Indonesian Dental Association Journal of Indonesian Dental Association http://jurnal. id/index. php/jida ISSN: 2621-6183 (Prin. ISSN: 2621-6175 (Onlin. Functional Crown Lengthening: Biological Width Correction Regia Aristiyanto1A. Diatri Nari Ratih2 1 Department of Conservative Dentistry. Faculty of Medicine and Health Sciences. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Indonesia 2 Department of Conservative Dentistry. Faculty of Dentistry. Universitas Gadjah Mada. Indonesia Received date: November 18, 2019. Accepted date: February 3, 2020. Published date: February 20, 2020. KEYWORDS biological width. functional crown lengthening. root canal retreatment. post crown ABSTRACT Introduction: Functional crown lengthening is one of the most common surgical procedures that facilitating restorative treatment. It was done on teeth with inadequate clinical crowns in the presence of deep and subgingival pathologies. Inadequate clinical crowns defined as tooth with less than 2 mm cervico-incisal of sound. Case Report: The 32 years old female patient complained on broken restoration on upper left anterior tooth since one week ago. He also complained about upper right anterior tooth that turned brown. The tooth had received root canal treatment with direct composite restoration since 3 years ago, but the restoration on tooth 11 and 21 was broken. The remaining crown on tooth 11 and 21 was less than 2 mm. The periapical radiograph examination showed tooth 11 and 21 was non-hermetic obturation. Functional crown lengthening and root canal treatment was performed on teeth 11 and 21, with porcelain crown restoration and fiber post. Conclusion: Functional crown lengthening result affects the quality of post retreatment restoration. The success of functional crown lengthening is marked by no recurrent gingival hyperplasia after functional crown lengthening. A Corresponding Author E-mail address: regia@umy. id (Aristiyanto R) DOI: 10. 32793/jida. Copyright: A2020 Aristiyanto R. Ratih DN. This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium provided the original author and sources are credited. Journal of Indonesian Dental Association 2020 3. , 43-36 Aristiyanto R, et al. KATA KUNCI ABSTRAK biological width. crown lengthening fungsional. perawatan ulang saluran akar. pasak mahkota jaket Latar Belakang: Crown lengthening fungsional merupakan salah satu prosedur bedah yang paling umum dilakukan untuk mendukung restorasi. Prosedur crown lengthening fungsional dilakukan pada gigi dengan mahkota klinis yang tidak memadai karena adanya kondisi Mahkota klinis yang tidak memadai didefinisikan sebagai mahkota gigi dengan panjang serviko-insisal kurang dari 2 mm. Studi Kasus: Pasien pria berumur 32 tahun mengeluhkan tambalan gigi kiri bagian depan atas patah sejak satu minggu yang lalu, serta mengeluhkan tambalan gigi kanan bagian depan atas goyang dan berubah warna menjadi Gigi telah dilakukan perawatan saluran akar dengan restorasi resin komposit sejak tiga tahun yang lalu, namun restorasi pada gigi 11 dan 21 patah. Terlihat mahkota yang tersisa pada gigi 11 dan 21 kurang dari 2 mm. Pemeriksaan radiograf periapikal menunjukkan bahwa obturasi pada gigi 11 dan 21 tidak hermetis. Dilakukan crown lengthening fungsional dan retreatment pada gigi 11 dan 21, dengan restorasi mahkota jaket porselin dan pasak fiber. Kesimpulan: Hasil perawatan crown lengthening fungsional dapat mempengaruhi kualitas restorasi pasca retreatment. Keberhasilan crown lengthening fungsional ditandai dengan ketiadaan hiperplasi gingiva ulang pasca crown lengthening fungsional. PENDAHULUAN kanan bagian depan atas goyang dan berubah warna menjadi kecoklatan. Pasien juga mengeluhkan bahwa dua gigi tersebut sakit sejak sekitar enam bulan yang lalu jika digunakan untuk makan. Gigi tersebut pernah dirawat beberapa kali kunjungan dan ditambal dengan bahan tambalan sewarna gigi sekitar tiga tahun yang lalu. Pasien tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik dan tidak sedang dalam pengobatan medis. Prosedur crown lengthening fungsional merupakan salah satu perawatan yang sering dilakukan untuk mengekspos atau membuka permukaan akar dengan merubah posisi jaringan gusi dan tepi tulang alveolar lebih ke apikal. 1 Prosedur tersebut bertujuan mempertahankan biological width yang berhubungan dengan kesehatan jaringan periodontal, serta memberikan retensi dan resistensi yang cukup pada restorasi yang akan dilakukan. Pemeriksaan objektif menunjukkan bahwa terdapat tumpatan resin komposit pada seluruh bagian mahkota gigi 11 dengan kondisi goyang dan terdapat perubahan warna, serta tampak sisa struktur gigi sekitar 1 mm. Gigi 21 menyisakan struktur gigi sekitar 0,5 mm supra gingiva (Gambar . Pemeriksaan perkusi positif pada gigi 11 dan 21, sedangkan pemeriksaan palpasi dan mobilitas menunjukkan hasil negatif. Gigi yang membutuhkan retreatment saluran akar pada umumnya memiliki kondisi dengan karies sekunder, fraktur pada mahkota dan atau fraktur pada restorasi yang Tantangan pada retreatment saluran akar berkaitan dengan isolasi, pengambilan bahan pengisi saluran akar dari perawatan sebelumnya, serta restorasi akhir. 3 Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan retreatment saluran akar adalah restorasi akhir. 4 Restorasi akhir pasca retreatment saluran akar harus mampu mempertahankan dan melindungi struktur gigi yang ada, serta mengembalikan fungsi mastikasi dan estetik. Pemeriksaan radiograf pada gigi 11 dan 21 menunjukkan terdapat area radiopak pada saluran akar, namun terdapat area radiolusen pada 1/3 tengah saluran akar gigi 11. Area radiopak pada saluran akar gigi 21 terlihat kurang mencapai panjang gigi. Pada mahkota gigi 11 terdapat area radiopak pada seluruh permukaan mahkota dan terdapat radiolusen pada bagian 1/3 koronal saluran akar. Diagnosis yang ditegakkan pada gigi 11 dan 21 adalah previously treated disertai periodontitis apikalis simtomatik. Rencana perawatan pada gigi 11 dan 21 adalah crown lengthening, retreatment saluran akar, serta mahkota jaket porselin disertai pasak fiber. Gigi dengan kondisi mahkota yang hilang lebih dari setengah membutuhkan pasak saluran akar. Fungsi utama penggunaan pasak adalah retensi dan mempertahankan inti pada gigi yang telah kehilangan struktur koronal secara luas. 6 Penggunaan mahkota jaket porselen telah digunakan secara luas karena mampu memberikan hasil yang lebih estetis dibanding bahan restorasi lain. Kunjungan pertama dilakukan pada tanggal 2 Juli Dilakukan pengukuran untuk prosedur crown lengthening fungsional pada gigi 11 dan 21. Hasil pengukuran menunjukkan kedalaman sulkus hasil probing 0,5 mm (A), perkiraan jarak CEJ Ae alveolar crest berdasarkan radiograf 2 mm (B), biologic width yang STUDI KASUS Pasien wanita berusia 32 tahun mengeluhkan tambalan gigi kiri bagian depan atas patah sejak satu minggu yang lalu, serta mengeluhkan tambalan gigi Journal of Indonesian Dental Association 2020 3. , 43-36 Aristiyanto R, et al. preparasi dikonfirmasi dengan foto radiografi (Gambar 8A, 8B dan 8C). Kemudian, dilakukan prosedur etsa dengan asam fosfat 37% dan bonding (Prime and Bond Universal. Dentspl. Pasak fiber diinsersi dengan semen resin (RelyX U200,3M ESPE) dan dilakukan core build up menggunakan Fiber Reinforced Core Material (Build-it FR. Pentro. , kemudian dilakukan pemeriksaan radiograf (Gambar . Preparasi mahkota jaket dilakukan, kemudian pencetakan model kerja dengan hydrophilic polysiloxane impression material dan vinyl polysiloxane impression material. Gambar 6. Foto klinis kontrol satu minggu pasca crown Kunjungan selanjutnya dilakukan sementasi mahkota jaket porselin dengan semen resin (RelyX U200,3M ESPE), kemudian dilakukan pemeriksaan warna, kontur, embrasur, kerapatan tepi, oklusi dan kontak proksimal (Gambar . Kontrol satu minggu pasca insersi mahkota jaket pasien tidak ada keluhan, mahkota jaket pada gigi 11 dan 21 dalam keadaan baik, serta tidak terdapat kelainan pada margin gingiva dan jaringan lunak di sekitar gigi 11 dan 21. Gambar 7. (A) Pengepasan master cone terlihat guta perca sesuai dengan panjang kerja (B) Hasil obturasi saluran akar gigi 11 dan 21 Gambar 8. Gambaran radiografi pasca pengurangan guta perca dan tracing dengan precission drill (A) pada gigi 11 dan (B) pada gigi 21. (C) Pengepasan pasak gigi 11 Gambar 4. (A) Pembersihan sisa jaringan lunak menggunakan kuret (B) irigasi dengan larutan salin Gambar 9. Radiografi periapikal pasak yang telah disementasi pada gigi 11 dan 21 Gambar 5. (A) Penjahitan dengan teknik interupted (B) Aplikasi periodontal pack Gambar 10. Foto klinis pasca insersi mahkota jaket Journal of Indonesian Dental Association 2020 3. , 43-36 Aristiyanto R, et al. PEMBAHASAN DAFTAR PUSTAKA