Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Faktor Penyebab Perilaku Membolos dan Peran Layanan Bimbingan dan Konseling Pada Peserta Didik Nasarius Ola Sanga1 & Rosa Mustika Bulor2 Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang No Telp: 081547643398 e-mail: oganart02@gmail. com1, rosabulor3951@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-14 Revised : 2025-11-28 Accepted : 2025-11-29 KEYWORDS students, truancy behavior, guidance and counseling KATA KUNCI peserta didik, perilaku membolos, bimbingan dan ABSTRAC Truancy remains a common problem in secondary schools, including in class XII B3 of SMA Negeri 3 Kupang City. This behavior not only disrupts the learning process but also impacts discipline, academic achievement, and student-teacher This study aims to analyze the factors causing truancy and examine the role of Guidance and Counseling (BK) services in addressing this behavior. The study used a descriptive qualitative approach, with five students who had previously skipped school and one BK teacher as subjects. Data collection techniques were conducted through semi-structured interviews and light observations in the school environment. The results showed that truancy was influenced by four main factors: lack of motivation to learn certain subjects, the influence of peer groups, boredom with the busy class schedule, and personal problems within the family environment. BK services have played a role through individual counseling, attendance monitoring, and collaboration with homeroom teachers, but their implementation has not been optimal due to time constraints and the large number of students. This study emphasizes the importance of more intensive, collaborative, and prevention-oriented BK services to minimize truancy in schools. ABSTRAK Perilaku membolos pelajaran masih menjadi permasalahan yang cukup sering terjadi di sekolah menengah, termasuk di kelas XII B3 SMA Negeri 3 Kota Kupang. Perilaku ini tidak hanya mengganggu proses pembelajaran, tetapi juga berdampak pada kedisiplinan, prestasi akademik, serta hubungan peserta didik dengan guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab perilaku membolos pelajaran dan mengkaji peran layanan Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menangani perilaku tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek lima peserta didik yang pernah melakukan tindakan membolos dan satu guru BK. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi ringan di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku membolos dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu kurangnya motivasi belajar pada mata pelajaran tertentu, pengaruh pergaulan teman sebaya, kejenuhan terhadap jadwal pelajaran yang padat, serta permasalahan pribadi di lingkungan keluarga. Layanan BK telah berperan melalui konseling individual, pemantauan kehadiran, dan kerja sama dengan wali kelas, namun pelaksanaannya belum optimal karena keterbatasan waktu dan jumlah peserta didik yang banyak. Penelitian ini menegaskan pentingnya layanan BK yang lebih intensif, kolaboratif, dan 227 | JPI. Vol. No. November 2025 berorientasi pada pencegahan sejak dini untuk meminimalkan perilaku membolos di sekolah. Pendahuluan Perilaku membolos masih menjadi salah satu masalah kedisiplinan yang sering muncul di sekolah Membolos tidak hanya berkaitan dengan ketidakhadiran siswa, tetapi juga berpengaruh pada pembentukan karakter peserta didik. Dalam konteks layanan Bimbingan dan Konseling (BK), peran guru BK sangat dibutuhkan untuk membantu siswa mengenali penyebab perilaku tersebut dan menemukan cara penyelesaiannya. Prayitno dan Amti . menegaskan bahwa layanan BK bertujuan memberikan bantuan yang terarah kepada peserta didik agar mampu memahami diri, mengambil keputusan, dan mengembangkan perilaku yang lebih positif dalam kehidupannya di sekolah maupun di luar sekolah. Penelitian mengenai perilaku membolos telah banyak dilakukan, namun hasilnya menunjukkan bahwa setiap sekolah memiliki faktor penyebab yang berbeda. Diana. Pandang, dan Saman . menemukan bahwa membolos dapat dipicu oleh faktor pribadi, teman sebaya, dan lemahnya pengawasan sekolah. Penelitian lain oleh Hisma . menekankan bahwa kurangnya motivasi belajar dan hubungan yang kurang harmonis antara siswa dan guru menjadi pemicu utama perilaku Temuan ini memperlihatkan bahwa masalah membolos bukan sekadar tindakan pelanggaran disiplin, tetapi berkaitan dengan kondisi psikologis dan lingkungan sosial siswa. Dari perspektif intervensi BK, pendekatan konseling individu terbukti efektif dalam mengubah perilaku membolos. Zayul dan Harwanti . menunjukkan bahwa teknik self-management membantu siswa mengenali pola perilakunya dan mengembangkan kontrol diri untuk memperbaiki Hal ini memperkuat pandangan bahwa layanan BK berperan strategis dalam proses penanganan, bukan hanya sebatas memberikan sanksi atau teguran. Penelitian mengenai faktor penyebab membolos juga pernah dilakukan pada tingkat sekolah menengah kejuruan. Pranata . menemukan bahwa tekanan tugas sekolah, pengaruh pertemanan, dan faktor keluarga memengaruhi keputusan siswa untuk tidak masuk kelas. Selain itu. Sholikhati . menjelaskan bahwa motivasi belajar yang rendah sering kali membuat siswa lebih memilih meninggalkan pelajaran, sehingga intervensi motivasional melalui konseling individu menjadi penting. Di Kota Kupang, khususnya SMA Negeri 3 sebagai lokasi penelitian ini, guru BK menghadapi tantangan serupa. Beberapa siswa kelas XII B3 tercatat sering meninggalkan jam pelajaran dengan berbagai alasan yang belum sepenuhnya dipetakan secara sistematis. Kondisi ini menunjukkan perlunya penelitian khusus untuk memahami faktor penyebabnya secara lebih mendalam sesuai konteks Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penyebab perilaku membolos pada peserta didik kelas XII B3 SMA Negeri 3 Kota Kupang serta menggambarkan bagaimana peran layanan BK dalam menangani masalah tersebut. Secara singkat, hasil awal penelitian menunjukkan bahwa membolos di kelas XII B3 dipengaruhi oleh kombinasi faktor pribadi, pembelajaran, sedangkan layanan BK berperan pada tahap identifikasi masalah dan pemberian konseling individu. Namun, temuan ini dibahas lebih rinci dalam bagian hasil dan pembahasan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami faktor-faktor melatarbelakangi perilaku membolos pada peserta didik serta peran layanan Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menangani perilaku tersebut. Pendekatan kualitatif dipilih karena perilaku membolos tidak hanya dapat dipahami sebagai pelanggaran disiplin, tetapi sebagai bentuk perilaku sosial yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis, motivasi belajar, interaksi sosial, serta lingkungan Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggali makna, pengalaman, dan pandangan subjek penelitian terkait perilaku membolos yang mereka alami. Secara teoretis, penelitian ini berpijak pada konsep motivasi belajar dan teori perilaku remaja. Motivasi belajar dipahami sebagai dorongan internal dan eksternal yang memengaruhi keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rendahnya motivasi belajar dapat memicu perilaku menghindar, salah satunya melalui tindakan Selain itu, teori perilaku remaja menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang ditandai dengan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 228 kecenderungan mencoba hal baru, pengaruh teman sebaya yang kuat, serta kebutuhan akan penerimaan Dalam konteks sekolah, kondisi tersebut dapat mendorong siswa untuk mengikuti ajakan teman membolos, terutama ketika kontrol diri dan kesadaran disiplin belum berkembang secara Berdasarkan landasan teoretis tersebut, kerangka konseptual penelitian ini memandang perilaku membolos sebagai hasil interaksi antara faktor internal, faktor eksternal, dan faktor Faktor internal meliputi motivasi belajar, minat terhadap pelajaran, rasa bosan, dan sikap siswa terhadap guru. Faktor eksternal mencakup pengaruh teman sebaya, hubungan siswa dengan guru, serta dukungan lingkungan keluarga. Sementara itu, faktor situasional berkaitan dengan kondisi lingkungan sekolah, seperti kenyamanan ruang kelas dan waktu pembelajaran. Layanan BK diposisikan sebagai bentuk intervensi yang berperan dalam membantu siswa memahami penyebab perilaku membolos, meningkatkan kesadaran diri, serta mengarahkan siswa pada perubahan perilaku yang lebih positif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Kota Kupang dengan fokus pada peserta didik kelas XII B3. Informan penelitian ditentukan secara purposive, yaitu satu guru BK, satu wali kelas, dan enam peserta didik yang memiliki riwayat Pemilihan informan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka memiliki pengalaman langsung dan informasi yang relevan terkait perilaku membolos serta pelaksanaan layanan BK di sekolah. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara Wawancara pengalaman, pandangan, dan pemaknaan siswa terhadap perilaku membolos, serta pandangan guru BK dan wali kelas mengenai faktor penyebab dan Observasi dilakukan untuk melihat situasi kelas dan perilaku siswa secara langsung, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa catatan sekolah atau arsip terkait kehadiran siswa. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari siswa, guru BK, dan wali kelas. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama yang terlibat langsung dalam proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil observasi mengenai data siswa membolos di SMA Negeri 3 Kota Kupang kelas XII B3 disajikan pada tabel berikut: Tabel 1. Jumlah Peserta Didik Kelas XII B3 dan Jumlah Peserta Didik yang Membolos Jumlah Peserta Jumlah Peserta Didik Kelas XII Didik yang Membolos Enam peserta didik tersebut menjadi informan utama dalam penelitian ini, yang terdiri atas lima siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dengan rentang usia 17Ae18 tahun. Untuk melengkapi dan memperkuat data penelitian, turut dilibatkan informan pendukung, yaitu dua guru Bimbingan dan Konseling (O. dan M. ) serta wali kelas (M. Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku membolos pada peserta didik kelas XII B3 dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang saling berkaitan, meliputi faktor internal, eksternal, situasional, dan sosial. Berikut gambaran faktorfaktor tersebut beserta sumber informannya disajikan secara ringkas dalam tabel: Tabel 2. Ringkasan Temuan Faktor Penyebab Perilaku Membolos Faktor Penyebab Faktor Internal Faktor Eksternal Faktor Situasional Faktor Sosial Bentuk Temuan Berdasarkan Data Penelitian Rasa bosan, malas merasa tertekan dengan cara mengajar guru, tidak cocok dengan metode mengajar, serta kesulitan memahami materi pelajaran Ajakan teman sebaya teman dekat Kondisi kelas yang panas, jam pelajaran siang hari, dan rasa Lingkungan pertemanan yang kuat kebiasaan membolos Informan Guru BK. Wali Kelas Perilaku membolos pada peserta didik kelas XII B3 SMA Negeri 3 Kota Kupang menunjukkan pola Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 229 | JPI. Vol. No. November 2025 yang kompleks dan dipengaruhi berbagai faktor. Penelitian ini melibatkan enam siswa sebagai informan, terdiri atas lima siswa laki-laki dan satu siswa perempuan, dengan rentang usia 17 hingga 18 Siswa laki-laki berada pada usia 17 tahun (A. ) kecuali Y. yang berusia 18 tahun, sedangkan satu-satunya siswa perempuan yaitu S. berusia 17 tahun. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan dua guru BK (O. dan M. ) serta wali kelas (M. Hasil menunjukkan bahwa perilaku membolos terbentuk dari interaksi antara faktor internal, eksternal, situasional, dan sosial yang saling memengaruhi. Berikut adalah penjelasannya: Gambaran Perilaku Membolos Peserta Didik Siswa A. aki-laki, 17 tahu. menunjukkan perilaku membolos karena bosan, malas, dan merasa tertekan dengan cara mengajar guru, terutama pada mata pelajaran Matematika. Ia sering membolos sejak kelas XI, terutama pada pelajaran Ekonomi. Matematika, dan Agama. Biasanya ia pergi ke kantin bersama teman. Setelah dipanggil guru BK, ia mengaku menyesal dan mulai mengurangi kebiasaan membolos. Siswa F. aki-laki, 17 tahu. membolos karena bosan, malas mengikuti pelajaran, serta tidak cocok dengan cara mengajar guru, khususnya pada Fisika dan Ekonomi. Ajakan teman sejak kelas X membuat kebiasaan tersebut terus berlanjut. pernah dipanggil BK dan merasa takut namun akhirnya memahami dampaknya dan berhenti mengulang perilaku tersebut. Pengaruh teman sebaya dan kondisi lingkungan Sebagian siswa membolos bukan hanya karena faktor internal, tetapi juga karena ajakan teman. , dan beberapa siswa lain terbiasa membolos bersama teman dekatnya. Pola ini sesuai dengan temuan Diana. Pandang, dan Saman . bahwa pengaruh sebaya sangat kuat dalam membentuk perilaku membolos, terutama pada masa remaja. Selain itu, kondisi sekolah seperti kelas yang panas, jam pelajaran siang, dan rasa lapar sering menjadi alasan tambahan, terutama bagi J. , laki-lak. dan B. , laki-lak. Situasi belajar yang kurang nyaman tersebut juga dijelaskan oleh Zayul dan Harwanti . sebagai faktor yang dapat menurunkan motivasi siswa dan membuat mereka lebih memilih keluar kelas. Dengan demikian, perilaku membolos bukan hanya masalah individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan fisik sekolah. Peran dan efektivitas layanan BK Siswa yang pernah dipanggil guru BK seperti . , dan Y. mengaku merasa takut, menyesal, dan mendapat efek jera setelah menerima pembinaan. Guru BK memberikan nasihat, menjelaskan konsekuensi jangka panjang, dan mengajak siswa memahami dampak perilaku membolos terhadap masa depan mereka. Cara kerja BK ini sesuai dengan pemahaman konseling individual seperti yang dijelaskan oleh Sholikhati . , yaitu membantu siswa memahami diri, perubahan perilaku berdasarkan motivasi dari dalam diri. Menariknya, siswa yang pernah dibina menunjukkan perubahan dan frekuensi membolos Sebaliknya, siswa yang belum pernah menghadap BK seperti J. dan B. cenderung tetap membolos karena merasa tidak ada konsekuensi langsung. Hal ini memperkuat pendapat Hisma . bahwa intervensi BK berperan penting dalam memutus pola negatif, dan tanpa pembinaan perilaku membolos dapat berlanjut terus. Pandangan guru BK dan wali kelas terhadap perilaku membolos Guru BK melihat bahwa perilaku membolos dipicu oleh rendahnya motivasi internal siswa dan kuatnya pengaruh lingkungan pertemanan. Mereka juga menilai perubahan sulit terjadi jika siswa tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki diri. Sementara itu, wali kelas lebih menekankan faktor situasional seperti cuaca panas, rasa lapar, dan cara mengajar guru yang menentukan kenyamanan belajar siswa. Kolaborasi antara guru BK, wali kelas, dan guru mata pelajaran sudah berjalan, namun tantangan seperti kurangnya kesadaran siswa dan kondisi kelas yang tidak nyaman masih menjadi hambatan. Pandangan ini menunjukkan bahwa perilaku membolos bukan hanya tanggung jawab siswa, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, sebagaimana ditegaskan dalam teori dasar bimbingan menurut Prayitno dan Amti . Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perilaku membolos pada siswa kelas XII B3 SMA Negeri 3 Kota Kupang merupakan masalah yang bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor internal siswa, seperti rasa bosan, kurangnya motivasi belajar, kesulitan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 230 memahami materi, serta ketidaksukaan terhadap metode mengajar guru, menjadi pemicu utama munculnya perilaku membolos. Faktor eksternal berupa pengaruh teman sebaya serta faktor situasional seperti kondisi kelas yang kurang nyaman dan jam pelajaran siang turut memperkuat kebiasaan tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling, khususnya konseling individual, memiliki peran penting dalam menangani perilaku membolos. Siswa yang menunjukkan adanya perubahan sikap dan pengurangan perilaku membolos, sedangkan siswa yang belum tersentuh layanan BK cenderung belum mengalami perubahan. Hal ini menegaskan bahwa efektivitas layanan BK sangat bergantung pada keterlibatan aktif siswa dan keberlanjutan proses Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan kajian Bimbingan dan Konseling dengan memberikan pemahaman kontekstual mengenai perilaku membolos di tingkat SMA melalui pendekatan kualitatif yang melibatkan perspektif siswa dan guru BK secara Temuan ini menegaskan bahwa penanganan perilaku membolos tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan pendekatan menyeluruh melalui penguatan layanan BK, peningkatan motivasi belajar siswa, serta perbaikan kondisi lingkungan belajar. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan pendekatan kuantitatif atau intervensi konseling tertentu guna menguji efektivitas layanan BK dalam menekan perilaku membolos secara lebih terukur. Sholikhati. Implementasi konseling individu untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik di SMK Kesatrian Purwokerto (Skripsi tidak dipublikasika. Universitas Islam Negeri Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Zayul. , & Harwanti. Mengatasi perilaku membolos melalui konseling individual menggunakan pendekatan behavior dengan teknik self-management pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tegaldlimo. Sosioedukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial, 8. , 134Ae147. A 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution Share Alike (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). Daftar Pustaka