http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Laporan Kasus The Level of Health CadresAo Knowledge in the Management of Febrile Seizures in Children in Kedaton District. Bandar Lampung Maida Saputri1. Dewi Kusumaningsih2. Rudi Winarno3 Dewi Kusumaningsih2. Rudi Winarno3 Abstrak Pendahuluan: Kejang demam merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan yang sering terjadi pada anak usia di bawah lima tahun dan memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Peningkatan kejadian kejang demam, termasuk di Indonesia, menuntut kesiapsiagaan orang tua dalam melakukan penanganan awal. Namun, keterbatasan pengetahuan orang tua masih menjadi permasalahan di masyarakat. Kader kesehatan memiliki peran penting sebagai penggerak, motivator, dan penyuluh dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat, sehingga optimalisasi peran kader melalui pendidikan kesehatan menjadi sangat diperlukan. Tujuan: Menyusun laporan asuhan keperawatan mengenai optimalisasi peran kader dalam tata laksana kejang demam pada anak di Kecamatan Kedaton. Bandar Lampung tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan. Tahapan penelitian meliputi pengkajian, analisis SWOT, identifikasi masalah manajemen keperawatan, penyusunan rencana tindakan . lan of actio. , pelaksanaan, serta evaluasi hasil. Subjek penelitian adalah kader kesehatan di wilayah Kecamatan Kedaton. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader mengenai tata laksana penanganan kejang demam pada anak, dari 71% sebelum diberikan pendidikan kesehatan menjadi 96% setelah intervensi. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan terbukti dapat mengoptimalkan peran kader dalam tata laksana penanganan kejang demam pada anak. Peningkatan kapasitas kader diharapkan mampu mendukung peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kejang Kata kunci: Pengetahuan. Kader. Kejang Demam Abstract Introduction: Febrile seizures are one of the most common emergency conditions in children under five years of age and require prompt and appropriate management. The increasing incidence of febrile seizures, including in Indonesia, highlights the need for parental preparedness in providing early management. However, limited parental knowledge remains a challenge in the community. Health cadres play an important role as mobilizers, motivators, and community educators in improving public knowledge and skills. therefore, optimizing their role through health education is essential. Objective: To develop a nursing care report on optimizing the role of health cadres in the management of febrile seizures in children in Kedaton District. Bandar Lampung, in 2025. Methods: This study employed a quantitative descriptive design with a nursing care case study approach. The stages of the study included assessment. SWOT analysis, identification of nursing management problems, development of an action plan, implementation, and evaluation. The subjects of the study were health cadres in the Kedaton District. Results: The results showed a significant increase in cadresAo knowledge regarding the management of febrile seizures in children, from 71% before health education to 96% after the intervention. Conclusion: Health education was proven to optimize the role of health cadres in the management of febrile seizures in children. Strengthening cadresAo capacity is expected to enhance community knowledge and preparedness in handling febrile seizures. Keywords: Knowledge. Cadre. Fever Seizures Submitted : 22 Juli 2025 Accepted : 31 Desember 2025 Affiliasi penulis : 1-3 Program Studi Profesi Ners. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Malahayati Korespondensi : AuDewi KusumaningsihAy dewikusumaningsih@gmail. com Telp: 6282299247221 untuk, dan bersama masyarakat dengan tujuan memberdayakan masyarakat dan mempermudah akses terhadap pelayanan kesehatan esensial. UKBM mencakup berbagai bentuk, antara lain posyandu, poskesdes, dan RW/desa/kelurahan yang berstatus siaga aktif. Di antara semuanya, posyandu memegang peranan penting dalam pemberdayaan masyarakat . Kader kesehatan berperan sebagai sumber daya manusia yang membantu tenaga kesehatan dalam memberdayakan masyarakat untuk menumbuhkan perilaku hidup sehat. Selain memberikan dukungan, kader mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya kesehatan, memberikan penyuluhan, serta mendokumentasikan dan melaporkan permasalahan yang ditemui di lapangan kepada tenaga kesehatan terkait . PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, terpadu, dan berkelanjutan yang meliputi upaya peningkatan kesehatan, upaya pencegahan masalah kesehatan, upaya pengobatan, dan pelayanan yang memerlukan peran serta masyarakat. Salah satu inisiatif yang dilakukan pemerintah adalah pembentukan Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang diselenggarakan oleh. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Kader pencatatan dan pelaporan data yang akurat sebagai sumber informasi bagi unit terkait, seperti koordinator program di pusat kesehatan atau dinas kesehatan, yang tidak dapat terlibat secara langsung dengan Dalam permasalahan kesehatan yang muncul di masyarakat, kader berperan sebagai mitra serta perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam upaya penanganan dan pemecahan masalah tersebut. Kinerja kader dipengaruhi oleh berbagai faktor, meliputi faktor individu, organisasi, dan psikologis . Masa kanak-kanak adalah masa terpenting dalam Anak terus tumbuh dan berkembang sejak lahir hingga akhir masa remaja. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan merupakan kelompok yang paling rentan terserang berbagai penyakit. Anak-anak lebih rentan terhadap dan salah satu gejala yang paling umum adalah demam. Demam bukanlah suatu Gejala demam biasanya terjadi karena ada kemungkinan patogen masuk ke dalam tubuh. Tentu saja, suhu tubuh melindungi Anda dari serangan penyakit dengan meningkatkan suhu tubuh . Kejang demam, yang merupakan kejang yang terkait dengan demam . uhu tubuh melebihi 38 AC) dan terjadi tanpa infeksi sistem saraf pusat (SSP) atau gangguan elektrolit atau metabolik apa pun, bermanifestasi pada anak-anak yang lebih tua dari 1 bulan yang tidak memiliki riwayat kejang tanpa adanya Onset biasanya terjadi antara usia 6 bulan dan 5 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 18 bulan . Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 21,65 juta anak di seluruh dunia menderita kejang demam dan lebih dari 216. 000 anak meninggal akibat kejang demam. Menurut Profil Kesehatan Indonesia, kejadian kejang demam di Indonesia pada tahun 2018 adalah 14. 252 kasus dilaporkan. Dinas Provinsi menyebutkan bahwa demam pada anak usia 1 Ae 14 tahun mencapai 4. 074 anak dengan klasifikasi 837 anak usia 14 tahun, 1. 192 anak usia 5 Ae 9 tahun, 045 anak usia 10 Ae 14 tahun . Penanganan kejang demam harus cepat dan tepat, karena penanganan yang tepat dapat meminimalisir kejadian yang tidak diharapkan. Pengetahuan tentang pencegahan dan pengobatan yang tepat memengaruhi Pendidikan kesehatan dan perkembangan orang tua sebagai penolong pertama dalam menangani anak yang mengalami kejang demam di rumah diperlukan untuk hasil yang optimal . Sumber daya manusia merupakan elemen yang sangat penting dalam setiap organisasi. Orang-orang menentukan arah suatu organisasi dan apakah organisasi tersebut akan mencapai tujuan yang awalnya ditetapkan untuknya. Hasil kinerja karyawan dinyatakan dalam bentuk kinerja pribadi dan hasil kerja mereka selaras dengan kepentingan organisasi . Kader diharapkan berperan aktif dan mampu menjadi pendorong, motivator dan penyuluh Kader diharapkan dapat menjembatani antara petugas/tenaga kesehatan dengan masyarakat serta membantu masyarakat mengidentifikasi dan menjawab kebutuhan kesehatan mereka sendiri. Kader juga diharapkan dapat menyediakan informasi bagi pejabat kesehatan berwenang yang mungkin tidak dapat mencapai masyarakat langsung, serta mampu mendorong para pejabat kesehatan di sistem kesehatan agar mengerti dan merespons kebutuhan Kader dapat membantu mobilisasi sumber Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman daya masyarakat, mengadvokasi masyarakat serta membangun kemampuan lokal . Menurut . menunjukkan hasil penelitian ada . =0,. , . =0,. , dan kompensasi . =0,. dengan kinerja kader dalam kegiatan Posyandu Balita. Kesimpulankinerja dalam kegiatan Posyandu Balita pengetahuan, motivasi dan pemberian kompensasi . Diharapkan kepada pihak terkait agar dapat melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja kader dalam kegiatan Posyandu Balita antara lain melalui pembinaan dan pelatihan tentang tugas dan peran kader dalam kegiatan Posyandu Balita. Pelaksanaan Posyandu tergantung pada kinerja pelaksananya. Kader direkrut dari masyarakat melalui sistem pengembangan kader melalui pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan untuk memastikan mereka mampu menggunakan sumber daya yang ada untuk melaksanakan tugasnya, memecahkan masalah, dan memberikan pelayanan yang optimal. Kinerja pelaksana tercermin dari pelaksanaan tugas pengurus Posyandu dalam mengatur penyelenggaraan kegiatan Posyandu. Dengan demikian, kinerja kader merupakan cerminan perannya sebagai penggerak dan penggerak pelayanan kesehatan terpadu di masyarakat. Salah satu indikator kinerja yang dapat diukur bagi eksekutif adalah aktivitas pelaksana puskesmas terpadu . Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Bandar Lampung terdapat 7 kelurahan. Di setiap kelurahan terdapat 4-7 posyandu dan di dalam posyandu ada 5 kader. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 kader posyandu diketahui bahwa belum ada kegiatan dari puskesmas ataupun BKKBN mengenai pelatihan atau pendidikan kesehatan kepada kader mengenai tata laksana kejang demam pada anak di rumah. Selain itu berdasarkan kuesioner yang telah dibagikan kepada 10 kader posyandu tersebut didapatkan bahwa sebagian besar kader belum mengetahui macam-macam kejang demam, penyebab kejang demam pada anak dan tata laksana kejang demam pada anak di rumah hal ini dibuktikan dengan 8 kader menjawab salah pada pertanyan mengenai pencetus kejang demam, klasifikasi kejang demam dan posisi anak ketika sedang kejang demam. Keterlibatan masyarakat melalui pembentukan kader kesehatan merupakan salah satu sosialisasi kesehatan kepada masyarakat. Sektor ini merupakan aspek penting untuk mewujudkan perekonomian yang baik dalam jangka panjang. Adanya kader dapat menciptakan masyarakat mandiri dalam pencegahan faktor risiko penyakit, salah satunya penyakit tidak Peran kader dapat juga menghubungkan komunikasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, sehingga dapat mengurangi ketidakpatuhan terhadap perawatan kesehatan. Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang menyadari dan mampu mengenal, mencegah faktor risiko penyakit tidak menular . Oleh karena itu, peneliti melakukan studi kasus mengenai optimalisasi kinerja kader dalam tata laksana demam kejang pada anak di Kecamatan Kedaton Bandar Lampung tahun 2025. penulisan ini bertujuan untuk menyusun laporan asuhan keperawatan mengenai optimalisasi peran kader dalam tata laksana kejang demam pada anak di Kecamatan Kedaton. Bandar Lampung, tahun 2025, serta untuk mengetahui Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 peningkatan pengetahuan kader setelah diberikan pendidikan kesehatan. sehingga dinyatakan valid dan reliabel. Penelitian dimulai dengan pretest, yaitu kader mengisi kuesioner untuk menilai pengetahuan awal mereka mengenai tata laksana kejang demam pada anak. Selanjutnya, dilakukan intervensi penyuluhan kesehatan, yang mencakup pengenalan gejala kejang demam, langkah penanganan awal, pencegahan komplikasi, dan peran kader sebagai penggerak komunitas. Setelah intervensi, kader mengisi kembali kuesioner yang sama untuk menilai perubahan pengetahuan mereka. Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif untuk melihat rata-rata skor dan persentase pengetahuan, serta diuji menggunakan uji t-dependen . aired t-tes. untuk mengetahui apakah peningkatan pengetahuan kader signifikan secara statistik. Seluruh partisipan diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, dijamin kerahasiaan data, dan diminta persetujuan tertulis sebelum penelitian dilaksanakan. METODE Penelitian ini menggunakan desain preeksperimen one-group pretestAeposttest untuk menilai efektivitas penyuluhan terhadap pengetahuan kader mengenai tata laksana kejang demam pada anak. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kedaton. Bandar Lampung, dan dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2025. Populasi penelitian adalah seluruh kader kesehatan aktif di Kecamatan Kedaton, dan sampel sebanyak 20 kader dipilih secara purposive, yaitu kader yang bersedia mengikuti penyuluhan dan aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat. Pengukuran pengetahuan kader dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya . Instrumen ini telah diuji validitasnya dengan hasil r-hitung > r-tabel . dan reliabilitasnya dengan CronbachAos Alpha 0,754. HASIL Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Mean MinimalMaksimal 95%CI Usia Pengetahuan pre-test 35,75 4,375 33,70-37,80 14,55 1,099 14,04-15,06 post-test 18,45 1,05 17,96-18,94 Berdasarkan tabel 1. diketahui bahwa rata-rata responden berusia 35,75 tahun dengan standar deviasi 4,375 dengan usia minimal 28 tahun dan maksimal 40 Pengetahuan sebelum diberikan intervensi ratarata adalah 14, 55 dengan standar deviasi 1,208 serta Variabel Pendidikan SMP SMA Total nilai minimum 12 dan maksimum 16. Sementara setelah diberikan intervensi rata-rata pengetahuan responden yaitu 18,45 dengan standar deviasi 1,050 serta nilai minimum 16 dan maksimum 20. Tebel 2. Tingkat Pendidikan Responden Frekuensi Berdasarkan tabel 2. diketahui bahwa mayoritas responden memiliki riwayat pendidikan yaitu SMA dengan 18 . %) responden dan yang memiliki riwayat Pendidikan SMP terdapat 2 . %) responden. Uji Normalitas Data Variabel Pengetahuan Pre Post Tabel 3. Uji Normalitas Data Uji normalitas adalah uji prasyarat sebelum dilakukannya uji T-Dependen untuk mencari perbedaan atau pengaruh . ompare mean. Pada tabel 3. diketahui bahwa penelitian ini peneliti menggunakan uji Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman p-value 0,053 0,063 normalitas Shapiro-Wilk dikarenakan responden yang digunakan tidak lebih dari 50 responden dengan ketentuan: Jika nilai p-value > 0,05 maka distribusi normal Jika nilai p-value < 0,05 maka distribusi tidak Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 normal, p-value pada tingkat pengetahuan kader pretest dan postest dengan nilai p-value > 0,05 maka data berdistribusi normal. Analisa Bivariat Tabel 4. Tingkat Pengetahuan Kader Sebelum dan Sesudah intervensi . = . Variabel Mean p-Value Pre-test 14,55 1,099 0,246 0,000 Post-test 18,45 1,050 0,235 Pengetahuan kader Berdasarkan tabel 4. menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan kader sebelum diberikan intervensi adalah 14,55 dengan standar deviasi 1,099 dan setelah diberikan intervensi meningkat menjadi rata-rata 18,45 dengan standar deviasi 1,050. Hasil uji statistik didapatkan nilai 0,000 maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan antara sebelum dan sesudah mengenai pengetahuan kader tentang tata laksana kejang demam pada anak. PEMBAHASAN Pengkajian Kejang demam pada anak merupakan kondisi yang sering terjadi akibat peningkatan suhu tubuh secara cepat, biasanya terkait infeksi virus atau bakteri. Penanganan yang tepat penting untuk mencegah cedera fisik, mengurangi kecemasan orang tua, dan mendeteksi penyakit serius yang mendasari demam. Kecamatan Kedaton, ditemukan bahwa pengetahuan kader tentang tata laksana kejang demam masih kurang, dan fasilitas untuk melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat belum tersedia secara Setelah dilakukan penyuluhan mengenai tata laksana kejang demam pada anak, pengetahuan kader meningkat secara signifikan dari 71% menjadi 96%. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pendidikan yang terstruktur efektif dalam meningkatkan pemahaman kader mengenai langkah-langkah penanganan yang aman, termasuk menjaga anak selama kejang, mencatat durasi kejang, serta mengetahui kapan harus merujuk ke tenaga kesehatan profesional. Peningkatan pengetahuan kader menegaskan pentingnya optimalisasi peran kader melalui pendidikan kesehatan berkelanjutan. Kader yang memahami tata laksana kejang demam dapat menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan, memberikan informasi yang tepat kepada orang tua, dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Dukungan fasilitas edukasi yang memadai juga akan memperkuat efektivitas Dengan demikian, penguatan kapasitas kader secara berkesinambungan sangat penting untuk memastikan penanganan kejang demam pada anak dilakukan dengan aman, cepat, dan tepat. Identifikasi Masalah Setelah dilakukan pengkajian, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi adalah kurangnya pengetahuan kader mengenai tata laksana penanganan kejang demam pada anak di rumah. Hal ini dibuktikan dari hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden masih terdapat beberapa pertanyaan yang masih dijawab dengan salah oleh responden. Sejalan dengan teori yang dijelaskan oleh . menjelaskan bahwa kader kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menanggani masalahmasalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat setra untuk bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat- tempat pemberian pelayanan Kader sebagai warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela. Kader secara sukarela bersedia berperan melaksanakan dan mengelola kegiatan keluarga berencana di Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat dan diharapkan mereka dapat melakukan pekerjaannya secara sukarela tanpa menuntut imbalan berupa uang atau materi lainnya. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat . Hasil penelitian ini sejalan dengan . didapatkan mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 17 orang . ,5%) dan sikap negatif sebanyak 24 orang . %). Menurut peneliti, pengetahuan kader harus maksimal karena mereka merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Kader penghubung antara tenaga medis profesional dan warga, terutama dalam upaya promotif dan preventif, seperti imunisasi, pemantauan tumbuh kembang anak, dan edukasi gizi. Jika pengetahuan kader masih minim, maka informasi yang disampaikan ke masyarakat bisa tidak tepat atau bahkan menyesatkan. Sebaliknya, jika kader memiliki pengetahuan yang baik dan benar, mereka bisa menjadi sumber informasi yang terpercaya, mampu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini, serta memberi pertolongan pertama yang Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan masyarakat akan meningkat dan berbagai masalah kesehatan dapat dicegah lebih efektif. Oleh karena itu, pelatihan dan pembinaan rutin bagi kader sangatlah penting agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan percaya diri dan profesional. Rencana Penyelesaian Masalah Rencana penyelesaian masalah keperawatan adalah suatu langkah sistematis yang disusun oleh perawat untuk mengatasi masalah kesehatan pasien Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 berdasarkan data yang dikumpulkan melalui proses asuhan keperawatan. Rencana ini bertujuan untuk memberikan intervensi yang tepat, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masalah yang terjadi. Berdasarkan identifikasi masalah yang telah ditentukan maka perencanaan keperawatan untuk masalah peran kader dalam tata laksana kejang demam pada anak adalah memberikan edukasi kesehatan mengenai tata laksana kejang demam pada anak dengan media leaflet dan lembar balik. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh . menjelaskan perencanaan merupakan suatu proses yang mendefinisikan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu organisasi, menyusun strategi dalam mencapai tujuan organisasi serta mengembangkan rencana aktivitas kerja pada suatu organisasi. Tahap awal pelaksanaan aktivitas pada sebuah pekerjaan dalam organisasi membutuhkan fungsi perencanaan dalam menentukan arah dan tujuan organisasi ke Semua fungsi manajemen tergantung dari Perencanaan harus berorientasi ke masa depan dan memastikan kemungkinan hasil yang ingin dicapai. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan . menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan kepada kader mengenai penanganan kejang demam pada anak di rumah. Menurut peneliti, pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan karena proses ini memberikan informasi yang benar, jelas, dan mudah dipahami mengenai berbagai aspek kesehatan kepada individu maupun kelompok masyarakat. Ketika seseorang diberikan pengetahuan tentang cara menjaga kebersihan, pola makan sehat, pentingnya imunisasi, atau cara mencegah penyakit, maka mereka akan lebih sadar dan memahami apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatannya sendiri maupun keluarganya. Dengan adanya endidikan kesehatan juga mampu meluruskan kesalahpahaman atau mitos yang berkembang di masyarakat, karena informasi yang disampaikan berasal dari sumber yang terpercaya dan berbasis ilmu. Selain itu, pendidikan kesehatan yang dilakukan secara interaktif, seperti melalui diskusi, simulasi, atau penyuluhan, akan lebih mudah diterima dan diingat oleh masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan, diharapkan akan terjadi perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih sehat. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan merupakan salah satu kunci utama dalam upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kegiatan yang telah disusun sebelumnya. Pada kegiatan ini adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan mengenai tata laksana kejang demam pada Pelaksanaan kegiatan ini berdasarkan analisa data yang dikaji. Pelaksanaan kegiatan pada penelitian ini diawali dengan membuat media edukasi yang akan digunakan yaitu leaflet dan lembar balik, kemudian setelah itu menghubungi ketua kader untuk dapat menentukan hari penelitian. Saat penelitian kegiatan diawali dengan melakukan pengisian kuesioner terlebih dahulu oleh kader yang menjadi responden. Kemudian dilakukan pendidikan kesehatan mengenai tata laksana kejang demam pada anak dengan menggunakan media leaflet dan lembar balik yang telah disiapkan dan selanjutnya dilakukan pengukuran kembali tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman pengetahuan kader dengan mengisi kuesioner yang sama dan diakhir dengan membagikan leaflet pada setiap kader. Sejalan dengan teori yang dikemukan oleh . menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh dari hasil indera manusia yaitu indera pendengaran . , indera penciuman . , indera penglihatan . , indera peraba . , dan indera pengecap . yang diukur dengan cara wawancara atau berupa sebaran angket yang menanyakan perihal materi yang akan diukur dari Menurut peneliti, pengetahuan kader sangat berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat karena kader merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan di lapangan. Dengan pengetahuan yang baik, kader mampu menyampaikan informasi kesehatan secara tepat, mengedukasi masyarakat, serta membantu dalam pencegahan dan deteksi dini berbagai masalah Pengetahuan kader yang baik juga membantu mempercepat penyebaran informasi saat terjadi situasi darurat kesehatan, seperti wabah penyakit atau bencana alam. Mereka bisa menjadi sumber informasi terpercaya di tengah masyarakat yang sering kali rentan terhadap hoaks atau informasi yang salah. Evaluasi Evaluasi diperoleh bahwa pengetahuan kader mengenai tata laksana penanganan kejang demam pada anak untuk optimalisasi peran kader mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 71% menjadi 96 Pada hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden diketehaui bahwa sebagian besar responden belum mengetahui mengenai pencetus kejang demam, klasfikasi kejang demam dan posisi anak ketika kejang Sementara sebagian besar responden menjawab benar mengenai pengertian kejang demam dan pengobatan kejang demam. Berdasarkan hasil penelitian diapatkan nilai p-value 0,000 O 0,05 maka ada pengaruh mengenai pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan kader. Sejalan dengan teori yang dikemukan oleh . menjelaskan bahwa manajemen keperawatan merupakan suatu proses menyelesaikan pekerjaan melalui anggota staf keperawatan dalam memberikan asuhan, pengobatan dan bantuan kepada pasien yang manajemen keperawatan sebagai bentuk koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan melalui penerapan proses manajemen dalam mencapai tujuan dan objektivitas asuhan keperawatan maupun pelayanan keperawatan. Kader posyandu adalah anggota masyarakat yang diberikan keterampilan untuk menjalankan posyandu. Peran kader secara umum adalah melaksanakan kegiatan pelayanan dan merencanakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh . menunjukkan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberi metode leaflet dari 59,8882 menjadi 76,2059, pengaruh KIE dan leaflet terhadap pengetahuan ibu . -value 0,000 < 0,. dengan peningkatan sebesar 25,6. Terdapat pengaruh KIE dan leaflet terhadap pengetahuan ibu . -value 0,000 < 0,. ,Terdapat pengaruh media leaflet terhadap pengetahuan ibu . -value 0,000 < 0,. Terdapat perbedaan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 pengaruh KIE dan media leaflet terhadap pengetahuan ibu . -value 0,002 < 0,. Pada penelitian yang dilakukan oleh . menjelaskan bahwa Media promosi kesehatan dalam bentuk lembar balik efektif untuk digunakan sebagai alat peraga edukasi pada masalah-masalah kesehatan Terdapat pengaruh penggunaan lembar balik sebagai media dalam melakukan upaya promosi kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap gizi, nutrisi atau masalah kesehatan lain. Pendidikan kesehatan dengan menggunakan leaflet berpengaruh positif terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan kesehatan melalui media leaflet berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan Pendidikan kesehatan merupakan alat untuk memberikan stimulus kepada masyarakat dengan memberikan tindakan dan informasi. Leaflet memberikan visualisasi pengetahuan yang informatif sebagai media agar mudah diterima dan dipahami . Penyuluhan adalah penyampaian informasi dari sumber informasi kepada seseorang atau sekelompok orang mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan suatu program. Di Posyandu, penyuluhan yang diberikan biasanya berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan penyuluhan dapat dilakukan untuk perorangan, kelompok antara lain demonstrasi/ praktik yang melibatkan peserta, dan lainlain . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh . menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan oleh tim dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta terlaksana dengan baik. Para kader mengikuti kegiatan ini dengan antusias, kader posyandu mawar RW. yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah 22 orang. Setelah diberikan edukasi pengetahuan para kader posyandu mengalami peningkatan dari 68,3 % menjadi 88,6%. Menurut peneliti. Peningkatan pengetahuan kader mengenai penanganan kejang demam pada anak perlu ditingkatkan guna memastikan bahwa mereka mampu memberikan pertolongan pertama yang tepat dan cepat saat kejadian terjadi di masyarakat. Kejang demam sering kali menimbulkan kepanikan, terutama bagi orang tua yang belum berpengalaman. Dalam situasi seperti ini, kehadiran kader yang paham tentang penanganan kejang sangat membantu untuk memberikan tindakan awal yang benar dan menenangkan keluarga. Kader yang memiliki pengetahuan memadai dapat mengenali gejala kejang demam, memahami bahwa kondisi ini umumnya tidak langkah-langkah pertolongan pertama yang aman, seperti memiringkan tubuh anak untuk mencegah aspirasi, menjaga jalan napas tetap terbuka, dan menghindari memasukkan benda ke dalam mulut anak. Selain itu, kader juga bisa memberikan edukasi kepada orang tua mengenai tanda bahaya yang mengharuskan segera dibawa ke fasilitas kesehatan, misalnya kejang lebih dari 5 menit atau disertai kesadaran yang menurun setelah kejang. Dengan pengetahuan yang kuat, kader dapat menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya di lingkungan sekitar, sehingga mampu mencegah tindakan yang salah atau berbahaya akibat kepanikan atau mitos yang beredar. Peningkatan kapasitas kader dalam hal ini bukan hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat komunitas, tetapi juga berkontribusi langsung pada keselamatan dan kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, pelatihan dan pembekalan kader tentang kejang demam perlu menjadi perhatian dalam program kesehatan SIMPULAN Berdasarkan disimpulkan bahwa peran kader dalam tata laksana kejang demam pada anak di Kecamatan Kedaton masih perlu dioptimalkan, karena keterbatasan pengetahuan kader dan minimnya fasilitas untuk edukasi kesehatan dapat mempengaruhi efektivitas penyuluhan kepada masyarakat. Kader berpotensi menjadi mitra penting tenaga kesehatan dalam memberikan informasi dan bimbingan kepada orang tua, namun dukungan berupa pendidikan, pelatihan, dan sarana edukasi diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja mereka. Upaya penguatan kader secara berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menangani kejang demam pada anak. DAFTAR PUSTAKA