ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 HUBUNGAN STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PEKERJA MITIGASI PEMADAM KEBAKARAN DI KOTA BATAM Slamet Sudi Santoso1. Isramilda2. Angel Manik3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, slametsudisantoso2016@gmail. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, isramilda@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, angelmanik59@gmail. ABSTRACT Background: Hypertension is a condition where the blood vessels experience a continuous increase, while diastolic blood pressure is the blood pressure when the heart relaxes. This hypertension can be influenced by several factors, especially stress. Stress is a state or condition that arises due to the inability of a person experiencing stress to deal with stressors including circumstances and biological, psychological and social resources. One job that can be at risk of hypertension due to work stress is firefighting, because this job involves repeated exposure to traumatic events that can cause psychological problems. Method: This research uses quantitative methods through a cross sectional approach. This research was conducted at Batam University in December-January 2023/2024. The sampling technique used Isaac Michael's formula with a sample size of 43 out of 110 workers Result: The results of the analysis test using the Spearman Rank test showed a p result of 002 (<0. , indicating that there was a significant relationship between stress levels and the incidence of hypertension. with a Spearman Rank correlation coefficient value of 0. Conclusion: Based on the research results, it was found that there was a relationship between stress and the incidence of hypertension in firefighting mitigation workers in Batam City in 2023. Keyword: Hypertension. Stres. Firefighting ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah mengalami peningkatan secara terus-menerus sedangkan tekanan darah diastolik adalah tekanan darah ketika jantung mengendur. Hipertensi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama stres. Stres merupakan suatu keadaan atau kondisi yang muncul akibat ketidakmampuan seseorang yang mengalami stress dalam menghadapi stresor antara keadaan dan sumber daya biologis, psikologis, dan sosial. Salah satu pekerjaan yang dapat beresiko hipertensi dikarenakan oleh stres kerja adalah pemadam kebakaran, karena pekerjaan ini terlibat secara berulang terhadap kejadian traumatis yang dapat menyebabkan masalah psikologis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif melalui pendekatan cross Penelitian ini di lakukan di Universitas Batam pada bulan Desember-Januari 2023/2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan rums Isaac Michael dengan jumlah sampel 43 dari 110 pekerja Hasil: Hasil uji analisis yang menggunakan uji Rank Spearman menunjukkan hasil p sebesar 0,002 (<0,. menandakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan kejadian hipertensi. dengan Nilai koefisien korelasi Rank Spearman sebesar 0,432. Kesimpulan: Berdasarkan Hasil Penelitian di dapatkan Hubungan Stres dengan Kejadian Hipertensi pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran di Kota Batam Tahun 2023. Kata Kunci : Hipertensi. Stres. Pemadam Kebakaran Univesitas Batam Page 97 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 PENDAHULUAN Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Sedangkan pada tahun 2018, menurut data WHO, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% mengidap penyakit hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat 29,2% Diperkirakan setiap tahun ada 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan 333 juta dari 972 juta pengidap hipertensi berada di negara maju dan sisanya berada di negara berkembang salah satunya Indonesia. Berdasarkan Riskesdas . prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan . 1%), sedangkan terendah di Papua sebesar . ,2%). Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun . ,6%), umur 45-54 tahun . ,3%), umur 55-64 tahun . ,2%). Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia pada tahun 2014, hipertensi yang disertai dengan komplikasi merupakan penyebab kematian nomor lima pada semua umur. Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahunnya dan 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara. Prevalensi hipertensi akan terus meningkat tajam dan diperkirakan pada tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa diseluruh dunia terkena hipertensi. Sedangkan Indonesia prevalensi hipertensi cukup tinggi dimana hipertensi merupakan penyebab kematian Univesitas Batam nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis yakni 6,7% dari populasi kematian pada semua umur dan Prevalensi tekanan darah tinggi tahun 2021 di Kepulauan Riau sebesar 26,3 %. Tekanan darah pada manula bisa terus berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi dengan baik. Tingginya prevelensi hipertensi diantaranya riwayat keluarga, usia, jenis penyalahgunaan obat dan stres (Black. and Hawks. H, 2. Faktor yang menurut kebanyakan orang adalah sepele mempengaruhi stres adalah pekerjaan (Hawari 1. Stress dapat dikatakan sebagai suatu keadaan atau kondisi yang muncul akibat ketidakmampuan seseorang yang mengalami stress dalam menghadapi stresor antara keadaan dan sumber daya (Hardjana,1. Stres akan meningkatkan resistensi vaskuler perifer dan curah jantung serta menstimulasi aktivitas sistem saraf simpatis. Ketika menghadapi stres, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kondisi ini membuat detak jantung dan tekanan darah akan meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, serta otot menjadi tegang. Jika hal ini dibiarkan dari waktu ke waktu hipertensi ini dapat berkembang (Corwin. Stres juga bisa menimpa siapapun termasuk anak-anak, remaja, dewasa, atau yang sudah lanjut usia. Dengan kata lain, stres pasti terjadi pada siapapun dan dimanapun (Kupriyanov dan Zhdanov Stres yang berat atau kronis dari waktu kewaktu yang dialami oleh individu akan beresiko tinggi terkena hipertensi (Spruill. et al, 2. Pekerjaan mempengaruhi risiko seseorang terkena Page 98 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 hipertensi adalah pekerja pemadam Sebanyak 67% dari 110 populasi dari pemadam kebakaran terkena hipertensi di Kota Batam. Pemadam kebakaran adalah salah satu pekerjaan dengan risiko tinggi untuk mengalami stres kerja dimana pekerjaan ini terlibat secara berulang terhadap kejadian traumatis yang dapat menyebabkan masalah psikologis. Pemadam kebakaran merupakan pekerjaan utama yang menyelamatkan hidup serta memberi bantuan dalam keadaan darurat seperti bencana alam, kecelakaan dan bencana non alam. Dalam situasi yang darurat, pemadam kebakaran harus tetap siaga menghadapi bencana tersebut nyawanya sendiri saat bertugas. Apabila peristiwa bahaya ini terus-menerus terjadi pada petugas pemadam kebakaran dapat berdampak pada psikologis dan fisik petugas pemadam kebakaran. Sumber-sumber di lingkungan kerja yang dapat menimbulkan stres psikologis, yaitu ruangan kerja fisik yang kurang baik, beban kerja yang terlalu berat, tempo kerja yang terlalu cepat, pekerjaan terlalu cepat, pekerjaan terlalu sederhana, konflik peran, hubungan dengan atasan maupun teman kerja yang kurang baik serta iklim organisasi yang kurang menyenangkan. Kebanyakan pemadam kebakaran terkena tingkat stress yang tinggi dikarenakan terkurasnya energi setelah melakukan pekerjaan berat baik di lapangan maupun di kantor, merasa kurang optimal dalam mengerjakan tugas jika didesak ataupun diberi dalam waktu yang bersamaan, dan juga kurangnya istirahat jika mendapatkan shift malam. Jam Jam Univesitas Batam panjang mengekspos pekerja untuk waktu yang cukup lama sebagai faktor psikososial berbahaya dalam lingkungan kerja, seperti stres pekerjaan . Dalam beberapa tahun terakhir penelitian mengatakan bahwa stresor yang dihadapi oleh petugas pemadam kebakaran berdampak pada fisik dan psikologis mereka, sehingga menjadi pemadam kebakaran merupakan pekerjaan dengan faktor risiko stres kerja yang tinggi. METODE PENELITIAN Jenis penelitian Analitik Kuantitatif, melalui pendekatan cross sectional yang mencari hubungan antar variabel, yaitu dengan melakukan suatu analisis terhadap data yang dikumpulkan tanpa melakukan intervensi terhadap subyek penelitian. Pada penelitian ini populasi pekerja damkar tahun 2023 berjumlah 110 pekerja dengan total 43 sampel. Dalam konteks penelitian ini, variabel independen adalah tingkat stress, sementara variabel dependen adalah kejadian hipertensi. Pada penelitian ini, dilakukan analisis bivariat menggunakan uji statistik Rank Spearman dengan bantuan program SPSS 26. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Usia Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Usia Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Usia 19-25tahun 26-45 tahun 46-65 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 4. 1 di atas menunjukkan bahwa diketahui terdapat sebanyak 5 pekerja . 6%) yang berada dalam rentang usia 19-25 tahun, rentang usia 26-45 tahun yaitu 25 pekerja . 1%), Page 99 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 sedangkan rentang usia 46-65 tahun mencakup 13 pekerja . 2%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada dalam rentang usia produktif, yaitu 26-45 tahun. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maulidina, dkk . dimana usia berhubungan dengan kejadian hipertensi dengan frekuensi responden lebih banyak yang berusia Ou40 tahun. Distribusi Frekuensi Tingkat Stres pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Stres pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tidak Stress Frekuensi . Persentase (%) Stress Ringan Stress Sedang Stress Berat Stress Sangat Berat Total Tingkat Stress Berdasarkan Tabel 4. 2 di atas tingkat stres pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Dari total 43 pekerja yang diteliti, terdapat pekerja yang tidak mengalami stress, mengalami stress ringan, dan mengalami stress sangat berat masing-masing sebanyak 3 pekerja atau sekitar . %). Sebanyak 9 pekerja . mengalami stres sedang, dan 25 pekerja . 1%), mengalami stres berat. Dapat diketahui bahwa mayoritas pekerja mengalami stress berat yaitu sekitar 25 Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Upik Pebriyani et. pada responden dengan usia produktif. Univesitas Batam Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. 3: Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Kejadian Hipertensi Normal Hipertensi Hipotensi Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 4. 3 memberikan gambaran distribusi frekuensi kejadian hipertensi di kalangan pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Dari total 43 pekerja yang diteliti, sebanyak 13 pekerja . dikategorikan sebagai memiliki tekanan darah dalam batas normal. 28 pekerja . 1%) mengalami kejadian hipertensi, sementara itu, hanya 2 pekerja . yang mengalami hipotensi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja mengalami hipertensi yaitu sekitar 28 Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rusnoto . pada pekerja pabrik di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu. Pada penelitian tersebut menemukan bahwa Page 100 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 Analisis Bivariat Hubungan Usia dengan Tingkat Stress pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. Hubungan Usia dengan Tingkat Stress pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tingkat Stress Total Tidak Stress Stress Stress Sangat Usia Stress Ringan Sedang Berat Berat 19-25tahun 0 1 20. 0 1 20. 0 1 20. 26-45 tahun 0 2 8. 0 14 56. 0 2 8. 46-65 tahun Total Berdasarkan Tabel mencerminkan hubungan antara usia dengan tingkat stress pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Dalam kelompok usia 19-25 tahun, terlihat bahwa 20. dari pekerja mengalami stress ringan, 0% mengalami stress sedang, 40. mengalami stress berat, dan 20. mengalami sangat berat. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0. menandakan adanya hubungan yang signifikan antara usia 19-25 tahun dan tingkat stress. Pada kelompok usia 26-45 tahun, tingkat stress cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, dengan 56. mengalami stress berat dan 8. mengalami sangat berat. Sementara itu, pada kelompok usia 46-65 tahun, 69. pekerja mengalami stress berat, sedangkan 7% mengalami stress ringan. Secara keseluruhan, dari total 43 pekerja mitigasi pemadam kebakaran, 58. 1% mengalami stress berat, 20. 9% mengalami stress sedang, dan 7. 0% mengalami tingkat stress Temuan ini memberikan gambaran bahwa semakin bertambah usia, tingkat stress cenderung meningkat pada pekerja Ditunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat stress pada pekerja mitigasi pemadam Dengan kata lain, semakin Univesitas Batam bertambah usia maka, semakin besar pula kemungkinan mereka mengalami stres. Usia berkaitan erat dengan stress. Semakin menyebabkan organ dan kondisi fisik menurun, sehingga lebih rentan untuk mengalami stres. Pekerja dengan usia yang lebih tua juga cenderung mempunyai kondisi kesehatan yang kurang baik dibanding pekerja dengan usia yang lebih muda karena masa kerja yang lebih terhadulu, membuat mereka lebih sering terpapar api. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwindasari . yang menunjukan bahwa faktor usia Begitupula hasil penelitian yang dilakukan Azizah . yang menunjukkan bahwa uji hubungan yang dilakukan antara usia dan stres kerja menggunakan uji korelasi rank spearman menunjukkan p value yang diperoleh sebesar 0,031 < 0,05 yang berarti ada hubungan antara usia dengan stres kerja. Page 101 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 Hubungan Usia dengan Tingkat Stress pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. Hubungan Usia dengan Tingkat Stress pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Kejadian Hipertensi Usia 19-25 tahun 26-45 tahun 46-65 tahun Total Normal Hipertensi Hipotensi Total Tabel 4. 5 menyajikan hubungan 1% mengalami hipertensi, 30. antara usia dengan kejadian hipertensi memiliki tekanan darah normal, dan 4. pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Temuan Dalam kelompok usia 19-25 tahun, memberikan indikasi bahwa semakin ditemukan bahwa 60. 0% dari pekerja bertambah usia, terdapat peningkatan mengalami hipertensi, sementara 20. kejadian hipertensi pada pekerja mitigasi mengalami hipotensi, dan 20. 0% memiliki pemadam kebakaran. tekanan darah normal. Hasil uji statistik Disini menunjukkan nilai p sebesar 0. hubungan yang signifikan antara usia menunjukkan adanya hubungan yang dengan kejadian hipertensi pada pekerja signifikan antara usia 19-25 tahun dengan mitigasi pemadam kebakaran. Dengan kata kejadian hipertensi. Pada kelompok usia lain, semakin bertambah usia maka, 26-45 tahun, 64. 0% pekerja mengalami hipertensi, 32. 0% memiliki tekanan darah hipertensi juga semakin tinggi. Hal ini normal, dan 4. 0% mengalami hipotensi. sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kelompok usia 46-65 tahun menunjukkan oleh Hendra . menunjukan adanya hubungan antara umur dengan kejadian hipertensi, 30. 8% memiliki tekanan darah hipertensi di dapatkan p value = 0. 002, hal normal, dan tidak ada yang mengalami ini disebabkan karena tekanan arterial Secara keseluruhan, dari total 43 pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tabel 4. 6: Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran Tingkat Stress Tidak Stress Stress Ringan Stress Sedang Stress Berat Stress Sangat Berat Total Univesitas Batam Kejadian Hipertensi Normal Hipertensi Hipotensi 3 0 0. 3 0 0. 4 0 0. 0 1 4. 3 1 33. 1 2 4. Total Rank Spearman . Page 102 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 Dalam analisis tingkat stres dan kejadian hipertensi pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran, dapat dilihat bahwa kelompok tingkat stres yang berbeda memiliki pola yang menarik dalam hubungannya dengan tekanan darah. Pada 6 dapat terdapat kelompok tidak stres, terdapat 3 pekerja, di mana 2 pekerja . 7%) memiliki tekanan darah normal, dan 1 pekerja . 3%) mengalami Tidak ada yang mengalami hipotensi di dalam kelompok ini. Sama halnya dengan kelompok stres ringan, dimana dari 3 pekerja yang termasuk, 2 pekerja . 7%) memiliki tekanan darah normal dan 1 pekerja . 3%) mengalami hipertensi, tanpa adanya kasus hipotensi. Namun, pola berbeda terlihat pada kelompok stres sedang, di mana dari 9 pekerja, 5 pekerja . 6%) memiliki tekanan darah normal, 4 pekerja . mengalami hipertensi, dan tidak ada yang mengalami hipotensi. Kelompok stres berat menunjukkan persentase yang signifikan dari 25 pekerja di dalamnya, dengan hanya 3 pekerja . 0%) memiliki tekanan darah normal, sementara sebagian besar, yaitu 21 pekerja . 0%), mengalami hipertensi, dan 1 pekerja . 0%) mengalami hipotensi. Kelompok dengan kejadian hipertensi pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Nilai koefisien korelasi Rank Spearman sebesar 0,432 menunjukkan adanya hubungan positif yang cukup kuat antara tingkat stres dan kejadian hipertensi. Artinya, semakin tinggi tingkat stres, semakin besar kemungkinan terjadinya hipertensi di kalangan pekerja tersebut. Penelitian ini sejalan dengan temuan Rohmatul Awaliyah . , yang signifikan antara tingkat stres dan kejadian Hal konsistensi temuan terkait hubungan Ini memperkuat bukti bahwa tingkat stres dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi. Temuan ini memberikan implikasi yang signifikan terkait manajemen stres Univesitas Batam stres sangat berat, yang terdiri dari 3 pekerja, menunjukkan distribusi yang seimbang, dengan masing-masing 1 pekerja . 3%) memiliki tekanan darah normal, mengalami hipertensi, dan mengalami hipotensi. Secara keseluruhan, dari total 43 pekerja yang diteliti, 13 pekerja . memiliki tekanan darah normal, 28 pekerja . 1%) mengalami hipertensi, dan 2 pekerja . 7%) mengalami hipotensi. Analisis ini memberikan gambaran rinci tentang hubungan antara tingkat stres dan kondisi tekanan darah pada pekerja pemadam kebakaran, menyoroti perlunya perhatian khusus terhadap manajemen stres untuk menjaga kesehatan keseluruhan Hasil uji analisis hubungan antara tingkat stress dengan kejadian hipertensi pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran Rank Spearman menunjukkan hasil yang signifikan. Nilai p sebesar 0,002 (<0,. menandakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan kejadian hipertensi. Dengan demikian, dapat disimpulkan pada pekerja mitigasi pemadam kebakaran. Banyaknya beban kerja, menumpuknya pekerjaan, dan penyelesaian pekerjaan dalam kurun waktu yang singkat menjadikan ini sebagai beberapa faktor stress kerja. Cara yang dapat mengurangi faktor resiko stress kerja yang dapat meningkatkan tekanan darah dengan Peningkatan kesadaran dan tindakan preventif terhadap stres juga dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi risiko hipertensi di kalangan mereka. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti oleh peneliti dengan jumlah sampel sebanyak 43 responden yang berjudul Hubungan Stres Kejadian Page 103 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 Hipertensi Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran di Kota Batam Tahun 2023 dapat disimpulkan sebagai Pada distribusi frekuensi tingkat stress, terdapat pekerja yang tidak mengalami stress, mengalami stress ringan, dan mengalami stress sangat berat masingmasing sebanyak 3 pekerja atau sekitar . %). Sebanyak 9 pekerja . mengalami stres sedang, dan 25 pekerja . 1%), mengalami stres berat. Dapat diketahui bahwa mayoritas pekerja mengalami stress berat yaitu sekitar 25 Pada distribusi frekuensi kejadian hipertensi, sebanyak 13 pekerja . memiliki tekanan darah normal, 28 pekerja . 1%) mengalami kejadian hipertensi, dan 2 pekerja . 7%) mengalami hipotensi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja mengalami hipertensi yaitu sekitar 28 pekerja. Pada kelompok usia 46-65 tahun, 69. pekerja mengalami stress berat, temuan ini memberikan gambaran bahwa semakin bertambah usia, tingkat stress juga akan cenderung meningkat. Dapat diketahui juga pada kelompok usia 46-65 tahun menunjukkan bahwa 69. 2% pekerja mengalami hipertensi. Temuan ini memberikan indikasi bahwa semakin bertambah usia, kejadian hipertensi juga akan mengalami peningkatan. Adanya korelasi yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi . <0,. , maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat Hubungan Stres dengan Kejadian Hipertensi pada Pekerja Mitigasi Pemadam Kebakaran di Kota Batam Tahun 2023. Bagi Peneliti Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai faktor lain yang dapat berhubungan dengan kejadian hipertensi seperti faktor ekonomi, faktor internal keluarga, faktor pendidikan, dan lainnya, juga dapat dipakai sebagai sumber informasi Bagi Pemerintah Diharapkan untuk menjadi evaluasi untuk kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja dan memberikan perlindungan tenaga kerja dalam menjalankan tugasnya. Bagi Masyarakat Diharapkan pengetahuan tentang Hubungan Stres dengan Kejadian Hipertensi Pada Pekerja Pemadam Kebakaran SARAN Bagi Institusi FK Uniba Dari hasi penelitian ini, diharapkan dapat membentuk studi pusat kajian mengenai hipertensi dan meningkatkan kompetensi bagi calon dokter dalam penanganan Artiyaningrum. FaktorFaktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Yang Melakukan Pemeriksaan Rutin Puskesmas Kedungmundu Kota Univesitas Batam UCAPAN TERIMA KASIH