Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 212-222 Combination Activity of Ethanolic Extract of Kersen Leaves (Muntingia calabura L. ) and Chloramphenicol Against Salmonella typhi Aktivitas Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L. ) dan Kloramfenikol Terhadap Salmonella typhi Shafira Arifah Maharani a. Rima Munawaroh a* a Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia *Corresponding Authors: rima. munawaroh@ums. Abstract Background: Typhoid fever, caused by Salmonella typhi, remains a significant health burden. Chloramphenicol is a first-line antibiotic for its treatment. however, increasing bacterial resistance necessitates alternative therapeutic strategies. Combining antibiotics with natural compounds is a potential approach to overcome resistance and reduce antibiotic doses. Kersen leaves (Muntingia calabura L. ) have been reported to contain bioactive compounds with antibacterial properties. Objective: This study aimed to evaluate the in vitro interaction between ethanolic extract of kersen leaves and chloramphenicol against Salmonella typhi using the checkerboard assay method. Methods: The ethanolic extract was obtained through maceration. Phytochemical constituents were analyzed qualitatively using tube tests and Thin-Layer Chromatography (TLC) with silica gel GF254 as the stationary phase and a chloroform:methanol . :2 v/. mobile phase. The antibacterial activity, expressed as Minimum Inhibitory Concentration (MIC), was determined for both the single extract and chloramphenicol using the microdilution method with resazurin indicator. The interaction between the two agents was assessed using the checkerboard assay, and the Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI) was calculated. Results: Phytochemical screening revealed that the ethanolic extract of kersen leaves contained alkaloids, steroids, flavonoids, tannins, and saponins. The MIC value of chloramphenicol alone was 5 AAg/mL, while the extract alone showed an MIC of >1000 AAg/mL against S. The checkerboard assay results indicated an increase in the MIC of chloramphenicol in combination with the extract. however, the FICI value could not be definitively determined due to the inability to establish the extract's MIC in the Conclusion: The ethanolic extract of kersen leaves contains various secondary metabolite While chloramphenicol exhibited antibacterial activity, the extract alone did not show inhibitory activity at the tested concentrations. The combination test suggested a potential alteration in the effectiveness of chloramphenicol, but the interaction type . ynergistic, additive, indifferent, or antagonisti. could not be conclusively classified. Further investigation using fractionated or isolated compounds from the leaves is Keywords: Kersen Leaves. Antibacterial. Salmonella typhi. Checkerboard Assay Abstrak Latar Belakang: Demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhi masih menjadi beban kesehatan yang Kloramfenikol merupakan antibiotik lini pertama untuk pengobatannya, namun peningkatan resistensi bakteri menuntut strategi terapi alternatif. Kombinasi antibiotik dengan senyawa alam merupakan pendekatan potensial untuk mengatasi resistensi dan mengurangi dosis antibiotik. Daun kersen (Muntingia calabura L. ) dilaporkan mengandung senyawa bioaktif dengan sifat antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi in vitro antara ekstrak etanol daun kersen dan kloramfenikol terhadap Salmonella typhi dengan metode checkerboard assay. Metode: Ekstrak etanol diperoleh melalui maserasi. Kandungan fitokimia dianalisis secara kualitatif menggunakan uji tabung dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dengan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:metanol . :2 v/. Aktivitas antibakteri, dinyatakan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), ditentukan untuk ekstrak tunggal dan kloramfenikol menggunakan metode mikrodilusi dengan indikator resazurin. Interaksi antara kedua agen dinilai dengan checkerboard assay, dan Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI) dihitung. Hasil: Skrining fitokimia mengungkapkan bahwa ekstrak etanol daun kersen mengandung alkaloid, steroid, flavonoid, tanin, dan saponin. Nilai KHM kloramfenikol tunggal adalah 19,5 AAg/mL, sedangkan ekstrak tunggal menunjukkan KHM >1000 AAg/mL terhadap S. Hasil checkerboard assay menunjukkan peningkatan KHM kloramfenikol dalam kombinasi dengan ekstrak. namun, nilai FICI tidak dapat ditentukan secara definitif karena tidak dapat ditetapkannya KHM ekstrak dalam kombinasi tersebut. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun kersen mengandung berbagai golongan metabolit sekunder. Meskipun kloramfenikol menunjukkan aktivitas antibakteri, ekstrak tunggal tidak menunjukkan aktivitas hambat pada konsentrasi yang diuji. Uji kombinasi mengisyaratkan potensi perubahan efektivitas kloramfenikol, tetapi jenis interaksinya . inergis, aditif, indifferent, atau antagoni. tidak dapat diklasifikasikan secara pasti. Investigasi lebih lanjut menggunakan fraksi atau senyawa terisolasi dari daun disarankan. Kata Kunci: Daun Kersen. Antibakteri. Salmonella typhi. Checkerboard Assay. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BYNC-SA 4. License Article History: Received: x. Revised: 29/01/2026. Accepted: 30/01/2026. Available Online : 30/01/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Demam tifoid ialah penyakit infeksi yang diakibatkan mikroorganisme Salmonella typhi. Bakteri ini mampu menginfeksi manusia melalui konsumsi makanan yang tercemar dengan kotoran maupun kotoran manusia dari pengidap demam tifoid sehingga bakteri dapat masuk dalam saluran pencernaan . Kejadian demam tifoid di Indonesia memiliki prevalensi sebanyak 1,6% dan menempati peringkat kelima pada penyakit infeksius yang dapat menyerang seluruh kelompok umur serta menempati peringkat kelima belas dalam penyebab kematian yang dialami pada keseluruhan umur di Indonesia . Penanganan demam tifoid di Indonesia pada dasarnya memanfaatkan terapi antibiotik. Antibiotik utama yang digunakan dalam demam tifoid salah satunya ialah kloramfenikol. Permasalahan penggunaan kloramfenikol untuk saat ini yaitu banyaknya kasus resistensi bakteri S. typhi terhadap antibiotik tersebut, hal terjadi dikarenakan adanya penggunaan kloramfenikol yang tidak rasional . Dengan demikian, dibutuhkan sebuah alternatif guna menanggulangi kejadian resistensi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan yaitu mengombinasikan antibiotik dengan bahan alam. Kombinasi antibiotik dengan bahan alam yang mengandung agen antibakteri mampu dimanfaatkan menjadi terapi penanganan terhadap infeksi yang diakibatkan bakteri. Kombinasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengurangi dosis dari antibiotik dan mengurangi toksisitas yang disebabkan oleh Riset menunjukkan bahwa kombinasi oregano dengan ciprofloxacin memiliki sifat sinergis yang dapat menurunkan konsentrasi hambat minimum (KHM) pada mikroba S. Bersumber dari riset tersebut, maka adanya penambahan bahan alam dapat meningkatkan efek untuk mengatasi infeksi. Bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai kombinasi dengan antibiotik ialah daun kersen. Ekstrak etanol daun kersen mengandung senyawa kimia berupa komponen golongan tanin, flavonoid, alkaloid. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. steroid, serta saponin yang mampu digunakan menjadi agen antimikroba . Riset sebelumnya membuktikan bahwasanya ekstrak etanol daun kersen pada konsentrasi 10% menunjukkan daya antibakteri pada S. typhi dengan zona hambat sejumlah 13,67 mm . Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwasanya ekstrak etanol daun kersen pada konsentrasi 25% menunjukkan daya antibakteri pada S. typhi dengan zona hambat sebanyak 13,99 mm . Hasil aktivitas kombinasi antibiotik dapat ditunjukkan menggunakan penetapan skor FICI (Fractional Inhibitory Concentration Inde. Nilai FICI dapat menginterpretasikan hasil gabungan ekstrak etanol daun kersen dan kloramfenikol apakah menghasilkan pengaruh kolaboratif, kumulatif, indifferent, maupun antagonis . Pada studi ini akan dilakukan uji kombinasi ekstrak etanol daun kersen dan kloramfenikol pada typhi untuk mengetahui efek yang diberikan pada kombinasi kedua senyawa tersebut dengan metode checkerboard assay. Metode Penelitian Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam studi ini ialah almari pengering, gelas, oven (Memmer. , timbangan analitik (Ohau. , rotary evaporator (Stuar. , waterbath (Memmer. , lampu UV 354 nm dan UV 366 nm, vortex, mikropipet (SocorexA), bunsen, ose, 96-well-plate, neraca analitik, autoklaf (Hirayam. Laminar Air Flow, dan incubator (Memmer. Bahan yang digunakan ialah daun kersen (Kartasura. Jawa Tenga. , etanol 96% (Medik. , serbuk Mg. HCl, gelatin. FeCl3 5%, petroleum eter, asam asetat anhidrat, asam sulfat, reagen Mayer dan Dragendorff, biakan bakteri S. typhi, antibiotik kloramfenikol, standar McFarland 0,5 . ,5x108 CFU/mL. , media Mueller Hinton Agar (Oxoi. , media Mueller Hinton Broth (Oxoi. , reagen resazurin, pelarut DMSO. NaCl 0,9%, pereaksi semprot FeCl3, sitroborat, dragendorff, plat silika gel GF254, dan akuades. Identifikasi Sampel Sampel yang dimanfaatkan yakni daun kersen yang didapat dari Kartasura dan dideterminasi di Laboratorium Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pembuatan Ekstrak Daun Kersen Daun kersen dilakukan proses pencucian dengan air yang kemudian dilakukan proses pengeringan dengan oven bersuhu 40AC dalam kurun waktu 24 jam. Setelah mengering, daun kersen dilakukan sortasi kering dan dihaluskan . Hasil serbuk simplisia lalu dilaksanakan proses ekstraksi dengan teknik maserasi dengan etanol 96%. Serbuk sejumlah 700 gram dilakukan proses perendaman melalui dua tahap dengan total volume 12 L . Tahap pertama digunakan etanol 96% sebanyak 7 L . b/v dan dibiarkan selama 5 hari pada wadah tertutup serta diaduk setiap hari. Lalu, hasil maserasi ditapis memanfaatkan kertas saring hingga diperoleh filtrat dan residu. Selanjutnya dilakukan tahap kedua yaitu residu diektraksi ulang menggunakan 5 L etanol 96% pada kurun waktu 2 hari serta ditapis hingga didapatkan filtrat. Kedua filtrat dicampurkan serta dilakukan proses penguapan dengan rotary evaporator bersuhu 50AC dan dikentalkan menggunakan waterbath . Analisis Fitokimia Uji Flavonoid Sebanyak 500 mg ekstrak etanol daun kersen dicampurkan dengan 1 ml etanol serta ditambahkan 0,1 g bubuk Mg serta 10 ml HCl kental. Temuan dikatakan positif jika diperoleh warna merah ungu maupun merah jingga . Uji Saponin Ekstrak daun kersen sebanyak 500 mg dicairkan pada 10 ml air panas serta dibiarkan hingga suhu Selanjutnya, digojog dalam kurun waktu 10 detik serta diperoleh busa dengan tinggi 1-10 cm. Ekstrak memiliki kandungan saponin apabila diperoleh busa yang konstan dengan penambahan 1 tetes HCl 1% . Uji Tanin 20 mg ekstrak dilarutkan dalam 4 ml etanol. Hasil pelarutan dibagi pada 2 tabung reaksi. Tabung pertama dimasukkan 5 tetes gelatin 10%, hasil dianggap positif jika ada pembentukan residu. Tabung kedua ditambahkan FeCl3 5%, hasil dikatakan positif jika berubah warna biru tua maupun hitam kehijauan . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Uji Steroid Ekstrak etanol daun kersen dilarutkan dalam eter dan disaring. Hasil pelarutan dimasukkan 2 tetes asam asetat anhidrat serta 1 tetes asam sulfat. Temuan dikatakan positif apabila muncul warna ungu maupun biru . Uji Alkaloid Sebanyak 500 mg ekstrak etanol daun kersen dicampurkan dengan 1 ml HCl 2 N dan 9 ml aquades, lalu diberi perlakuan pemanasan dalam kurun waktu 2 menit dan ditunggu hingga suhu ruang. Campuran ditapis dan dibagi dalam 3 tabung reaksi. Tiap-tiap tabung diberi 2 tetes larutan pereaksi (Mayer dan Dragendorf. Hasil dikatakan optimal apabila muncul presipitat putih dan kuning jingga. Ekstrak dikatakan mempunyai kandungan alkaloid jika memiliki hasil positif minimum 2 dari uji tersebut . Pengujian Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Pengujian KLT digunakan fase diam yaitu plat silika gel GF254 yang berukuran 7x1 cm serta fase gerak berupa kloroform : metanol . :2 v/. yang telah dijenuhkan. Plat silika gel GF254 diaktifkan dulu dengan oven bersuhu 110AC pada kurun waktu 10 menit. Ekstrak dibuat dengan konsentrasi 1% b/v, lalu ditotolkan ekstrak pada plat dan dielusi. Hasil dari elusi teramati pada cahaya tampak, di bawah lampu UV 254 nm, serta lampu UV 366 nm. Tahapan selanjutnya diperlukan pereaksi semprot untuk mempertegas adanya kandungan senyawa aktif dari ekstrak . Sterilisasi Alat Peralatan gelas dibalut menggunakan kertas kemudian dilakukan proses sterilisasi menggunakan oven pada temperatur 180 AC durasi 2 jam. Media MHA dan MHB disterilisasi dengan autoklaf bersuhu 121AC . Pembuatan Media Media Mueller Hinton Broth (MHB) diambil sebanyak 21 gram serbuk lalu diencerkan pada 1 L aquades serta disterilisasi durasi 15 menit bersuhu 121AC pada autoklaf . Media MHA diambil sejumlah 9,5 gram dan diencerkan pada 250 mL akuades . Pembuatan dan Peremajaan Suspensi Bakteri S. Pembuatan suspensi bakteri S. typhi dilaksanakan dengan menanam mikroba pada media BHI dan dimasukkan pada incubator shaker. Hasil suspensi diambil 20 AAL untuk ditumbuhkan pada media MHA dengan metode streak plate untuk peremajaan bakteri. Lalu, diambil 3-5 koloni dan dimasukkan pada tabung reaksi, lalu kekeruhan suspensi disesuaikan hingga mencapai tingkat yang ekuivalen dengan standar McFarland, yaitu 1,5 x 108 CFU/ml menggunakan NaCl 0,9%. Hasil suspensi bakteri diencerkan menggunakan MHB dengan perbandingan 1:150 hingga mencapai konsentrasi sebesar 1 x 10 6 CFU/ml . ,14,. Pembuatan Reagen Resazurin Reagen resazurin sebanyak 1 mg dilarutkan dalam 1 ml akuades . ,1% b/. , apabila sudah homogen disterilkan dengan syringe filter 0,22 AAm. Reagen disimpan pada suhu 4AC dengan maksimal selama 2 pekan setelah preparasi . Uji Aktivitas Antibakteri Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Penentuan KHM ekstrak etanol daun kersen serta kloramfenikol terhadap S. typhi dilakukan menggunakan metode mikrodilusi dengan 96-well microplate dengan tiga kali replikasi. Konsentrasi awal yang digunakan pada ekstrak etanol daun kersen ialah 100 mg/ml . Ekstrak etanol daun kersen telah diuji terhadap S. typhi memiliki nilai KHM sebesar > 250 AAg/ml sehingga diperlukan rentang konsentrasi yang lebih tinggi . Metode mikrodilusi digunakan menggunakan metode menurut Balouiri dam Sufian dengan Ekstrak etanol daun kersen dilarutkan dengan DMSO hingga mencapai konsentrasi 100 mg/ml sebagai larutan stok sehingga didapatkan konsentrasi 10 kali dari konsentrasi yang diinginkan. Lalu diencerkan larutan stok dengan perbandingan 1:10 menggunakan media MHB. Sebanyak 100 AAl ekstrak dimasukkan pada sumuran pertama dan diberikan 50 AAl media MHB pada sumuran kedua hingga Kemudian dilakukan pengenceran bertingkat dengan mengambil 50 AAl dari sumuran pertama dan dipindahkan pada sumuran kedua hingga sumuran kesepuluh, untuk sisanya dibuang. Sumuran kesebelas digunakan sebagai kontrol pertumbuhan bakteri yang berisi media MHB dan bakteri serta sumuran Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. keduabelas digunakan sebagai kontrol media MHB. Seluruh sumuran ditambahkan bakteri S. typhi yang telah disiapkan sebanyak 50 AAl. Volume akhir untuk setiap sumuran sebesar 100 AAl. Pada baris D. E, dan F digunakan sebagai kontrol pelarut yaitu DMSO menggunakan metode yang sama pada uji ekstrak . Microplate yang sudah diisi kemudian dilakukan inkubasi dengan temperatur 37AC durasi 24 jam. Setelah itu, seluruh sumuran diberikan reagen resazurin . ,1% b/. sebanyak 20 AAl sebagai pewarna untuk penanda bertumbuhnya bakteri. Microplate dilakukan inkubasi kembali bersuhu 37AC durasi 1 jam. Adanya perubahan warna dari biru atau ungu menjadi merah muda menunjukkan bahwa sel aktif mengalami metabolisme atau tumbuh. Sedangkan jika muncul warna biru gelap menunjukkan bahwa bakteri tidak tumbuh . Lalu, penentuan KHM kloramfenikol digunakan konsentrasi awal sebesar 512 AAg/ml. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kloramfenikol memiliki KHM sebesar 12,5 AAg/ml . Pengujian dilakukan dengan prosedur yang sama dengan penentuan KHM ekstrak etanol daun kersen pada microplate yang berbeda. Uji Kombinasi dengan Metode Checkerboard Assay Ekstrak etanol daun kersen serta kloramfenikol dilakukan uji kombinasi dengan metode checkerboard Pengujian dilakukan dengan menyiapkan dua buah 96-well-microplate. Microplate pertama digunakan untuk mengencerkan ekstrak dan uji kombinasi, sedangkan microplate kedua untuk mengencerkan Larutan stok ekstrak dan kloramfenikol dibuat dengan sepuluh kali dari konsentrasi tertinggi. A Pengujian pada microplate pertama Microplate pertama pada prosedur awal digunakan untuk meletakkan ekstrak dimana KHM ekstrak diposisikan pada sel A7 sehingga diperlukan larutan stok yang sesuai untuk konsentrasi pada sumuran awal. Lalu, sebanyak 50 AAl MHB ditambahkan pada setiap sumuran kecuali pada kolom 1 dan 12, namun ditambahkan pada sumur H12. Ekstrak sebanyak 50 AAl ditambahkan pada sumur A12 hingga G12 dan sumur A11 hingga H11, lalu dilakukan pengenceran dari kolom 11 hingga kolom 2, kemudian dibuang sebanyak 50 AAl dari kolom 2 agar volume setiap sumur setara . A Pengujian pada microplate kedua Microplate kedua digunakan untuk meletakkan kloramfenikol dimana KHM kloramfenikol diposisikan pada sel E1. Sebanyak 100 AAl MHB ditambahkan pada setiap sumuran kecuali pada baris A dan H dan diberikan 100 AAl kloramfenikol pada sumur H1 hingga H11 dan G1 hingga G12. Kemudian dilakukan pengenceran bertingkat hingga baris B, lalu dibuang sebanyak 100 AAl dari baris B agar volume setiap sumur setara hingga volume akhir yang didapatkan pada setiap sumur sebesar 100 AAl . A Kombinasi pada microplate pertama Pada microplate kedua diambil 50 AAl larutan dari sumur B1-B11, lalu dipindahkan pada tempat yang sama di baris B di microplate pertama dan dilakukan pengulangan untuk baris selanjutnya hingga selesai. Lalu ditambahkan suspensi bakteri sebanyak 50 AAl kecuali pada sumur H12 sebagai kontrol media, sedangkan pada sumur A1 ditambahkan 50 AAl bakteri sebagai kontrol pertumbuhan bakteri. Microplate yang berisi kombinasi ekstrak dan kloramfenikol diinkubasi dengan temperatur 37AC durasi 24 jam. Lalu, seluruh sumuran diberikan reagen resazurin . ,1% b/. sebanyak 20 AAl sebagai pewarna dan diinkubasi lagi selama 1 jam . ,20,. , skema checkerboard assay dapat dilihat pada gambar 1. Analisis Data Hasil dari uji fitokimia dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil pengendapan atau berubahnya warna yang ada setelah ditambahkan reagen . Ae. Untuk hasil dari checkerboard assay dianalisis dengan menentukan nilai FICI. Nilai FICI dihitung untuk menentukan aktivitas kombinasi dari dua agen antibakteri. Berikut rumus penentuan nilai FICI . FICI FICI = FIC (A) FIC (B) aA] = yayaycA . yayaycA . aA) Keterangan: FIC (A) = Fractional Inhibitory Concentration ekstrak etanol daun kersen FIC (B) = Fractional Inhibitory Concentration kloramfenikol [A] = Nilai KHM ekstrak etanol daun kersen dalam kombinasi [B] = Nilai KHM kloramfenikol dalam kombinasi KHM (A) = Nilai KHM dari ekstrak etanol daun kersen tunggal KHM (B) = Nilai KHM dari kloramfenikol tunggal Menurut Brooks, kombinasi dari dua agen antibakteri mampu mendapatkan karakteristik yang ditampilkan dalam Tabel 1 . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 1. Karakteristik nilai FICI Nilai FICI O 0,5 0,5 < x O 1 1 1000 Metode checkerboard assay merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi interaksi kombinasi antara dua agen antibakteri menggunakan 96-well-microplate. Metode ini dilakukan dengan sistem mikrodilusi dengan pengenceran seri ganda dimana dua agen antibakteri diuji baik secara tunggal dengan menentukan KHM masing-masing agen serta diuji secara kombinasi. Interaksi kombinasi yang dihasilkan meliputi Interaksi yang dihasilkan dari kombinasi dapat berupa efek sinergisme, aditif, indifferent, dan antagonis . Sinergisme menghasilkan efek yang lebih poten ketika digunakan secara bersama. Aditif memberi dampak kombinasi yang setara dengan total dampak pada tiap-tiap agen antibakteri. Indifferent berarti tidak ada efek kombinasi yang diberikan sehingga tidak terjadi kenaikan atau penurunan efek. Sedangkan antagonis memberikan penurunan efek ketika kedua agen dikombinasikan . Untuk melihat hasil uji digunakan resazurin sebagai indikator warna yang memiliki mekanisme kerja yaitu menilai aktivitas metabolik sel bakteri setelah inkubasi dalam uji KHM. Ketika bakteri masih hidup, enzim yang aktif akan mentransfer elektron ke resazurin sehingga resazurin yang berbentuk teroksidasi akan direduksi menjadi resorufin. Bentuk resorufin ini bersifat lebih berwarna . dan sangat fluoresen, berbeda dengan resazurin yang pada awalnya berwarna biru-ungu dan kurang fluoresen. Uji ini memanfaatkan perubahan warna ini sebagai tanda bahwa adanya pertumbuhan bakteri di dalam sumur. Ketika resazurin tetap berada dalam bentuk biru . idak berubah warn. diartikan bahwa tidak terjadi reduksi oleh sel sehingga mengindikasikan bahwasanya pada kadar tersebut tidak terjadi peningkatan mikroorganisme . 0,0195 mg/ml 2,5 mg/ml Kontrol Bakteri 40 mg/ml Kontrol Media Gambar 2. Checkerboard assay uji kombinasi ekstrak etanol daun kersen . dan kloramfenikol . Aktivitas antibakteri suatu ekstrak mampu dinyatakan baik jika mempunyai skor KHM < 100 AAg/ml, kategori sedang jika skor KHM berada pada rentang 101 Ae 500 AAg/ml, kategori lemah apabila nilai KHM berada pada rentang 501 Ae 1000 AAg/ml, serta tidak aktif apabila memiliki skor KHM > 1000 AAg/ml. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali replikasi dan memiliki hasil yang sama. Hasil uji dari kloramfenikol menunjukkan bahwa kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang memiliki KHM sebesar 19,5 AAg/ml yang ditunjukkan pada sumuran A5 pada Gambar 2. Studi melaporkan bahwa nilai KHM kloramfenikol pada penelitian sebelumnya memiliki nilai sebesar 12,5 AAg/ml. Menurut standar CLSI, nilai KHM kloramfenikol O 8 AAg/mL dikategorikan sensitif, 16 AAg/mL intermediet, dan Ou 32 AAg/mL resisten. Dengan demikian, nilai KHM sebesar 19,5 AAg/mL menunjukkan bahwa bakteri uji berada di antara kategori intermediet-resisten terhadap kloramfenikol . Nilai KHM yang dihasilkan dapat berbeda karena beberapa faktor yaitu dari inokulum bakteri yang berbeda, adanya perbedaan strain bakteri, serta densitas bakteri yang dapat mengubah titik hambat minimum yang diukur . Kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri dikarenakan kloramfenikol memiliki mekanisme kerja yaitu menghambat ikatan asam amino pada unit 50S ribosom dengan menghalangi peptidiltransferase dengan sifat bakteriostatik . Untuk hasil ekstrak mengindikasikan bahwasanya ekstrak Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. etanol daun kersen belum mampu menekan pertumbuhan mikroba S. Riset sebelumnya menunjukkan bahwasanya ekstrak daun kersen mempunyai skor KHM sebanyak > 250 AAg/ml yang berada pada tingkat menengah . Hasil ekstrak tidak dapat menghambat bakteri dikarenakan bahwa bakteri S. typhi ialah mikroorganisme gram negatif yang memiliki struktur unik yaitu memiliki permukaan yang bersifat hidrofob sehingga dapat menghambat masuknya senyawa aktif menuju target di dalam sel. Bakteri gram negatif memiliki dua lapisan membran sehingga sebagian besar ekstrak sangat sulit untuk menembus struktur membran tersebut sehingga tidak memiliki aktivitas dalam menghambat bakteri . Selain itu, ekstrak tanaman memiliki kandungan senyawa aktif yang cukup kompleks sehingga dapat mempengaruhi hasil pengujian . Dari hasil uji kombinasi dari checkerboard assay menunjukkan bahwa nilai FICI tidak dapat ditentukan karena tidak adanya nilai KHM dari ekstrak etanol daun kersen. Hasil KHM uji kombinasi memperlihatkan bahwa adanya kenaikan KHM yang ditunjukkan pada sumuran B6 yang seharusnya pada KHM tunggal kloramfenikol bisa menghambat bakteri dengan konsentrasi dengan nilai yang lebih rendah. Adanya perbedaan hasil dari riset antara uji kombinasi ekstrak oregano dan ciprofloxacin dengan uji ini dipengaruhi oleh sifat senyawa aktif dalam ekstrak dan mekanisme interaksinya dengan antibiotik. Ekstrak oregano mengandung senyawa aktif utama yaitu carvacrol yang memiliki mekanisme kerja dalam merusak membran sel bakteri, sehingga mampu meningkatkan penetrasi antibiotik dan menghasilkan efek sinergis terhadap S. Sebaliknya, ekstrak daun kersen yang digunakan masih berbentuk ekstrak kasar yang mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan mekanisme kerja yang beragam, sehingga berpotensi terjadi interaksi antar senyawa yang saling meniadakan efek antibakteri . Hasil penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa interaksi ekstrak dan antibiotik tidak selalu bersifat sinergis. Beberapa ekstrak tanaman, khususnya yang kaya akan polifenol, dapat meningkatkan nilai KHM antibiotik terhadap bakteri gram negatif, contohnya yaitu ekstrak tertentu menaikkan KHM ciprofloxacin terhadap Escherichia coli hingga empat kali lipat dibandingkan antibiotik sendiri. Temuan ini mengindikasikan bahwa senyawa tanaman dapat melindungi bakteri dari aksi antibiotik sehingga diperlukan konsentrasi antibiotik yang lebih tinggi untuk mencapai hambatan pertumbuhan . Riset lanjutan disarankan untuk dilakukan fraksinasi ekstrak daun kersen untuk mengisolasi senyawa aktif yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri sehingga dapat memiliki hasil yang lebih spesifik. Kesimpulan Ekstrak etanol daun kersen mengandung kelompok zat alkaloid, steroid, flavonoid, tanin, serta Hasil penentuan KHM tunggal untuk kloramfenikol memiliki nilai sebesar 19,5 AAg/ml dan ekstrak > 1000 AAg/ml. Hasil uji kombinasi menunjukkan adanya kenaikan KHM pada kloramfenikol, namun interaksi tidak dapat diklasifikasikan secara pasti. Konflik Kepentingan Studi dilaksanakan secara independen serta netral dengan menjamin bahwasanya keseluruhan tahapan dan hasil studi murni berasal dari proses akademik tanpa adanya pengaruh kepentingan pihak manapun. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Universitas Muhammadiyah Surakarta atas berjalannya studi ini yang dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan oleh banyak pihak. Referensi