Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG (Suatu Kasus Petani Bunga Krisan di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur. Jawa Bara. THE ROLE OF AGRICULTURAL POLICIES AND INSTITUTIONS ON THE SUCCESS OF CUT CHRYSEN'S (Chrysanthemum s. FLOWER BUSINESS (A Case of Chrysanthemum Farmers in Sukaresmi District. Cianjur Regency. West Jav. Yatti Rachmawati*1. Euis Dasipah2. Karyana Ks2 Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perbukan dan Ketahan Pangan Kabupaten Cianjur Magister Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Winaya Mukti *Email: yattirachmawati@gmail. (Diterima 03-03-2022. Disetujui 11-04-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak Kebijakan Pertanian dan Kelembagaan Pertanian terhadap Keberhasilan Pertanian Bunga Krisan Potong. Metode yang digunakan adalah survei petani di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur. Data diambil sejak Agustus 2021 hingga Oktober 2021 berdasarkan teknik sensus yang diperoleh dari 70 responden. Teknik analisis untuk menguji hipotesis yang digunakan adalah SEM (Structural Equetion Modelin. Hasil yang diperoleh dari penelitian peran kinerja kebijakan pertanian dalam rangka keberhasilan pertanian krisan potong di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur, yang meliputi: Kebijakan input Kebijakan Pemasaran. Kebijakan Penelitian. dan polis kredit memperoleh tingkat pencapaian sebesar 63,57% dengan kriteria yang baik. Kinerja Peran Lembaga Pertanian yang meliputi: Lembaga input produksi. Lembaga Pemasaran. Lembaga Keuangan. Lembaga Kelompok Tani. dan Lembaga Penelitian dalam rangka keberhasilan pertanian krisan potong di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur, memperoleh tingkat pencapaian sebesar 68,25%, kriteria yang baik. Kinerja keberhasilan pertanian krisan potong di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur, yang terdiri dari: Kualitas. Produktivitas. dan tingkat keuntungan pertanian memperoleh tingkat pencapaian sebesar 66,70%, kriterianya Bagus. Ada hubungan yang cukup kuat antara Kebijakan Pertanian dan Lembaga Pertanian seperti yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi 0,89. Semakin baik Kebijakan Pertanian, semakin baik lembaga pertanian. dan sebaliknya. Kebijakan pertanian dan kelembagaan pertanian memiliki efek positif pada keberhasilan budidaya bunga potong krisan. Total pengaruh kebijakan pertanian terhadap keberhasilan pertanian adalah 6,91%, dan total pengaruh lembaga pertanian adalah 83,71%. Semakin tinggi/lebih baik Kebijakan Pertanian dan Lembaga Pertanian, keberhasilan budidaya bunga potong krisan akan semakin tinggi. Kata kunci: Kebijakan . Kelembagaan. Keberhasilan ABSTRACT This study aims to determine the effect of Agricultural Policy and Agricultural Institutions on the Success of Cut Chrysanthemum Flower Farming. The method used is a survey of farmers in Sukaresmi District. Cianjur Regency. Data was taken from August 2021 to October 2021 based on the census technique obtained by 70 respondents. The analytical technique for testing the hypothesis used is SEM (Structural Equetion Modelin. The results obtained from the research on the role performance of agricultural policies in the context of the success of cut chrysanthemum farming in Sukaresmi District. Cianjur Regency, which include: Production input policies. Marketing Policy. Research Policy. and credit policy obtained an achievement level of 63. with good criteria. Performance of the Role of Agricultural Institutions which includes: Production input institutions. Marketing Institutions. Financial Institutions. Farmer Group Institutions. PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks Research Institutions in the context of the success of cut chrysanthemum farming in Sukaresmi District. Cianjur Regency, obtained an achievement rate of 68. 25%, good criteria. The performance of the success of cut chrysanthemum farming in Sukaresmi District. Cianjur Regency, which consists of: Quality. Productivity. and the level of profit of farming obtained an achievement level of 66. 70%, the criteria are Good. There is a fairly strong relationship between Agricultural Policy and Agricultural Institutions as indicated by a correlation coefficient of 0. The better the Agricultural Policy, the better the agricultural institutions and vice versa. Agricultural policies and agricultural institutions have a positive effect on the success of chrysanthemum cut flower farming. The total influence of agricultural policies on farming success 91%, and the total influence of agricultural institutions is 83. The higher/better Agricultural Policy and Agricultural Institutions, the success of chrysanthemum cut flower farming will be higher. Keywords: Policy . Institutional. Success investasi florikultura, khususnya bunga PENDAHULUAN Krisan (Dendrathem grandiflora krisan potong. Tzvelev Syn. Chrysanthemum morifolium Sentra produksi krisan potong di Rama. merupakan salah satu jenis bunga Kabupaten potong unggulan nasional yang populer Kecamatan Sukaresmi. Pacet. Cugenang dan Cipanas, berada di wilayah pada penggunaan bunga krisan cukup masif. ketinggian berkisar 700-1. 200 m dpl. Krisan, terutama krisan potong banyak Kecamatan Sukaresmi diminati para dekorator, floris, hotel, restoran maupun pengguna krisan untuk penghias interior rumah. Bunga krisan juga digunakan untuk teh yang dapat pertanaman krisan potong sampai dengan bermanfaat untuk relaksasi. Tahun 2018 di Kecamatan Sukaresmi Indonesia. Produksi Penggunaan krisan di dalam negeri Cianjur Luas 613 tangkai yang diusahakan oleh dengan pertumbuhan tingkat pendapatan para petani sekitar 608 orang (BP3K dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kecamatan serta semakin meningkatnya gaya hidup Berdasarkan informasi dari petani mereka masyarakat golongan ekonomi menengah menjual krisan potong dengan harga Rp ke atas. Selain di pasar domestik krisan 000 per ikat . atu ikat 10 potong pun memiliki peluang yang cukup Usahatani krisan potong di besar untuk ekspor. Kondisi tersebut Kecamatan Sukaresmi merupakan usaha sangat mendukung bagi pertumbuhan dan turun temurun. Sukaresmi. Prospek usaha krisan potong ini sangat menjanjikan. Dengan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 pertumbuhan usahatani krisan potong dan Bisnis bunga krisan potong sangat nilai ekonomi yang cukup tinggi akan menggiurkan dimana omzet yang bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi didapatkan untuk sekali panen. Bahkan keuntungan yang bisa didapatkan dari diantaranya penyerapan tenaga kerja dari hasil panen tersebut mencapai 50% dari hulu sampai hilir. Hasil Selfiana Produksi Bunga Krisan Potong di Kabupaten Cianjur dari tahun ke tahun pendapatan yang diterima petani anggota pertumbuhan tingkat pendapatan dan 486/ha jauh lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi. Data Produksi pendapatan komoditas pertanian lainnya. Bunga Krisan Potong tahun 2016-2020 Hasil penelitian Lagana, dkk . disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. usahatani bunga krisan R/C 2,63 dan BEP Produksi Bunga Krisan Potong di Kabupaten Cianjur Tahun 20162020 Produksi Bunga Krisan Potong Tahun (Tangka. adalah strategi S-O yaitu strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang. Potensi pasar krisan potong kebijakan-kebijakan dan kelembagaannya Usahatani krisan potong yang yang memadai secara optimal supaya berdaya saing perlu diwujudkan dengan mencapai keberhasilan usahanya. upaya pengembangan yang berorientasi untuk pengembangan usahatani krisan perhotelan/perkantoran dan perorangan/ layak untuk dikembangkan. Kebijakan terutama untuk memenuhi kebutuhan Konsumen krisan usahatani krisan menguntungkan dan Bunga krisan potong diproduksi pasar domestik. Keberhasilan usahatani merupakan resultansi bekerjanya faktor-faktor baik efisiensi, mutu dan nilai tambah sehingga yang langsung maupun tidak langsung dapat berdaya saing di pasar dalam negeri maupun internasional. Hernanto PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks dikatakan berhasil maka usahatani itu tingat petani tidak saja untuk mendukung pada umumnya secara minimal harus dapat memenuhi syarat-syarat sebagai Usahatani harus dapat menghasilkan cukup pendapatan untuk membayar diharapkan mampu membantu petani alat-alat Kelembagaan Usahatani harus dapat menghasilkan ekonomi, namun sampai saat ini masih pendapatan yang dapat dipergunakan belum berfungsi secara optimal. Seiring untuk membayar bunga modal yang denggan hasil penelitian. Managanta, dkk . bahwa dukungan kelembagaan tersebut, baik modal milik petaninya sendiri maupun modal yang dipinjam pengolahan, dan bimbingan teknis relatif dari pihak lain. Usahatani yang bersangkutan harus kondusif bagi peningkatan kemandirian dapat membayar upah tenaga petani keempat bidang tersebut pun termasuk Peran kategori rendah. secara layak. Keberadaan kelembagaan pertanian Usahatani yang bersangkutan harus bagi petani merupakan keharusan guna paling sedikit berada dalam keadaan memperbaiki taraf hidup, harkat dan seperti semula. martabat petani. Pentingnya kelembagaan Usahatani harus dapat membayar pertanian kelompok tani sanat diperlukan tenaga petani sebagai manajer yang sebagai wadah petani untuk kelas belajar, harus mengambil keputusan. Berkaitan dengan pengembangan potong, maka keberadaan kelembagaan kelembagaan petani pertanian yang mendukungnya memiliki Indraningsih, dkk . , dan keberhasilan usahatani bunga krisan Keberadaan kelembagaan pertanian di dapat dilakukan untuk berpartisipasi dalam kelembagaan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 Selanjutnya Kelembagaan pedagang pengumpul/bandar, kelompok tani, penyuluh dan perguruan tinggi yang teknologi melalui kegiatan penyuluhan- penyuluhan dan lainnya. Marbun dkk Tujuan penelitian ini adalah untuk . menginformasikan bahwa peran mengetahui: . Capaian peran Kebijakan penyuluh pertanian berpengaruh terhadap pengembangan kelompok tani. usaha bunga krisan potong di Kecamatan Namun demikian, masih banyak dan masalah yang dalam konteks keberhasilan Sukaresmi Kabupaten Cianjur, . Capaian peran Kelembagaan pertanian dalam konteks keberhasilan usahatani bunga krisan potong di Kecamatan Sukaresmi Cianjur, tani yang Kabupaten sulitnya petani menyerap materi yang Capaian keberhasilan usahatani bunga krisan potong di Kecamatan Sukaresmi penyuluhan yang tidak bisa ditentukan. Kabupaten Cianjur, dan . Pengaruh Hal itu disebabkan oleh petani sulit pertemuan dan petani memerlukan bukti sebelum petani Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur. menerapkannya, (Halimah dan Subari. Demikian juga halnya dengan METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur dimana produksi, penyediaan modal, pemasaran Tedjaningsih, dkk . menunjukkan Penelitian untuk kinerja kelembagaan agribisnis Agustus sampai dengan Oktober 2021. Hasil sangat penting ditunjukkan petani merasa Krisan. Penelitian ini merupakan penelitian PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks verifikatif, dan menggunakan statistika yang memerlukan sejumlah responden yang relatif besar, maka dari sejumlah 70 variabel X1 (Kebijakan Pertania. dan (Kelembagaan responden atau dengan kata lain teknik penentuan responden dilakukan secara Pertania. (Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Poton. Data Objek dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, selanjutnya diolah, variabel X1 (Kebijakan Pertania. dan variabel X2 (Kelembagaan pertania. pengujian hipotesis, maka dilakukan sebagai variabel yang mempengaruhi terlebih dahulu analisis deskriptif untuk variabel Y (Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Poton. Ketiga variabel tersebut masing variabel penelitian: kebijakan merupakan variabel laten yang akan pertanian, faktor kelembagaan pertanian dan keberhasilan usahatani bunga krisan dimensi-dimensi Sebelum potong pelanggan Bunga Krisan Potong Yang Kabupaten Cianjur. Analisis dilakukan selanjutnya pengukuran dimensi adalah berdasarkan hasil jawaban kuesioner dari indikator-indikatornya. Pengukuran yang telah diisi responden. Selain itu, dilakukan berdasarkan teknik pemberian digunakan metode analisis kualitatif yang skor 4 . tingkatan, yaitu sangat baik mengemukakan data-data yang termasuk (SB). baik (B). cukup (C). dan kurang atau rendah (R). pentabulasian diberi penjelasan. Nilai subvariabel-subvariabelnya. Berdasarkan hasl studi pendahuluan tanggapan yang diperoleh dari kuesioner dan penjajagan ke lokasi penelitian dibobotkan berdasarkan skala diperoleh data dan informasi (Hasan, 2. sejumlah 65 orang petani bunga krisan Pengujian di Kabupaten Cianjur yang Likert Oleh Structural Equation Modeling (SEM). SEM merupakan model integrasi antara pengujian hipotesisnya digunakan adalah Analisis Faktor Konfirmatori. Model SEM (Structural Equetion Modellin. Estimasi, dan Analisis Jalur (Latan. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 Analisis Faktor Konfirmatori secara terintegrasi dengan analisis model bertujuan untuk pemeriksaan konstruksi struktural melalui analisis SEM. Model Estimasi bertujuan Pendekatan second order dalam untuk memperoleh model estimasi yang model pengukuran dimaksudkan agar bermanfaat dari hubungan antar variabel terdapat konsistensi perlakuan analisis Sedangkan Analisis Jalur bertujuan untuk mengurai kontribusi pengaruh dimensi-dimensinya masing-masing variabel-variabel laten dimensi melalui indikator-indikatornya. eksogen terhadap variabel laten endogen. Untuk kasus suatu indikator tersusun Selain itu, juga karena secara hipotetis, lebih dari satu item pernyataan, maka variabel-variabel laten eksogen diduga dikompositkan sebagai skor rata-rata data interval antar item yang terlibat. Model pengukuran dalam SEM dalam SEM terdapat tiga model yang Tahap easurement mode. , model struktural pengukuran masing-masing dimensi dari . tructural mode. dan model hybrid . ull variabel penelitian berdasarkan indikator- SEM Model indikator pengukurnya melalui Analisis Faktor Konfirmatori. Dalam hal ini, hubungan korelasi antara variabel laten dimensi merupakan variabel laten order pertama, sedangkan indikator merupakan Model struktural menggambarkan dan variabel manifesnya. Selanjutnya pada menjelaskan hubungan kausal . tahap kedua dibangun model pengukuran antar variabel laten penyebab terhadap masing-masing variabel laten akibat. Sedangkan model berdasarkan skor faktor dimensi-dimensi hybrid merupakan gabungan dari model Dalam hal ini, variabel pengukuran dan model struktural. merupakan variabel laten order kedua, . Model Pengukuran Latan . menyebutkan bahwa . econd variabelAevariabel sedangkan dimensi merupakan variabel Berikut Dalam tahap kedua ini, analisis model pengukuran dilakukan struktural dalam analisis SEM dengan PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks pendekatan dua tahap . econd orde. - A . terhadap Sumber Informasi Model Pengukuran Variabel Eksogen X1 (Kebijakan pertania. Model Pengukuran Variabel Endogen (Keberhasilan usahatani bunga krisan potong ) x11 = 11 X1 11 x12 = 12 X1 12 x13 = 13 X1 13 x14 = 14 X1 14 X1 = Kebijakan Pertanian X11 = Kebijakan input X12 = Kebijakan Pemasaran X13 = Kebijakan Penelitian X14 = Kebijakan Kredit = Residu . model dalam hubungan dengan variabel eksogen Kebijakan pertanian = Kekeliruan pengukuran dalam x1Ae (Variabel Eksogen Kebijakan pertania. yaitu 11- 14 = Koefisien pengaruh langsung antara variabel laten, yaitu : (A11 - A . terhadap Kebijakan pertanian y i A Ai Y A Au i lengkapnya adalah : y1 = 1 Y a1 y2 = 2 Y a2 y3 = 3 Y a3 y4 = 4 Y a4 y1 = Kualitas y2 = Produktivitas y3 = Kontinyuitas y4 = Harga yang diterima y5 = Tingkat Keuntungan (R/C) = Residu . model dalam hubungan dengan variabel Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong Au = Kekeliruan pengukuran dalam y1Ae y5(Variabel Endogen Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong ) yaitu Au1- Au4 = Koefisien pengaruh langsung antara latent variabel dengan dimensinya (A1 - A . terhadap Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong Model Pengukuran Variabel Eksogen (Kelembagaan x21 = 21X2 21 x22 = 22 X2 22 x23 = 23 X2 23 x24 = 24 X2 24 x25 = 25 X2 25 X2 = Kelembagaan Pertanian X21 = Kelembagaan input produksi X22 = Kelembagaan Pemasaran X23 = Kelembagaan Finansial X24 = Kelembagaan Klp Tani X25 = Kelembagaan Penyedia Informasi = Residu . model dalam hubungan dengan variabel eksogen Kelembagaan Eonomi = Kekeliruan pengukuran dalam x21Ae (Variabel Eksogen Faktor Kelembagaan Eonom. yaitu 21- 25 Koefisien pengaruh langsung antara variabel laten . , yaitu: (A21 . Model Struktural Hipotesis penelitian 1, 2, 3,dan 4, yang pada intinya adalah mengenai Kebijakan Kelembagaan Pertanian Pertanian potong akan diuji secara simultan dan dilanjutkan dengan uji secara parsial sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 variabel manifest . : Kebijakan A1. A1. A1. A1. A2. A2. A2. A2. A2. input (X. Kebijakan Pemasaran (X. A Au Kebijakan Au Kebijakan Kredit (X. Variabel bawah ini. Kebijakan (X. Kelembagaan Pemasaran (X. Kelembagaan Finansial (X. Harga yang diterima . Y = 1X1 2X2 d mana : = koefisien jalur variabel laten eksogen terhadap endogen . a = error atau faktor luar yang tidak diteliti . Uji Kesesuaian Model Secara Keseluruhan Uji kesesuaian model digunakan untuk menguji apakah model hubungan antar variabel, baik antara variabel laten . , produktivitas . , kontinyuitas . , manifest . : Kualitas bunga krisan . econd orde. di atas, model pengukuran Kelembagaan Potong (Y) terukur dari variabel-variabel serta persamaan model tahap kedua . Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan keterkaitan antar variabel yang diteliti Variabel Berdasarkan kerangka pemikiran Kelembagaan Penyedia Informasi (X. Model Keseluruhan Kelembagaan Kelompok Tani (X. , dan 12 = koefisien Kebijakan Pertanian dan Kelembagaan Pertanian . A1 = koefisien pengaruh Langsung Kebijakan Pertanian Terhadap Keberhaslan Usahatani Bunga Krisan Potong . A2 = koefisien pengaruh Langsung Kelembagaan Pertanian Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong . A = error/galat masing-masing variabel laten Variabel variabel-variabel (X. Kelembagaan Pertanian (X. terukur dari Gambar 1. Model Struktural Peran Kebijakan Pertanian dan Kelembagaan Pertanian Terhadap Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong Penelitian variabel laten, maupun keseluruhannya, merupakan model yang sesuai. Menurut Yamin . terdapat tiga tahap dalam Pertanian (X. terukur dari variabel- . oodness of fi. , yaitu: uji kesesuaian PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks model secara keseluruhan, uji kesesuaian nilai IFI antara 0,80 - 0,90 adalah model pengukuran, dan uji kesesuaian marginal fit. model struktural. Berikut ini indikator- Comparative Fit Index (CFI) indikator yang digunakan dalam menguji memiliki nilai berkisar antara 0-1. Nilai CFI Ou 0,90 merupakan good fit. Nilai CFI keseluruhan: Goodness of Fit Index antara 0,80 - 0,90 adalah marginal fit. (GFI), yaitu ukuran kemampuan suatu Parsimonious Goodness Fit model dalam menjelaskan hubungan Index (PGFI) merupakan pengembangan antar variabel melalui observed matriks dari GFI. Model yang baik memiliki Model yang baik memiliki GFI PGFI dengan nilai yang tinggi. Nilai yang mendekati 1. Nilai GFI Ou 0,90 PGFI Ou 0,70 adalah good fit, sedangkan menunjukkan good fit. Nilai GFI antara nilai PGFI antara 0,40 - 0,70 adalah 0,80 Ae 0,90 adalah marginal fit. marginal fit. Root Mean Approximation Square (RMSEA), rataAerata Error Kriteria dirangkum dalam Tabel 2. Tabel 2. Kriteria Pengujian Goodness of Fit Goodness of Fit Cut-off Value Index GFI Ou 0,90 RMSEA O 0,08 ECVI Diharapkan besar N2 p Ou 0,05 atau Ou 0,01 IFI Ou 0,90 CFI Ou 0,90 PGFI Ou 0,70 Sumber: Kusnendi . RMSEA O 0,08 menunjukkan good fit. Expected Cross Validation Index (ECVI), merupakan ukuran uji kecocokan model pada kondisi validasi silang. Semakin besar nilai ECVI, semakin tinggi tingkat kesesuaian model. Chi Square (N. merupakan uji HASIL DAN PEMBAHASAN kesesuaian model yang berlandaskan Hasil Penelitian pada maximum likehood. Model yang Penelitian ini mengenai pengaruh baik memiliki nilai N2 yang rendah. Kebijaan Pertanian dan Kelembagaan Diharapkan memiliki probabilitas Ou 0,05 Pertanian atau probabilitas Ou 0,01. Fit Index model secara keseluruhan di atas dapat diperoleh dari degree of freedom. Nilai Incremental Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong. Hasil (IFI) survey dilakukan terhadap petani Bunga memiliki nilai berkisar antara 0-1. Nilai Krisan IFI Ou 0,90 adalah good fit, sedangkan di Kecamatan Sukaresmi. Kabupaten Cianjur. Provinsi Jawa Barat. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 Persepsi masing-masing petani terhadap Rekapitulasi Capaian Pertanian (X. Kebijakan pertanian memperlihatkan keadaan yang Tingkat capaian Kebijakan yang beragam sesuai dengan hasil penilaian meliputi: Kebijakan harga. diri mereka sendiri. Demikian juga pada input produksi. kebijakan pemasaran. keberhasilan usahatani yang dicapainya memperlihatkan keberagaman. kredit/permodalan diperoleh 63,57%, kriteria Baik. Dari keempat dimensi data mengenai usahatani diperoleh pada . Kebijakan pertanian tersebut. Hasil penelitian didasarkan tanam (MT) tahun 2021 dari sejumlah petani yang diambil seara capaian yang tertinggi adalah dalam hal sensus sebanyak 70 orang petani. Data Kebijakan hasil penelitian yang disajikan secara tabulasi guna menyajikan informasi dan Kebijakan untuk pengujian hipotesis. Tabel 3. Tabel 3. Tingkat Capaian Kebijakan Pertanian (X. Frekuensi petani pada Dimensi/Indikator/ Peneitian Rekapitulasi Kebijakan Tingkat Pertanian disajikan pada Capaian Harapan Tingkat (%) Kebijakan input 60,71 Cukup Kebijakan Pemasaran 60,71 Cukup Kebijakan Penelitian 66,43 Baik Kebijakan Kredit 66,43 Baik Jumlah 63,57 Baik Tingkat Capaian Pertanian (X. Skor Kriteria Keberadaan kelembagaan tersebut ada di Kelembagaan sekitar petani dan mudah diakses dan Kelembagaan pertanian yang terdiri Untuk atas keenam jenis kelembagaan diperoleh sawah dan bermacam pupuk selalu tingkat capaian 68,25%, kriteria Baik. tersedia baik pada pedagang personal Tampak Kelembagaan Sebagaimana yang diakui petani, bahwa memperlihatkan tingkat capaian yang keberadaan benih padi yang unggul dan bermutu adalah sangat penting menuju Pertanian Pemasaran 75,54% Kelembagaan Baik. awal keberhasilan usaharani mereka. PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks Selengkapnya Kelembagaan Pertanian Tabel 4. disajikan pada Tabel 4. Tingkat Capaian Kelembagaan Pertanian (X. Frekuensi petani pada skor Dimensi/Indikator Kelembagaan Kelompok Tani Kelembagaan Penyedia Input Kelembagaan Pemasaran Kelembagaan Permodalan Kelembagaan Penelititian Jumlah Tingkat (%) 66,43 66,43 Baik 75,54 66,43 66,43 68,25 Baik Baik Baik Baik Capaian Keberhasilan Bunga Krisan Potong (Y) Skor Capaian Harapan Kriteria Baik Tingkat Keuntungan diperoleh 68,79 %. Usahatani Capaian Keberhasilan Usahatani Baik. Tingkat Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong berdasarkan ketiga Bunga Krisan Potong yaitu 66,70% indikator: Produktivitas, 63,93% criteria Baik. Kualitas disampaikan pada Tabel 5. 68,93 % criteria Baik. Baik. Hasil Kontinyuitas 65,12% kriteria baik dan Tabel 5. Capaian Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong (Y) Notasi Frekuensi petani pada skor Skor Dimensi/Indikator Capaian Skor Harapan Produktivitas Kualitas Produk Kontinyuitas Tk. Keuntungan Jumlah Jalur Pyx1 Pyx2 1-R2 Total Baik Baik Baik Baik Baik . langsung dan tidak langsung Total (%) Kebijakan Pertanian keberhasilan usahatani bunga krisan potong yang terdiri atas: kebijakan input produksi. kebijakan pemasaran . 6,91 83,71 90,61 9,39 100,00 kebijakan penelitian dan kebijakan kredit 6,91%. Kontribusi tersebut sangat kecil, artinya berhasil tidaknya Pengaruh Kebijakan Pertanian Terhadap Keberhasilan Usahatani Berdasarkan Kriteria menggunaan SEM diperoleh pengaruh Tabel 6. Besarnya Pengaruh Langsung dan Tidak langsung Variabel Kebijakan Pertanian (X. dan Kelembagaan Pertanian (X. Terhadap Keberhasilan Usahatani Bunga Krisan Potong (Y) Pengaruh Tidak Pengaruh Langsung (%) Langsung (%) 0,64 6,27 77,44 6,27 Pengaruh X1 dan X2 Dipengaruhi Faktor Lainnya Total Pengaruh Tingkat (%) 63,93 68,93 65,12 68,79 66,70 usahatani bunga krisan potong tidak banyak ditentukan oleh seberapa baik Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 Kebijakan Pertanian yang diluncurkan Usahatani 83,71%, baik dilihat dari memadai tidaknya dikontribusi dari dimensi: Kelembagaan Hal tersebut Kelompok Tani. Kelembagaan Penyedia seiring dengan hasil analisis secara Input produksi. Kelembagaan Pemasaran. Kebijakan Kelembagaan Permodalan. Kelembagaan Penelitian. Pertanian 64,44% criteria Keberadaan kelembagaan tersebut di tingkat petani Kebijakan sangat penting dalam menunjang atau diluncurkan melalui Instansi pemerintah mendukung kegiatan usahatani bunga berupa aturan-aturan ataupun ketentuan secara formal yang diiberlakukan kepada pelaku-pelaku Kelembgaan Pertanian Kelembagaan Finansial dengan usahatani bunga krisan potong ditunjukan oleh koefisien determinasinya mencapai nol. Hasil mereka yang terlibat. Bentuk ataupun Kelembagaan Pertanian analisis secara deskriptif persepsi petani kebijakan dalam hal ini adalah: Kebijakan input produksi. Kebijakan Pemasaran. Kebijakan Penelitian. Kebijakan Kredit. Dalam hal kebijakan persepsi petanii dengan hasiil analisis 85,70% Hal pemerintah berkaitan dengan usahatani bahwa keberhasilan usahatani bunga tersebut antara lain: adanya subsidi harga krisan tergantung kepada keberadaan dan input produksi: pupuk, benih, alat mesin berjalan tidaknya fungsi kelembagaan pertanian dan keringanan bunga kredit. pertaniian di tingkat petani. Pengaruh Kelembagaan Pertanian Terhadap Keberhasilan Usahatani KESIMPULAN DAN SARAN Beberapa SEM. Ditarik Pengaruh total . angsung dan tidak Berdasarkan hasil analisis data di langsun. variabel Peran Kelembagaan lapangan dan pengujian hipotesis serta Ekonomi uraian pembahasan maka dapat ditarik Keberhasilan PERAN KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TERHADAP KEBERHASILAN USAHATANI BUNGA KRISAN (Chrysanthemum s. POTONG Yatti Rachmawati. Euis Dasipah. Karyana Ks kesimpulan penelitian sebagai berikut: 0,89. Keragaan Peran Kebijakan Pertanian Pertanian, maka akan semakin baik Keberhasilan Usahatani bunga krisan potong Kabupaten Cianjur yang meliputi : Kebijakan Input Kelembagaan Kecamatan Sukaresmi Semakin Kebijakan demikian sebaliknya. Kebijakan Pertanian Kelembagaan Pertanian berpengaruh Kebijakan Pemasaran. Kebijakan Penelitian. Usahatani Pengaruh total Kebijakan Pertanian Kebijakan tingkat capaian 63,57 % criteria baik. Keragaan Peran Kelembagaan Keberhasilan Keberhasilan Usahatani adalah 6,91%, dan Pengaruh total Kelembagaan Semakin tinggi/baik Kebijakan Kelembagaan Pemasaran. Pertanian Kelembagaan Kelembagaan Finansial. Pertanian. Keberhasilan Kelembagaan Pertanian 83,71%. Kelembagaan Kelompok Tani. usahatani bunga potong krisan akan Kelembagaan Riset dalam konteks semakin tinggi. keberhasilan usahatani bunga krisan Kecamatan Sukaresmi Saran Kabupaten Cianjur diperoleh tingkat Keberhasilan usahatani bunga potong capaian 68,25%, kriteria baik. Keragaan Keberhasilan memperlihatkan capaian yang belum bunga krisan potong di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur yang terdiri atas: Kualitas. Produktivitas. dan tingkat keuntungan Usahatani diperoleh tingkat capaian diberikan penyuluhan dan pelatihan 66,70%, kriteria Baik. Terdapat hubungan yang cukup kuat Pertanian Oleh teknologi produksinya. antara Kebijakan Pertanian dengan Kelembagaan Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk lebih mendalami lagi penelitian ditunjukan oleh koefisiensi korelasi ini dan menggali informasi terutama Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 751-765 Fadholi Hernanto. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta Halimah. dan Subari. Peran Penyuluh Pertanian Lapang Dalam Pengembangan Kelompok Tani Padi Sawah (Studi Kasus Kelompok Tani Padi Sawah di Desa Gili Barat Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkala. Jurnal Agriscience, 1. Juli 2020. Hasan. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia. Indraningsih. Pengembangan Model Kelembagaan Petani Penyuluhan Pertanian Mendukung Implementasi Program Pertanian Modern. Jurnal agroekonomi. Pusat Sosial Ekonomi Kebijakan Pertanian. PSE. id A 138kegiatan-penelitian-3. Diakses pada 7 September. Tedjaningsih. Suyudi, dan Nuryaman, . Peran Kelembagaan Dalam Pengembangan Agribisnis Mendong. Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. : 210-226. mengenai kebijakan pertanian dan dengan bunga krisan. DAFTAR PUSTAKA