E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 DOI: https://doi. org/10. 31933/eej. Received: 02/12/2021. Revised: 26/12/2021. Publish: 03/02/2022 ANALISIS KESALAHAN PENULISAN PREFIKS ATAU AFIKSASI DALAM BAHASA TULISAN DAN BAHASA LISAN SISWA. Nurhapizah MTsN 5 Kota Padang Email: nurhapizah. kani@gmail. Abstrak Bahasa Indonesia maju dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. kemajuan bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sekolah sebagai pusat pengajaran. Penguasaan bahasa yang benar sesuai dengan kaidah merupakan kunci kelancaran proses komunikasi. Problematika yang ada dalam bahasa Indonesia cukup kompleks diantaranya yaitu: tataran linguistik, tataran fonologis, morfologis, sintaksis, dan Kata Kunci: minat belajar, hasil belajar. DRTA. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia maju dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Dalam hal ini, kemajuan bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sekolah sebagai pusat pengajaran. Berbagai ilmu yang diajarkan di sekolah semuannya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Di samping itu bahasa Indonesia merupakan salah satu bidang yang diajarkan di sekolah. Walaupun penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah sudah begitu lama, namun masih ada permasalahan dalam penggunaannya sebagai alat komunikasi. Ironis sekali sebetulnya hal ini bisa terjadi, tetapi itu merupakan kenyataan yang tidak bisa Penguasaan bahasa yang benar sesuai dengan kaidah merupakan kunci kelancaran proses komunikasi. Seseorang tidak dapat menyampaikan dan menerima gagasan secara efektif apabila orang tersebut tidak menguasai bahasa secara benar. Akan tetapi, penguasaan bahasa secara benar itupun tidak mudah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain masih terdapatnya problematika yang menyelimuti pemakaian bahasa. Problematika yang ada dalam bahasa Indonesia cukup kompleks. Hal ini tercermin pada setiap tataran linguistik, baik pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis, maupun Page 85 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 RUMUSAN MASALAH Dalam tulisan ini akan ditinjau problematika pada tataran morfologi. Pada tataran morfologi, masalah afiksasi sangat mendominasi. Berdasarkan dilema di atas perlu dilakukan pembatasan permasalahan tersebut. Dalam penelitian ini akan dibahas penggunaan prefiks bahasa Indonesia yang mencakup perfiks meN-, di-, ber-, ter-, per-, pe-. Pembatasan topik ini didasarkan pada pertimbangan bahasa bahwa kesalahan penggunaan imbuhan sekarang masih banyak dijumpai, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis. Di samping itu, penggunaan afiks bisa mengakibatkan kesalahan arti bahasa yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Imbuhan/prefiks yang akan dibahas dalam penelitian ini ialah imbuhan/prefiks meN-, di-, ber-, ter-, per-, dan per-. Oleh sebab itu, analisis permasalah tercakup pada imbuhan/prefiks tersebut. Usaha analisis ini akan dimulai dengan mencontohkan kesalahan dan keraguan penggunaan imbuhan/prefiks, kemudian menganalisisnya dan terakhir menulis penggunaan yang benar. Imbuhan/Prefiks meN1. Beberapa contoh Masalah itu kait-mengait dengan masalah lain Karena sangat menyintai suaminya telah meninggal sampai sekarang Rita tidak mau kawin lagi. Banyak rakyat yang suka hanya mengkritik pemerintah, tetapi berbuat tidakmau. Masalah Sama halnya imbuhan/prefiks pe- dan per- di atas, masalah pada meN- ini juga menyangkut dengan pemakaian imbuhan/prefiks meN- tersebut pada sebuah kata. Pembahasan Mengkait Dari segi kaidah bahasa Indonesia bentuk mengkait tidak tepat. Kaidahnya mengatakan bahwa bentuk dasar yang berfonem/k/ jika diberi imbuhan/prefiks meN- berubah menjadi meng- sedangkan kata /k/ luluh menjadi /ng/. Berdasarkan hal di atas, penulisan yang benar ialah mengait karena kata dasarnya kait. Dalam kalimat yang benar adalah sebagai berikut: Masalah itu kait-mengait dengan masalah lain. Menyintai Bentuk menyintai ini sering digunakan pada bahasa sehari-hari baik bahas lisan maupun tulis. Bentuk seperti ini adalah tidak tepat karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia. Kaidahnya ialah kata-kata yang berfonen awal /c/ fonem tersebut tisak luluh, hanya saja imbuhan/prefiks me- berubah menjadi meN-. Dengan demikian, penulisan yang benar ialah mencintai, bukan menyintai. Begitu juga halnya dengan kata mencontoh . , mencubit . Dan penulisan kalimat yang benar ialah: Karena sangat mencintai suaminya yang telah meninggal sampai sekarang Rita tidak mau kawin. Mengkritik Bentuk dasar dari kata di atas adalah kritik. Dengan demikian penulisan tersebut menyalahi kaidah bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa kata-kata yang berhuruf Page 86 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 awal yang terdiri dari dua konsonan . r-, pr-, tr-, br-, kl-, st-, sk-, dan lain-lai. konsonan awalnya tidak diluluhkan dalam fonem nasal alomof mem-, men-, meng-, dan Jadi bila kata-kata tersebut diberi awalan me- maka bentuknya menjadi Berdasarkan hal di atas, penulisan mengkitik jelas salah. Penulisam dalam kalimat yang benar adalah sebagai berikut: Banyak rakyat yang suka mengkritik pemerintah, tetapi berbuat tidak mau. Imbuhan/prefiks di1. Beberapa contoh Lilin itu di buang oleh pekerja . Rumput di kebun buah-buahan itu di sabit oleh orang. Masalah Dari kalimat-kalimat di atas yang mnejadi masalah ialah benarkah penulisan imbuhan/prefiks di- . ata yang bercetak mirin. pada kalimat di atas. Pembahasan Kata di buang berkata dasar buang. Berdasarkan kaidah pembentukan kata awalan di penulisannya adalah salah. Kaidahnya yaitu imbuhan/prefiks di- tidak dipisahkan Imbuhan/prefiks di- ditulis serangkai, karena di-, berfungsi imbuhan/prefiks dengan makna di-, buang . ikenai perbautan buan. Dengan demikian, kalimat yang benar penulisannya. Lilin itu dibuang oleh pekerja itu Di sabit Kata di sabit mempunyai kata dasar sabit. Berdasarkan kaidah pembentukan kata awalan di-, penulisannya adalah salah. Kaidahnya yaitu imbuhan/prefiks di-, tidak dipisahkan penulisannya. Tetapi ditulis serangkai, karena di- berfungsi sebagai imbuhan dengan makna di-, sabit . ikenai perbuatan sabi. dengan demikian kalimat yang benar penulisannya adalah: Rumput di kebun buah-buahan itu disabit oleh orang. Imbuhan/prefiks ber1. Beberapa contoh Semakin dalam laut airnya semakin berwarna biru. Haji Ahmad Rusli seorang yang berada di kampungnya. Ketika mereka datang, ibu sedang berpergian keluar kota. Masalah Yang menjadi masalah pada contoh di atas adalah penulisan kata yangberawalan ber. ata yang bercetak mirin. Benarkah penulisan tersebut? Pembahasan Bewarna Kata bewarna mempunyai bentuk dasar warna. Suku kata pertamanya berakhir dengan Aeer. Pada kata-kata yang berakhir suku katanya dengan selain Ae er, maka penulisan imbuhan/prefiks ber- tidak berubah menjadi be-. Dengan demikian, penulisan yang benar adalah berwarna. Kaidah tersebut berlaku untuk semua kata yang suku pertamanya tidak berakhir dengan Aeer. Seperti berkorban, bermarmar, dan lain-lain. Oleh sebab itu, penulisan kalimat yang benar ialah sebagai berikut: Semakin dalam laut airnya semakin berwarna biru. Berada Page 87 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Kata berada dalam bahasa Indonesia dahulu merupakan sebuah ungkapan yang berarti Aumampu, kaya, berhartaAy. Dewasa ini muncul lagi bentuk baru yang lain maknanya yaitu ada di tempat. Kata tersebut mempunyai bentuk dasar ada. Penulisan awalan berpada kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hanya saja maknanya akan berbeda antara pengertian ungkapan lama dengan berada sebagai kata berimbuhan. Untuk kalimat Au Haji Ahmad Rusli seorang yang berada di kampungnyaAy. Mempunyai arti Auorang kayaAy sebaliknya, kalau digunakan pada kalimat Au Haji Ahmad Rusli sedang berada di luar kota ketika kami datangAy, artinya akan menjadi berbeda. Kata tersebut berarti Auberada untuk sementara waktuAy. Dengan demikian, kata berada akan mempunyai dua makna yaitu sebagai ungkapan, dan sebagai kata berimbuhan dengan arti AukesementaraanAy. Imbuhan/Prefiks terImbuhan/prefiks ter- berfungsi membentuk kata kerja pasif. Misalnya pada kata terbawa, terdengar, tersusun, tersaji, terbagi, terabakar, (Ramlan 2. Namun demikian, tidak semua kata yang berawalan ter- termasuk kata kerja pasif, ia bisa berbentuk intransitif seperti tertidur, terinjak, tersenyum, dan tertawa. Dan dapat juga berbentuk kata kerja pasif dan sekaligus kata kerja intransitif, seperti kata Pada kalimat ahmad terinjak kaca. Kata terinjak termasuk golongan kata kerja intransitif, sedangkan pada kalimat kaca itu terinjak ahmad merupakan kata kerja pasif. Di samping itu, kata yang berimbuhan/prefiks ter- termasuk golongan katasifat, seperti kata tertinggi, terendah, terutama, terbaik, terkecil. Imbuhan/prefiks ter- juga berfungsi menentukan berbagai makna sebagai berikut: Menyatakn makna Au perfektifAy seperti pada kata-kata terbagi, terjepit, tertutup,terbuka, terhukum, terbangun. Menyatakan makna AuketidaksengajaanAy seperti pada kata-kata terpuji, tertawa, tersinggung, terjahit, tercoret, terpegang. Menyatakan makna Auketiba-tibaanAy seperti pada kata-kata terbangun, terjatuh,terperosot, teringat, tertidur, terduduk. Menyatakan Aukemungkinan pada umumnya didahului kata tidak atau tidak ternilai = tak dapat dinilai tidak tersalami = tidak dapat disalami tidak terbaca = tidak dapat dibaca tak terduga = tidak dapat diduga tak terpahami = tidak dapat dipahami Menyatakan makna AupalingAy apabila bentuk dasarnya berupa kata = paling tinggi = paling luas = paling pandai Page 88 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 = paling cakap = paling jauh = paling pandai = paling cantik = paling kecil Imbuhan/prefiks perImbuhan/prefiks per- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja tidak produktif. Jumlahnya sangat terbatas. Beberapa contoh penggunaan per- ialah sebagai berikut: = orang yang bertapa = orang yang berburu = membuat jadi tinggi = membuat jadi lebar Fungsi lain dari awalan atau imbuhan/prefiks per- ialah sebagai pembentuk kata nomina atau tidak berfungsi membentuk nama kedua bentuk itu disebut juga jenis awalan per-. Contoh imbuhan/prefiks per- yang membentuk kata nomina ini ialah pada kata pelajar dan pertapa (Ramlan, 2. Pada akata pelajar mengalamiproses morfofonemik menjadi per-. Imbuhan/prefiks per- yang membentuk kata, biasanya berfungsi membentuk pokok kata bisa serupa: Adjektiva Contoh: perbesar Kata nomeralia Contoh: Page 89 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Kata nomina Contoh: Pokok kata Contoh: Imbuhan/prefiks per- mempunyai satu makna, ialah menayatakan kuasatif. Apabila bentuk dasarnya berupa ajaktiva kausatif artinya adalah Au membuat jadi lebih dari pada apa yang tersebut pada bentuk dasarAy. Misalnya: = membuat jadi lebih besar = membuat jadi labih tinggi = membuat jadi lebih jelas Apabila bentuk dasarnya berupa kata bilangan kausatif artinya adalah Aumembuat jadi apa yang tersebut pada bentuk dsarnyaAy. Misalnya: = membuat jadi dua = membuat jadi tiga = membuat jadi sepuluh Apabila bentuk dasarnya berupa nomina kausatif artinya adalah Au membuat jadi atau menganggap sebagai apa tersebut pada bentuk dasarAy. Misalnya: = membuat jadi istri = membuat jadi kuda = membuat jadi tuan Fungsi imbuhan/prefiks peImbuhan/prefiks pe- berfungsi sebagai pembentuk nomina. Bahwa satuan dasar kata bentukan imbuhan/prefiks berkatagori berikut: Page 90 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Satuan dsar berkatagori pokok kata Contoh: Satuan dasar berkatagori pokok kata Contoh: terjun Satuan dasar berkatagori ajektiva Contoh: pemuda Satuan dasar berkatagori nomina Contoh: KESIMPULAN Kesimpulan Dari paparan pada penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Aspek yang menjadi permasalahan pada penggunaan imbuhan/prefiks bahasa Indonesia adalah menyangkut aspek penulisan dan aspek makna, tentang pemakaian imbuhan/prefiks me N-, di-, ber-, ter-, per-, dan pe-. Aspek penulisan ialah terjadi penulisan yang salah atau penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah. Sering salah dalam penulisannya adalah dua imbuhan/prefiks yang mepunyai fungsi hampir bersamaan. Selanjutnya, yang berhubungan dengan makna ialah menjelaskan makna imbuhan/prefiks me N-, di-, ber-, ter-, per-, dan pe- dalam struktur kalimat. Saran Dalam penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut: Terjadi berbagai permasalahan pada imbuhan/prefiks Indonesia, maka pada para pemakai bahasa Indonesia disarankan untuk berhati-hati menggunakan imbuhan/prefiks tersebut agar tidak mengacaukan bahasa yang digunakan. Page 91 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Imbuhan/prefiks yang dibahas baru imbuhan/prefiks me N-, di-, ber-, ter-, per-, dan pe-. Oleh sebab itu pada semua pembaca disarankan untuk membahas imbuhan/prefiks lain, agar permasalahan semua imbuhan/prefiks dapat dikaji secara lebih dalam. Para pembaca lainnya disarankan agar menggunakan pembahasan ini sebagai pedoman untuk menulis penelitian yang relevan dengan masalah pada penelitian Untuk guru-guru bahasa Indonesia, agar mempedomani permasalahan imbuhan/prefiks ini untuk memberikan pelajaran pada siswa terutama pokok bahasan yang membahas afiks. DAFTAR PUSTAKA