Jurnal Basicedu Volume 4 Nomor 3 Tahun 2020 Halm. 541- 550 JURNAL BASICEDU Research & Learning in Elementary Education https://jbasic.org/index.php/basicedu/index Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar Cahyo Dwi Andita 1, Taufina2 Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia1,2 Email: cahyodwiandita23101996@gmail.com1 , taufina@fip.unp.ac.id2 Abstrak Rendahnya hasil belajar siswa pada pembelajaran soal cerita matematika yang disebabkan oleh pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat merupakan hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Pemerolehan pembelajaran pada pokok bahasan soal cerita melalui metode Problem Solving merupakan tujuan dasar yang akan dicapai. Seluruh siswa kelas III SDN 03 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya adalah subjeknya. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan model Kemis Mc. Taggart. Pemerolehan data penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada soal cerita. Hasil tes pada siklus I nilai rata-ratanya adalah 72,29 dengan persentase ketuntasan 58,80% kemudian mengalami peningkatan pada sikus ke-dua menjadi 86,29 dengan persentase ketuntasan klasikal mencapai 82,35%. Kata Kunci: Problem solving, hasil belajar, soal cerita Abstract The research is conducted due to the students’ low achievements in accomplishing math story problems caused by selection of inappropriate learning method. The research aimed at improving students’ achievements in accomplishing Math Story Problems by using Problem Solving method. Subjects of the research were class III elementary students of SDN 03 Koto Salak, Dharmasraya regency. This is a Classroom Action research by adopting Mc.Taggart scheme. The finding of the research revealed that the use of Problem solving can improve the students’ learning achievements in accomplishing math story problem significantly. In cycle I, mean of test score was 72.29 and improved at 86.29 in cycle II. Meanwhile classical learning completeness in cycle I was 58.80% and improved at 82.35% in cycle II. Keywords: Problem Solving, learning outcomes, story problem Copyright (c) 2020 Cahyo Dwi Andita, Taufina  Corresponding author : Address : Email : cahyodwiandita23101996@gmail.com Phone : DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 ISSN 2580-3735 (Media Cetak) ISSN 2580-1147 (Media Online) Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 542 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 Pokok PENDAHULUAN Salah satu landasan berdirinya sebuah pendidikan yakni mengacu kurikulum. Kurikulum kepada adalah sebuah sekumplan bahasan yang dikuasai oleh siswa SD ialah pembelajaran soal cerita matematika, sebab pengalaman diperoleh pembelajar materi memecahkan permasalahan dan langkah-langkah dalam pelajaran matematika yang perlu diilhami dan rancangan dan peraturan terkait tujuan, isi/conten, pelajaran termuat yang melalui kegiatan akan membentuk pembelajaran yang dianut sebagai pegangan dalam pembelajar yang trampil dan tangguh dalam menerapkan langkah untuk mengatasi permasalahan yang ditemuai dalam menggapai tujuan pendidikan yang telah kehidupan nyata pembelajar (Taufina et al., 2019). ditetapkan (BSNP 2006). Layaknya sebuah Landasan pokok dalam pembelajaran matematika pendidikan, kurikulum juga memiliki tujuan yang ialah kemampuan siswa dalam memecahkan akan diwujudkan dalam proses pembelajaran permasalahan (Hidayat & Sariningsih, 2018). matematika. Seluruh siswa SD dituntut untuk memiliki pembelajaran Tujuan tersebut yakni untuk membentuk pembelajar memiliki kemampuan dan kemampuan ketrampilan membekali siswa agar terbiasa berpikir pada level dalam mengatasi problematika kehidupan yang dituangkan dalam soal-soal tinggi dalam memecahkan mengatasi keputusan masalah kesukaran atas untuk disetiap matematika, yamg kemudian dapat merancang dan pengambilan masalah yang mengetahui cara penyelesaian soal matematika dihadapi baik yang ditemuai dalam persoalan tersebut (Depdiknas 2006). matematik maupun yang berhubungan dengan Matematika adalah muatan pembelajaran permasalahan sosial (Fitri, 2016). Senada dengan yang sangat perlu dan mutlak dipelajari di sekolah- hal tersebut Husna & Burais, (2019) menyatakan sekolah formal, bahwa “pemecahan masalah dapat diartikan sebab dengan pembelajaran matematika mampu mengembangkan kemempuan sebagai sekumpulan langkah bernalar terhadap seseorang untuk menanggulangi kesukaran yang penyelesaian masalah yang ada kaitannya dengan dihadapi dalam mencapai target yang diinginkan kehidupan sehari–hari, dan mendukung kemajuan dalam belajar”. iptek dan berpengaruh (Anugraheni, besar Menurut Berdasarkan teori di atas, siswa kelas III 2006) SD, diharapkan dapat memiliki keahlian dalam “pemberian pembelajaran matematik di tingkat menyelesaikan soal cerita matematika serta dapat dasar memiliki misi untuk membentuk pembelajar mengembangkan kemampuannya dalam mengolah yang mempunyai keahlian dalam memahami pola pikir dan logika dalam bentuk latihan konsep matematika, dan menerapkan ilmu tersebut pemecahan soal dan menunjukkan hasil belajar secara tepat” selanjutnya, kegiatan “membiasakan matematika yang baik. Namun pada kenyataannya, pembelajar untuk bernalar menggunakan pola pikir data yang diperoleh peneliti dalam observasi di dan logika agar trampil dalam memecahkan SDN 03 Koto Salak khususnya kelas IIIb persoalan-persoalan yang diberikan dalam bentuk menunjukkan bahwa, latihan pemecahan soal matematika merupakan menganggap sulit, dan tujuan dari membelajarakan ilmu matematik di mempelajari soal cerita tingkat dasar” (Imelda, 2018). ditemukan data yang menunjukkan hasil belajar (PERMENDIKNAS No 2019). yang dipakai 22 Tahun sebagian besar siswa jenuh saat matematika, serta merasa matematikanya rendah. Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 543 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 Tabel 1. Persentase pencapaian belajar siswa kelas IIIb KKM Jumlah Jumlah Jumlah Siswa Siswa Siswa yang yang Tun Belum Tas Tuntas 75 17 6 Persen tase Siswa yang Tuntas 11 35,30% Persentase Siswa yang Belum Tuntas 64,70% Sumber: Dokumen Wali Kelas III SDN 03 Koto Salak Tahun Ajaran 2017/2018 pada praktik/penerapan (Huda, 2017). Semakin sering siswa melakukan praktik atau latihan dalam menganalisis soal, maka akan semakin mudah dan terbiasa menghadapai penyelesaian soal cerita matematika serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ke arah yang lebih baik lagi. Keterlibatan seorang siswa dalam pembelajaran dan bimbingan dari seorang pendidik merupakan Berdasarkan Tabel 1. dapat diketahui bahwa aktif ciri darimetode problem solving (Djamarah, 2010). dari jumlah siswa kelas III B yakni 17 siswa, Orientasi dalam metode problem solving, hanya terdapat 35,30% atau setara dengan 6 siswa peran guru lebih banyak ditekankan untuk menjadi saja yang tuntas dan memenuhi KKM pada motivator dan fasilitator yang akan memberikan pembahasan soal cerita matematika. Batas nilai bantuan siswa dalam membandingkan cara/metode minimum yang telah ditentukan untuk dipakai di satu sama lain, mencarikan solusi permasalahan sekolah tersebut adalah 75. Maka dari itu, sangat dan seterusnya, sehingga dengan metode problem jauh solving (pemecahan masalah) siswa dapat terlibat dari kata optimal yang patut untuk menggambarkan kondisi ataupun keadaan siswa langsung dalam memberikan kesan mendalam bagi pembelajran kemampuannnya untuk menyelesaikan persoalan cerita pada pembelajaran matematika. Salah satu metode yang mampu kedalam pembelajaran yang akan siswa di kelas. Siswa dapat menganalisis masalah pada soal cerita matematika dengan cara memberikan dampak positif terhadap peningkatan menuliskan hasil belajar siswa pada soal cerita matematika ditanyakan dalam soal cerita tersebut. Apabila adalah metode problem solving. Djamarah (2010) sudah ditemukan maka siswa dapat membuat mengungkapkan bahwasannya “di dalam metode operasi problem solving (pemecahan masalah) tidak hanya memecahkan menuangkan tentang bagaimana langkah-langkah daripada itu semua kemempuan pembelajar juga mengajar, tentang dapat dilatih dalam menghasilkan pemikiran yang bagaimana berpikir dalam memecahkan suatu kritis demi pencapaian suatu mufakat untuk jalan masalah menggunakan beberapa metode yang keluar masalah. tetapi juga mengajarkan apa yang hitung diketahui matematikanya persoalan dan serta tersebut. yang dapat Kemudian diawali dengan memahami masalah, mencari Bertolak dari hasil observasi yang dilakukan data/keterangan menguji kebenaran jawaban dan peneliti dengan walikelas III SDN 03 Koto Salak, sampai kepada penarikan kesimpulan”, selanjutnya menginformasikan Murray, Olivier dan Human (dalam Huda, 2017) pembelajar dalam penyelesaian persoalan berbasis berpendapat bahwa “Problem Solving Learning masalah matematika dikarenakan peserta didik (Pembelajaran pemecahan masalah) adalah sebagai tersebut salah satu cara pembelajaran yang mengangkat penyelesaian persoalan cerita tersebut dan merasa maslah sebagai topik utamanya”. Metode Problem kesulitan saat mengubah kalimat bahasa kedalam Solving Learning lebih banyak diterapkan pada operasi hitung matematika. Hal ini dikarenakan pelajaran matemamtika dan lebih menekankan guru belum dalam bahwa memahami megajarkan ketidakmampuan langkah-langkah pokok bahasan Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 544 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 pembelajaran penyelesaian cerita dan bahkan ada salah satu siswa yang memperoleh matematika tidak menggunakan metode problem nilai maksimum yaitu 100 dan nilai terendahnya solving, alasannya karena guru tersebut kurang 40. Dalam penelitiannya dijelaskan ada 6 siswa memahami langkah-langkah dari metode problem atau setara 21% yang tidak tuntas dan 22 siswa solving tersebut. Padahal seharusnya seorang guru ataau setara 79% yang telah tuntas hasil belajarnya yang mengajarkan matematika juga harus memiliki pada pembelajaran matematika. Sehingga secara kompetensi keseluruhan pembelajaran dapat dikatakan sudah dalam persoalan bidang matematika dan memiliki percaya diri yang kuat agar mampu tercapai, karena lebih dari 70% yaitu 79%. menghantarkan peserta didik pada keberhasilan Senada dengan hal tersebut Sakadius et al., pembelajaran (Daharnis et al., 2019). Berdasarkan (2017) hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwasanya bahwa beradasarkan data yang telah terkumpul pemilihan metode yang diterapkan oleh guru dapat diketaui bahwa dalam mengerjakan soal selama ini dianggap belum mampu menjawab cerita matematika menggunakan metode problem pokok solving pada pembelajaran matematika keahlian permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dialami oleh siswa selama ini. dalam peneliatannya mengungkapkan pembelajar kelas IV SDN 21 Kubu setiapsiklus Pada kegiatan penyampaian pokok bahasan meningkat. Persentase peningkatan dari siklus soal cerita, hendaknya pendidik dapat menerapkan yang pertama ke siklus yang ke-dua mencapai 7,69 metode problem solving agar si pembelajar % yakni dari 63,85% menjadi 71, 54 %, dan besar terbiasa dalam memecahkan masalah-masalah persentase meningkatnya siklus ke-dua ke siklus yang dihadapinya, dan memiliki kemampuan serta ke-tiga adalah 4,61% yakni dari 71,54% menjadi keterampilan dalam menyelesaiakan soal cerita 76,15%. matematika dengan mengikuti tahapan dari metode pemerolehan data penelitian yang dilakuan oleh problem solving yang meliputi; memahami suatu Sitorus selama dua siklus yang menginformasikan problematika, fakta/keterangan, terkait adanya pelaksanaan pembelajaran soal menentukan jawaban sementara dan menguji cerita menggunakan metode problem solving dapat kebenaran meningkatkan mencari jawaban kesimpulan. Menurut sampai kepada menarik Selanjutnya, diperkuat pemerolehan lagi belajar dengan yang Uyani, (2016) dalam mencakup tiga ranah pembelajaran. Hasil rata-rata menyimpilkan bahwa bahwa kemampuan awal sebelum diberikan tindakan pembelajran yang dilaksanakan dengan mengikuti adalah 50,90 dengan persentase 12,82% atau setara metode problem solving kemampuan HOT seluruh dengan siswa kelas VI SDN Banyu Landas pada materi pembelajaran. Rata-rata hasil belajar siswa pada geometri meningkat dalam kategori sangat baik. siklus Aktivitas penelitiannya guru satu orang saja setelah yang tuntas mendapat dalam tindakan siswa dalam kegiatan menggunakan metode problem solving meningkat menggunakan model Problem menjadi 66,40 dengan persentase 33,33% atau Solving pada materi perubahan geometri juga setara dengan 13 orang yang tuntas dalam meningkat dalam kategori baik. Selanjutnya pembelajaran soal cerita matematika, sehingga menurut penelitan yang dilakukan oleh Pagarra, terjadi peningkatan 20,51% dari pembelajaran (2016) mengungkapkan bahwa pemerolehan skor sebelum adanya tindakan. Pada siklus ke-II rata- hasil belajar siswa setelah menggunakan metode rata hasil belajar siswa meningkat kembali menjadi problem solving memperoleh skor rata-rata 84,28 77,50 dengan persentase 92,30% atau setara pembelajaran dan 5 Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – 545 Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 dengan 36 siswa yang tuntas dalam pembelajaran, tingkatan belajar siswa setelah mendapatkan sehingga diperoleh peningkatan sebesar 58,97% tindakan dari hasil pembelajaran siklus pertama ke siklus problem solving. Pada sesi observasi/pengamatan yang ke-dua (Sitorus, 2017). dilakukan menggunakan bersamaan metode dengan pembelajaran pelaksanaan Berdasarkan wawancara serta hasil kajian tindakan. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai teori dan literatur yang dilakukan peneliti dari pengajar/guru, sedangkan observasi/pengamatan beberapa penelitian relevan yang terdahulu, guru dilakukan oleh dua orang pengamat. Pengamat dan peneliti bermusyawarah bersama, hingga pertama dipilihlah metode problem solving ini sebagai mengamati aktivitas guru/peneliti, pengamat ke alternatif untuk dua adalah teman sebaya yang akan bertindak meningkatkan hasil belajar siswa pada soal cerita sebagi penngamat yang akan mengamati aktivitas keliling dan luas bangun datar di sekolah dasar. siswa. Pada kegiatan pengamatan ini peneliti yang dapat digunakan adalah seorang guru yang akan membagikan format lembar observasi menjadi dua bagian yaitu lembar observasi untuk aktifitas guru METODE Metode adalah dan lembar observasi untuk aktivitas siswa. Setiap penelitian tindakan kelas. Tempat penelitian akhir satu tindakan dilakukan pengumpulan data adalah Kabupaten terhadap tindakan yang telah dilakukan kemudian Dharmasraya dengan menjadikan seluruh siswa dianalisis untuk disimpulkan, dan dibandingkan kelas IIIb SDN 03 Koto Salak sebagai subjek yang dengan indikator keberhasilan pembelajaran dalam akan penelitian yang nantinya akan dijadikan pedoman SDN dalam 03 diteliti. penelitian Koto Alur ini Salak dalam penelitian ini menggunakan alur penelitian Kemmis dan Mc. untuk Taggart yang terdiri dari empat langkah atau selanjutnya. Sumber data dalam penelitian ini yaitu tahapan dalam pelaksanaan penelitian tindakan tes, dan hasil observasi/pengamatan. Tes yang kelas, yaitu: perencanaan, pelaksanaan/tindakan, dilakukan bertujuan untuk memperoleh data pengamatan/observasi, dan refleksi. Perencanaan tentang hasil belajar siswa. Untuk mengukur penelitian dengan pencapaian belajar maka diberikan alat untuk mempersiapkan beberapa perlengkapan mengajar, mengukur pencapaian belajar berupa pemberian seperti: a) membuat rancangan/alur pembelajaran soal tes evaluasi. yang dilakukan yaitu mengambil keputusan atas kegiatan b) menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar, c) HASIL DAN PEMBAHASAN menyediakan lembar observasi kegiatan belajar Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan mengajar dan d) mempersiapkan media yang dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga kali dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran di pertemuan, dan dalam satu sisklus tersebut terdiri kelas, serta e) menyiapkan soal tes/evaluasi pada atas siklus. Dengan melaksanakan pembelajaran sesuai meilputi; kegiatan perencanaan, pelaksanaan atau RPP yang disusun penelitian ini dilakukan oleh tindakan, peneliti dengan diawasi oleh dua orang observer Adapun yang diamati setiap siklus ialah aspek yang terdisi dari pengamat peneliti dan pengamat kegiatan guru, aspek kegiatan siswa dan hasil siswa. Sedangkan pada setiap akhir tindakan belajar. empat tahapan/langkah penelitian pengamatan/observasi, yang dan refleksi. diadakan evaluasi yang bertujuan mengukur Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – 546 Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 Tahap yang pertama yaitu perencanaan Pada kegiatan ini guru memperkenalkan kegiatan. Beberapa perlengkapan mengajar yang kepada perlu dipersiapkan dalam tahap ini, adalah: a) menggunakan metode problem solving. Adapun membuat tahapannya adalah sebagai berikut: rancangan/alur pembelajaran b) mempersiapkan lembar kerja peserta didik yang a. siswa tentang proses pembelajaran Adanya masalah akan dipakai dalam proses belajar mengajar, c) Pada tahap ini diawali dengan penjelasan menyiapkan lembar observasi kegiatan proses materi terkait cara menyelesaikan persoalan belajar mengajar yang akan dipakai oleh observer cerita pada pokok bahasan keliling dan luas dalam mengamati dan memberi penilaian terhadap bangun datar menggunakan metode problem aktivitas peneliti dan aktivitas siswa saat proses solving yang diawali dengan pemahaman pembelajaran berlangsung dalam satu siklus, dan suatu d) mempersiapkan media pembelajaran, serta e) kemudian mengumpulkan informasi atau untuk mengukur pemerolehan belajar setelah keterangan, menentukan hasil perhitungan memperoleh tindakan mengunakan maka perlu sementara, menguji kebenaran perhitungan disipakan pula soal tes/evaluasi menyiapkan butir sementara sampai pada tahap menyimpulkan soal evaluasi untuk mengukur hasil kemampuan permasalahan yang dipecahkan. Selanjutnya kognitif siswa setelah memperoleh tindakan siswa dibagi ke dalam kelompok kecil menggunakan metode pembelajaran terdiri dari tiga samapai empat siswa dan problem solving. permasalahan yang diberikan, memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tahap ke-dua yaitu pelaksanaan tindakan. b. Mencari data/keterangan Pada kegiatan awal, pembelajaran dibuka dengan Pada tahap ini guru membimbing siswa meminta rutinitas mengumpulkan data berupa data yang sebelum belajar yakni berdoa menurut agama dan diketahui dan yang ditanyakan di dalam soal kepercayaan masing-masing kemudian mengecek lembar kerja siswa dengan cara guru kedatangan peserta didik dilanjutkan dengan membacakan soal cerita dengan seksama peralatan mengajar dan meminta siswa menggaris bawahi kunci seperti, gambar dan alat peraga dan memberikan pokok permasalahan yang tertera dalam pertanyaan-pertanyaan informatif yang bertujuan penjabaran soal. Kegiatan selanjutnya, guru untuk yang mengarahkan siswa secara berkelompok kemudian dikaitkan dengan permasalahan bangun untuk dapat mencari solusi pemecahan soal, datar yang keberadaanya dekat/buming dalam menghitung keliling dan luas persegi dan kehidupan nyata. Siswa merespon guru dengan persegi panjang. Sebagian siswa langsung memberikan jawaban akan tetapi masih kelihatan mendiskusikan malu-malu karena belum ada keberanian dan rasa sekelompoknya, meskipun demikian masih percaya diri dalam diri siswa untuk menyampaikan terlihat gagasan ide dan pendapat di muka umum, maka mendiskusikan permasalahan dan lebih dari itu kegiatan dilanjutkan oleh guru dengan memilih menanamkan sikap percaya dirii berupa dorongan lainnya. mempersiapkan siswa, melakukan bebrapa mengetahui pengetahuan siswa beberapa ngobrol dengan siswa dengan teman yang teman enggan yang untuk terus belajar dalam menyampaikan gagasan di muka umum. Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 547 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 c. d. Menentukan jawaban sementara lalu melalui pertanyan-pertanyaan. Siswa Tahap ini guru mengarahkan siswa untuk menunjukkan respon yang cukup baik, hal menentukan dan menghitung jawaban ini terbukti hampir semua siswa menunjuk sementara dan meminta perwakilan tangannya, berebut ingin menjawab ketika kelompok untuk mendemonstrasikan diberi pertanyaan tentang langkah metode jawabannya ke depan kelas. Siswa yang bisa problem solving dalam memcahkan mengerjakan dengan penuh percaya diri persoalan cerita matematik. Hal menuliskan jawabannya di papan tulis dan menunjukkan terjadinya perubahan sikap menjelaskan secara lisan dengan bahasa yang sendiri. pertemuan sebelumnya. Menguji kebenaran jawaban siswa b. positif dilakukan ini pertemuan- Kegiatan inti Guru mnegoreksi ulang apa-apa saja yang Guru memaparkan penjelasaan dituliskan siswa di papan tulis secara materi cara-cara bersama-sama, kemudian mengapresiasi atas cerita matematik pada topik bangun datar hasil kerja siswa tersebut. dengan cara mengaitkannya dengan dunia memcahkan terkait persoalan nyata siswa atau sesuai dengan kehidupan Kegiatan yang dilakukan pada tahap sosial. Siswa diharapkan dapat penutupan pembelajaran ialah meminta siswa melaksanakan pembelajaran dengan lebih menyampaikan kesan dan pesan terhadap aktivitas cermat dan teliti lagi untuk menyelesaikan selama belaja dan meminta siswa menyampaikan soal cerita menggunakan langkah-langkah ringkasan terhadap materi yang baru saja selesai metode dipelajari. Selanjutnya guru memberikan informasi pembelajarannya terkait pengujian/tes yang akan diadakan pada memecahkan persoalan tidak lagi dilakukan akhir siklus. Kemudian kegiatan pembelajaran secara ditutup dengan doa bersama. dilakukan secara klasikal, guru hanya Pelaksanaan pembelajaran yang sama juga problem solving. aktivitas berkelompok. bertugas untuk Pada siswa inti dalam Pembelajaran mengarahkan dan dilakukan pada pertemuan siklus ke-II dimana membimbing siswa yang dirasa kurang dalam siklus tersebut dilakukan dalam tiga kali memahami pertemuan. Untuk lebih detailnya berikut ini akan berdasarkan step dari metode problem dipapar penjelasannya: solving serta pemberian stimulasi positif a. Kegiatan awal kepada siswa untuk senantiasa berusaha Sesi pertama ini, proses belajar dibuka oleh meyelesaikan permasalahan dalam soal guru cerita untuk dengan melaksanakan rutinitas cara tersebut. mengerjakan Selanjutnya sebelum belajar yakni membaca doa sesuai memperkuat dengan masing, dibagikanlah lembar kerja peserta didik masyarakat kepada masing-masing siswa yang memuat kepercayaan selanjutnya belajar masing mengkondisikan dengan sebuah pemeriksaan kehadiran siswa. Sebelum pembahasan keliling dan luas bangun datar kegiatan pokok belajar persoalan cerita pada siswa, dilanjutkan masuki serta pemahamann soal pokok guru untuk dikerjakan mandiri oleh siswa yakni menyampaikan lintas pembelajaran yang sendiri-sendiri. Setelah itu guru meminta Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 548 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 siswa yang telah berhasil menyelesaikan sebelumnya sebagai wujud dari hasil belajar. soal untuk maju ke depan kelas memberikan Melalui penjelasan pembelajaran teman-teman yang strategi serta dan melengkapi metode kelengkapan lainnya tentang cara penyelesaian dan cara belajar lainya perubahan tersebut dapat dilakukan. memecahkan masalah soal cerita tersebut. Tahap yang ke-tiga yaitu pengamatan Siswa c. kepada penerapan yang dan (observasi) merupakan data kualitatif dalam mengoreksi hasil pekerjaannya masing- penelitian ini, dilakukan untuk mengamati proses masing pembelajaran dan lainnya menyimak kemudian merespon dan dengan menggunakan metode menanyakan hal-hal yang belum dipahami problem solving yang berlangsung di dalam kelas, kepada teman yang mempresentasikan hasil dengan berpedoman pada kerjanya. diberikanlah Kegiatan pengamatan dilakukan secara serempak penguatan dan pembenaran atas kerja siswa dan beriringan dengan pelaksanaan tindakan. di depan kelas oleh guru. Pengamat mencermati apa saja kegiatan yang Kegiatan Akhir dilakukan peneliti dan siswa selama kegiatan Guru Setelah mengulang selesai, kembali lembar observasi. menjelaskan belajar mengajar. apa yang terjadi dalam proses materi dengan cara mengambil garis besar pembelajaran yang dilihat dari aktivitas yang pembelajaran. Menanggapi hal tersebut dilakukan guru dan siswa. siswa kemudian menayakan hal-hal yang Pengamatan yang dilakukan meliputi masih menjadi keraguan dalam belajar, beberapa aspek pengamatan selanjutnya guru memberikan penjelasan dilakukan oleh guru/peneliti, dan pengamatan hasil seperti yang tergambar dalam umpan balik agar siswa dapat menyimpulkan sendiri apa-apa saja yang telah dibelajarkan. Dilanjutkan kegiatan yang siswa dan diagram berikut ini: dengan pemberian dorongan positif kepada siswa untuk terus bersemangat dalam belajar dan meningkatkan prestasi belajar. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran tersebut diharapkan dapat memberikan perubahan dan perbaikan pembelajaran yang apik terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita keliling dan luas bangun datar. Peranan guru merupakan kunci utama Gambar 1 Capaian Aspek dalam Penelitian Melalui diagram di atas, didapatkan keberhasilan dalam pembelajaran. Sumarni (dalam informasi bahwa pengamatan aspek guru melalui Ariani & Kenedi, 2018) mengungkapkan bahwa metode problem solving mengalami peningkatan pendidik/guru harus memiliki kepiawaian dalam dari siklus I yang semula sebesar 80,90% dengan membuat rumusan tujuan pembelajaran yang jelas kategori baik menjadi sebesar 91,70% dengan dengan harapan adanya perubahan yang akan kategori sangat baik pada sikus ke-dua. Pada dilakukan sehingga akan terbentuk pula perubahan pengamatan aspek siswa melalui metode problem prilaku yang berbeda dan lebih baik dari yang solving, persentase skor yang diperoleh pada siklus Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 549 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 pertama yakni 77,30% dengan kriteria baik dan b. Masih ada beberapa siswa yang masih mengalami peningkatan pada siklus ke-dua hingga belum diperoleh kriteria sangat baik dengan persentase proses/langkah menyelesaikan soal cerita skor 91,40%. Begitu pula yang terjadi pada aspek menggunakan pemerolehan hasil pembelajaran siswa melalui karena penyampaian materi yang terlalu metode problem solving yang mengalami kenaikan cepat. dari persentase skor 58,80% kriterianya sangat c. paham Karena tentang metode sistem bagaimana problem pembelajaran solving dilakukan kurang yang diperoleh pada siklus pertama secara berkelompok ada sebagian siswa kemudian skor mengalami kenaikan pada siklus yang ke-dua menjadi sebesar 82,35% dengan kriteria sekelompoknya dari pada harus berusaha baik, seperti yang terlihat pada tabel pemerolehan bekerjasama untuk memecahkan persoalan hasil belajar di bawah ini: dalam soal cerita d. Nilai rata-rata Jumlah Siswa yang Tuntas Persentase Ketuntasan 72,29 10 58,80% Siklus 2 86,29 14 82,35% teman Ada beberapa siswa yang lalai dalam guru sehingga banyak soal yang belum terjawab. e. Siklus 1 mengandalkan penggunaan waktu yang telah diberikan oleh Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Pada Setiap Siklus Pertemuan sering Perolehan belajar siswa belum maksimal, sehingga perlu dilakukan perubahan dan perbaikan pada proses pembelajaran dan dilanjutkan pada siklus selanjutnya. Sumber: Data Hasil Penelitian di SDN 03 Koto Salak Tahun Ajaran 2017/2018 SIMPULAN Berdasarkan perolehan hasil pengamatan Berdasarkan data penelitian yang didapat ini, maka dapat disimpulkan bahwasanya terjadi oleh peneliti selama kegiatan penelitian, maka peningkatan dalam ketiga aspek pengamatan. peneliti Tahap ke-empat merupakan kegiatan dapat menyimpulkan bahwasannya pembelajaran yang dilaksanakan dengan mengikuti pengumpulan dan penyimpulan data yang sering metode disebut sebagai tahap refleksi ini dilakukan paling peningkatan pada tiga aspek pengamatan dalam akhir dan penelitian yaitu; aktivitas/kegiatan yang dilakukan pengamatan selesai. Tujuan dari tahap ini yaitu guru mengalami kenaikan dari 80,9% ke 91,7%. untuk mengetahui proses pembelajaran yang telah Aktivitas/kegiatan yang dilakukan siswa melalui terjadi sehingga tidak terulang lagi pada kegiatan metode problem solving mengalami kenaikan dari selanjutnya. pada 77,3% ke 94%. Begitu juga yang terjadi pada hasil sisklus I terlihat bahwa masih ditemukan beberapa belajar kognitif siswa yang dilaksanakan dengan kekurangan, diantaranya adalah; menerapkan a. Masih ada beberapa siswa yang terlihat mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes bingung yang didapat pada siklus satu, rata-rata nilai siswa setelah pelaksanaan tindakan Berdasarkan hasil refleksi dalam menentukan harus problem solving metode mampu problem memberi solving menggunakan rumus persegi atau persegi sebesar 72,29 panjang, 58,8% atau setara dengan 10 siswa yang tuntas ketika soal yang diberikan diwujudkan dalam soal cerita matematika. dengan persentase juga ketuntasan pada pembelajaran matematika, kemudian nilai Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 550 Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar – Cahyo Dwi Andita, Taufina DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i3.397 rata-rata siswa mengalami peningkatan pada siklus ke-dua yaitu menjadi 86,29 dengan persentase ketuntasan sebaesar 82,35 % atau setara dengan 14 siswa yang tuntas dalam pembelajaran matematika khususnya pada pembahasan soal cerita matematika. DAFTAR PUSTAKA Anugraheni, I. (2019). Pengaruh Pembelajaran Problem Solving Model Polya Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Mahasiswa. Jurnal Pendidikan (Teori Dan Praktik), 4(1), 1. https://doi.org/10.26740/jp.v4n1.p1-6 Ariani, Y., & Kenedi, A. K. (2018). Model Polya Dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Pembelajaran Soal Cerita Volume Di Sekolah Dasar. Jurnal Inspirasi Pendidikan, 8(2), 25–36. https://doi.org/10.21067/jip.v8i2.2520 BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan Daharnis, D., Nirwana, H., Ifdil, I., Afdal, A., Ardi, Z., Taufik, T., Erlamsyah, E., Alizamar, A., Fadli, R. P., Erwinda, L., Zola, N., Refnadi, R., & Fikriyanda, F. (2019). Mathematics anxiety among prospective elementary school teachers and their treatment. Journal of Physics: Conference Series, 1157(4), 1–8. https://doi.org/10.1088/17426596/1157/4/042089 Depdiknas. 2006. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 22 Tahun 2006, Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah.Jakarta: Depdiknas 8479(96)90008-8 Husna, & Burais, F. F. (2019). Penerapan Pendekatan Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Berdasarkan Level Siswa. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, 1(1), 11–20. Imelda, I. (2018). Penerapan Metode Problem Solving Dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Mata Kuliah Aljabar Dan Trigonometri. MES: Journal of Mathematics Education and Science, 3(2), 159–166. https://doi.org/10.30743/mes.v3i2.496 Pagarra, H. (2016). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Pada Siswa Kelas V SDN Kakatua Kecamatan Marisokota Makassar. Jurnal Publikasi Pendidikan, 6(3), 203–213. https://doi.org/10.26858/publikan.v6i3.2276 Sakadius, M. Y., Tahmid, S., & Uliyanti, E. (2017). Penggunaan Metode Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengerjakan Soal Cerita Pada Pembelajaran Matematika. 1–12. Sitorus, R. (2017). Penerapan Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika di Kelas IV SD Negeri Mdan Estate. 140–150. Taufina, T., Chandra, C., Fauzan, A., & Ilham Syarif, M. (2019). Development of Statistics in Elementary School Based RME Approach with Problem Solving for Revolution Industry 4.0. International Conference on Education and Technology, 382(Icet), 716– 721. https://doi.org/10.2991/icet-19.2019.172 Uyani, S. (2016). Penerapan Model Problem Solving Dalam Meningkatkan Kemampuan Hot (Higher Order Thinking) Siswa SDN Banyu Landas. Jurnal Vidya Karya, 31(1), 91–104. https://doi.org/10.20527/jvk.v31i1.3978 Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta Fitri, A. (2016). Penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah Matematika Dengan Media Prentasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita. Jurnal Sekolah Dasar, 1(1), 16–37. Jurnal Sekolah Dasar, ISSN 2528-2883 Hidayat, W., & Sariningsih, R. (2018). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Adversity Quotient Siswa SMP Melalui Pembelajaran Open Ended. Jurnal JNPM (JurnalNasional Pendidikan Matematika), 2(1), 109. https://doi.org/10.1016/S0962Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147