Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Available Online at: https://prin. id/index. php/JURRIKES Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Naya Dwiyanti1*. Mardhatillah Mardhatillah2. Devy Febrianti3 Univeristas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Indonesia Email : nayadwiyanti637@gmail. com1, mardhatillah. ds@gmail. devyfebriantiu@gmail. Korespondensi penulis: nayadwiyanti637@gmail. Abstract. Basic immunization is one of the main pillars in the effort to control infectious diseases, which is important for the health of children from an early age. In order to achieve optimal health, immunization helps prevent diseases such as diphtheria, tetanus, whooping cough, polio, and measles that can cause serious complications or even death. The immunization program implemented at Posyandu Terkini 1 in Mario Village has a positive impact on public health, with an immunization coverage rate showing 97. 90% in the South Sulawesi This study focuses on factors that influence the utilization of basic immunization at Posyandu Terkini 1 in Mario Village. In a quantitative research design with a cross-sectional approach, researchers involved the entire population consisting of 89 infants and toddlers in Mario Village through a total sampling method. Using the Chi Square test, this study identified factors related to the utilization of immunization services, namely maternal knowledge, maternal attitudes, family support, and support from health workers. The results showed that these factors significantly influenced the utilization of basic immunization, while access to immunization services did not show a significant relationship. This research makes an important contribution to the development of public health policies, particularly in increasing community participation in immunization programs. With a more integrated approach, particularly in educating the community about the benefits of immunization and the importance of support from families and health workers, it is hoped that immunization coverage in villages will be broader and more equitable. These findings will be published in the Jurnal Kesehatan (Health Journa. to provide further insights for relevant stakeholders in improving the quality of immunization services. Furthermore, this study also emphasizes the importance of the active role of health workers in educating parents, especially mothers, about the benefits of immunization and the vaccine schedule. Keywords: Access to Services. Family Support. Immunization Services. Toddlers. Abstrak. Imunisasi dasar merupakan salah satu pilar utama dalam upaya pengendalian penyakit menular, yang penting bagi kesehatan anak-anak sejak usia dini. Dalam rangka mencapai kesehatan yang optimal, imunisasi membantu mencegah penyakit seperti difteri, tetanus, batuk rejan, polio, dan campak yang dapat menimbulkan komplikasi serius atau bahkan kematian. Program imunisasi yang dilaksanakan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario memiliki dampak positif terhadap kesehatan masyarakat, dengan tingkat cakupan imunisasi yang menunjukkan angka 97,90% di wilayah Sulawesi Selatan. Penelitian ini berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Dalam desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, peneliti melibatkan seluruh populasi yang terdiri dari 89 bayi dan balita di Desa Mario melalui metode total sampling. Dengan menggunakan uji Chi Square, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan imunisasi, yaitu pengetahuan ibu, sikap ibu, dukungan keluarga, serta dukungan petugas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan imunisasi dasar, sementara akses layanan imunisasi tidak menunjukkan hubungan signifikan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program imunisasi. Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, terutama dalam mengedukasi masyarakat mengenai manfaat imunisasi serta pentingnya dukungan keluarga dan petugas kesehatan, diharapkan cakupan imunisasi di desa-desa lebih luas dan Temuan ini akan dipublikasikan di Jurnal Kesehatan untuk memberikan wawasan lebih lanjut bagi stakeholder terkait dalam meningkatkan kualitas layanan imunisasi. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya peran aktif petugas kesehatan dalam memberikan edukasi kepada orang tua, terutama ibu, mengenai manfaat imunisasi dan jadwal pemberian vaksin. Kata kunci: Akses Pelayanan. Balita. Dukungan Keluarga. Layanan Imunisasi. Received: Juli 07, 2025. Revised: Juli 21, 2025. Accepted: Agustus 04, 2025. Online Available: Agustus 06, 2025 Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario LATAR BELAKANG Imunisasi adalah metode yang sangat efektif untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit menular yang berpotensi menyebabkan kematian. Keuntungan dari imunisasi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang paling Bagi orang dewasa, imunisasi berperan dalam memperkuat sistem imun agar terhindar dari infeksi maupun komplikasi akibat penyakit tertentu. Pada anak-anak, imunisasi berperan penting dalam menurunkan angka kematian serta melindungi kesehatan sejak dini hingga mereka tumbuh dewasa. (KEMENKES, 2. Di seluruh dunia, sekitar 23 juta bayi di bawah usia satu tahun belum mendapatkan imunisasi secara lengkap, dan sebanyak 9,5 juta di antaranya berasal dari kawasan Asia Tenggara. WHO juga melaporkan bahwa pada tahun 2020 terjadi peningkatan jumlah anak yang tidak diimunisasi, mencapai 34 juta anak (KEMENKES, 2. Imunisasi dapat mencegah antara 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Namun demikian, sebanyak 19,4 juta bayi di seluruh dunia masih belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Selama beberapa tahun terakhir, cakupan imunisasi global bertahan di angka 86% tanpa perubahan berarti. Sekitar 60% dari jumlah tersebut berasal dari 10 negara, salah satunya adalah Indonesia. Menurut data imunisasi rutin per Oktober 2021, cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4%, sementara target yang ditetapkan adalah 79,1%. Jenis imunisasi dasar yang harus diberikan kepada bayi berusia 0Ae9 bulan meliputi BCG. Campak. DPT. Hepatitis B, dan Polio. (Ismail et al. , 2. Pemberian imunisasi kepada balita bukan hanya melindungi anak itu sendiri dari penyakit, tetapi juga berkontribusi terhadap pencegahan penularan yang lebih luas melalui peningkatan daya tahan tubuh masyarakat secara keseluruhan terhadap penyakit tertentu (Darmin et al. , 2. Berdasarkan teori Health Belief Model, terdapat tiga kategori utama dalam pelayanan kesehatan yang berpengaruh terhadap kepatuhan orang tua, yaitu faktorfaktor yang memodifikasi . eliputi usia, jenis kelamin, suku, kondisi sosial ekonomi, dan tingkat pengetahua. , persepsi individu, serta kemungkinan untuk bertindak (Mauidhah et al. Menurut profil kesehatan Sulawesi Selatan, provinsi ini mencatat cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tertinggi secara nasional. Kabupaten Takalar menjadi penyumbang tertinggi cakupan IDL di Sulawesi Selatan dengan capaian 112,83 %. Selanjutnya. Kabupaten Sidrap mencapai 110,47 %. Pangkep 106,77 %. Bantaeng 104,22 %, dan Soppeng 103,91 %. Sementara itu, tiga kabupaten yang masih memiliki cakupan di bawah 90 % adalah Tana Toraja Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. 78,59 %. Enrekang 81,81 %, dan Kepulauan Selayar 86,33 % (Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap Sulawesi Selatan Tertinggi Nasional, 2. Penelitian ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Saat ini, tercatat 89 bayi dan balita telah menerima imunisasi, namun target yang ingin dicapai pada bulan berikutnya adalah lebih dari Untuk mencapai target ini, penting untuk memahami berbagai faktor yang berperan, seperti pengetahuan ibu tentang imunisasi, sikap mereka terhadap pentingnya imunisasi, dukungan dari keluarga, peran aktif kader posyandu, serta aksesibilitas pelayanan yang Dengan menganalisis faktor-faktor ini, diharapkan dapat ditemukan solusi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menggunakan layanan imunisasi, sehingga kesehatan anak-anak di desa ini dapat terjaga dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam mengenai alasan di balik ketidakikutsertaan ibu dalam membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi, sehingga langkah-langkah perbaikan dapat segera diimplementasikan. Pemahaman terhadap faktor tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendapatkan layanan imunisasi yang baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul AuFaktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa MarioAy. Rumusan Masalah Berdasarkan pembahasan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana hubungan pengetahuan ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario? Bagaimana hubungan sikap ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario? Bagaimana hubungan dukungan keluarga dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario? Bagaimana hubungan petugas kesehatan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario? Bagaimana hubungan akses layanan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario? Tujuan Penelitian Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario . Untuk mengetahui hubungan sikap ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Untuk mengetahui hubungan petugas kesehatan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Untuk mengetahui hubungan akses layanan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Manfaat Penelitian A Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat memberikan pengembangan teori dalam kesehatan masyarakat, terkhusus dalam perilaku kesehatan dan pemanfaatan layanan kesehatan. Memberikan wawasan bagi pembuat kebijakan dalam menetapkan program yang lebih efektif untuk meningkatkan pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Manfaat Praktis o Bagi Masyarakat Penelitian ini dapat memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anak-anak yang membutuhkan imunisasi dasar. Penelitian ini dapat meningkatkan partisipasi orang tua dalam membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan imunisasi dasar. Selain itu, dengan peningkatan pemahaman tentang pentingnya imunisasi, diharapkan angka cakupan imunisasi di masyarakat akan meningkat, yang pada gilirannya akan mengurangi risiko penyebaran penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, serta meningkatkan kesehatan anak-anak secara umum o Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini dapat menambah wawasan terhadap perkembangan teori dan pemahaman dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya terkait dengan pemanfaatan layanan kesehatan di posyandu. Penelitian ini juga memberikan wawasan lebih lanjut tentang dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang dapat digunakan untuk merancang kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran. o Bagi Peneliti Penelitian ini memberikan manfaat sebagai sumber informasi yang penting untuk mengembangkan penelitian-penelitian lebih lanjut di bidang imunisasi atau Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. kesehatan masyarakat. Peneliti juga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk menghasilkan publikasi ilmiah yang dapat memperluas jangkauan pengetahuan dalam bidang kesehatan masyarakat. KAJIAN TEORITIS Imunisasi Kata imunisasi berakar dari istilah "imun", yang mengandung makna kebal atau tahan Anak yang menerima imunisasi akan memperoleh kekebalan bertahap terhadap penyakit tertentu. Meski demikian, kekebalan ini tidak mencakup semua jenis penyakit (Ulsafitri & Yani, 2. Pembentukan antibodi secara alami dalam tubuh untuk melawan antigen dikenal sebagai imunisasi alamiah. Sementara itu, imunisasi yang dilakukan melalui vaksinasi merupakan bentuk stimulasi sistem imun agar memproduksi antibodi untuk melawan penyakit, dengan cara mengenalkan antigen yang telah dilemahkan dari vaksin. Sasaran dari imunisasi adalah membentuk daya tahan tubuh balita terhadap penyakit yang bisa dicegah melalui vaksinasi, yang pada akhirnya membantu menekan angka morbiditas, mortalitas, dan menurunkan kemungkinan terjadinya kecacatan akibat penyakit tertentu (Aswan, 2. Layanan Imunisasi Layanan imunisasi merupakan bagian penting dari program kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mencegah penyakit menular, terutama pada anak-anak. Program imunisasi yang efektif telah terbukti menurunkan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Penerapan vaksinasi rutin pada bayi telah menghasilkan penurunan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. WHO telah mengeluarkan kebijakan Perluasan Program Imunisasi untuk mencegah masyarakat tertular enam penyakit, yaitu tuberkulosis, difteri, tetanus, pertusis, campak, dan poliomielitis. WHO telah menetapkan tujuan vaksinasi dalam visi dan strategi imunisasi global. (Siramaneerat & Agushybana, 2. Program imunisasi dasar dirancang untuk memberikan perlindungan tubuh terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh virus maupun bakteri. Sasaran utamanya adalah bayi berumur kurang dari satu tahun guna membentuk sistem kekebalan tubuh sebelum terpapar penyakit. Imunisasi ini terdiri dari BCG. DPT/HB. Polio, dan Campak, yang diberikan selama bayi belum genap satu tahun (Padang & Pangestika, 2. Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Balita Balita merupakan anak usia 0 hingga 59 bulan, yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, disertai perubahan yang membutuhkan asupan gizi dalam jumlah lebih besar dan kualitas yang baik. Namun, pada masa ini balita termasuk kelompok yang rentan terhadap gangguan gizi karena mudah mengalami kekurangan nutrisi yang dibutuhkan. Asupan makanan memiliki peran penting dalam menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, sehingga berpengaruh besar terhadap status gizi anak (Febrianti, 2. Pengetahuan Ibu Pengetahuan merupakan hasil dari proses pengindraan manusia, yaitu pemahaman seseorang terhadap suatu objek melalui alat indra seperti mata, telinga, hidung, dan lainnya. Proses pengindraan ini sangat dipengaruhi oleh seberapa besar perhatian dan persepsi seseorang terhadap objek tersebut. Umumnya, pengetahuan diperoleh terutama melalui indra penglihatan . dan pendengaran . , di mana tingkat kepekaan masing-masing individu terhadap objek bisa berbeda (Simangunsong, 2. Sikap Ibu Sikap merupakan bentuk respon tersembunyi terhadap suatu rangsangan. Meskipun belum sampai pada tahap tindakan, sikap menjadi kecenderungan atau dorongan awal menuju Sikap pada seseorang terbentuk melalui proses motivasi, emosi, persepsi, serta mekanisme berpikir . dalam dirinya . udiarti et al. , 2. Sikap seorang ibu dipengaruhi oleh cara pandangnya serta latar belakang yang dimilikinya. Ketika pola pikir ibu semakin berkembang, maka pengetahuannya pun meningkat, sehingga ia dapat memilih yang terbaik untuk bayinya, termasuk dalam hal pemberian imunisasi. Sikap ibu terhadap imunisasi turut menentukan kepatuhan dalam melengkapi imunisasi dasar anak. Meskipun sikap belum selalu tercermin dalam tindakan, sikap yang positif akan memudahkan seseorang menerima informasi yang juga bersifat positif (Dwi Ghunayanti Novianda & Mochammad Bagus, 2. Dukungan Keluarga Dukungan dari keluarga merupakan bentuk interaksi yang mencerminkan sikap, perilaku, dan penerimaan terhadap anggota keluarga lainnya, meliputi dukungan informasi, penilaian, bantuan fisik, serta dukungan emosional. Hubungan ini menciptakan rasa aman dan perhatian bagi setiap anggota keluarga yang terlibat di dalamnya. Pemberian himbauan atau informasi mengenai imunisasi dasar lengkap sangat diperlukan guna membimbing individu, terutama para ibu dan anggota keluarga lainnya, agar dapat mendukung pelaksanaan imunisasi secara lengkap. Opini positif mengenai dukungan keluarga terhadap imunisasi dapat terbentuk. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. terlebih lagi jika disertai dengan promosi kesehatan dari petugas yang memahami secara baik mengenai imunisasi dasar lengkap (Septiani & Mita, 2. Petugas Kesehatan (Kader Posyand. Peran merupakan hasil dari fungsi sosial yang dijalankan oleh individu dalam masyarakat, di mana setiap orang menjalani berbagai peran yang selaras dengan posisi Dalam konteks Posyandu, kader memiliki tanggung jawab penting dalam mendukung peningkatan gizi anak balita, seperti memberitahukan waktu layanan Posyandu, mempersiapkan alat-alat, melakukan pendaftaran peserta, menimbang balita, mencatat hasil, memberikan edukasi individu maupun kelompok, serta melakukan kunjungan ke rumah-rumah Departemen Kesehatan RI menyatakan bahwa peran merupakan keterlibatan dan tanggung jawab dari individu, keluarga, maupun masyarakat dalam memelihara kesehatan pribadi, keluarga, serta lingkungan sosialnya. Peran menjadi bermakna ketika diterapkan dalam hubungan sosial dan kehidupan komunitas. Oleh sebab itu, kontribusi kader sangat dibutuhkan dalam mendukung perbaikan status gizi balita (Nuzula et al. , 2. Akses Pelayanan (Jarak Rumah dan Waktu Tempu. Jarak menjadi salah satu hambatan yang dapat menyebabkan seseorang atau masyarakat menunda mencari layanan kesehatan. Ketersediaan sumber daya kesehatan, termasuk tenaga medis yang mudah dijangkau, berperan penting dalam memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan. Akses terhadap layanan imunisasi, termasuk faktor jarak, merupakan bagian krusial dalam menentukan keberhasilan program imunisasi. Akses ini sangat dipengaruhi oleh kondisi fasilitas dan transportasi yang tersedia. Kemudahan dalam menjangkau layanan imunisasi sangat berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk menggunakannya atau tidak. Ibu yang tinggal dekat dengan lokasi pelayanan cenderung lebih mudah dan rutin memanfaatkan layanan imunisasi, sedangkan jarak yang jauh justru dapat menurunkan minat ibu dalam membawa anaknya untuk imunisasi (Nurhayani, 2. Posyandu Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. adalah bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari Puskesmas dalam memberikan layanan serta pemantauan kesehatan, dengan fokus utama pada kelompok seperti bayi baru lahir, balita, ibu hamil, ibu menyusui, ibu dalam masa nifas, dan pasangan usia subur. Posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar disediakan oleh masyarakat dan dikelola oleh kader Posyandu yang berada dalam pengawasan pemerintah negeri. (Masitoh Wahyuningsih et al. , 2. Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional (Stunting, 2. Dengan menggunakan uji statistik chi-square, yang membantu menemukan hubungan antara variabel independen dan dependen dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Kabupaten Sidenreng Rappang. Provinsi Sulawesi Selatan. Yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu balita/ balita yang terdaftar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario. Berdasarkan pencatatan Posyandu selama 2023-2024 jumlah bayi/balita yang mendapat pelayanan imunisasi dasar sebanyak 89 orang. Teknik pengambilan sampel dari penelitian ini adalah total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan Proses pengolahan data menggunakan program Statistic Package for Sosial Science (SPSS). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur dan Tingkat Pendidikan Umur O 20 Tahun 21-30 Tahun 31-40 Tahun > 40 Tahun Pendidikan SMP SMA/SMK PERGURUAN TINGGI Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel diatas, dari 89 responden dapat diketahui bahwa 58,4% ibu berumur 21Ae30 tahun, sementara 2,2% ibu yang berumur O 20 tahun. Selain itu, 56,2% mayoritas ibu berpendidikan SMA/SMK, sementara itu sebanyak 6,7% mayoritas ibu berpendidikan SD yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dasar relatif lebih rendah dalam kelompok ini. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Hasil Analisis Univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pemanfatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar Kurang Baik Baik Total Sumber: Data Primer, 2025 100,0% Berdasarkan tabel 1. 5, dari 89 responden sebanyak 60,7% responden di Posyandu Terkini 1 Desa Mario tidak memanfaatkan layanan imunisasi dasar. Sedangkan yang memanfaatkan layanan tersebut hanya 39,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan imunisasi dasar di posyandu masih tergolong rendah dan perlu perhatian khusus dalam upaya peningkatan cakupan imunisasi. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Variabel Tingkat Pengetahuan Ibu terhadap Pemanfaatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Pengetahuan Ibu Kurang Cukup Total Sumber: Data Primer, 2025 100,0% Berdasarkan tabel 1. 6, dari 89 responden sebanyak 44,9% yang memiliki tingkat pengetahuan kurang, sementara 55,1% memiliki tingkat pengetahuan yang cukup. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Variabel Sikap Ibu terhadap Pemanfaatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Sikap Ibu Kurang Cukup Total Sumber: Data Primer, 2025 100,0% Berdasarkan tabel 1. 7, dari 89 responden 51,7% memiliki sikap kurang terhadap imunisasi dasar, sedangkan 48,3% memiliki sikap yang cukup. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Keluarga terhadap Pemanfaatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Dukungan Keluarga Kurang Cukup Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Total Sumber: Data Primer, 2025 100,0% Berdasarkan tabel 1. 8, dari 89 responden terdapat 65,2% responden mendapat dukungan keluarga yang kurang dan hanya 34,8% yang mendapat dukungan keluarga yang Tabel 6. Distribusi Frekuensi Variabel Petugas Kesehatan terhadap Pemanfaatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Petugas Kurang Cukup Total 100,0% Kesehatan Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 1. 9, dari 89 responden terdapat 52,8% yang menganggap peran petugas kesehatan kurang dan 47,2% yang menganggap peran petugas kesehatan cukup. Tabel 7. Distribusi Frekuensi Variabel Akses Layanan terhadap Pemanfaatan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Akses Layanan Kurang Cukup Total 100,0% Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 1. 10, dari 89 responden sebanyak 49,4% merasa akses terhadap layanan imunisasi masih kurang, sedangkan 50,6% merasa aksesnya sudah cukup baik. Hasil Analisis Bivariat Tabel 8. Hasil Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Pengetahuan Ibu Kurang Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar Total Value Kurang Baik Baik 40,0 0,009 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Cukup Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel diatas, dari 89 responden dapat diketahui bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan kurang tapi merasa bahwa mendapatkan layanan imunisasi baik sebanyak 15,7% sementara 24,3% merasa kurang baik, sedangkan ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup tapi layanan imunisasinya kurang baik sebanyak 29,7% sementara 19,3% merasa baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar ,009 . < 0,. , yang menandakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kabupaten Sidenreng Rappang. Tabel 9. Hasil Analisis Hubungan Sikap Ibu dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Sikap Ibu Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar Kurang Baik Kurang Cukup Total Total Value 46,0 0,032 Baik 13 18,1 22 16,9 35 35,0 Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel di atas, dari 89 responden diketahui bahwa ibu yang memiliki sikap kurang tapi merasa layanan imunisasi baik sebanyak 18,1% sementara 27,9% merasa kurang baik, sebaliknya ibu yang memiliki sikap cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik sebanyak 26,1% sementara 16,9% merasa baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,032 . < 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kabupaten Sidenreng Rappang. Tabel 10. Hasil Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Dukungan Keluarga Pemanfaatan Layanan Total Value Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Imunisasi Dasar Kurang Cukup Total Kurang Baik Baik 28 22,8 35 35,0 Sumber: Data Primer, 2025 58,0 0,023 Berdasarkan tabel di atas, dari 89 responden diketahui bahwa ibu yang memiliki dukungan keluarga kurang tapi merasa layanan imunisasi baik sebanyak 22,8% sementara 35,2% merasa kurang baik, sebaliknya ibu yang memiliki dukungan keluarga cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik sebanyak 18,8% sementara 12,2% merasa baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,023 . < 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kabupaten Sidenreng Rappang. Tabel 11. Hasil Analisis Hubungan Petugas Kesehatan dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Petugas Kesehatan Kurang Cukup Total Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar Kurang Baik Total Value 47,0 0,019 Baik 24 18,5 11 16,5 35 35,0 Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel di atas, dari 89 responden diketahui bahwa ibu yang memiliki peran petugas kesehatan kurang tapi merasa layanan imunisasi baik sebanyak 18,5% sementara 28,5% merasa kurang baik, sebaliknya ibu yang memiliki peran petugas kesehatan cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik sebanyak 25,5% sementara 16,5% merasa baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,019 . < 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran petugas kesehatan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kabupaten Sidenreng Rappang. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Tabel 12. Hasil Analisis Hubungan Akses Layanan dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Akses Layanan Kurang Cukup Total Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar Kurang Baik Total Value 44,0 0,387 Baik 15 17,3 20 17,7 35 35,0 Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel di atas, dari 89 responden diketahui bahwa ibu yang memiliki akses layanan kurang tapi merasa layanan imunisasi baik sebanyak 17,3% sementara 26,7% merasa kurang baik, sebaliknya ibu yang memiliki akses layanan cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik sebanyak 27,3% sementara 17,7% merasa baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,387 . > 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara akses layanan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kabupaten Sidenreng Rappang. Pembahasan Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi Ibu yang mempunyai pengetahuan kurang tapi merasa bahwa mendapatkan layanan imunisasi baik. Hal ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan sekitar, seperti dukungan dari keluarga atau dorongan dari kader dan petugas kesehatan yang memberikan informasi langsung serta mengajak secara aktif ke posyandu. Selain itu, kemudahan akses terhadap layanan juga bisa menjadi faktor penting yang mendorong ibu tetap membawa anaknya untuk diimunisasi meskipun pemahaman mereka belum mendalam. Sebaliknya, ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup tapi layanan imunisasinya kurang baik. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain seperti keterbatasan waktu, beban pekerjaan, atau kurangnya dukungan dari orang terdekat. Beberapa ibu mungkin juga mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat mengakses layanan sebelumnya, sehingga menurunkan motivasi untuk datang kembali. Di sisi lain, meskipun pengetahuan Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario mereka baik, sebagian ibu mungkin masih terpengaruh oleh informasi yang salah atau mitos yang beredar di masyarakat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Andini Putri Setiawan et al. yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 9Ae12 bulan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ibu dengan pengetahuan yang kurang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak melengkapi imunisasi anaknya dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan baik (Putri Setiawan et al. , 2. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh temuan dari Linni Susila Harianja et al. di Puskesmas Gunung Baringin. Mandailing Natal, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan kunjungan untuk imunisasi dasar. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa rendahnya pengetahuan menyebabkan ibu kurang memahami pentingnya imunisasi, yang pada akhirnya berdampak pada minimnya kunjungan ke fasilitas kesehatan. (Linni Susila Harianja et al. , 2. Penelitian Orlandina Misa . di Puskesmas Lelogama Kupang juga mendukung temuan ini, dengan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar. Ibu yang memiliki pengetahuan cukup atau baik cenderung lebih memahami manfaat, jadwal, serta kemungkinan efek samping imunisasi, sehingga lebih patuh dalam membawa anak untuk mengikuti imunisasi sesuai jadwal (MISA, 2. Secara teori, hasil ini sesuai dengan konsep faktor predisposisi dari teori Lawrence Green, yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu komponen utama yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang. Pengetahuan yang baik membentuk kesadaran dan sikap positif yang dapat mendorong perilaku kesehatan, termasuk dalam memanfaatkan imunisasi dasar. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario menunjukkan bahwa adanya hubungan antara sikap ibu dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Ibu yang memiliki sikap kurang tapi merasa layanan imunisasi baik dipengaruhi oleh faktor eksternal yang cukup kuat. Dorongan dari keluarga, khususnya suami atau orang tua, yang berperan aktif dalam pengambilan keputusan kesehatan anak. Dalam hal ini, ibu memiliki tanggung jawab sosial atau hanya mengikuti kebiasaan lingkungan sekitar tanpa sepenuhnya memahami atau menerima pentingnya imunisasi. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Sebaliknya, ibu yang memiliki sikap cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik karena mengalami hambatan non-psikologis yang menghalangi mereka. Adanya kesibukan harian, jadwal layanan yang tidak sesuai, atau kondisi anak yang sering sakit sehingga imunisasi ditunda terus-menerus. Selain itu, ibu pernah mengalami pelayanan yang tidak memuaskan, seperti antrean panjang atau petugas yang kurang ramah, sehingga menurunkan motivasi meskipun secara sikap mereka sebenarnya mendukung imunisasi. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Sri Rahayu dkk. yang juga menemukan bahwa sikap ibu berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan imunisasi dasar. Meskipun dalam analisis lanjutan variabel sikap tidak menjadi faktor dominan, tetap terlihat bahwa ibu yang memiliki sikap positif lebih cenderung menyelesaikan jadwal imunisasi anaknya (Rahayu et al. , 2. Selain itu, penelitian oleh Putrinal Lucvy Rezy . juga menemukan bahwa ibu dengan sikap negatif cenderung tidak melengkapi imunisasi dasar bayi. Hal ini menunjukkan bahwa sikap ibu sangat berpengaruh terhadap keputusan dalam membawa anak ke fasilitas kesehatan (Rezy. Penelitian oleh Indah Yasilfa Pangestika . turut menguatkan hasil ini, di mana sikap ibu berhubungan erat dengan cakupan imunisasi dasar. Sebagian besar ibu yang bersikap negatif menyatakan takut anaknya sakit atau demam setelah diimunisasi, bahkan ada yang tidak yakin dengan manfaatnya. Ini menggambarkan bahwa kurangnya pemahaman dan adanya kekhawatiran yang berlebihan dapat membentuk sikap negatif terhadap imunisasi. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengubah persepsi ini melalui edukasi yang menyentuh aspek emosional dan pemahaman yang benar tentang vaksinasi (Padang & Pangestika, 2. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario menunjukkan bahwa adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Ibu yang memiliki dukungan keluarga kurang tapi merasa layanan imunisasi baik terjadi karena adanya motivasi internal yang kuat dari ibu, pemahaman yang baik tentang manfaat imunisasi, pengalaman sebelumnya yang positif, atau dukungan dari tenaga kesehatan yang ramah dan mudah dijangkau. Sebaliknya, ibu yang memiliki dukungan keluarga cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik. Hal ini Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario disebabkan oleh faktor eksternal seperti kualitas layanan yang tidak konsisten, antrian panjang, kurangnya informasi yang jelas, atau sikap petugas yang kurang ramah. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Intan Tri Rezky dan rekan-rekannya . di Puskesmas Cot BaAou. Sabang, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dan pemanfaatan pelayanan imunisasi dasar. Dalam penelitian tersebut, ibu yang tidak mendapat dukungan dari keluarga sebagian besar tidak memanfaatkan layanan imunisasi. Ini menunjukkan bahwa keputusan imunisasi bukan hanya ditentukan oleh ibu, tetapi juga dipengaruhi oleh norma, nilai, dan pendapat anggota keluarga lain terutama suami dan orang tua (Tri et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Puspita Sari dan rekan-rekannya . di Kota Jambi juga mendukung temuan ini, di mana dukungan keluarga terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Penelitian ini menyoroti bahwa rendahnya dukungan keluarga berkorelasi dengan rendahnya kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. Banyak keluarga yang kurang memberi informasi atau bahkan tidak menyadari pentingnya imunisasi, sehingga ibu tidak mendapat dorongan Oleh karena itu, edukasi tentang imunisasi tidak hanya perlu diberikan kepada ibu, tetapi juga kepada seluruh anggota keluarga, khususnya suami sebagai pengambil keputusan dalam rumah tangga (Sari et al. , 2. Penelitian Riznawati Agusty dan rekan-rekannya . di Garut menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki pengaruh terhadap perilaku kunjungan ibu ke posyandu, sehingga memperkuat bukti bahwa peran keluarga sangat penting dalam mendorong partisipasi ibu dalam layanan kesehatan anak. Ibu yang mendapat dukungan keluarga cenderung lima kali lebih besar kemungkinannya untuk aktif mengunjungi posyandu dibandingkan yang tidak mendapat dukungan. Artinya, keterlibatan keluarga dalam mendukung kegiatan kesehatan seperti imunisasi tidak hanya meningkatkan cakupan layanan, tetapi juga mendorong keberlanjutan kebiasaan positif dalam perawatan anak (Sri Dinengsih & Riznawati Agusty, 2. Hubungan Petugas Kesehatan dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario menunjukkan bahwa adanya hubungan antara petugas kesehatan dengan pemanfaatan layanan imunisasi Ibu yang memiliki peran petugas kesehatan kurang tapi merasa layanan imunisasi Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengalaman pribadi ibu yang sudah terbiasa mengakses layanan imunisasi, pengetahuan yang cukup tentang imunisasi, atau Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. dukungan dari lingkungan lain seperti keluarga atau tetangga yang mendorong mereka tetap memanfaatkan layanan meskipun tanpa keterlibatan aktif dari petugas kesehatan. Selain itu, persepsi ibu terhadap "layanan yang baik" bisa saja terbentuk hanya dari ketersediaan vaksin dan waktu pelayanan yang tepat, tanpa terlalu memperhatikan aspek komunikasi atau edukasi dari petugas. Sebaliknya, ibu yang memiliki peran petugas kesehatan cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik. Hal ini terjadi karena pelayanan yang diberikan belum sesuai harapan ibu, seperti adanya keterlambatan, antrian yang panjang, atau kurangnya kenyamanan selama berada di posyandu. Selain itu, meskipun petugas sudah menjalankan peran secara teknis, namun, jika petugas tidak bersikap ramah dan tidak membangun kedekatan dengan ibu, hal itu bisa membuat ibu merasa pelayanan yang diberikan belum cukup baik. Kondisi pribadi ibu, seperti kelelahan, kesibukan, atau pengalaman negatif sebelumnya, memengaruhi persepsi mereka terhadap mutu layanan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas dan peran aktif petugas kesehatan di tingkat layanan dasar. Keterlibatan mereka tidak hanya memengaruhi akses layanan, tetapi juga membentuk persepsi dan perilaku masyarakat dalam hal kesehatan Oleh karena itu, strategi peningkatan pelayanan imunisasi sebaiknya turut mempertimbangkan aspek komunikasi dan relasi interpersonal antara petugas dan pengguna layanan. Hal ini menandakan bahwa keberadaan dan peran aktif petugas kesehatan, baik dalam memberikan informasi, motivasi, maupun pendampingan, sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan kemauan ibu untuk membawa anaknya ke layanan imunisasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatimah dan rekanrekannya . di UPT Puskesmas Poris Gaga Lama. Kota Tangerang, yang menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan yang optimal berkontribusi besar dalam meningkatkan kemungkinan ibu untuk memberikan imunisasi PCV secara lengkap. Penelitian tersebut juga mengindikasikan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara keterlibatan tenaga kesehatan dengan kepatuhan imunisasi. Ini berarti ibu yang dilayani oleh petugas dengan peran baik memiliki kemungkinan lebih dari 20 kali lipat untuk termotivasi memberikan imunisasi kepada bayinya dibandingkan ibu yang dilayani oleh petugas dengan peran rendah (Fatimah et al. , 2. Penelitian Intan Tri Rezky dan rekan-rekannya . di Puskesmas Cot BaAou. Kota Sabang, juga mendukung hasil tersebut, di mana peran petugas kesehatan terbukti memiliki hubungan yang bermakna dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi dasar. Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Kesamaan hasil ini menguatkan bahwa keterlibatan aktif, pendekatan yang ramah, serta komunikasi yang baik dari petugas kesehatan menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi ibu dalam program imunisasi. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa petugas kesehatan yang berperan aktif dalam penyuluhan dan pelayanan lapangan mendorong peningkatan cakupan imunisasi. Hal ini menunjukkan pentingnya keberadaan petugas sebagai ujung tombak keberhasilan program imunisasi di tingkat komunitas (Tri et al. Penelitian Hasanah dan rekan-rekannya . di Puskesmas Tapaktuan. Aceh Selatan, juga mendukung hasil penelitian ini. Mereka menemukan bahwa sebagian besar responden menilai petugas kesehatan tidak menjalankan perannya secara optimal, dan kondisi tersebut berkaitan erat dengan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap di wilayah tersebut. Kelemahan dalam edukasi, minimnya kunjungan rumah, serta kurangnya keterlibatan petugas dalam menjawab pertanyaan atau kecemasan ibu menjadi penyebab rendahnya partisipasi. Dengan kata lain, keberhasilan imunisasi bukan hanya soal ketersediaan vaksin, tetapi juga interaksi dan kepercayaan antara ibu dan petugas kesehatan (Hasanah et al. , 2. Hubungan Akses Layanan dengan Pemanfaatan Layanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Terkini 1 Desa Mario menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara akses layanan dengan pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Ibu yang memiliki akses layanan kurang tapi merasa layanan imunisasi Hal ini terjadi karena ibu memiliki komitmen dan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya imunisasi, sehingga mereka tetap berupaya datang ke posyandu meskipun aksesnya sulit. Selain itu, persepsi terhadap Aulayanan yang baikAy dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang memuaskan saat tiba di posyandu, seperti pelayanan cepat, petugas yang ramah, dan ketersediaan vaksin. Dengan kata lain, kualitas pelayanan yang dirasakan bisa menutupi keterbatasan akses fisik. Sebaliknya. Ibu yang memiliki akses layanan cukup tapi merasa layanan imunisasinya kurang baik. Hal ini disebabkan oleh kekecewaan terhadap aspek teknis atau non-teknis pelayanan, seperti antrean panjang, keterlambatan petugas, atau interaksi yang kurang menyenangkan. Ibu dengan akses mudah bisa memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap mutu layanan, sehingga jika pelayanan tidak sesuai harapan, mereka justru menilai negatif. Selain itu, adanya kebutuhan lain yang bersaing dengan jadwal posyandu juga dapat membuat ibu merasa pelayanan tersebut kurang efektif bagi mereka. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam meningkatkan cakupan imunisasi, pendekatan yang hanya berfokus pada perbaikan akses geografis mungkin belum cukup. Perlu adanya intervensi lain yang bersifat edukatif dan komunikatif agar ibu tidak hanya mampu menjangkau layanan, tetapi juga memiliki pemahaman dan kepercayaan terhadap pentingnya imunisasi sebagai bagian dari perlindungan kesehatan anak. Perbedaan yang kecil antara kelompok akses kurang dan cukup ini menunjukkan bahwa akses bukanlah faktor dominan dalam memengaruhi perilaku pemanfaatan imunisasi Hasil ini memiliki kesamaan dengan penelitian Vivi Syofia Sapardi dkk. yang dilakukan di Puskesmas Lubuk Buaya. Padang. Penelitian mereka menemukan bahwa sebagian besar responden . %) tinggal dekat dengan layanan imunisasi, tetapi tetap ada ibu yang tidak patuh dalam melengkapi imunisasi dasar. Ini menunjukkan bahwa meskipun secara geografis akses sudah baik, faktor lain seperti pengetahuan, sikap, atau dukungan keluarga juga memengaruhi. Namun demikian, mereka tetap menekankan bahwa akses yang dekat dapat mendorong peningkatan kepatuhan bila disertai pendekatan lain (Sapardi et al. , 2. Berbeda dengan itu, penelitian Wa Ode Sofyan Kartina dkk. di Puskesmas Liya. Wakatobi, menyatakan tidak terdapat hubungan signifikan antara akses layanan dan status imunisasi dasar lengkap. Meskipun hasil ini kontradiktif, perlu dipahami bahwa tidak semua akses yang Auterlihat mudahAy benar-benar dirasakan mudah oleh ibu, tergantung kondisi sosial, budaya, atau persepsi risiko mereka. Bahkan jika posyandu dekat, ibu bisa tetap enggan membawa anak jika tidak ada dukungan keluarga atau ada rasa takut terhadap efek samping imunisasi (Kartina et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan A Pengetahuan ibu memiliki hubungan yang signifikan terhadap pemanfaatan layanan imunisasi dasar. Ibu yang memiliki pengetahuan baik mengenai manfaat imunisasi, jadwal pemberian, serta jenis-jenis vaksin, cenderung lebih aktif dalam membawa anaknya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan ibu, maka semakin besar pula kemungkinan ibu melakukan tindakan pencegahan penyakit melalui imunisasi. Sikap ibu terhadap imunisasi juga terbukti berhubungan dengan pemanfaatan layanan. Ibu yang memiliki sikap positif dan percaya terhadap pentingnya imunisasi, lebih Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Dasar di Posyandu Terkini 1 Desa Mario konsisten dalam menjalani program imunisasi anak. Sebaliknya, ibu yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap efek samping vaksin atau kurang meyakini manfaat imunisasi, cenderung enggan membawa anaknya ke posyandu. Dukungan keluarga, terutama dari suami atau anggota keluarga terdekat, memberikan pengaruh besar terhadap pemanfaatan imunisasi. Ibu yang mendapat dukungan emosional dan praktis dari keluarga lebih terdorong untuk menjalankan imunisasi anak secara lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa imunisasi bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga memerlukan keterlibatan seluruh anggota keluarga. Peran petugas kesehatan, khususnya kader posyandu, menjadi elemen penting dalam meningkatkan kesadaran dan kepatuhan ibu terhadap imunisasi. Petugas yang aktif dalam penyuluhan, bersikap ramah, dan mampu memberikan informasi dengan baik dapat menumbuhkan kepercayaan ibu terhadap layanan imunisasi. Kader yang terlatih dan konsisten mendampingi masyarakat akan memperkuat pelaksanaan program imunisasi di tingkat desa. Akses Pelayanan seperti jarak rumah ke posyandu dan waktu tempuh tidak menunjukkan terhadap pemanfaatan Hal mengindikasikan bahwa meskipun akses fisik penting, faktor pengetahuan, sikap, dan dukungan sosial lebih dominan dalam memengaruhi keputusan ibu untuk membawa anaknya imunisasi. Namun demikian, penyediaan akses yang nyaman tetap perlu dipertimbangkan agar tidak menjadi hambatan tambahan. Saran o Bagi Ibu Balita Diharapkan para ibu dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya imunisasi dasar bagi anak balita, dengan aktif mengikuti penyuluhan kesehatan dan memanfaatkan sumber informasi yang terpercaya. Ibu juga diharapkan membentuk sikap positif terhadap imunisasi, serta tidak ragu membawa anak ke posyandu sesuai jadwal yang ditetapkan agar perlindungan terhadap penyakit dapat tercapai secara optimal. o Bagi Keluarga Keluarga, khususnya suami dan anggota keluarga terdekat, diharapkan memberikan dukungan yang nyata kepada ibu, baik berupa motivasi, izin, maupun bantuan dalam mengakses pelayanan imunisasi. Dukungan emosional dan praktis dari keluarga sangat penting untuk memperkuat keputusan ibu dalam menjaga kesehatan anak melalui imunisasi yang tepat waktu dan lengkap. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. o Bagi Petugas Kesehatan dan Kader Posyandu Petugas kesehatan dan kader posyandu diharapkan meningkatkan intensitas edukasi dan komunikasi kepada masyarakat, terutama kepada ibu-ibu yang belum optimal dalam memanfaatkan layanan imunisasi. Pelatihan terkait pendekatan interpersonal dan penyampaian informasi yang mudah dipahami sangat penting agar masyarakat lebih menerima dan percaya terhadap imunisasi. Selain itu, kunjungan rumah dan penyuluhan kelompok hendaknya ditingkatkan sebagai strategi menjangkau ibu yang tidak aktif datang ke posyandu. o Bagi Pihak Puskesmas dan Pemerintah Desa Puskesmas dan pemerintah desa diharapkan mendukung program imunisasi melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai serta penguatan promosi kesehatan di tingkat masyarakat. Upaya kolaboratif antara petugas kesehatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama diperlukan untuk menghapus stigma dan mitos yang masih berkembang di masyarakat mengenai imunisasi. o Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, terutama dalam pendekatan data yang bersifat kuantitatif. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode kualitatif atau kombinasi . ixed metho. agar dapat mengeksplorasi lebih dalam mengenai faktor sosial, budaya, dan psikologis yang memengaruhi pemanfaatan Selain itu, cakupan wilayah yang lebih luas juga dapat digunakan agar hasil penelitian menjadi lebih representatif dan dapat dibandingkan antar daerah. DAFTAR PUSTAKA