Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan Vol 7. No 1. April 2022, pp. https://doi. org/10. 17977/um039v7i12022p001 pISSN: 2548-9879 . eISSN: 2599-2139 . http://journal2. id/index. php/edcomtech Analisis Kebutuhan Pengembangan Perangkat Lunak pada Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Mengatasi Masalah Pelafalan Faathir Faathir 1*. Sulthoni Sulthoni 1. Henry Praherdhiono1 Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Jalan Semarang 5 Malang. Jawa Timur. Indonesia 65145 Email corresponding author*: ansharifaathir. r@gmail. Article Info Abstrak Article history: Received 28-10-2020 Revised 15-11-2020 Accepted 22-07-2021 Published 01-04-2022 Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kebutuhan pebelajar Bahasa Inggris di Indonesia terhadap aspek pelafalan sebagai tolak ukur pengembangan perangkat lunak pembelajaran pelafalan Bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yang mengkaji dan mengamati penelitian-penelitian terdahulu mengenai permasalahan pelafalan yang dialami pebelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil kajian literatur menunjukkan masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan pelafalan yang cenderung terjadi karena absensi dari bunyi Bahasa Inggris dalam Bahasa Ibunya. Hal tersebut juga menghasilkan beberapa pola kesalahan yang dialami para pebelajar. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pebelajar EFL membutuhkan perangkat lunak pembantu untuk mengatasi permasalahan pelafalan Bahasa Inggris yang dapat mendeskripsikan kecenderungan kesalahan pelafalan serta aspek segmental tiap bunyi bahasa Inggris. How to cite: Faathir. Sulthoni. , & Praherdhiono. Analisis Kebutuhan Pengembangan Perangkat Lunak pada Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Mengatasi Masalah Pelafalan. Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 7. , 1Ae9. https://doi. org/10. 17977/um03 Kata Kunci: analisis kebutuhan, interferensi bahasa pertama, pelafalan, perangkat lunak pelafalan Abstract A The Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License This study aims to examine the needs of EFL learners in Indonesia towards Pronunciation as a focus point of the development of English pronunciation learning software. This research uses descriptive analysis which analyzes and observes previous studies regarding the pronunciation problems experienced by students from various regions in Indonesia. The literature review shows that there are still many pronunciation errors that are often associated with the absence of an English sound in their mother tongue. This has also emerged several patterns of errors experienced by students. The result deduces that EFL learners need the supporting software to cope with the pronunciation problems that can describe the potential pronunciation errors and segmental aspect of each English sound. Keywords: need analysis, first language interference, pronunciation, pronunciation software 2 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 1-9 PENDAHULUAN Bahasa Inggris bukan merupakan Bahasa Kedua (Second Languag. di Indonesia, melainkan dipelajari sebagai Bahasa Asing (Foreign Languag. Terdapat perbedaan antara pengguna ESL (English as a Second Languag. yang terbiasa melafalkan setiap kosakata Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari dengan kaidah fonetik Bahasa Inggris, dengan pengguna EFL (English as a Foreign Languag. yang memiliki intensitas lebih sedikit dalam menggunakan kosakata Bahasa Inggris. Hal ini membuat pelafalan Bahasa Inggris pengguna EFL di Indonesia cenderung diserap ke dalam kaidah fonetik Bahasa Indonesia. Situasi tersebut menjadikan masyarakat, secara khusus pebelajar EFL mengalami kendala dengan pembiasaan pelafalan yang sesuai dengan kaidah fonetik yang seharusnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti ingin mengkaji kebutuhan pebelajar EFL di Indonesia untuk mengatasi permasalahan pelafalan yang kurang tepat. Peneliti mencoba memanfaatkan penelitianpenelitian terdahulu terkait fonem bermasalah yang dialami tiap pebelajar EFL yang diakibatkan aksen kuat dari Bahasa Ibunya. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi pengaruh positif dalam pengembangan teknologi pembelajaran pelafalan para pebelajar EFL, dengan berfokus pada deskripsi serta ilustrasi segmental yang lebih detail. Kepemilikan bahasa pertama berpengaruh dalam pembelajaran bahasa selanjutnya. Hal ini disebut dengan interferensi bahasa. Interferensi Bahasa terjadi ketika pengetahuan dari suatu bahasa dialihkan lalu diaplikasikan ke dalam Bahasa lain. Seperti yang dinyatakan dalam buku Principles of Phonology bahwa sistem fonologi sebuah bahasa bekerja seperti sebuah saringan (Trubetzkoy, 1. , ketika seseorang mendengarkan kosakata dalam bahasa asing, mereka akan mencoba melafalkannya semirip mungkin, namun dengan meminjam secara otomatis sistem bunyi dari bahasa pertama. Hasilnya, aksen pebelajar bahasa kedua akan terdengar khas bagi penutur asli bahasa target tersebut. Bahkan seringkali pebelajar tidak menyadari kesalahan fonetik yang dialami dalam menggunakan bahasa target tersebut. Pernyataan ini tentunya masih sangat relevan dengan permasalahan-permasalahan pelafalan yang dialami pebelajar saat ini. Dalam daftar fonetik terbaru (Keating, 2. pun terdapat beberapa absensi bunyi Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia, misalnya bunyi /y. U, y, , e/. Absensi bunyi-bunyi tersebut juga akan memberi dampak besar terkait interferensi bahasa dari pebelajar EFL di Indonesia. Berbeda sifat dan tingkat kesulitan, aspek kosakata . dan tata bahasa . cenderung bisa dikuasai dengan menggunakan strategi pembelajaran kognitif. Namun, pada ranah linguistik tingkat kesulitannya berada pada level lain dan disadari oleh semua pebelajar bahasa asing (Kryger et al. , 2. , mulai dari persoalan absensi fonemik antar bahasa, istilah tense dan lax sebagai penanda intensitas aktivitas otot artikulator saat memproduksi bunyi vokal panjang dan pendek (Bauman-Waengler, 2. , dan berbagai aspek linguistik lainnya sehingga, jika seorang pebelajar bahasa telah tuntas dengan interferensi bahasa pertama dan telah beradaptasi penuh terhadap bahasa kedua, bukan tidak mungkin pebelajar tersebut akan mencapai level aksen native-like. Proses dalam pengembangan bahasa biasanya dirasakan setelah masa pubertas atau kisaran usia 12 atau 13 tahun. Salah satu tanda perubahan tersebut dapat dilihat dalam pembelajaran bahasa asing. Aksen asing pada bahasa target berkorelasi secara langsung dengan usia di mana bahasa asing tersebut Waktu pemerolehan yang dikenal dengan Periode Kritis (Critical Perio. merupakan aspek yang paling sering menjadi pembahasan. Istilah AuPeriode KritisAy pertama kali diperkenalkan dalam dunia biologi. Hal ini merujuk pada periode waktu tertentu dalam hidup manusia untuk mempelajari suatu perilaku (Vanhove, 2. Faathir. Sulthoni. Praherdhiono - Analisis Kebutuhan Pengembangan A| 3 Berdasarkan Hipotesis Periode Kritis (CPH) yang dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ibu, proses pemerolehan bahasa harus dituntaskan sebelum masa pubertas, karena perkembangan bahasa secara sempurna terjadi sampai masa tersebut (Gyrsoy, 2. Ada yang menyatakan pemerolehan sistem bunyi bahasa di otak terjadi sejak usia 26 bulan ketika janin telah terpengaruh bahasa yang didengar dari ibunya (W. -Y. Wang, 2018. Wang et , 2. Bahkan, tangisan bayi yang baru lahir menunjukkan beberapa fitur prosodi dari bahasa aslinya, seperti pola penekanan dan nada leksikal (Wermke et al. , 2. Namun, teori pembawaan . menyatakan bahwa tiap manusia yang lahir telah dikaruniai dengan Perangkat Pemerolehan Bahasa (LAD) (Hasanah, 2. Perangkat Pemerolehan Bahasa (Language Acquistion Devic. ini mengacu pada alat yang digunakan oleh manusia ketika pertama kali belajar berbicara. Setiap manusia dapat secara otomatis belajar bahasa sejak lahir. Perangkat Pemerolehan Bahasa (LAD) adalah alat yang membantu manusia mengenali dan memahami sistem bahasa, sampai terjadi pemerolehan bahasa pertama, atau bahasa ibu. Manusia telah harus menyelesaikan proses pemerolehan bahasa pada masa-masa kritis tersebut (A 0-5 tahu. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa kisaran usia awal sampai masa pubertas merupakan periode yang sangat penting untuk mendapatkan sistem bahasa yang lengkap. Hal ini pula yang menjadi pembeda antara pemerolehan bahasa anak-anak dan orang Kerentanan dan kepekaan terhadap input bahasa bergantung pada usia, yang mana usia kanak-kanak lebih peka terhadap pemerolehan bahasa dibanding usia dewasa (Vanhove. Pola pelafalan atau sistem fonemik yang bekerja pada anak-anak cenderung masih fleksibel dibanding orang dewasa. Telah banyak media-media yang coba diterapkan dalam pembelajaran pelafalan di Indonesia, namun sangat sedikit yang menunjuk langsung pada faktor interferensi bahasa pertama yang dialami pebelajar. Menunjuk langsung pada kesalahan pelafalan bunyi secara segmental pada tata letak artikulator. Melalui analisis deskriptif, peneliti memiliki tujuan untuk mengemukakan kritisnya permasalahan pelafalan, serta menemukan pola kesalahan pelafalan yang dilakukan pebelajar bahasa inggris di Indonesia sebagai tolak ukur pengembangan sebuah perangkat lunak pembelajaran pelafalan. Pola kesalahan tersebut akan dipaparkan dalam bentuk tabel yang nantinya menjadi fokus utama bagi pebelajar EFL dalam memahami permasalahan pelafalan yang dialami. Sehingga pebelajar EFL di Indonesia bisa langsung fokus mengatasi bunyi-bunyi bermasalah yang dialaminya terlebih dahulu. Proses memandang ketepatan pelafalan merupakan salah satu puncak dari pembelajaran bahasa, khususnya dalam aspek berbicara . Lebih spesifik lagi, puncak pencapaian pelafalan tersebut sejalan dengan tersampainya pesan yang METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif yang menitikberatkan pada pengamatan terhadap penelitian-penelitian terdahulu terkait permasalahan pelafalan Bahasa Inggris serta deskripsi kesalahan pelafalan bunyi Bahasa Inggris yang diakibatkan oleh beberapa aspek kebahasaan yang dimiliki pebelajar EFL di beberapa daerah di Indonesia. Peneliti menelaah terlebih dahulu penelitian-penelitian terkait kesalahan pelafalan bunyi Bahasa Inggris di berbagai daerah di Indonesia, lalu mengumpulkan bunyi-bunyi bermasalah tersebut sebagai pola kesalahan pelafalan bagi penutur bahasa terkait. Bunyi-bunyi bermasalah tersebut kemudian dikumpulkan untuk menjadi tolak ukur pengembangan perangkat lunak pembelajaran pelafalan Bahasa Inggris. Perangkat lunak pembelajaran pelafalan yang memaparkan deskripsi segmental artikulator pada kesalahan 4 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 1-9 pelafalan bunyi pebelajar EFL di Indonesia serta deskripsi segmental pelafalan bunyi yang tepat sesuai kaidah fonologi Bahasa Inggris. Kajian ini bertujuan untuk menghasilkan ketajaman berfikir bagi pebelajar EFL di Indonesia dalam menganalisa permasalahan pelafalannya melalui penelaahan terhadap permasalahan bunyi yang dialami akibat interferensi aspek kebahasaan terkait dan menyediakan pemecahan masalah yang sesuai dengan pokok permasalahan pebelajar tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Beberapa analisis kajian teori penelitian telah mengidentifikasi masalah dan kesalahan pelafalan pemerolehan Bahasa Inggris. Beberapa penelitian di Indonesia telah banyak membahas kesalahan fonetik akibat interferensi bahasa ibu. Penelitian dilakukan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang perihal penguasaan Bahasa Inggris (Habibi, 2. Penelitian habibi mengungkapkan kesalahan pelafalan yang dikategorikan berdasarkan aspek-aspek segmental berkaitan dengan pelafalan bunyi secara Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat permasalahan pada bunyi konsonan, yakni penyederhanaan bunyi /v/, /z/, /y/, /e/, //, dan /E/ kepada bunyi /f/, /s/, /d/, /E/, /t/, dan /s/, dan perubahan bunyi /k/, /g/, dan /t/ yang disenyapkan. Kesalahan pada bunyi vokal terbagi menjadi, vokal monoftong dan diftong. Pada kasus vokal monoftong, terjadi permasalahan pada bunyi /i:/, /:/, //, /u/, //, /I/, /y:/, /o/, dan /e/. Sementara pada bunyi diftong, subjek monoftongisasi bunyi /a/, /e/, /a/, /o/, dan /o/. Kasus serupa mengenai permasalahan pelafalan dengan fokus utama pada bunyi konsonan juga telah dilakukan (Umantari et al. , 2. Subjek penelitian ini adalah siswa SMAN 1 Tabanan. Bali. Dengan menggunakan teori kontrastif dari Robert Lado, ditemukan bahwa siswa menemui kendala setidaknya pada lima bunyi yakni bunyi /p/, /tE/, /y/, //, dan /z/ dari total 24 bunyi konsonan. Bunyi /p/ di akhir kata sebelum konsonan yang seharusnya diaspirasi, tidak diaspirasi oleh tiga belas dari total dua puluh siswa. Perihal bunyi //, bunyi // yang terdapat pada sistem bunyi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris berbeda. Bunyi // dalam Bahasa Inggris dilafalkan dengan posisi bibir melingkar, sementara dalam Bahasa Indonesia diucapkan dengan posisi lidah yang agak ke dalam, dan dengan posisi bibir yang dilebarkan. Dalam kasus ini, siswa cenderung melafalkan bunyi // Bahasa Indonesia menggantikan bunyi yang seharusnya dalam Bahasa Inggris. Selanjutnya, bunyi /y/ dan // secara umum bermasalah ketika dilafalkan oleh seluruh siswa. Siswa mensubstitusi bunyi tersebut dengan bunyi /t/, /d/, dan bahkan /s/. Sementara pada kasus kelima untuk bunyi /z/, lima siswa mensubstitusi bunyi tersebut dengan bunyi /s/. Selanjutnya, terdapat penelitian yang menginvestigasi tentang kesalahan pelafalan bunyi konsonan oleh penutur Bahasa Indonesia. Gayo, dan Aceh (Mathew, 2. Data kesalahan pelafalan didapatkan melalui empat jenis tes, yakni tes pembedaan bunyi, pelafalan kata secara berulang-ulang, bacaan, dan wawancara yang direkam. Data dianalisis dengan analisis fenotipik berstandar International Phonetic Alphabet (IPA). Hasil penelitian menemukan kesalahan-kesalahan pelafalan yang tidak jauh berbeda dari ketiga penutur bahasa tersebut. Hal ini kemungkinan besar karena ketiga bahasa tersebut memiliki hubungan kedekatan satu sama lain, dan seluruh partisipan mengakuisisi Bahasa Indonesia setidaknya sebagai bahasa kedua. Diantara hasil yang didapatkan yakni, partisipan umumnya melafalkan bunyi bersuara . /b/, /d/, dan /g/ yang terletak diakhir kata sebagai bunyi nirsuara . /p/, /t/, dan /k/. Selain itu, bunyi nirsuara /p/, /t/, dan /k/ yang terletak di akhir kata umumnya tidak dilepaskan . Faathir. Sulthoni. Praherdhiono - Analisis Kebutuhan Pengembangan A| 5 Bunyi aspirasi /U/ setelah bunyi nirsuara . cukup untuk mengindikasikan pelepasan bunyi tersebut. Dalam kasus bunyi sibilan, bunyi /z/ di akhir kata seringkali dihilangkan, bunyi /e/ disubstitusi dengan bunyi konsonan alveolar sibilan /z/, dan bunyi /E/ disubstitusi menjadi bunyi alveolar /s/. Sementara bunyi afrikat (/tE/, /de/) dan bunyi interdental (/y/, //) seringkali disubstitusi dengan bunyi letup dan sibilant. Pada penelitian dengan subjek penutur asli bahasa daerah Muna. Sulawesi Tenggara (Faathir, 2. , juga ditemukan beberapa permasalahan pelafalan. Pada penelitian yang menggunakan rekaman pelafalan subjek sebagai data ini didapati bahwa terdapat tiga puluh dua bunyi bermasalah dari total keseluruhan empat puluh dua bunyi dalam Bahasa Inggris. Namun, dari total kesalahan tersebut, dikerucutkan lagi menjadi enam kesalahan pelafalan paling signifikan secara terurut diantaranya bunyi /A/, /y:/, /y/, /E/, dan /t/ dan /v/. Bunyi /A/ cenderung disubstitusi dengan bunyi /t/, /t/, /d/, /y/, dan bahkan diaspirasikan menjadi /th/. Untuk kesalahan bunyi /y:/, subjek cenderung melafalkan bunyi /i:/. Sementara bunyi /y/ cenderung dilafalkan sebagai bunyi /d/, dan /t/. Bunyi /E/ disubstitusi dengan bunyi /s/ dan beberapa kali diaspirasi menjadi /sh/. Pada bunyi /t/ ditemukan permasalahan yang signifikan mengenai perbedaan antara bunyi /t/ pada Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Bunyi yang terdapat pada Bahasa Indonesia disimbolkan dengan fonem /t/ dengan sifat pelafalan apical plosive, berbeda dengan bunyi alveolar plosive /t/ yang terdapat pada Bahasa Inggris. Sementara pada bunyi /v/, subjek cenderung menggantinya dengan bunyi /f/. Dari total kesalahan signifikan yang didapat, terdapat empat bunyi yang pada dasarnya tidak terdapat dalam sistem bunyi Bahasa Indonesia. Hal ini semakin menegaskan pengaruh absensi bunyi antar bahasa dalam proses pelafalan. Penelitian serupa tentang permasalahan pelafalan bunyi, pernah dilakukan kepada siswa SMPN 2 Halong. Banjar. Kalimantan Selatan (Komariah, 2. , peneliti juga mendapatkan beberapa permasalahan pelafalan baik pada bunyi konsonan, monoftong, dan Dari hasil penelitian yang memanfaatkan rekaman pelafalan siswa yang difonotipi lalu dianalisis, ditemukan bahwa siswa tersebut menemui kendala pada bunyi konsonan // dan /E/ yang dilafalkan dengan /t/ dan /s/, serta bunyi /e/ yang juga dilafalkan dengan /s/. Untuk bunyi monoftong, bunyi /e/ disubstitusi menjadi /u/. Sementara pada kasus diftong, bunyi /oO/ diganti menjadi /aw/. Penelitian lain juga dilakukan dengan menganalisis perbandingan sistem fonologi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia (Andi-Pallawa & Alam, 2. , mengemukakan bahwa perbedaan, secara khusus pada aspek fonologis, memberi kendala terhadap para pebelajar Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran pelafalan. Adapun hal tersebut mencakup perbedaan jumlah fonem yang dimiliki kedua bahasa, perbedaan fitur fonemis, perbedaan aspek bunyi aspiratif, perbedaan aspek cara pelafalan . bunyi, dan perbedaan konsistensi antara pengejaan dan pelafalan suatu bunyi. Adapun bunyi dalam sistem fonologi Bahasa Inggris yang tidak terdapat dalam sistem fonologi Bahasa Indonesia antara lain /y. U, u, v, , y/. Sedangkan bunyi yang terdapat di Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris namun memiliki fitur fonemis berbeda yakni /b, d, g, z, s, tE, de/. Bunyi tersebut tidak terdapat pada tiap akhir kata dalam Bahasa Indonesia. Selain itu bunyi /p, t, k/ yang tidak pernah diaspirasi ketika dilafalkan menggunakan kaidah bahasa Indonesia. Bunyi /r/ dalam kaidah bahasa Indonesia dilafalkan dengan getaran . namun tidak untuk kaidah pelafalan bahasa Inggris. Untuk kelompok bunyi yang ejaannya berbeda dengan pelafalannya, misalnya bunyi /s/ yang cenderung dilafalkan sebagai /z/ dalam bahasa Inggris, dan /a/ yang juga cenderung bervariasi sebagai /y, o, e/. Oleh karena itu, subjek pada penelitian ini masih menemui masalah dalam 6 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 1-9 melafalkan kata bahasa inggris meskipun mereka telah pernah mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris Penelitian di tingkat global pun juga menemukan kesalahan pelafalan bunyi bahasa Inggris oleh pengguna bahasa Arab (Jalal, 2. , yakni beberapa kesalahan seperti pelafalan bunyi /b/ yang seharusnya bunyi /p/, serta bunyi coronal /t/ yang dilafalkan menjadi apical. Dalam kasus kesalahan pelafalan yang dilakukan oleh pelajar di Arab Saudi (Jalal, 2. , kata ship yang semestinya menggunakan bunyi /E/, dilafalkan dengan bunyi /s/, dan lalu mengubah arti kata tersebut. Begitupun dengan bunyi /e/ pada kata pen, pelajar Saudi mengucapkannya dengan bunyi /y/ sehingga menjadi pan. Hal ini terjadi akibat dari interferensi Bahasa Arab ke Bahasa Inggris. Hasil tersebut juga mendukung bahwa interferensi bahasa khususnya pada aspek fonetis menjadi persoalan utama dalam pembelajaran pelafalan. Adapun penelitian terkait persoalan pelafalan Bahasa Inggris akibat dari pengaruh bahasa ibu 50 pelajar Bahasa Inggris di Guangzhou (Liang, 2. , mengungkapkan bahwa secara keseluruhan terdapat permasalahan dalam mengkombinasikan bunyi /t/ atau /d/ dengan bunyi /j/, lalu mengasimilasi menjadi /tE/ atau /de/. Begitupun sebaliknya ketika melafalkan kombinasi huruf dan sebagai /de/ dan kombinasi huruf dan sebagai /tE/. Meskipun dengan pemberian materi asimilasi bunyi, subjek penelitian masih salah melafalkan frasa Aomade yourAo sebagai . etEo. ] dan Aoconnect youAo sebagai . onekdeO]. Absensi fonem antar bahasa Cina dan Inggris menjadi salah satu faktor pengganggu dari pelafalan bunyi tersebut. Salah satu dari tipe interferensi bahasa yang memberi masalah dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Berdasarkan hasil kajian teori yang telah dilakukan peneliti, dapat diidentifikasi bahwa terdapat banyak permasalahan pelafalan bagi pebelajar EFL di Indonesia maupun di negara lain seperti Arab dan China yang disebabkan oleh permasalahan ketepatan pelafalan serta absensi bunyi bahasa Inggris. Proses dan hasil pelafalan yang tepat merupakan salah satu puncak dari pembelajaran bahasa, khususnya dalam aspek berbicara . Secara lebih spesifik, puncak pencapaian pelafalan tersebut sejalan dengan tersampainya pesan yang Adapun terkait pembelajaran bahasa asing, pelaksanaannya tidak harus selalu di sekolah ataupun lembaga pembelajaran khusus, namun dapat pula dilakukan secara mandiri oleh peminat bahasa tersebut. Kegiatan pembelajaran mandiri tersebut dikenal dengan istilah Autonomous Learning. Autonomous Learning merujuk pada kemampuan untuk mengambil alih pembelajaran sendiri (Kruk, 2. Perkembangan sistem pembelajaran yang semakin pesat menuntut pebelajar harus mampu untuk beradaptasi serta mengembangkan sendiri gaya belajarnya (Andriani et al. , 2. Penemuan-penemuan terbaru dalam bidang teknologi turut membawa perubahan terhadap media-media yang digunakan dalam pembelajaran pelafalan (Praherdhiono et al. Ponsel pintar sebagai salah satu produk teknologi berhasil menjadi bagian penting dalam keseharian para pelajar. Dengan mempertimbangkan status ponsel pintar sebagai perangkat yang mampu digunakan dalam berbagai situasi, ponsel pintar seringkali diuji coba untuk dimasukan dalam proses pembelajaran, khususnya kepada Autonomous Learner. Berbagai aplikasi bisa dengan mudah dipasang ke dalam ponsel pintar tersebut, yang menawarkan berbagai sumber-sumber belajar yang menarik, termasuk untuk pembelajaran Pada sebuah penelitian tentang penggunaan ponsel pintar untuk pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (Ramamuruthy & Rao, 2. disimpulkan bahwa ponsel pintar berhasil memacu beberapa aspek dalam diri pengguna, seperti berpikir kritis, kreatifitas, serta komunikasi dan kolaborasi. Selain itu, didapati pula bahwa penggunaan ponsel pintar dapat Faathir. Sulthoni. Praherdhiono - Analisis Kebutuhan Pengembangan A| 7 menunjang Autonomous Learning menjadi lebih fleksibel (Kim & Kwon, 2. Sementara dalam sebuah penelitian lain terkait pembelajaran bahasa dengan total 4095 sampel diidentifikasi bahwa aplikasi Busuu sangat berhasil dalam meningkatkan pengetahuan, secara khusus perihal kosakata (Rosell-Aguilar, 2. Masih seputar perangkat lunak Busuu, sebuah penelitian dengan sampel 59 pelajar Bahasa Jerman di Hungaria, peneliti mendapatkan 79% sampel memberi nilai good atau very good terhadap aplikasi tersebut (Kytyi, 2. Sejumlah penelitian tersebut menunjukan bahwa autonomous learning mampu memberikan pengalaman belajar bahasa asing yang lebih baik. Pembelajaran ini memberikan keleluasaan kepada pebelajar untuk menjelajahi gaya belajar yang dapat diterapkan di seluruh subjek pelajaran. Selain itu pemanfaatan ponsel pintar dengan memasukan aspek-aspek visual juga turut berperan penting dalam meningkatkan kualitas belajar para EFL. Adapun terkait pemanfaatan audio visual, sebuah penelitian dilakukan untuk membandingkan hasil latihan penutur Bahasa Mandarin dalam mempelajari 9 bunyi vokal dengan menggunakan audio dan audiovisual talking head (W. -Y. Wang, 2. Hasilnya menunjukan bahwa kelompok audio visual mengungguli jauh kelompok audio dalam uji pelafalan bunyi vokal. Pemanfaatan multimedia umumnya telah terbukti menambah keefektifan pembelajaran karena manusia dasarnya lebih mudah memperoleh informasi melalui dua sumber sekaligus, visual dan verbal (Peng et al. , 2. Berdasarkan hasil kajian beberapa literatur tersebut, dapat diidentifikasi bahwa terdapat banyak permasalahan pelafalan bagi pebelajar EFL di Indonesia maupun di negara lain seperti Arab dan Cina yang disebabkan oleh permasalahan ketepatan pelafalan serta absensi bunyi bahasa Inggris. Proses dan hasil pelafalan yang tepat merupakan salah satu puncak dari pembelajaran bahasa, khususnya dalam aspek berbicara . Salah satu upaya penyelesaian masalah tersebut melalui pengembangan mobile seamless learning (Ulfa et al. , 2. Secara lebih spesifik, puncak pencapaian pelafalan tersebut sejalan dengan tersampainya pesan yang dilafalkan. Peran teknologi yang semakin canggih juga telah banyak terbukti memberi dampak positif dalam pembelajaran, baik terbimbing, ataupun secara Pemanfaatan fitur-fitur kompleks audio dan visual mengambil peran tersendiri dalam keberhasilan pembelajaran pelafalan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan sebuah perangkat lunak pembelajaran pelafalan untuk mengatasi permasalahan pelafalan Bahasa Inggris yang kurang tepat pada pebelajar EFL di Indonesia. SIMPULAN Penelitian ini berfokus pada permasalahan pebelajar EFL berkaitan dengan aspek pelafalan dengan mengidentifikasi kebutuhan serta mengatasi permasalahan yang dialami penutur bahasa di Indonesia dalam melafalkan Bahasa Inggris dengan tepat. Hasil penelitian menunjukkan adanya beragam permasalahan yang dihadapi pebelajar EFL dalam melafalkan bahasa Inggris dengan tepat, khususnya pada aspek pelafalan bunyi secara fonetis, yakni pada pelafalan bunyi konsonan maupun vokal. Selain itu, pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing tidak hanya dilakukan di sekolah ataupun lembaga pendidikan khusus, namun juga secara mandiri oleh pebelajar EFL. Pada proses pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing, pengadaan sebuah perangkat lunak bantuan dalam pembelajaran Bahasa Inggris sangat dibutuhkan untuk pelafalan yang tepat dan sesuai dengan kaidah yang digunakan. Hasil dari beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa pentingnya pengetahuan perihal aspek pelafalan perlu diwadahi dengan sebuah perangkat lunak sebagai alat canggih yang mampu mengarahkan pembelajaran Bahasa Inggris dengan fitur audio maupun visual yang lebih detail. Oleh karena 8 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 1-9 itu, dapat disimpulkan bahwa pengadaan perangkat lunak pembelajaran dengan memanfaatkan ponsel pintar dianggap mampu mengatasi permasalahan pelafalan Bahasa Inggris. Adapun gagasan yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian ini adalah bahwa diperlukannya penelitian pengembangan perangkat lunak berfokus pada aspek pelafalan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran EFL di Indonesia, sehingga pebelajar dapat mengadaptasi Bahasa Inggris yang sesuai kaidah pelafalan yang tepat. REFERENSI