Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Model Integrasi Pendidikan Agama Hindu Dalam Pengembangan Pariwisata Spiritual Regeneratif Di Desa Wisata Gunung Salak Bali Pradna Lagatama*. Nyoman Danendra Putra Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Singaraja. Indonesia *pradnalagatama@gmail. Abstract The development of spiritual tourism in Bali faces challenges related to cultural commodification and the desacralization of religious practices due to the increasing economic orientation of tourism activities. This condition highlights the importance of strengthening Hindu religious education values as a foundation for sustainable and regenerative spiritual tourism development. This study aims to analyze the integration model of Hindu religious education in the development of regenerative spiritual tourism in Gunung Salak Tourism Village. Bali. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis involving eight purposively selected informants and were analyzed using thematic analysis supported by source and method triangulation. The findings reveal that Hindu religious education values, particularly Tri Hita Karana. Tat Twam Asi, and Tri Kaya Parisudha are integrated into community spiritual practices, community-based tourism management, and destination governance oriented toward cultural and environmental preservation. The study proposes an integrative model that connects Hindu religious education as a value foundation, community spiritual practices as the basis of tourism experiences, community-based tourism management as the implementation mechanism, and regenerative tourism principles as the framework for destination development. The model contributes to cultural preservation, the strengthening of spiritual awareness, increased community participation, and the social and ecological sustainability of the tourism village. It can be concluded that Hindu religious education plays a strategic role as both a normative and transformative foundation in fostering regenerative spiritual tourism that is harmonious, educational, and sustainable. Keywords: Regenerative Spiritual Tourism. Hindu Religious Education. Tourism Village. Community-Based Tourism Abstrak Pengembangan pariwisata spiritual di Bali menghadapi tantangan berupa komodifikasi budaya dan desakralisasi praktik keagamaan akibat meningkatnya orientasi ekonomi dalam aktivitas wisata. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan nilai-nilai pendidikan agama Hindu sebagai landasan pengembangan pariwisata spiritual yang berkelanjutan dan regeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif di Desa Wisata Gunung Salak. Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap delapan informan yang dipilih secara purposive, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan triangulasi sumber dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama Hindu, khususnya Tri Hita Karana. Tat Twam Asi, dan Tri Kaya Parisudha terintegrasi dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH praktik spiritual masyarakat, pengelolaan wisata berbasis komunitas, serta tata kelola destinasi yang berorientasi pada pelestarian budaya dan lingkungan. Penelitian ini menghasilkan model integrasi yang menghubungkan pendidikan agama Hindu sebagai fondasi nilai, praktik spiritual masyarakat sebagai basis pengalaman wisata, pengelolaan wisata berbasis komunitas sebagai mekanisme implementasi, dan prinsip pariwisata regeneratif sebagai kerangka pengembangan destinasi. Model tersebut berkontribusi pada pelestarian budaya, penguatan kesadaran spiritual, peningkatan partisipasi masyarakat, serta keberlanjutan sosial dan ekologis desa wisata. Disimpulkan bahwa pendidikan agama Hindu memiliki peran strategis sebagai fondasi normatif dan transformasional dalam membangun pariwisata spiritual regeneratif yang harmonis, edukatif, dan Kata Kunci: Pariwisata Spiritual Regeneratif. Pendidikan Agama Hindu. Desa Wisata. Pariwisata Berbasis Komunitas Pendahuluan Pariwisata spiritual dalam beberapa dekade terakhir berkembang sebagai bagian dari transformasi tren pariwisata global yang tidak lagi hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga pada pencarian pengalaman yang bermakna, reflektif, dan berkaitan dengan nilai-nilai spiritual serta budaya lokal (Norman, 2. Wisata spiritual tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan formal, tetapi juga mencakup pengalaman personal melalui praktik seperti ziarah, meditasi, yoga, dan interaksi dengan ruang-ruang sakral yang memiliki nilai religius dan historis tertentu (Timothy & Olsen, 2006. Sharpley & Sundaram, 2. Dalam konteks ini, wisata spiritual dipahami sebagai bentuk perjalanan yang memungkinkan wisatawan pada pencaria makna, pengalaman batin sekaligus pemahaman terhadap budaya dan spiritualitas masyarakat lokal (RifaAoi & Kamaludin. Astrina et al. , 2. Dalam konteks Bali, wisata spiritual memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan religius masyarakat Hindu Bali yang ditandai oleh keberadaan pura, praktik ritual yang berkelanjutan, serta nilai-nilai spiritual yang terintegrasi dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat (Picard, 1996. Lansing. Salah satu nilai utama yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana, yaitu konsep keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan (Windia & Dewi, 2. Kondisi tersebut menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata spiritual berbasis budaya dan agama. Namun, perkembangan pariwisata juga menghadirkan tantangan berupa komodifikasi budaya dan desakralisasi ruang-ruang spiritual akibat meningkatnya orientasi ekonomi dalam aktivitas wisata (Higgins-Desbiolles, 2. Meskipun memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata spiritual, perkembangan pariwisata di Bali juga menghadapi tantangan berupa komodifikasi budaya dan desakralisasi praktik ritual keagamaan akibat meningkatnya orientasi ekonomi dalam aktivitas wisata. Dalam beberapa kasus, ritual dan simbol keagamaan diposisikan sebagai atraksi wisata yang berpotensi menggeser makna spiritual masyarakat lokal (Higgins-Desbiolles. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan dimensi edukatif dalam pengelolaan pariwisata spiritual melalui internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Hindu agar aktivitas wisata tidak hanya berorientasi pada pengalaman wisatawan, tetapi juga pada pelestarian nilai budaya dan spiritual masyarakat (Lagatama, 2. Dalam konteks tersebut, diperlukan suatu pendekatan pengembangan wisata yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan, tetapi juga mampu menjaga dan memperkuat nilai-nilai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH spiritual serta budaya masyarakat lokal. Namun demikian, kajian yang secara khusus mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan agama Hindu dengan pengembangan wisata spiritual berbasis pariwisata regeneratif masih relatif terbatas. Konsep Tri Hita Karana menjadi landasan filosofis kehidupan masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan . , manusia dengan sesama . , serta manusia dengan alam . (Ardika, 2015. Suryawan & Arismayanti, 2. Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi dasar dalam kehidupan religius masyarakat, tetapi juga menjadi prinsip penting dalam pengelolaan pariwisata berbasis budaya di Bali. Pengembangan pariwisata spiritual juga berkaitan erat dengan konsep desa wisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengelolaan destinasi wisata. Pengembangan desa wisata menjadi strategi penting dalam mendorong pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Penerapan Tri Hita Karana mampu memperkuat pengelolaan destinasi wisata yang berorientasi pada pelestarian lingkungan, penguatan kohesi sosial masyarakat, serta perlindungan nilai-nilai budaya lokal (Wiwin, 2021. Paramita, 2. Konsep ini juga dipandang relevan dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan karena menempatkan keseimbangan ekologis, sosial, dan spiritual sebagai fondasi pembangunan destinasi wisata (Subrata et al. , 2. Kondisi tersebut menjadikan Bali sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan pariwisata spiritual berbasis nilai-nilai budaya dan agama Hindu. Penelitian Putra . menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata mampu meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi wisata sekaligus memperkuat identitas budaya lokal sebagai daya tarik wisata. Seiring berkembangnya paradigma pembangunan pariwisata berkelanjutan, muncul pendekatan pariwisata regeneratif sebagai perspektif baru dalam pengelolaan destinasi wisata. Berbeda dengan paradigma sustainability yang berorientasi pada menjaga kondisi yang ada, pariwisata regeneratif menekankan pemulihan dan penguatan sistem sosial, budaya, dan ekologis destinasi wisata (Iddawala & Lee, 2. Pendekatan ini menempatkan masyarakat lokal dan nilai budaya sebagai bagian penting dalam proses regenerasi destinasi wisata. Kajian mengenai pariwisata regeneratif mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian Sandy et al. , . menunjukkan bahwa pendekatan regeneratif dalam pengelolaan destinasi wisata dapat berkontribusi pada pemulihan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan destinasi. Selain itu, penelitian Tsani et al. , . menegaskan bahwa penerapan prinsipprinsip pariwisata regeneratif melalui pemberdayaan kelompok sadar wisata (Pokdarwi. mampu memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola destinasi wisata secara Meskipun kajian mengenai wisata spiritual dan pariwisata regeneratif telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar penelitian masih membahas kedua konsep tersebut secara terpisah. Penelitian wisata spiritual umumnya lebih menekankan pada pengalaman religius wisatawan dan potensi budaya destinasi Norman . Timothy & Olsen . sedangkan kajian pariwisata regeneratif lebih berfokus pada aspek keberlanjutan lingkungan dan tata kelola destinasi wisata (Radyahadi, 2. Di sisi lain, penelitian mengenai pendidikan agama Hindu dalam konteks pariwisata masih terbatas pada aspek pelestarian budaya dan internalisasi nilai spiritual masyarakat (Ardika, 2. Hingga saat ini, belum banyak penelitian yang secara khusus mengintegrasikan pendidikan agama Hindu, praktik spiritual masyarakat, dan prinsip pariwisata regeneratif dalam pengembangan desa wisata berbasis budaya. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan novelty berupa model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif berbasis komunitas di Desa Wisata Gunung Salak. Bali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Desa Wisata Gunung Salak dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakteristik yang relevan dengan pengembangan pariwisata spiritual regeneratif. Desa ini masih mempertahankan praktik ritual keagamaan Hindu Bali secara aktif, memiliki lanskap spiritual berbasis pura dan ruang suci, serta menerapkan pengelolaan wisata berbasis komunitas. Selain itu, masyarakat desa masih mempraktikkan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam kehidupan sosial dan pengelolaan lingkungan, sehingga memberikan konteks yang tepat untuk menganalisis integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model integratif yang menghubungkan pendidikan agama Hindu sebagai fondasi nilai, praktik spiritual masyarakat sebagai basis pengalaman wisata, serta prinsip pariwisata regeneratif sebagai kerangka pengelolaan destinasi yang belum secara komprehensif dibahas dalam studi-studi sebelumnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif di Desa Wisata Gunung Salak. Bali. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian wisata spiritual dan pariwisata regeneratif, serta kontribusi praktis bagi pengelolaan desa wisata berbasis budaya dan spiritualitas masyarakat lokal. Untuk mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada Desa Wisata Gunung Salak. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat serta pengelola desa wisata, dan studi dokumentasi terhadap berbagai sumber yang relevan. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di Desa Wisata Gunung Salak. Bali selama empat bulan mulai dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2026. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada karakteristik desa yang masih mempertahankan praktik ritual keagamaan Hindu Bali secara aktif, memiliki lanskap spiritual berbasis pura dan ruang suci, serta menerapkan pengelolaan wisata berbasis komunitas yang relevan dengan prinsip pariwisata Penelitian difokuskan pada analisis integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari informan yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas wisata spiritual, memahami praktik keagamaan dan budaya lokal, serta berperan dalam pengelolaan desa Informan penelitian berjumlah delapan orang yang terdiri atas dua pengelola desa wisata, dua tokoh adat, satu tokoh agama, dan tiga masyarakat lokal yang terlibat dalam aktivitas wisata spiritual. Data sekunder diperoleh dari dokumen desa, arsip kegiatan, serta berbagai literatur yang relevan dengan fokus penelitian. Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara semi terstruktur, lembar observasi, alat perekam suara, dan Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik melalui tahapan reduksi data, kategorisasi tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara interpretatif. Analisis dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian untuk mengidentifikasi pola integrasi antara nilai-nilai pendidikan agama Hindu, praktik spiritual masyarakat, dan pengelolaan pariwisata spiritual regeneratif. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan metode untuk memastikan konsistensi dan keabsahan data yang diperoleh. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Potensi Wisata Spiritual di Desa Wisata Gunung Salak Untuk memahami potensi wisata spiritual secara lebih komprehensif, lanskap spiritual yang tercermin melalui keberadaan pura dan ruang-ruang suci perlu dilihat bersamaan dengan praktik ritual dan tradisi keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat Lanskap spiritual tidak hanya terbentuk dari keberadaan tempat-tempat suci, tetapi juga dari berbagai aktivitas religius yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari kehidupan spiritual sehari-hari. Potensi wisata spiritual di Desa Gunung Salak dapat dianalisis melalui praktik ritual dan tradisi keagamaan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Lanskap Spiritual dan Keagamaan Desa Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Gunung Salak memiliki lanskap spiritual yang kuat yang tercermin dari keberadaan pura dan aktivitas keagamaan Hal ini juga ditegaskan oleh Suparta selaku tokoh adat menyatakan Pura di desa bukan hanya tempat sembahyang, tapi pusat kegiatan masyarakat. Hampir setiap bulan ada upacara yang melibatkan warga (Wawancara, 16 Pebruari 2. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan pura tidak hanya berfungsi sebagai ruang religius, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan spiritual masyarakat desa. Aktivitas religius seperti persembahyangan bersama, pelaksanaan piodalan di pura, serta berbagai bentuk ritual keagamaan lainnya dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat sebagai bagian dari kehidupan religius sehari-hari. Berdasarkan hasil observasi lapangan selama penelitian, aktivitas persembahyangan di pura dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Peneliti juga mengamati bahwa wisatawan yang berkunjung seringkali menyaksikan langsung pelaksanaan ritual, namun tetap berada pada batas-batas yang ditentukan oleh masyarakat adat. Praktik tersebut menunjukkan bahwa kehidupan spiritual masyarakat tidak terpisah dari aktivitas sosial yang berlangsung dalam komunitas desa. Keberadaan ruangruang suci tersebut juga memperlihatkan bahwa praktik spiritual masyarakat terorganisasi melalui sistem kelembagaan adat yang masih berfungsi secara aktif. Lembaga desa adat berperan dalam mengatur pelaksanaan upacara keagamaan, menjaga kesucian tempat ibadah, serta memastikan bahwa setiap aktivitas yang berkaitan dengan ruang sakral dilakukan sesuai dengan norma dan tata nilai yang berlaku dalam tradisi Hindu Bali. Keberadaan lembaga adat memiliki peran penting dalam mempertahankan keberlanjutan praktik spiritual masyarakat desa. Temuan ini menunjukkan bahwa lanskap spiritual Desa Gunung Salak bukan sekadar elemen budaya yang bersifat simbolik, melainkan merupakan bagian dari sistem kehidupan masyarakat yang terus dipraktikkan secara kolektif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa desa memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata spiritual yang berbasis pada praktik religius masyarakat lokal. Lanskap spiritual yang hidup dalam masyarakat Desa Gunung Salak menunjukkan bahwa ruang-ruang sakral tidak hanya berfungsi sebagai objek budaya, tetapi juga sebagai medium produksi makna spiritual dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam perspektif spiritual tourism, kondisi ini menunjukkan bahwa pengalaman wisata spiritual terbentuk melalui interaksi wisatawan dengan praktik religius yang autentik dan masih hidup dalam masyarakat lokal (Norman, 2. Keberadaan praktik spiritual yang terus dijalankan secara kolektif memperlihatkan karakter living culture, yaitu budaya yang tidak dipertahankan sebagai pertunjukan wisata semata, tetapi tetap berfungsi dalam sistem kehidupan masyarakat (Picard, 1. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dengan demikian, nilai autentisitas spiritual menjadi elemen penting dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif karena memungkinkan terjadinya hubungan yang lebih reflektif antara wisatawan, budaya lokal, dan lingkungan sosial Dalam konteks wisata spiritual, pengalaman wisatawan tidak hanya diperoleh melalui kunjungan ke tempat-tempat suci, tetapi juga melalui pemahaman terhadap nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat lokal. Wisata spiritual memungkinkan wisatawan untuk mengalami dimensi reflektif dan kontemplatif dalam perjalanan mereka, sehingga perjalanan wisata tidak hanya bersifat rekreatif tetapi juga memberikan pengalaman batin yang lebih mendalam (Timothy & Olsen, 2. Dengan demikian, lanskap spiritual yang dimiliki Desa Gunung Salak dapat menjadi basis penting dalam pengembangan wisata spiritual yang berakar pada kehidupan religius masyarakat. Praktik Ritual dan Tradisi Keagamaan Sebagai Daya Tarik Wisata Spiritual Praktik ritual keagamaan dan keberadaan tempat-tempat suci menjadi daya tarik utama dalam pengembangan wisata spiritual (Mahardika & Nova, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai praktik ritual dan tradisi keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Gunung Salak memiliki potensi sebagai daya tarik wisata spiritual. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 8 informan, sebanyak 6 informan menyatakan bahwa kegiatan ritual keagamaan merupakan daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke desa. Dari hasil wawancara, mayoritas informan menegaskan bahwa ritual keagamaan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus menjadi daya tarik Hal ini juga ditegaskan oleh Artaya selaku pengelola desa wisata menyatakan bahwa wisatawan biasanya tertarik melihat upacara karena mereka merasa mendapatkan pengalaman spiritual yang berbeda (Wawancara, 16 Pebruari 2. Untuk memperkuat temuan tersebut, hasil wawancara menunjukkan bahwa ritual keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban religius masyarakat, tetapi juga menjadi elemen utama dalam membentuk pengalaman wisata spiritual yang autentik. Hal ini menunjukkan bahwa praktik ritual tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas religius, tetapi juga sebagai medium pengalaman spiritual bagi wisatawan. Dalam perspektif wisata spiritual, kondisi ini sejalan dengan pandangan bahwa pengalaman wisata bersifat reflektif dan transformasional (Norman, 2. Ritual keagamaan seperti upacara yadnya, persembahyangan bersama di pura, serta berbagai tradisi ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat masih dilaksanakan secara rutin. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban religius masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial dan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain ritual keagamaan formal, praktik spiritual masyarakat juga terlihat dalam aktivitas keseharian seperti persembahan harian, doa bersama, serta berbagai bentuk penghormatan terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas masyarakat tidak terbatas pada kegiatan ritual tertentu, tetapi terintegrasi dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Peran masyarakat lokal juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi spiritual tersebut. Pengetahuan mengenai tata cara ritual, makna simbolik dalam upacara keagamaan, serta nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya diwariskan secara turun-temurun melalui keluarga, lembaga adat, dan aktivitas sosial masyarakat. Proses pewarisan nilai ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran sebagai penjaga sekaligus penerus tradisi spiritual yang berkembang di desa. Temuan ini menunjukkan bahwa ritual dan tradisi keagamaan yang berkembang di Desa Gunung Salak memiliki potensi yang besar sebagai bagian dari pengembangan wisata spiritual. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Namun demikian, praktik ritual tersebut tidak dapat diposisikan semata-mata sebagai atraksi wisata, karena ritual keagamaan memiliki makna sakral yang berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat. Pengembangan wisata spiritual perlu dilakukan dengan pendekatan yang menghormati nilai-nilai religius masyarakat lokal. Beberapa kajian menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata dapat menimbulkan risiko komodifikasi terhadap praktik budaya dan ritual keagamaan jika tidak dikelola dengan Komodifikasi budaya berpotensi mengurangi makna spiritual dari praktik ritual karena tradisi yang semula bersifat sakral dapat berubah menjadi pertunjukan bagi wisatawan (Shepherd, 2. Oleh karena itu, pengembangan wisata spiritual perlu menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengelolaan aktivitas wisata sehingga nilai-nilai sakral dalam praktik ritual tetap terjaga. Dalam perspektif wisata spiritual, pengalaman wisatawan tidak hanya terletak pada pengamatan terhadap ritual keagamaan, tetapi juga pada proses refleksi yang muncul dari interaksi dengan budaya dan spiritualitas masyarakat lokal. Wisata spiritual memungkinkan wisatawan untuk memperoleh pengalaman yang bersifat personal dan kontemplatif melalui interaksi dengan lingkungan budaya dan spiritual destinasi yang dikunjungi (Norman, 2. Pengembangan wisata spiritual di Desa Gunung Salak dapat diarahkan pada konsep wisata berbasis pengalaman autentik, yaitu wisata yang memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk memahami nilai-nilai spiritual masyarakat secara lebih mendalam tanpa menghilangkan kesakralan praktik ritual yang Dalam perspektif pariwisata regeneratif, praktik ritual dan tradisi keagamaan masyarakat tidak hanya dipandang sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai bagian dari sistem sosial dan spiritual yang perlu dijaga keberlanjutannya. Pendekatan regeneratif menempatkan budaya lokal dan komunitas sebagai elemen utama dalam proses pengembangan destinasi wisata, sehingga aktivitas pariwisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan keberlanjutan sosial masyarakat (Ghalih & Dewayani, 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kesakralan ritual menjadi mekanisme penting untuk mencegah desakralisasi dan komodifikasi budaya dalam pengembangan wisata spiritual. Dengan demikian, praktik spiritual masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai atraksi wisata, tetapi juga sebagai bentuk regenerasi budaya dan spiritual yang mempertahankan keberlanjutan nilai-nilai Integrasi Pendidikan Agama Hindu dalam Pengembangan Wisata Spiritual Peran Pendidikan Agama Hindu dalam Pembentukan Nilai Spiritual Masyarakat Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama Hindu memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran spiritual masyarakat Desa Wisata Gunung Salak. Pendidikan agama tidak hanya berlangsung dalam lembaga pendidikan formal, tetapi juga diwariskan melalui keluarga, lembaga adat, serta praktik budaya dan ritual keagamaan yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat. Proses pewarisan nilai tersebut membentuk pemahaman masyarakat mengenai hubungan harmonis antara manusia. Tuhan, dan alam yang menjadi dasar dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Bali. Dalam kehidupan masyarakat desa, pendidikan agama Hindu tercermin dalam berbagai praktik spiritual yang dilaksanakan secara rutin, seperti persembahyangan di pura, pelaksanaan upacara yadnya, serta berbagai bentuk ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia. Aktivitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban religius, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH generasi ke generasi. Melalui praktik ritual tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai makna spiritualitas, etika kehidupan, serta tanggung jawab manusia dalam menjaga harmoni dengan lingkungan. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu juga tercermin dalam konsep-konsep filosofis yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali, seperti konsep Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Berdasarkan hasil observasi, nilainilai ajaran Hindu seperti Tri Hita Karana tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti dalam menjaga kebersihan lingkungan pura dan keterlibatan kolektif dalam kegiatan keagamaan. Hal ini diperkuat oleh Sudiarta selaku masyarakat lokal menyatakan bahwa kami diajarkan sejak kecil untuk menjaga keseimbangan dengan alam dan sesama, itu yang juga kami terapkan dalam menerima wisatawan (Wawancara 3 Maret 2. Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Artayasa selaku pengelola desa wisata menjelaskan konsep Tri Hita Karana menjadi dasar kami dalam mengelola desa wisata supaya tidak merusak alam dan budaya (Wawancara 3 Maret 2. Untuk memperkuat hal tersebut, hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai ajaran normatif, tetapi juga terinternalisasi dalam praktik kehidupan masyarakat, termasuk dalam pengelolaan aktivitas pariwisata di desa. Dalam perspektif pendidikan agama, proses pewarisan nilai-nilai spiritual melalui praktik sosial masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak hanya berlangsung dalam ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan budaya Pendidikan agama Hindu memiliki fungsi sebagai sarana internalisasi nilainilai moral dan spiritual yang membentuk kesadaran religius masyarakat (Ardika, 2. Pendidikan agama dapat dipahami sebagai proses pembentukan karakter spiritual yang mempengaruhi cara masyarakat memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam konteks pengembangan wisata spiritual, nilai-nilai pendidikan agama Hindu menjadi landasan etis dalam mengelola aktivitas pariwisata agar tetap selaras dengan nilai-nilai spiritual masyarakat. Konsep Tri Hita Karana tidak hanya berfungsi sebagai ajaran filosofis, tetapi juga dapat menjadi kerangka normatif dalam mengembangkan pariwisata yang menghormati keseimbangan antara manusia, budaya, dan lingkungan. Dengan demikian, pendidikan agama Hindu memiliki peran strategis dalam membentuk paradigma pengelolaan wisata yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan nilai-nilai spiritual Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai Tri Hita Karana tidak hanya dipahami sebagai konsep filosofis, tetapi juga diimplementasikan dalam praktik pengelolaan wisata di Desa Gunung Salak. Aspek palemahan tercermin dalam upaya masyarakat menjaga kebersihan area pura, pembatasan aktivitas wisata pada ruang-ruang tertentu, dan pelestarian lingkungan sekitar kawasan spiritual. Aspek pawongan terlihat melalui keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata berbasis komunitas dan pembagian peran sosial secara kolektif. Sementara itu, aspek parhyangan diwujudkan melalui pemeliharaan kesakralan ritual dan kewajiban wisatawan untuk menghormati aturan adat ketika memasuki kawasan spiritual. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama Hindu berfungsi sebagai mekanisme sosial yang mengatur hubungan antara masyarakat, wisatawan, dan lingkungan dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Praktik Wisata Spiritual Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak tidak terlepas dari nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai praktik sosial https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan ruang spiritual, pelaksanaan ritual keagamaan, serta interaksi antara masyarakat dengan lingkungan alam desa. Salah satu nilai penting yang tercermin dalam praktik wisata spiritual adalah konsep Tat Twam Asi, yang mengajarkan kesadaran akan kesatuan antara manusia dengan sesama makhluk Nilai ini tercermin dalam sikap masyarakat yang menjunjung tinggi sikap saling menghormati, termasuk dalam menerima kehadiran wisatawan yang datang untuk mempelajari budaya dan spiritualitas masyarakat desa. Nilai tersebut juga mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antara masyarakat lokal dan wisatawan yang Berdasarkan hasil observasi, nilai Tat Twam Asi tercermin dalam sikap masyarakat yang terbuka dan menghormati wisatawan yang datang, tanpa mengabaikan batas-batas nilai adat dan spiritual yang berlaku. Interaksi antara masyarakat dan wisatawan berlangsung secara harmonis dengan tetap menjaga etika dan norma lokal. Hal ini juga diperkuat oleh Yudi selaku masyarakat lokal menyatakan bahwa kami menganggap wisatawan sebagai tamu yang harus dihormati, tapi tetap harus mengikuti aturan yang ada di desa (Wawancara, 3 Maret 2. Sejalan dengan hal tersebut pernyataan dari Sukandi selaku pengelola desa wisata menjelaskan bahwa nilai saling menghargai itu penting, jadi wisatawan juga diarahkan supaya memahami budaya kami, bukan hanya melihat saja (Wawancara, 16 Pebruari Dalam praktik wisata spiritual, nilai Tat Twam Asi membentuk pola interaksi yang lebih etis antara masyarakat lokal dan wisatawan. Masyarakat tidak memposisikan wisatawan semata sebagai konsumen wisata, tetapi sebagai individu yang perlu memahami nilai spiritual dan norma budaya lokal. Hal ini terlihat dari praktik pendampingan wisatawan dalam mengikuti aktivitas ritual, pemberian penjelasan mengenai etika memasuki area suci, serta pembatasan perilaku wisatawan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai kesakralan tempat. Dengan demikian, nilai Tat Twam Asi berfungsi sebagai dasar cultural mediation yang menjembatani interaksi antara budaya lokal dan pengalaman wisatawan dalam wisata Temuan ini menunjukkan bahwa nilai Tat Twam Asi tidak hanya dipahami sebagai ajaran filosofis, tetapi juga diwujudkan dalam praktik sosial masyarakat, khususnya dalam interaksi dengan wisatawan. Selain itu, nilai Tri Kaya Parisudha, yaitu ajaran mengenai kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, juga tercermin dalam praktik kehidupan masyarakat desa. Nilai ini menjadi pedoman etika dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat, termasuk dalam interaksi dengan wisatawan. Dalam konteks pengembangan wisata spiritual, nilai tersebut menjadi landasan moral bagi masyarakat dalam menjaga sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai spiritual masyarakat Hindu. Hasil observasi menunjukkan bahwa nilai Tri Kaya Parisudha juga tercermin dalam sikap masyarakat dalam menjaga perilaku selama aktivitas wisata, seperti penggunaan bahasa yang sopan, sikap ramah terhadap wisatawan, serta kepatuhan terhadap norma-norma adat dalam setiap aktivitas. Hal ini ditegaskan oleh Sudiarta selaku masyarakat lokal menyatakan bahwa kami selalu diingatkan untuk menjaga sikap, baik dalam berbicara maupun bertindak, apalagi saat berinteraksi dengan wisatawan (Wawancara, 3 Maret 2. Sejalan dengan hal tersebut pernyataan dari Artayasa selaku pengelola desa wisata menjelaskan etika itu penting, karena wisata spiritual bukan hanya soal tempat, tapi juga bagaimana kita bersikap (Wawancara, 3 Maret 2. Nilai Tri Kaya Parisudha juga memengaruhi praktik pelayanan wisata spiritual di Desa Gunung Salak. Prinsip berpikir baik . , berkata baik . , dan berperilaku baik . menjadi pedoman etis masyarakat dalam berinteraksi dengan wisatawan. Nilai tersebut membentuk pola pelayanan wisata yang lebih humanis, menghormati kesakralan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH ruang spiritual, dan mengedepankan pengalaman wisata yang edukatif dibandingkan orientasi komersial semata. Dengan demikian, nilai Tri Kaya Parisudha berfungsi sebagai pedoman etika yang mengatur perilaku masyarakat dalam interaksi sosial, termasuk dalam aktivitas pariwisata. Nilai-nilai pendidikan agama tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pedoman moral bagi masyarakat, tetapi juga menjadi dasar dalam menjaga kesakralan praktik ritual dan ruang spiritual desa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Hindu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian nilai-nilai spiritual masyarakat. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang hidup dalam masyarakat dapat menjadi fondasi penting dalam pengembangan wisata spiritual berbasis budaya. Wisata spiritual tidak hanya menawarkan pengalaman wisata yang berkaitan dengan tempat-tempat suci, tetapi juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk memahami nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat lokal. Dalam kajian wisata spiritual, pengalaman wisatawan sering kali berkaitan dengan pencarian makna hidup, refleksi diri, serta pengalaman spiritual yang diperoleh melalui interaksi dengan budaya dan lingkungan destinasi wisata (Norman, 2. Oleh karena itu, keberadaan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman wisata spiritual yang autentik. Pengembangan wisata spiritual yang berakar pada nilai-nilai pendidikan agama juga dapat menjadi strategi untuk menghindari komodifikasi budaya dan ritual keagamaan. Dengan menempatkan nilai-nilai spiritual sebagai landasan utama dalam pengelolaan pariwisata, masyarakat dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai religius yang menjadi identitas budaya mereka (Shepherd, 2. Dengan demikian, integrasi antara pendidikan agama Hindu dan pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sektor ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai spiritual bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Integrasi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan model wisata spiritual yang tidak hanya berorientasi pada pengalaman wisata, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai sistem etika individual, tetapi juga membentuk tata kelola sosial dalam aktivitas pariwisata berbasis komunitas. Dalam konteks pariwisata spiritual regeneratif, internalisasi nilai-nilai spiritual masyarakat berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan sosial masyarakat lokal. Pola Integrasi Nilai Spiritual Dalam Aktivitas Pariwisata Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai spiritual dalam aktivitas pariwisata di Desa Wisata Gunung Salak berlangsung melalui proses yang tidak terpisah dari kehidupan sosial dan religius masyarakat. Integrasi tersebut tidak hanya terlihat pada keberadaan objek wisata berbasis spiritual, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai agama Hindu diinternalisasikan dalam praktik wisata yang melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Berdasarkan hasil observasi, integrasi nilai spiritual dalam aktivitas pariwisata tercermin dalam keterlibatan masyarakat dalam menjelaskan makna simbolik dari ritual keagamaan kepada wisatawan, serta dalam penerapan batasan-batasan adat terhadap akses wisatawan di ruang-ruang sakral. Wisatawan tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga diarahkan untuk memahami nilai-nilai spiritual yang mendasari praktik budaya yang mereka saksikan. Hal ini diperkuat oleh Sukandi selaku pengelola desa wisata menyatakan bahwa kami tidak hanya menunjukkan tempat, tapi juga menjelaskan maknanya supaya wisatawan bisa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH memahami, bukan sekadar melihat (Wawancara, 18 Maret 2. Sejalan dengan itu Suparta selaku tokoh adat menambahkan tidak semua bagian boleh diakses wisatawan, ada aturan adat yang harus dijaga supaya kesucian tetap terpelihara (Wawancara, 18 Maret 2. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi nilai spiritual dalam aktivitas pariwisata berlangsung secara selektif dan terkontrol. Masyarakat lokal berperan aktif dalam menentukan batasan antara ruang sakral dan ruang publik, sehingga aktivitas wisata tidak mengganggu praktik keagamaan yang berlangsung. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai pelaku wisata, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai spiritual yang menjadi identitas budaya desa. Selain itu, pola integrasi juga terlihat dalam proses interaksi antara masyarakat dan wisatawan yang bersifat edukatif. Wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman visual, tetapi juga pemahaman mengenai nilai-nilai spiritual seperti keharmonisan dengan alam, penghormatan terhadap tradisi, serta etika dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan budaya. Proses ini menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai media pembelajaran nilai-nilai spiritual. Dalam perspektif kajian wisata spiritual, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman wisata tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga reflektif dan transformasional, di mana wisatawan memperoleh pemahaman baru melalui interaksi dengan budaya dan spiritualitas masyarakat lokal. Dengan demikian, integrasi nilai spiritual dalam aktivitas pariwisata di Desa Wisata Gunung Salak membentuk pola yang bersifat partisipatif, edukatif, dan berbasis pada kontrol sosial masyarakat. Temuan ini menjadi dasar penting dalam merumuskan model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan wisata spiritual berbasis regeneratif yang tidak hanya menekankan aspek ekonomi, tetapi juga pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya masyarakat lokal. Peran Masyarakat Lokal Sebagai Agen Pendidikan Spiritual Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki peran strategis sebagai agen pendidikan spiritual dalam pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak. Peran ini tidak hanya terbatas pada keterlibatan dalam aktivitas pariwisata, tetapi juga mencakup proses penyampaian nilai-nilai spiritual dan budaya kepada wisatawan melalui interaksi langsung dalam berbagai kegiatan wisata. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal tidak hanya berfungsi sebagai pelaku wisata, tetapi juga sebagai agen pendidikan spiritual dalam pengembangan pariwisata berbasis Dalam perspektif community-based tourism, keterlibatan masyarakat lokal menjadi elemen penting untuk menjaga autentisitas budaya dan keberlanjutan destinasi wisata (Giampiccoli & Mtapuri, 2022. Yulianthini & Mahadewi, 2. Masyarakat berperan sebagai mediator budaya yang mentransmisikan nilai-nilai spiritual, norma adat, dan makna ritual kepada wisatawan melalui interaksi langsung dalam aktivitas wisata Proses cultural mediation tersebut memungkinkan wisatawan tidak hanya menikmati atraksi budaya, tetapi juga memahami konteks spiritual dan nilai sosial yang hidup dalam masyarakat lokal. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata mampu memperkuat keberlanjutan sosial, meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, serta menjaga keaslian budaya lokal yang menjadi identitas destinasi (Hanafi, 2024. Wicaksono, 2023. Prasetyo et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi, masyarakat secara aktif memberikan penjelasan kepada wisatawan mengenai makna simbolik dari ritual keagamaan, tata cara pelaksanaan upacara, serta nilai-nilai spiritual yang mendasari praktik tersebut. Proses ini berlangsung secara informal melalui interaksi langsung antara masyarakat dan wisatawan selama kegiatan wisata berlangsung, sehingga menciptakan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pengalaman belajar yang bersifat kontekstual dan partisipatif. Hal ini juga diperkuat oleh Yudi selaku masyarakat lokal menyatakan bahwa kami biasanya menjelaskan arti upacara kepada wisatawan supaya mereka tidak salah memahami apa yang mereka lihat (Wawancara 3 Maret 2. Hal tersebut juga ditambahkan oleh Artayasa selaku pengelola desa wisata menyatakan wisatawan sering bertanya tentang makna ritual, jadi kami menjelaskan nilai-nilai yang ada di balik tradisi kami (Wawancara, 16 Pebruari Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan wisata, tetapi juga sebagai mediator budaya yang mentransmisikan nilai-nilai spiritual kepada wisatawan. Dalam konteks ini, interaksi antara masyarakat dan wisatawan menjadi sarana penting dalam proses pendidikan spiritual yang terjadi secara alami dalam aktivitas pariwisata. Selain masyarakat umum, tokoh adat dan tokoh agama juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan keaslian nilai-nilai spiritual yang disampaikan kepada wisatawan. Tokoh adat berperan dalam mengatur tata pelaksanaan kegiatan wisata agar tetap sesuai dengan norma dan aturan adat, sementara tokoh agama memastikan bahwa praktik ritual yang ditampilkan tetap berada dalam koridor ajaran agama Hindu. Sinergi antara berbagai aktor ini memperkuat fungsi masyarakat sebagai agen pendidikan spiritual dalam pengembangan wisata berbasis budaya. Dalam perspektif wisata spiritual, keterlibatan masyarakat sebagai agen pendidikan menciptakan pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif dan reflektif. Wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman visual, tetapi juga pemahaman mengenai nilai-nilai spiritual seperti keharmonisan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap tradisi yang hidup dalam masyarakat lokal. Dengan demikian, peran masyarakat lokal sebagai agen pendidikan spiritual menunjukkan bahwa pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai media transmisi nilai-nilai budaya dan religius. Temuan ini sekaligus memperkuat bahwa keberhasilan integrasi antara pendidikan agama Hindu dan aktivitas pariwisata sangat bergantung pada peran aktif masyarakat sebagai subjek utama dalam proses tersebut. Beberapa kajian menunjukkan bahwa pengalaman wisata yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat lokal cenderung memberikan pengalaman yang lebih autentik bagi wisatawan (Norman, 2. Pengalaman tersebut memungkinkan wisatawan untuk memahami makna spiritual dari praktik budaya masyarakat secara lebih mendalam, sehingga wisata tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi tetapi juga menjadi proses pembelajaran mengenai nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Model Integrasi Pendidikan Agama Hindu dalam Pengembangan Wisata Spiritual Berbasis Regeneratif Komponen Model Integrasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak hanya membentuk praktik religius masyarakat, tetapi juga mempengaruhi cara masyarakat memandang hubungan antara manusia, alam, dan aktivitas pariwisata yang berkembang di desa. Berdasarkan temuan penelitian, integrasi antara pendidikan agama Hindu dan pengembangan wisata spiritual berbasis regeneratif dapat dipahami melalui beberapa komponen utama yang saling berkaitan. Komponen pertama adalah nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang menjadi landasan spiritual dalam kehidupan masyarakat desa. Nilai-nilai tersebut antara lain konsep Tri Hita Karana. Tat Twam Asi, dan Tri Kaya Parisudha yang menekankan pentingnya keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sesama, serta manusia dengan alam. Nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai ajaran religius, tetapi juga menjadi pedoman etika dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat, termasuk dalam pengelolaan aktivitas pariwisata. Komponen kedua adalah praktik spiritual masyarakat yang tercermin dalam berbagai ritual keagamaan, tradisi budaya, serta aktivitas spiritual yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat desa. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Ritual keagamaan, persembahyangan di pura, serta berbagai tradisi spiritual lainnya tidak hanya menjadi praktik religius, tetapi juga menjadi media pembelajaran nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Komponen ketiga adalah pengelolaan wisata berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengembangan desa wisata. Dalam konteks Desa Wisata Gunung Salak, masyarakat memiliki peran penting dalam mengelola aktivitas wisata, menjaga keberlanjutan tradisi spiritual, serta memberikan interpretasi budaya kepada wisatawan yang berkunjung. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata memungkinkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai budaya serta spiritual Komponen keempat adalah prinsip pariwisata regeneratif, yaitu pendekatan pengelolaan pariwisata yang tidak hanya berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya, tetapi juga berupaya memperkuat dan memulihkan ekosistem sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Dalam konteks Desa Wisata Gunung Salak, prinsip regeneratif tercermin dalam upaya masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan alam desa, melestarikan ruang-ruang suci, serta mempertahankan praktik spiritual sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Keempat komponen tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak tidak hanya bertumpu pada potensi alam atau budaya semata, tetapi juga berakar pada sistem nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat. Hasil observasi menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam aktivitas wisata tidak terlepas dari peran mereka sebagai pelaku budaya yang sekaligus menjaga praktik spiritual tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai adat dan Hal ini juga diperkuat oleh Suparta selaku tokoh adat menyatakan bahwa mereka tidak ingin wisata hanya untuk ekonomi, tapi juga harus tetap menjaga nilai-nilai spiritual yang ada di desa (Wawancara, 16 Pebruari 2. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Artayasa selaku pengelola desa wisata menjelaskan bahwa wisata di sini memang diarahkan supaya wisatawan tidak hanya melihat, tapi juga memahami nilai spiritualnya (Wawancara, 3 Maret 2. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi antara nilai spiritual dan aktivitas pariwisata tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah dipraktikkan secara nyata dalam pengelolaan desa wisata oleh masyarakat lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memiliki dasar empiris yang kuat dan relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Model ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai sistem pembelajaran religius, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk paradigma pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Nilainilai spiritual yang diajarkan dalam pendidikan agama Hindu menjadi dasar etika dalam mengelola aktivitas wisata sehingga pengembangan pariwisata tidak merusak nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Model Konseptual Integrasi Model konseptual integrasi dalam penelitian ini tidak hanya disusun berdasarkan kajian teoritis, tetapi juga merupakan hasil sintesis dari temuan lapangan yang menunjukkan adanya keterkaitan antara nilai-nilai pendidikan agama Hindu, praktik spiritual masyarakat, dan aktivitas pariwisata yang berkembang di Desa Wisata Gunung https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Salak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan mampu menjadi fondasi dalam membangun tata kelola destinasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat lokal (Wiwin, 2021. Pujaastawa & Sudana, 2. Temuan empiris menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat secara nyata diintegrasikan dalam praktik pengelolaan wisata, sehingga membentuk pola hubungan yang saling mempengaruhi antara aspek religius, sosial, dan ekonomi dalam pengembangan wisata spiritual berbasis regeneratif. Dalam model tersebut, pendidikan agama Hindu berfungsi sebagai sumber nilai spiritual yang membentuk kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Kesadaran spiritual tersebut kemudian tercermin dalam berbagai praktik sosial masyarakat seperti pelaksanaan ritual keagamaan, penghormatan terhadap ruang suci, serta sikap masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan desa. Nilai-nilai spiritual tersebut selanjutnya diintegrasikan dalam praktik pengelolaan wisata desa melalui partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas wisata. Masyarakat tidak hanya menyediakan layanan wisata, tetapi juga berperan sebagai agen budaya yang memperkenalkan nilai-nilai spiritual kepada wisatawan melalui interpretasi budaya, praktik ritual, serta interaksi sosial yang terjadi selama kegiatan wisata berlangsung. Integrasi tersebut pada akhirnya menghasilkan bentuk wisata spiritual yang tidak hanya memberikan pengalaman wisata bagi pengunjung, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian nilai-nilai spiritual masyarakat serta keberlanjutan lingkungan dan budaya desa. Dengan demikian, wisata spiritual yang berkembang di Desa Wisata Gunung Salak tidak hanya berfungsi sebagai sektor ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pelestarian nilai-nilai spiritual dan pendidikan budaya bagi masyarakat dan Model Integrasi dalam penelitian ini dapat dirumuskan pada Bagan 1. Bagan 1. Model Integrasi Pendidikan Agama Hindu Dalam Pengembangan Pariwisata Spiritual Regeneratif (Sumber: Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Model integrasi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai fondasi normatif dalam aktivitas wisata spiritual, tetapi juga sebagai mekanisme regeneratif yang membentuk tata kelola sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Temuan ini sejalan dengan pendekatan regenerative tourism yang menekankan penguatan sistem sosial, budaya, dan ekologis destinasi wisata secara berkelanjutan Bellato et al. , . Bellato & Pollock . Integrasi antara nilai-nilai pendidikan agama Hindu, praktik spiritual masyarakat, dan pengelolaan wisata berbasis komunitas memperlihatkan bahwa keberlanjutan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi dan ekologis, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mempertahankan sistem nilai dan praktik budaya secara Model ini menempatkan spiritualitas lokal sebagai elemen sentral dalam proses regenerasi destinasi wisata. Berbeda dengan beberapa model pengembangan wisata spiritual sebelumnya yang lebih menekankan pada aspek pengalaman wisatawan, daya tarik budaya, atau keberlanjutan destinasi wisata semata Norman . Timothy & Olsen . model dalam penelitian ini mengintegrasikan dimensi pendidikan agama Hindu sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata spiritual regeneratif. Model ini tidak hanya menempatkan masyarakat lokal sebagai penyedia atraksi wisata, tetapi juga sebagai agen pendidikan spiritual dan mediator budaya dalam proses interaksi dengan Selain itu, pendekatan regeneratif dalam model ini memperluas paradigma sustainability dengan menekankan penguatan sistem sosial, spiritual, dan budaya masyarakat lokal secara berkelanjutan. Secara praktis, model integrasi ini dapat diterapkan melalui penguatan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata spiritual berbasis komunitas. Implementasi model dilakukan melalui beberapa strategi, seperti penyusunan aturan wisata berbasis nilai adat dan agama, pendampingan wisatawan dalam aktivitas spiritual, pelibatan tokoh adat dan tokoh agama dalam edukasi budaya, serta pembatasan aktivitas wisata pada area-area yang dianggap sakral oleh masyarakat. Selain itu, pengembangan wisata diarahkan tidak hanya pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penguatan kesadaran spiritual, pelestarian budaya lokal, dan keberlanjutan lingkungan desa wisata. Model ini memiliki potensi aplikatif dalam pengembangan destinasi wisata spiritual berbasis budaya di berbagai wilayah yang memiliki karakteristik sosial dan religius serupa. Model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif menunjukkan bahwa pendidikan agama berfungsi sebagai fondasi nilai dalam membentuk paradigma pengelolaan pariwisata desa. Pendidikan Agama Hindu menjadi sumber internalisasi nilai-nilai spiritual seperti Tri Hita Karana. Tat Twam Asi, dan Tri Kaya Parisudha yang membentuk kesadaran etis masyarakat dalam menjaga harmoni antara manusia. Tuhan, dan alam. Nilai-nilai tersebut kemudian termanifestasi dalam praktik spiritual masyarakat berupa ritual, tradisi, dan pengelolaan ruang suci yang tetap dijaga kesakralannya. Praktik spiritual ini selanjutnya diintegrasikan dalam pengelolaan wisata berbasis komunitas melalui partisipasi aktif masyarakat sebagai pemandu, pelaku budaya, dan penjaga nilai religius desa. Integrasi tersebut menghasilkan model wisata spiritual regeneratif yang tidak hanya menghadirkan pengalaman spiritual bagi wisatawan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya, penguatan kesadaran lingkungan, dan keberlanjutan sosial Model ini menegaskan bahwa pendidikan agama Hindu memiliki peran strategis sebagai landasan normatif dan transformasional dalam membangun praktik pariwisata yang harmonis, edukatif, dan regeneratif. Model integrasi pendidikan agama Hindu dalam pengembangan pariwisata spiritual regeneratif memiliki implikasi teoritis, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH praktis, dan kebijakan. Secara teoritis, penelitian ini memperluas kajian spiritual tourism dan regenerative tourism dengan menempatkan pendidikan agama Hindu sebagai fondasi dalam pengelolaan wisata berbasis budaya dan spiritualitas lokal. Model ini menunjukkan bahwa keberlanjutan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis dan ekonomi, tetapi juga oleh keberlangsungan sistem nilai, praktik spiritual, dan identitas budaya masyarakat lokal. Secara praktis, model ini dapat menjadi pedoman dalam pengembangan desa wisata berbasis komunitas melalui penguatan peran masyarakat lokal sebagai agen pendidikan spiritual dan mediator budaya. Implementasi model dapat dilakukan melalui penguatan aturan adat, edukasi wisatawan mengenai etika spiritual, pelibatan tokoh agama dan masyarakat dalam pengelolaan wisata, serta pengembangan aktivitas wisata yang berorientasi pada pelestarian budaya dan lingkungan. Dari sisi kebijakan, model ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pengelola desa wisata dalam merancang pengembangan pariwisata spiritual yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian budaya, penguatan spiritualitas masyarakat, dan keberlanjutan sosial-ekologis destinasi wisata. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata spiritual di Desa Wisata Gunung Salak tidak dapat dilepaskan dari peran nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat sebagai fondasi etis dan spiritual dalam pengelolaan pariwisata. Integrasi antara nilai-nilai seperti Tri Hita Karana. Tat Twam Asi, dan Tri Kaya Parisudha dengan praktik spiritual masyarakat serta pengelolaan wisata berbasis komunitas menghasilkan model wisata spiritual berbasis regeneratif yang tidak hanya berorientasi pada pengalaman wisata, tetapi juga pada pelestarian nilai budaya, penguatan kesadaran spiritual, dan keberlanjutan lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan agama Hindu memiliki fungsi strategis sebagai landasan normatif dalam membentuk paradigma pariwisata yang holistik dan transformatif, sekaligus memperluas kajian wisata spiritual dengan menghadirkan pendekatan integratif antara dimensi nilai, praktik sosial, dan prinsip pariwisata regeneratif. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya penguatan peran masyarakat lokal sebagai agen pendidikan spiritual serta perlunya model pengelolaan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada regenerasi sosial, budaya, dan ekologis secara Daftar Pustaka