BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 5 Nomor 1. January 2026 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Pengaruh Metode Bermain Peran terhadap Literasi Baca Tulis dan Numerasi Anak Usia 5Ae6 Tahun Erniati R1*. Sri Watini2. Irma Yuliantina3 1,2,3 Universitas Panca Sakti Bekasi. Indonesia Received: January 15th, 2026. Revised: January 29th, 2026. Accepted: January 31st, 2026. Published: January 31st, 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan literasi dan numerasi anak usia dini di daerah pedesaan, serta terbatasnya kajian yang menguji kedua kemampuan tersebut secara simultan melalui desain eksperimen faktorial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan true experiment desain faktorial 2y2, melibatkan 32 anak usia 5-6 tahun di TK Mutiara Desa Bongkal Malang. Kecamatan Kelayang. Kabupaten Indragiri Hulu. Provinsi Riau. Sampel dibagi menjadi kelompok eksperimen . etode bermain pera. dan kelompok kontrol . odel konvensiona. , dengan mempertimbangkan variabel moderator jenis kelamin. Instrumen penelitian terdiri dari asesmen literasi baca tulis dan numerasi yang telah divalidasi. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan uji simple effect. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok bermain peran dan kelompok konvensional dalam kemampuan literasi baca tulis . < 0,001. Ap = 0,. dan numerasi . < 0,001. Ap = 0,. Tidak ditemukan interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan jenis kelamin terhadap kemampuan literasi maupun numerasi. Secara keseluruhan, metode bermain peran terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak usia dini, serta memberikan kontribusi empiris melalui pengujian kedua kemampuan tersebut secara bersamaan dalam kerangka desain faktorial. Kata kunci: anak usia dini, literasi baca tulis, metode bermain peran, numerasi Abstract This study examined the effect of role-playing activities on reading, writing, and numeracy skills in children aged 5-6 years. The study was motivated by low early literacy and numeracy levels in rural areas, as well as the limited number of studies that investigate both skills simultaneously using a factorial experimental design. A quantitative approach was employed using a true experimental factorial 2y2 design involving 32 children aged 5Ae6 years at Mutiara Kindergarten. Bongkal Malang Village. Kelayang District. Indragiri Hulu Regency. Riau Province. Participants were assigned to an experimental group receiving role-playing activities and a control group using a conventional learning model, with gender considered as a moderating variable. Research instruments included validated assessments of reading and writing literacy and numeracy. Data were analyzed using two-way ANOVA and simple effect tests. The findings revealed significant differences in reading and writing literacy . < 001. Ap = 0. and numeracy skills . < 0. Ap = 0. between the role-playing and conventional groups. No significant interaction was found between learning model and gender for either literacy or numeracy. Overall, role-playing activities effectively improved literacy and numeracy skills in early childhood and provided empirical evidence through the simultaneous examination of these two abilities within a factorial experimental framework. Keywords: early childhood, reading and writing literacy, role-playing method, numeracy Copyright . 2026 Erniati R. Sri Watini. Irma Yuliantina * Correspondence Address: Email Address: erniviffa84@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Erniati R. Sri Watini. Irma Yuliantina Introduction Pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam membangun fondasi perkembangan anak yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu indikator penting kualitas PAUD adalah perkembangan kemampuan literasi dan numerasi, yang menjadi dasar awal bagi keberhasilan belajar anak pada jenjang pendidikan selanjutnya (Fatmawati et al. , 2. Dalam konteks global, literasi dan numerasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga sebagai kemampuan berpikir kritis, bernalar, serta menggunakan informasi secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari (Amanda et al. , 2. Dalam konteks abad ke-21, literasi mencakup lebih dari sekadar kemampuan membaca, menulis, dan numerasi. Literasi juga meliputi literasi sains, digital, finansial, budaya, dan kewargaan. Keenam aspek tersebut diakui sebagai dimensi literasi dasar dalam Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional (Kemdikbud, 2. Oleh karena itu, menyiapkan generasi yang literat dan mampu menghadapi tantangan abad ke-21 menjadi tujuan utama gerakan literasi sekolah, termasuk pada jenjang pendidikan anak usia dini. Data global menunjukkan bahwa kesenjangan dalam penguasaan literasi dan numerasi awal masih cukup besar. Menurut data dari UNESCO . , lebih dari 617 juta anak dan remaja di seluruh dunia belum mencapai tingkat kemampuan minimum dalam membaca dan matematika, dengan kesulitan belajar yang kerap bermula sejak usia dini. Indonesia, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa masih berada di bawah ratarata internasional (UNICEF, 2. Kondisi ini mengindikasikan perlunya perhatian yang lebih serius terhadap penguatan keterampilan dasar sejak usia dini (Arlianti & Shaeffer. Pengembangan kemampuan literasi anak sangat penting bagi pertumbuhan kognitif, pencapaian akademik, keterampilan sosial, serta kesejahteraan mental mereka (Veiga et al. Berbagai penelitian juga menegaskan bahwa interaksi antara guru dan anak merupakan faktor penting dalam mendukung pembelajaran bahasa dan literasi di lingkungan pendidikan. Guru memiliki peran sentral dalam membina dan mengembangkan literasi dini melalui pengalaman belajar yang bermakna dan sesuai dengan tahap perkembangan anak (Winarti et al. , 2. Melalui stimulasi oleh guru, anak akan belajar berpartisipasi dalam sebuah komunikasi serta mengekspresikan dirinya melalui bahasa (Ervina & Mauliyah, 2. Permasalahan rendahnya kemampuan literasi baca tulis dan numerasi tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga terjadi di daerah pedesaan, termasuk di Desa Bongkal Malang. Kecamatan Kelayang. Kabupaten Indragiri Hulu. Provinsi Riau. Hasil observasi awal di TK Mutiara menunjukkan bahwa banyak anak usia 5Ae6 tahun belum memperlihatkan kemampuan optimal dalam mengenali huruf, memahami simbol angka, serta menguasai konsep dasar jumlah dan pola. Anak-anak cenderung mengalami kesulitan membedakan huruf, lambat dalam menyebutkan bilangan, dan kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat instruksional dan berpusat pada guru. Guru-guru di TK Mutiara juga menghadapi tantangan dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini, khususnya dalam memfasilitasi pembelajaran literasi dan numerasi yang menyenangkan dan Keterbatasan sumber daya turut memengaruhi penggunaan model pembelajaran konvensional yang masih dominan, sehingga peluang anak untuk berpartisipasi aktif, bereksplorasi, dan memperoleh pengalaman belajar konkret menjadi terbatas. Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi pada usia dini perlu mendapat perhatian serius karena menjadi indikator penting keberhasilan pendidikan jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan literasi dan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengaruh Metode Bermain Peran terhadap Literasi Baca Tulis dan Numerasi Anak Usia 5Ae6 Tahun numerasi sejak dini cenderung menunjukkan prestasi akademik yang lebih baik pada jenjang pendidikan berikutnya (Santiago & Mustacisa, 2. Hal ini menegaskan pentingnya penerapan strategi pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan kontekstual. Metode bermain peran merupakan salah satu pendekatan pembelajaran aktif yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Melalui kegiatan bermain peran, anak dapat mengekspresikan diri, memahami peran sosial, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta menerapkan konsep literasi dan numerasi dalam situasi yang menyerupai kehidupan nyata (Mawardah & Puri, 2. Oleh karena itu, metode ini berpotensi mendukung peningkatan kemampuan literasi dan numerasi anak, terutama di lembaga PAUD yang memiliki keterbatasan akses terhadap inovasi pembelajaran. Sebagian besar penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Auliah et al. Budiarti dan Fitriani . Novianti dan Syafwandi . , lebih banyak menelaah dampak metode bermain peran terhadap aspek bahasa atau literasi. Sementara itu, penelitian lain, seperti Tri Q et al. berfokus pada kemampuan numerasi. Meskipun memberikan kontribusi penting, penelitian-penelitian tersebut umumnya mengkaji literasi dan numerasi secara terpisah, padahal pembelajaran anak usia dini bersifat integratif dan Selain itu, banyak penelitian tentang metode bermain peran dilakukan di wilayah perkotaan atau semi-perkotaan dengan ketersediaan sumber daya yang relatif Meskipun berbagai penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa metode bermain peran berkontribusi positif terhadap pengembangan literasi maupun numerasi anak usia dini, kajian-kajian tersebut umumnya masih memposisikan kedua kemampuan tersebut secara terpisah. Padahal, dalam praktik pembelajaran PAUD, literasi baca tulis dan numerasi berkembang secara simultan dan saling terkait. Selain itu, sebagian besar penelitian sebelumnya belum menggunakan desain eksperimen faktorial yang memungkinkan pengujian pengaruh metode pembelajaran secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan karakteristik anak, serta masih didominasi oleh konteks wilayah perkotaan atau semi-perkotaan. Oleh karena itu, masih terbuka ruang penelitian yang menguji pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi secara bersamaan dalam konteks PAUD pedesaan melalui pendekatan eksperimen yang lebih kuat. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak usia 5Ae6 tahun di TK Mutiara. Desa Bongkal Malang. Kecamatan Kelayang. Kabupaten Indragiri Hulu. Provinsi Riau. Sejalan dengan tujuan tersebut, penelitian ini mengajukan hipotesis bahwa terdapat perbedaan kemampuan literasi baca tulis dan numerasi antara anak yang mengikuti pembelajaran dengan metode bermain peran dan anak yang mengikuti pembelajaran konvensional, serta adanya interaksi antara model pembelajaran dan jenis kelamin dalam memengaruhi kedua kemampuan tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAUD, khususnya dalam penguatan literasi dan numerasi anak usia dini di wilayah pedesaan. Literature Review Literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar yang mulai berkembang sejak usia dini dan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan akademik anak di masa depan. Literasi awal mencakup keterampilan dan sikap yang mendukung perkembangan membaca dan menulis, sedangkan numerasi berkaitan dengan pemahaman konsep matematis dasar dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmawati & Mustadi, 2. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi pada masa kanak- BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Erniati R. Sri Watini. Irma Yuliantina kanak berhubungan erat dengan capaian akademik hingga jenjang pendidikan menengah (Santiago & Mustacisa, 2. Perkembangan literasi anak usia dini melibatkan kesadaran fonologis, pengetahuan alfabet, kosakata, kesadaran terhadap teks cetak, serta motivasi membaca (Chang, 2. Kesadaran fonologis dan penguasaan alfabet terbukti menjadi prediktor penting bagi keberhasilan membaca anak di tahap berikutnya (Naeem & Khan, 2. Literasi berkembang melalui interaksi dengan lingkungan yang kaya bahasa dan pengalaman sosial yang bermakna, bukan hanya melalui pembelajaran formal. Dalam konteks abad ke-21, literasi baca tulis tetap menjadi dasar utama bagi penguasaan literasi lain yang diperkenalkan melalui Gerakan Literasi Nasional (Putri et al. , 2. Literasi numerasi pada anak usia dini mencakup pengenalan bilangan, pemahaman kuantitas, operasi sederhana, serta pola dan bentuk. Penguasaan konsep bilangan pada usia 5Ae6 tahun menjadi prediktor kuat bagi kemampuan matematika di sekolah dasar. Perkembangan numerasi juga berkaitan erat dengan perkembangan bahasa, terutama kosakata matematis, sehingga literasi dan numerasi perlu dikembangkan secara terpadu sejak dini (Nurlaela et al. , 2. Pendekatan pembelajaran berbasis bermain dinilai sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini dan efektif dalam menstimulasi literasi serta numerasi. Melalui bermain, anak belajar secara aktif melalui pengalaman konkret, eksplorasi, dan interaksi sosial (Samuelsson, 2. Salah satu bentuk pembelajaran berbasis bermain yang relevan adalah metode bermain peran. Metode bermain peran melibatkan anak dalam memerankan tokoh atau situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini membantu perkembangan berpikir simbolik dan struktur kognitif anak (Piaget, 1. , serta mendukung internalisasi bahasa dan nilai sosial melalui interaksi (Vygotsky, 1. Bermain peran juga mendorong keterlibatan emosional dan imajinatif anak, sehingga berkontribusi pada perkembangan bahasa, komunikasi, regulasi diri, dan kemampuan sosial (Bodrova et al. , 2. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengembangan literasi dan numerasi anak usia dini umumnya dilakukan melalui pendekatan bermain, penggunaan media pembelajaran, maupun strategi pembelajaran tematik. Namun, sebagian besar penelitian tersebut lebih banyak berfokus pada peningkatan salah satu aspek kemampuan, baik literasi atau numerasi secara terpisah, serta dilakukan pada konteks lembaga PAUD secara umum. Selain itu, penerapan metode bermain peran sering kali dibahas dalam kaitannya dengan perkembangan sosial-emosional atau kemampuan bahasa anak, sementara kajian yang secara spesifik menelaah kontribusinya terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi masih relatif terbatas, terutama pada konteks PAUD di wilayah pedesaan. Berdasarkan uraian tersebut, masih terdapat celah penelitian terkait penerapan metode bermain peran sebagai strategi pembelajaran yang terintegrasi untuk meningkatkan kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak PAUD di pedesaan. Oleh karena itu, penelitian ini diposisikan untuk mengkaji pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak PAUD pedesaan, sebagai upaya memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan praktik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak dan konteks lingkungan belajar mereka. Method Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak usia 5Ae6 tahun, serta menelaah perbedaan hasil berdasarkan model pembelajaran dan jenis kelamin. Penelitian dilaksanakan di TK Mutiara Desa Bongkal Malang. Kecamatan Kelayang. Kabupaten BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengaruh Metode Bermain Peran terhadap Literasi Baca Tulis dan Numerasi Anak Usia 5Ae6 Tahun Indragiri Hulu. Provinsi Riau, selama Mei hingga Agustus 2025. Subjek penelitian adalah seluruh anak kelompok B yang berjumlah 32 orang. Karena jumlah populasi relatif kecil, teknik sampling jenuh digunakan dengan melibatkan seluruh populasi sebagai sampel, sesuai dengan pendapat (Sugiyono, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode true experiment dan desain faktorial 2y2. Variabel bebas terdiri atas metode pembelajaran, yaitu metode bermain peran dan model konvensional, sedangkan variabel terikat meliputi kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak. Jenis kelamin digunakan sebagai variabel moderator. Penempatan subjek ke kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan melalui random assignment berbasis blok . locked randomizatio. dengan mempertimbangkan skor awal dan jenis kelamin untuk menjaga kesetaraan antarkelompok dan meningkatkan validitas Dalam pelaksanaannya, secara operasional metode bermain peran dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan anak untuk memerankan tokoh atau situasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga anak aktif menggunakan bahasa lisan, simbol tulisan awal, dan konsep bilangan secara kontekstual selama kegiatan berlangsung. Sebaliknya, pembelajaran konvensional dilakukan dengan pendekatan berpusat pada guru melalui penjelasan langsung dan latihan terstruktur, seperti mengerjakan lembar kerja membaca, menulis, dan berhitung sederhana tanpa keterlibatan aktivitas bermain peran. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen observasi berbentuk skala penilaian yang telah melalui uji validitas isi melalui expert judgment dan uji reliabilitas menggunakan Intraclass Correlation Coefficient. Instrumen literasi mencakup pengenalan huruf, kesadaran fonologis, membaca dan menulis kata sederhana, pemahaman bacaan, serta pemahaman fungsi tulisan, sedangkan instrumen numerasi mencakup pengenalan angka, pemahaman kuantitas, penghitungan sederhana, serta pengenalan pola dan bentuk. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, termasuk uji prasyarat. ANOVA dua arah, dan perhitungan effect size untuk mengetahui besar pengaruh metode bermain peran terhadap kemampuan literasi dan numerasi anak usia dini. Result and Discussion Penelitian ini melibatkan 32 anak usia 5Ae6 tahun yang dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan desain faktorial 2y2, yaitu kelompok bermain peran dan kelompok konvensional dengan pembedaan jenis kelamin. Data dikumpulkan menggunakan instrumen literasi baca tulis dan numerasi yang telah divalidasi. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti pembelajaran dengan metode bermain peran memiliki skor rata-rata lebih tinggi dibandingkan kelompok konvensional, baik pada kemampuan literasi baca tulis maupun numerasi. Pola ini konsisten pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada kemampuan literasi baca tulis, kelompok bermain peran menunjukkan capaian yang berada pada kategori AuBerkembang Sesuai HarapanAy hingga AuSangat BerkembangAy, sementara kelompok konvensional masih berada pada kategori AuMulai BerkembangAy. Perbedaan rata-rata skor antara kelompok bermain peran dan konvensional tergolong bermakna secara praktis. Pola serupa juga terlihat pada kemampuan numerasi, dengan selisih rata-rata yang lebih besar dibandingkan literasi. Variabilitas skor numerasi cenderung lebih tinggi di semua kelompok, menunjukkan perbedaan kemampuan individu yang lebih beragam. Sebelum analisis lanjutan, dilakukan uji prasyarat analisis. Hasil uji normalitas ShapiroAeWilk menunjukkan bahwa seluruh kelompok memiliki distribusi data yang normal . > 0. Uji homogenitas varians menggunakan LeveneAos Test juga menunjukkan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Erniati R. Sri Watini. Irma Yuliantina varians yang homogen pada kedua variabel terikat. Sebelum analisis lanjutan, dilakukan uji prasyarat. Hasil uji normalitas ShapiroAeWilk menunjukkan bahwa data pada seluruh kelompok berdistribusi normal . > 0,. Uji homogenitas varians menggunakan LeveneAos Test juga menunjukkan varians yang homogen pada kedua variabel terikat. Dengan demikian, data memenuhi asumsi untuk dianalisis menggunakan ANOVA dua arah. Analisis ANOVA dua arah menunjukkan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Hasil ANOVA Dua Arah untuk Kemampuan Literasi dan Numerasi Sumber Varian Literasi Model_Pembelajaran (A) Jenis Kelamin (B) A*B Error Numerasi Model_Pembelajaran (A) Jenis Kelamin (B) A*B Error Sig. Partial Eta Squared Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa model pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap kemampuan literasi baca tulis (F = 29. 405, p < 0. Ap = 0. dan numerasi (F = 28. 488, p < 0. Ap = 0. Jenis kelamin juga berpengaruh signifikan, meskipun dengan ukuran efek sedang. Namun, tidak ditemukan interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan jenis kelamin, baik pada literasi maupun numerasi. Hasil uji simple effect menegaskan bahwa metode bermain peran secara konsisten menghasilkan skor yang lebih tinggi dibandingkan model konvensional pada anak laki-laki dan perempuan, dengan selisih yang lebih besar pada kemampuan numerasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bermain peran efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi baca tulis anak usia 5Ae6 tahun dengan ukuran efek yang Temuan ini menguatkan pandangan bahwa literasi awal berkembang optimal melalui pengalaman berbahasa yang bermakna dan terintegrasi dengan aktivitas sosial anak, bukan melalui latihan akademik yang terpisah dari konteks keseharian (Chang, 2. Dalam bermain peran, anak menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang fungsional, sehingga kosakata, pemahaman simbol, dan struktur bahasa berkembang secara alami sesuai tahap perkembangan mereka (Bailey et al. , 2. Efektivitas metode bermain peran terhadap literasi baca tulis juga dapat dijelaskan melalui teori scaffolding yang menekankan peran interaksi sosial dalam proses belajar Ketika anak terlibat dalam bermain peran bersama teman sebaya dan guru, mereka memperoleh dukungan kontekstual yang membantu mengembangkan kemampuan literasi melampaui kemampuan awalnya (Vygotsky, 1. Temuan ini sejalan dengan metaanalisis Budiarti dan Fitriani . yang menunjukkan bahwa bermain peran memberikan dampak positif yang konsisten terhadap perkembangan bahasa dan literasi anak usia dini. Selain mendukung perkembangan bahasa, bermain peran juga mendorong motivasi dan keterlibatan anak dalam aktivitas literasi. Sebagaimana temuan Bodrova et al. bahwa keterlibatan emosional yang muncul saat anak memerankan tokoh atau situasi tertentu membuat aktivitas membaca dan menulis awal terasa bermakna dan relevan bagi Hal ini penting mengingat motivasi membaca merupakan salah satu komponen utama dalam perkembangan literasi jangka panjang anak usia dini (Naeem & Khan, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan unsur imajinasi dan emosi BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengaruh Metode Bermain Peran terhadap Literasi Baca Tulis dan Numerasi Anak Usia 5Ae6 Tahun positif berperan penting dalam menumbuhkan minat dan keterlibatan anak dalam kegiatan literasi sejak usia dini (Bifakhlina et al. , 2. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak metode bermain peran terhadap kemampuan numerasi cenderung lebih kuat dibandingkan literasi. Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Verdine et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis permainan memiliki kontribusi lebih besar terhadap perkembangan numerasi awal anak. Numerasi pada anak usia dini berkembang melalui pengalaman konkret yang memungkinkan anak memahami konsep bilangan dan kuantitas secara langsung (Nurlaela et al. , 2. Dalam konteks bermain peran, anak terlibat dalam aktivitas menghitung, mengelompokkan, dan membandingkan jumlah secara alami melalui skenario yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti bermain pasar atau toko. Pengalaman ini membantu anak membangun representasi mental bilangan yang lebih stabil dan bermakna (Butterworth, 2. Dengan demikian, bermain peran tidak hanya memperkenalkan simbol angka, tetapi juga memperkuat pemahaman konsep numerasi secara konseptual. Namun, efektivitas metode bermain peran dalam mengembangkan numerasi sangat dipengaruhi oleh kualitas pendampingan guru. Guru berperan penting dalam mengarahkan fokus anak pada konsep numerasi yang muncul selama bermain, tanpa mengurangi sifat bermain itu sendiri (Chun & Luen, 2. Tanpa pendampingan yang tepat, potensi bermain peran sebagai sarana pengembangan numerasi dapat berkurang. Tidak ditemukannya interaksi antara model pembelajaran dan jenis kelamin menunjukkan bahwa metode bermain peran efektif bagi anak laki-laki maupun perempuan. Temuan ini konsisten dengan penelitian Gunawan et al. yang menyatakan bahwa perbedaan gender tidak memoderasi efektivitas intervensi pembelajaran berbasis permainan pada anak usia dini. Hal ini menunjukkan bahwa bermain peran merupakan pendekatan pembelajaran yang inklusif dan dapat diterapkan secara luas di kelas PAUD. Secara teoretis, universalitas manfaat bermain peran dapat dijelaskan melalui hasil penelitian Veiga et al. yang mengungkapkan bahwa bermain peran merupakan evolved mechanism yang berkembang secara universal pada anak-anak terlepas dari jenis kelamin karena memberikan keuntungan adaptif dalam pembelajaran sosial, regulasi emosi, dan fleksibilitas kognitif. Dengan demikian, metode bermain peran dapat dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang inklusif dan relevan untuk mengembangkan literasi dan numerasi anak usia dini di berbagai konteks. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa metode bermain peran dapat dijadikan strategi utama dalam pembelajaran PAUD, bukan sekadar aktivitas tambahan. Guru PAUD perlu merancang skenario bermain peran yang secara sadar mengintegrasikan tujuan literasi dan numerasi ke dalam aktivitas bermain sehari-hari (Romadhona, 2. Perencanaan ini penting agar bermain peran tidak berjalan secara spontan tanpa arah Pendekatan ini sejalan dengan konsep guided play yang menempatkan guru sebagai perancang pengalaman belajar tanpa menghilangkan otonomi anak dalam bermain (Pyle & Danniels, 2. Selain perencanaan, penggunaan bahasa guru selama bermain peran juga berperan penting dalam memaksimalkan dampak pembelajaran. Pertanyaan terbuka dan penggunaan kosakata yang kaya selama interaksi bermain dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir dan berbahasa secara lebih mendalam (Munawaroh et al. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis bermain yang menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar (Samuelsson, 2. Dukungan lingkungan belajar dan keterlibatan orang tua juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan penerapan metode bermain peran. Lingkungan PAUD yang menyediakan waktu, ruang, dan alat bermain yang memadai memungkinkan anak BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Erniati R. Sri Watini. Irma Yuliantina memperoleh pengalaman bermain yang bermakna (Sihombing et al. , 2. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam mendukung aktivitas bermain di rumah dapat memperkuat perkembangan literasi dan numerasi anak secara berkelanjutan (Santiago & Mustacisa. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini memperkuat teori Piaget mengenai peran bermain simbolik dalam perkembangan kognitif anak (Piaget, 1. serta menegaskan relevansi teori Vygotsky tentang pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar (Vygotsky, 1. Dengan demikian, metode bermain peran dapat dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini dan relevan untuk diterapkan dalam berbagai konteks PAUD, termasuk wilayah pedesaan. Conclusion Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bermain peran efektif meningkatkan kemampuan literasi baca tulis dan numerasi anak usia 5Ae6 tahun di TK Mutiara Desa Bongkal Malang dibandingkan pembelajaran konvensional, dengan ukuran efek yang Jenis kelamin juga menunjukkan pengaruh sebagai efek utama pada literasi dan numerasi, namun tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan jenis kelamin, sehingga metode bermain peran efektif bagi anak laki-laki maupun perempuan. Temuan ini menegaskan bahwa bermain peran merupakan pendekatan pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk pengembangan kemampuan dasar anak usia dini, termasuk dalam konteks PAUD pedesaan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada konteks satu lembaga dan belum mengkaji dampak jangka panjang, sehingga penelitian selanjutnya disarankan melibatkan konteks yang lebih beragam, sampel yang lebih besar, serta mengevaluasi keberlanjutan dan kualitas implementasi bermain peran dalam penguatan literasi dan numerasi. References