Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 7 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 37542/iq. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Badruddin1 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Karimiyah badruddinsagmm@gmail. Muammar Zulfiqri2 Institut Agama Islam Depok rasmuammar@iaidepok. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merinci perjalanan Islam di Kota Barus dengan maksud memahami perkembangan Islam di wilayah Nusantara. Pada tanggal 24 Maret 2017. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Kota Barus sebagai tugu titik nol pusat peradaban Islam Nusantara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah, kritik, dan interpretasi. Peneliti menggunakan skema berikut: pertama, mengevaluasi sumber informasi sejarah terkait dengan sejarah Islam di Barus, kemudian melakukan analisis, kritik, dan interpretasi terhadap informasi tersebut. Hasil penelitian ini akan mengungkapkan peran Barus sebagai titik awal penyebaran Islam di Nusantara, diikuti oleh penyebaran ke wilayah lain seperti Peureulak dan Pasai. Meskipun Barus menerima Islam lebih awal, wilayah ini tidak membentuk kekuasaan atau kerajaan Islam yang memiliki kekuatan politik. Kata Kunci: Sejarah. Islam. Barus Abstract: This research aims to detail the Islamic journey in the city of Barus with the aim of understanding the development of Islam in the territory of Nusantara. On March 24, 2017, the Government of the Republic of Indonesia officially designated the city of Barus as the zeropoint monument of the center of Nusantara Islamic civilization. The research methods used are qualitative, with historical approaches, criticism, and interpretation. The researchers used the following scheme: first, evaluate historical information sources related to Islamic history in Barus, then carry out analysis, criticism, and interpretation of such information. The results Badruddin. Muammar Zulfiqri will reveal the role of Barus as the starting point for the spread of Islam in Nusantara, followed by its spread to other regions such as Peureulak and Pasai. Although Barus accepted Islam early, the territory did not form a power or Islamic empire that had political power. Keywords: History. Islam. Barus Pendahuluan Peradaban dunia pada masa klasik berlangsung selama 6,5 abad, dimulai dari tahun 600 M hingga 1258 M. Selama periode ini, agama Islam diterima oleh Nabi Muhammad saw. Selain itu, umat Islam berhasil mengembangkan keilmuan yang cemerlang, menciptakan sistem politik yang maju, dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat di Indonesia yang saat itu dikenal sebagai Nusantara, mengamalkan ajaran Hindu dan Buddha. Catatan sejarah menunjukkan bahwa terjadi pencampuran budaya Islam dengan unsur-unsur Hindu dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam di Nusantara, sebagaimana disampaikan dalam buku "Sejarah Islam Nusantara," telah menginspirasi beberapa teori yang diajukan oleh para ahli sejarah. Beberapa di antaranya adalah: Teori Gujarat: Teori ini, yang diprakarsai oleh Snouck Hurgronje, mengusulkan bahwa Islam memasuki wilayah Indonesia melalui jalur perdagangan dengan Gujarat. India. Teori Mekkah: Sejumlah sejarawan Barat seperti van Leur. Arnold. Crawfurd. Niemann, dan de Hollander menghubungkan penyebaran Islam di Indonesia dengan pusat Islam di Mekkah. Mereka berpendapat bahwa melalui para jemaah haji dan peziarah yang kembali dari perjalanan religius. Islam dibawa ke Indonesia. Teori Persia: P. Hoesein Djajadiningrat memusatkan perhatiannya pada peran Persia dalam penyebaran Islam di Indonesia. Dia menyoroti hubungan perdagangan dan kebudayaan antara Persia dan Indonesia sebagai jalur utama penyebaran ajaran Islam. Selain kontribusi teori-teori yang telah disebutkan sebelumnya. Buya Hamka, seorang cendekiawan muslim yang berasal dari Sumatra Barat, memberikan pandangan yang relevan mengenai sejarah Islam di Indonesia. Menurut Hamka, bukti sejarah menunjukkan bahwa Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi. Bangsa Arab memainkan peran utama dalam menyebarkan agama Islam ke wilayah ini, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran Islam. Pernyataan ini didasarkan pada penemuan naskah kuno Cina yang mencatat Rizem Aizid, 2016. Sejarah Islam Nusantara: Dari Analisis Historis hingga Arkeologis tentang Penyebaran Islam di Nusantara Diva Press. 50 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus bahwa dalam waktu yang relatif singkat setelah munculnya Islam di Arab pada abad ke-6 atau ke-7 Masehi. Islam telah sampai di wilayah Nusantara. Naskah tersebut juga mencatat keberadaan komunitas Muslim di Barus, sebuah kota bersejarah di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumatera Utara, pada tahun 625 Masehi. Selain itu, penemuan makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai. Barus, yang mencatat kematian Syekh Rukunuddin pada tahun 672 Masehi, juga menjadi bukti yang menguatkan keberadaan komunitas Muslim pada periode tersebut. Pandangan yang disampaikan oleh Buya Hamka menimbulkan perbedaan pendapat dengan sudut pandang Orientalis Barat, seperti yang diungkapkan oleh Snouck Hurgronye dari Belanda. Snouck Hurgronye berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi, saat pemerintahan Hindu-Budha di wilayah tersebut berakhir. Menurutnya, motif utama penyebaran Islam di Nusantara bukanlah syiar agama, tetapi lebih didorong oleh motif ekonomi, terutama dalam konteks perdagangan. Selain itu. Snouck Hurgronye berpendapat bahwa Islam di Nusantara tidak dibawa langsung oleh orang Arab, melainkan oleh pedagang yang berasal dari Gujarat, sebuah wilayah di India Barat. Pendapatnya didasarkan pada kesamaan bentuk batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang meninggal pada tahun 1297 Masehi di Pasai. Aceh, dengan batu nisan yang dapat ditemukan di Gujarat. Dalam pandangan Orientalis Barat seperti Snouck Hurgronye, aspek ekonomi dan perdagangan menjadi faktor utama dalam penyebaran agama Islam di Nusantara pada abad ke13 Masehi. Mereka berpendapat bahwa perdagangan dan motivasi ekonomi para pedagang dari Gujarat berperan signifikan dalam menyebarkan agama ini. Selain itu, mereka menunjukkan adanya kesamaan dalam bentuk batu nisan di Pasai. Aceh, dan Gujarat sebagai bukti pengaruh perdagangan dalam penyebaran Islam. Namun, pandangan ini berbeda dengan pandangan Buya Hamka yang menyatakan bahwa Islam sudah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi, dengan pengantar utama dari bangsa Arab yang bertujuan untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Perdebatan antara pandangan Buya Hamka dan sudut pandang Orientalis Barat ini mencerminkan perbedaan interpretasi dan pendekatan dalam memahami sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Presiden Joko Widodo secara resmi mengakui peran penting Barus sebagai kota Islam tertua dan pertama di Indonesia. Pada tanggal 24 Maret 2017, yang kebetulan jatuh pada hari Jumat. Pemerintah Republik Indonesia mengadakan upacara resmi untuk meresmikan monumen yang menandai titik nol sebagai pusat peradaban Islam Nusantara di Barus. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 51 Badruddin. Muammar Zulfiqri Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumatera Utara. 2 Banyak penelitian sejarah telah dilakukan untuk mendukung fakta bahwa Islam pertama kali diperkenalkan di Indonesia melalui Barus. Buktibukti yang ada termasuk kompleks pemakaman Mahligai yang berasal dari abad ke-7. Sejarah yang kaya dan beragam budaya yang tercermin di kota Barus memberikan potensi yang besar untuk menjadi landasan dalam pembangunan suatu wilayah atau negara jika jejak sejarahnya dipelajari secara mendalam. Diskusi antara para akademisi tentang apakah Kota Barus atau Aceh yang seharusnya dianggap sebagai titik pusat peradaban Islam telah memicu perdebatan yang kompleks. Pandangan yang berbeda dalam kajian sejarah menyebabkan ketidaksepakatan, di mana sejumlah sarjana lebih cenderung memposisikan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Darussalam sebagai pusat penyebaran awal agama Islam. Ketidaksepakatan mengenai asal-usul Islam di wilayah Nusantara telah memotivasi para penulis untuk menggali lebih dalam sejarah Islam di Kota Barus. Dalam penulisan ini, penulis akan secara rinci menguraikan bukti-bukti perkembangan Islam di Kota Barus dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang perkembangan agama Islam di wilayah Nusantara. Metode Penelitian Dalam studi ini, digunakan metode penelitian pendekatan kualitatif dengan fokus pada aspek sejarah, kritik, dan interpretasi. Peneliti telah mengembangkan suatu skema kerja yang melibatkan analisis terhadap sumber-sumber informasi sejarah yang relevan dengan sejarah Islam di Barus. Proses ini mencakup tahap penyortiran, evaluasi kritis, dan interpretasi terhadap materi-materi yang ada. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai jejak awal Islam di Barus, yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah. Provinsi Sumatera Utara. Dengan menerapkan berbagai metode ilmiah tersebut, penelitian ini telah berhasil secara objektif mengungkapkan sejarah Islam di Barus sesuai dengan data yang tersedia. Hasil Penelitian dan Pembahasan Beberapa daerah di Indonesia memiliki bukti sejarah yang signifikan dalam konteks penyebaran Islam di Nusantara, salah satunya adalah wilayah Barus, yang dikenal sebagai kota Islam pertama di Indonesia. Dalam buku "Sejarah Islam Nusantara" yang ditulis oleh Rizem https://daerah. com/berita/1249657/29/barus-kota-islam-pertama-di-indonesia Bagus Prihantoro Nugroho. AuMenganal Barus sabagai Pusat peradaban Islam Tertua di NusantaraAy, http://m. com/news/berita/d-3456663/mengenal-barus-pusatperadaban-islam 52 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Aizid, disebutkan bahwa penyebaran Islam di Sumatra Utara dimulai di Kota Barus pada abad ke-7 Masehi. Kota Barus terletak di sepanjang Pantai Barat Sumatra Utara, tepatnya di wilayah Tapanuli Tengah. Keberhasilan Barus dalam perdagangan hasil bumi seperti kapur barus dan kemenyan menjadikannya sebagai kota yang terkenal. Hasil dagangan ini diperdagangkan hingga mencapai negara-negara seperti Tiongkok. Armenia. Arab, dan Mesir. Dalam bukunya yang berjudul "Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang" yang ditulis oleh Dhurorudin Mashad, disebutkan bahwa akibat dari perdagangan tersebut, hubungan terjalin antara Barus dengan wilayah Timur Tengah. Melalui kunjungan pedagang dari Timur Tengah, seperti orang Arab. Persia, dan Gujarat, yang singgah di Sumatra, ajaran Islam diperkenalkan dan disebarkan kepada penduduk setempat. Masyarakat pribumi secara perlahan mulai memeluk agama Islam, dan hasilnya adalah berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kesultanan Perlak . M-1292 M). Dalam waktu yang relatif singkat, agama Islam tersebar dengan cepat di wilayah Barus dan sekitarnya. 6 Ada sejumlah bukti sejarah yang menguatkan kehadiran ajaran Islam di Barus, di antaranya adalah: Di kompleks pemakaman Mahligai. Barus terdapat beberapa makam tua yang dilengkapi dengan nisan. Salah satu nisan tersebut mengungkapkan nama Syekh Rukunuddin yang meninggal pada tahun 672 Masehi atau 46 Hijriah. Kompleks Makam Mahligai terletak di Desa Aek Dakka, sekitar 5 kilometer di sebelah utara Kecamatan Barus. Dalam perbandingan dengan pemakaman lainnya, kompleks ini memiliki luas yang paling besar, mencapai sekitar tiga hektar, dan dikelilingi oleh perkebunan karet. Tempatnya berada di daerah perbukitan dan diberi nama "Makam Mahligai" karena dikatakan bahwa sebutan "Mahligai" merujuk pada sebuah istana kecil yang ada di masa lalu. Di Kota Barus terdapat juga makam tua yang memiliki kaitan dengan agama Islam, salah satunya adalah makam Syekh Machmudsyah yang terletak di Bukit Papan Tinggi. Syekh Machmudsyah meninggal pada tahun 440 Hijriah. Pemakaman ini dikenal sebagai Tuan Makhdum dan berlokasi di Desa Patupangan. Kecamatan Barus, yang terletak di dataran Bentuk nisan-nisan yang ada di sini serupa dengan batu nisan yang terdapat di Rizem Aizid, 2016. Sejarah Islam Nusantara: Dari Analisis Historis hingga Arkeologis tentang Penyebaran Islam di Nusantara Diva Press. Dhuroruddin Mashad. Muslim Bali. Mencari KemBali Harmoni Yang Hilang (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, https://w. com/stori/read/2021/12/21/120000879/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-diindonesia Jahirudin Pasaribu. AuSejarah Ringkas Kota Barus Negeri Tua. Aej DakkaAy. Dokumen Tapanuli Tengah, tidak diterbitkan. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 53 Badruddin. Muammar Zulfiqri Makam Mahligai. Menurut klasifikasi Othman, nisan-nisan ini termasuk dalam tipe B2 atau tipe G, yang memiliki dasar berbentuk balok empat persegi dengan bahu yang datar atau sedikit menonjol, dan kepala yang memiliki undakan satu atau lebih. Hiasan geometris biasanya terdapat di bagian kaki dan pinggang nisan, sedangkan kaligrafi atau inskripsi meliputi sisi kanan, kiri, atas, bawah, dan tengah nisan. Di atas sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 720 meter di atas permukaan laut, terdapat Inskripsi Makam Papan Tinggi. Wilayah ini memiliki sebuah area tanah datar berukuran sekitar 20 x 15 meter yang berisi delapan makam, dan hanya satu di antaranya yang memiliki inskripsi dalam bahasa Arab. Makam ini mungkin termasuk salah satu yang memiliki ukuran paling panjang di Barus, bahkan mungkin juga di seluruh Indonesia, dengan diameter sekitar 8,15 meter dan tinggi nisan sekitar 135 cm. Diperkirakan bahwa salah satu tokoh sufi yang dimakamkan di sini adalah seorang sufi bernama Syekh Mahmud, sebagaimana yang tercatat dalam inskripsi di nisan tersebut. Tidak semua kuburan dalam kompleks ini dilengkapi dengan batu nisan, dan batu nisan yang digunakan tidak selalu terbuat dari batu alam. Batu nisan yang umum digunakan di sini adalah jenis granit putih dengan bintik-bintik hitam yang khas sebagai ciri batu nisan asal Barus. Penanda kepala makam memiliki bentuk pipih dengan bagian atas berbentuk lingkaran. Sementara itu, batu nisan yang menandai kaki makam memiliki bentuk pipih dengan bagian atas yang diukir dengan pola bergelombang. Tipologi nisan yang ditemukan di situs makam ini berbeda dengan yang umumnya ditemukan di Aceh. Secara khusus, batu nisan ini lebih mirip dengan tipe nisan Surya Majapahit yang biasanya ditemukan di Jawa. Dilihat dari jenis kaligrafinya, inskripsi yang terdapat pada kompleks makam ini cenderung mengikuti gaya kaligrafi suluk. Kota Barus memiliki peran yang signifikan dalam proses diseminasi agama Islam di wilayah Nusantara. Pedagang Muslim yang datang ke kota ini tidak hanya terlibat dalam kegiatan perdagangan, tetapi juga membawa ajaran agama Islam yang kemudian diperkenalkan kepada penduduk setempat. Melalui dialog dan interaksi dengan masyarakat lokal, mereka secara berangsur-angsur berhasil menyebarkan keyakinan Islam. Oleh karena itu. Kota Barus menjadi basis yang penting dalam penyebaran agama Islam di sepanjang pesisir barat Sumatra Utara dan wilayah sekitarnya. Ery Soedewo, 2018. Perekaman Peninggalan Sejarah Budaya Islam di Sumatera Utara Masmedia Pinem. AuInskripsi Islam pada Makam-Makam Kuno BarusAy. Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. No. Pidia Amelia, 2017. Pengelolahan Warisan Budaya Kawasan Barus. Tesis. Arkeologi Universitas Gadjah Mada 54 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa sebelum penyebaran agama Islam di Aceh. Islam pertama kali diperkenalkan di Barus, yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Aceh. Namun, penting untuk dicatat bahwa Barus tidak pernah menjadi sebuah kerajaan Islam maupun kekuatan politik Islam. Pada awalnya, hanya terdapat dua kerajaan Islam, yaitu Peureulak dan Pasai, yang kemudian diikuti oleh Aceh Darussalam. Pedagang berusaha mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan dakwah dengan menjelajahi samudera, dan dalam proses tersebut, mereka singgah di beberapa tempat. Sejarah mencatat bahwa pedagang dari Timur Tengah melakukan kunjungan langsung ke Barus untuk mendapatkan damar atau kapur barus yang terkenal karena kualitasnya yang tinggi. Pada abad ke-10, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pedagang dari Timur Tengah secara langsung datang ke Barus untuk mendapatkan kapur barus. Dalam sebuah dokumen sejarah kuno yang berasal dari Tiongkok, tercatat bahwa sekitar tahun 625 Masehi, atau sekitar 25 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya, muncul sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Pemukiman ini berada di wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Buddha Sriwijaya. Dokumen tersebut juga mencatat bahwa dalam pemukiman-pemukiman tersebut, orang-orang Arab menetap dan berintegrasi dengan penduduk pribumi melalui perkawinan yang damai. Mereka membentuk keluarga dan komunitas yang berkembang di sana. Dari pemukiman-pemukiman tersebut, mulai dibangun tempat-tempat untuk pengajaran Alquran dan penyebaran ajaran Islam. Ini merupakan awal dari lembaga-lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren, yang sering juga digunakan sebagai tempat ibadah . Selain itu, mereka juga memegang posisi yang kuat dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat dan pemerintahan, bahkan di dalam Kerajaan Buddha Sriwijaya itu sendiri. Pada tahun 1000 Masehi. Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi mencatat dalam tulisannya bahwa pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, terdapat beberapa pemukiman Muslim yang telah didirikan di dalam wilayah kekuasaannya. Pemukiman-pemukiman ini berdiri berkat hubungan yang erat dengan dunia Islam, yang memungkinkan komunitas Muslim yang telah lama berada di wilayah tersebut hidup dalam keadaan damai dan memiliki pemukiman mereka sendiri, di mana syari'at Islam diterapkan. Jane Drakard, 2003. Sejarah Raja-Raja Barus Dua Naskah dari Barus. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama R Tibbetts. Pre Islamic Arabia and South East Asia,AA. Lihat Kitab Chiu Thang Shu, tanpa R Tibbetts. Pre Islamic Arabia and South East Asia,ah. Lihat juga. Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi. AjaAoib al Hind. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 55 Badruddin. Muammar Zulfiqri Hamka juga memberikan dukungan terhadap klaim terkait Barus melalui penemuan Ia merujuk pada sebuah catatan sejarah Tiongkok yang berasal dari tahun 674 Masehi, di mana catatan tersebut mencatat adanya kelompok bangsa Arab yang telah mendirikan pemukiman di pesisir Barat Sumatera. Menurut Hamka, temuan ini memiliki dampak yang signifikan dalam memperbaiki pemahaman kita mengenai sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Nusantara. Selain itu, ia juga mencatat bahwa bukti ini telah diterima dan dipercaya oleh para sejarawan di Universitas Princeton di Amerika. Dalam dokumen sejarah kuno yang berasal dari Tiongkok, orang Arab disebut sebagai "Ta Shib," sedangkan Amirul Mukminin disebut sebagai "Tan mi mo ni'. " Dokumen tersebut memberikan rincian bahwa pada tahun 651 Masehi atau tahun 31 Hijriyah, utusan Khalifah yang diwakili oleh duta "Tan mi mo ni'" tiba di wilayah Nusantara. Mereka melaporkan bahwa mereka telah membentuk Daulah Islamiyah yang mengalami tiga pergantian kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim ini tiba di wilayah Nusantara di dalam pemukiman Islam di pesisir pantai Sumatera selama masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan . -656 Maseh. , hanya dalam waktu 20 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi. Dari bukti-bukti yang telah diuraikan di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara pada masa ketika Rasulullah masih hidup. Secara singkat, perjalanan ini dapat dirinci sebagai berikut: Rasulullah menerima wahyu pertama pada tahun 610 Masehi, dan setelah 2,5 tahun menerima wahyu kedua . uartal pertama tahun 613 Maseh. Kemudian, selama 3 tahun berikutnya, yaitu pada tahun 616 Masehi, beliau berdakwah secara rahasia. Setelah itu. Rasulullah mulai melakukan dakwah secara terbuka, keluar dari Mekkah, dan menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab. Berdasarkan catatan sejarah kuno dari Tiongkok, pada sekitar tahun 625 Masehi, terdapat sebuah pemukiman Arab yang menganut agama Islam di pesisir Sumatera yang dikenal sebagai Barus. Hal ini terjadi hanya sembilan tahun setelah dimulainya dakwah Islam secara terbuka oleh Nabi Muhammad SAW. Fenomena ini dikenal sebagai Teori Arab atau Teori Mekkah, dan secara inheren membantah Teori Gujarat yang dikemukakan oleh Orientalis Snouck Hurgronje. 16 Oleh karena itu. Barus tetap menjadi bagian yang signifikan dalam sejarah peradaban Islam dan takkan terlupakan oleh mereka yang mempelajarinya. Hamka. Dari Perbendaharaan Lama, (Jakarta: Pustaka Panjimas, cet. 3, 1. , h. Hamka. Dari Perbendaharaan Lama. Hamka. Dari Perbendaharaan Lama, a. Lihat juga. Joesoef SouAoyb. Sejarah Khulafaur Rasyidin, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. 1, 1. , h. 56 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Dinamika Pendidikan Islam di Barus Barus adalah sebuah kota tua di pesisir barat Sumatra Utara. Indonesia, yang dikenal memiliki sejarah panjang dan kaya akan pengaruh Islam. Pendidikan Islam di Barus memiliki akar yang sangat dalam, dipengaruhi oleh masuknya para pedagang dan ulama dari Timur Tengah. India, dan wilayah lain sejak abad ke-7. Barus dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua di Indonesia. Kota ini menjadi pintu masuk bagi penyebaran Islam di Nusantara melalui jalur perdagangan. Pada abad ke-7, para pedagang dan ulama dari Timur Tengah dan India mulai berdatangan ke Barus. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan agama Islam dan ilmu pengetahuan. Pendidikan Islam di Barus awalnya disampaikan melalui lembaga-lembaga tradisional seperti surau dan pesantren. Surau dan pesantren ini menjadi pusat pendidikan agama di mana anak-anak diajarkan Al-Qur'an, fikih, hadis, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ulama di Barus memainkan peran kunci dalam penyebaran Islam dan pendidikan. Mereka tidak hanya mengajar agama tetapi juga menjadi tokoh masyarakat yang dihormati. Beberapa ulama terkenal yang pernah berkontribusi dalam pendidikan Islam di Barus adalah Syekh Mahmud dan Syekh Ali Akbar. Barus memiliki banyak peninggalan sejarah Islam seperti makam para wali dan ulama yang menjadi bukti nyata keberadaan dan perkembangan Islam di wilayah ini. Selain itu, ada juga naskah-naskah kuno yang berisi ajaran Islam dan sejarah perkembangan agama di Barus. Pada masa kini, pendidikan Islam di Barus telah berkembang dengan adanya madrasah dan sekolah-sekolah Islam modern yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum pendidikan agama. Institusi-institusi ini terus melanjutkan tradisi pendidikan Islam, sambil juga mengadaptasi metode-metode pengajaran modern untuk memenuhi kebutuhan zaman. Barus dianggap sebagai salah satu pintu gerbang utama masuknya Islam ke Nusantara. Oleh karena itu, pendidikan Islam di Barus memiliki dampak yang luas dan signifikan terhadap perkembangan Islam di seluruh Indonesia. Dengan sejarah yang kaya dan kontribusi yang besar terhadap penyebaran dan pendidikan Islam. Barus tetap menjadi salah satu pusat penting dalam studi dan sejarah Islam di Indonesia. Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Barus, baik dalam aspek pendidikan, sosial, maupun keagamaan. Pondok pesantren menjadi pusat pendidikan agama Islam, mengajarkan Al-Qur'an, hadis, fiqh, tafsir, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ini membantu masyarakat memahami ajaran Islam secara mendalam dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pondok pesantren di Barus berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya Islam yang telah ada sejak lama. Ini termasuk tradisi membaca IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 57 Badruddin. Muammar Zulfiqri kitab kuning, dzikir bersama, dan berbagai perayaan keagamaan seperti Maulid Nabi dan Isra Mi'raj. Pondok pesantren tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembinaan moral dan akhlak santri. Ini bertujuan untuk membentuk individu yang berkarakter baik dan memiliki integritas tinggi. Pondok pesantren sering menjadi pusat kegiatan sosial di masyarakat, seperti penyelenggaraan kegiatan bakti sosial, pengajian umum, dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini memperkuat ikatan sosial dan rasa kebersamaan di kalangan warga. Beberapa pondok pesantren di Barus juga berperan dalam pengembangan ekonomi umat melalui usaha-usaha mandiri seperti pertanian, peternakan, dan koperasi. Ini membantu meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Pondok pesantren aktif dalam menyebarkan dakwah Islam baik di dalam maupun luar Barus. Santri-santri yang telah lulus sering menjadi dai atau ustadz yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai daerah. Dengan peran-peran ini, pondok pesantren di Barus tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pengembangan masyarakat yang holistik. Seiring berjalannya waktu, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Barus mulai meningkatkan infrastruktur dan fasilitas pendidikan mereka untuk menampung lebih banyak santri dan memberikan pendidikan yang lebih berkualitas. Kurikulum yang diajarkan tidak hanya terbatas pada ilmu agama tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan umum, bahasa Arab, dan studi-studi Islam lainnya yang lebih mendalam. Selain pesantren tradisional, didirikan pula madrasah dan sekolah Islam formal yang mengikuti kurikulum nasional namun tetap menekankan pada pendidikan agama. Beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam juga didirikan di Barus untuk melanjutkan tradisi pendidikan tinggi dalam studi Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Barus terus berupaya menjalin koneksi dengan lembaga pendidikan Islam di berbagai negara, sehingga memungkinkan adanya pertukaran pelajar dan dosen, serta kolaborasi dalam penelitian. Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan sumber daya, kebutuhan untuk beradaptasi dengan teknologi modern, dan pentingnya menjaga relevansi pendidikan Islam dalam konteks globalisasi. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, lembaga pendidikan Islam di Barus memiliki prospek yang cerah untuk terus berkembang dan memainkan peran penting dalam mencetak generasi Muslim yang berpengetahuan dan berakhlak mulia. Secara keseluruhan, perkembangan lembaga pendidikan Islam di Barus mencerminkan perjalanan panjang dan adaptasi yang dinamis dari masa ke masa, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan terus berinovasi untuk menghadapi tantangan zaman. 58 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Kesimpulan Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan sebelumnya mengenai bukti-bukti sejarah yang diinterpretasikan dalam berbagai buku sejarah dan jurnal penelitian mengenai masuknya Islam di Nusantara, dapat disimpulkan bahwa Islam pertama kali memasuki Nusantara melalui Kota Barus, dan hal ini terjadi pada masa kehidupan Rasulullah SAW. Fakta ini didasarkan pada sumber literatur kuno dari Tiongkok yang merinci bahwa seorang duta yang mewakili Khalifah, yang dikenal sebagai "Tan mi mo ni'," tiba di wilayah Nusantara pada tahun 651 Masehi atau tahun 31 Hijriyah. Mereka melaporkan bahwa telah berhasil membentuk Daulah Islamiyah yang mengalami tiga pergantian kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim ini tiba di pemukiman Islam di pesisir pantai Sumatera selama kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan . -656 Maseh. , hanya berselang 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. Maseh. Barus menjadi salah satu wilayah pertama yang menerima dan mengadopsi Islam, yang kemudian agama ini menyebar ke wilayah lain seperti Peureulak dan Pasai. Meskipun Barus adalah salah satu wilayah awal yang menerima Islam, tetapi tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa komunitas Muslim di sana telah membentuk kekuatan politik atau kerajaan Islam pada masa itu. Saran Melalui pemahaman sejarah tentang Makam Papan Tinggi di Kecamatan Barus. Desa Pananggahan, kita dapat merasakan keberadaan Islam di Sumatera Utara sebagai warisan Syekh Mahmud, sosok agamawan yang diyakini memiliki kelebihan dalam agama Islam, memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah ini. Namun, perjalanan dakwahnya tidaklah mudah. Tantangan besar muncul karena adanya agama-agama lain yang telah ada sebelumnya di Nusantara, menciptakan dinamika sosial dan pemilihan keyakinan agama di kalangan masyarakat Tapanuli Tengah. Sebagai konsekuensinya. Barus mengalami tarik-menarik dalam pemilihan dan pemahaman agama yang diyakini. Seiring berjalannya waktu. Barus tidak hanya dihadapkan pada tantangan internal, tetapi juga tekanan eksternal dari proses kolonialisasi Belanda yang memberikan dampak kristenisasi pada wilayah ini. Realitas historis ini terus berlanjut hingga zaman kemerdekaan Republik Indonesia, membentuk Barus dan sekitarnya di Tapanuli Tengah sebagai komunitas Muslim minoritas. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 59 Badruddin. Muammar Zulfiqri Dalam kesimpulan ini, kita dapat merenung tentang keragaman agama yang telah membentuk kehidupan masyarakat Barus. Meskipun menghadapi kendala sepanjang sejarahnya, keberadaan Islam di kawasan ini terus bertahan, menjadi bagian integral dari identitas dan warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Sejarah Barus adalah cerminan perjuangan dan ketahanan komunitas Muslim dalam menghadapi perubahan zaman dan pengaruh luar. Daftar Pustaka