LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENIASI PADA PEMBELAJARAN MEMAHAMI INFORMASI TEKS CERTIA SEDERHANA DI KELAS 5 SEKOLAH DASAR Upi Ernawati 1,*. Sariban 2. Mustofa 3 1-3Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 ernawatiupi74@gmail. 2sariban@unisda. 3 tofa09@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 02-01-2025 Revised: 20-01-2025 Accepted: 02-02-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis . penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar ditinjau dari aktivitas siswa. aktivitas dan . hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di SDN 1 Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Dengan subjek Penelitian siswa kelas V dan guru kelas V. Jumlah siswa 9 anak, dengan rincian 7 siswa laki laki dan 2 siswa Teknik pengambilan data melibatkan observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dan tes untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa. Instrumen yang digunakan berupa rubrik observasi mengamati aktivitas siswa dan guru, serta dokumentasi hasil belajar siswa. Penganalisisan data dilakukan dengan identifikasi item dalam rubrik observasi untuk menilai pelaksanaan pembelajaran, serta perhitungan statistik untuk menganalisis hasil belajar siswa untuk memberikan gambaran tentang pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran menunjukkan pencapaian 86,67% dengan kategori sangat baik. Hasil penelitian terhadap aktivitas guru menunjukkan pencapaian skor 93,57% dengan kategori sangat baik dan hasil penelitian dari hasil belajar siswa menunjukkan pencapaian dengan rata rata 72,78 dengan kategori baik. Pembelajaran berdiferensiasi terbukti bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami informasi teks cerita sederhana. Kata kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Teks Cerita Sederhana. ABSTRACT This study aims to analyze . the implementation of differentiated learning in understanding information from simple narrative texts in fifth-grade elementary school students in terms of student activities. teacher activities. student learning outcomes. This research employs a qualitative approach with a case study design conducted at SDN 1 Balun. Turi District. Lamongan Regency. The research subjects consist of fifth-grade students and their teacher, with a total of 9 students, including 7 boys and 2 girls. Data collection techniques involve observations of teacher and student activities, as well as tests to assess student learning outcomes. The instruments used include observation rubrics to evaluate student and teacher activities and documentation of student learning outcomes. Data analysis is conducted by identifying items within the observation rubrics to assess the implementation of learning and statistical calculations to analyze student learning outcomes, providing an overview of studentsAo comprehension of the learning material. The research findings indicate that student activity in learning achieved a score of 86. 67%, categorized as Teacher activity achieved a score of 93. 57%, also categorized as excellent. Additionally, student learning outcomes reached an average score of 72. 78, categorized as good. Differentiated learning has proven to be beneficial in enhancing studentsAo understanding of information in simple narrative texts. Keyword: Differentiated Learning. Narrative Texts. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Pendahuluan Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia terus dilakukan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, salah satunya melalui pengembangan kurikulum secara berkelanjutan karena kurikulum merupakan jantung pendidikan (Siregar et al. , 2. Setiap kurikulum baru dianggap sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya (Achmad et al. 2022:5. , seperti Kurikulum Merdeka yang lahir sebagai kelanjutan dari Kurikulum K-13 untuk menjawab kebutuhan pendidikan berbasis teknologi akibat pandemi Covid-19 (Pranata et al. , 2024:. Kurikulum ini memiliki karakteristik utama, yaitu berfokus pada materi esensial, pengembangan soft skill, dan pembelajaran yang fleksibel (Pratycia et al. , 2. Selain itu. Kurikulum Merdeka menekankan penguatan profil pelajar Pancasila guna membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila (Deliana et , 2024:3259. Farhana & Cholimah, 2024:. Projek ini bersifat lintas disiplin dan dapat dilakukan melalui kegiatan di luar kelas untuk mengasah keterampilan serta kepribadian peserta didik, dengan prinsip berpusat pada peserta didik, kontekstual, eksploratif, dan holistik (Sunanda et al. , 2023:4. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka berusaha mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik dengan memberikan fleksibilitas dalam pembelajaran (Wulandari, 2022:687. Aprima & Sari, 2022:. Peserta didik diberikan kebebasan untuk belajar sesuai dengan minat, kesiapan, dan gaya belajarnya, baik audiotorik, visual, maupun kinestetik, tanpa harus menyesuaikan diri dengan gaya belajar lainnya. Meskipun memberikan tantangan bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif (Purnawanto, 2023:. , pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar karena memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kebutuhan mereka sendiri (Purwowidodo & Zaini, 2023:. Selain itu, pendekatan ini juga mendorong pemikiran kritis dan kreatif melalui tugas-tugas yang bervariasi, seperti proyek berbasis masalah atau eksplorasi mandiri (Purwowidodo & Zaini, 2023:. Terkait pentingnya pembelajaran berdiferensiasi yang merupakan elemen penting dalam pengaplikasian Kurikulum merdeka, guru harus menyiapkan diri dengan baik dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan . mencari tahu karakteristik siswa dan kebutuhan . membuat tes diagnostik atau tes kemampuan awal siswa. merencanakan meteode pembelajaran yang mampu mengakomodasi pembelajaran dengan berbagai kebutuhan siswa. menyiapkan media pembelajaran yang multimoda yang dapat diakses oleh siswa dalam mengikuti pembelajaran (Purnawanto, 2023:. Berdasarkan hal tersebut, penelitian yang mengkaji pembelajaran berdiferensiasi dianggap sebagai penelitian yang sangat menarik. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu . kajian pembelajaran berdiferensiasi tergolong baru karena berkaitan dengan kurikulum merdeka yang juga baru dicetuskan pada tahun 2022. pengetahuan dan pemahaman guru terhadap pembelajaran berdiferensiasi juga tidak sepenuhnya paripurna karena pengenalan pembelajaran berdiferensiasi masih baru. kesiapan sekolah dalam menyediakan akomodasi pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi juga masih terbatas. pada pembelajaran Bahasa Indonesia, belum pernah dilakukan penelitian yang mengkaji implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar. Dasar-dasar tersebut memperkuat pernyataan bahwa penelitian yang mengkaji implementasi pembelajaran berdeferensi pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar penting dan menarik untuk dilakukan. Terdapat beberapa temuan hasil penelitian yang berkaitan pada implementasi pembelajaran di sekolah dasar, tetapi pada pembelajaran Matematika. Aprima & Sari . menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Matematika di sekolah dasar sangat efektif. Pembelajaran berdiferensiasi dinyatakan lebih menarik daripada pembelajaran lainnya karena pembelajaran berdiferensiasi memberikan layanan pada setiap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya masing-masing siswa. Apabila hasil di atas dinyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang menarik pada pembelajaran Matematika, penelitian tentang implementasi pembelajaran Bahasa Indonesia juga perlu dilakukan untuk memastikan bukan hanya pembelajaran Matematika Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. yang menarik, tetapi pembelajaran Bahasa Indonesia juga menarik ataukah sebaliknya. Penelitian ini dapat diterapkan pada siswa sekolah dasar pada kelas tinggi. Hal tersebut didasarkan pada perkembangan kompetensi dan akademik siswa sekolah dasar di kelas tinggi sudah dapat dikatakan baik. Salah satu kelas yang dapat mewakili perkembangan siswa di sekolah dasar di kelas tinggi adalah kelas 5. Hal tersebut mengacu pada perkembangan kognitif siswa kelas 5 yang sudah mampu mengendalikan mental dalam memahami dan menyelesaikan persoalan konkret. Selain itu, pada kelas 5, siswa sudah mampu berbahasa dan menyampaikan maksud dan keinginan dengan jelas (Erlina, 2. Salah satu materi yang dapat dilakukan dalam penelitian ini adalah pembelajaran pada materi Cerita Sederhana. Materi tersebut dipilih karena pada kelas 5 sekolah dasar terdapat materi Cerita Sederhana. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi juga dapat dilakukan pada materi tersebut karena menunjukkan keberagaman cerita yang dapat diproduksi oleh siswa kelas 5 sekolah dasar. Penelitian ini difokuskan pada . penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar ditinjau dari aktivitas siswa. penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar ditinjau dari aktivitas guru. penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar ditinjau dari hasil belajar siswa. Metode Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Penelitian menganalisis penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Meskipun pada fokus penelitian 3 menggunakan data nilai tes, penelitian ini tidak memberikan eksperimen pada siswa sehingga penelitian ini dilakukan secara alamiah. Selain itu, analisis data hasil tes tersebut hanya sebatas penghitungan rerata, persentase, nilai minimum, dan maksimum, tidak sampai pada penghitungan uji hipotesis, sehingga penelitian ini belum dapat dikatakan berpendekatan kuantitatif. Berdasarkan orientasi dan data penelitian tersebut, penelitian ini memenuhi aspek-aspek kualitatif. Penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang menganalisis subjek penelitian secara alamiah (Moleong, 2017:. Sumber data dalam penelitian ini mencakup aktivitas siswa, guru, dan hasil belajar siswa dalam memahami informasi teks cerita sederhana. Data penelitian dalam penelitian terbagi dalam tiga jenis, yaitu . data hasil observasi aktivitas siswa. data hasil observasi aktivitas dan . data hasil belajar dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 Sekolah Dasar Negeri I Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa di SDN 1 Balun Turi Lamongan. Terdapat dua teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu . teknik observasi dan . Teknik observasi dilakukan untuk mengumpulkan data pada rumusan masalah pertama dan kedua. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data pada rumusan masalah pertama dan kedua. Instrumen penelitian ini terdiri atas dua intrumen, yaitu . rubrik observasi proses pembelajaran berdiferensiasi dalam memahami informasi teks cerita sederhana pada siswa kelas V SDN 1 balun turi Lamongan. lembar tes hasil belajar instrumen tersebut dijabarkan sebagai berikut. Penganalisisan data dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan data hasil dari teknik pengumpulan penelittian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, terdapat dua jenis penganalisisan data yang dilakukan, yaitu analisis data hasil observasi data hasil belajar siswa dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar. Penentuan keberhasilan pembelajaran tersebut dilakukan dengan penetapan penilaian acuan patokan (PAP). Penentuan PAP tersebut didasarkan pada penetapan tujuan belajar, perumusan materi, penetapan metode, penggunaan media dan sumber belajar, dan pelaksanaan penilaian (Noviyanti, et. , 2. PAP yang ditentukan dari penelitian ini adalah 60 yang dasarkan pada tujuan belajar, perumusan materi, penetapan metode, penggunaan media dan sumber belajar, dan pelaksanaan penilaian. Pengategorian rerata klasikal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Tabel 1 Kategori Hasil Belajar Siswa Nilai rata-rata Kategori 0Ai20 Sangat rendah 21Ai40 Rendah 41Ai60 Sedang 61Ai80 Tinggi 81Ai100 Sangat Tinggi Selain itu, penghitungan statistik juga dilakukan, seperti penghitungan nilai minimum dan maksimum, analisis distribusi frekuensi, dan nilai median dari hasil belajar siswa. Analisis nilai minimum dan maksimum digunakan untuk melihat rentang nilai yang diperoleh siswa dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar. Analisis distribusi frekuensi digunakan untuk melihat kecenderungan nilai siswa berada pada tingkat tertentu. Begitupun dengann analisis nilai median untuk melihat nilai tengah dari hasil hasil belajar siswa dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Cerita Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Ditinjau dari Aktivitas Siswa Hasil penelitian terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran memahami informasi dalam teks cerita sederhana di kelas V SD ditinjau dari aktivitas siswa dijabarkan dari data hasil observasi pembelajaran berdiferensiasi. Hasil pengamatan kegiatan siswa selama pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas V SD dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Aktivitas Siswa Indikator Kegiatan Tes Diagnostik Gaya Belajar Siswa mengikuti tes diagnostik yang dirancang untuk mengidentifikasi gaya belajar . isual, auditori, atau kinesteti. Siswa memahami hasil tes diagnostik dan mengetahui gaya belajar mereka. Siswa memilih teks cerita sesuai minat dan tingkat kesulitan yang disediakan guru. Siswa membaca teks secara mandiri atau bersama kelompok sesuai kebutuhan mereka. Siswa menggunakan metode belajar yang sesuai dalam kelompok yang sama dengan gaya belajarnya . isalnya diskusi kelompok, belajar mandiri, atau konsultasi dengan gur. Siswa meminta bantuan jika mengalami kesulitan memahami teks . enunjukkan kesadaran untuk mencari dukunga. Siswa menyelesaikan tugas pada waktu yang diberikan sesuai tingkat pemahaman masingmasing. Siswa memilih cara untuk menyampaikan pemahaman mereka, seperti melalui ringkasan, gambar, mind map, atau presentasi lisan. Siswa menunjukkan kreativitas dan keunikan dalam menyampaikan hasil pemahaman mereka. Diferensiasi Isi Diferensiasi Proses Diferensiasi Produk Hasil Pengamatan Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Siswa aktif berinteraksi dengan teman dalam kelompok untuk berbagi ide dan saling membantu. Siswa menunjukkan sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat, kemampuan, atau kontribusi Siswa secara mandiri membaca teks dan mencoba memahami informasi utama sebelum meminta Siswa berinisiatif untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan gaya belajar dan minat mereka. Siswa memanfaatkan waktu pembelajaran dengan efektif, baik saat bekerja mandiri maupun Siswa tetap fokus pada tugas meskipun ada variasi aktivitas di dalam kelas. Keterlibatan Sosial Kemandirian dan Inisiatif Pengelolaan Waktu dan Fokus Jumlah Jumlah Skor . obot x jumlah kegiata. Skor Maksimal Berdasarkan Tabel 2 di atas, terdapat kegiatan yang mendapatkan bobot 2, yaitu pada item pernyataan nomor 2 dan 15. Kegiatan yang mendapatkan bobot 3, yaitu pada item pernyataan nomor 5, 8, 13, dan 14. Sementara itu, lainnya mendapatkan bobot 4 yang artinya kegiatan tersebut dilakukan dengan sangat baik. Dari penghitungan persentase penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana pada siswa kelas V SD didapatkan bahwa persentase tersebut sebesar 86,67%. Penerapan pembelajaran Berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar di SDN 1 Balun Turi Lamongan ditinjau dari aktivitas siswa dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu . pemberian asesmen awal tentang gaya belajar siswa. pembagian kelompok berdasarkan gaya belajar. penyajian media pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa. pengerjaan projek berdasarkan gaya belajar siswa. Tahap-tahap tersebut dijabarkan lebih rinci di bawah ini. Pemberian Asesmen Awal tentang Gaya Belajar Siswa Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar diawali dengan asesmen awal untuk memetakan gaya belajar siswa melalui tes diagnostik. Tes ini dilakukan dengan mengisi kuesioner pada link https://akupintar. id/mp/tes-gaya-belajar yang diberikan oleh guru. Berdasarkan hasil asesmen, terdapat 5 siswa dengan gaya belajar visual dan 4 siswa dengan gaya belajar Informasi ini memberi pemahaman kepada siswa mengenai gaya belajar mereka, yang kemudian digunakan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok belajar sesuai dengan karakteristik masing-masing. Pembagian Kelompok Berdasarkan Gaya Belajar Setelah tes diagnostik dilakukan, siswa dibagi ke dalam kelompok berdasarkan gaya belajar mereka. Siswa dengan gaya belajar visual memahami informasi teks cerita sederhana melalui membaca teks yang dilengkapi gambar ilustrasi dan diagram, serta membuat peta pikiran untuk merangkum informasi utama secara visual. Sementara itu, siswa dengan gaya belajar audiotori mendengarkan cerita yang dibacakan atau melalui rekaman audio, kemudian berdiskusi untuk mengidentifikasi tokoh, latar, dan pesan moral, serta menceritakan kembali isi cerita secara verbal. Adapun siswa dengan gaya belajar kinestetik terlibat dalam permainan peran berdasarkan karakter dalam cerita atau menggunakan gerakan tubuh untuk menggambarkan alur cerita. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat pemahaman siswa terhadap teks cerita sederhana, tetapi juga memungkinkan mereka mengekspresikan pemahaman dengan cara yang sesuai dengan Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. gaya belajar masing-masing. Setelah kegiatan, seluruh siswa berdiskusi untuk menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Penyajian Materi Media Pembelajaran Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Setelah pembagian kelompok, siswa diberikan teks cerita sederhana, yaitu *Kayu Ajaib*, dan membaca bersama dalam kelompok masing-masing. Kelompok visual fokus pada membaca teks sambil memperhatikan ilustrasi atau gambar pendukung, sementara kelompok audiotori mendengarkan cerita yang dibacakan oleh salah satu anggota Setiap kelompok menerapkan metode belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya, seperti kelompok visual yang membuat peta pikiran atau diagram untuk merangkum informasi, dan kelompok audiotori yang menceritakan kembali isi cerita secara verbal guna memperkuat pemahaman. Selain itu, siswa diberikan fleksibilitas untuk berdiskusi dalam kelompok atau belajar secara mandiri jika lebih nyaman, namun tetap terbuka untuk berdialog dengan teman atau guru. Siswa juga didorong untuk meminta bantuan saat mengalami kesulitan dalam memahami isi cerita, baik kepada guru maupun teman yang lebih memahami. Kesadaran akan pentingnya kerja sama dan dukungan dalam proses belajar ini menciptakan lingkungan belajar yang inklusif serta membantu siswa mencapai pemahaman optimal. Pengerjaan Projek Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Setelah memahami teks cerita sederhana, siswa kelas 5 SDN 1 Balun Turi. Lamongan, diberikan kebebasan untuk menyampaikan pemahaman mereka sesuai dengan preferensi dan gaya belajar masing-masing. Siswa dengan gaya belajar visual lebih memilih membuat mind map atau ilustrasi untuk menggambarkan isi cerita, sementara siswa dengan gaya belajar audiotori cenderung menyampaikan pemahaman mereka melalui presentasi lisan atau diskusi kelompok. Kelompok visual menunjukkan kreativitas dengan memanfaatkan warna dan simbol dalam mind map mereka, serta menggambar karakter dan latar tempat untuk memperkuat pemahaman. Sementara itu, kelompok audiotori lebih fokus pada menyampaikan cerita secara verbal, mendiskusikan alur, tokoh, dan pesan moral, serta menambahkan refleksi pribadi terhadap pelajaran yang dapat dipetik. Setelah tugas selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas, di mana kelompok visual menjelaskan hubungan antarelemen cerita melalui mind map atau ilustrasi, sedangkan kelompok audiotori menyampaikan rangkuman cerita secara lisan dengan penekanan pada bagian yang dianggap penting. Sesi presentasi ini tidak hanya melatih kemampuan komunikasi siswa, tetapi juga memungkinkan mereka untuk belajar dari pendekatan yang berbeda dalam memahami teks cerita sederhana. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Cerita Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Ditinjau dari Aktivitas Guru Hasil penelitian terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran memahami informasi dalam teks cerita sederhana di kelas V SD ditinjau dari aktivitas guru dijabarkan dari data hasil observasi pembelajaran berdiferensiasi. Hasil pengamatan kegiatan guru selama pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas V SD dapat dilihat pada tabel 3 berikut. Tabel 3 Hasil Observasi Aktivitas Guru No. Aspek dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Kegiatan Pendahuluan Guru memanfaatkan hasil asesmen awal / diagnostik Guru Menyampaikan pertanyaan pemantik Guru Menyampaikan pemahaman bermakna Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Melakukan apersepsi Hasil Pengataman Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Memberikan motivasi Kegiatan Inti Penguasaan materi pembelajaran Guru menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran. Guru mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, perkembangan iptek, dan kehidupan nyata Guru menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat. Guru melaksanakan proses Asesmen formatif dengan berbagai teknik Penerapan strategi pembelajaran yang mendidik dan Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi sesuai elemen konten, atau proses, atau produk, atau lingkungan belajar Guru melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik dalam mengemukakan pendapat dan bertanya Guru melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan kompetensi peserta didik sesuai dengan materi ajar Guru melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual Guru melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan dan sikap positif . urturant effec. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang Pembelajaran sesuai karakteristik siswa Terlaksananya pembelajaran dengan menggunakan strategi/teknik sesuai dengan gaya belajar siswa . uditori, visual, kinestetis, atau Terlaksananya pembelajaran Teaching at the right level . endekatan pembelajaran yang mengacu pada tingkat kemampuan masing masing peserta didi. Terlaksananya penyampaian hasil evaluasi guru terhadap hasil pekerjaan dan perilaku murid dengan cara yang mendorong murid untuk terus meningkatkan kemampuannya. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran Guru menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar yang bervariasi. Guru menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media Guru melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar Guru melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media Menghasilkan kesan yang menarik Penggunaan Bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar Kegiatan Penutup Proses rangkuman, refleksi, dan tindak lanjut Guru memfasilitasi dan membimbing peserta didik memahami makna belajar melalui asesmen formatif Guru menunjukkan aktivitas belajar yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mengajar. Guru menunjukkan aktivitas untuk mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajaran yang telah diterapkan, terutama dari sisi dampaknya terhadap belajar murid. Terlaksananya penerapan cara, bahan, dan/atau pendekatan baru dalam praktik pengajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi pembelajaran. Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Guru melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas perbaikan dan pengayaan secara individu atau Pelaksanaan Asesmen Guru melaksanakan Asesmen Formatif selama pembelajaran Guru melaksanakan Asesmen Sumatif sesuai tujuan pembelajaran Guru Asesmen Teknik . enugasan/tertulis/proyek/bermain peran/praktik/portofoli. Jumlah Jumlah Skor . obot x jumlah kegiata. Skor Maksimal Persentase 93,57% Dari Tabel 3 di atas, hasil pengamatan dari aktivitas guru mendapatkan skor antara 3 Kegiatan yang mendapatkan bobot 3, yaitu pada item pernyataan nomor 3, 8, 13, 15, 17, 21, dan 22. Sisanya mendapatkan skor 4 yang berjumlah 26 item kegiatan yang Dari penghitungan persentase penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana pada siswa kelas V SD yang ditinjau dari aktivitas guru didapatkan bahwa persentase tersebut sebesar 93,57%. Guru mengawali pembelajaran dengan pertanyaan pemantik untuk membangun minat siswa dan menghubungkan mereka secara emosional dengan materi. Selain itu, guru menjelaskan pentingnya memahami informasi dalam cerita sederhana sebagai sarana memperluas wawasan dan mempelajari nilai kehidupan, serta menyampaikan tujuan pembelajaran agar siswa memiliki panduan yang jelas. Dalam kegiatan inti, guru menyajikan materi yang relevan dengan menghubungkan isi cerita pada pengalaman sehari-hari siswa, seperti nilai kebersamaan atau keberanian. Untuk mendukung pemahaman, siswa visual diberikan teks cerita dengan gambar atau diagram, sementara siswa audiotori mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru atau melalui rekaman Pada pembelajaran memahami informasi dari cerita sederhana di kelas V SDN 1 Balun Turi Lamongan, kegiatan penutup difokuskan pada refleksi dan tindak lanjut. Siswa berbagi pengalaman belajar mereka dalam kelompok untuk mengevaluasi metode yang paling membantu serta kesulitan yang dihadapi, sementara guru menggunakannya sebagai masukan untuk menyempurnakan strategi pengajaran. Guru juga memberikan tugas perbaikan bagi siswa yang membutuhkan pendalaman dan tantangan lebih kompleks bagi yang telah memahami materi. Selain itu, asesmen dilakukan secara formatif dan sumatif melalui observasi, diskusi, serta tanya jawab untuk memantau pemahaman siswa, disertai umpan balik yang membangun guna meningkatkan hasil belajar mereka. Asesmen sumatif dilaksanakan melalui tugas-tugas, seperti penugasan tertulis, portofolio, dan presentasi lisan. Misalnya, siswa visual diminta membuat mind map atau gambar ilustrasi, sedangkan siswa audiotori diberikan tugas untuk menceritakan kembali isi cerita secara lisan. Dengan pendekatan ini, guru mampu mengevaluasi pemahaman siswa secara holistik, mencerminkan kemampuan mereka dalam memahami informasi cerita sederhana secara efektif. Teknik asesmen yang bervariasi ini juga membantu mendukung keterlibatan siswa dan memastikan keberhasilan pembelajaran. Hasil belajar Siswa dari Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Pembelajaran Memahami Informasi teks cerita Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Hasil belajar siswa pada penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 sekolah dasar ditunjukkan dengan hasil nilai sumatif sebagai bagian dari pengukuran kemampuan siswa kelas 5 dalam memahami informasi teks cerita sederhana. Hasil nilai tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Tabel 4 Hasil Nilai Siswa Inisial Siswa Nilai ACM a APT GAN MFT NDA Total Rata-rata Min Median Max Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh terhadap pemahaman siswa dalam teks cerita sederhana dengan rata-rata nilai sebesar 72,78. Skor siswa bervariasi dari 60 hingga 85, mencerminkan perbedaan tingkat pemahaman yang signifikan. Nilai median 75,0 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada tingkat pemahaman yang cukup baik, meskipun masih terdapat siswa yang membutuhkan perhatian lebih untuk mengoptimalkan pemahamannya. Pembelajaran berdiferensiasi bertujuan menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa agar lebih mudah dipahami, baik melalui teknik visual, diskusi kelompok, maupun pemecahan masalah berbasis teks, sehingga strategi pembelajaran dapat lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis terhadap rata-rata nilai yang diperoleh, yaitu 72,78, jika dikaitkan dengan Tabel 3. 1, dapat dikatakan bahwa performa siswa dalam pembelajaran ini berada dalam kategori tinggi. Berdasarkan kategori yang ditetapkan, yaitu 61Ai80 untuk kategori tinggi, nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa mayoritas siswa mampu memahami materi dengan baik. Ini mengindikasikan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berhasil memberikan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap informasi yang terkandung dalam teks cerita sederhana. Pembahasan Temuan tingginya rata-rata nilai siswa . sejalan dengan penelitian Amin et al. yang menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar, terutama dengan strategi yang menyesuaikan gaya belajar siswa. Studi tersebut membuktikan efektivitas pendekatan ini dalam meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika, khususnya dalam Program Linear (Amin et al. , 2023:. Namun, adanya siswa dengan nilai lebih rendah menunjukkan perlunya perhatian khusus, sebagaimana dikemukakan oleh Rahmawati et al. 3:3. , bahwa pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan mereka. Oleh karena itu, guru perlu terus menyesuaikan metode pembelajaran agar setiap siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal (Rahmawati et al. , 2023:3. Keberagaman nilai dalam pembelajaran berdiferensiasi mendukung temuan Widayati et al. 3:8. yang menyatakan bahwa pendekatan ini memfasilitasi perbedaan siswa secara terbuka, memungkinkan mereka belajar secara natural dan efisien dengan dukungan metode yang sesuai (Widayati et al. , 2023:8. Selain itu, keterlibatan aktif siswa juga berperan penting dalam meningkatkan hasil belajar, sebagaimana dikemukakan oleh Maghfiroh et al. Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. , yang menyoroti bahwa siswa yang terlibat langsung dalam eksplorasi konsep cenderung memiliki pemahaman lebih mendalam. Guru tidak hanya perlu menyusun strategi pembelajaran yang tepat, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendorong partisipasi aktif siswa. Penggunaan teknologi juga dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran Asmayani et al. menyebutkan bahwa platform daring, video interaktif, dan aplikasi edukasi membantu siswa mengakses materi sesuai gaya belajar mereka, memperjelas konsep yang sulit, serta meningkatkan motivasi belajar. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran berdiferensiasi menjadi solusi untuk mengatasi keberagaman pemahaman siswa dan meningkatkan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan. Simpulan Berdasarkan penelitian di atas, penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran memahami informasi teks cerita sederhana di kelas 5 SD menunjukkan hasil yang cukup positif meskipun menghadapi beberapa tantangan. Aktivitas siswa yang mencakup tes diagnostik gaya belajar, diferensiasi isi, proses, dan produk, serta pengelolaan waktu dan fokus, mencapai pencapaian sebesar 86,67%. Di SDN 1 Balun Turi. Lamongan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi terlaksana dengan sangat baik, mencapai skor 93,57% dari skor Pembagian kelompok berdasarkan gaya belajarAivisual, auditori, dan kinestetikAi membantu siswa memahami materi lebih baik sesuai dengan cara belajar mereka. Guru menggunakan asesmen diagnostik untuk mengidentifikasi gaya belajar siswa, menyampaikan materi sesuai kebutuhan mereka, serta menerapkan asesmen formatif dan sumatif guna memantau perkembangan pemahaman siswa. Berbagai strategi diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan siswa, seperti tugas yang disesuaikan dengan gaya belajar, misalnya membuat mind map bagi siswa visual atau menceritakan kembali isi cerita bagi siswa Secara keseluruhan, pembelajaran berdiferensiasi berdampak positif terhadap hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai 72,78, meskipun masih ada beberapa siswa yang memerlukan perhatian lebih dalam mencapai pemahaman yang lebih mendalam. Daftar Pustaka