Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203 DOI: 10.7454/jki.v20i3.623 POLA ASUH ORANGTUA BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO PADA REMAJA BINAAN RUMAH SINGGAH Titin Ungsianik*, Tri Yuliati Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia *E-mail: mytitien@ui.ac.id Abstrak Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku seksual yang dapat menyebabkan dampak negatif seperti kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, dan penyakit menular seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko pada remaja yang menjadi binaan sebuah rumah singgah. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif. Penelitian ini melibatkan 92 partisipan remaja yang diseleksi dengan teknik quota sampling. Instrumen yang digunakan adalah The Parental Care Style Questionnaire dan Sexual Risk Survey: Instrument development and psychometrics versi Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko remaja (p< 0,05). Untuk menangani masalah seksual remaja, perlu diadakan program kesehatan reproduksi yang tidak hanya ditujukan kepada remaja, namun juga orangtua dan masyarakat. Kata kunci: perilaku seksual berisiko, pola asuh orangtua, remaja Abstract Parenting Style related to Sexual Behavior of Adolescents in the Shelter Supervised. Risky sexual behavior is sexual behavior which causes various negative impacts such us unwanted pregnancies, abortion and sexually transmitted diseases. This study aims to identify the correlation between parenting style and adolescents’ sexual behavior in a shelter. The design of this study was descriptive correlative. This study included 92 participants of adolescent which were selected by quota sampling technique. The instruments used in the study were modiefied and Indonesian version of The Parental Care Style Questionnaire and Sexual Risk Survey: Instrument development and psychometrics. The result showed there was a significant correlation between parenting styles and adolescents’ risky sexual behavior (p< 0.05). It is recommended to develop reproductive health programs not only for adolescents but also parents and community to overcome adolescents’ sexual problem. Keywords: adolescents, parenting, risky sexual behavior Pendahuluan Kategori usia remaja merupakan kategori usia yang paling rentan terhadap berbagai perilaku negatif, seperti perilaku seksual berisiko. Perilaku seksual berisiko didefinisikan sebagai perilaku seksual yang mengancam kesehatan karena terpaparnya berbagai penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual seperti hepatitis C, hepatitis B, Human Immunodeficiency (HIV) dan berbagai infeksi menular seksual lainnya (CDC, 2015). Angka remaja yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah juga kerap mengalami ekskalasi. Pada 2012, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menyatakan telah terjadi ekskalasi angka remaja yang pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 5,6% dibanding dengan data hasil SDKI pada 2007. Pada 2013, Komisi Nasional Perlindungan Anak meneliti perilaku seksual remaja SMP dan SMA di 17 kota besar di Indonesia dan menemukan sebanyak 97% remaja pernah menonton pornografi, 93,7% sudah tidak lagi perawan dan 186 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 21,26% pernah melakukan aborsi (BKKBN, 2011). Semakin tingginya angka hubungan seksual pranikah diikuti dengan semakin tingginya pula dampak dari hubungan seksual pranikah tersebut. Sebanyak lebih dari 6 juta kasus kehamilan remaja setiap tahun tercatat, hampir 4 juta aborsi dilakukan dengan tidak aman pada kalangan remaja. Setengah juta remaja bahkan hidup dengan HIV positif di wilayah Asia Pasifik (UNFPA, 2014). Di Indonesia, menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia (2014), terjadi peningkatan sekitar 15% pada tiap tahunnya. Remaja yang berisiko tinggi mendapat perlakuan salah, baik fisik, emosi maupun seksual adalah anak jalanan (Friedrich, Lysne, Sim, & Shamos, 2004). Anak jalanan kerap digambarkan sebagai anak yang bebas, liar, hidup tanpa aturan, dan dekat dengan perilaku negatif seperti mencuri, berkelahi, pengguna narkoba serta seks bebas oleh masyarakat (Saripudin, 2012). Angka perilaku seksual remaja anak jalanan di Depok dapat dikatakan cukup tinggi. Penelitian Rakhmawati (2013) mengidentifikasi adanya berbagai faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja di rumah singgah Depok dan mendapati bahwa sebanyak 33% remaja memiliki perilaku seksual berisiko. Perilaku remaja dipengaruhi perilaku orangtua dalam mengasuh anak (Santrock, 2007). Brooks (2012) menyatakan bahwa perilaku serta sikap orangtua dalam berinteraksi dengan anaknya ini disebut pola asuh. Santrock (2007) membagi pola asuh menjadi 4, yaitu authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent. Pola asuh authoritative merupakan pola asuh yang terbaik dalam mencetak anak yang percaya diri dan sukses di sekolah. Pola asuh authoritarian mendidik anak menjadi penurut dan takut mengemukakan pendapat. Sedangkan pola asuh neglectful dan indulgent cenderung menjadikan anak tidak menghargai orang lain dan tidak bertanggungjawab. Penelitian Dempster, Rogers, Pope, Snow, dan Stoltz (2015) yang dilakukan pada remaja di Amerika menemukan remaja yang diberikan kebebasan penuh oleh orangtuanya memiliki risiko tinggi terjadinya perilaku seksual. Namun penelitian ini juga menemukan bahwa batasan keras terhadap remaja meningkatkan terjadinya perilaku seksual, khususnya pada remaja laki-laki. Demikian juga penelitian Grace (2013) yang menemukan bahwa pola asuh overcontrolling dan kurang disiplin berhubungan dengan peningkatan perilaku seksual berisiko. Di Indonesia, penelitian mengenai pola asuh orangtua dan perilaku seksual berisiko dilakukan oleh Nurmagupta (2014) dan Hidayati (2013). Nurmagupta (2014) menemukan pola asuh yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja adalah pola asuh authoritarian, sedangkan Hidayati (2013) menemukan pola asuh yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja adalah pola asuh permissive. Adanya perbedaan hasil beberapa penelitian tersebut mengindikasikan perlunya diteliti kembali pola asuh seperti apa yang paling berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko remaja. Penelitian tentang hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko pada remaja anak jalanan belum banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu kota di Indonesia yang memiliki angka perilaku seksual berisiko cukup tinggi adalah kota Depok. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan penelitian mengenai hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko pada remaja, khususnya remaja anak jalanan di kota Depok. Metode Peneliti menggunakan desain penelitian crosssectional di dalam penelitian ini dengan kriteria inklusi remaja yang berusia 13–18 tahun, berada di bawah binaan rumah singgah Depok yang dinamakan Sekolah Master, masih tinggal bersama orangtua dan belum menikah. Sampel 187 Ungsianik, et al., Pola Asuh Orangtua Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja yang dipilih dengan menggunakan sistem nonprobablity sampling, yaitu quota sampling. Sebanyak 92 partisipan remaja SMP dan SMA rumah singgah Depok menjadi partisipan penelitian ini. Distribusi kuesioner dilakukan pada Mei 2016 dan dilakukan sebanyak tujuh kali pertemuan dengan durasi waktu 15 menit. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah The Parental Care Style Questionnaire (Gidey, 2002) yang telah diterjemahkan dan dimodifikasi di Indonesia oleh Nurmagupta (2014) untuk mengukur pola asuh orangtua, dan SRS (Sexual Risk Survey): Instrument development and psychometrics yang telah dimodifikasi di Indonesia oleh Nurmagupta (2014) ditambah dengan kuesioner demografi untuk karakteristik responden dan orangtua. Hasil Hasil yang ditampilkan terdiri dari hasil analisis univariat dan analisis bivariat. Tabel 1 memaparkan mayoritas remaja pada penelitian ini berada dalam kategori remaja awal dan remaja tengah, perempuan, suku Betawi, tinggal bersama keluarga inti, pendidikan SMP, jumlah saudara kandung 1–3, dan tidak bekerja. Tabel 1. Data Demografi Remaja dan Orangtua Remaja Umur Data Demografi Remaja dan Orangtua Remaja Remaja awal Remaja tengah Remaja akhir N 33 33 26 % 35,9 35,9 28,3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 39 53 42,2 57,6 Suku Jawa Sunda Betawi Lainnya 34 18 38 2 37,0 19,6 41,3 2,2 Tinggal bersama Keluarga inti Keluarga besar 74 18 80,4 19,6 Tingkat pendidikan SMP SMA 54 38 58,7 41,3 Jumlah saudara kandung Anak tunggal 1-3 Lebih dari 3 5 53 34 5,4 57,6 37,0 Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja 28 64 30,4 69,6 Umur orangtua Dewasa Lansia 87 5 94,6 5,4 Pendidikan terakhir Tidak sekolah SD SMP SMA D3/S1 7 26 18 35 6 7,6 28,3 19,6 38,0 6,5 Penghasilan < Rp 3.046.180 ≥ Rp 3.046.180 88 4 95,7 4,3 Status perkawinan Orangtua tunggal Orangtua utuh 21 71 22,8 77,2 188 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 Tabel 2. Distribusi Pola Asuh Orangtua Remaja Pola asuh Authoritative Authoritarian Permissive-indulgent Permissive-neglectful N 22 31 23 16 % 23,9 33,7 25,0 17,4 Tabel 3. Distribusi Perilaku Seksual Berisiko Remaja Perilaku seksual N 38 54 Berisiko Tidak berisiko % 41,3 58,7 Tabel 4. Distribusi Domain Perilaku Seksual Berisiko Remaja Pengetahuan Sikap Aktivitas Domain Perilaku Seksual Berisiko Pengetahuan rendah Pengetahuan tinggi Negatif Positif Negatif Positif N 42 50 42 50 38 54 % 45,7 54,3 45,7 54,3 41,3 58,7 Tabel 5. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perilaku Seksual Berisiko Remaja Pola Asuh Orangtua Authoritative Authoritarian Permissive-indulgent Permissive-neglectful Total Perilaku Seksual Berisiko Remaja Berisiko Tidak Berisiko n % N % 5 22,7 17 77,3 11 35,5 20 64,5 11 47,8 12 52,2 11 68,8 5 31,2 38 41,3 54 58,7 Berdasar karakteristik orangtua, penghasilan orangtua remaja hampir seluruhnya di bawah UMK (Upah Minimum Kota). Pada Tabel 2 menyajikan bahwa jenis pola asuh mayoritas yang diterapkan oleh orangtua remaja adalah Authoritarian. Berdasarkan skor ketiga pada Tabel 3, domain perilaku seksual berisiko didapatkan data bahwa sebagian besar remaja memiliki perilaku seksual tidak berisiko. Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa mayoritas remaja memiliki pe- Total n 22 31 23 16 92 p % 100 100 100 100 100 0,030 ngetahuan tentang kesehatan reproduksi yang tinggi, sikap seksual positif serta aktivitas seksual yang positif. Berdasarkan hasil uji statistik yang disajikan pada Tabel 5 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko (p< 0,05). Tabel 5 juga menunjukkan kecenderungan bahwa hanya orangtua yang memiliki pola asuh permissiveneglectful lah yang anak remajanya memiliki kecenderungan perilaku seksual berisiko. 189 Ungsianik, et al., Pola Asuh Orangtua Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja Tabel 6. Hubungan Karakteristik Responden dengan Perila Seksual Berisiko Remaja Perilaku Seksual Berisiko Remaja Berisiko Tidak Berisiko n % N % n % Karakteristik Remaja Usia Remaja Remaja Awal Remaja Tengah Remaja Akhir 10 15 13 30,3 45,5 50,0 23 18 13 69,7 54,5 50,0 33 33 26 100 100 100 0,260 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 17 21 43,6 39,6 22 32 56,4 60,4 39 53 100 100 0,703 Tinggal Bersama Keluarga Inti Keluarga Besar 29 9 39,2 50,0 45 9 60,8 50,0 74 18 100 100 0,403 Suku Jawa Sunda Betawi Lainnya 9 9 19 1 26,5 50,0 50,0 50,0 25 9 19 1 73,5 50,0 50,0 50,0 34 18 38 2 100 100 100 100 0,180 Tingkat Pendidikan SMP SMA 22 16 40,7 42,1 32 22 59,3 57,9 54 38 100 100 0,896 Jumlah Saudara Kandung Anak Tunggal 1-3 >3 5 20 13 100 37,7 38,2 0 33 21 0 62,3 61,8 5 53 34 100 100 100 0,023 Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja 11 27 39,3 42,2 17 37 60,7 57,8 28 64 100 100 0,795 Karakteristik Orangtua Usia Dewasa Lansia 37 1 42,5 20,0 50 4 57,6 80,0 87 5 100 100 0,320 Penghasilan Di bawah UMK Di Atas UMK 36 2 40,9 0,0 52 2 50,1 50,0 82 4 100 100 0,718 Status Pernikahan Orangtua tunggal Orangtua utuh 10 28 47,6 39,4 11 43 52,4 60,6 21 71 100 100 0,503 Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP SMA D3/S1 3 7 10 16 2 42,9 26,9 55,6 45,7 33,3 4 19 8 19 4 57,1 73,1 44,4 54,3 66,7 7 26 18 35 6 100 100 100 100 100 0,383 Karakteristik Total p 190 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 Tabel 6 mendeskripisikan hubungan antara karakteristik responden dan perilaku seksual berisiko pada remaja. Dari semua karakteristik responden, hanya variabel jumlah saudara kandung yang memiliki hubungan signifikan (p< 0,05). Pembahasan Berdasarkan karakteristik remaja di Sekolah Master, mayoritas merupakan remaja awal dan remaja tengah dengan jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, tinggal bersama keluarga inti. Suku yang mendominasi adalah suku Betawi dan suku Jawa. Dari hasil analisis univariat pola asuh orangtua menunjukkan mayoritas pola asuh orangtua remaja dalam penelitian ini adalah authoritarian. Artinya, mayoritas orangtua remaja di Sekolah Master menerapkan pola asuh yang cenderung memberikan batasan tegas terhadap anaknya. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mentari dan Daulima (2015) terhadap remaja anak jalanan di rumah singgah Jakarta Timur. Pola asuh yang paling banyak diterapkan pada pada remaja jalanan dari hasil penelitian tersebut adalah pola asuh authoritative. Selain itu, hasil penelitian ini juga berbeda dengan penelitian Sakalasastra dan Herdiana (2012) bahwa keadaan responden yang menjadi anak jalanan identik dengan pola pengasuhan permissive-neglectful (penelantaran). Di antara empat pola asuh orangtua, hanya pola asuh permissive neglectful yang memiliki kecenderungan perilaku seksual berisiko pada remaja. Selisih angka tersebut juga terbilang cukup tinggi, yaitu 37,6%. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sakalasastra dan Herdiana (2012). Perilaku seksual berisiko dibagi menjadi tiga domain yaitu domain pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, sikap dan aktivitas seksual. Berdasarkan domain tersebut, mayoritas rema- ja Sekolah Master memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang baik serta sikap dan aktivitas seksual yang positif. Remaja dikatakan memiliki perilaku seksual berisiko jika dua atau tiga domain bernilai rendah atau negatif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas remaja Sekolah Master memiliki perilaku seksual tidak berisiko. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Mudingayi, Lutala, dan Mupenda (2011) yang meneliti tentang pengetahuan HIV dan perilaku seksual berisiko pada remaja jalanan di Kinshasa, Kongo, Afrika. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingginya perilaku seksual berisiko pada remaja jalanan di kota tersebut. Meskipun demikian penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Rakhmawati (2013) yang meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja di Sekolah Master. Rakhmawati menemukan mayoritas remaja Sekolah Master memiliki perilaku seksual positif (tidak berisiko). Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Gustiani dan Ungsianik (2016) yang menemukan bahwa mayoritas remaja di sebuah sekolah menengah atas di Depok memiliki perilaku seksual berisiko rendah. Penelitian ini juga serupa dengan penelitian Sherman, Sabrina, Salman ul, Yingkai, dan Tariq (2005) terhadap remaja jalanan di Pakistan yang menemukan bahwa persentase remaja yang memiliki perilaku seksual berisiko lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak memiliki perilaku seksual berisiko. Berdasarkan analisis bivariat, hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko remaja. Hasil ini juga memperlihatkan bahwa remaja yang mendapatkan pola asuh authoritative dari orangtuanya cenderung tidak memiliki perilaku seksual berisiko, sedangkan pada pola asuh orangtua permissive-neglectful, remaja cenderung memiliki perilaku seksual be- Ungsianik, et al., Pola Asuh Orangtua Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja risiko. Dari hasil uji statistik didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Dempster (2015) di Amerika yang meneliti pola kedekatan orangtua dengan faktor risiko terjadinya seks yang tidak diinginkan. Penelitian tersebut menemukan bahwa remaja yang diberikan kebebasan penuh oleh orangtuanya menjadi prediktor kuat meningkatnya risiko kejadian seks tidak diinginkan. Dempster menyebut kebebasan penuh ini sebagai pengabaian, yang dalam pola asuh dikenal sebagai pola asuh permissive-neglectful. Demikian juga penelitian Sylvester (2014) yang menemukan bahwa pengawasan orangtua yang kurang merupakan prediktor meningkatnya perilaku seksual berisiko, dan pola asuh authoritative berpengaruh terhadap rendahnya perilaku seksual berisiko. Penelitian Adams (2017) juga menemukan bahwa pola asuh authoritative berhubungan dengan kemampuan remaja dalam mempersepsikan risiko, sehingga remaja dapat mengambil keputusan untuk menghindari perilaku berisiko. Selain serupa dengan penelitian Dempster, et al. (2015), hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hidayati (2013) pada 300 remaja di Karawang. Hidayati membagi pola asuh orangtua menjadi tiga otoritatif, otoriter dan permisif. Pengkategorian ini mengacu pada teori Baumrind (1971). Pada tahun 1983, Maccoby & Martin membedakan tipe pola asuh permissive menjadi dua yaitu tipe permissive-neglectful parenting dan permissive-indulgent parenting, sehingga pada penelitian ini, pola asuh orangtua dibagi menjadi empat yaitu authoritative, authoritarian, permissive-indulgent, dan permissive-neglectful. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2013) menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pola asuh permisif dan otoritatif dengan perilaku seksual remaja, yang mana pola asuh permisif mempunyai peluang 2,462 191 kali untuk berperilaku seksual berisiko dibandingkan dengan remaja yang menerima pola asuh otoritatif. Pola asuh authoritative adalah pola asuh yang paling ideal. Pola asuh ini memiliki pola komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak. Penelitian Haywood (2017) menunjukkan semakin tinggi komunikasi tentang seks antara ibu dan anak remajanya, semakin rendah perilaku seksual berisiko pada mahasiswa Amerika-Afrika. Pola asuh authoritarian dan permissive-indulgent memiliki lebih banyak kelemahan dibandingkan pola asuh authoritative. Pola asuh authoritarian cenderung memiliki sifat membatasi, menghukum serta memandang pentingnya kepatuhan tanpa syarat (Santrock, 2007). Kerasnya sikap orangtua membuat anak enggan untuk menceritakan masalahnya. Padahal menurut penelitian Berger (2011), komunikasi ibu dengan anak perempuan dapat menjadi prediktor perilaku seksual berisiko remaja putri. Sama halnya dengan pola asuh permissiveindulgent yang cenderung mengedepankan kebahagiaan anak sehingga orangtua memberikan lebih banyak kebebasan dan menuruti kemauan anak asalkan anak bahagia. Akibatnya pola asuh ini menghasilkan anak yang agresif, bebas, dan cenderung kurang dapat menempatkan diri dalam lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, kedua pola asuh ini diaggap kurang ideal karena dapat mendorong remaja berperilaku berisiko. Pola asuh permissive-neglectful merupakan prediktor paling kuat terjadinya perilaku berisiko pada remaja. Biasanya orangtua yang menerapkan pola asuh ini kurang memberikan pengawasan kepada anak, mementingkan kepentingan orangtua serta tidak komunikatif. Anak yang diasuh dengan pola asuh permissiveneglectful akan cenderung berkembang menjadi anak yang liar dan kondisi ini mendorong anak untuk berperilaku negatif, salah satunya perilaku seksual berisiko. Penelitian Richards (2017) menemukan bahwa pengawasan orang- 192 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 tua berhubungan dengan mulainya aktivitas seksual remaja umur 12–16 tahun. Berdasarkan semua karakteristik responden, hanya jumlah saudara kandung yang memiliki pengaruh signifikan di dalam penelitian ini. Temuan ini dapat dikatakan cukup baru karena peneliti belum banyak menemukan jurnaljurnal yang menganalisis hubungan antara jumlah saudara kandung dan perilaku seksual berisiko. Dari Tabel 6 didapati bahwa semua responden yang merupakan anak tunggal memiliki perilaku seksual berisiko. Kesimpulan Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain, dari 92 partisipan yang terdiri dari remaja SMP dan SMA umur 13–18 tahun, mayoritas remaja mempunyai perilaku seksual tidak berisiko. Ditinjau dari domain perilaku seksual berisiko, mayoritas remaja memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang baik, sikap seksual positif dan aktivitas seksual yang positif. Berdasar karakteristik remaja, perilaku seksual berisiko cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Remaja akhir memiliki perilaku seksual berisiko paling banyak dibandingkan remaja tengah dan remaja awal. Dilihat dari pola asuh orangtua, bahwa pola asuh yang paling banyak diterapkan orangtua remaja Sekolah Master adalah authoritarian. Berdasarkan hasil analisis bivariat dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual berisiko (p< 0,05) dengan jenis pola asuh yang paling banyak berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja yaitu permissive-neglectful. Sedangkan pola asuh orangtua yang paling sedikit kontribusinya terhadap perilaku seksual berisiko adalah pola asuh authoritative. Penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi penelitian selanjutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang berhubungan dengan pola asuh orangtua dan perilaku seksual berisiko. Selain ini diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar bagi lembaga/instansi seperti BKKBN dan Dinas Pendidikan untuk memasukkan kurikulum kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum pelajaran sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Selain itu penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mengoptimalkan program atau kegiatan seperti seminar mengenai pola asuh dan kesehatan reproduksi yang ditujukan kepada orangtua atau masyarakat (community base). Penelitian ini juga akan menginisiasi diskusi pada penelitipeneliti bidang keperawatan maternitas dan kesehatan reproduksi untuk mulai menelaah permasalahan perilaku seksual dari berbagai faktor, khususnya, dari faktor-faktor yang peneliti anggap sebagai faktor perancu, seperti jumlah saudara kandung (AT, DW, TN). Referensi Adams, T. (2017). Adolescent decision making: The role of parenting styles and information processing on risk taking behavior (Order No. 10737061). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global (1972622524). Retrieved from https://search.proquest.co m/docview/1972622524?accountid=17242 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2011). Kajian profil penduduk remaja. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2014). Remaja perilaku seks bebas meningkat. Diperoleh dari http://ww w.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1 761 tanggal 3 Agustus 2016. Baumrind, D. (1971). Current patterns of parental authority. Depelovment Psychology, 4 (1, Pt.2), 1–103. http://dx.doi.org/10.1037/h003 0372. Berger, A.T. (2011). Longitudinal effects of mother-daughter relationships on young Ungsianik, et al., Pola Asuh Orangtua Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja women's sexual risk behaviors (Order No. 3461267). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global (880410353). Retrieved from https://search.proquest.com/ docview/880410353?accountid=17242. Brooks, R. (2012). Student-parents and higher education: a cross-national comparison. Journal of Education Policy, 27 (3), 423439. https://doi.org/10.1080/02680939.2011. 613598. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2015). Sexual Risk Behaviors: HIV, STD, & Teen Pregnancy Prevention. Diperoleh dari http://www.cdc.gov/Healthy Youth/sexualbehaviors/ pada tanggal 1 Maret 2016. Dempster, D., Rogers, S., Pope, A.L., Snow, M. & Stoltz, K.B. (2015). Insecure parental attachment and permissiveness: Risk factors for unwanted sex among emerging adults. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, 23 (4), 358–367. Friedrich, W.N., Lysne M., Sim L., & Shamos S. (2004). Assesing sexual behaviour in highrisk adolescents with Adolescent Clinical Sexual Behaviour Inventory (ACSBI). Child maltreat, 9, 239–250. Gidey, T. (2002). The interrelationship of parenting style, psychosocial adjustment and academic achievement among Addis Ababa High School students (Thesis Master). Addis Ababa University. Grace, D. (2013). Childhood abuse, parenting styles & social support in the development of depression & sexual risk taking (Order No. 3573316). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global (14348687 05). Retrieved from https://search.proquest. com/docview/1434868705?accountid=1724 2. Gustiani, Y., & Ungsianik, T. (2016). Gambaran fungsi afektif keluarga dan perilaku seksual remaja. Jurnal Keperawatan Indonesia, 19 (2), 85–91. http://dx.doi.org/10.7454/jki.v19 i2.459. 193 Haywood, J.E. (2017). Protective factors against peer and social media sex messages: The moderating role of parental influences on africanamerican emerging adult students' sexual behaviors (Order No. 10623020). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global (1966660413). Retrieved from https://search.proquest.com/docview/ 1966660413?accountid=17242. Hidayati, H. (2013). Hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja SMU Negeri di Kabupaten Karawang tahun 2013 (Tesis, tidak dipublikasikan). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Maccoby, E.E., & Martin, J.A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In P. Mussen (Ed.) Handbook of Child Psychology Vol.4. New York: Wiley. Mentari, P., & Daulima, N.H.C. (2015). Hubungan pola asuh orangtua dan harga diri anak jalanan usia remaja (Skripsi, Tidak dipublikasikan). Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok. Mudingayi, A., Lutala, P., & Mupenda, B. (2011). HIV knowledge and sexual risk behavior among street adolescents in rehabilitation centres in Kinshasa; DRC: gender differences. Pan African Medical Journal, 10, 23. Nurmagupta, D. (2014). Hubungan pola asuh dengan perilaku seksual beresiko pada remaja di kecamatan Pundong Kabupaten Bantul, DIY (Tesis, tidak dipublikasikan). Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Rakhmawati, D. (2013). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada anak jalanan di Sekolah Masjid Terminal Depok (Tesis, tidak dipublikasikan). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Richards, L. (2017). The effects of parental monitoring, family structure, and sexual abuse on the onset of sexual activity in 194 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 20 No.3, November 2017, hal 185-194 adolescents (Order No. 10254343). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (1871695921). Retrieved from https://search.proquest.com/docview/ 1871695921?accountid=17242. Sakalasastra, P.P., & Herdiana, I. (2012). Dampak psikososial pelecehan seksual yang tinggal di Liponses Anak Surabaya. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial, 1, 1–6. Santrock, J.W. (2007). Remaja (Benedictine Widyasinta, Penerjemah). Jakarta: Erlangga. Saripudin, D. (2012). The street children development in open house. Journal of Social Scientist, 8 (2), 267–273. Sherman, S.S., Sabrina P., Salman ul H., Yingkai C., & Tariq Z. (2005). Drug use, street survival, and risk behaviors among street children in Lahore, Pakistan. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine, 82 (3 Suppl 4), iv113–24. SDKI. (2012). Survei demografi dan kesehatan indonesia 2012 kesehatan reproduksi remaja. Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Badan Pusat Statistik Kementerian Kesehatan. Sylvester, O.A. (2014). Influence of self-esteem, parenting style and parental monitoring on sexual risk behaviour of adolescents in ibadan. Gender & Behaviour, 12 (2), 6341– 6353.