Jurnal Inovator. Vol. No. 57Ae61 Jurnal Inovator homepage: https://ojs. id/index. php/inovator/index Ekstraksi Nikotin Limbah Puntung Rokok Sebagai Inhibitor Untuk Memperlambat Laju Korosi Pada Baja Mild Steel Elfidiah a,*. Fatimah a . Legiso a Program Studi Teknik Kimia. Universitas Muhammadiyah Palembang. Jl. Jendral Ahmad Yani, 13 Ulu. Kec. Sebrang Ulu II. Kota Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Diterima 11 November 2024 Diterima setelah direvisi 3 Desember 2024 Disetujui 3 Desember 2024 Kata kunci: Inhibiror Nikotin Plat Baja Puntung Rokok Abstract- Corrosion is maetrial damage, especially metals in general, due to reactions by the environment. One alternative effort to reduce corrosion levels is to use inhibitors. The purpose of this study is to determine the corrosivity rate in steel using river water, and seawater as an immersion medium with varying soaking time and inhibitor levels. The benefits of this research are as a reference for the use of cigarette butt waste so that it can reduce the amount of waste in Indonesia and as a reference for corrosion control in iron and steel. Based on the research that has been carried out, tobacco extract from cigarette butts using the maceration method with 96% ethanol solvent was obtained, an extract volume of 250 ml with an optimal pH of 4. occurred in the river water medium, where with the river water medium, the inhibitor worked optimally on the 7th day with a volume of 15 ml 8. 5395 mpy, which was 4. 6711 gm2/day, while with the medium of solution, the NaCl inhibitor worked optimally on the 7th day with a volume of 15 ml, 10. 0738 mpy, which 5104 gm2/day where the longer the soaking time, the more optimal the inhibitor will protect the steel Intisari-Korosi adalah kerusakan maetrial khususnya logam secara umum akibat adanya reaksi oleh Salah satu upaya alternatif untuk menurunkan tingkat korosi adalah menggunakan inhibitor. Tujuan penelitian ini adalah menentukan laju korosifitas pada besi baja dengan menggunakan air sungai, dan air laut sebagai medium perendaman dengan waktu perendaman dan kadar inhibitor yang bervariasi. Adapun manfaat dari penelitan ini yaitu sebagai acuan pemanfaatan limbah puntung rokok sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang ada di Indonesia dan sebagai acuan pengendalian korosi pada besi baja. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dihasilkan ekstrak tembakau dari puntung rokok menggunakan metode maserasi dengan pelarut ethanol 96% didapatkan volume ekstrak sebanyak 250 ml dengan ph 4,9 optimum terjadi pada media air sungai yang mana dengan medium air sungai inhibitor bekerja maksimal pada hari ke7 dengan volume 15 ml 8,5395 mpy yaitu 4,6711 gm 2/hari sedangkan dengan medium larutan NaCl inhibitor bekerja maksimal pada hari ke-7 dengan volume 15 ml 10,0738 mpy yaitu 5,5104 gm2/hari dimana semakin lamanya waktu perendaman maka akan semakin optimal inhibitor melindungi plat baja tersebut. Pendahuluan Baja lunak tetap menjadi bagian material yang biasanya selalu dipakai pada sektor industri karena bermacam keuntungan yang ditawarkannya. Material ini memberikan sifat mekanis yang memadai, mudah dalam proses pengerjaan, dan harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan jenis baja lainnya . Adapun industri yang menggunakan tipe baja ini yakni industri minyak dan gas sebagai tangki penyimpanan, bagian pipa dalam industri bangunan, dan lain sebagainya . * Corresponding Author: E-mail:gemaelfidiah@yahoo. com (Elfidia. Korosi merujuk pada kerusakan pada material yang umumnya dikarenakan oleh reaksi dari lingkungan, terutama korosi yang terjadi pada logam . , . Ini juga dapat dijelaskan sebagai reaksi redoks antara logam dan lingkungan sekitarnya, yang mengakibatkan pembentukan senyawa-senyawa yang tidak diinginkan . Salah satu tahap yang dapat dilakukan guna meminimalisir korosi yaitu melalui penerapan inhibitor. Inhibitor berfungsi sebagai agen penghambat terjadinya reaksi korosi dari lapisan pelindung yang terbentuk di permukaan logam . Efektifitas perlindungan korosi Jurnal Inovator. Vol. No. 57Ae61 ditentukan dari keberadaan ikatan kimia yang kuat antara inhibitor dengan permukaan logam. Salah satu parameter penting dalam inhibitor adalah pemilihan jenis inhibitor yang sesuai dan memiliki kinierja yang tinggi dalam menurunkan laju korosi pada logam . Referensi . menunjukkan bahwa nikotin dari puntung rokok bisa digunakan sebagai penghambat korosi pada platform jaket. Pada penelitian tersebut Inhibitor yang digunakan yaitu ekstrak puntung rokok 0,3%, 0,2 %, 0,1%, tembakau, teh, dan cat 100% menggunakan metode evavorasi dengan pelarut methanol. sampel baja ASTM 50 di masukkan pada media air laut selama 6 hari. Referensi . ini berfokus pada penggunaan puntung rokok melalui metode rendaman ultrasonik sebagai pengontrol laju korosi untuk baja tahan api 5L. Ekstrak puntung rokok digunakan dengan konsentrasi inhibitor 1%, 3%, 5%, 7%, dan 9%, bersama sampel kontrol tanpa inhibitor, semuanya dalam pelarut etanol. Media yang digunakan meliputi NaCl dan HCl, dengan periode perendaman 10 hari. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tersebut menunjukkan potensi ekstrak nikotin puntung rokok sebagai inhibitor baja mild steel. Penelitian ini bertujuan guna didapatkannya pemahaman terkait laju korosi pada baja lunak . ild stee. dengan menggunakan ekstrak nikotin pada puntung rokok sebagai inhibitor untuk memperlambat laju korosi dengan variasi medium perendaman, variasi volume inhibitor dan waktu perendaman yaitu pada media air sungai, dan air laut dengan variasi volume inhibitor 5 ml, 10 ml, dan 15 ml menggunakan baja lunak . ild stee. sebagai sampel selama 7 hari. Metodologi 1 Persiapan Sampel Siapkan 1 kg punting rokok kemudian pisahkan tembakau dari kertas dan gabus, lalu blender hingga menghasilkan serbuk dan timbang sebanyak 250 gram sebagai bahan utama proses ekstraksi. 4 Pembuatan larutan NaCl Siapkan Kristal NaCl Sebanyak 35 Gram ke dalam labu ukur 1000 ml kemudian tambahkan aquadest hingga mencapai batas labu ukur tersebut lalu aduk hingga homogen. 5 Analisa kadar Nikotin Untuk mengetahui kadar nikotin yang terkandung dalam ekstrak puntung rokok yaitu melakukan pengujian menggunakan alat Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC MS) . 6 Perendaman Baja mild Steel Sampel yang telah disiapkan masing-masing di rendam dalam media korosif . ir sungai, dan larutan NaC. yang sebelumnya telah ditambahkan ekstrak tembakau dari puntung rokok dengan variasi 5 ml, 10 ml, dan 15 Perendaman dilaksanakan selama 7 hari, dan dilakukan penimbangan berat sampel pada hari ke 3,5 dan 7. Mengukur PH larutan tersebut menggunkan PH meter. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan eksrak tembakau dari puntung rokok menggunakan metode maserasi dengan pelarut ethanol 96% sehingga didapatkan volume ekstrak sebanyak 250 ml dengan PH 4,9 serta memiliki warna coklat kehitaman. Analisa yang dilakukan untuk mengetahui kadar nikotin yang terkandung dalam ekstrak puntung rokok tersebut yaitu uji analisa GCMS. Hasil analisa Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS 2 Ekstraksi dengan metode maserasi Serbuk tembakau yang telah ditimbang sebagai 250 gram dimasukkan ke dalam botol reagen kemudian di tambahkan 750 ml ethanol 96% lalu tutup rapat botol tersebut. Campuran ethanol dan serbuk tembakau didiamkan selama 5 hari . dengan dilakukan pengadukan setiap 1 Pada hari ke 6 dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtrat dan residu. Fitrat yang dihasilkan didestilasi pada suhu 60-70EE selama 60 menit. 3 Persiapan Baja Mild Steel Baja mild steel dengan ketebalan 2 mm dipotong dengan ukuran 10 cm x 5 cm kemudian permukannya dihaluskan menggunaan amplas Gambar 1. Hasil Analisa GC-MS ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 57Ae61 Pada Gambar 1. merupakan analisa hasil menggunakan alat GC-MS yang dibaca secara luas tidak terlihat adanya kandungan nikotin di dalam ekstrak tersebut. Hal ini dikarenakan kandungan nikotin di dalam puntung rokok terlalu sedikit yang disebabkan oleh pembakaran sehingga nikotin akan dilepaskan ke dalam asap lalu kemudian sebagian besar dihisab oleh perokok serta dilepas ke udara . Berdasarkan Tabel 1 Pada media larutan NaCl mengalami kenaikan Ph yaitu pada hari ke-3 dengan PH 6,2, hari ke-5 yaitu 6,4 dan hari ke-7 dengan Ph 6,5 disini terlihat semakin lamanya waktu perendaman maka akan mengalami kenaikan PH. Kenaikan ph inilah yang menjadi salah satu faktor menurunnya laju korosi pada plat baja mild steel. Penurunan terjadi secara siknifikan yang mana pada hari ke-3 yaitu 22,8534 mpy, hari ke-5 yaitu 20,2362 kemudian hari ke-7 yaitu 16,7235 mpy. Hal ini juga terjadi pada larutan NaCl, yang mana pada media air sungai terjadi kenaikan ph yaitu pada hari ke-3 dengan ph 7,4, hari ke-5 yairu 7,5 dan hari ke-7 yaitu 7,7. Penurunan laju korosi pada media air sungai juga terjadi penurunan laju korosi terjadi dari hari ke-3 yairu 38,674 mpy laju pada hari ke-5 yaitu 35,4411 mpy kemudian hari ke-7 yaitu 22,0825 mpy. Tabel 2. Laju Korosi Pada Plat Baja Lunak (Mild Stee. Dengan Penambahan Inhibitor Alami 10 ml Medium Larutan Gambar 2. Hasil Analisa GC-MS Dengan Mesh Petra NaCl pada Gambar 2 hasil analisa GC-MS dibaca secara detail atau mendasar yaitu dibaca secara mesh petra terlihat adanya kandungan nikotin di dalam ekstrak puntung rokok tersebut. Namun jika dibaca dengan cara ini kita tidak dapat mengetahui presentase kadar nikotin di dalamnya karena dibaca secara kualitatif, terlihat adanya kandungan nikotin di dalam ekstrak puntung rokok tersebut pada menit ke 9,0279,055 dengan 6 kali scan. Aanalisa laju korosi pada Plat Plat Baja Lunak (Mild Stee. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap laju korosi plat baja ringan dengan menggunakan air Sungai Musi dan larutan NaCl, dengan variasi waktu pemaparan dan volume, diperoleh data perhitungan laju korosi baja lunak sebagai berikut: Tabel 1. Laju Korosi Pada Plat Baja Lunak (Mild Stee. Dengan Penambahan Inhibitor Alami 5 ml. Medium Larutan NaCl Air Sungai Waktu (Har. Air Sungai Waktu (Har. Massa . Laju Korosi Awal Akhir Mpy g/m2 Hari 77,5304 77,4945 21,866 11,9607 76,0985 76,0489 18,4678 10,1016 75,6938 75,6503 11,6305 6,3619 74,8926 74,8343 36,76 20,1077 77,1498 77,0586 33,4933 18,3208 76,2487 76,182 17,7037 9,6839 Berdasarkan Tabel 2 pada medium Larutan NaCl mengalami kenaikan ph pada hari ke-3 yaitu 5,9, hari ke-5 yaitu 6,1 dan hari ke-7 yaitu 6,2. Semakin lamanya perendaman akan terjadi kenikan ph dan seiring dengan hal tersebut terjadi pula penurunan laju korosi pada plat baja mild steel yang mana pada hari ke-3 yaitu 21,866 mpy, pada hari ke5 18,4678 mpy serta pada hari ke-7 yaitu 11, 6305 mpy. Sama halnya yang terjadi pada medium air sungai terjadi kenaikan ph pada hari ke-3 yaitu 7,2 , hari ke-5 yaitu 7,3 dan hari ke-7 yaitu 7,6. Penurunan Laju korosi baja mild steel juga terjadi pada media ini, yang mana pada hari ke-3 yaitu 36,76 mpy, pada hari ke-5 33,4933 mpy kemudian pada hari ke-7 17,7073 Massa . Laju Korosi Awal Akhir Mpy g/m2 Hari 76,8667 76,8295 22,8534 12,5008 76,8673 76,8124 20,2362 11,0692 75,6975 75,635 16,7235 9,14775 77,5356 77,4721 38,674 21,1547 78,8256 78,727 35,4411 19,3863 76,4342 76,3508 22,0825 12,0791 ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 57Ae61 Tabel 3. Laju Korosi Pada Plat Baja Lunak (Mild Stee. Dengan Penambahan Inhibitor Alami 15 ml Medium Larutan NaCl Air Sungai Waktu (Har. Massa . Laju Korosi Awal Akhir Mpy g/m2 Hari 77,5193 77,4865 19,9807 10,9294 75,5506 75,507 16,3511 8,944 75,3371 75,2996 10,0738 5,5104 75,6281 75,5907 23,3526 12,7739 Gambar 4. Pengaruh Lama Perendaman dan Volume Inhibitor Terhadap Laju 75,0849 75,0373 17,9619 9,8252 Korosi Pada Medium Air Sungai 76,3119 76,2797 8,5395 4,6711 Berdasarkan Tabel 3 pada medium larutan NaCl terjadi penurunan ph di hari ke-3 yaitu 5,6, hari ke-5 dengan 5,8 dan pada hari ke-7 yaitu 5,9. Seiring dengan kanaikan ph maka terjadi penurunan laju korosi pada baja mild steel yang mana pada hari ke-3 yaitu 19,9807 mpy, pada hari ke-5 16,3511 mpy lalu pada hari ke-7 yaitu 10,0738 mpy. hal ini juga terjadi pada media air sungai, yang mana pada media ini terjadi kenaikan ph pada hari ke-3 yaitu 6,9, pada hari ke-5 yaitu 7,2 dan pada hari ke-7 yaitu 7,5. Seiring dengan terjadinya kenaikan ph mengakibatkan baja mild steel pada media air mengalami penurunan kecepatan korosi, yang mana pada hari ke-3 yaitu 23,3526 mpy, pada hari ke-5 yaitu 17, 9619 mpy kemudian pada hari ke-7 yaitu 8,5395 mpy. Setelah dilakukan perendaman pada plat baja menggunakan medium larutan NaCl dan Air sungai musi yang diberikan inhibitor melalui volume 5 ml,10 ml, dan 15 ml maka terlihat adamya penurunan laju korosi dan peningkatan ketahanan korosifitas. Ketahanan korosi yang paling optimum terjadi pada media air sungai dengan medium air sungai Inhibitor bekerja maksimal pada hari ke 7 dengan volume 15 ml 8,5395 mpy yaitu 4,6711 gm2/hari sedangkan dengan medium Larutan NaCl inhibitor bekerja maksimal pada hari ke 7 dengan volume 15 ml 10,0738 mpy yaitu 5,5104 gm2/hari. Gambar 3 dan 4 menunjukkan bahwa lamanya waktu perendaman, maka semakin menurun kecepatan korosi pada plat baja lunak . ild stee. Dengan menurunnya laju korosi maka ketahanan korosifitas dari plat baja tersebut meningkat . Hal ini disebabkan lamanya waktu perendaman, nantinya semakin optimal inhibitor bekerja. Karena yang awalnya inhibitor diteteskan ke media perendaman lama keamaan akan melekat dan melindungi plat baja sehinnga semakin lama waktu perendaman akan semakin maksimal inhibitor melindungi plat baja . Gambar 5. Plat Setelah Dilakukan Perendaman 3 hari Gambar 6. Plat Setelah Dilakukan Perendaman 3 hari Gambar 3. Pengaruh Lama Waktu Perendaman dan Volume Inhibitor Terhadap Laju Korosi Pada Medium Larutan NaCl ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 57Ae61 Gambar 7. Plat Setelah Dilakukan Perendaman 7 Hari Berdasarkan Gambar 5,6, dan 7 dapat dilihat adanya korosi yang sangat jelas pada hari ke-3 dan terjadi pengurangan korosi seiring dengan semakin lamanya perendaman. Semakin lamanya perendaman maka akan semakin optimal inhibitor melindingi plat baja tersebut . Hal ini terjadi karena di dalam puntung rokok terkandung tar yang dihasilkan dari pembakaran rokok. Pada hari ke-3 inhibitor belum sepenuhnya menempel pada plat baja mild steel namun pada hari ke-5 inhibitor sudah mulai sepenuhnya menutupi plat baja mild steel dan begitupun pada hari ke-7 inhibitor sudah menutupi plat baja dengan sempurna. Oleh kareana itu meskipun berdasarkan analisa GC-MS kandungan nikotin di dalam puntung rokok hanya terkandung sedikit nikotin inhibitor tetap berja Surabaya: Teknik Kelautan Institut Teknologi Supuluh November. Nugroho. Penggunaan Inhibitor Untuk Meningkatkan Ketahanan Korosi Pada Baja Karbon Rendah. Jurnal Angkasa. VII. Huda. Muhammad Nurul. Saefuloh. Iman. Kanani. Nufus. Pemanfaatan Ekstrak Puntung Rokok Menggunakan Metode Ultrasonik Bath Sebagai Pengendali Laju Korosi Pada Baja Api 5L. Banten: Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa . Irianty. Rozanna Sri. Pemanfaatan Ekstrak Nikotin Limbah Puntung Rokok Sebagai Inhibitor Korosi . Jurnal Teknologi 4. 2: 91-97. Manoj. S Chohan. Dixit, and D. Gupta. Green Inhibitor For Prevetion Of Metal and alloys corrosion: an overview. Chemistry and material reserarch 3 . P 16-24. Novotny. Lum. Smith. Wang. Dan Barnes. Cigarettes Butts And The Case For An Evironmental Policy On Hazardous Cigarette Waste. Internasional Journal Of Evironmental Reserch And Public Health VI . Pp. Prasetiyo. Heri. Efisiensi Ekstrak Daun Temabakau ( Nicotiana Tabacu. Sebagai Inhibitor Pada Baja St 37 Dalam Larutan Nacl 3%. Bandar Lampung: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lampung. Sageetha, et al. Green Corrosion Inhibitor-An Review. UDC Setiawan. Adhi. Novi Eka Mayangsari. And Denny Demawan. Pemanfaatan Ekstrak Daun Tembakau Sebagai Inhibitor Korosi Pada Logam Baja Karbon Dan Aluminium. Chemical Engineering Research Articles 1. Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dihasilkan ekstrak tembakau dari puntung rokok menggunakan metode maserasi dengan pelarut ethanol 96% didapatkan volume ekstrak sebanyak 250 ml dengan ph 4,9 optimum terjadi pada media air sungai yang mana dengan medium air sungai inhibitor bekerja maksimal pada hari ke-7 dengan volume 15 ml 8,5395 mpy yaitu 4,6711 gm2/hari sedangkan dengan medium larutan NaCl inhibitor bekerja maksimal pada hari ke-7 dengan volume 15 ml 10,0738 mpy yaitu 5,5104 gm2/hari dimana semakin lamanya waktu perendaman maka akan semakin optimal inhibitor melindungi plat baja Referensi