Article Korelasi Perilaku PSN dan Tempat Perindukan Nyamuk dengan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti di Desa Jetak Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati Elfrado Mosis Priyantama1*. Sri Yuliawati1 . Nissa Kusariana1 . Martini martini1 Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro * Correspondence: frado. mosis@gmail. Abstrak: Dengue Hemorhagic Fever is cause by infections with the Dengue virus. DHF cases related to the presence of Aedes Aegypti larvae are influence by community behavior in preventing and eradicating dengue fever. Eradicating dengue mosquito larvae is known as eradicating mosquito nests (PSN) which is carried out using 3M. Biological and Chemical steps. The aim of this research is to determines the relationship between dengue PSN behavior and mosquito breeding sites and the presence of Aedes Aegypti larvae in Jetak Village. Wedarijaksa Citation: Priyantama. Yuliawati. Kusariana. Martini. District. Pati Regency. This research is an analyctical observational study with a cross sectional AuKorelasi Perilaku PSN dan approach with a sample of 102 respondent using the random sampling (SRS) method. Data Tempat Perindukan Nyamuk analysis used univariate results and bivariate tests using Chi Square. These independent variables dengan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti di Desa Jetak Kecamatan are PSN behavior, breeding places, and the presenced of Aedes Aegypti mosquito larvae. The Wedarijaksa Kabupaten PatiAy Jurnal research results show that based on the Chi Square test with = 5%. PSN behavior p < 0. Riset Kesehatan Masyarakat, vol. CI 0. , and brooding place p < 0. % CI 0. The conclusiont of this research 2. Apr. https://doi. org/10. 14710/jrkm. is that there is a relationship between PSN behavior and mosquito breeding places and the presence of Aedes Aegypti larvae in Jetak Village. Wedarijaksa District. Pati Tahum Regency in Received: 30 April 2024 Accepted: 30 April 2024 Keywords : PSN Behavior. Brooding Places of Aedes Aegypti Larvae Published: 30 April 2024 Pendahuluan DBD menjadi permasalahan di masyarakat yang disebabkan infeksi dari virus Copyright: A 2024 by the authors. Universitas Diponegoro. Powered by Public Knowledge Project OJS Publishing OJS Mason theme. Dengue. Demam ini ialah penyakit yang ditemukannya Ris pada negara tropik serta subtropik yang merupakan penyakit endemik ataupun epidemik. Menurut (WHO), 4 tahun terakhir terjadi 8 kali peningkatan penyakit Demam Berdarah sebesar 4,2 juta tahun 2019 yang semula hanya 505. 000 kasus. Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Pati mencapai 347 kasus pada tahun 2017 dengan 2 kematian, 133 kasus tahun 2018, 289 kasus tahun 2019 dengan 1 kematian serta pada tahun 2020. Demam Berdarah mencapai 107 kasus dengan 1 kematian. Pada Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 https://ejournal2. id/index. php/jrkm/index Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 63 of 67 tahun 2017 di Kabupaten Pati. Angka Kematian (CFR) Demam Berdarah sebesar 0,6%, tahun 2018 menurun sejumlah 0% serta meningkat pada tahun 2019 sejumlah 0,3%. Menurut data Dinas Kesehatan Pati tahun 2022 jumlah kasus DBD ada 697 kasus dan 6 kasus kematian. Salah satu Kecamatan di Kabupaten Pati adalah Kecamatan Wedarijaksa terdiri dari 18 Desa dari 9 Desa Puskesmas Wedarijaksa 1 dan 9 Desa di Puskesmas Wedarijaksa II. Pada tahun 2021 terdapat 3 kasus DBD. Selama Tahun 2022 terjadi 31 kasus di lingkungan Kecamatan Wedarijaksa, sedangkan di Desa Jetak terdapat kasus DBD tertinggi dengan 4 kasus DBD. Adapun kasus DBD dipengaruhi adanya sikap warga dalam mencegah serta memberantas DBD yang berkaitan dengan adanya jentik Aedes Aegypti. Sikap dari warga adalah bentuk dari reaksi ataupun respon seseorang, baik yang sifatnya pasif ataupun yang sifatnya aktif. Keberadaan jentik di rumah berkaitan erat dengan perilaku Pada hal ini sikap memberantas jentik nysmuk DBD disebut dengan (PSN) yang dilaksanakan dengan langkah 3M Mengubur. Menguras serta Menutup tempat menampung air, biologi dengan pemeliharaan ikan pemakan jentik dan cara kimia yaitu mempergunakan insektisida . avarsida/abat. PSN 3M akan memberi hasil yang baik jika dilaksanakan dengan luas serta berbarengan. PSN 3M baiknya dilaksanakan satu minggu sekali supaya rantai tumbuhkembang nyamuk terputus sebelum dewasa hingga akan membuat wlayah itu terbebas dari adanya jentik. Perilaku PSN berhubungan yang memiliki makna dengan jumlah jentik ditempat menampung air. DBD juga terjadi karna populasi jentik Aedes Aegypti yang padat. Adanya jentik vektor DBD sangat bergantung dari tempat indukan nyamuk. Tempat yang paling berpotensi untuk indukan nyamuk ialah batok kelapa, lubang di pohon ataupun lubang batu serta tempat buatan misalnya toples, kaleng bekas, ember, drum, botol serta bak Suatu wilayah dapat diketahui ada tidaknya jentik dengan melakukan indikator ABJ yang dapat memberikan indikasi persentase adanya jetik. 8 Indikator ABJ di Kecamatan Wedarijaksa tergolong rendah kurang dari 95% sehingga diperlukan kewaspadaan masyarakat. Rendahnya indikator ABJ diakibatkan perilaku masyarakat seperti penampungan air, pembersihan bak air yang jarang sehingga menyebabkan nyamuk Aedes Aegypti bersarang. Demam Berdarah terjadi karena beberapa faktor yakni faktor pengetahuan masyarakat, faktor kebiasaan masyarakat . enggantung pakaian, kondisi TPA). Pupa Aedes Aegypty banyak ditemukan di TPA rumah tangga yang terbuat dari bak mandi, drum dan ember plastik serta diletakkan di luar atau dalam Berdasarkan ABJ mempengaruhi kepadatan jentik di kecamatan Wedarijaksa khususnya di desa jetak Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 64 of 67 maka peneliti ingin melihat hubungan sikap PSN dan tempat perindukan dengan adanya jentik Aedes Aegypti di Desa Jetak Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati tahun Metode Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Desa Jetak Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati dengan jumlah sampel 102 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode secara acak pada masing-masing sampel. 7 Variabel bebasnya yaitu : Perilaku dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah . M, predator, insektisida / foggin. , jenis tempat perindukan nyamuk, sementara variabel terikat yakni : Keberadaan Jentik Aedes aegypti. Hasil uji statistika penelitian ini mempergunakan uji chi-square dengan taraf signifikansi yakni 95%. Variabel dinyatakan berhubungan apabila p < 0,005. Hasil Berdasarkan hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden berjenis kelamin wanita yaitu sebanyaj 71%. Tingkat pendidikan responden terbanyak ialah mengampu pendidikan SD sejumlah 49 responden . %), serta paling sedikit SMP sejumlah 11 Responden . %). Berdasarkan usia responden, umur > 40 Tahun sejumlah 83 responden . %) umur < 40 Tahun sebanyak 19 responden . %). Hasil uji Univariat keberadaan jentik Aedes Aegypti terdapat 102 rumah dengan 247 kontainer . yang diperiksa. Sebanyak 52 dari 102 rumah yang diperiksa terdapat 50,9 % diantaranya sebanyak 40 kontainer ditemukan positif jentik sektor DBD. Adapun House Index (HI) yaitu sebesar 50,9 %, nilai Container Index (CI) sebesar 16,2 %, nilai Breteu Index (BI) sebesar 50,9 % dan Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 49,1 %. Diketahui dari 247 kontainer, spesies Aedes Aegypti merupakan jentik terbanyak yang ditemui pada kontainer tersebut yaitu sebanyak 28 kontainer . ,0%) dan spesies Aedes Albopictus sebanyak 12 kontainer . ,0%). Hasil penelitian tentang tempat indukan nyamuk, banyak rumah responden ditempati indukan artificial . ,9%), bak mandi . ,06%). Hasil wawancara kepada 102 responden dengan bobot total skor 510 dalam setiap pertanyaan memiliki 1 point diketahui bahwa pengetahuan responden tentang Jentik nyamuk DBD masih kurang, dengan skor jawaban benar yaitu 147 . ,8%) dan skor jawaban salah yaitu 363 . ,2%). Sedangkan analisis Perilaku PSN DBD dilakukan dengan menggunakan hasil wawancara yaitu dengan Kuesioner dan Ceklist yang di tanyakan langsung kepada responden kepada 102 responden dengan bobot total skor 1020 dalam setiap pertanyaan memiliki 1 point diketahui bahwa sikap dan tindakan responden tentang Jentik nyamuk DBD masih kurang, dengan skor jawaban Ya yaitu 283 . ,7%) dan skor jawaban Tidak yaitu 737 . ,3%). Dari hasil uji bivariat keterkaitan diantara perilaku (PSN DBD) dengan adanya jentik Aedes Aegypti adalah sebagai berikut: Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 65 of 67 Tabel 2. uji korelasi variabel pengetahuan,sikap dan tindakan terhadap keberadaan jentik Keberadaan Jentik Ada Variabel Pengetahuan Tidak Ada Total Jumlah Jumlah Jumlah Baik Buruk Jumlah Sikap dan Tin- Baik Buruk Jumlah < 0,001 < 0,001 Sesuai hasil uji statistik didapat nilai p sejumlah < 0,001 berarti dalam tingkat makna 95% ada keterkaitan bermakna diantara pengetahuan, sikap serta tindakan dengan adanya jentik Aedes Aegypti. Hal ini berarti responden yang pengetahuan, sikap serta tindakannya Baik akan meminimalisir resiko adanya jentik Aedes Aegypti ketimbang responden yang pengetahuan, sikap dan tindakannya buruk. Tabel 3. uji korelasi antara tempat indukan nyamuk dengan keberadaannya jentik Aedes Aegypti. Keberadaan Jentik Aedes Aegypti Tempat Perindukan Ada Nyamuk Total Tidak Artificial Natural Total < 0,001 Dari hasil diatas responden terbanyak mempunyai tempat indukan nyamuk artificial serta dipertemukan jentik Aedes Aegypti sejumlah 25 orang . ,5%), p sebesar < 0,001 berarti pada tingkatan makna 95% ada keterkaitan diantara tempat indukan nyamuk dengan adanya jentik Aedes Aegypti. Pembahasan Pada penelitian ini di ketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan hanya sampai sekolah dasar. Hal ini artinya tingkat pendidikan responden di Desa Jetak golongannya ialah rendah. Pendidikan yang rendah dari responden akan akan membuat proses penerimaan informasi kesehatan, hingga akan berpengaruh pada pengetahuan PSN DBD serta perilaku responden dalam memiliki perilaku PSN DBD. Perilaku PSN DBD yang buruk ini akan memberi peluang untuk nyamuk Aedes Aegypti untuk bertelur serta perkembangan biakannya. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan memperlihatkan yakni dari 102 responden, pengetahuan PSN DBD renponden lebih banyak yang buruk daripada yang berpengetahuan PSN DBD baik dengan skor jawaban salah total 363 . ,2%) sedang Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 66 of 67 yang memiliki pengetahuan PSN DBD secara buruk dengan skor jawaban betul total 147 . ,8 %). Yang memiliki perilaku PSN DBD secara buruk dengan skor total 737 . ,3%) sedang yang mempunyai perilaku PSN DBD baik dengan skor total 283 . ,7%). Hasil penelitian tentang adanya jentik Aedes Aegypti di rumah responden di Desa Jetak yang dilaksanakan lewat aktivitas pengamatan dengan mempergunakan metode wawancara ialah 40 jentik . ,2%) dan 52 jentik . ,9%). Desa Jetak Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati adalah salah satu desa yang cenderung memiliki lahan persawahan dan pekarangan yang berpotensi menjadi tempat indukan nyamuk Aedes Aegypti. Dari 102 rumah dengan 247 kontainer . yang diperiksa, sebanyak 52 rumah dan 40 kontainer ditemukan positif jentik. Adapun House index (HI) sejumlah 50,9%. Container Index (CI) sejumlah 16,2 %, nilai Breteu Index (BI) sebesar 50,9% dan Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 49,1%. Sementara Distribusi spesies Aedes pada kontainer ada 28 jentik . %) dan Albopictus ada 12 jentik . %). Untuk jentik Aedes Aegypti dalam pengendalian fisik . M) ada 18 jentik . ,5%), pengendalian kimia . enggunaan obat abat. terdapat 14 jentik . ,6%) dan penendalian Biologi . emelihara ika. terdapat 20 jentik Aedes Aegypti . ,4%). Hasil uji univariat memperlihatkan yakni ada 40 rumah responden yang ditempati indukan nyamuk artificial serta natural. Adanya tempat indukan nyamuk natural lebih sedikit daripada artificial sebab penelitian dilaksanakan dimusim kemarau sehingga tempat indukan nyamuk di tempat perindukan alami tidak banyak ditemukan. Diketahui yakni paling banyak ditemukan jentik Aedes Aegypti di tempat indukan nyamuk artificial sebanyak 25 . %) jentik dibanding tempat perindukan nyamuk natural sebanyak 3 . %) jentik. untuk jentik Aedes Aibopictus hanya ada 12 . %) saja. Diketahui yakni rumah responden yang mempunyai tempat indukan artificial sejumlah 217 . ,9%) seperti gentong, bak mandi, kulkas, tempat minum burung, dispenser, ember, pot bunga, dan tandon. Sedangkan rumah yang memiliki tempat perindukan natural ada 30 . ,1%). Untuk tempat indukan nyamuk artificial yang terbanyak dimiliki responden ialah di bak mandi . ,06%). Kebanyakan dari responden belum menutup tempat tampungan air. Hingga membuat sikap ini memiliki resiko untuk nyamuk bertelur di tempat tampungan Kesimpulan Ada keterkaitan diantara pelaksanaan perilaku PSN DBD yang meliputi Pengendalian Kimia. Pengendalian Fisik, serta Pengendalian Biologi dengan adanya jentik nyamuk, dan terdapat keterkaitan diantara Tempat Perindukan Nyamuk dengan keberadaannya jentik nyamuk. Ucapan Terimakasih Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang sudah membantu selama keberlangsungan penelitian ini. Selanjutnya pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Referensi