Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 3. September 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Relasi Kekuasaan dan Representasi Perempuan dalam Film Ipar adalah Maut Menggunakan Kajian Semiotika Roland Barthes Indana Zulfia1,*. Badriyah Wulandari1. Mardiningsih1 Universitas PGRI Wiranegara *Corespondence: indanafiafia@gmail. Abstrak Penelitian ini menganalisis representasi perempuan dan relasi kekuasaan dalam film Ipar adalah Maut menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini memandang tanda sebagai kesatuan penanda . dan petanda . yang membentuk makna pada tiga tingkatan: denotasi, konotasi, dan mitos. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan data berupa adegan visual, dialog, gestur, dan unsur sinematik yang dianalisis pada ketiga tingkatan makna Hasil penelitian menunjukkan bahwa film menampilkan relasi rumah tangga yang tampak harmonis, namun secara simbolik mereproduksi ideologi patriarki. Perempuan digambarkan sebagai sosok sabar, tunduk, dan bergantung pada persetujuan laki-laki dalam pengambilan keputusan domestik. Relasi kekuasaan laki-laki dihadirkan secara halus melalui perhatian, dukungan, dan kepemimpinan simbolik. Sistem tanda visual seperti ruang domestik dan gestur, serta tanda verbal berupa dialog, memperkuat mitos sosial tentang perempuan sebagai penjaga ketenteraman rumah tangga. Film menjadi media yang meneguhkan struktur kekuasaan patriarki melalui representasi keseharian yang tampak egaliter namun sarat makna ideologis. Kata Kunci: Semiotika. Representasi Perempuan. Relasi Kekuasaan Received: 28 Jul 2025. Revised: 11 Agu 2025. Accepted: 12 Agu 2025. Available Online: 17 Agu 2025 This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Film sebagai produk budaya populer memiliki peran penting dalam merepresentasikan berbagai realitas sosial, termasuk persoalan relasi kekuasaan dan posisi perempuan dalam masyarakat. Melalui narasi visual, audio, dialog, dan simbol-simbol yang disajikan, film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi ruang ideologis yang mereproduksi, menyebarkan, atau bahkan menggugat wacana tertentu terkait struktur sosial, norma budaya, hingga relasi gender (Fella & Sair, 2. Representasi perempuan dalam film kerap kali berada dalam bayang-bayang sistem patriarkal yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, baik secara simbolik maupun naratif (Rahardjo, 2. Perempuan seringkali digambarkan sebagai sosok pasif, korban, pelengkap cerita laki-laki, atau individu yang dikontrol oleh struktur sosial yang dominan (Pambayun, 2. Salah satu film yang menarik untuk dikaji dalam konteks tersebut adalah Ipar adalah Maut . karya Hanung Bramantyo. Film Ipar adalah Maut mengangkat konflik rumah tangga akibat perselingkuhan antara suami dan adik ipar perempuan, dan menempatkan tokoh perempuan. Nisa, sebagai istri yang tersakiti namun tetap bertahan demi menjaga keutuhan keluarga. Film yang diadaptasi dari kisah nyata ini menampilkan dinamika hubungan rumah tangga yang penuh intrik, ketegangan emosional, dan pengkhianatan, dengan latar budaya Indonesia yang menekankan nilai- nilai keluarga. Film ini tidak hanya menyajikan kisah personal, tetapi juga menyisipkan narasi tentang bagaimana perempuan diposisikan dalam relasi kekuasaan rumah tangga yang patriarkal (Maulida Laily Kusuma Wati dkk. , 2. Melalui berbagai tanda visual dan verbal, seperti ekspresi tubuh, pilihan dialog, pencahayaan, hingga sudut pengambilan gambar, film ini membentuk konstruksi makna yang lebih dalam tentang posisi dan batas kuasa perempuan dalam relasi sosial yang timpang (Chaysalina & Nadya, 2. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. September 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Dalam memahami makna-makna yang tersembunyi di balik representasi tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. (Barthes, 1. memandang bahwa setiap tanda bekerja dalam tiga tingkatan makna, yaitu denotatif . akna litera. , konotatif . akna kultura. , dan mitologis . akna Ia menegaskan bahwa tanda tidak pernah netral, karena selalu membawa nilai-nilai ideologis yang mencerminkan pandangan dunia dominan. Dalam konteks film, sistem tanda visual dan verbal tidak sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga membentuk dan menyebarkan mitos sosial, termasuk tentang ketundukan, pengorbanan, dan batas kekuasaan perempuan dalam ruang domestik (Nofia & Bustam, 2. Fenomena ini sejalan dengan realitas di masyarakat Indonesia, di mana masih banyak perempuan yang menerima peran subordinat, menanggung beban ganda sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah, serta mempertahankan rumah tangga meskipun mengalami kekerasan atau pengkhianatan, demi menjaga citra dan kehormatan keluarga (Rasdiana, 2. Beberapa penelitian jurnal telah menyoroti representasi perempuan dan relasi kekuasaan melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Misalnya, analisis terhadap film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita . menyoroti domestifikasi, segregasi, dan subordinasi perempuan melalui sistem tanda visual dan verbal (Surahman, 2. Studi terhadap film Yuni . menggambarkan bagaimana simbolisme feminis dan kritik sosial terhadap norma gender ditampilkan melalui struktur makna Barthesian (Sekar Pawestri, 2. , serta bentuk ketidakadilan gender yang mencakup marginalisasi, stereotip, dan kekerasan (Hasanah & Ismail, 2. Penelitian pada serial Gadis Kretek . menemukan bahwa simbol-simbol dalam film berfungsi menantang dan mendekonstruksi dominasi patriarki dalam budaya kontemporer (Qibtiyah & Aminuddin, 2. Penelitian ini sejalan dengan penggunaan metodologi semiotika untuk memahami representasi gender, tetapi berbeda dalam objek kajian film Ipar adalah Maut dan menawarkan kebaruan melalui analisis terpadu tanda visual dan verbal dalam konstruksi relasi kekuasaan dan mitos sosial di konteks budaya Indonesia Penelitian ini mengkaji bagaimana relasi kekuasaan dan representasi perempuan dibentuk melalui tanda visual dan verbal dalam film Ipar adalah Maut dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Fokusnya adalah mengungkap proses pembentukan makna pada tiga tingkatan denotasi, konotasi, dan mitos untuk melihat bagaimana perempuan diposisikan dalam relasi kekuasaan domestik. Temuan penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada kajian media, khususnya terkait representasi gender dan ideologi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis teks media yang berfokus pada interpretasi tanda-tanda visual dan verbal dalam film (Asfar, 2. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian untuk mengungkap makna yang tersembunyi di balik representasi dinamika keluarga dalam film Ipar adalah Maut. Penelitian ini bersifat deskriptif- analitis dan menggunakan teori semiotika Roland Barthes sebagai landasan konseptual dalam membaca tanda serta memaknai konstruksi ideologis yang ditampilkan dalam narasi film (SyaAodian, 2. Kehadiran Peneliti dalam penelitian kualitatif bersifat aktif sebagai instrumen utama yang terlibat secara langsung dalam proses pengumpulan, pemilahan, analisis, hingga interpretasi data. Peneliti bertanggung jawab dalam menentukan bagian film yang relevan, menyusun data dalam bentuk tabel analisis semiotika, dan menafsirkan tanda-tanda berdasarkan pemahaman teoritik dan konteks sosial-budaya. Objek penelitian adalah film Ipar adalah Maut . , disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh MD Pictures. Film ini dipilih karena memuat konflik rumah tangga yang kompleks serta visualisasi yang sarat makna simbolik. Adapun subjek penelitian berupa tanda- tanda linguistik dan nonlinguistik seperti: dialog antar tokoh, ekspresi wajah, pencahayaan, musik latar, gerakan kamera, serta simbol rumah tangga dalam adegan-adegan penting yang mengandung representasi dinamika keluarga. Penelitian ini tidak menggunakan informan secara langsung karena data bersumber dari teks film, sedangkan penafsiran diperkuat melalui studi pustaka terhadap jurnal, teori Barthes, dan penelitian sebelumnya yang relevan dalam mengkaji film serta representasi keluarga. Lokasi dan waktu penelitian dilakukan secara mandiri oleh peneliti di Kota Pasuruan. Jawa Timur, pada rentang waktu Januari hingga April Seluruh proses analisis dilakukan secara sistematis dengan menonton film secara berulang, mencatat adegan, menyalin dialog penting, dan mengkategorikan data berdasarkan indikator representasi keluarga yang https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. September 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. telah ditentukan. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan observasi terhadap teks visual dan verbal film. Film ditonton secara intensif dan dialog dianalisis dengan mencermati tiga tingkat makna Barthes, yaitu: denotasi . akna litera. , konotasi . akna kultura. , dan mitos . akna ideologi. Keabsahan data diperoleh melalui teknik triangulasi teori, yaitu dengan membandingkan temuan analisis dengan teori Roland Barthes serta memperkuat interpretasi melalui referensi dari penelitian-penelitian Selain itu, peneliti juga melakukan keterlibatan mendalam . terhadap teks dan konteks sosial-budaya yang melatarbelakangi film, guna memastikan bahwa pemaknaan tidak bersifat subjektif semata, tetapi dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa representasi perempuan dan relasi kekuasaan dalam film Ipar adalah Maut dibangun melalui sistem tanda visual dan verbal yang berlapis makna. Film ini menampilkan bagaimana posisi perempuan dan laki-laki dalam ruang domestik maupun sosial dikonstruksi melalui interaksi keseharian yang tampak harmonis, namun menyimpan makna patriarki yang terselubung. Relasi kuasa tidak ditampilkan secara frontal, melainkan tersaji dalam bentuk perhatian, kelembutan, dan kesan romantis yang membungkus dominasi laki-laki secara simbolik. Dalam konteks ini, perempuan tetap diposisikan dalam peran tradisional dan domestik, sementara laki-laki tetap memegang kendali melalui narasi kepemimpinan, restu, dan pengambilan keputusan (Putri & Nurhajati, 2. Tanda-tanda visual seperti ekspresi tubuh, pengaturan ruang, serta dialog antar tokoh menjadi elemen penting dalam membangun makna-makna tersebut (Surahman, 2. Relasi Kekuasaan Laki-Laki dalam Bingkai Kelembutan Adegan saat Aris mempersilakan Nisa parkir menggambarkan bagaimana kuasa laki-laki dikonstruksi melalui tindakan sopan dan sabar . :02:. Aris: "Ya sudah. Mbak parkir di sini saja, saya cari tempat lain. Secara denotatif (Hill & Wang, 1. , dialog ini menunjukkan kebaikan hati Aris yang mengalah. Pada tingkat konotasi, laki-laki ditampilkan sebagai pihak yang mengontrol situasi melalui sikap bijak dan pengendalian emosi. Pada tataran mitos, ini membentuk citra laki-laki ideal dalam masyarakat patriarki: lelaki baik, sopan, pengalah, dan berkuasa secara moral, sesuai pandangan (Barthes, 2. bahwa mitos berfungsi untuk menaturalisasi ideologi sehingga tampak wajar dan tidak dipertanyakan. Visual adegan yang menampilkan Aris tersenyum sabar, sementara Nisa tampak malu-malu, memperkuat makna bahwa perempuan tetap tunduk secara sosial. Begitu pula ketika Aris menyatakan dukungan terhadap keinginan Nisa membuka toko roti (. :09:. ), dialog berbunyi: Nisa: "Sebenarnya aku itu ingin. Mas. Punya toko roti. Tidak usah terlalu besar, yang penting tempatnya nyaman. Aris: "Nanti aku bantu. Aku itu suka sama sosok perempuan yang mandiri. Karena dulu, almarhum ibu, itu juga sosok perempuan yang mandiri. Denotasi dari adegan ini adalah suami yang mendukung istri. Konotasi yang muncul adalah perempuan diperbolehkan mandiri selama didukung suami. Mitos yang dibangun ialah perempuan tetap memerlukan restu laki-laki untuk bisa berkembang. Relasi kekuasaan Aris tetap hadir melalui penegasan bahwa dia AumengizinkanAy atau AumendukungAy, bukan memberi ruang karena kesetaraan. Dukungan ini sekaligus mengandung kuasa simbolik karena perempuan diperkenankan berkembang selama berada dalam batas restu suami, sejalan dengan konsep (Barthes, 2. bahwa mitos bekerja untuk menaturalisasi ideologi sehingga dominasi dianggap wajar dan tidak dipertanyakan. Dominasi halus ini kembali tampak saat Aris menegaskan keputusan tinggal bersama adik ipar harus mempertimbangkan kenyamanan dirinya sebagai suami (. :16:. ), yang membingkai laki-laki sebagai pusat kesepakatan rumah tangga. Aris: "Kan dia bukan orang lain. Dia adikmu. " Nisa: "Aku nyaman kalau kamu nyaman. Aris: "Rani itu kan adikmu, berarti adikku juga. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. September 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Secara denotatif, dialog ini menunjukkan kompromi. Konotasinya, keputusan tetap mengacu pada kenyamanan laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Mitos yang dibangun ialah rumah tangga harmonis tetap bertumpu pada kesepakatan suami sebagai pemimpin yang menentukan arah keluarga, sejalan dengan pandangan (Barthes, 2. bahwa mitos menaturalisasi ideologi sehingga hubungan kuasa yang timpang tampak wajar dan tidak dipertanyakan. Adegan ketika Aris mencuci piring pun memperlihatkan upaya film untuk menghadirkan wajah baru laki-laki dalam peran domestik (. :26:. Rani: AuMbak. Mas Aris kok cuci piring?Ay Nisa: AuMas Aris memang begitu orangnya. Ay Secara denotatif. Aris sedang mencuci piring, dan Nisa menjelaskan bahwa itu hal biasa. Secara konotatif, adegan ini memperlihatkan bahwa laki-laki turut andil dalam tugas domestik tanpa rasa canggung. Respons Rani menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang tugas domestik sebagai ranah Perempuan (Suhendra, 2. Pada tingkat mitos, film ini mencoba meruntuhkan mitos lama tentang pembagian peran rumah tangga yang kaku, meskipun keheranan Rani menunjukkan bahwa konstruksi tersebut belum sepenuhnya hilang dalam budaya. sejalan dengan konsep (Barthes, 2. bahwa mitos berfungsi menaturalisasi nilai-nilai budaya sehingga peran domestik perempuan dianggap wajar dan tidak dipertanyakan. Bahkan dalam adegan penyelamatan loyang kue yang jatuh (. :08:. Aris: AuAh panas, panas, panas!Ay Secara denotatif, ini menggambarkan Aris yang terluka saat menolong Nisa. Konotasinya. Aris ditampilkan sebagai sosok laki-laki yang peduli dan protektif bahkan dalam hal kecil. Pada tingkat mitos, film membangun citra suami ideal sebagai pelindung, penolong, dan penjaga perempuan. Tubuh Aris yang terluka menjadi simbol kasih sayang yang memperkuat mitos tentang laki-laki baik sebagai pelindung dalam rumah Tubuh Aris yang terluka dihadirkan sebagai simbol pengorbanan dan perlindungan, membangun citra suami ideal yang tetap memegang kendali dalam hubungan rumah tangga. Representasi Perempuan dalam Ruang Domestik dan Simbol Film ini juga merepresentasikan perempuan sebagai sosok yang tetap terikat dalam peran domestik, meskipun tampil modern. Saat Nisa menyampaikan instruksi kepada Bude Tin mengenai tugas rumah tangga (. :23:. Dialognya berbunyi: Nisa: AuBude Tin, uang buat bayar galon sudah saya taruh di dapur. Jangan lupa selimutnya Raya dicuci, ya. Ay Secara denotatif, ini hanyalah bentuk komunikasi biasa antara majikan dan asisten rumah tangga tentang urusan logistik rumah tangga. Secara konotatif, adegan ini menegaskan perempuan sebagai pengatur urusan domestik yang teliti, rapi, dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan rumah tangga (Suhendra, 2. Pada tingkat mitos, perempuan digambarkan sebagai sosok yang multitugas, terikat pada ruang privat, dan identitasnya dilekatkan pada peran domestik yang tidak lepas dari urusan rumah, anak, dan tanggung jawab kecil lainnya. Mitos ini meneguhkan ideologi patriarki bahwa rumah tangga adalah ranah perempuan, sejalan dengan pandangan (Barthes, 2. bahwa mitos berfungsi menaturalisasi ideologi sehingga peran domestik perempuan dianggap kodrati dan tidak dipertanyakan. Adegan makan siang keluarga (. :11:. ) dialog Aris menyiratkan peran gender tradisional: Aris: "Enak sekali tumpeng koyornya. Bu. Ibu Nisa: "Ibu memang sukanya masak masakan seperti ini. Kalau Nisa ini sukanya roti- rotian. Denotasinya adalah pujian makanan. Konotasinya memperkuat peran perempuan sebagai penjaga Mitosnya menegaskan rumah sebagai ruang utama perempuan dan dapur sebagai simbol perannya (Barthes, 2. Visual ruang makan menjadi penanda kuat narasi patriarki domestik. Serta perkenalan dengan keluarga Aris . :10:. juga menampilkan bagaimana standar sosial tetap mengukur perempuan dari kemampuan memasak dan penampilan fisik. Dialog Rohmah kakak Aris: Rohmah: "Masya Allah, cantiknya. Pinter kamu memilih calon. Denotasinya adalah pujian kepada Nisa. Konotasinya, perempuan dinilai dari fisik dan kelayakannya https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. September 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. sebagai istri. Pada lapisan mitos, perempuan harus memenuhi standar sosial keluarga laki-laki agar diakui (Barthes, 2. Relasi kekuasaan hadir melalui penerimaan sosial yang tetap mengedepankan kriteria perempuan sebagai objek penilaian. Membentuk konstruksi mitologis bahwa perempuan yang baik adalah yang sesuai dengan ekspektasi keluarga laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap perempuan masih harus melalui penilaian pihak laki- laki, baik secara sosial maupun simbolik. Relasi Simbolik dan Mitologi Keluarga Ideal Film ini menampilkan rumah tangga harmonis melalui komunikasi ringan dan kelembutan interaksi, seperti saat Nisa dan Aris berbicara tentang telepon dari ibu . :16:. Aris: AuTadi ibu telepon, sayang?Ay Nisa: AuIya. Mas. Ay Aris: AuTerus?Ay Secara denotatif, ini percakapan ringan antara suami istri tentang telepon orang tua. Secara konotatif, percakapan ini menunjukkan adanya komunikasi terbuka, kepedulian, dan relasi harmonis yang seolah menempatkan suami sebagai pusat percakapan. Pada tingkat mitos, film ini merepresentasikan keluarga ideal yang rukun melalui komunikasi kecil, tetapi tetap memperlihatkan laki-laki sebagai pemegang arah pembicaraan atau keputusan dalam relasi keluarga. Pusat percakapan tetap didominasi oleh inisiatif laki-laki, memperkuat konstruksi bahwa laki- laki menjadi pemegang arah hubungan (Pakzadian & Tootkaboni, 2. Penekanan pada keselarasan dan cinta dalam keluarga digunakan untuk membentuk mitos keluarga ideal yang secara implisit tetap bersandar pada nilai-nilai patriarki. Konstruksi Ideologi Patriarki dalam Simbol Sinematik Pendekatan semiotika Roland Barthes menunjukkan bahwa tanda-tanda visual dan verbal dalam film ini mengandung ideologi yang mendalam. Kelembutan, pengorbanan, dan perhatian yang ditampilkan oleh karakter laki-laki merupakan strategi simbolik yang membentuk mitos tentang kepemimpinan laki-laki yang tidak otoriter namun tetap menguasai (Adipoetra, 2. Sementara itu, karakter perempuan digambarkan sebagai multitugas, sabar, dan penuh pengorbanan, yang justru menguatkan mitos domestik tentang peran perempuan sebagai penjaga keluarga. Simbol-simbol seperti dapur, roti, senyuman, atau luka ditangan Aris membentuk sistem tanda yang mereproduksi struktur kekuasaan patriarkal secara halus namun mengakar (Zulaikha & Purwaningsih, 2. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, film Ipar adalah Maut menampilkan relasi kuasa laki-laki yang dikemas melalui sikap sopan, perhatian, dan dukungan simbolik. Karakter Aris direpresentasikan sebagai suami ideal yang bijak, pengalah, dan penuh kasih, namun tetap menjadi pengambil keputusan utama. Bentuk dukungan kepada istri dibatasi oleh restu dan kenyamanan suami, sesuai mitos patriarki yang menaturalisasi posisi laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga. Perempuan direpresentasikan sebagai pengatur urusan rumah tangga yang teliti, multitugas, dan terikat pada ruang domestik, dengan adegan-adegan seperti instruksi kepada asisten rumah tangga, pujian masakan, dan penilaian fisik dari keluarga suami yang memperkuat mitos patriarki bahwa rumah dan dapur adalah ranah utama perempuan. Narasi keluarga harmonis dibangun melalui komunikasi yang tampak egaliter, namun arah pembicaraan tetap dikendalikan laki-laki sehingga keselarasan rumah tangga ditentukan oleh perannya sebagai pengarah hubungan. Sistem tanda visual dan verbal seperti dapur, roti, senyuman, dan luka di tangan Aris membentuk mitos tentang kepemimpinan lakilaki yang lembut namun tetap dominan, sementara perempuan ditampilkan sebagai sosok sabar, pengorban, dan multitugas yang menguatkan mitos domestik bahwa perempuan adalah penjaga ketenteraman rumah Secara keseluruhan, film ini mereproduksi ideologi patriarki melalui representasi visual dan verbal yang tampak harmonis, tetapi menegaskan dominasi laki-laki serta posisi subordinat perempuan dalam rumah https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. September 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Daftar Pustaka