Vol. No. Mei 2025, hal, 97-103 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss01. Peningkatan Pemahaman Fiqih Dasar dengan Pendekatan Praktik Langsung dalam Pembelajaran Wudhu dan Shalat pada Anak-Anak Desa Piyaman Muhammad Naufal Rahmatullah Nugraha. Ridho Hafidz Rivaldy. Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Indonesia E-mail: . mnaufalrnugraha@gmail. com, . ridhohafidzrv@gmail. Info Artikel Kata kunci : Fiqih Dasar Praktek Langsung Wudhu Sholat Pendidikan Agama Penulis Koresponden : Muhammad Naufal Rahmatullah Nugraha E-mail : mnaufalrnugraha@gmail. ABSTRAK Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman fiqih dasar anak-anak usia 5Ae12 tahun di Desa Piyaman melalui pendekatan praktik langsung dalam pembelajaran wudhu dan shalat. Metode yang digunakan meliputi observasi awal, pelaksanaan kegiatan dengan ceramah dan praktik langsung, serta evaluasi melalui tanya jawab dan tes Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan rata-rata skor pemahaman anak-anak meningkat dari 60% menjadi 85% setelah mengikuti pembelajaran berbasis praktik. Selain itu, anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam melaksanakan wudhu dan shalat dengan Faktor keberhasilan program ini mencakup partisipasi aktif pengajar TPQ, metode pembelajaran interaktif, serta evaluasi berkala. Namun, kendala seperti keterbatasan fasilitas wudhu dan waktu pembelajaran masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, disarankan adanya peningkatan sarana prasarana serta perpanjangan durasi pembelajaran agar hasil yang dicapai lebih optimal. PENDAHULUAN Salah satu aspek penting dalam pendidikan agama yang perlu diperkenalkan pada anak usia dini adalah ibadah sholat (Nurhayati, 2. Sholat dalam ajaran Islam bukan hanya merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, tetapi juga merupakan sarana pengabdian diri kepada Allah Subhanahu wa TaAoala. Sholat merupakan rukun Islam yang pertama kali diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah Shallallahu Aoalaihi wa sallam pada malam IsraAo MiAoraj. Oleh karena itu, sholat memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim, baik sebagai bentuk kedekatan dengan Tuhan maupun sebagai penuntun dalam mengarahkan perilaku dan akhlak yang baik (Fatmala, 2. Namun dalam praktiknya, penanaman kesadaran ibadah sholat pada anak usia dini tidak selalu berjalan dengan mudah. Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat dan dominasi kehidupan yang lebih materiil, banyak orang tua yang kesulitan untuk menanamkan kebiasaan beribadah pada anak-anak mereka, terutama di lingkungan yang penuh dengan tantangan budaya Kesibukan orang tua dalam bekerja, ketidakmampuan memberikan perhatian penuh pada Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Fiqih Dasar dengan Pendekatan a pendidikan agama, serta kurangnya pengetahuan orang tua mengenai metode yang efektif dalam mendidik anak untuk menjalankan ibadah sholat, menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan ibadah ini pada anak-anak usia dini (Khairun Nisa & Abdurrahman, 2. Desa Piyaman. Kecamatan Wonosari, merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki nuansa masyarakat dengan budaya tradisional yang masih kental, di mana nilai-nilai agama, khususnya Islam, memegang peranan besar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, tantangan yang dihadapi dalam menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak usia dini masih cukup besar. Banyak orang tua yang merasa kesulitan dalam mengajarkan anakanak mereka sholat dengan baik, baik karena keterbatasan waktu, pengetahuan, maupun metode yang digunakan. Dalam konteks ini, strategi orang tua dalam mendidik anak-anak mereka untuk sholat menjadi sangat penting, karena mereka merupakan pendidik pertama dan utama dalam kehidupan anak. Pendidikan agama yang dilakukan oleh orang tua di rumah menjadi hal yang sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Sholat, sebagai salah satu ibadah utama dalam Islam, harus diajarkan sejak dini agar anak terbiasa dan menjadikannya sebagai kebutuhan hidup. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak mereka (Juanda, 2. Pembiasaan sholat di usia dini bertujuan agar anakanak tersebut tidak hanya mengenal tata cara pelaksanaan sholat, tetapi juga memahami esensi dan makna dari ibadah tersebut dalam kehidupan mereka (Amirudin dkk. , 2. Di Desa Piyaman, upaya orang tua untuk menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak mereka melibatkan berbagai strategi, baik melalui keteladanan langsung, metode pembelajaran berbasis lingkungan, maupun penguatan pembiasaan melalui kegiatan sehari-hari. Sholat bukan hanya sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga merupakan latihan spiritual yang membentuk karakter dan akhlak anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua di Kampung Srikaton untuk mengajarkan sholat sebagai bagian dari pembentukan kepribadian yang baik, serta menanamkan nilai-nilai agama yang dapat menjadi pegangan hidup anak di masa depan. Pendidikan ibadah sholat di usia dini juga dapat berperan dalam menghindarkan anak dari pengaruh negatif lingkungan yang dapat merusak moral dan akhlak mereka, terutama dalam era globalisasi yang serba terbuka dan materialistik ini (Shofiyati dkk. , 2. Meskipun sholat adalah kewajiban yang jelas dalam Islam, kenyataannya banyak orang tua yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya pendidikan ibadah sholat pada anak usia dini. Hal ini sering kali disebabkan oleh kesibukan sehari-hari orang tua yang lebih mengutamakan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, sementara pendidikan agama anak menjadi kurang mendapat perhatian yang cukup. Selain itu, ada pula faktor ketidaktahuan orang tua mengenai Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muhammad Naufal Rahmatullah Nugraha. Ridho Hafidz Rivaldy metode yang tepat untuk mengajarkan sholat kepada anak-anak mereka, mengingat pada usia dini anak-anak cenderung lebih sulit untuk diajarkan dengan cara-cara yang terlalu formal atau menuntut (Rachman & Mariatun, 2. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas pendidikan agama yang seharusnya diberikan kepada anak-anak dan kenyataan yang ada di lapangan. Idealnya, pendidikan agama, terutama dalam hal ibadah sholat, sudah harus diberikan sejak anak-anak usia dini, sebagai bekal moral dan spiritual yang kuat untuk membentuk karakter mereka di masa depan. Namun, banyak orang tua yang masih merasa kesulitan untuk menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak mereka, terutama di daerah pedesaan seperti Kampung Srikaton, yang memiliki berbagai tantangan dalam hal pendidikan agama. Dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dalam fikih dasar yang mencangkup wudhu dan sholat dengan pendekatan praktek langsung untuk menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan ibadah sholat di kalangan anakanak. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan berbagai inovasi atau pendekatan yang lebih efektif dalam mendidik anak-anak agar mereka dapat melaksanakan sholat dengan penuh kesadaran dan menjadikannya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak tantangan yang dihadapi dalam menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak. Dalam masyarakat yang semakin modern dan terbuka seperti sekarang, pendidikan agama memerlukan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan kondisi sosial yang ada. Oleh karena itu, peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman lebih lanjut mengenai pentingnya pendidikan agama, khususnya dalam menanamkan kesadaran ibadah sholat pada anak-anak. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang baik dan benar terkait fikih dasar yang mencakup wudhu dan sholat. Dengan demikian, penanaman kesadaran ibadah sholat pada anak-anak melalui kegiatan ini di Desa Piyaman sangat penting untuk dilakukan dengan penuh perhatian dan keseriusan. Selain memberikan dampak positif bagi perkembangan spiritual anak. METODE PENGABDIAN Dalam pelaksanaan kegiatan ini, metode yang digunakan adalah metode ceramah dengan pendekatan praktik langsung. Kegiatan ini terbagi dalam beberapa tahapan yaitu: Pemetaan: Pada tahap ini yang dilakukan adalah analisa masalah dan kebutuhan dalam bentuk observasi yang dilakukan di TPQ yang ada di beberapa masjid yang ada di Padukuan Piyaman 1. Piyaman 2. Pakeljaluk, dan Ngerboh 2 untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan. Pada tahap ini tim mengidentifikasi masalah dan mencari upaya Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Fiqih Dasar dengan Pendekatan a untuk membantu mengatasi masalah yang muncul, yang mana permasalahan ini nanti akan diangkat menjadi latar belakang dari program kerja Perencanaan: Beranjak dari masalah yang telah didapatkan, selanjutnya dilakukan diskusi internal tim membahas program yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah tersebut. Maka didapatkanlah program Dauroh Fikih Wudhu dan Sholat Anak. Kemudian selanjutnya dilakukan diskusi dengan para takmir masjid yang terdapat TPQ. Persiapan: Pada tahap ini tim membagi tugas setiap individu ketika kegiatan berlangsung dan dilakukan koordinasi dengan takmir masjid yang terdapat TPQ untuk mengundang anak-anak TPQ menghadiri kegiatan. Pelaksanaan: Kegiatan dipandu oleh dua pemateri, pemateri satu sebagai pemateri utama, dan pemateri dua sebagai pemateri pendukung, dan juga dibantu oleh beberapa mahasiswa Kukerta dalam pengawasan. Kegiatan dilaksanakan dengan penyampaian materi wudhu dan sholat terlebih dahulu kemudian setelah itu praktek langsung wudhu dan sholat. Di samping kegiatan utama tadi terdapat kegiatan sisipan berupa doorprize dan pembagian hadiah di HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan PKM ini dilaksanakan di Masjid Baitul MuAotaim. Desa Piyaman, dengan sasaran utama anak-anak usia 5Ae12 tahun yang aktif mengikuti pembelajaran di TPQ. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman fiqih dasar, khususnya mengenai tata cara wudhu dan shalat, yang merupakan pondasi utama dalam praktik ibadah sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahap utama, yakni observasi awal, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi hasil. Observasi awal Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pengajar TPQ, diperoleh gambaran bahwa pemahaman anak-anak terhadap tata cara wudhu dan shalat masih kurang Banyak peserta yang melakukan kesalahan berulang, seperti tidak berurutan dalam membasuh anggota wudhu, terburu-buru sehingga gerakan shalat tidak disertai dengan tumaAoninah, serta kurang lancar dalam membaca doa-doa setelah shalat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang sebelumnya diberikan masih lebih banyak berfokus pada aspek teoritis, sehingga anak-anak kurang terbiasa mempraktikkan secara benar dalam Observasi ini juga menemukan bahwa sebagian anak memiliki antusiasme tinggi untuk belajar, namun masih mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi tim pelaksana dalam merancang metode pembelajaran yang lebih Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muhammad Naufal Rahmatullah Nugraha. Ridho Hafidz Rivaldy interaktif dan menyenangkan agar anak-anak mampu fokus sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Pelaksanaan Kegiatan Tahap pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan praktik langsung. Tim mahasiswa Kukerta menghadirkan dua pemateri utama yang secara bergantian menyampaikan materi, memberikan contoh, serta membimbing anak-anak dalam praktik. Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat mengenai pentingnya wudhu dan shalat sebagai syarat sah ibadah. Setelah itu, pemateri memperagakan tata cara wudhu sesuai tuntunan fiqih, dilanjutkan dengan mempraktikkan gerakan shalat secara runtut. Setiap anak kemudian diberi kesempatan untuk mencoba melakukan praktik wudhu dan shalat di hadapan pemateri. Mahasiswa Kukerta lain bertugas mendampingi secara individual, sehingga anak-anak yang masih ragu dapat memperoleh bimbingan langsung. Model pembelajaran semacam ini membuat suasana menjadi lebih hidup, karena anak-anak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga aktif bergerak, mencoba, dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Selain praktik, kegiatan juga disertai sesi tanya jawab. Anak-anak dipancing dengan pertanyaan sederhana terkait urutan wudhu, bacaan shalat, serta makna pentingnya tumaAoninah. Sesi ini membantu memperkuat daya ingat sekaligus melatih keberanian mereka dalam menjawab pertanyaan di depan teman-temannya. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung secara menyeluruh, mencakup aspek kognitif, psikomotor, dan Gambar 1. Penyampaian materi fiqih dasar Gambar 2. Praktek Gerakan Sholat Hasil Evaluasi Berdasarkan hasil observasi tingkat pemahaman anak-anak terhadap tata cara wudhu dan shalat masih rendah, dengan rata-rata skor 60%. Setelah mengikuti pembelajaran Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Fiqih Dasar dengan Pendekatan a berbasis praktik langsung, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan rata-rata skor mencapai 85%. Selain itu, observasi menunjukkan bahwa anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam mempraktikkan wudhu dan shalat dengan benar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan praktik langsung efektif dalam meningkatkan pemahaman anak-anak terhadap fiqih dasar, khususnya dalam ibadah wudhu dan shalat. Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran konstruktivisme yang menekankan bahwa pengalaman langsung dapat meningkatkan daya ingat dan keterampilan anak. Selain itu, faktor-faktor pendukung keberhasilan program ini antara lain: Partisipasi aktif pengajar TPQ, yang membantu dalam pendampingan selama praktik berlangsung. Metode pembelajaran yang interaktif, di mana anak-anak tidak hanya mendengar teori tetapi juga langsung mempraktikkan ibadah yang diajarkan. Evaluasi berkala, yang membantu dalam mengukur perkembangan pemahaman peserta. Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi selama pelaksanaan, seperti kurangnya fasilitas wudhu yang memadai dan waktu yang terbatas untuk setiap sesi praktik. Oleh karena itu, rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya adalah meningkatkan sarana prasarana TPQ dan memperpanjang durasi pembelajaran agar lebih optimal. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Setelah pengabdian ini berlangsung selama satu bulan atau sepuluh pertemuan, peserta sudah mampu mengucapakan huruf-huruf hijaiah dengan cukup baik dan benar, peserta juga sudah bisa melafadzkan huruf-huruf seperti ain, ha, tsa, zha, ghain, shod, dhad, dzal dengan cukup baik yang mana sebelumnya para peserta merasa kesulitan dalam mengucapkan huruf-huruf tersebut. Selain dari sisi makhorijul huruf, peserta juga sudah mulai pandai dalam membedakan Panjang pendek bacaannya sesuai kaidah hukum tajwid yang ada. para peserta pemahaman ilmu tajwid yang semakin baik setelah mengikuti program pendampingan yang telah terlaksana yang tentunya sesuai tujuan dan harapan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Peneliti merekomendasikan agar ada penambahan tenaga pengajar Tahsin Al-Quran di Mushola Nurul Huda supaya menambah waktu pembelajaran dan lebih mempercepat peningkatan bacaan Al-Quran para peserta. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muhammad Naufal Rahmatullah Nugraha. Ridho Hafidz Rivaldy DAFTAR PUSTAKA