Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia 1-3Program Studi Administrasi Rumah Sakit. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Indonesia Maju *Korespondensi: Renny Yulianty. Program Studi Administrasi Rumah Sakit. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Indonesia Maju. Gedung HZ Jl. Harapan No. Lenteng Agung Jakarta Selatan E-mail: rennyyulianty88@gmail. DOI: https://doi. 70304/jmsi. Copyright @ 2025. Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia E-ISSN: 2828-1381 P-ISSN: 2828-738X Abstrak Catatan medis merupakan instrumen penting untuk pemberian perawatan klinis, evaluasi kualitas, dan peningkatan kualitas. Kelanjutan pengobatan yang lebih baik dimungkinkan dengan dokumentasi pertemuan klinis yang dipelihara dengan lebih baik. Kelengkapan rekam medis sangat penting karena mempengaruhi kualitas perawatan yang diberikan staf medis rumah sakit serta perawatan yang diterima pasien. Kepatuhan tenaga keperawatan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku petugas terhadap prosedur operasional standar yang diberlakukan pada layanan kesehatan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepatuhan tenaga keperawatan terhadap kelengkapan catatan medis pasien rawat inap di Rumah Sakit Dr. Hafiz Cianjur. Jenis penelitian yang dimanfaatkan yaitu kuantitatif dengan metode deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan tentang suatu Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi atau hubungan antara pengetahuan . ilai p = 0,. , sikap . ilai p = 0,. , dan motivasi . ilai p = 0,. dengan kepatuhan tenaga keperawatan tentang kelengkapan catatan medis pasien rawat inap di Rumah Sakit RSDH Cianjur. Kata Kunci: Catatan medis. Kepatuhan. Tenaga keperawatan Abstract Medical records are an important instrument for clinical care delivery, quality evaluation, and quality improvement. Better continuation of treatment is possible with better maintained documentation of clinical meetings. Completeness of medical records is very important because it affects the quality of care provided by hospital medical staff as well as the care received patientsthe compliance of nursing personnel can be influenced by the knowledge, attitude and behavior of the officer to the standard operational procedures imposed on the health service. This study aims to determine the compliance of nursing personnel to the completeness of medical records of inpatients in the hospital Dr. Hafiz Cianjur. The type of research used in this study is quantitative with descriptive methods that aim to make a picture or descriptive of a situation. The results of the study showed that there was a correlation or relationship between knowledge . value = 0. , attitude . value = 0. , and motivation . value = 0. with the compliance of nursing staff regarding the completeness of medical records of inpatients at the RSDH Cianjur Hospital. Keywords: Medical records. Compliance. Nursing personnel Pendahuluan Catatan medis merupakan instrumen penting untuk pemberian perawatan klinis, evaluasi kualitas, dan peningkatan kualitas. Kelanjutan pengobatan yang lebih baik dimungkinkan dengan dokumentasi pertemuan klinis yang dipelihara dengan lebih baik. Rekam medis mencakup informasi tentang penyakit yang perlu dilaporkan serta pola penyakit lain, yang berguna untuk pengawasan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, rekam medis sangatlah penting untuk pengambilan keputusan klinis, sistem kesehatan masyarakat, dan pemberian layanan kesehatan modern . Penelitian di Tanzania menyebutkan bahwa lebih dari 50% catatam medis rawat inap memiliki 3 atau lebih bagian yang dianggap tidak lengkap, mengenai masing-masing bagian, dokter yang bertugas, prosedur, dan ringkasan harian yang paling tidak Ada sejumlah bagian dari catatan medis rawat inap yang belum diselesaikan secara memadai, audit rutin sangat penting untuk kemajuan berkelanjutan dalam perawatan pasien . Kemampuan untuk menilai diagnosis pasien secara akurat, jalannya terapi, dan aktivitas medis lainnya membuat rekam medis sangatlah penting untuk perawatan pasien. Sementara itu, tenaga kesehatan diharuskan membuat rekam medis sesuai dengan undang-undang yang Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya wajib menyediakan layanan rekam medis lengkap . Permenkes tahun 2022 menjelaskan bahwa AuRekam Medis adalah dokumen yang berisikan data identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasienAy. Rekam medis adalah sumber informasi utama yang berisi data pribadi medis dan pasien, rekam medis memainkan fungsi penting di rumah sakit dan pengaturan perawatan kesehatan lainnya . Menurut Permenkes tahun 2022 menyebutkan bahwa Auperkembangan teknologi digital dalam masyarakat mengakibatkan transformasi digitalisasi pelayanan kesehatan sehingga rekam medis perlu diselenggarakan secara elektronik dengan prinsip keamanan dan kerahasiaan data dan informasiAy . RME pada dasarnya ialah pengumpulan, penyimpanan, analisis, dan pengambilan data dari rekam medis pasien rumah sakit menggunakan alat teknologi informasi dan sistem manajemen basis data yang mengumpulkan data dari banyak sumber. Sejalan dengan perkembangan teknologi digital dan tuntutan akan pelayanan kesehatan yang lebih efisien, pengelolaan rekam medis elektronik menjadi semakin krusial. Hal ini tidak hanya untuk menjamin keamanan dan kerahasiaan data pasien, tetapi juga untuk mendukung kualitas perawatan yang diberikan. Kelengkapan rekam medis sangat penting karena mempengaruhi perawatan pasien dan standar perawatan yang diberikan oleh staf medis . Saat mengisi rekam medis, formulir yang tidak lengkap adalah masalah biasa, untuk alasan ini, sangat penting bagi staf perawat untuk melengkapi file rekam Kepatuhan tenaga keperawatan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku petugas terhadap prosedur operasional standar yang diberlakukan pada layanan kesehatan tersebut . Kelengkapan dokumentasi rekam medis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan perawat, pengetahun tersebut berbanding lurus dengan tingkatan pendidikan, diyakini bahwa yang pendidikannya lebih tinggi juga akan lebih berpengetahuan . Menurut Notoatmodjo menyatakan ada empat tingkatan sikap seseorang dalam bereaksi terhadap objek, yaitu menerima, merespon, menghargai dan bertanggung jawab. Berdasarkan penelitian sebelumnya dari Muhlizardy et al. , menyebutkan bahwa kepatuhan petugas klinis dalam kelengkapan rekam medis manual dengan diagnosa jantung primer di PKU Muhammadiyah Yogyakarta ada yang belum lengkap yaitu berjumlah 26 rekam medis . ,7%) dari 30 rekam medis . Sedangkan menurut penelitian Sari et al. , menyebutkan bahwa Kelengkapan pengisian berkas rekam medis rawat inap di RSIA Brawijaya dipengaruhi oleh peran, pengetahuan, dan kepatuhan rumah sakit secara bersamaan. Dokter-dokter di RSIA Brawijaya dianggap patuh dengan baik . Secara umum, dokter umum paham dan patuh dengan SOP yang sudah ditentukan oleh administrasi rumah sakit. Penggunaan singkatan medis dan tulisan yang tidak terbaca adalah yang paling tidak lengkap. Menurut wawancara, beberapa dokter dalam hal ini masih tidak yakin tentang singkatan mana yang termasuk dalam rekam medis dan mana yang tidak. Studi Pendahuluan yang dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Hafiz (RSDH) Cianjur pada bulan Juni tahun 2024 didapatkan data bahwa pada bulan Maret dari total 2. 064 berkas rekam medis, ada 464 . ,4%) yang tidak lengkap, pada bulan April dari total 2. 055 berkas, ada 338 . %) yang tidak lengkap, pada bulan Mei dari total 2. 289 berkas, ada 217 . ,4%) yang tidak Hasil wawancara awal dengan kepala instalasi keperawatan sering ditemukan rekam medis yang tidak lengkap, petugas medik tidak pernah mengikuti pelatihan terkait rekam medik, hukuman belum dijatuhkan karena tidak melengkapi dokumen rekam medik secara lengkap. SOP pengisian dokumen rekam medik terbatas pada seksi rekam medik, artinya sebagian petugas mungkin tidak mengingat isi SOP dan mungkin tidak menjalankannya dengan benar, dan petugas baru lebih aktif dan melengkapi dokumen rekam medik lebih teliti dibandingkan petugas lama. Tujuan penelitian untuk mengetahui kepatuhan tenaga keperawatan terhadap kelengkapan catatan medis pasien rawat inap di Rumah Sakit Dr. Hafiz Cianjur. Metode Penelitian ini memanfaatkan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk suatu situasi. Objek penelitiannya yakni mengetahui angka kelengkapan berkas rekam medis di Rumah Sakit Dr Hafiz Cianjur. Populasinya ialah perawat sejumlah 70 orang. Sampel yaitu bagian dari populasi yang ditelitinya, atau bagian dari ciri-ciri yang dimiliki populasi . Penelitian ini menggunakan teknik total sampling, teknik pengambilan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan sampel. Sampel penelitian ini berjumlah 70 responden. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Dr Hafiz Cianjur yaitu pada unit rekam medis dan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 selama 2 minggu. Pengumpulan data untuk kepatuhan tenaga kesehatan menggunakan kuesioner dengan membahas pengetahuan, sikap dan motivasi tenaga keperawatan . Sebelum melakukan pengambilan data atau wawancara kepada informan, peneliti terlebih dahulu meminta persetujuan . nformed consen. Uji validitas ialah suatu pengukuran menunjukkan besarnya validitas suatu instrumen. Uji reliabilitas instrumen kuesioner mengukur keandalan yang mengacu pada seberapa tepat dan kredibel suatu alat untuk digunakan dalam mengumpulkan Perhitungan atau metode cronbach alpha digunakan untuk uji reliabilitas pada penyelidikan ini. Variabelnya dianggap reliabel apabila nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6. Analisis data menggunakan analisis univariat suatu teknik untuk melakukan analisis data independen terhadap satu variabel. Karakter keadaan peristiwa yang diteliti merupakan tujuan dari analisis univariat yang disebut dengan statistik deskriptif atau analisis deskriptif. Pengetahuan, sikap, dan motivasinya merupakan variabel yang diteliti secara univariat. Dengan memanfatkan uji statistik, analisis bivariat dijalankan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan dependennya. Uji statistiknya yaitu uji korelasi rank spearman dikerjakan dengan memanfaatkan software SPSS. Rank Spearman diperlukan untuk menemukan hubungannya ataupun untuk menguji signifikasi hipotesis asosiatif apabila tiap variabel yang dihubungkannya berbentuk ordinal. Dalam menentukan tingkat kekuatan hubungan antar variabel, dapat berpedoman pada nilai koefisien korelasi yang merupakan hasil dari output SPSS dengan ketentuan korelasi sebesar 0,00 - 0,25 = hubungan sangat lemah, koefisien korelasi sebesar 0,26 - 0,50 = hubungan cukup, koefisien korelasi sebesar 0,51 - 0,75 = hubungan kuat, koefisien korelasi sebesar 0,76- 0,99 = hubungan sangat kuat dan koefisien korelasi sebesar 1,00 = hubungan sempurna. Hasil Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kararakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pendidikan, lama Kerja. Tingkat pengetahuan. Sikap. Motivasi, dan Kepatuhan Variabel Katagori 25 Ae 30 Tahun 31 Ae 35 Tahun Laki-Laki Perempuan D3 keperawatan S1 Keperawatan Profesi Ners 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun >5 Tahun Kurang Baik Baik Kurang Baik Baik Kurang Baik Baik Tidak Patuh Patuh Usia Jenis Kelamin Pendidikan Lama Kerja Tingkat Pengetahuan Sikap Motivasi Kepatuhan Tenaga keperawatan Berdasarkan tabel di atas tersebut bisa terlihat bahwa mayoritas usianya 25-30 tahun, sejumlah 41 responden atau 58,6%, sedangkan yang lain usianya 31-35 tahun, sejumlah 29 respoden atau 41,1%. Mayoritas responden 44 orang atau 62,9% dari total adalah perempuan, melebihi banyaknya responden laki-laki yakni 26 orang atau 37,1% dari total. Mayoritas responden dengan tingkat pendidikan D3 Keperawatan yaitu 40 responden atau 57,1%, lebih bnyak dibandingkan dengan responden dengan tingkat pendidikan S1 Keperawatn sejumlah 18 orang atau 25,7% dan responden dengan tingkat pendidikan Profesi Ners sejumlah 12 orang atau 17,1%. Mayoritas lamanya bekerja >5 tahun yaitu 17 responden atau 24,3%. lebih banyak melebihi responden dengan waktu lama kerja kerja 4 tahun yaitu 12 responden atau 17,1%. Responden dengan lamanya kerja 3 tahun dan 2 tahun yaitu 16 orang atau 22,9% dan responden dengan lamanya kerja 1 tahun yaitu 9 orang atau 12,9%. Mayoritas responden mempunyai pengetahuan yang baik yaitu 39 orang atau 55,7% lebih banyak melebihi responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik yaitu 31 orang atau 44,3%. Mayoritas responden mempunyai sikap yang baik yaitu 38 orang atau 54,3% lebih banyak melebihi responden yang mempunyai sikap kurang baik yaitu 32 orang atau 45,7%. Mayoritas responden mempunyai motivasi yang baik yaitu 45 orang atau 64,3% lebih banyak melebihi responden yang mempunyai motivasi kurang baik yaitu 25 orang atau 35,7%. Mayoritas responden mempunyai kepatuhan yang baik yaitu 40 orang atau 57,1% lebih banyak melebihi responden yang mempunyai kepatuhan yang kurang baik yaitu 30 orang atau 42,9%. Tabel 4. Uji Rank Spearman Variabel Pengetahuan Sikap Motivasi Kepatuhan Correlation Coefficient Sig. -taile. 0,274 0,022 0,306 0,010 0,559 0,000 Berdasarkan tabel diatas menunjukan nilai uji statistiknya yakni uji Rank Spearman diperoleh hasilnya dari 70 responden. Bahwa Pengetahuan dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,274 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya ialah cukup. Sementara itu, nilai signifikansi 0,022 apablia nilai sig 0,022 < 0,05 terdapat korelasi ataupun hubungan pengetahuan dengan kepatuhan tenaga keperawatan tentang kelengkapann rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,274 yang mana arah hubungan penelitiannya positif, maka diinterpretasikan bahwa makin tinggi pengetahuan maka makin tinggi kepatuhan tenaga Untuk sikap dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,306 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya ialah cukup. Nilai signifikansi 0,010 apablia nilai sig 0,010 < 0,05 terdapat korelasi ataupun hubungan sikap dengan kepatuhan tenaga keperawatan tentang kelengkapan rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,306 yang mana arah hubungan penelitiannya positif, sehingga diinterpretasikan bahwa makin tinggi sikap maka makin tinggi kepatuhan tenaga keperawatan. Sementara itu, motivasi dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,559 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya ialah Nilai signifikansi 0,000 apabila nilai sig 0,000 < 0,05 terdapat korelasi ataupun hubungan motivasi dengan kepatuhan tenaga keperawatan tentang kelengkapan catatan medis pasien rawat inap di rumah sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,559 yang mana arah hubungan penelitiannya positif, sehingga diinterpretasikan makin tinggi motivasi maka makin tinggi kepatuhan tenaga keperawatan. Pembahasan Usia Berdasarkan data yang diperoleh bahwa mayoritas responden yang usianya 25-30 tahun ada 41 orang atau 58,6%. Hal tersebut selaras dengan penelitian yang menyebutkan bahwa sebagian besar usia perawat atau responden adalah usia produktif kerja yaitu 25 tahun, banyaknya perawat usia produktif kerja dengan usia 25 tahun . Menurut Saptanty yang mengatakan bahwa Orang cenderung menjadi lebih dewasa, stabil, dan teguh seiring bertambahnya usia, yang memberi mereka perspektif yang lebih realistis. Tenaga kesehatan dalam situasi ini seharusnya lebih bertanggung jawab dalam hal melengkapi rekam medisnya secara lengkap . Jenis Kelamin Berdasarkan data yang diperoleh bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan ada 44 orang atau 62,9%. Menurut penelitian salah satu variabel . mempengaruhi cara orang memandang kemampuan dan keterampilan mereka sendiri, temuan tersebut menunjukkan bahwa wanita mengisi lebih banyak formulir rekam medis daripada pria karena jumlahnya lebih banyak daripada pria . Pendidikan Berdasarkan data yang ditemukan bahwa responden dengan tingkatan pendidikan D3 Keperawatan yaitu 40 orang atau 57,1%. Perawat berpendidikan lebih tinggi juga cenderung memiliki lebih banyak pengalaman dan perspektif yang lebih matang, yang membantu mereka membedakan antara yang baik dan yang buruk. Temuan penelitian ini mendukung teori Wawan dan Dewey bahwa pendidikan dapat memengaruhi perilaku seseorang, terutama dalam hal mengisi rekam medis, pendidikan tinggi umumnya membuat orang lebih terbuka terhadap informasi baru. Lama Bekerja Berdasarkan data yang didapatkan bahwa mayoritas responden dengan lamanya bekerja > 5 tahun yaitu 17 orang atau 24,3%. Bekti menyatakan bahwa dibandingkan dengan karyawan yang baru mulai bekerja, perawat dengan pengalaman kerja atau lama masa kerja lebih banyak biasanya menunjukkan tingkat kepuasan kerja, motivasi, dan kualitas kerja yang lebih tinggi, dengan kata lain, kepuasan kerja, motivasi, dan kualitas perawat akan meningkat seiring dengan bertambahnya masa kerja mereka . Pengetahuan Berdasarkan data yang diperoleh mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik yaitu 39 orang atau 55,7%. Berdasarkan hasil dari kuesioner rata-rata perawat mampu menjawab pertanyaan dengan nilai >75% didapatkan data bahwa tingkat pengetahuan perawat sudah baik. Sesuai dengan penelitian Jeys Boris temuan studi pengetahuan perawat rawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2022 menggunakan kuisioner dengan kategori rendah dan tinggi mengungkapkan bahwa 35 perawat . ,4%) memiliki pengetahuan kategori tinggi, sedangkan 22 perawat . ,6%) memiliki pengetahuan kategori rendah. Menurut data yang dikumpulkan oleh para peneliti di RS Santa Elisabeth Medan pada tahun 2022, kategori pengetahuan tertinggi. Pengetauan ialah hasil dari panca indera seseorang, atau proses di mana seseorang belajar sesuatu dari panca inderanya, menurut Notoatmodjo dalam Dengan demikian, pengetahuan mencakup semua informasi yang dipelajari seseorang melalui panca inderanya. Kompetensi dan kepatuhan seseorang dapat dipengaruhi oleh pengetahuannya, semakin berpengetahuan maka, semakin mampu dan patuh. Peraturan yang jelas harus dibuat untuk mendorong modal pengetahuan yang tinggi untuk mendorong kepatuhan . Sikap Berdasarkan data yang diperoleh mayoritas responden memiliki sikap yang baik yaitu 38 orang atau 54,3%. Berdasarkan hasil dari kuesioner perawat mampu menjawab pertanyaan dengan nilai >75% didapatakan data bahwa sikap perawat sudah baik. Hal tersebut selaras dengan temuan Deva Eddy menyebutkan bahwa Mayoritas perawat di RSUD Klungkung memiliki sikap positif, terbukti dari 113 . ,7%) responden yang mempunyai sikap positif dan 27 . ,3%) responden yang mempunyai sikap negatif. Sikap positif perawat menunjukkan bahwa mereka mengikuti SOP dan melengkapi rekam medis pasien dengan benar. Meskipun perawat telah melakukan tindakan keperawatan, individu dengan sikap negatif di sini masih dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan jika tindakan tersebut tidak didokumentasikan dalam rekam medis atau jika pelaporan dalam rekam medis tidak akurat . Azwar menegaskan bahwa sikap adalah cara menilai atau menanggapi emosi. Sikap seseorang terhadap suatu objek merupakan ekspresi dari perasaannya terhadap objek tersebut. Pengalaman pribadi, dampak dari budaya, media, lembaga pendidikan dan keagamaan, serta unsur-unsur emosional merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana sikap Tingkat kepatuhan seseorang tidak selalu dipengaruhi oleh sikapnya karena mereka dapat mempertahankan sikap positifnya meskipun tidak ada kebijakan, dan hal itu tidak berpengaruh pada kepatuhannya terhadap penyelesaian file rekam medis . Motivasi Berdasarkan data yang diperoleh bahwa mayoritas responden mempunyai motivasi yang baik ada 45 orang atau 64,3%. Berdasarkan hasil dari kuesioner rata-rata perawat mampu menjawab pertanyaan dengan nilai >75% terdapat data bahwa motivasi perawat sudah baik. Temuan penelitian ini sejalan dengan Lunga yang melaporkan bahwa mayoritas responden yang masuk dalam kategori motivasi tinggi berjumlah hingga 22 . ,5%) lebih banyak dibandingkan mereka yang masuk dalam kategori motivasi rendah, yang jumlahnya mencapai 15 . ,5%). Motivasi yang kuat diperlukan untuk setiap pekerjaan agar bersedia menyelesaikan tugas dan melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan cara yang hidup, antusias, dan berkomitmen. Proses mendemonstrasikan tingkat intensitas, fokus, dan ketekunan individu dalam mengejar tujuan dikenal sebagai motivasi. Kami berkonsentrasi pada tujuan kerja dan perilaku yang terkait dengannya, meskipun motivasi secara umum mengacu pada upaya untuk mencapai tujuan . Kepatuhan Tenaga Keperawatan Berdasarkan diperoleh bahwa mayoritas responden memiliki kepatuhan yang baik yaitu 40 orang atau 57,1%. Berdasarkan hasil dari kuesioner rata-rata perawat mampu menjawab pertanyaan dengan nilai >75% didapatakan data bahwa kepatuhan tenagan keperawatan sudah Penelitian ini sesuai dengan Fitra menyebutkan bahwa mayoritas responden yakni 74 orang atau 68,5% mematuhi persyaratan rekam medis. Meskipun demikian, masih ada perawat yang tidak patuh dalam mengisi rekam medis pasien saat menerima perawatan. Hal ini disebabkan karena perawat belum sepenuhnya memahami dan mengetahui cara melengkapi dokumen rekam medis. Perilaku profesional perawat dalam kaitannya dengan pedoman, proses, atau aturan yang harus mereka ikuti dikenal sebagai kepatuhan perawat. Perilaku seorang profesional terhadap pedoman, proses, atau aturan yang harus diikuti dikenal sebagai kepatuhan perawat. Perilaku kepatuhan bersifat sementara karena, dengan adanya pengawasan, akan terus berlanjut. Akan ada perilaku ketidakpatuhan jika supervisi dikurangi atau dihilangkan. Jika para profesional kesehatan sendiri memandang perilaku kepatuhan ini dengan baik, itu akan menjadi yang terbaik . Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Tenaga Keperawatan Tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit RSDH Cianjur Pengetahuan dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,274 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya cukup. Sementara itu nilai signifikansi 0,022 apabila nilai sig 0,022 < 0,05 maka terdapat korelasi ataupun hubungan pengetahuannya dengan Kepatuhan Tenaga keperawatan tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,274 yang mana arah hubungannya positif, sehingga diinterpretasikan, makin tinggi pengetahuan maka makin tinggi kepatuhan tenaga keperawatan. Pengetahuan diperoleh melalui pendidikan ataupun pengalaman yang asalnya dari bermacam sumber. Penelitian dan pengalaman telah menunjukkan bahwa perilaku berbasis pengetahuan lebih mungkin bertahan daripada perilaku berbasis ketidaktahuan. Setelah perolehan pengetahuan, motivasi dapat berfungsi sebagai dasar kepatuhan . Hubungan Sikap Dengan Kepatuhan Tenaga Keperawatan Tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit RSDH Cianjur Sikap dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,306 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya cukup. Sementara itu, nilai signifikansi 0,010 apabila nilai sig 0,010 < 0,05 maka terdapat korelasi ataupun hubungan sikapnya dengan Kepatuhan Tenaga keperawatan tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,306 yang mana arah hubungan penelitiannya positif, maka diinterpretasikan, makin tinggi sikap maka makin tinggi kepatuhan tenaga keperawatan. Faktor penting dalam pembentukan tindakan seseorang adalah sikap. Sikap responden harus dikembangkan agar dapat bertindak atau mengambil tindakan dengan cara yang lebih konstruktif, selain mengetahui bagaimana berperilaku. Oleh karena itu, keinginan untuk bertindak atau cenderung bertindak adalah sikap itu . Penelitian ini sesuai dengan Deva Eddy menyebutkan bahwa Hasil penelitian tentang hubungan pendapat perawat mengenai kelengkapan rekam medis pasien rawat jalan menunjukkan hasil analisis P sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti pendapat perawat tentang kelengkapan rekam medis pasien rawat jalan di RSUD Klungkung saling berhubungan . Hubungan Motivasi Dengan Kepatuhan Tenaga Keperawatan Tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit RSDH Cianjur Motivasi dengan kepatuhan tenaga keperawatan diperoleh nilai correlation coefficient 0,559 maksudnya interpretasi kekuatan korelasinya kuat. Sementara itu, nilai signifikansi 0,000 apabila nilai sig 0,000 < 0,05 maka terdapat korelasi atau hubungan motivasinya dengan Kepatuhan Tenaga keperawatan tentang Kelengkapan Catatan Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit RSDH Cianjur. Nilai correlation coefficient 0,559 yang mana arah hubungan penelitiannya positif, sehingga diinterpretasikan, makin tinggi motivasinya maka makin tinggi kepatuhan tenaga keperawatan. Hermiati juga mengatakan bahwa Bila seorang karyawan berpikir bahwa kerja keras akan menghasilkan penilaian kinerja yang positif, mereka cenderung akan berusaha lebih keras. Promosi, bonus, kenaikan gaji, dan tunjangan organisasi lainnya yang memenuhi tujuan individu akan mengikuti kinerja yang baik. Kepatuhan dan motivasi berkorelasi langsung. artinya, semakin termotivasi seorang perawat, semakin patuh mereka. Dua sumber berkontribusi pada pembentukan motivasi: lingkungan dan diri sendiri . Penelitian ini sesuai dengan Lunga menyebutkan bahwa hasil penelitian memperlihatkan bahwa responden dengan motivasi kerja tinggi mempunyai tingkat kepatuhan yang besarnya 72,2%, sedangkan responden dengan motivasi kerja rendah memiliki tingkat kepatuhan yang besarnya 94,7%. Responden tersebut adalah tenaga kesehatan di Puskesmas Kedungkandang. Motivasi kerja dan kepatuhan untuk mengisi berkas rekam medisnya di Puskesmas Kedungkandang memiliki hubungan yang signifikan, didasarkan hasil uji Chi Square yang memperlihatkan nilai P yang besarnya 0,000 < 0,05 . Kesimpulan Studi ini memperlihatkan bahwa ketaatan perawat terhadap pemenuhan dokumen rekam medis pasien rawat inap di RSUD Dr. Hafiz Cianjur secara nyata dipengaruhi oleh unsur pengetahuan, pandangan, serta dorongan internal . , yang masing-masing memiliki hubungan positif dengan tingkat kekuatan sedang hingga tinggi. Hasil ini menegaskan urgensi perlunya upaya strategis yang tak hanya berfokus pada peningkatan wawasan melalui pelatihan rutin, melainkan juga mencakup penguatan etika profesi dan peningkatan semangat kerja melalui pemberian insentif maupun penghargaan. Implikasi praktis dari kajian ini antara lain adalah rancangan modul pelatihan berbasis kemampuan serta sistem digitalisasi pemantauan untuk mendorong ketepatan dan kelengkapan pengisian data medis. Studi ini juga berpotensi dikembangkan melalui pendekatan kuasi-eksperimen dengan rancangan pre dan post intervensi guna menilai pengaruh pelatihan atau pemberian penghargaan terhadap kedisiplinan dalam dokumentasi medis. Eksperimen yang sedang berlangsung atau direncanakan dapat melibatkan penggunaan sistem audit digital dan partisipasi aktif pengawas klinis dalam menyampaikan evaluasi secara berkala guna membangun budaya kerja yang taat dan berkelanjutan. Temuan ini memperluas wacana ilmiah di bidang keperawatan dan tata kelola rumah sakit, serta dapat dijadikan rujukan dalam merumuskan kebijakan peningkatan mutu layanan kesehatan yang lebih sistematis dan Daftar Pustaka