterlibatan, sebagaimana diungkapkan bahwa Ausekarang mulai ada ayah yang aktif, mungkin karena sudah paham pentingnya peran merekaAy (Wawancara Guru . Implikasi keterlibatan ayah terhadap pola asuh menunjukkan bahwa ayah yang terlibat aktif cenderung membentuk pola asuh yang demokratis, yang ditandai dengan komunikasi dua arah, pemberian perhatian, dan dukungan emosional. Salah satu ibu menyatakan bahwa Aukalau ayahnya ikut terlibat, anak jadi lebih disiplin tapi tetap dekat, kami juga lebih sering komunikasi dengan anakAy (Wawancara Ibu . Guru juga mengamati bahwa Auanak yang mendapatkan 6 Ae JOECES perhatian dari kedua orang tua, terutama ayah, biasanya lebih mandiri, percaya diri, dan mudah bergaulAy (Wawancara Guru . Sebaliknya, rendahnya keterlibatan ayah berdampak pada pola asuh yang kurang optimal, sebagaimana diungkapkan bahwa Aukalau ayah kurang terlibat, kadang anak jadi kurang terarah atau sulit diaturAy (Wawancara Guru . Adapun temuan tersebut sebagaimana pada tabel berikut: Tabel 1. Keterlibatan Ayah di KB Auladul Ihsan Aspek Utama Sub Aspek Keterlibatan Langsung Bentuk Keterlibatan Ayah Keterlibatan Emosional Pengambilan Keputusan Dampak pada Anak Intensitas Keterlibatan Kualitas Interaksi Faktor Penghambat Faktor Pendukung Sosial-Emosional Positif Sosial-Emosional Negatif Tinggi Rendah Temuan Lapangan Interpretasi Ayah terlibat dalam mengantar dan bermain, tetapi tidak konsisten Ayah yang aktif berinteraksi membangun kedekatan dengan Ayah terlibat dalam keputusan penting, tetapi tidak dalam Keterlibatan masih situasional dan bergantung waktu Meningkatkan kelekatan emosional dan kepercayaan Anak lebih percaya diri dan aktif Anak pasif dan kurang percaya diri Ayah meluangkan waktu meski Ayah jarang berinteraksi karena Tinggi Interaksi hangat dan komunikatif Pekerjaan Waktu ayah terbatas karena bekerja Budaya Ibu sebagai pengasuh utama Kesadaran Ayah Mulai ada ayah yang aktif Peran ayah masih parsial Keterlibatan ayah mendukung perkembangan optimal Minim keterlibatan berdampak Kehadiran berkualitas memberi dampak positif Intensitas rendah menghambat Kualitas lebih penting daripada kuantitas Hambatan utama keterlibatan Pola tradisional membatasi peran ayah Ada perubahan paradigma Tabel di atas menunjukkan keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini di KB Auladul Ihsan menunjukkan variasi dalam bentuk, intensitas, dan kualitas keterlibatan. Keterlibatan ayah terlihat dalam aktivitas langsung seperti mengantar dan bermain bersama anak, keterlibatan emosional melalui komunikasi dan kedekatan dengan anak, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan penting terkait pendidikan anak. Namun, keterlibatan tersebut masih bersifat situasional dan belum dilakukan secara konsisten karena dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan. Selain itu tabel tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan emosional ayah memiliki dampak positif terhadap perkembangan sosial-emosional anak, seperti meningkatnya rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan berinteraksi sosial. Sebaliknya, rendahnya keterlibatan ayah menyebabkan anak cenderung pasif dan kurang percaya diri. Selain intensitas keterlibatan, kualitas interaksi yang hangat dan komunikatif terbukti lebih berpengaruh dibandingkan kuantitas kehadiran ayah. 7 Ae JOECES Faktor penghambat utama keterlibatan ayah berasal dari tuntutan pekerjaan dan budaya tradisional yang masih menempatkan ibu sebagai pengasuh utama. Meskipun demikian, mulai muncul kesadaran sebagian ayah mengenai pentingnya peran mereka dalam pengasuhan, yang menunjukkan adanya perubahan paradigma positif dalam keluarga. Secara keseluruhan, keterlibatan ayah memiliki peran strategis dalam membentuk pola asuh yang berkualitas dan mendukung perkembangan anak usia dini secara optimal. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki peran strategis dalam membentuk pola asuh yang berkualitas serta mendukung perkembangan sosialemosional anak secara optimal. Keterlibatan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kehadiran fisik, tetapi juga oleh kualitas interaksi, kesadaran peran, serta dukungan lingkungan. Implikasi Keterlibatan Ayah Terhadap Pola Asuh Pada Anak Usia Dini Keterlibatan ayah di KB Auladul Ihsan menunjukkan variasi bentuk keterlibatanAimeliputi keterlibatan langsung, emosional, dan pengambilan keputusanAimenunjukkan bahwa peran ayah bersifat multidimensional. Namun, keterlibatan tersebut masih cenderung situasional dan belum terintegrasi secara konsisten dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Keterlibatan ayah merupakan bagian penting dari sistem pengasuhan yang memengaruhi perkembangan anak secara menyeluruh (Epstein, 2001. Istiqomah et al. , 2. Keterlibatan ayah terhadap pola asuh di KB Auladul Ihsan berimplikasi bahwa ayah yang aktif terlibat cenderung menerapkan pola asuh demokratis, yang ditandai dengan komunikasi dua arah, pemberian kasih sayang, serta penerapan kontrol yang seimbang (Baumrind, 1991. Wiranata & Ashari, 2. Pola asuh ini terbukti mendukung perkembangan sosial-emosional anak secara optimal. Dalam kerangka attachment theory, interaksi yang hangat dan responsif antara ayah dan anak berkontribusi pada terbentuknya secure attachment, yaitu hubungan emosional yang aman yang memungkinkan anak untuk berkembang secara percaya diri dan adaptif (Bowlby, 1998. Cassidy et al. , 2. Sebaliknya, rendahnya keterlibatan ayah cenderung menghasilkan pola asuh yang kurang optimal, seperti permisif atau otoriter, yang dapat berdampak pada munculnya permasalahan perilaku dan emosional pada anak (Cabrera, 2020. Santyani & Suryanti, 2. Selain itu, temuan penelitian ini menegaskan bahwa kualitas interaksi lebih berpengaruh dibandingkan frekuensi kehadiran. Ayah yang mampu membangun komunikasi yang hangat, responsif, dan konsisten, meskipun dalam waktu terbatas, tetap memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Temuan ini sejalan dengan teori keterlibatan ayah . ather involvement theor. yang dikemukakan oleh Lamb yang menyatakan bahwa keterlibatan ayah mencakup tiga dimensi utama, yaitu engagement . nteraksi langsung dengan ana. , accessibility . etersediaan ayah bagi ana. , dan responsibility . anggung jawab dalam pengambilan keputusan terkait ana. (Lamb, 2. Untuk memperjelas implikasi keterlibatan ayah terhadap pola asuh, disajikan visualisasi tabel berikut: 8 Ae JOECES Tabel 2. Implikasi Keterlibatan Ayah terhadap Pola Asuh Anak Usia Dini Aspek Temuan Penelitian Keterlibatan Aktif Ayah terlibat Keterlibatan Rendah Ayah kurang berinteraksi Kualitas Interaksi Interaksi hangat dan responsif Implikasi Pola Asuh Terbentuk secure attachment Pola asuh demokratis Insecure attachment Pola asuh permisif/otoriter Hubungan emosional kuat Implikasi keterlibatan ayah juga terlihat pada perkembangan sosial-emosional anak. Sebagaimana diungkapkan Zheng, menunjukkan keterlibatan positif ayah serta kehangatan dan responsifitasnya memberikan kontribusi signifikan terhadap kompetensi sosial-emosional anakanak usia dini baik secara simultan maupun longitudinal (Zheng et al. , 2. Anak yang mendapatkan keterlibatan ayah secara optimal cenderung lebih percaya diri, aktif, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial secara baik. Sebaliknya, kurangnya keterlibatan ayah berpotensi menyebabkan anak menjadi pasif, kurang percaya diri, dan mengalami hambatan dalam penyesuaian sosial. Keterlibatan ayah berkontribusi signifikan terhadap perkembangan sosial dan emosional anak usia dini (Cabrera, 2020. Tentiasih & Alwi, 2. Berdasarkan penelititan ini, keterlibatan ayah dipengaruhi oleh faktor internal maupun Faktor eksternal seperti tuntutan pekerjaan dan budaya menjadi hambatan utama dalam optimalisasi keterlibatan ayah. Keterbatasan waktu akibat pekerjaan menyebabkan rendahnya intensitas interaksi ayah dengan anak, sementara budaya tradisional masih menempatkan ibu sebagai pengasuh utama (Permatasari & Astana, 2. Dalam kerangka parental involvement theory, kondisi ini menjadi penghambat partisipasi ayah dalam pengasuhan (Hoover-Dempsey & Sandler, 1. Di sisi lain, faktor internal berupa kesadaran ayah mulai menunjukkan perubahan positif, di mana sebagian ayah mulai memahami pentingnya keterlibatan mereka dalam Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki implikasi strategis dalam membentuk pola asuh yang berkualitas dan mendukung perkembangan sosial-emosional anak usia dini. Integrasi antara attachment theory, father involvement theory, dan parental involvement theory menunjukkan bahwa keterlibatan ayah tidak hanya memengaruhi hubungan emosional anak, tetapi juga perkembangan sosial, perilaku, dan kognitif secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran serta kualitas keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi orang tua, khususnya ayah, untuk meningkatkan kualitas keterlibatan dalam pengasuhan anak usia dini. Keterlibatan tidak hanya diukur dari kehadiran fisik, tetapi juga dari kualitas interaksi yang hangat, responsif, dan Bagi lembaga pendidikan anak usia dini, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar 9 Ae JOECES dalam merancang program parenting yang lebih inklusif dengan melibatkan ayah secara aktif. Program seperti kelas parenting, kegiatan sekolah yang melibatkan ayah, serta sosialisasi mengenai pentingnya peran ayah dalam pengasuhan dapat menjadi strategi untuk meningkatkan keterlibatan ayah. Dengan demikian, tercipta sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendukung perkembangan anak. Meskipun penelitian ini memberikan gambaran mengenai keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus pada satu lembaga, yaitu KB Auladul Ihsan, sehingga hasil penelitian bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasikan secara luas ke populasi yang lebih besar. Kedua, subjek penelitian terbatas pada sejumlah ayah, ibu, dan guru yang dipilih melalui teknik purposive sampling, sehingga kemungkinan terdapat bias subjektivitas dalam penyampaian informasi. Data yang diperoleh sangat bergantung pada persepsi dan pengalaman informan, yang dapat dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Ketiga, penelitian ini lebih menekankan pada aspek deskriptif terkait bentuk keterlibatan ayah dan implikasinya terhadap pola asuh, sehingga belum mengukur secara kuantitatif tingkat pengaruh keterlibatan ayah terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau mixed methods untuk menguji hubungan dan pengaruh secara lebih terukur. Keempat, penelitian ini belum mengeksplorasi secara mendalam variasi latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan ayah yang mungkin memengaruhi tingkat keterlibatan dalam pengasuhan. Faktor-faktor tersebut berpotensi menjadi variabel penting yang dapat memperkaya analisis di masa mendatang. Dengan mempertimbangkan keterbatasan tersebut, penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan lokasi, menggunakan pendekatan metodologis yang lebih beragam, serta mengintegrasikan variabel-variabel lain yang relevan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. KESIMPULAN Penelitian di KB Auladul Ihsan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pola asuh anak usia dini berperan penting dalam membentuk kualitas pengasuhan dan perkembangan sosial-emosional anak. Keterlibatan tersebut meliputi aspek langsung, emosional, dan pengambilan keputusan, namun masih bersifat situasional dan belum optimal karena dipengaruhi oleh keterbatasan waktu kerja serta budaya yang menempatkan ibu sebagai pengasuh utama. Temuan juga menegaskan bahwa kualitas interaksi yang hangat dan responsif lebih berpengaruh dibandingkan frekuensi kehadiran. Anak dengan keterlibatan ayah yang baik cenderung lebih percaya diri, aktif, dan mampu bersosialisasi, sedangkan minimnya keterlibatan berdampak pada perilaku pasif dan kurang percaya diri. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat integrasi attachment theory dan parental involvement theory dengan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi pada terbentuknya kelekatan yang aman . ecure attachmen. serta mendukung perkembangan anak secara holistik. Secara praktis, temuan ini menekankan pentingnya peningkatan peran ayah 10 Ae JOECES dalam pengasuhan melalui interaksi yang berkualitas, serta perlunya program parenting yang melibatkan ayah secara aktif di lembaga pendidikan anak usia dini. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan lokasi yang terbatas, jumlah subjek yang relatif kecil, serta pendekatan kualitatif yang belum mengukur pengaruh secara Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas lokasi dan subjek, menggunakan pendekatan mixed methods, serta mempertimbangkan faktor sosialekonomi dan budaya agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. DAFTAR PUSTAKA Arianti. Agusniatih. M Monepa. , & Nur Zuama. Hubungan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Terhadap Kemampuan Kognitif Anak. Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 6. , 542Ae556. https://doi. org/10. 19105/kiddo. Baumrind. The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. The Journal Early Adolescence, 11. , 56Ae95. https://doi. org/10. 1177/0272431691111004 Bowlby. A secure base: Parent child attachment and healthy human development. Basic Books. Cabrera. Father involvement, father-child relationship, and attachment in the early Attachment Human Development, 22. , 134Ae138. https://doi. org/10. 1080/14616734. Cassidy. Jones. , & Shaver. Contributions of attachment theory and research: A framework for future research, translation, and policy. Development and Psychopathology, 25. , 1415Ae1434. https://doi. org/10. 1017/S0954579413000692 Creswell. Research Design Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif dan Campuran. Pustaka Pelajar. Denzin. , & Lincoln. Handbook of Qualitative Research . st ed. Pustaka