Volume 7 Nomor 2, pp 71-88, 2024 DOI: https://doi. org/10. 33005/jedi. ISSN (Onlin. : 2614-2384 Journal of Economics Development Issues URL:http://JEDI. id/index. php/JEDI Pengaruh Bonus Demografi. IPM, dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 Indri Ratnasari1 nC. Hapsari Wiji Utami2 Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jl. Ahmad Yani No. Jemur Wonosari. Kec. Wonocolo. Surabaya. Jawa Timur 60237. Indonesia Received: 12 08 2024 . Published: 22 11 2024 ABSTRACT The aim of this research is to find out whether there is an influence of the demographic bonus. HDI and the Open Unemployment Rate on the Poverty Level in Pintukertosusila in 2017-2020. The data analysis was carried out using a quantitative approach using a panel data regression model, where the testing was carried out using Eviews 10 The data used was secondary data sourced from the East Java Central Statistics Agency, as well as other sources that are credible and relevant to the research. The results of this research are that first the demographic bonus. HDI and the open unemployment rate each have a partial influence on the poverty level in Gatekertosusila in 2017-2020 and secondly the demographic bonus. HDI and the open unemployment rate have a simultaneous influence on the poverty level in Gatekertosusila in 2017-2020. Keywords: Demography bonus. Human Development Index. Open Unemployment Rate. Poverty level. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yakni agar bisa diketahui adakah pengaruh bonus demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020. Dilakukannya penganalisisan data mempergunakan pendekatan kuantitatif yang memakai model regresi data panel yang mana dalam melakukan pengujiannya menggunakan software Eviews 10. Data yang digunakan yakni data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Jawa Timur, serta sumber lain yang kredibel dan relevan dengan riset. Hasil penelitian ini yakni pertama bonus demografi. IPM dan tingkat pengangguran terbuka masing-masing ada pengaruh secara parsial pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila tahun 2017-2020 dan kedua bonus demografi. IPM dan tingkat pengangguran terbuka mempunyai pengaruh yang secara simultan pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila tahun 2017-2020. Kata kunci: Bonus Demografi. Indeks Pembangunan Manusia. Tingkat Kemiskinan. Tingkat Pengangguran Terbuka How to cite: Ratnasari. , & Utami. Pengaruh Bonus Demografi. IPM, dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020. Journal of Economics Development Issues, 7. , 71Ae88. https://doi. org/10. 33005/jedi. nC Corresponding author email: indryratnas76908@gmail. This is an open-access article under the CC-BY License Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. PENDAHULUAN Gabungan dari kawasan yang terdiri dari perkotaan seperti Gresik, lalu Bangkalan, kemudian Mojokerto. Surabaya. Sidoarjo, hingga Lamongan, serta sebagian dari wilayah Perairan Pesisir di Provinsi Jawa Timur ini disebut dengan Kawasan Perkotaan Gerbangkertosusila yakni sebuah kawasan strategis yang memiliki sudut kepentingan pada pertumbuhan ekonomi. Adapun tujuan dari penataan ruang pada kawasan perkotaan Gerbangkertosusila yakni agar menjadikan kawasan perkotaan tersebut sebagai salah satu pusat ekonomi kelautan hingga perekonomian nasional yang mana bisa memiliki daya saing terhadap global, tertib, terpadu, serta aman, dimana daya dukung lingkungan dan berkelanjutan akan tetap (Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, 2. Adapun peraturan yang mendukung terbentuknya Kawasan Gerbangkertosusila atau GKS yakni termuat didalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1996 yang membahas tentang RTRW Nasional serta terdapat Perda Nomor 4 Tahun 1996 yang mengatur mengenai RTRW Nasional. (Puspitasari et al. , 2. Definisi mengenai kemiskinan sendiri yaitu suatu hal yang kompleks serta memiliki sifat yang multidimensional dimana membutuhkan tindakan penanggulangan sebab kemiskinan itu sendiri sebuah agenda yang penting bagi negara, terlebih lagi Suistainable Development Goals (SDGAo. tujuan yang utamanya yakni masalah kemiskinan. Adapun beragam riset yang sudah pernah dilakukan agar dapat membantu menurunkan angka tingkat kemiskinan melalui pembuatan kebijakan serta mencari peluang melalui peran demografi. Terdapat suatu pembahasan yang mana adanya sebuah relevansi dari komponen variabel demografi, dimana menunjukkan hasil apabila angkat tingkat fertilitas yang meningkat dapat membuat angka tingkat kemiskinan meningkat pula, sehingga berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi yang ada. (Febryanna, 2. Pada tahun 2020 berdasarkan data hasil Sensus Masyarakat, banyaknya jumlah masyarakat yang ada di Indonesia bahkan menembus angka 270 juta orang. Terdapat tahun yang memiliki tingkat pertumbuhan masyarakat yang semakin tinggi yaitu terjadi di tahun 1971 sampai 1980 dengan mencapai rata-rata dari pertumbuhan sebesar 2,4 persen per tahun. Maka bisa diprediksi jika jumlah masyarakat nantinya bertambah menjadi 294,11 juta jiwa di tahun 2030, serta diperkirakan di tahun 2040 jumlah masyarakat Indonesia bahkan bisa menggapai angka 312,51 juta jiwa. Pada tahun yang akan datang tepatnya di tahun 2030 sampai 2040, diperkirakan Indonesia akan mengalami masa bonus demografi. Bonus demografi sendiri bermakna sebagai suatu masa yang mana masyarakat yang berusia produktif antara 15-64 tahun memiliki jumlah yang lebih besar dari pada masyarakat yang berusia non produktif yakni usia 65 tahun ke atas, dengan rasio lebih dari 60 persen dari Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. jumlah masyarakat yang ada di Indonesia. (Kominfo, 2. Pada saat ini usia masyarakat Indonesia yang menginjak usia produktif bahkan mencapai lebih dari 70 persen dari seluruh jumlah masyarakat Indonesia. Usia yang mana masyarakat masih aktif dalam bekerja, dengan ini masa produktif yang bisa dimanfaatkan untuk memperoleh pendapatan disebut dengan usia produktif (Ikhsani, 2. Karena di tahun 2030 diperkirakan Indonesia menghadapi era bonus demografi, maka Indonesia butuh memastikan jika pertumbuhan di bidang ekonomi nantinya harus diimbangi dengan banyak menciptakan lapangan pekerjaan sebab hal ini bisa meminimalkan tingkat pengangguran yang ada serta kesejahteraan masyarakat lebih meningkat. Namun, dilain sisi masih ada kemungkinan terjadinya ketimpangan dalam sosial-ekonomi yang harus diatasi agar dapat membendung ketegangan sosial serta potensi adanya konflik. Karena hal inilah, sangat penting untuk fokus terhadap usaha untuk mewujudkan tujuan dari SDGs yang ke-16, yakni mengenai perdamaian, lalu keadilan serta kuatnya kelembagaan. (Damanik, 2. Sejak tahun 1971, presentase masyarakat yang berusia produktif yakni di usia 15 hingga 64 tahun terus mengalami peningkatan. Proporsi pada masyarakat yang berada di uisa produktif pada tahun 1971 mencapai angka 56,34 persen berasal dari jumlah populasi serta mengalami peningkatan di tahun 2020 menjadi 71,65 persen. Pada gambar 2, dapat dilihat apabila terdapat perbedaan yang tajam di tahun 2020 antara presentase masyarakat yang berusia produktif dengan masyarakat yang non produktif yakni berusia 65 tahun keatas. Dengan hal ini, maka menunjukkan jika Jawa Timur masih dalam era bonus demografi sebab presentase masyarakat yang usianya non produktif akan lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang usianya produktif. (BPS JawaTimur, 2. Bonus demografi apabila pengelolaanya kurang benar maka menimbulkan permasalahan yang cukup serius. Adapun berbagai macam permasalahan yang timbul seperti tingkat pengangguran yang tinggi, lambatnya pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan yang meningkat serta tingkat kriminalitas yang meningkat pula. Solow dalam Setiawan menyampaikan jika masyarakat terus mengalami pertumbuhan nantinya akan memiliki dampak yang negatif maupun positif. Dengan demikian, perlu mengambil berbagai kebijakan supaya dapat memaksimalkan banyaknya masyarakat yang berusia produktif sebagai pemanfaatan dari pertumbuhan masyarakat sebagai sumber daya yang positif. (S. Setiawan, 2. Dengan melakukan peningkatan pada kapasitas dasar para masyarakat dengan tujuan supaya dapat memperluas peluang mereka agar bisa ikut andil dalam proses pembangunan inilah maksud dari pembangunan sumber daya manusia baik secara fisik ataupun mental. Todaro menyelaskan mkasud dari kapasitas dasar ialah terdapat tiga nilai pokok dalam keberlangsungan pembangunan ekonomi agar berhasil yang terdiri dari kecukupan . lalu jati diri . serta kebebasan . Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi tidak selalu bisa menanggulangi persoalan mengenai kesejahteraan seperti halnya tingginya tingkat kemiskina serta luasnya taraf hidup masyarakat, dengan ini maka perlu dan pentingnya pembangunan terhadap manusia. Adapun didalam upaya pembangunan manusia, cara untuk mengukur hasil dari kinerja suatu wilayah atau negara itu menggunakan Human Development Index atau yang biasa disebut dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). (Sugiharto. Adapun target utama dalam pembangunan yang harus diturunkan yakni tingkat pengangguran. Ada berbagai ukuran yang mana bisa dipergunakan untuk mengukur tingkat pengangguran salah satunya yaitu tingkat pengangguran terbuka. TPT atau tingkat penanguran terbuka ialah rasio antara banyaknya jumlah orang yang mencari kerja dengan jumlah dari angkatan kerja, data ini biasanya berbentuk persen. Tingkat pengangguran terbuka sendiri dapat mengindikasikan mengenai presnetasi masyarakat dalam usia kerja itu masuk dalam kategori penangguran di suatu wilayah. (Noviatamara et al. , 2. Gerbangkertosusila memang merupakan kawasan metropolitan dengan Surabaya yang mana sebagai pusatnya pertumbuhan serta pembangunan, namun kawasan Gerbangkertosusila ini masih kecil dalam penurunan angka kemiskinan daripada di kawasan lain. Sebab, kawasan ini masih terfokus akan tingginya pencapainan pada pertumbuhan ekonomi namun tidak diimbangi dengan kekayaan serta naiknya taraf hidup masyarakat yang merata di berbagai kawasan Gerbangkertosusila. Dengan ini, penelitian dilakukan dengan harapan bisa andil ikut memberikan solusi kepada pemerintah Provinsi Jawa Timur guna menurunkan tingkat kemiskinan khususnya di kawasan Gerbangkertosusila. Oleh sebab itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisi terkait ada tidaknya pengaruh variabel bonus demografi. IPM serta tingkat pengangguran terbuka pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila selama tahun 2017 hingga 2020. Yang mana memiliki tujuan untuk, pertama, mengetahui variabel bonus demografi. IPM dan tingkat pengangguran terbuka berpengaruh secara parsial pada tingkat kemiskinan. kedua, mengetahui variabel bonus demografi. IPM dan tingkat pengangguran terbuka berpengaruh secara simultan pada tingkat kemiskinan. KAJIAN LITERATUR Bonus Demografi Gribbel dalam Setiawan menjelaskan, jika bonus demografi ialah suatu pertumbuhan ekonomi yang mengalami percepatan yang mana hasil dari menurunya tingkat kematian serta kesuburan dari suatu negara dan juga merupakan suatu perubahan selanjutnya yang mana berawal dari perubahan struktur usia dari populasi. Dimana setiap tahun terdapat penurunan terhadap tingkat kelahiran, maka nantinya menyebabkan jumlah masyarakat yang berusia di bawah usia produktif akan mengalami pertumbuhan yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan populasi masyarakat di usia kerja. Dengan sedikitnya jumlah masyarakat yang berusia lanjut maka negara akan mempunyai jendela peluang . indow of opportunit. yang mana hal ini bisa berdampak baik pada cepatnya pertumbuhan ekonomi apabila kebijakan mengenai sosial dan ekonomi bisa direncanakan dengan benar serta berinvestasi terhadap hal yang lebih diperlukan. (S. Setiawan, 2. Adioetomo dalam Saumana memberikan penjelasan mengenai bonus demografi dapat dikatakan sebagai keuntungan yang bernilai ekonomis sebab rasio ketergantungan yang mengalami penurunan sebagai akibat dari turunnya angka fertilitas dalam jangka panjang. Penyebab menurunnya transisi dari demografi maka butuh untuk memperhitungakan faktor dari tingkat mortalitas serta fertilitas. Usia masyarakat yang non produktif sekarang mengalami pergeserean distribusi ke usia yang produktif sehingga membuat investasi yang dahulunya untuk pemenuhan kebutuhan para masyarakat muda didalam populasi maka bisa dialihkan pada pembangunan terhadap ekonomi serta kesejahteraan untuk keluarga. Dalam memperhitungkan bonus demografi maka digunakannya rasio ketergantungan atau dependency Rasio ketergantungan ialah suatu rasio atau perbandingan antara total populasi pada non usia kerja Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. hingga 14 tahun serta 65 tahun ke ata. yang mana dengan total populasi pada usia kerja . hingga 64 (Saumana et al. , 2. Indeks Pembangunan Manusia Pada tahun 1996 United Nation Development Program atau UNDP pertama kali mempublikasikan konsep yang membahas tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) lewat Human Development Report, yang setiap tahun selalu berlanjut. Pembangunan manusia dalam publikasi tersebut diartikan sebagai Aua process of enlarging peopleAos choicesAy yang memiliki makna suatu mekanisme yang dapat memajukan aspek kehidupan pada masyarakat. Yang dimaksud dengan aspek kehidupan ini yaitu usia yang panjang serta hidup yang sehat, lalu memadainya tingkat pendidikan serta layaknya standar hidup. (M. Setiawan & Hakim, 2. Indeks Pembangunan Manusia sendiri yaitu suatu indeks komposit dimana seuai pada tiga indikatornya diantaranya yaitu untuk mengukur kesehatan sebagai indikator angka harapan hidup, lalu untuk mengukur tingkat pendidikan sebagai indikator angka melek huruf para masyarakat yang dewasa serta indikator rata-rata lama sekolah, dan yang terakhir yakni untuk mengukur standar hidup masyarakat yang layak dengan indikator pendapatan per kapita. (BPS, 2. Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian yang sudah dijelaskan mengenai indeks pembangunan manusia maka IPM sendiri yaitu melakukan pengembangan terhadap sumber daya manusia agar berkualitas dengan memberikan akses dan fasilitas kepada pendidikan yang baik, selain itu tersedianya pelatihan untuk keterampilan dalam bekerja dengan tujuan dapat memberikan peningkatan pada ekonomi yang berkelanjutan. Diharapkan dengan ini akan memiliki dampak jangka panjangnya pada pembangunan ekonomi suatu negara serta berkelanjutan agar dapat menaikkan tingkat indeks pembangunan manusia sehingga kualitas sumber daya manusia suatu negara juga meningkat. (Saparuddin. Ari, 2. Tingkat Pengangguran Terbuka Pengangguran terbuka sendiri ialah masih bagian dari suatu angkatan kerja yang sedang tidak bekerja atau tengah mencari sebuah pekerjaan, atau yang tengah menyiapkan suatu usahanya, mereka tidak berusaha untuk mencari pekerjaan sebab mereka berpikir tidak akan menemukan pekerjaan serta yang sudah mendapatkan pekerjaan tetapi mereka masih belum untuk memulai pekerjaannya. Banyaknya jumlah tenaga kerja yang aktif di dalam suatu perekonomian namun belum juga mendapatkannya disebut dengan pengangguran. (Zurisdah, 2. Terciptanya pengangguran terbuka ini diakibatkan karena banyaknya kesempatan dalam melaksankan pekerjaan yang lebih rendah daripada pertambahan untuk tenaga yang bekerja. Sehingga semakin banyak tenaga buat bekerja yang mana tidak mendapatkan pekerjaan dalam perekonomian. Keadaan ini memberikan efek pada jangka panjanganya nanti mereka tidak melakasanakan pekerjaan, sehingga dengan nyata dan waktu sepenuhnya mereka menganggur. (Gani, 2. Kemiskinan Suatu kondisi yang dialami oleh suatu individu maupun kelompok orang yang mana tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan untuk hidupnya hingga taraf manusiawi disebut dengan kemiskinan. Adanya kondisi yang terpinggirkan, tidak mempunyai rasa yang bebas serta ketidakberdayaan juga arti dari Namun. Kuncoro dalam Zurisdah menyebutkan jika ketidaksanggupan dalam pemenuhan standar hidup yang minimum itu disebut dengan kemiskinan. Sedangkan Kartasasmita menjelaskan jika suatu kemiskinan itu suatu masalah yang ada pada pembangunan yang ditandai dengan adanya pengangguran serat keterbelakangan sehingga membuat ketimpangan menjadi meningkat. (Zurisdah. Menurut penjelasan Amartya Sen dalam Aidha dimana menjelaskan mengenai konsep kemiskinan dengan capability approach atau pendekatan kapabilitas yang menyatakan apabila sesorang dapat dibilang miskin jika tengah mengalami kekurangan pada kebebasan substantifnya yaitu pada kesempatan Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. dan rasa aman. Sehingga seseorang tersebut menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan atau menjadi sesuatu yang bernilai. (Aidha, 2. Sedangkan Todaro dan Smith dalam Pramesti dan Utomo menyebutkan jika negara itu tergantung pada dua faktor penting mengenai tinggi dan rendahnya tingkat kemiskinan yakni pada tingkat pendapatan nasional rata-rata serta tingkat kesenjangan pada distribusi pendapatan. Jika suatu negara tingginya tingkat pendapatan per kapita tercapai namun jika tidak meratanya distribusi pendapatan maka akan memperparah ringkat kemiskinan negara tersebut, dan (Pramesti & Utomo, 2. Fenomena kemiskinan yang melanda Indonesia bisa memiliki arti sebagai kondisi bahwa adanya ketidakmampuan pada individu, kelompok bahkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup yang Misalnya dengan memperoleh pendidikan yang kurang atau rendah maka bisa menimbulkan pengangguran karena warga tidak bisa bekerja bahkan masih terdapat masyarakat yang masih belum menjangkau program layanan dari pemerintah sehingga mengalami kesulitan dalam pemenuhan (Rustanto, 2. Sutainable Development Goals (SDG. Pada Agenda 2030 yang bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan merupakan bentuk perubahan dalam pemabangunan baru yang mana sudah bergeser ke arah pembangunan yang lebih berkelanjutan yang mana berpediman pada hak asasi manusia serta kesetaraan supaya pembangunan ekonomi, sosia serta lingkungan hidup terdorong. (Bappenas, 2. Suatu pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang secara berkelanjutan, suatu pembangunan yang menjadikan kehidupan sosial masyarakat tetap berkelanjutan, suatu pembangunan yang melindungi kualitas pada lingkungan hidup dan suatu pembangunan yang mana keadilan terjamin serta tata kelola yang terlaksana untuk menjaga kualitas hidup satu genersai ke generasi kedepannya terjaga. (Damanik, 2. Pada Sustainable Development Goals itu terdapat 17 tujuan, yang diantaranya memiliki tujuan yang berbunyi Perdamaian. Keadilan, dan Kelembagaan yang tangguh dimana ini merupakan tujuan yang Pada ketiga elemen ini memiliki arti jika aturan hukum dan pembangunan memiliki hubungan yang penting serta saling memperkuat, maka penting dalam andil untuk pembangunan yang berkelanjutan baik di tingkat nasional bahkan internasional. Hal ini sangat berkaitan erat dengan tantangan yang ada di Indonesia saat ini yaitu bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030 mendatang. (Damanik, 2. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. METODOLOGI PENELITIAN Dalam riset ini penggunaan metode penelitiannya mempergunakan deskriptif kuantitatif. Terdapat alasan menggunakan metode ini sebab data berwujud angka, lalu analisis data juga bersifat statistik. Dalam penelitian kuantitatif ini sangat erat berkaitan dengan angka atau kuantitas. Penelitian dilaksanakan di kawasan Gerbangkertosusila yakni kawasan Gresik. Bangkalan. Mojokerto. Surabaya dan Sidoarjo. Penggunaan datanya yakni data sekunder yang mana diperoleh di tahun 2017 hingga pada tahun 2020, dimana data ini berasal dari BPS untuk bagian Jawa Timur berupa Bonus Demografi. IPM. Tingkat Pengangguran Terbuka serta Tingkat Kemiskinan. Selain itu, terdapat juga sumber lain seperti artikel jurnal, buku, undang-undang serta sumber lainnya yang kredibel dan relevan untuk penelitian ini. Dalam melakukan pengumpulan data yakni melalui menghimpun ataupun mengunduh data dari BPS Provinsi di Jawa Timur sendiri yang mana meliputi data mengenai Bonus Demografi. IPM. Tingkat Pengangguran Terbuka serta Tingkat Kemiskinan selama tahun 2017 hingga 2020. Pemakaian untuk teknik analisis pada datanya berupa data panel. Data panel yang disertakan terdiri dari dua set data yakni time series serta cross-section. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model regresi data panel yang ujinya dilaksanakan oleh software Eviews 10. Alat analisis tersebut diperuntukan dalam memperoleh informasi yang mana relevan pada pengaruh antara variabel independen (X) pada variabel dependen (Y). Bentuk persamaan model penelitiannya yakni: Tingkat Kemiskinanit = yu0 yu1Bonus Demografiit yu2IPMit yu3Tingkat Pengangguran Terbukait yeIit AA. Sebuah variabel yang dinyatakan dalam bentuk persentase yang mana menyatakan mengenai masyarakat yang miskin ini disebut dengan variabel untuk Tingkat Kemiskinan, lalu Bonus Demografi adalah jumlah masyarakat usia produktif yakni 15-64 tahun dengan satuan jiwa dalam data ini menggunakan data dari Rasio Ketergantungan dengan satuannya persen. IPM merupakan Indeks Pembangunan Manusia yang mana dalam satuannya itu berupa angka indeks. Tingkat Pengangguran Terbuka sendiri itu satunnya yakni persen. Riset ini melampirkan data terkhusus untuk kawasan Gerbangkertosusila pada tahun 2017 hingga tahun 2020. Riset ini mempergunakan analisisnya pakai metode Panel Least Square dimana PLS menggunakan tiga pendekatan yakni Uji Common Effect Model, lalu Uji Fixed Effect Model, dan Uji Random Effect Model. Setelah itu, diperlukan Uji Chow dan Uji Hausman untuk menentukan model manakah yang dipilih antara CEM. FEM, atau REM. Setelah diketahui model mana yang dipilih, kemudian dilanjutkan dengan Uji Asumsi Klasik. Setelah lolos dari semua Uji Asumsi Klasiknya maka dilanjutkan dengan membuat persamaan regresi dan untuk uji yang berikutnya meliputi uji t, lalu uji F, serta koefisien determinasi dengan tujuan agar diketahui kebaikan dari modelnya. Common Effect Model (CEM) ialah suatu pendekatan pada model data panel sebab dua data yang digabungkan yakni data deret waktu serta silang. Pada teknik ini dapat dibilang tidak memprediksi bermacam dimensi yang ada, sehingga dapat diasumsikan apabila data yang digunakan sama pada periode yag sama pula. (Nandita et al. , 2. Pada teknik FEM yakni Fixed Effect Model ini mempergunakan variabel dummy dimana variabel ini dapat memungkinkan jika terjadi perubahan di dalam intersept deret waktu serta deret silang yang diakibatkan adanya perubahan yang ditiadakan. (Elok & Wardono, 2. Jika Random Effect Model (REM) memiliki manfaat untuk mengatasi persoalan yang mana disebabkan oleh Fixed Effect Model. Pada data panel, model untuk fixed effect dengan variabel dummy akan menyebabkan masalah pada derajat kebebasan dimana hilang dari model. Lalu, variabel dummy ini bisa mengaburkan model yang aslinya. Sehingga, model random effect dapat dipakai untuk mengestimasi. (Hutagalung & Darnius, 2. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL ESTIMASI Analisis Pada Regresi Data Panel Kemudian, langkah selanjutnya yaitu diperlukan untuk menguji menggunakan Uji Chow agar dapat diketahui model regresi yang baik antara Uji Common Effect Model dengan Uji Fixed Effect Model. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Dalam Uji Chow maka dapat disimpulkan memilih Fixed Effect Model (FEM) karena prob. cross section F < 0,05 dimana . ,0000 kurang dari 0,. dan prob. cross-section Chi-square < 0,05 . ,0000 kurang dari 0,. Kemudian, selanjutnya yakni Uji Hausman agar dapat menentukan untuk menggunakan Uji Fixed Effect Model atau Random Effect Model. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Dalam Uji Hausman dapat disimpulkan memilih Uji Random Effect Model karena prob. cross-section randonya > 0,05 . ,3139 > 0,. Uji Asumsi Klasik Dilihat dari nilai probabilitynya yang normal karena bernilai lebih dari 0,05 dengan angka 0,443901 > 0,05 maka didapatkannya hasil jika data ini berdistribusi normal. Diperoleh nilai korelasi antar variabel independent kurang dari 0,8 maka dapat kesimpulannya yakni tidak terjadi multikolinearitas. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Diketahui nilai probabilitas C sebesar 0,1991. Bonus Demografi sebesar 0,2535. IPM sebesar 0,1984. Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 0,1590. Jadi, nilai konstanta dan ketiga variabel independen tesebut memiliki nilai probabilitas > 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas. Deteksi Autokorelasi: Diketahui jika N: 28. Nk: 3 dan DW: 1. Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Berdasarkan analisis tersebut dapat diketahui bahwa uji autokorelasi memberikan hasil bahwa tidak adanya autokorelasi. Maka, pengujian dapat dilanjutkan dengan Uji Parsial (T) dan Uji Simultan (F). Koefisien Determinasi Nilai adj. R2 sebesar 0,659506 . , bermakna bahwa 65,95% itu dari variasi Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka yang mampu mempengaruhi Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila dan sisanya yaitu sebesar 34,04% dipaparkan oleh variabel-variabel lain tidak ada dalam riset kali ini. Hipotesis Penelitian: Ho: Tidak ada pengaruh Bonus Demografi pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun Ha: Ada pengaruh Bonus Demografi pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 20172020 . Ho: Tidak ada pengaruh IPM pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 . Ha: Ada pengaruh IPM pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 . Ho: Tidak ada pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 Ha: Ada pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 . Ho: Tidak ada pengaruh simultan Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 . Ha: Ada pengaruh simultan Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 Uji Parsial atau Uji T Sesuai dengan Tabel 8 diatas, dihasilkan apabila nilai thitung 1,18102 O 2,06390 ttabel sesuai dengan kriteria pada pengujian, maka H0 ditolak sedangkan Ha diterima, untuk nilai pada probnya 0,2492 > 0. dimana hal ini bermakna secara parsial variabel bonus demografi punya pengaruh negatif akan tetapi tidak signifikan pada tingkat kemiskinan. Diperoleh koefisien pada variabel (X. terhadap (Y) yakni sebesar 0,343705 sehingga dapat dijelaskan, apabila bonus demografi mengalami pertambahan sebesar 1 persen maka membuat turunnya tingkat kemiskinan menjadi 0,343 persen, tetapi dalam penurunannya itu tidak signifikan, dan sebaliknya. Pada variabel IPM terhadap tingkat kemiskinan mendapatkan nilai thitung -3,14273 < 2,06390 ttabel, sesuai dengan kriteria pada pengujian, maka H0 diterima Ha ditolak, serta sesuai nilai pada probnya 0044 < 0. 05 dimana berarti secara parsial IPM memiliki pengaruh yang negatif serta signifikan pada tingkat kemiskinan. Diperoleh koefisien pada variabel (X. terhadap (Y) yakni -0. 588764 maka bisa diartikan jika IPM mengalami pertambahan sebanyak 1 persen maka membuat tingkat kemiskinan mengalami penurunan 0,588 persen. Yang mana dengan asumsi variabel bebasnya (X. dan (X. Pada variabel tingkat pengangguran terbuka pada tingkat kemiskinan mendapatkan hasil dengan nilai pada thitung 3,01389 > 2,06390 ttabel, maka Ha diterima H0 ditolak, serta berdasarkan nilai probnya 0. < 0. 05 hal ini memberikan makna jika tingkat pengangguran terbuka ini secara parsial memiliki pengaruh yang positif serta signifikan. Diperoleh koefisien pada variabel (X. pada (Y) = 0,173792, maka bisa diartikan jika (X. mengalami pertambahan sebanyak 1 persen maka membuat (Y) juga mengalami peningkatan sebanyak 0,173 persen dengan berpikir jika variabel bonus demografi serta IPM itu tetap. Uji Simultan atau Uji F Sesuai pada Tabel 8, menggunakan tingkat nyata = 0, 05 kemudian dengan derajat bebas yakni df1 = k-1=3-1= 2 dan df2 = n-k-1= 28-3-1= 24. Maka diperoleh hasil jika Ftabel = 3,403. Dan nilai Fhitung= 18,43217 > Ftabel= 3,403, maka dapat diberikan kesimpulan apabila Ha diterima dan H0 ditolak, ini Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. menunjukkan jika secara simultan pada variabel bebas ada pengaruh yang signifikan pada variabel terikat. Ada pengaruh simultan Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 dan persamaan regresi dinyatakan fit. PEMBAHASAN Pengaruh Bonus Demografi Terhadap Tingkat Kemiskinan Pada hasil dari uji t bonus demografi secara parsial memiliki pengaruh yang negatif namun tidak signifikan pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila pada tahun 2017 hingga 2020. Hal ini karena nilai thitung 1,18102 O 2,06390 ttabel serta berdasarkan nilai probnya 0,2492 > 0. Hasil dari koefisien bonus demografi terhadap tingkat kemiskinan yakni sebesar 0,343705, sehingga dapat disimpulkan jika bonus demografi bertambah sebesar 1 persen menjadikan tingkat kemiskinan turun sebanyak 0,343 persen, namun tidak signifikan penurunannya, begitu juga sebaliknya. Terdapat beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengambil benefit dari window of opportunity atau jendela peluang yang ada sebab bonus demografi. Dengan tingginya pertumbuhan ekonomi yang terwujud sebab berkualitasnya sumber daya manusia sehingga bisa mendorong bertumbuhnya ekonomi lewat naiknta pendapatan per kapita suatu negara sebab tingginya kesempatan kerja yang produktif. Mudahnya tenaga kerja yang terserap juga menjadi faktor yang penting dalam memanfaatkan era bonus demografi sebab jika tingginya tingkat kebutuhan akan tenaga kerja maka membuat berkurangnya tingkat pengangguran serta pesatnya peningkatan akan kesejahteraan masyarakat. Terdapat peningkatan pada jumlah tabungan yang ada di tingkat rumah tangga, apabila tiap rumah tangga mempunyai potensi untuk membuka usaha yang mana dapat membuka lapangan kerja untuk orang lain maka hal ini bisa meminimalkan tingkat pengangguran. Tak lupa jika peran perempuan apabila masuk dalam pasar tenaga kerja bisa ikut menaikkan pendapatan sehingga jumlah masyarakat yang berusia produktif terserap dengan optimal di pasar tenaga kerja. Pengaruh IPM Terhadap Tingkat Kemiskinan Pada pengujian IPM secara parsial ada pengaruh yang negatif serta signifikan pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila di tahun 2017 hingga 2020. Hal ini karena nilai thitung -3,14273 < 2,06390 ttabel serta berdasarkan nilai probnya 0. 0044 < 0. Hasil dari koefisien IPM terhadap tingkat kemiskinan yakni sebesar -0. 588764, sehingga dapat disimpulkan jika IPM mengalami pertambahan sebanyak 1 persen maka membuat tingkat kemiskinan mengalami penurunan 0,588 persen. Yang mana dengan asumsi variabel bebasnya (X. dan (X. Tingkat kemiskinan yang berkurang sebab IPM mengalami peningkatan maka dapat disimpulkan jika IPM bisa menaikkan produktivitas kerja manusia sehingga bisa menaikkan pendapatan meraka agar bisa hidup dengan layak. Riset kali ini sama dengan riset yang dilaksanakan oleh Sofilda dkk tahun 2013 yang mana memberikan kesimpulan jika IPM mempunyai pengaruh yang negatif namun signifikan pada tingkat kemiskinan yang ada di Kabupaten/kota di Provinsi Papua. Adapun penelitian dari Prasetyoningrum dan Sukmawati tahun 2018 juga mempunyai hasil yang sama jika IPM ada pengaruh yang signifikan tetapi negatif pada tingkat kemiskinan yang terdapat di Indonesia. (Prasetyoningrum. Pernyataan dari Apriliyah S. Napitupulu dalam Sayifullah dan Gandasari, jika dalam penurunan pada jumlah masyarakat yang miskin terdapat pengaruh dari IPM. Terdapat indikator komposit dalam IPM yakni angka untuk harapan hidup, lalu angka pada melek huruf, serta pendapatan per kapita. Adanya kenaikan pada sektor kesehatan dan juga pendidikan serta pada pendapatan per kapita akan menghasilkan kontribusi terhadap pembangunan manusia, hal ini bisa berdampak positif sebab kualitas manusia jika semakin tinggi pada suatu daerah maka jumlah masyarakat yang miskin bisa berkurang. (Sayifullah & Gandasari, 2. Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. Tingkat pengangguran terbuka sendiri secara parsial ada pengaruh yang positif namun tidak signifikan pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila di tahun 2017 hingga 2020. Hal ini karena nilai thitung 3,01389 > 2,06390 ttabel serta berdasarkan nilai probnya 0. 0060 < 0. Hasil dari koefisien tingkat pengangguran terbuka pada tingkat kemiskinan yakni sebesar 0,173792, sehingga dapat disimpulkan jika tingkat pengangguran terbuka pertambahan sebanyak 1 persen maka membuat (Y) juga mengalami kenaikan sebanyak 0,173 persen dengan berpikir jika variabel bonus demografi serta IPM itu tetap. Adapun hasil penelitian mengenai tingkat pengangguran terbuka yang memberikan pengaruh pada kemiskinan yang mana juga didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Adi & Arka di tahun 2018, lalu oleh Aristina. Kembar , & Darsana, di tahun 2017, kemudian oleh Hu & Giuliano pada tahun 2017, serta oleh Yanthi & Marheni pada tahun 2015, dimana penelitan yang mereka lakukan memberika kesimpulan jika pengangguran terbuka memiliki hasil yang sama dengan riset kali ini yakni pengangguran terbuka berpengaruh pada tingkat kemiskinan. Menurut Teori dari Harod Domarr dalam Made dan Yuliarmi menjelsakan jika investasi dapat meningkatkan kapasitas dari produksi. Jika kapasitas produksi dari suatu perusahaan meningkat maka permintaan akan tenaga kerja juga meningkat yang mana jika asumsi fullemployment . engerjaan penu. (Made & Yuliarmi, 2. Pengaruh Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 Pada Uji F didapatkan hasil signifikansi F hitungnya yaitu 18,43217 sehingga nilai Fhitung = 18,43217 > Ftabel = 3,403 serta dengan nilai probabilitas F-statistic sebesar 0,000002 < 0,05 jadi dapat disimpulkan Ha diterima dan H0 ditolak, ini berarti secara simultan variabel bebas berpengaruh secara positif dan signifikan pada variabel terikat. Ada pengaruh simultan Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020. Hal ini terjadi sebab adanya interaksi kompleks antara berbagai faktor ekonomi dan sosial yang mempengaruhi tingkat Bonus demografi yang besar dapat meningkatkan tekanan pada pasar tenaga kerja, apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup serta peningkatan kesempatan kerja maka dapat meningkatkan tingkat pengangguran dan akibatnya menjadi kemiskinan. Sama halnya denga IPM, jika tingkat IPM rendah maka bisa berkontribusi pada kemiskinan dengan mengurangi akses masyarakat terhadap layanan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan yang layak. Kemiskinan juga bisa menyebabkan rendahnya IPM sebab masyarakat tidak memenuhi kebutuhan dasarnya. Pada tingkat pengangguran yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan kemiskinan sebab kurangnya peluang pekerjaan. Namun, tingkat pengangguran terbuka di suatu wilayah selama periode tertentu, ini bisa terindikasi dapat meningkatkan tingkat kemiskinan. SIMPULAN Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan pada Uji t apabila bonus demografi secara parsial terdapat pengaruh dimana bernilai negatif akan tetapi tidak signifikan pada tingkat kemiskinan di Gerbangkertosusila di tahun 2017 hingga 2020. Hal ini karena nilai thitung 1,18102 O 2,06390 ttabel serta sesuai nilai pada probnya 0,2492 > 0. IPM secara parsial terdapat pengaruh yang bernilai negatif serta signifikan pada tingkat kemiskinan karena nilai thitung -3,14273 < 2,06390 ttabel serta berdasarkan nilai pada probnya 0. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka secara parsial ada pengaruh yang positif akan tetapi tidak signifikan pada tingkat kemiskinan karena nilai thitung 3,01389 > 2,06390 ttabel serta berdasarkan nilai 0060 < 0. Pada Uji F diperoleh nilai Ftabel = 3,385. Dan nilai Fhitung= 18,43217 > Ftabel= 3,385, jadi kesimpulannya Ha diterima dan H0 ditolak, ini bermakna secara simultan variabel bebas berpengaruh Indri Ratnasari. Hapsari Wiji Utami/ Journal of Economics Development Issues Vol. 7 No. signifikan pada variabel terikat. Ada pengaruh simultan Bonus Demografi. IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Tingkat Kemiskinan di Gerbangkertosusila Tahun 2017-2020 dan persamaan regresi dinyatakan fit. Sebuah aksi untuk pembangunan dalam upaya mencapai Sustainable Development Goal (SDG. khususnya yang nomor satu dimana untuk mengakhiri tingkat kemiskinan di manapun serta yang memiliki kaitan dengan kondisi demografi di Gerbangkertosusila. Jika masyarakat terus mengalami pertumbuhan namun jika tidak bisa mengelolanya dengan betul maka menimbulkan kondisi yang buruk, sebab nantiya tidak adanya keahlian serta lapangan pekerjaan pada masyarakat usia kerja. Walapun begitu, angka pada tingkat kemiskinan di Indonesia semakin mengalami penurunan maka perlu untuk melakukan pengembangan pada ualitas mutu manusianya serta lebih mengoptimalkan lagi pertumbuhan masyarakat Sebab jika berkualitasnya sumber daya manusia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lewat pendapatan per kapita yang meningkat. DAFTAR PUSTAKA