Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 Online: https://jurnal. id/index. php/ibnunafis Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis ISSN 2252-6870 (Prin. | ISSN 2613-9359 (Onlin. Tinjauan Literatur PENATALAKSANAAN PASIEN TENGGELAM DI PELAYANAN GAWAT DARURAT MANAGEMENT OF PATIENTS WITH DROWNING IN EMERGENCY CARE Agustiawana,b Fakultas Kedokteran Institut Kesehatan Helvetia. Medan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad. Pekanbaru Histori Artikel ABSTRAK Diterima: 3 November 2023 Tenggelam merupakan proses dimana seseorang mengalami gangguan pernafasan akibat perendaman dalam medium cair. Tenggelam berisiko menyebabkan kematian jika individu tersebut tidak diselamatkan atau tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Faktor penyumbang terbanyak untuk morbiditas dan mortalitas akibat tenggelam adalah hipoksemia, asidosis serta efek multiorgan dari proses tersebut. Tatalaksana pasien tenggelam dilakukan dengan tim interprofessional yang meliputi dokter gawat darurat, ahli saraf, ahli anestesi, intensifivis, perawat dan layanan sistem gawatdarurat terpadu. Pasien tenggelam derajat 3 sampai 6 biasanya akan tiba dengan kebutuhan ventilasi Positive end-expiratory pressure (PEEP) awal sebaiknya tingkat 5 cmH2O dan kemudian dititrasi dengan kenaikan 2 sampai 3 cmH2O jika diperlukan dan Disfungsi jantung dengan curah jantung yang rendah dapat terjadi segera setelah kasus yang berat. Curah jantung yang rendah dikaitkan dengan tekanan oklusi kapiler paru yang tinggi . asokonstriksi hipoksi. , tekanan vena sentral yang tinggi, dan resistensi pembuluh darah paru yang dapat bertahan selama berhari-hari. Suhu inti dipertahankan pada rentang 32-34AC selama setidaknya 24 jam pasca henti jantung untuk meningkatkan hasil neurologis. Tidak ada cukup bukti untuk mendukung target tekanan parsial karbondioksida (PaCO. atau saturasi oksigen tertentu, tetapi hipoksemia harus Revisi: 1 Desember 2023 Terbit: 1 Desember 2023 Kata Kunci ABSTRACT Bantuan hidup. Hipoksia. Oksigen. Respirasi. Tenggelam Drowning is a process where a person experiences respiratory problems due to immersion in a liquid medium. Drowning risks causing death if the individual is not rescued or unable to cope with the situation. The most contributing factors to morbidity and mortality due to drowning are hypoxemia, acidosis and the multiorgan effects of this Management of drowning patients is carried out by an interprofessional team which includes emergency doctors, neurologists, anesthesiologists, intensivists, nurses and integrated emergency system services. Patients with grade 3 to 6 drowning will usually present with the need for mechanical ventilation. Initial positive end-expiratory pressure (PEEP) should be at 5 cmH2O and then titrated in increments of 2 to 3 cmH2O if necessary and possible. Cardiac dysfunction with low cardiac output may occur soon after severe cases. Low cardiac output is associated with high pulmonary capillary occlusion pressure . ypoxic vasoconstrictio. , high central venous pressure, and pulmonary vascular resistance that can persist for days. Core temperature is maintained in the range of 32Ae34AC for at least 24 hours post cardiac arrest to improve neurologic There is insufficient evidence to support specific PaCO2 or oxygen saturation targets, but hypoxemia should be avoided. Korespondensi Telp. Email: dr@gmail. Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 Hipoksemia PENDAHULUAN Drowning merupakan masalah utama Bahkan mereka yang bertahan Tenggelam dapat terjadi dengan cepat dan hidup dapat mengalami keadaan vegetatif paling sering terjadi secara senyap tanpa diketahui orang banyak. Jarang ditemukan 2,3 Prognosis pasien dengan seseorang yang meronta-ronta di air saat tenggelam tergantung pada berapa lama individu mengalami hipoksia dan waktu untuk resusitasi. Orang yang selamat pada kemudian mengambang dan dengan cepat umumnya memiliki gejala sisa, berupa gangguan neurologis. 4 Hipoksia dan / atau Tenggelam menjadi penyebab kematian hipoperfusi yang terkait dengan tenggelam 000 kasus setiap tahunnya di seluruh dunia. Kondisi tersebut mewakili response syndrome (SIRS) dan sepsis pada 7% dari semua kematian terkait cedera dan kasus yang berat. 6,7 Artikel ini akan merupakan penyebab utama kematian di membahas mengenai tatalaksana pasien antara laki-laki berusia muda. Sekitar 4. dengan tenggelam. menghilang di bawah permukaan air. kematian terjadi setiap tahun di Amerika Serikat. Tenggelam dapat PENYEBAB TENGGELAM Orang terjadi di bak mandi, kolam, genangan air yang besar atau tenggelam di kolam, danau, sungai, dan bahkan ember berisi air hujan. Rincian Sekitar 90% kasus tenggelam terjadi penanganan peristiwa tenggelam memandu dalam jarak lebih dari 10 meter dari tempat dan menentukan prognosis. Pasien yang Cedera tulang belakang leher dan lebih muda cenderung memiliki hasil yang trauma kepala akibat menyelam ke dalam lebih baik. 4 Tenggelam selama enam menit atau lebih dikaitkan dengan prognosis yang mengandung batu dan bahaya lainnya telah secara signifikan lebih Ketika diketahui sebagai salah satu penyebab mempertimbangkan korban tenggelam di seseorang tenggelam. Alkohol dan obat- perairan terbuka dengan hasil yang baik obatan rekreasional lainnya terlibat dalam . aitu, tidak mati atau mengalami gejala banyak kasus. Data menunjukkan bahwa sisa neurologis yang bera. , 88% terendam 30-50% remaja dan orang dewasa yang kurang dari enam menit vs. 7,4% korban tenggelam dalam insiden berperahu dalam dengan 6-10 menit. Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 kondisi mabuk, sebagaimana ditentukan oleh konsentrasi alkohol dalam darah. Kejang. Batuk merupakan respons refleks awal ketika air masuk ke dalam saluran Beberapa studi forensik morfologi neuromuskular yang buruk, depresi berat, menunjukkan bahwa penetrasi cairan ke bunuh diri, gangguan kecemasan / panik, dalam paru-paru terjadi pada hampir semua kematian pada pasien tenggelam. 6,7 Aspirasi cairan minimal yang dapat menyebabkan perubahan volume darah adalah 11 mL/kg, kecelakaan scuba diving serta cedera disebabkan apabila seseorang mengalami lainnya merupakan penyebab tenggelam aspirasi >22 mL/kg. Menelan air tawar dalam segala usia. Tenggelam juga dapat dalam jumlah besar daapt menyebabkan disebabkan oleh bencana alam, gelombang gangguan elektrolit yang signifikan, seperti pasang . dan banjir. 10,11 Tenggelam dapat disebabkan oleh dampak perubahan Sekitar 10-15% iklim, diantaranya akibat banjir bandang maupun bencana angin tornado. sampai terjadi henti jantung dan upaya Korban menyedot cairan apapun . et drownin. PATOFISIOLOGI Pemicu Apabila seseorang yang tenggelam tidak beragam dan kompleks. Kondisi tersebut dapat dimulai hanya karena seseorang tidak berlanjut dan hipoksemia menyebabkan mampu untuk tetap mengapung atau untuk hilangnya kesadaran serta apnea dalam keluar dari air. Tenggelam melibatkan hitungan detik hingga menit. Kondisi faktor yang bervariasi berdasarkan usia, keadaan, suhu air . emicu aritmia jantung jantung hipoksia terjadi setelah periode dan konflik otono. , kompetensi air, dan bradikardia dan aktivitas listrik tanpa nadi, beberapa peristiwa yang sementara terkait dengan berada di dalam air misalnya cedera takikardia ventrikel. traumatis, atau penyakit . nfark miokard, kejang, dan lain sebagainy. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan seseorang tidak berdaya atau kehilangan kesadaran. Agustiawan aspirasi air Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 (PaO. sekitar 60 mm Hg dalam waktu tiga Efek gabungan dari cairan di paruparu, hilangnya surfaktan dan peningkatan kapiler-alveolus mengakibatkan penurunan komplians paru, peningkatan pirau kanan-ke-kiri di paru, atelektasis, alveolitis, dan edema paru nonkardiogenik. Aspirasi mL/kg menyebabkan gangguan pertukaran gas yang signifikan. Cedera pada sistem lain Gambar 1. Patofisiologi tenggelam14 sebagian besar disebabkan oleh hipoksia dan asidosis iskemik. Periode hipoksia / Gambaran hipoksemia awalnya terbatas pada durasi penyelamatan ditentukan oleh reaktivitas hipopnea atau apnea dan dapat diatasi saluran udara dan jumlah air yang telah dengan upaya penyelamatan awal. Pasien masuk serta kejadian hipoksia. Air dalam berkepanjangan rentan terhadap aspirasi pencucian surfaktan, sehingga memicu cedera paru akut. Aspirasi garam dan air vasokonstriksi paru yang diperantarai oleh tawar menyebabkan patologi serupa. 13 Efek vagal, hipertensi, dan bronkospasme yang gradien osmotik pada membran alveolar- diinduksi cairan. kapiler dapat mengganggu integritasnya. Air tawar bergerak cepat melintasi sehingga meningkatkan permeabilitasnya perpindahan cairan. Air tawar sangat hipotonik plasma, dan elektrolit. Gambaran klinis relatif terhadap plasma dan menyebabkan kondisi di atas adalah edema paru regional gangguan surfaktan alveolar. Kerusakan atau general yang mengubah pertukaran oksigen (O. dan karbondioksida (CO. stabil, atelektasis, dan penurunan kepatuhan dalam proporsi yang berbeda. ventilasi/perfusi (V/Q). Sebanyak 75% kapiler-alveolar Aspirasi air sebanyak 2,2 ml/KgBB aliran darah dapat bersirkulasi melalui paru- pada penelitian hewan dapat menyebabkan paru yang mengalami hipoventilasi. Air oksigen, menurunkan tekanan oksigen arteri gradien osmotik dan menarik cairan ke Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 dalam alveoli, sehingga mengencerkan PENILAIAN PASIEN surfaktan . urfaktan washou. Tenggelam di air dingin dianggap Hipertensi pulmonal diperburuk oleh sebagai sesuatu yang bersifat neuroprotektif Aspirasi karena penurunan kebutuhan metabolik dan muntahan, pasir, lumpur, air tergenang, dan refleks menyelam. Laporan menunjukkan kotoran dapat menyebabkan oklusi bronkus, korban muda dengan tenggelam lama dalam bronkospasme, pneumonia, pembentukan air yang sangat dingin mengalami cedera neurologis yang tidak meninggalkan sekuel. membran kapiler alveolar. Edema paru Namun, suhu air tidak memiliki korelasi postobstruktif setelah laringospasme dan dengan hasil keseluruhan. Bertentangan cedera neuron hipoksia dengan akibat dengan kepercayaan populer, aspirasi air edema paru neurogenik juga dapat terjadi. tawar vs air asin tidak ada bedanya terhadap Acute tingkat cedera paru-paru. 5,15 pelepasan mediator inflamasi. Imobilisasi tulang belakang leher (ARDS) dari efek surfaktan yang berubah mempersulit tatalaksana pasien. tidak diperlukan karena hanya 0,5% korban tenggelam yang mengalami cedera tulang Pneumonia merupakan dampak yang belakang leher, kecuali korban pernah jarang terjadi pada pasien tenggelam dan lebih sering terjadi pada pasien yang berperahu atau jatuh dari ketinggian. Sistem tenggelam di air hangat dan segar yang klasifikasi tenggelam telah dibuat untuk Patogen yang tidak umum Aeromonas, penyelamatan berdasarkan parameter klinis Burkholderia. Pseudallescheria. pernapasan, nadi, auskultasi paru, dan Mereka menyebabkan persentase kasus tekanan darah. Perhatian ditujukan terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi Pneumonia seperti pedoman bantuan hidup jantung pengobatan cedera akibat tenggelam, tetapi Hal ini disebabkan oleh karena penggunaan terapi antimikroba profilaksis gangguan jantung yang terjadi pada pasien belum terbukti bermanfaat. Pneumonitis tenggelam disebabkan oleh hipoksia. Pasien kimia adalah gejala sisa yang lebih umum yang tidak bernapas atau memiliki skor Glasgow Coma Scale (GCS) <8 harus tenggelam terjadi di kolam yang diklorinasi atau dalam ember yang berisi produk Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 Korban tenggelam yang sadar dengan ronki di beberapa atau semua lapangan paru didiagnosis secara berlebihan karena air di paru-paru. 17 Korban tenggelam dengan evaluasi di unit gawat darurat. Korban yang dugaan trauma kepala atau leher harus masih berada di tempat kejadian, tidak memiliki komplikasi medis lainnya, dan lapang paru yang bersih . engan atau tanpa belakang servikal. Korban tenggelam dalam batu. tidak secara otomatis memerlukan perhatian medis lebih lanjut. Muntah terjadi menunjukkan ritme nonshockable lebih pada 30-85% dari korban tenggelam karena umum daripada korban henti jantung menelan air dalam jumlah besar dan 5,16 ventilasi tekanan positif selama resusitasi. Aspirasi isi lambung menandakan cedera paru yang lebih buruk. TATALAKSANA 5,16 Tatalaksana Evaluasi diagnostik tertentu dimulai dilakukan dengan tim interprofessional. di tempat kejadian dan dapat berlanjut ke Rantai kelangsungan hidup tenggelam atau drowning chain of survival mengacu pada keseluruhan dari pemeriksaan diagnostik serangkaian intervensi yang dilakukan oleh terbatas dan terutama berfokus pada fungsi Apabila hipotermia menjadi mengurangi kematian yang terkait dengan perhatian, maka perangkat termometrik inframerah tidak boleh digunakan untuk merupakan cara menentukan suhu mengurangi angka kematian tenggelam. inti karena Mencegah efektif dalam menunjukkan suhu tubuh yang lebih rendah Penelitian secara tidak tepat ketika memeriksa korban bahwa lebih dari 90% dari semua kasus yang kepalanya terendam. Setibanya di unit tenggelam dapat dicegah. 6,18 gawat darurat, kesan klinis harus memandu pemeriksaan laboratorium. Kadar elektrolit serum, hemoglobin, dan hematokrit biasanya dalam rentang Gambar 2. Drowning chain of survival6 normal, sehingga pemeriksaan tersebut tidak bermanfaat. Radiografi dada awal mungkin biasa-biasa saja bahkan jika cedera paru-paru yang signifikan telah Identifikasi seseorang dalam kesulitan dan mengirimkan bantuan adalah elemen Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 memastikan aktivasi serangan jantung dan diselamatkan secepat Berikan pelampung kepada korban, mungkin ke lokasi di mana resusitasi jantung paru (RJP) kualitas tinggi dapat mengurangi risiko tenggelam. 4 Personel dimulai, karena kompresi dada di dalam air wajib mengambil tindakan pencegahan sia-sia. untuk tidak menjadi korban lain dengan Keluarkan korban dari air agar dapat memberikan respon penyelamatan yang tidak tepat atau berbahaya. Apabila proses memungkinkan penilaian korban. Evakuasi tenggelam tidak diintrupsi, maka korban dari air sebaiknya dilakukan dalam posisi dapat tidak sadarkan diri dan apnea, hampir horizontal, tetapi dengan kepala kemudian diikuti oleh henti jantung. dipertahankan menengadah di atas dan jalan napas terbuka. 6 Tatalaksana awal pasien, antara lain pemberian oksigen sampai saturasi oksigen antara 92-96%. Nebulisasi albuterol dapat diberikan untuk pasien yang mengalami bronkospasme. 4 Resusitasi di dalam air dan di kapal dapat dilakukan oleh tim penyelamat untuk pemberian oksigenasi Henti tenggelam pada umumnya muncul akibat Gambar 3. Drowning timeline6 hipoksia, sehingga RJP yang mencakup ventilasi dan kompresi dapat dilakukan Selama jendela kesempatan yang pada pasien tenggelam. singkat ini, ventilasi langsung di dalam air Infus dapat memberikan manfaat jika aman vasopresor terkadang diperlukan untuk Hal ini dapat meningkatkan pasien yang mengalami hipotensi refrakter. admisi ke rumah sakit (RS) tanpa gejala Insiden sisa lebih dari tiga kali lipat, tetapi hanya tenggelam pada umumnya rendah, sehingga dapat dilakukan apabila penyelamat sangat fokus awal RJP pada pasien tenggelam Korban yang hanya mengalami henti napas biasanya merespons setelah dilakukan secepat mungkin pada pasien Apabila korban tidak ada respon, henti jantung karena tenggelam, yaitu Agustiawan RJP Intubasi Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 komplians paru rendah dan risiko aspirasi resusitasi berhasil agar dapat mengurangi yang tinggi. Data yang ada masih kurang distensi lambung dan mencegah aspirasi. dan tidak spesifik, sehingga menyebabkan Derajat 5 . enti napas terisolas. strategi manajemen jalan napas dilakukan biasanya pulih dengan basic life support berdasarkan keahlian operator. (BLS) awal menggunakan oksigenasi dan Keparahan ventilasi sebelum advanced life support dikelompokkan menjadi enam tingkatan. (ALS) dimulai. Pasien dikatakan sebagai Pasien dengan derajat derajat 3 dan 4 apabila mengalami ventilasi . ardio- pulmonary arres. dapat menjalani RJP Tindakan bag-valve-mask memberikan oksigen melalui face mask (BVM) menggunakan oksigen aliran tinggi dengan kecepatan 15 liter oksigen/menit sampai saturasi perifer pra-rumah sakit di 4 Penggunaan alat supraglottic atas 92%. Intubasi trakea dan ventilasi airway masih kontroversial. Tekanan jalan mekanis diindikasikan sesegera mungkin, napas pulmonal biasanya melebihi ambang karena kelelahan pernapasan dapat terjadi batas aman untuk mempertahankan segel meskipun oksigenasi yang memadai dengan faring dengan tekanan 25-28 cmH2O karena face mask telah diberikan. potensi kebocoran yang tinggi, sehingga Semua pasien derajat 4 membutuhkan menyebabkan aspirasi dari isi lambung intubasi trakea, sedangkan beberapa kasus . ermasuk ai. tenggelam derajat 3 masih dapat mentolerir Suction non-invasif seimbang antara kebutuhan ventilasi dan kesadaran mereka memungkinkan. Pasien Akses vena perifer adalah rute harus dibius untuk mentolerir intubasi dan yang baik untuk pemberian obat pra- ventilasi mekanis buatan. Tim departemen hospital, sedangkan akses intraoseus adalah gawatdarurat darurat harus ada pada semua rute alternatif. Pemberian obat endotrakeal pasien tenggelam derajat 2 hingga 6. tidak dianjurkan pada kasus tenggelam. Sebagian Dosis kumulatif epinefrin 1 mg IV . tau membutuhkan oksigen aliran rendah dan 0,01 mg/K. dapat dipertimbangkan jika akan kembali pulis dalam 6-48 jam setelah dosis rutin gagal mencapai keberhasilan pertolongan, kemudian dapat dipulangkan setelah lima menit awal RJP. Tabung ke rumah. orogastrik dapat diinsersi setelah upaya Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 berat badan idea. ) serupa dengan ARDS Tatalaksana Respirasi Pasien tenggelam derajat 3 sampai 6 harus digunakan. Hiperkapnia permisif biasanya akan tiba dengan kebutuhan harus dihindari, namun untuk mencegah ventilasi mekanis. Oksigen harus dimulai gangguan neurologis lebih lanjut pada dari 100%, kemudian dititrasi sesegera mereka dengan cedera otak hipoksik- Positive end-expiratory pressure iskemik yang signifikan . iasanya derajat (PEEP) awal dianjurkan 5 cmH2O dan Continuous Positive Airway Pressure kemudian dititrasi dengan kenaikan 2-3 (CPAP), cmH2O jika diperlukan. Positive end- mode (PSV) dan/atau NIV adalah strategi penyapihan yang tepat jika status paru dan Pressure Support Ventilation psikologis memungkinkan. diinginkan (QS: QT) sebesar 20% atau Kolam, sungai, dan pantai umumnya kurang, atau PaO2:FiO2 >250. Pasien tidak memiliki kolonisasi bakteri yang tenggelam derajat 4 yang masih mengaami cukup untuk memicu pneumonia pada hipotensi meskipun telah diberikan oksigen dapat menerima infus kristaloid tetes cepat Pneumonia sebelum mencoba mengurangi PEEP. 6,19 awalnya karena gambaran radiografi awal Setelah oksigenasi yang diinginkan PEEP air di paru-paru, meskipun sebagian kecil pasien benar-benar membutuhkan terapi minimal 48 jam sebelum mencoba untuk Ini adalah waktu minimum yang membutuhkan ventilasi mekanis, maka diperlukan untuk regenerasi surfaktan yang 19 Penyapihan ventilasi prematur meningkat menjadi 34-52% pada hari dapat menyebabkan kembalinya edema ketiga atau keempat rawat inap saat edema paru dengan kebutuhan re-intubasi, dan paru membaik. Kewaspadaan tidak hanya untuk paru, tetapi juga komplikasi infeksi morbiditas lebih lanjut. Gambaran klinis . %). Apabila . erkait 6,19 sangat mirip dengan ARDS, tetapi dengan Antibiotik pemulihan yang cepat dan tidak ada gejala hanya memilih organisme yang lebih sisa paru yang umum setelah episode resisten dan agresif. Tanda infeksi paru pertama kali dapat terjadi pada 48 hingga signifikan . erajat sampai . Strategi 72 jam dan ditandai dengan demam yang berkepanjangan, leukositosis, infiltrat paru . volume tidal rendah . mL/kg yang persisten atau baru, dan respons Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 Terapi antibiotik spektrum luas untuk mencakup gram positif dan negatif harus segera pemakaian diuretik untuk korban tenggelam digunakan jika tenggelam terjadi di air di air garam dan tawar. Asidosis metabolik dengan beban patogen tinggi (UFC> 1. terjadi pada 70% pasien yang tiba di RS Mikroorganisme yang dominan di ICU atau setelah episode tenggelam. kultur harus dipertimbangkan pada pasien dengan pneumonia terkait ventilator. Tatalaksana Sisten Syaraf Sebagian besar kematian lanjut dan gejala sisa tenggelam jangka panjang Tatalaksana Sirkulasi Disfungsi berasal dari neurologis . angguan serebral jantung yang rendah dapat terjadi segera anoksik-iskemi. dan hampir keseluruhan setelah kasus yang berat. Curah jantung terjadi pada pasien tenggelam derajat 6, yang rendah dikaitkan dengan tekanan karena cedera paru biasanya reversibel. Prioritas tertinggi RJP adalah pemulihan . asokonstriksi hipoksi. , tekanan vena sirkulasi spontan , setiap upaya pada tahap sentral yang tinggi, dan resistensi pembuluh awal harus diarahkan pada resusitasi otak darah paru yang dapat bertahan selama dan mencegah kerusakan neurologis lebih berhari-hari. Hal Langkah-langkah menambahkan komponen kardiogenik ke menyediakan oksigenasi yang memadai edema paru nonkardiogenik primer yang (SpO2 >92%) dan perfusi serebral . ekanan Penurunan curah jantung dapat arteri rata-rata sekitar 100 mmH. Vasopresor Tabel 1. Probabilitas kelangsungan hidup neurologis yang utuh hingga keluar dari rumah sakit, berdasarkan durasi tenggelam6 Durasi hipotensi refrakter. Ekokardiografi dapat inotropik, vasopresor atau keduanya jika 0-4 menit 5-9 menit 10-25 menit >25 menit Kematian atau kerusakan neurologis 99,9% Pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil atau dengan disfungsi paru Setiap korban yang tetap koma atau yang berat dapat menjalani kateterisasi tidak responsif setelah RJP harus menjalani arteri pulmonal. Tidak ada bukti yang penilaian dan perawatan fungsi neurologis. Agustiawan Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 Korban tenggelam dengan sirkulasi spontan bertahan hidup sebesar 95% sampai pulang ke rumah tanpa gejala sisa. Korban yang iskemia serebral. Suhu inti dipertahankan neurologis harus menjalani penilaian dan perawatan intensif. pada rentang 32-34AC selama setidaknya 24 KESIMPULAN meningkatkan hasil neurologis. Tidak ada Faktor penyumbang terbanyak untuk cukup bukti untuk mendukung target morbiditas dan mortalitas akibat tenggelam PaCO2 atau saturasi oksigen tertentu, tetapi adalah hipoksemia, asidosis serta efek hipoksemia harus dihindari. Pasien tenggelam derajat 3 sampai 6 biasanya akan tiba dengan PROGNOSIS kebutuhan ventilasi mekanis. Curah jantung Prognosis pasien dengan tenggelam tergantung pada berapa lama individu mengalami hipoksia dan waktu untuk Dalam kebanyakan kasus, orang selama setidaknya 24 jam pasca henti yang selamat dibiarkan dengan gejala sisa Suhu 32-34AC Hipoksia dan / atau hipoperfusi yang terkait dengan tenggelam dapat memicu SIRS dan sepsis pada kasus yang Hal ini dapat bermanifestasi sebagai DAFTAR REFERENSI disfungsi jantung, ginjal atau hati yang disfungsi multi-organ. Korban tenggelam dengan radiografi dada normal jarang mengalami edema paru fulminan hingga 12 jam setelah kejadian. Apakah edema paru awitan lambat ini merupakan ARDS tertunda, edema paru neurogenik akibat hipoksia, atau hanya hiperreaktif saluran napas terhadap aspirasi air masih belum jelas. Pasien dengan derajat 1 sampai 5 memiliki tingkat Agustiawan Orlowski JP. Szpilman D. Drowning: Pediatr Clin North Am. :627Ae46. Beck B. Smith K. Mercier E. Bernard S. Jones C. Meadley B, et al. Potentially deaths: A retrospective review. Injury. Mei 2019. :1009Ae16. Nathanson A. Sailing Injuries: A Review of the Literature. R I Med J . Februari 2019. :23Ae7. Parenteau M. Stockinger Z. Hughes S. Hickey B. Mucciarone J. Manganello C, et al. Drowning Management. Mil Med. September 183. :172Ae9. Mott TF. Latimer KM. Prevention Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 12 No 2 Desember Tahun 2023 and Treatment of Drowning. Fam Physician. April 93. :576Ae82. Szpilman Morgan PJ. Management for the Drowning Patient. Chest. April 159. :1473Ae83. Lumb AB. NunnAos Applied Respiratory Physiology. 8 ed. Philadelphia: Elsevier. Byard RW. Drowning and near drowning in rivers. Forensic Sci Med Pathol [Interne. :396. Tersedia https://doi. org/10. 1007/s12024-0179858-5 Peden AE. Franklin RC. Leggat PA. Fatal identification of research gaps through a systematic literature Inj Prev. Jonkman SN. Maaskant B. Boyd E. Levitan ML. Loss of Life Caused by the Flooding of New Orleans After Hurricane Katrina: Analysis of the Relationship Between Flood Characteristics and Mortality. Risk Anal [Interne. Mei 29. :676Ae98. Tersedia pada: https://doi. org/10. 1111/j. Linares M. Santos L. Santos J. Juesas C. Gyrgolas M. Ramos-Rincyn J-M. Selfie-related deaths using web epidemiological intelligence tool . 8Ae2. : a cross-sectional study. J Travel Med [Interne. 20 Oktober Tersedia https://doi. org/10. 1093/jtm/taab170 Sindall R. Mecrow T. Queiroga AC. Boyer C. Koon W. Peden AE. Drowning risk and climate change: a state-of-the-art review. Inj Prev. Bierens JJLM. Lunetta P. Tipton M. Warner DS. Physiology of drowning: Physiology. :147Ae66. Cantwell GP. Verive MJ. Alcock J. Shepherd SM. Shoff WH. Evans BJ. Agustiawan et al. Drowning [Interne. Vol. Medscape Drugs and Disease. Tersedia https://emedicine. com/arti cle/772753-overview#a3 Kaushik N. Pal KS. Sharma A. Thakur G. Role of diatoms in diagnosis of death due to drowning: case studies. Medicine (Baltimor. :59Ae65. Venema AM. Absalom AR. Idris AH. Bierens JJLM. Review of 14 drowning publications based on the Utstein style for drowning. Scand J Trauma Resusc Emerg Med. :1Ae11. Hayakawa A. Terazawa K. Matoba K. Horioka K. Fukunaga T. Diagnosis of drowning: electrolytes and total protein in sphenoid sinus Forensic Sci Int. 273:102Ae5. Bierens J. Abelairas-Gomez C. Barcala Furelos R. Beerman S. Claesson A. Dunne C, et al. Resuscitation and emergency care in drowning: A scoping review. Resuscitation. Mei 2021. 162:205Ae Thom O. Roberts K. Devine S. Leggat PA. Franklin RC. Treatment of the lung injury of drowning: a systematic review. Crit Care. :1Ae11. Markarian T. Loundou A. Heyer V. Marimoutou C. Borghese Coulange M, et al. Drowning classification: a reappraisal of clinical presentation and prognosis Chest. :596Ae602.