JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 PENERAPAN PROGRAM PENDIDIKAN BERBASIS KOMUNITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKADEMIK DASAR PADA ANAK JALANAN Nada Endang Yusrina1. Dewi Safitri Elshap2 IKIP Siliwangi. Jawa Barat. Indonesia nadaendangy@gmail. com, 2nouradewi14@yahoo. Received: November, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract Street children often face barriers in accessing formal education, leading to generally low fundamental academic skills such as reading, writing, and arithmetic. This research aims to examine the effectiveness of a community-based non-formal education program in improving the fundamental academic skills of street children. The approach used is a mixed-methods design with a one-group pre-test post-test design involving 20 children as participants. Qualitative data was collected through interviews and observations, while quantitative data was collected through a test of fundamental academic skills. The research findings indicate an improvement in academic ability after the children participated in the program, as seen from the change in pre-test and post-test scores, as well as the strengthening of motivation and learning participation. These results indicate that a community-based education program can be an adaptive learning alternative for vulnerable groups and can be further developed by social institutions and non-governmental organizations to expand educational access for street children. Keywords: community education, street children, fundamental academic skills Abstrak Anak jalanan sering menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan formal, sehingga kemampuan akademik dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung cenderung rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas program pendidikan nonformal berbasis komunitas dalam meningkatkan kemampuan akademik dasar anak jalanan. Pendekatan yang digunakan adalah mix method dengan desain one group pre-test post-test yang melibatkan 20 anak sebagai peserta. Data kualitatif diambil melalui proses wawancara dan observasi, sementara data kuantitatif dikumpulkan melalui tes kemampuan akademik dasar. Temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan akademik setelah anak mengikuti program, yang terlihat dari perubahan skor pre-test dan post-test serta penguatan motivasi dan partisipasi belajar. Hasil ini mengindikasikan bahwa program pendidikan berbasis komunitas mampu menjadi alternatif pembelajaran yang adaptif bagi kelompok rentan dan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh lembaga sosial maupun organisasi nonpemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak jalanan. Kata Kunci: pendidikan komunitas, anak jalanan, kemampuan akademik dasar How to Cite: Yusrina. & Elshap. Penerapan Program Pendidikan Berbasis Komunitas Untuk Meningkatkan Kemampuan Akademik Dasar pada Anak Jalanan. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 182-1XX. PENDAHULUAN Anak jalanan merupakan kelompok rentan yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan akibat tekanan ekonomi, kondisi sosial, dan lingkungan hidup yang tidak mendukung. Fenomena ini terus berkembang di kota-kota besar, termasuk Bandung, di mana banyak anak harus bekerja di jalanan sehingga kesempatan mereka untuk mengikuti pendidikan formal semakin terhambat. Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan antara hak memperoleh pendidikan sesuai UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 dan realitas sosial yang mereka hadapi. Keluarga Volume 9. No. Januari 2026 pp 182-187 berpendapatan rendah cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan pendidikan, sehingga meningkatkan risiko putus sekolah (Maharani et al. , 2. Situasi ini menyebabkan anak kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan akademik dasar yang penting bagi perkembangan kognitif dan peluang mobilitas sosial di masa depan (Liriwati et al. , 2. UNICEF . melaporkan bahwa jutaan anak dan remaja di Indonesia tidak terlibat dalam pendidikan formal maupun nonformal, membuat mereka rentan terhadap eksploitasi dan kehilangan hak dasar. Minimnya akses pendidikan berdampak pada rendahnya kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan penguasaan pengetahuan dasar. Dalam kondisi ini, pendidikan nonformal berbasis komunitas menjadi alternatif yang lebih fleksibel dan adaptif untuk anak-anak yang berada di luar jalur pendidikan formal, karena mampu menyesuaikan dengan kebutuhan dan ritme belajar mereka (Yani et al. , 2. Rumah Pelangi di wilayah Leuwi Panjang. Bandung, merupakan salah satu lembaga yang menyediakan pendidikan berbasis komunitas bagi anak jalanan dengan fokus pada pembelajaran membaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan umum melalui pendekatan humanistik dan partisipatif. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan sarana prasarana, ketidakstabilan jumlah relawan, serta kondisi psikologis anak yang membutuhkan pendampingan emosional. Dalam konteks pendidikan komunitas bagi anak jalanan, pendidik dituntut untuk memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi pembelajaran serta kondisi peserta didik, termasuk memberikan arahan, pendampingan, dan evaluasi (Ardiwinata & Mulyono, 2. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa guru memiliki peran penting sebagai pengendali dalam proses pembelajaran, terutama dalam pola pendidikan adaptif (Purwasih & Elshap, 2. Situasi ini menuntut fasilitator untuk bertindak tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang memahami kebutuhan emosional anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendidikan berbasis komunitas berpotensi meningkatkan motivasi dan perkembangan sosial anak marginal (Adinda, 2. Namun, kajian yang secara komprehensif menilai proses pelaksanaan, kendala, serta dampak kuantitatif terhadap kemampuan akademik dasar anak jalanan dalam konteks tertentu seperti Rumah Pelangi masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian yang lebih mendalam dan terarah. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan program pendidikan berbasis komunitas di Rumah Pelangi, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta mengukur peningkatan kemampuan akademik dasar anak jalanan setelah mengikuti program tersebut. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi secara teoretis bagi perkembangan studi pendidikan komunitas dan memberikan rekomendasi praktis bagi lembaga penyelenggara, pemerintah, serta masyarakat dalam mendukung pendidikan bagi anak-anak jalanan. METODE Penelitian ini menerapkan metode campuran dengan desain exploratory sequential. Desain ini dimulai dengan pengumpulan data yang bersifat kualitatif untuk menganalisis proses implementasi program, yang kemudian diperkuat dengan pengujian kuantitatif. Untuk pengujian kuantitatif, digunakan desain one group pre-test post-test. Penelitian ini di laksanakan di Rumah Pelangi, sebuah lembaga soial yang berlokasi di Leuwi Panjang. Kota Bandung. Populasi dalam penelitian ini mencakup semua anak jalanan yang berpartisipasi dalam progam pendidikan berbasis komunitas di Rumah Pelangi. Jumlah total populasi adalah 20 anak jalanan. Metode pengambilan sampel yang diterapkan adalah total sampling, di mana setiap individu dalam populasi diambil sebagai subjek penelitian. 184 Yusrina & Elshap. Penerapan Program Pendidikan Berbasis Komunitas Untuk Meningkatkan Kemampuan Akademik Dasar pada Anak Jalanan Data dikumpulkan menggunakan instrumen kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui proses wawancara dan observasi untuk menganalisis proses penerapan dan kendala program. Data kuantitatif di kumpulkan menggunakan tes kemampuan akademik dasar . embaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan umu. yang diberikan dalam bentuk Instrumen tes telah melewati uji validitas dan reilabilitas. Analisis data kuantitatif menggunakan perangkat linak statistik. Karena data hasil tes tidak memenuhi asumsi normalitas . ibuktikan melalui Uji Normalita. , uji hippotesis komparatif dilakukan menggunakan Uji Non Parametrik sebagai pengganti Paired Sample t-Test. Untuk mengukur efektivitas program tersebut, dihitung dengan N-Gain Score untuk melihat peningkatan hasil belajar secara proporsional dari pre test ke post test. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa Rumah Pelangi menerapkan pendidikan berbasis komunitas secata fleksibel melalui kurikulum non formal yang menyesuaikan kebutuhan anak, mencakup calistung, pendidikan agama, dan pengembangan minat. Metode yang dipakai berupa permainan edukatif, cerita, diskusi, dan aktivitas kreatif sehingga pembelajaran lebih mudah di terima oleh anak jalanan. Pembagian kelompok belajar dilakukan berdasarkan kemampuan akademik, yaitu kelompok anak Caringin lebih di fokuskan pada calistung dasar, sementara anak terminal diarahkan pada pengembangan diri. Fasilitator menekankan pendekatan emosional agar anak lebih nyaman dan terlibat dalam proses belajar. Di lapangan, program ini menghadapi beberapa kendala, terutama keterbatasan sarana karena kegiatan dilakukan di area terbuka tanpa ruang kelas tetap, serta ketidakstabilan kehadiran relawan yang membuat kegiatan tidak selalu berjalan rutin. Selain itu anak-anak membawa beban pekerjaan, tekanan ekonomi, dan masalah psikologis seperti mudah marah atau sulit Untuk mengatasi ha tersebut, fasilitator menggunakan pendekatan personal, membangun hubungan emosional, dan membuat pembelajaran lebih variatif agar anak tetap Hasil dari pre test dan post test menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh indikator kemampuan akademik dasar, yang meliputi membaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan Rata-rata skor pre test dan post test dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1 Rata Rata Pre Test dan Post Test No. Indikator Pre Test Kemampuan Membaca Kemampuan Menyusun Kata dan Kalimat Sederhana Kemampuan Berhitung Pengetahuan Umum Post Test Uji normalitas kemudian dilakukan untuk menentukan tipe analisis statistik yang tepat. Hasil dari uji Shapiro Wilk disajikan pada Tabel 2. Volume 9. No. Januari 2026 pp 182-187 Tabel 2 Hasil Uji Normalitas Pre Test Post Test Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Berdasarkan hasil dari pengujian normalitas Shapiro Wilk, diperoleh nilai signifikasi untuk data pre test sebesar 0,015 dan nilai untuk post test sebesar 0,004. Kedua nilai signifikansi ini berada di bawah batas signifikansi 0,05, yang menujukkan bahwa data pre test dan post test tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, dilakukan pengujian non parametrik menggunakan Wilcoxon untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara pre test dan post test. Tabel 3 Hasil Uji Wilcoxon Post Test - Pre Test Asymp. Sig. -taile. Berdasarkan temuan ini, angka signifikansi 0,001 < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang berarti antara nilai pre test dan post test. Dengan kata lain, program pendidikan berbasis komunitas terbukti memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kemampuan akademik dasar anak jalanan. Selanjutnya di lakukan perhitungan N Gain Score untuk menilai tingkat efektivitas peningkatan yang terjadi. Hasil ditampilkan dalam Tabel 4. NGain_Score NGain_Persen Valid N . Tabel 4 Hasil Uji N Gain Score N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Nilai rata-rata N Gain sebesar 0,5667 . ,67%) berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa program pembelajaran memberikan peningkatan kemampuan yang cukup efektif pada sebagian besar peserta didik. Pembahasan Program pendidikan berbasis komunitas di Rumah Pelangi dirancang fleksibel dan kontekstual sesuai kebutuhan anak jalanan, sehingga tidak berpatok pada kurikulum formal. Pendekatan ini selaras dengan pandangan Sudjana, . mengenai karakter pendidikan non formal yang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Kegiatan calistung, keagamaan, dan pengembangan minat bakat menunjukkan bahwa pembelajaran diarahkan pada penguatan kemampuan dasar sekaligus pembentukan karakter. Temuan ini sejalan dengan penelitian Mustangin et al. , yang menegaskan bahwa pendidikan berbasis komunitas yang fleksibel efektif meningkatkan kemampuan dasar dan kemandirian anak jalanan. Penelitian Yani. Mardliyah, dan Nugroho, . juga mendukung bahwa pendidikan personal dalam pendidikan non formal mampu meningkatkan motivasi serta keterlibatan anak marjinal. Dengan demikian, penerapan program di Rumah Pelangi telah mencerminkan nilai-nilai dasar pendidikan komunitas yang relevan dan inklusif. 186 Yusrina & Elshap. Penerapan Program Pendidikan Berbasis Komunitas Untuk Meningkatkan Kemampuan Akademik Dasar pada Anak Jalanan Pelaksanaan program mengahadapi keterbatasan fasilitas fisik karena Rumah Pelangi belum memiliki ruang belajar tetap, sehingga kegiatan dilakukan di area terbuka. Kondisi ini berdapkan pada kenyamanan dan konsentrasi belajar sebagaimana disoroti oleh Febriani et al. terkait pentingnya fasilitas fisik dalam efektivitas pembelajaran. Dari sisi sumber daya manusia, ketidakkonsistenan relawan menjadi hambatan dalam keberlanjutan kegiatan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Sabani & Lutfia, . yang menekankan bahwa kesibambungan pendidikan sangat menentukan kualitas pendidikan berbasis komunitas. Selain itu, anak jalanan menghadapi kendala berupa tuntutan ekonomi dan tekanan psikologis. Meskipun demikian, penelitian Afifah. Sutrisno, dan Sari, . menunjukkan bahwa pendekatan humanis dan kontekstual dapat secara bertahap mengurangi hambatan tersebut dan meningkatkan kepercayaan diri anak. Hasil dari pre test dan post test mengindikasikan adanya kemajuan yang signifikan dalam kemampuan akademik dasar, di mana nilai N-Gain berada dalam kategori sedang. Ini menunjukkan bahwa program pendidikan berbasis komunitas cukup efektif meskipun tanpa intervensi langsung dari peneliti. Wawancara dengan fasilitator menguatkan hasil tersebut, di mana anak terlihat lebih disiplin, lebih termotivasi, dan menunjukkan sikap belajar yang lebih Temuan ini konsisten dengan penelitian Mustangin et al. , . yang menegaskan bahwa pendidikan non formal berkontribusi pada peningkatan kemampuan kognitif dan pembentukan kararter anak marjinal. Penelitian Sianturi et al. , . juga mendukung bahwa intervensi pendidikan komunitas mampu meningkatkan keterampilan dasar dan motivasi intrinsik pada kelompok anak yang tidak terlayani pendidikan formal. Dengan demikian, program di Rumah Pelangi terbukti memberikan dampak positif baik pada kompetensi akademik maupun aspek perilaku. KESIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa program pendidikan berbasis komunitas di Rumah Pelangi mampu meningkatkan kemampuan akademik dasar anak jalanan. Program yang disusun secara fleksibel dan disampaikan melalui pendekatan yang hangat membuat anak lebih mudah menerima materi. Walaupun pelaksanaan menghadapi keterbatasan sarana, ketidakkonsistenan relawan, serta hambatan dari kondisi sosial dan psikologis anak, pendidikan tetap berjalan efektif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan umum dengan nilai N-Gain 0,5667, sehingga dapat disimpulkan bahwa program ini memberikan dampak positif dan layak untuk terus dikembangkan sebagai dukungan pendidikan bagi anak jalanan. DAFTAR PUSTAKA