Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Hubungan Sedentary Life dan Durasi Screentime Terhadap Risiko Penyakit Jantung Koroner pada Pegawai RS Insan Permata. Kota Tangerang Selatan 2024 The Relationship of Sedentary Life and Screentime Duration to the Risk of Coronary Heart Disease in Insan Permata Hospital Employees. South Tangerang City 2024 Muhammad Bagaskara1. Intan Farida Yasmin2. Rita Komalasari3 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia. 2Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia. 3Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Email: bagaskara@gmail. KATA KUNCI Gaya Hidup Sedenter. Penyakit Jantung Koroner. Screentime. ABSTRAK Sekitar 31% populasi global yang berusia Ou15 tahun tidak cukup aktif secara fisik, sehingga menyebabkan 3,2 juta kematian setiap Di Indonesia, gaya hidup sedenter meningkat dari 26,1% . menjadi 33,5% . , dengan 24,1% penduduk menjalani perilaku sedenter Ou6 jam per hari. Perilaku sedenter menyumbang sepertiga kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK) di AS, dengan 1,9 juta kematian dini menurut WHO. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya hidup sedenter dan screentime gawai terhadap risiko PJK terhadap pegawai di RS Insan Permata. Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan kuesioner Framingham Risk Score (FRS), 18 items screen time questionnareAy. Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Penelitian ini menunjukkan bahwa 66,3% pegawai memiliki gaya hidup sedenter, 88,1% memiliki screentime tinggi, dan 98% berisiko rendah terhadap PJK. Analisis bivariat menggunakan korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara durasi tidur . = 0,. maupun screentime . = 0,. dengan risiko penyakit jantung koroner (PJK), karena kedua nilai p melebihi 0,05. Sebaliknya, faktor usia dan jenis kelamin menunjukkan hubungan signifikan terhadap risiko PJK, dengan nilai p masing-masing di bawah 0,05. KEYWORDS Coronary heart disease, sedentary lifestyle, screentime. ABSTRACT Around 31% of the global population aged Ou15 years are insufficiently physically active, contributing to 3. 2 million deaths annually. Indonesia, sedentary behavior increased from 26. 1% in 2013 to 33. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 in 2018, with 24. 1% of the population engaging in sedentary activities for Ou6 hours per day. Sedentary behavior accounts for one-third of deaths due to coronary heart disease (CHD) in the United States, with 1. million premature deaths reported by WHO. This study aimed to determine whether there is a relationship between sedentary lifestyle and gadget screen time with the risk of CHD among employees at Insan Permata Hospital. South Tangerang City. The study utilized the Framingham Risk Score (FRS), the "18-item Screen Time Questionnaire," and the Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). The findings revealed that 66. 3% of employees had a sedentary lifestyle, 1% had high screen time, and 98% were at low risk for CHD. Bivariate analysis using Spearman correlation showed no significant relationship between sleep duration . = 0. or screen time . = . and CHD risk, as both p-values exceeded 0. Conversely, age and gender demonstrated significant associations with CHD risk, with p-values below 0. PENDAHULUAN Gaya hidup sedenter menjadi hal yang umum terjadi saat ini dikarenakan kurangnya ruang untuk pekerjaan yang membutuhkan sedikit bergerak seperti bekerja di kantor, dan meningkatnya penggunaan perangkat televisi dan video. Sekitar 31% populasi global berusia Ou15 tidak melakukan aktivitas fisik yang mencukupi, dan kematian sekitar 3,2 juta orang setiap Park et al. , 2. Di Indonesia sendiri gaya hidup sedenter mengalami peningkatan dari 26,1% pada tahun 2013 menjadi 33,5% pada Autahun 2018 (Riskesdas, 2. Proporsi penduduk Indonesia dengan perilaku sedentari Ou 6 jam per hari sebesar 24,1%, sedangkan di Jawa Tengah sebesar 20,5% (Amrynia et al. , 2. Gaya hidup sedenter dapat penyakit jantung koroner (PJK), dikarenakan dapat menurunkan curah jantung dan aliran darah sistemik sekaligus mengaktifkan sistem saraf pembuluh darah (Park et al. , 2. Penyakit jantung koroner (PJK) disebabkan oleh penyempitan arteri koronaria akibat aterosklerosis atau spasme, dan tetap menjadi penyebab utama kematian di kalangan orang dewasa di Australia dan Selandia Baru, meskipun ada kemajuan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ini (Karyatin et al. , 2. Perilaku sedenter baik selama bekerja maupun waktu senggang kematian sekitar sepertiga setiap tahunnya akibat penyakit jantung koroner (PJK) di AS . etiap tahun 1,9 juta orang meninggal dini karena gaya hidup sedenter Ae berdasarkan pada statistik WHO) (Najafabadi. Khah and Rostad, 2. Menurut penelitian Journal of American Medical Association (JAMA), perilaku sedentary meningkat secara signifikan dikarenakan peningkatan penggunaan perangkat elektronik. Pada studi ini didapati dari tahun 2001 Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 hingga 2016, jumlah waktu yang dihabiskan orang untuk duduk meningkat rata-rata 1,5 hingga 2 jam dan sebagian besar peningkatan ini disebabkan oleh perangkat elektronik. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan perangkat elektronik cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih tinggi . dan PJK. (Hanifah. Laily et al. ,2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan American Heart Association, the American College of Cardiology, dan the American College of Sports Medicine pria yang tidak meninggal dikarenakan cardiovascular disease (CVD), sebagian besar berusia lebih muda, berpendidikan lebih tinggi dari sekolah menengah atas, dan memiliki BMI lebih rendah dibandingkan dengan pria yang mengalami kematian akibat penyakit CVD. Pria yang tidak meninggal karena CVD juga menderita profil risiko CVD yang lebih baik . isalnya, lebih kecil kemungkinannya keluarga CVD) (Warren et al. ,2. Peneliti menemukan penelitian yang melaporkan hubungan antara gaya hidup sedenter terhadap obesitas, yang mana obesitas merupakan salah satu faktor utama dari PJK. Survei yang Desa Sukamulya. Kabupaten Tangerang. Provinsi Banten terhadap 25 orang perempuan berusia 15-33 tahun menemukan bahwa 28% diantaranya mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Sebanyak 70% yang mengalami kelebihan berat badan adalah wanita berusia >20 tahun Preferensi makanan yang mereka sukai adalah jajanan dan makanan yang asin dan gurih. Selain itu, 68% memiliki screen time yang tinggi yaitu lebih dari 2 jam per hari (Badriyah. et al. Angka insiden penyakit jantung koroner yang tinggi menegaskan perlunya perhatian dan penanganan yang lebih. Data dari RSU Kota Tangerang Selatan adanya 582 pasien dewasa dengan penyakit jantung koroner selama Agustus Oktober (Fadhilah. H et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan gaya hidup sedenter dan durasi screentime gawai terhadap risiko penyakit jantung Hingga saat ini belum ada penelitian sebelumnya mengenai hal tersebut yang dilakukan terhadap pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan. METODOLOGI Penelitian penelitian deskriptif kuantitatif yang hubungan antara kedua variabel secara Kedua variabel yang akan dinilai hubungannya adalah tingkat sedentari dan screentime dengan risiko penyakit jantung koroner pada pegawai RS Insan Permata. Kota Tangerang Selatan. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian cross sectional atau potong lintang. Populasi merupakan seluruh pegawai RS Insan Permata. Kota Tangerang. Seluruh populasi pegawai RS Insan Permata berjumlah 200 orang. Sampel penelitian ini merupakan pegawai RS Insan Permata. Kota Tangerang yaitu perawat. OB, dan security yang masih Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 aktif, serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan menggunakan teknik quota sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data sekunder yang dipakai adalah data identitas subjek seperti identitas, tinggi badan, berat badan, usia, tempat Sedangkan digunakan adalah data yang diisi oleh subjek yaitu kuesioner Framingham Risk Score (FRS), 18 items screen time questionnareAy. Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) Versi 23. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis univariat untuk menilai variabel bebas dan variabel terikat pada penelitian ini. Lalu, analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara variabel bebas dan terikat pada penelitian ini HASIL Karakteristik Responden Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup sedenter, screentime, dan risiko PJK pada Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang selatan yaitu sebanyak 107 Dari total 107 responden yang mengisi kuesioner, sebanyak 101 responden digunakan sebagai data Sementara itu, 6 responden dikeluarkan dari analisis karena tidak mengisi pertanyaan terkait kolesterol total dan HDL dengan sesuai. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari kuesioner yang dibagikan kepada Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan, diketahui distribusi karakteristik responden terdapat pada tabel berikut. 200 Pegawai RS Insan Permata 93 Pegawai tidak mengisi kuesioner 107 Pegawai RS Insan Permata mengisi kuesioner 6 Pegawai tidak mengisi kolesterol HDL 101 Pegawai RS Insan Permata mengisi kuesioner dengan lengkap 99 Pegawai RS Insan Permata dengan risiko PJK Gambar 1. Penelitian 2 Pegawai RS Insan Permata dengan risiko PJK sedang Penentuan Responden Berdasarkan hasil tabel 1 diketahui bahwa mayoritas adalah perempuan sebanyak 70 orang . ,3%) sedangkan laki-laki hanya 31 orang . ,7%). Rentang usia terbanyak pada penelitian ini 20-30 tahun yaitu sebanyak 66 orang . ,3%). Sebagian besar responden memiliki pendidikan Sarjana (S. sebanyak 68 orang . ,3%). Karyawan RS merupakan responden Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 terbanyak dalam penelitian ini dengan jumlah 38 orang . ,6%) diikuti oleh perawat sebanyak 37 orang . ,6%). Tabel 1. Karakteristik Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan (N=. Variabel Kategori N (%) Jenis Kelamin Perempuan 70 . Laki-laki 31 . ,7%) 23-30 tahun 66 . 31-40 tahun 22 . 41-54 tahun 14 . SMA Karyawan 38 . Usia Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Pengetahuan Tentang PJK Riwayat PJK pada Bidan 14 . Laboran 4 . Perawat 37 . Supir 3 . Teknisi 1 . Apoteker 4 . Tidak Tidak Kurang Paham Cukup Paham Sangat Paham Ada 39 . 8 %) Tidak ada 82 . 9 %) Sebanyak 62 responden . ,4%) telah menikah. Dalam hal pengetahuan tentang PJK sebagian besar responden termasuk kategori cukup paham dengan jumlah 54 orang . ,5%). Sebanyak 82 responden . ,2%) tidak memiliki riwayat PJK dalam keluarga, sedangkan 19 responden . ,8%) memiliki riwayat PJK dalam keluarga. Analisis Univariat Analisis penelitian ini mencakup variabel gaya hidup sedenter, yang didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh responden dari saat bangun tidur hingga tertidur kembali, di mana aktivitas tersebut dikategorikan apakah termasuk dalam gaya hidup sedenter atau tidak. Selanjutnya, variabel screentime diukur sebagai akumulasi penggunaan gadget, televisi, dan komputer dalam satu hari, yang kemudian diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu tinggi atau rendah. Selain itu, risiko penyakit jantung koroner (PJK) dihitung berdasarkan Framingham mempertimbangkan berbagai faktor seperti usia, tekanan darah, riwayat diabetes, nilai kolesterol total dan HDL. Hasil tingkatan risiko: tinggi, sedang, atau Dengan demikian, analisis ini pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara gaya hidup sedenter dan risiko PJK berdasarkan penggunaan gadget dan pola aktivitas sehari-hari responden. Tabel 2. Frekuensi Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan (N=. Variabel Kategori N (%) Gaya Hidup Sedenter 67 . Tidak 34. Screentime Tinggi 89 . Rendah 12 . Rendah 99 . Sedang 2 . Tinggi 0 . %) Risiko PJK Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Berdasarkan hasil tabel 2 didapatkan bahwa Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan dengan gaya hidup sedenter sebanyak 67 orang . ,3%) dari 101 responden. Screentime tinggi sebanyak 89 orang . ,3%) dari 101 responden. Risiko PJK yang rendah yaitu sebanyak 99 orang . %) dari 101 responden. Analisis Bivariat Analisis bivariat pada penelitian ini digunakan melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan analisis korelasi spearman menggunakan program SPSS version Variabel terikat pada penelitian ini adalah risiko PJK, sedangkan variabel bebasnya yaitu gaya hidup sedenter dan screentime. usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Uji ini akan diperoleh nilai sig dimana dalam penelitian ini menggunakan tingkat kemaknaan 0,05. Penelitian dikatakan bermakna jika nilai sig <0,05 dan dikatakan tidak bermakna jika nilai sig >0,05. Analisis dilakukan kepada kelompok sampel yang berjumlah 101 Tabel 3. Korelasi Spearman Variabel Gaya Hidup Sedenter. Screentime, dan Risiko PJK Pada Pegawai RS Insan Permata Kota Tangerang Selatan (N=. Variabel Gaya Hidup Sedenter Screentim Risiko PJK Gaya Hidup Sedenter r . Screenti r . Risiko PJK *Hasil Signifikan, p<0,005 Berdasarkan tabel 3 hasil korelasi spearman variabel diatas menunjukan bahwa korelasi antara gaya hidup sedenter dengan screentime menunjukan sig. < 0,05 yaitu 0,001. Hal ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara gaya hidup sedenter dengan screentime. Sedangkan pada gaya hidup sedenter dan screentime dengan risiko PJK tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan karena menunjukan sig. > 0,05 dengan nilai masing-masing yaitu 0,314 dan 0,604. Tabel 4. Korelasi Variabel Usia. Jenis Kelamin, dan Riwayat Keluarga Terhadap Risiko PJK pada Pegawai RS Insan Permata (N=. Variabel Usia Jenis Kelamin Riwayat Keluarga Risiko PJK *Hasil Signifikan, p<0,05 Berdasarkan tabel 4, hasil Spearman menunjukkan bahwa korelasi antara usia dan jenis kelamin terhadap risiko PJK memiliki signifikansi dengan pvalue < 0. 05, yaitu masing-masing 0. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang terkait dengan risiko PJK. PEMBAHASAN Pada penelitian ini menemukan bahwa terdapat 67 Pegawai . Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 dengan gaya hidup sedenter, 34 Pegawai . 7%) tidak termasuk gaya hidup sedenter. Ditemukan juga 89 Pegawai . 1%) dengan screentime tinggi, serta 12 Pegawai . ,9 %) dengan screentime rendah. Pada risiko PJK didapatkan Pegawai dengan risiko rendah sebanyak 99 orang . 0 %), 2 Pegawai . 0 %) dengan risiko sedang, dan tidak ditemukan pegawai dengan risiko tinggi. Berdasarkan hasil uji analisis bivariat dalam penelitian ini tidak didapatkan hubungan bermakna antara gaya hidup sedenter dan screentime dengan risiko PJK dengan uji korelasi spearman didapatkan nilai sig masing-masing = 0,314 dan 0,604 > = 0,05. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan gambaran bahwa faktor usia dan jenis kelamin mungkin mempengaruhi risiko PJK. Namun, gaya hidup sedenter, screentime, dan riwayat keluarga tampaknya tidak memiliki dampak langsung yang Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Nursing Department. Zhejiang University. China. Didapatkan bahwa individu dengan total waktu duduk lebih dari 10Ae11 jam/hari dan waktu menatap layar lebih dari 5Ae6 jam/hari memiliki risiko PJK yang serupa dengan indivdu yang telah dilakukan penyesuaian dengan aktivitas fisik dan faktor risiko PJK lainnya (Jingjie et al. , 2. Menurut dilakukan menggunakan data Korea National Health Nutrition Examination Survey 2014Ae2017, ditemukan bahwa waktu sedenter Ou9 jam/hari kardiovaskular (CVD) pada kelompok dengan aktivitas fisik rendah, dengan odds ratio (OR) sebesar 1,29 (CI 1,04Ae 1,. Namun, pada kelompok dengan aktivitas fisik sedang hingga tinggi (Ou600 METsAmin/mingg. , hubungan tersebut tidak signifikan. Selain itu, waktu sedenter <6 jam/hari tidak berhubungan dengan peningkatan risiko CVD pada semua kelompok aktivitas fisik (Lee et al. , 2. Menurut dilakukan oleh (Ghaddar F et al. , 2. kepada perempuan di atas umur 40 di Lebanon, menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari dan durasi waktu layar memiliki hubungan yang signifikan terhadap risiko penyakit jantung koroner (PJK). Ditemukan bahwa individu yang menghabiskan waktu lama dalam posisi duduk tanpa melakukan aktivitas fisik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami PJK, terutama pada wanita. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi untuk meningkatkan aktivitas fisik di kalangan populasi yang berisiko. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Internal Medicine menunjukkan bahwa mengganti waktu intensitas sedang hingga tinggi dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner (PJK) hingga 9%, terlepas dari risiko genetik individu. Studi ini juga menemukan bahwa individu dengan risiko genetik tinggi mengalami pengurangan risiko absolut yang lebih besar dibandingkan mereka dengan risiko genetik rendah, ketika waktu sedenter digantikan oleh aktivitas fisik. Temuan ini mendukung pedoman WHO untuk mengurangi waktu sedenter sebagai langkah penting Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 dalam pencegahan PJK melalui intervensi gaya hidup (Kim et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mayoritas pegawai memiliki gaya hidup sedentari dan waktu layar yang tinggi, serta tidak ditemukan hubungan signifikan antara keduanya dengan risiko penyakit jantung koroner (PJK), perlu diingat bahwa temuan ini sejalan dengan menunjukkan bahwa total waktu duduk lebih dari 10Ae11 jam/hari dan waktu menatap layar lebih dari 5Ae6 jam/hari dapat meningkatkan risiko PJK. Penelitian di Lebanon juga menegaskan bahwa individu yang menghabiskan waktu lama dalam posisi duduk berisiko lebih tinggi mengalami PJK, terutama pada wanita. Oleh karena itu, penting untuk melakukan intervensi yang mendorong peningkatan aktivitas fisik di kalangan pegawai, guna mengurangi risiko PJK dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang meneliti hubungan gaya hidup sedenter dan durasi screentime terhadap risiko penyakit jantung kororner dengan subjek pegawai rumah sakit di Kota Tangerang. Kekurangan penelitian ini adalah persebaran rerata usia subjek yang dominan ke usia lebih muda. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pegawai RS Insan Permata. Kota Tangerang Selatan, sebanyak 101 responden didapatkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara gaya hidup sedenter dan durasi screentime dengan risiko penyakit jantung koroner. Perbedaan hasil dari penelitian sebelumnya dapat didasarkan pada perbedaan rerata usia dan jenis kelamin subjek penelitian. Penelitian lebih lanjut disarankan dilakukan dengan sampel lebih besar dan variabel tambahan seperti pola makan, stres, dan kualitas tidur untuk analisis risiko PJK yang lebih akurat. Daftar Pustaka