http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian The Application of Flash Card Media Education to Improve Knowledge of Choosing Healthy Snacks among Elementary School Children at MIN 1 Kota Gorontalo Akifa Syahrir1,Yessilia Pratiwi Ngiu2. Ahmad Aswad3 Abstrak Pendahuluan: Mengkonsumsi jajanan menjadi salah satu hal yang sangat identik dengan anak. Umumnya anak-anak cenderung mengonsumsi jajanan tanpa memperhatikan kebersihan dan kandungan yang ada pada jajanan tersebut. Pengetahuan anak sekolah dasar tentang pemilihan jajanan masih cenderung rendah, sehingga perlu adanya edukasi untuk meningkatkan pemahaman anak tentang konsumsi jajanan yang aman. Contohnya seperti edukasi dengan media flash card untuk meningkatkan pengetahuan memilih jajanan sehat. Tujuan: untuk mengetahui tingkat pengetahuan anak usia sekolah dasar dengan penerapan edukasi menggunakan media flash card. Metode: studi kasus menggunakan metode penelitian deskriptif untuk menjelaskan bagaimana penerapan edukasi dengan media flash card untuk meningkatkan pengetahuan memilih jajanan sehat pada anak usia sekolah dasar. Studi kasus ini akan mengarahkan penulis untuk meninjau 5 anak yang memiliki pengetahuan rendah tentang jajanan lalu diberikan intervensi dalam sehari dan melihat hasilnya. Hasil: Setelah diberikan intervensi tingkat pengetahuan anak tentang jajanan sehat meningkat sebanyak 5-6 skor, dari nilai 3 dengan kategori pengetahuan rendah menjadi 8-10 skor dengan kategori pengetahuan baik. Kesimpulan: Setelah pemberian edukasi dengan media flash card dapat disimpulkan bahwa edukasi ini memiliki manfaat signifikan sebagai media belajar untuk meningkatkan pengetahuan memilih jajanan pada anak. Saran: Pengembangan penelitian dibutuhkan dengan melibatkan jumlah sampel yang lebih besar untuk mengukur perubahan perilaku anak secara jangka panjang Kata kunci: Anak usia sekolah dasar, flash card, jajanan sehat Abstract Background: Consuming snacks is an activity closely identified with children. Generally, children tend to consume snacks without paying attention to the cleanliness or nutritional content of the food. The knowledge of elementary school students regarding snack selection remains relatively low, necessitating education to improve children's understanding of safe snack consumption. For instance, education using flash card media can be used to enhance knowledge in choosing healthy snacks. Objectives: To determine the knowledge level of elementary school-aged children following the implementation of education using flash card media. Reseach Methods: This case study uses a descriptive research method to explain how the application of flash card media education improves healthy snack selection knowledge in elementary school children. This case study leads the author to review 5 children with low knowledge regarding snacks, followed by a one-day intervention and observation of the results. Results: After the intervention, the children's knowledge level regarding healthy snacks increased by 5-6 points, rising from an initial score of 3 . ow knowledge categor. to a score of 8-10 . ood knowledge categor. Conclusion: After providing education via flash card media, it can be concluded that this education has significant benefits as a learning medium to improve children's knowledge in choosing Suggestions: Further research development is required by involving a larger sample size to measure long-term changes in children's behavior. Keywords: elementary school children, flash cards, healthy snacks Submitted : 3 September 2025 Affiliasi penulis : Program Studi Di Keperawatan. Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Gorontalo Korespondensi : AuAkifa SyahrirAy akifa@poltekkesgorontalo. id Telp: Accepted : 31 December 2025 kembangnya . PENDAHULUAN Anak merupakan individu yang unik dan memiliki kebutuhan yang sesuai dengan masing-masing. Sebagai individu yang berbeda, anak memiliki beragam kebutuhan dan berbeda-beda sesuai dengan perkembangannya. Seperti kebutuhan fisiologis yaitu nutrisi, cairan, aktivitas, eliminasi, tidur dan lain-lain, sedangkan kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual akan terlihat sejalan dengan tumbuh Anak usia sekolah menurut definisi WHO (World Health Organizatio. yaitu golongan anak yang berada pada usia 7 hingga 12 tahun, dimana pada periode ini penting untuk menjaga dan memantau keseimbangan gizi anak supaya anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Anak usia sekolah merupakan peminat jajanan yang mandiri dan proaktif dalam memilih makanan dan minuman yang anak inginkan, baik dari lokasi penjual yang disediakan sekolah maupun di luar sekolah . Faktor sekitar merupakan salah satu sebab kebiasaan jajan anak karena anak Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 belum mampu membedakan mana jajanan yang sehat dan tidak sehat terhadap pertumbuhan serta kesehatan anak. Oleh karena itu anak akan tertarik dan cenderung untuk jajan tanpa mepertimbangkan dampak dari jajanan tersebut ketika melihat beragam jajanan disekitarnya . Menurut Food and Agriculture Organization and World Health Organization istilah makanan jajanan berkaitan erat dengan istilah junk food, fast food, dan street food karena istilah tersebut adalah bagian dari makanan jajanan . Jajanan merupakan makanan dan minuman yang disiapkan serta dijual oleh pedagang pinggir jalan yang bisa langsung dinikmati tanpa perlu pengolahan atau persiapan tambahan. Mengkonsumsi jajanan menjadi salah satu hal yang sangat identik dengan anak. Anak sekolah sangat menyukai jajanan karena harganya yang terjangkau, mudah didapat, dan mudah diterima di lidah anak jajanan yang umumnya memiliki tampilan menarik dan tersedia dalam beragam cita rasa yang digemari anak-anak seperti manis, gurih, dan Pada umumnya anak-anak cenderung mengonsumsi jajanan tanpa memperhatikan kebersihan dan komposisi yang ada pada jajanan tersebut . Di Australia, hampir 95% anak-anak berusia 2-8 tahun tidak memenuhi asupan sayuran harian yang direkomendasikan, dan sekitar 50% dari anak mengonsumsi jajanan tidak sehat setiap hari. Tren serupa diamati di masyarakat Asia. Di Singapura, sebuah studi menunjukkan bahwa rata-rata 84% anakanak muda Singapura berusia 2-6 tahun tidak dapat memenuhi porsi produk susu, buahbuahan dan sayuran yang direkomendasikan . Sebuah mengungkapkan bahwa anak-anak muda Hong Kong berusia antara 2 dan 4 tahun berkepanjangan pada susu formula . ,7%) dan konsumsi jajanan tidak sehat dan minuman manis yang berlebihan . %) dalam penurunan konsumsi biji-bijian, sayuran dan buah-buahan . Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia yang menunjukkan sekitar 95% penduduk termasuk usia anak sekolah belum memenuhi kriteria konsumsi sayur dan buah yang dianjurkan. Pada dasarnya anak minuman manis dan jajajan rendah nutrisi dibandingkan makanan yang tertera pada Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman anjuran Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan . World Health Organization . memperkirakan sekitar 2 juta korban terutama anak-anak meninggal dunia setiap tahun akibat dari mengonsumsi makanan yang tidak Makanan tersebut yang mengandung parasit, virus, bakteri, dan bahan kimia Berdasarkan data ditunjukkan bahwa ada sekitar 600 juta insiden penyakit bawaan makanan setiap tahunnya, dengan 1 dari 10 orang jatuh sakit setelah makan makanan yang sudah terkontaminasi. Di Indonesia terdapat sekitar 20 juta insiden keracunan makanan setiap tahunnya dan ada 30 kejadian keracunan yang disebabkan oleh makanan dan minuman dimana 69. diantaranya disebabkan oleh makanan dan 7,69% Sedangkan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa jajanan merupakan penyebab atas 42 kali atau 14,4% kejadian keracunan makanan . Menurut disimpulkan bahwa minimnya pengetahuan anak mengenai jajanan sehat menjadi faktor terjadinya keracunan pada anak. Minimnya pengetahuan dapat memengaruhi perilaku individu, termasuk dalam hal kesehatan yang dapat berkontribusi pada tingginya angka insiden suatu penyakit. Mengingat bahaya dari jajanan yang tidak sehat, penting untuk dilakukan suatu pengenalan mengenai jajanan sehat bagi anak sekolah dasar. Hal ini akan membantu anak untuk lebih mengetahui, memiliki sikap yang baik, dan memilih untuk mengonsumsi jajanan yang lebih sehat. Pengetahuan anak sekolah dasar tentang pemilihan jajanan masih relatif rendah, sehingga perlu adanya edukasi untuk meningkatkan pemahaman anak tentang konsumsi jajanan yang aman . Edukasi ini menjadi salah satu upaya untuk wawasan, serta memberikan motivasi kepada siswa khususnya di lingkungan sekolah dan rumah agar sadar dan memahami cara meningkatkan status kesehatan, mencegah timbulnya penyakit dan mempertahankan derajat kesehatan . Flash card menjadi salah satu pengetahuan, membangun sikap positif dan mendorong anak untuk mengonsumsi jajanan sehat bagi kesehatan anak. Flash Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 card merupakan media berupa dua dimensi yang dibuat khas untuk menyampaikan informasi, termasuk juga dalam proses Media Flash Card memiliki manfaat dalam hal memberikan informasi kata-kata, simbol/lambang. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan anak setelah pemberian media flash card pada ketepatan anak dalam mencuci tangan . Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan, ditemukan banyak pedagang kaki lima yang menjual jajanan seperti pop ice, pentol telur, sempol, gorengan yang berada pada tempat terbuka. Pada pengambilan data awal ditemukan rekapan jumlah siswa kelas 2 sebanyak 27, dengan siswa laki-laki berjumlah 16 orang dan siswa perempuan 11 Hasil wawancara dengan salah satu guru sekolah dasar tersebut, didapatkan beberapa anak sekolah yang sering jajan di depan gerbang sekolah, dan bahkan lebih sering saat waktu pulang sekolah. Sebagian dari anak kadang tidak menghabiskan bekal dari orang tua dan lebih memilih membeli Atas dasar hal tersebut, penelitian ini menemukan bahwa informasi mengenai jajajan sehat pada anak sekolah dasar masih sering dilakukan ditandai dengan kurangnya edukasi kesehatan baik dari orang tua maupun pihak sekolah, serta belum adanya edukasi yang menarik untuk membuat anak mengerti tentang pentingnya konsumsi makanan yang sehat dwngan tujuan terjadi peningkatan pengetahuan anak terhadap jajanan sehat menggunakan media flash METODE Studi kasus ini merupakan penelitian dengan metode deskriptif. Penelitian studi kasus ini terarah pada evaluasi manfaat serta penerapan edukasi dengan media flash card untuk meningkatkan pengetahuan memilih jajanan sehat pada anak usia sekolah dasar. Studi kasus ini dideskripsikan berdasarkan hasil observasi. Desain penelitian yang digunakan adalan purposive sampling dengan kriteria inklusi anak usia 8 tahun, memiliki tingkat pengetahuan rendah dibuktikan dari hasil penilaian studi awal menggunakan lembar observasi, serta bersedia menjadi responden. Adapun kriteria ekslusi dari penelitian ini adalah anak yang sedang sakit. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Studi kasus melibatkan 5 orang subjek berdasarkan anak yang bersedia jadi subjek, berusia 8 tahun . elas 2 sekolah dasa. , dan tingkat pengetahuan tentang jajanan sehat Studi kasus dilaksanakan di MIN 1 Kota Gorontalo pada tanggal 02 Juni 2025 Data menggunakan lembar kuesioner pretest dan posttest yang berisi 10 pertanyaan tentang jajanan sehat. Jawaban kuesioner berupa pilihan ya dan tidak. Berisi 5 pertanyaan positif dan negative berdasarkan adaptasi dari penelitian . Skor pengetahuan hasil ukur dengan pengetahuan baik skor 8-10, pengetahuan cukup 6-7, dan pengetahuan rendah 1-5. Pemberian intervensi dengan media flash card sebanyak satu hari, pemberian edukasi berisikan pengetahuan tentang jajanan sehat dalam waktu 40 menit. Observasi dilakukan pada 5 subjek untuk mengidentifikasi apakah terdapat perubahan sebelum dan sesudah pemberian intervensi edukasi dengan media flash card. HASIL Penelitian ini menggunakan partisipan pada anak kelas 2 sekolah dasar . dengan rekapan data karakteristik subjek studi kasus berdasarkan inisial, usia dan jenis kelamin pada anak. Tabel 1. Karakteristik Subjek Studi Kasus Berdasarkan Karakteristik Inisial. Umur, dan Jenis Kelamin Partisipan Usia 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Berdasarkan tabel 1 didapatkan subjek studi kasus berjumlah 5 orang anak yang berjenis kelamin 2 perempuan dan 3 laki laki dengan usia 8 tahun. Berikut adalah gambaran tingkat pengetahuan tentang jajanan sehat sebelum dan setelah dilakukan intervensi penerapan edukasi dengan media flash card pada anak yang disajikan pada tabel 2. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Tabel 2. Hasil Tingkat Pengetahuan Menggunakan Kuesioner Sebelum Dan Setelah Dilakukan Edukasi Dengan Media Flash Card. Partisipan Pre Test Persentase Kategori 3 . %) Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Post Test Persentase Kategori 8 . %) Baik 10 . %) Baik 9 . %) Baik 9 . %) Baik 10 . %) Baik Berdasarkan tabel 2, bahwa sebelum dilakukan intervensi edukasi dengan media flash card didapatkan kelima subjek memiliki pengetahuan rendah tentang jajanan sehat yang dilihat dari hasil pengisian kuesioner pre test. Dimana pada P1 dan P3 hanya 3 skor . %) dan P2. P4 dan P5 hanya 4 skor . %). Kelimanya berada di kategori pengetahuan rendah. Setelah ditemukan bahwa penerapan edukasi dengan media flash card efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang jajanan sehat pada anak usia sekolah dasar. Dimana kelima subjek menunjukkan peningkatan dalam pengetahuan tentang jajanan sehat setelah diberikan intervensi dengan media flash card. Pada hasil post test P1 memiliki 8 skor . %). P2 memiliki 10 skor . %). P3 memiliki 9 skor . %). P4 memiliki 9 skor . %), dan P5 memiliki 10 skor . %). P2, P3, peningkatan skor sebanyak 6 skor, kemudian P1 dan P4 sebanyak 5 skor. Kelima pengetahuan baik. PEMBAHASAN Pengetahuan anak sebelum dilakukan edukasi dengan media flash card Berdasarkan didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan anak mengenai jajanan sehat sebelum dilakukan intervensi dengan media flash card masih rendah. Dimana hasil tingkat pengetahuan kelima subjek pada pre test berada di kategori pengetahuan rendah. Pada data distribusi anak, jenis mempengaruhi sebagaimana pentingnya konsumsi makan seseorang, karena jenis kebutuhan gizi bagi seseorang. Laki-laki cenderung lebih banyak membutuhkan zat tenaga daripada perempuan, sehingga anak membutuhkan lebih banyak makanan . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Hasil penelitian menunjukkan bahwa P1 dan P3 hanya memiliki 3 skor yang dapat dilihat dari 10 pertanyaan dimana 7 pertanyaan dijawab salah oleh partisipan. Sedangkan partisipan P2. P4 dan P5 hanya memiliki 4 skor yang dilihat dari 10 pertanyaan dimana 6 pertanyaan dijawab Salah satu contoh pertanyaan yaitu minuman berwarna seperti pop ice adalah minuman yang tidak aman, dan subjek memilih menjawab TIDAK padahal jawaban seharusnya yaitu YA karena pop ice adalah minuman berwarna yang tidak mengandung nutrisi penting seperti vitamin, mineral, dan serat, juga mengandung gula berlebih yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan dapat merusak gigi . Olehnya dapat disimpulkan bahwa subjek kurang pengetahuan mengenai jajanan sehat. Pengetahuan yang rendah tentang jajanan dapat terjadi karena anak kurang pengetahuan mengenai jajanan yang menyebabkan masalah pada pola konsumsi yang bisa berdampak pada kehidupan seharihari. Disisi lain faktor predisposisi yang mendasari adalah kurangnya informasi dari orang tua terkait hal tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian Aprilia tahun 2024 dengan subjek anak sekolah dasar mengemukakan bahwa sebagian besar siswa belum mengetahui dampak dari mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat dapat berakibat mengganggu konsentrasi siswa dalam menerima pelajaran juga dapat menimbulkan rasa mual, muntah, pusing, hingga diare . Penelitian kebiasaan anak mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi tumbuh kembang anak . Sedangkan jajanan yang sehat akan perkembangan anak khususnya pada perkembangan motorik halus dan bahasa . Olehnya itu, upaya penanaman pengetahuan mengenai pentingnya jajanan atau makanan yang sehat menjadi sangat penting diberikan kepada anak agar anak bisa menjadi lebih paham mengenai jajanan sehat . Salah mengenai konsumsi jajanan yaitu dengan cara memberikan edukasi tentang makanan dan jajanan sehat pada siswa yang bertujuan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 pemahaman siswa tentang pentingnya memilih jajanan yang sehat dan menghindari zat berbahaya yang terdapat dalam jajanan . Media diperlukan sebagai peranan yang penting dalam mencapai tujuan untuk dapat menunjang proses edukasi. Penggunaan media bisa lebih memotivasi kegiatan pembelajaran dan memberikan pengaruh yang baik terhadap siswa. Salah satu media yang dapat dipergunakan untuk edukasi kepada anak sekolah dasar adalah media flash card . Pengetahuan anak setelah dilakukan edukasi dengan media flash card Analisis studi kasus menunjukkan bahwa skor pengetahuan subjek berbedabeda dimana P1 sebanyak 8 skor. P3, dan P4 sebanyak 9 skor, dan P2 dan P5 sebanyak 10 Perbedaan hasil tersebut sejalan dengan penelitian Novrianti tahun 2020 . , yang mengemukakan bahwa anak mempunyai tingkat pengetahuan yang berbeda-beda dimana pengetahuan secara internal yaitu pengetahuan yang berasal dari dirinya sendiri berdasarkan pengalaman hidup sedangkan pengetahuan secara eksternal yaitu pengetahuan yang didapat dari orang lain termasuk keluarga dan tenaga Pengetahuan baik yang diperoleh secara internal maupun eksternal akan menambah pemahaman anak tentang Setelah dilakukan analisis didapatkan bahwa perbedaan peningkatan tersebut dipengaruhi oleh faktor emosional, ekonomi juga lingkungan. Dimana pada saat intervensi P2 dan P5 memiliki 10 skor karena fokus mendengarkan dan memahami edukasi yang disampaikan berbeda dengan P3 dan P4 yang memiliki 9 skor dimana salah satu pertanyaan yaitu jajanan bisa menyebabkan sakit perut dan sakit gigi dijawab TIDAK padahal seharusnya dijawab YA dan subjek mengatakan sangat suka membeli jajanan karena disekolah banyak dijual beragam jenis jajanan yang enak. Sedangkan P1 memiliki 8 skor karena pada salah satu pertanyaan yaitu bekal makanan yang dibawa dari rumah lebih sehat daripada beli jajan disekolah dijawab TIDAK oleh subjek padahal seharusnya dijawab YA. Setelah ditanyakan ternyata P1 tidak punya kebiasaan membawa bekal dari rumah dan hanya diberi uang jajan lebih oleh orang tuanya agar bisa membeli jajanan disekolah saja. P1 juga mengatakan sering dibagikan jajanan oleh teman kelasnya baik itu jajanan yang dibeli disekolah maupun yang Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dibawa dari rumah. Olehnya perbedaan peningkatan anak juga dapat terjadi karena faktor kebiasaan jajan anak itu sendiri. Dimana hal ini sejalan dengan penelitian yang mengemukakan bahwa ketersediaan jajanan disekolah dapat mempengaruhi anak untuk membeli jajan karena anak cenderung ingin mencoba berbagai jenis jajanan yang menurutnya menarik untuk dicoba. Begitu juga dengan pengaruh teman sebaya yang menjadi salah satu faktor karena seringnya anak melihat teman-temannya seringnya anak mendapat jajanan yang dibagikan oleh temannya . Penelitian lain juga mengemukakan bahwa kebiasaan membawa bekal menjadi faktor yang mempengaruhi konsumsi jajan Apabila anak tidak membawa bekal ke sekolah maka hal tersebut dapat membuat anak memiliki kebiasaan jajan disekolah. Begitu juga jumlah uang saku. Jumlah uang saku juga menjadi faktor karena pemberian uang jajan yang berlebihan dari orang tua dapat membuat anak membelanjakan uangnya dengan suka hati apalagi jika tidak didukung dengan nasihat tentang kegunaan uang saku dan pengetahuan terkait pemilihan jajan yang baik . Adapun faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan antara lain yaitu edukasi dengan media flash card. Adanya peningkatan pengetahuan terjadi karena adanya proses penerimaan materi selama edukasi berlangsung. Awal dilakukan intervensi anak masih malu-malu dan ragu saat berkomunikasi, walaupun tingkat emosi anak terkadang berubah-ubah, tetapi anak mudah diatur sehingga anak dapat mendengar, memahami penjelasan dengan baik, dan seiring berjalannya waktu anakanak mulai menunjukkan minat dan kemauan melalui media flash card. Flash card merupakan media kartu yang memuat gambar dan tulisan yang dapat dibuat sebagai permainan kartu untuk anak usia sekolah dasar yang bisa menjadi sarana edukasi yang efektif untuk belajar . Edukasi yang diberikan pada anak dibuat menarik dan cocok diterapkan pada anak usia sekolah karena pada usia tersebut anak memiliki ketertarikan pada media semacam flash card, hal ini sesuai dengan penelitian yang mengemukakan bahwa flash card merupakan salah satu pilihan media yang tepat untuk edukasi dan sangat ideal untuk anak usia sekolah dasar karena memiliki Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. December 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 banyak konten visual dan teks yang minimal, sehingga efektif menarik perhatian anak . Perbedaan hasil juga bisa diperoleh dari perhatian dan konsentrasi masingmasing anak selama intervensi berlangsung. Pengetahuan sebagian besar diperoleh melalui Indera penglihatan dan Indera pendengaran . hal tersebut sejalan Adiputra mengemukakan bahwa pengetahuan adalah berhubungan dengan objek yang dibantu dengan panca indera . SIMPULAN Berdasarkan hasil studi kasus yang dilakukan terhadap lima partisipan anak usia sekolah dasar, dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui media flash card efektif dalam meningkatkan pengetahuan mengenai pemilihan jajanan sehat. Sebelum diberikan intervensi, seluruh subjek berada pada kategori pengetahuan rendah dengan kisaran 30%-40%. Hasil pre-test menunjukkan bahwa anak-anak cenderung mengonsumsi jajanan tanpa mempertimbangkan aspek kebersihan maupun kandungan gizi yang terkandung di dalamnya. Setelah dilakukan intervensi edukasi selama satu hari, terjadi peningkatan skor pengetahuan yang pada seluruh subjek studi kasus, yaitu sebesar 5 hingga 6 poin. Data post-test menunjukkan seluruh partisipan mencapai kategori pengetahuan baik dengan skor akhir 80% - 100%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media yang interaktif flash card memberikan manfaat dalam membedakan jenis jajanan yang aman untuk Pada pengembangan penelitian di masa selanjutnya untuk melibatkan jumlah sampel yang lebih besar dan mencakup wilayah geografis yang lebih luas guna meningkatkan validitas serta generalisasi hasil penelitian. longitudinal untuk mengukur peningkatan pengetahuan secara konsisten yang diikuti dengan perubahan perilaku dalam memilih jajanan sehari-hari. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman DAFTAR PUSTAKA