Artikel ilmiah Pendidikan Geografi ORIGINAL ARTICLE Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan Cempaka Permai Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu Gusti Priyanto1. Zairin2. Mirna Yunita3 Program Studi Pendidikan Geografi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Prof. Dr. Hazairin. SH Bengkulu E-mail: gustipriyanto8@gmail. Diterima 21 Mei 2025. Direvisi 07 Juni 2025. Disetujui Publikasi 30 Juni 2025 Abstract This study aims to describe the condition of household waste management, the influencing factors, and the roles of relevant stakeholders. This research uses a qualitative descriptive approach. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with 25 key informants consisting of residents, neighborhood heads, sanitation workers, and environmental organizations, and supported by field documentation. The results show that waste management in the study area is still conventional and unstructured. Most residents do not separate organic and inorganic waste, supporting facilities such as waste sorting bins and official temporary disposal sites (TPS) are not available, and education or outreach programs from local authorities are still minimal. Public awareness remains low, and the responsibility for waste management largely rests with sanitation This study recommends strengthening outreach programs, providing adequate waste sorting facilities, and establishing waste banks to encourage active community participation. The findings are expected to serve as a reference for stakeholders in formulating effective and sustainable community-based waste management Keywords: Waste Management. Community. Waste Sorting. Participation. Cempaka Permai Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi pengelolaan sampah oleh masyarakat setempat, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta peran pihak terkait. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan 25 informan kunci yang terdiri dari warga. Ketua RT, petugas kebersihan, serta organisasi lingkungan, dan dilengkapi dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di lokasi penelitian masih dilakukan secara konvensional dan belum terstruktur. Sebagian besar masyarakat belum melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, sarana pendukung seperti tempat sampah terpilah dan TPS resmi belum tersedia, serta edukasi dan sosialisasi dari pemerintah setempat belum optimal. Kesadaran masyarakat masih rendah dan tanggung jawab pengelolaan sampah sebagian besar diserahkan kepada petugas kebersihan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan program sosialisasi, penyediaan sarana pendukung, serta pembentukan bank sampah untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar bagi pihak terkait dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang efektif dan Kata Kunci: Pengelolaan Sampah. Masyarakat. Pemilahan Sampah. Partisipasi. Cempaka Permai P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia Vol : 10. No : 1. Juni 2025 | . Gusti Priyanto. Zairin. Mirna Yunita Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan. Pendahuluan Sampah merupakan masalah umum di Kota Bengkulu. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah tidak memiliki sistem tata kelola sampah yang baik dan tidak ada masyarakat yang sadar akan memilah pembuangan sampah secara sembarangan. Permasalahan sampah di Kota Bengkulu harus ditangani dengan serius. Sebab masih banyak terdapat sampah produksi rumah tangga yang berserakan di Objek wisata, fasilitas umum, muara sungai, selokan, dan taman bermain (Ramon & Afriyanto, 2. Menurut laporan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu. Sekitar 391 ribu orang yang tinggal di Bengkulu menghasilkan 400 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul hanya mampu m enampung 500 kubik sampah per hari. Dengan kata lain. TPA ini masih harus menampung 877 kubik sampah setiap hari ( dikutip dari RRI Bengkul. Hasilnya. Pemerintah Kota Bengkulu memutuskan untuk menghentikan pengolahan sampah dari bak-bak penampungan sampah di setiap Tujuannya adalah untuk membantu kemandirian masyarakat pada fasilitas yang membuat mereka malas memilah dan mengolah sampah, namun pada kenyataannya dilapangan masih mengetahui cara pemilahan sampah. Pemilahan sampah yaitu kegiatan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/atau sifat sampah, yang dimana pemilah sampah rumah tangga dapat dikelompokan antara lain sampah organik berupa sisa makanan, sisa sayuran dan kulit buah- buahan, sisa ikan dan daging (Febriadi, 2. dan sam-pah anorganik berupa botol dan tas plastik yang tidak jarang oleh rumah tangga hanya dibiarkan berserakan di pekarangan rumah atau bahkan sampah tersebut hanya dibakar dan tidak dimanfaatkan(Windraswara. P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia Rudatin, 2. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka lingkungan desa tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran lingkungan seperti air, udara, tanah, dan menimbulkan sumber penyakit (Wijaya et al. , 2. Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mendefinisikan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan sampah diatur dalam Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan/atau pemanfaatan sampah. Kegiatan-kegiatan tersebut (WONG. Kegiatan penanganan sampah sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut meliputi . Pemilahan . pemrosesan akhir sampah. Pengolahan sampah secara efektif dapat dimulai dari pengelolaan dengan pemilahan sampah secara mandiri oleh Namun demikian, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mengelola sampahsecara mandiri tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang lama. Karena dengan hanya memberikan tambahan pengetahuan saja tidak cukup, sehingga Pada tahap awal gerakan yang dilakukan adalah dengan masyarakat agar mampu dan memiliki kesadaran melakukan pemilahan sampah secara mandiri. Baru dalam jangka panjang mau melakukan pengolahan sendiri (Nindya Ovitasari et al. , 2. Vol: 10. No: 1. Juni 2025 . Gusti Priyanto. Zairin. Mirna Yunita Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan. Pengelolaan persampahan di Kota Bengkulu dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu dibawah Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3. Selain itu, pihak pemangku yang bertanggungjawab dalam mengelola langsung sampah adalah masyarakat umum, pihak swasta dan akademisi. Kondisi eksisting pengelolaan sampah di Kecamatan Gading Cempaka meliputi sumber sampah, timbulan sampah, . ewadahan, pemrosesan akhi. dan kelembagaan. Sampah yang ada di Kecamatan Gading Cempaka berasal dari beberapa sumber, yaitu permukiman warga, pertokoan, perkantoran, dan fasilitas Jumlah timbulan sampah di wilayah ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk dikalikan dengan rata-rata timbulan sampah per orang per hari. Metode ini sesuai dengan pendekatan yang dijelaskan oleh Sastrawinata . , di mana timbulan sampah dihitung secara kuantitatif untuk menentukan beban Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup atau sistem SIPSN, timbulan sampah di Kecamatan Gading Cempaka pada tahun 2020 tercatat sebesar 556,8 kg per hari. Komposisi timbulan tersebut sebagian besar didominasi oleh sampah organik atau sampah basah, sebagaimana juga menjadi komposisi sampah terbesar di Kota Bengkulu. Pengetahuan yang baik tentang sampah sangat penting karena dapat masyarakat dalam mengelola sampah. Studi menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dipengaruhi oleh pengetahuan mereka tentang sampah. Kebiasaan seperti membakar sampah di halaman atau membuangnya di pinggir jalan dan laut sering kali disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang dampak negatif dari tindakan tersebut (Marojahan, 2. P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia Berdasarkan uraian permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di Komplek Perumahan Cempaka Permai. Kecamatan Gading Cempaka. Kota Bengkulu. Metode Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk memahami dan menggambarkan secara sampah dilakukan oleh masyarakat di Komplek Perumahan Cempaka Permai. Kecamatan Gading Cempaka. Kota Bengkulu. Pendekatan ini dipilih karena dinilai paling sesuai untuk mengungkap fenomena sosial yang terjadi secara alami di lingkungan masyarakat. Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti berperan Dalam penelitian ini, peneliti secara langsung terlibat dalam proses pengumpulan data melalui interaksi dengan subjek penelitian di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik utama. Observasi. Wawancara Dokumentasi. Teknik ini bertujuan untuk menguji keakuratan informasi dan memperkuat validitas hasil penelitian. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memahami secara komprehensif realitas sosial yang berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, serta peran berbagai pihak dalam pengelolaan sampah di lingkungan perumahan tersebut. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil-hasil temuan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan informan utama dan pendukung, serta dokumentasi Komplek Perumahan Cempaka Permai. Temuantemuan ini mengungkap kondisi nyata mengenai pengelolaan sampah oleh Vol: 10. No: 1. Juni 2025 . Gusti Priyanto. Zairin. Mirna Yunita Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan. masyarakat dan faktor-faktor yang Berdasarkan hasil wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi di lapangan, diketahui masyarakat di Komplek Perumahan Cempaka Permai belum sepenuhnya berjalan dengan baik dan terstruktur. Masyarakat masih mengelola sampah secara konvensional, yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh jenis sampah ke dalam satu wadah tanpa melakukan pemilahan terlebih dahulu antara sampah organik dan anorganik. Hal ini terjadi karena sebagian besar warga belum memiliki pengetahuan dan kesadaran yang cukup mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. bahwa tempat pembuangan sampah rumah tangga yang digunakan warga sangat beragam dan tidak standar, mulai dari karung bekas, kantong plastik, hingga Hampir tidak ditemukan tempat berdasarkan jenisnya. Pengangkutan kebersihan yang dikoordinir oleh Ketua RT setempat, dengan jadwal 2 kali dalam Gambar 2. Wawancara Masyarakat Ibu ED Gambar 1. Wawancara Bapak HM Ketua RT. Senada dengan itu, seorang ibu rumah tangga juga mengungkapkan bahwa ia belum pernah melakukan pemilahan antara sampah basah dan kering karena belum mengetahui caranya. Selain itu, petugas kebersihan juga mengeluhkan bahwa banyak warga yang mencampur semua jenis sampah ke dalam satu tempat, sehingga menyulitkan proses Setelah dihimpun dari berbagai informan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat masih mengelola sampah secara tradisional, yaitu dengan cara mengumpulkan semua jenis sampah rumah tangga ke dalam satu wadah tanpa memilah antara sampah organik dan anorganik. Tidak ditemukan adanya sistem pengelolaan berbasis 3R (Reduce. Reuse. Recycl. yang dilakukan secara sadar dan terstruktur oleh warga. Dari hasil observasi peneliti, ditemukan P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia Dari segi perilaku, masyarakat cenderung belum menjadikan pemilahan Berdasarkan observasi, hampir seluruh rumah tangga memiliki tempat sampah sendiri, tetapi tidak ada yang Semua dikumpulkan dalam satu wadah, lalu dibuang ke titik kumpul tertentu yang biasa digunakan secara kolektif oleh Gambar 3. Wawancara Masyarakat Ibu RM Dokumentasi visual yang diambil peneliti menunjukkan bahwa di beberapa sudut kompleks, terutama dekat lahan kosong dan pagar belakang rumah, sering terlihat tumpukan sampah liar. Ini Vol: 10. No: 1. Juni 2025 . Gusti Priyanto. Zairin. Mirna Yunita Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan. menunjukkan bahwa sebagian warga memilih membuang sampah secara tidak bertanggung jawab, yang kemudian berpotensi mencemari lingkungan dan menyebabkan gangguan kesehatan. Dari hasil pengamatan secara umum, tidak ditemukan adanya aktivitas pengomposan atau upaya daur ulang di tingkat rumah Warga cenderung menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada petugas kebersihan, tanpa merasa memiliki peran langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan. Berdasarkan observasi, dan dokumentasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan Komplek Perumahan Cempaka Permai masih bersifat pasif, konvensional, dan belum berbasis kesadaran lingkungan. Proses pengumpulan dan pengangkutan sampah, tanpa adanya pemilahan atau pengolahan di tingkat rumah tangga. Rendahnya masyarakat menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah belum berjalan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah di Komplek Cempaka Permai masih memerlukan dukungan dan intervensi dari berbagai pihak, baik maupun pihak swasta. Hal ini penting untuk membentuk kesadaran kolektif dan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di tingkat Berdasarkan Komplek Perumahan Cempaka Permai menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih menggunakan cara sampah dalam satu wadah dan menyerahkan sepenuhnya kepada petugas Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, belum ditemukan adanya upaya pemilahan sampah antara organik dan anorganik secara mandiri. Warga P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia cenderung membuang semua jenis sampah tanpa proses seleksi, yang Hal ini menunjukkan bahwa proses awal pengelolaan sampah, yaitu pemilahan, belum menjadi kebiasaan atau budaya di lingkungan tersebut. Bila dibandingkan dengan konsep pengelolaan sampah menurut UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008 yang menekankan pentingnya kegiatan yang berkesinambungan, maka kondisi ini jelas belum memenuhi prinsip-prinsip tersebut. Menurut Ambina . , pemilahan merupakan tahapan paling krusial dalam siklus pengelolaan sampah karena akan menentukan kualitas daur ulang dan keberhasilan pengolahan. Ketika tahapan ini tidak dilakukan, maka upaya selanjutnya seperti komposting, daur ulang, atau pengurangan volume sampah menjadi tidak efektif. Minimnya sarana pendukung seperti tempat sampah terpilah dan tidak Tempat Pembuangan Sementara (TPS) resmi di kompleks perumahan juga menjadi hambatan Berdasarkan observasi peneliti, menggunakan karung atau kantong plastik bekas sebagai tempat penampungan Hal lemahnya infrastruktur yang seharusnya disediakan oleh pemerintah atau RT setempat untuk mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Sejalan dengan itu. Wahyuningsih et al. menyebutkan bahwa penyediaan sarana seperti tempat sampah terpilah sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam memilah sampah. Sisi lain yang tidak kalah penting penyuluhan yang diterima masyarakat terkait pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, tidak ada sosialisasi formal dari kelurahan ataupun dinas terkait. Hal ini sejalan dengan temuan Ningrum et al. Vol: 10. No: 1. Juni 2025 . Gusti Priyanto. Zairin. Mirna Yunita Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan. pengetahuan dan keterampilan masyarakat dipengaruhi oleh frekuensi dan kualitas penyuluhan yang mereka terima. Tanpa edukasi yang konsisten, perubahan perilaku sulit tercapai. Dengan disimpulkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat, terbatasnya sarana dan prasarana, serta kurangnya edukasi dan koordinasi antar pihak berwenang menjadi faktor utama yang menghambat keberhasilan pengelolaan sampah di Komplek Perumahan Cempaka Permai. Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan strategi yang komprehensif, penyediaan fasilitas, hingga pelibatan lingkungan berbasis komunitas. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan mengenai "Studi Pengelolaan Sampah Masyarakat di Komplek Perumahan Cempaka Permai Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu", disimpulkan bahwa pengelolaan sampah di lingkungan tersebut belum dilakukan secara efektif dan sistematis. Mayoritas masyarakat masih membuang sampah secara bercampur tanpa proses pemilahan antara sampah organik dan anorganik. Rendahnya tingkat kesadaran, minimnya pengelolaan sampah, serta ketiadaan fasilitas pendukung seperti tempat sampah terpilah dan bank sampah menjadi faktor utama penyebab permasalahan ini. Masyarakat masih sangat bergantung pada petugas kebersihan dalam menangani sampah rumah tangga. Sementara itu, upaya sosialisasi dari pihak RT maupun organisasi lingkungan belum maksimal karena terbentur kurangnya partisipasi warga dan keterbatasan dukungan dari Secara umum, pengelolaan sampah di Komplek Cempaka Permai masih bersifat pasif dan belum P- ISSN :2541-125X E-ISSN :2615-4781 https://journals. id/index. php/georafflesia mencerminkan prinsip 3R (Reduce. Reuse. Recycl. sebagaimana yang dianjurkan dalam kebijakan pengelolaan sampah nasional. Daftar Pustaka