MELATI: Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi e-ISSN: 2828-4461 p-ISSN: 1979-9101 Vol. 40 No. 1 Juni 2023, 11Ae20 http: https://ejournal. id/index. php/melati DOI: https://doi. org/10. 58906/melati. Penerapan Strategic Thinking dalam Berwirausaha Halimatus Sakdiyah*. Moh. DaAoi Bachiar Fakultas Ekonomi. Universitas Islam Madura. Madura, 69317. Indonesia *halimatussakdiyah270@gmail. Abstract This study aims to analyze the application of strategic thinking in the development of tette chips business by entrepreneurs in Taro'an Village. Tlanakan District. Pamekasan Regency. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques are carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study indicate that tette chips entrepreneurs in Taro'an Village have applied the concept of strategic thinking in managing and developing their businesses. This application is realized through an analysis of internal and external factors of the business, then determining and choosing a strategy that is in accordance with the conditions and potentials owned. The main finding of this study is the formation of a tette chips business development strategy model based on SWOT analysis. The strategies that have been implemented include product innovation, competitive pricing, expanding cooperation networks with traders from outside the region, and utilizing social media as a means of promotion. This study contributes to providing an applicable and contextual strategic model for small-scale entrepreneurs to increase the competitiveness and sustainability of businesses based on local potential. Keywords: Entrepreneurship. Strategic Thinking. Tette Chips Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan berpikir strategis . trategic thinkin. dalam pengembangan usaha keripik tette oleh para pengusaha di Desa TaroAoan. Kecamatan Tlanakan. Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha keripik tette di Desa TaroAoan telah menerapkan konsep berpikir strategis dalam mengelola dan mengembangkan usahanya. Penerapan tersebut diwujudkan melalui analisis terhadap faktor internal dan eksternal usaha, kemudian menentukan dan memilih strategi yang sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Temuan utama dari penelitian ini adalah terbentuknya model strategi pengembangan usaha keripik tette berbasis analisis SWOT. Strategi yang telah diimplementasikan meliputi inovasi produk, penetapan harga yang kompetitif, perluasan jaringan kerja sama dengan pedagang dari luar daerah, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan model strategis yang aplikatif dan kontekstual bagi pengusaha skala kecil untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha berbasis potensi lokal. Kata Kunci: Keripik Tette. Kewirausahaan. Pemikiran Strategis Pendahuluan Industri makanan ringan di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang pesat, seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat yang mengarah pada produk-produk praktis, mudah diakses, dan beragam. Makanan ringan telah menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat, tidak hanya sebagai pelengkap konsumsi, tetapi juga sebagai bentuk ekonomi kreatif yang mampu menopang sektor UMKM. Berdasarkan data Statista . , volume distribusi makanan ringan di Indonesia mencapai 1. 357 juta kilogram pada tahun 2022, meningkat sekitar 6% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini membuka peluang luas bagi para pelaku MELATI: Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi Vol. Juni 2023: 11-20 usaha di berbagai daerah untuk memperluas pangsa pasar mereka. Hal ini menunjukkan bahwa industri makanan ringan memiliki prospek yang cerah dan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal jika dikelola secara optimal. Salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam industri makanan ringan lokal adalah Kabupaten Pamekasan di Pulau Madura, dengan produk unggulannya berupa keripik tette. Produk ini dihasilkan oleh pelaku usaha kecil di Desa TaroAoan. Kecamatan Tlanakan, yang memiliki lahan tanam singkong cukup luas dan kapasitas produksi yang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, luas lahan tanam singkong mencapai 59 hektar dan total produksi mencapai 11,74 ton. Meskipun memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, usaha keripik tette masih terkendala dalam hal pengembangan pasar dan peningkatan daya Pangsa pasar yang terbatas secara lokal, minimnya inovasi dalam pengelolaan usaha, serta kurangnya adaptasi terhadap dinamika pasar menjadi hambatan utama yang dihadapi (Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, 2. Penelitian oleh Hadi et al. menunjukkan bahwa industri keripik tette dapat menyumbang 31,72% terhadap pendapatan keluarga petani dan pengusaha lokal. Namun, terbatasnya penerapan teknologi dalam proses produksi, keterbatasan modal, serta rendahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar dan teknologi menjadi faktor penghambat utama dalam pengembangan usaha ini. Kondisi tersebut menyebabkan pelaku usaha kesulitan dalam menjangkau segmen pasar yang lebih luas dan tertinggal dalam persaingan inovasi produk maupun strategi pemasaran yang lebih modern (Adani et al. , 2021. Kuncoro, 2020. dan Tambunan, 2. Permasalahan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan pendekatan yang lebih strategis dalam pengelolaan usaha keripik tette. Pemilik usaha dituntut tidak hanya untuk mengelola produksi, tetapi juga berpikir secara sistematis dalam merumuskan strategi bisnis jangka panjang. Berbagai studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa kemampuan berpikir strategis . trategic thinkin. merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha kecil, terutama dalam menghadapi persaingan yang dinamis (Apriyanti, 2020. Henriquez-Calvo & Diaz-Martinez, 2023. dan Adani et al. , 2. Lebih lanjut Apriyanti . menekankan bahwa terdapat dua indikator utama yang membentuk pola pikir strategis pelaku usaha, yakni mindset kewirausahaan . ntrepreneurial mindse. dan kapabilitas organisasi . rganizational Entrepreneurial mindset berperan membantu pengusaha mengenali peluang, mengambil keputusan secara cepat, dan bertindak secara inovatif (Azizah, 2. Sedangkan kapabilitas organisasi memungkinkan usaha merespon perubahan lingkungan bisnis dengan cara yang adaptif dan efisien (Sitorus et al. , 2023 dan Ismail et al. , 2. Namun, penelitian-penelitian sebelumnya masih cenderung membahas masing-masing variabel tersebut secara terpisah dan belum banyak yang mengintegrasikan ketiganya yaitu strategic thinking, entrepreneurial mindset, dan kapabilitas organisasi ke dalam satu kerangka utuh yang dikaitkan langsung dengan peningkatan daya saing UMKM, khususnya pada sektor usaha berbasis potensi lokal. Kesenjangan penelitian . esearch ga. inilah yang menjadi dasar penelitian ini, yaitu belum adanya studi komprehensif yang secara simultan mengeksplorasi keterkaitan ketiga variabel tersebut dalam konteks usaha kecil berbasis pangan lokal. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan menitikberatkan pada usaha keripik tette sebagai representasi UMKM lokal yang menghadapi tantangan serupa di berbagai wilayah. Keterbaruan . yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah pengembangan model strategi peningkatan daya saing usaha Penerapan Strategic Thinking dalam Berwirausaha Halimatus Sakdiyah. Moh. DaAoi Bachiar berbasis hasil berpikir strategis ke dalam model SWOT. Model ini diharapkan dapat menjadi alat bantu aplikatif bagi pelaku UMKM dalam merumuskan strategi bisnis yang sesuai dengan karakteristik lokal, potensi sumber daya, dan dinamika pasar yang terus berubah. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik melalui pengisian celah literatur, tetapi juga berorientasi pada manfaat praktis yang dapat diimplementasikan langsung oleh pelaku UMKM dalam meningkatkan daya saing usaha mereka secara berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi berpikir strategis dalam peningkatan daya saing usaha keripik tette di Desa TaroAoan. Kabupaten Pamekasan, serta merumuskan model strategi pengembangan usaha berbasis SWOT sebagai hasil dari proses berpikir strategis pelaku usaha. Kajian Pustaka Berfikir Strategis (Strategic Thinkin. Strategic thinking merupakan pendekatan berpikir jangka panjang yang terstruktur, bertujuan tidak hanya untuk mempertahankan posisi kompetitif perusahaan, tetapi juga untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan (Nirwana & Melany, 2. Berpikir strategis ini meliputi proses-proses penting seperti perencanaan strategis dan operasional, pemetaan kekuatan dan kelemahan internal, serta segmentasi pasar yang tepat sasaran (Dionisio, 2. Kemampuan ini menuntut pelaku usaha untuk bersikap reflektif, adaptif, dan mampu mengantisipasi perubahan di lingkungan bisnis, baik yang bersifat sosial, ekonomi, maupun teknologi. Strategic thinking membantu pelaku usaha memahami lingkungan bisnisnya secara menyeluruh, baik dari sisi internal seperti kapasitas produksi dan manajemen, maupun dari sisi eksternal seperti tren pasar, perilaku konsumen, serta strategi pesaing (Ariani & Utomo, 2017. Majama & Magang, 2017. dan Krishnan Andi, 2. Implementasi berfikir strategis dalam berwirausaha Perubahan cepat dalam lingkungan bisnis global menuntut pelaku usaha untuk mengembangkan pendekatan manajerial yang tidak hanya bersifat adaptif, tetapi juga Dalam konteks ini, kemampuan berpikir strategis menjadi kompetensi utama yang diperlukan oleh wirausahawan untuk menyusun langkah jangka panjang yang relevan dan berdaya saing (Adani et al. , 2. Seperti yang dikemukakan oleh Harjito . , berpikir strategis memungkinkan pelaku usaha untuk melihat peluang di tengah ketidakpastian serta merumuskan tindakan yang tidak sekadar responsif, tetapi juga visioner. Strategic thinking melibatkan proses berpikir yang sistematis, kreatif, dan berbasis analisis terhadap dinamika lingkungan bisnis (Anaya, 2. Pendekatan ini membantu wirausahawan dalam menyusun strategi berbasis peluang pasar, menilai sumber daya internal, serta memetakan tantangan eksternal secara Dengan kata lain, berpikir strategis merupakan jembatan antara pengamatan lingkungan dan perumusan strategi bisnis yang relevan dengan kondisi nyata yang dihadapi (Conway, 2021 dan Al Humeisat, 2. Nasution . mengembangkan kerangka berpikir strategis yang terdiri dari empat tahapan utama. Pertama, market-based strategic capabilities, yaitu membentuk budaya organisasi yang berorientasi pasar, memahami dinamika kebutuhan MELATI: Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi Vol. Juni 2023: 11-20 pelanggan, dan membangun kemampuan untuk belajar dari perubahan. Kedua, identifikasi terhadap sifat dan cakupan perubahan pasar, termasuk kemunculan kompetitor baru, pergeseran model bisnis, serta meningkatnya kebutuhan inovasi. Ketiga, pemahaman mendalam atas pasar yang cepat berubah, yang mencakup segmentasi ulang, perubahan nilai yang dicari konsumen, dan munculnya ruang pasar Keempat, penyusunan strategi adaptif melalui perumusan visi strategis dan implementasi strategi yang konsisten. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam dan faktual mengenai kondisi aktual implementasi strategic thinking pada pelaku industri keripik tette yang berlokasi di Desa TaroAoan. Kecamatan Tlanakan. Kabupaten Pamekasan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelaku usaha keripik tette yang berada di Desa TaroAoan. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, jumlah unit usaha pengolahan pangan di wilayah ini mencapai ratusan, namun tidak semua bergerak secara aktif atau memiliki struktur usaha yang dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu, peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan kunci, yaitu pemilik usaha keripik tette yang aktif menjalankan usahanya, memiliki pengalaman minimal lima tahun, dan menunjukkan keterlibatan langsung dalam proses pengambilan keputusan strategis. Sampel terdiri dari 6 pelaku usaha yang mewakili beragam pendekatan strategis dalam menjalankan bisnis mereka. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama yaitu observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap pemilik usaha, dengan pedoman wawancara semi-terstruktur yang dirancang untuk menggali persepsi, pengalaman, serta praktik strategis yang dilakukan dalam menjalankan usaha. Dokumentasi meliputi pencatatan kegiatan produksi, pemasaran, serta bentuk strategi bisnis tertulis. Adapun fokus utama dalam penelitian ini adalah pada implementasi konsep strategic thinking, yang dianalisis secara sistematis melalui pendekatan analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman yang dihadapi oleh para pelaku usaha dalam proses perumusan dan pelaksanaan strategi bisnis (Widowati & Andrianto, 2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik interactive model dari Miles dan Huberman . , yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil dan Pembahasan Implementasi Berfikir Strategis Pengusaha Keripik Tette Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha keripik tette di Desa TaroAoan telah menerapkan pemikiran strategis melalui pendekatan analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Pendekatan ini menjadi alat bantu dalam memahami posisi internal dan eksternal usaha secara menyeluruh. Melalui SWOT, pelaku usaha mampu menilai secara objektif kekuatan internal . isalnya konsistensi produksi dan relasi baik dengan petani loka. , kelemahan yang perlu diperbaiki . eperti keterbatasan modal dan rendahnya adopsi digita. , peluang eksternal Penerapan Strategic Thinking dalam Berwirausaha Halimatus Sakdiyah. Moh. DaAoi Bachiar . isalnya potensi kearifan lokal dan akses pasar lintas wilaya. , serta ancaman dari kompetitor dan minimnya dukungan pemerintah. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Mintzberg et al. yang menyatakan bahwa strategic thinking merupakan proses kognitif yang mencakup penciptaan wawasan yang holistik terhadap lingkungan bisnis serta keterampilan dalam menghubungkan ide-ide untuk merumuskan strategi jangka panjang. Pendekatan ini relevan dalam konteks UMKM, di mana pelaku usaha perlu mengandalkan penilaian intuitif dan pengalaman lapangan dalam merumuskan Penelitian-penelitian sebelumnya juga menguatkan pentingnya strategic thinking dalam mendukung keberlanjutan dan ketahanan bisnis skala kecil. Misalnya. Adani et al. Krishnan Andi . , dan AlQershi . menyebutkan bahwa pemikiran strategis membantu UMKM untuk mengenali perubahan pasar dan mengadaptasi strategi pemasaran serta produksi sesuai kondisi lingkungan. Selain itu. Wulandari et al. menunjukkan bahwa strategic thinking yang dikombinasikan dengan kemampuan berinovasi dan keterlibatan digital mampu mendorong peningkatan daya saing UMKM di sektor makanan dan minuman. Dalam praktiknya, pemikiran strategis UKM keripik tette di Desa TaroAoan ini diwujudkan dalam empat aspek utama strategi pemasaran, yaitu: strategi produk, strategi harga, distribusi, dan strategi promosi. Strategi Produk Bentuk implementasi berfikis strategis pada strategi produk dilakukan melalui inovasi rasa keripik tette, terdiri dari rasa original, balado, pedas, udang, coketalt, keju, dan ada juga yang dilengkapi dengan sambal petis Madura. Pengusaha juga mengembangkan diversifikasi produk dalam bentuk mentahan dan digoreng. Ukuran/bentuk keripik tette juga dikembangkan menjadi bentuk bulat pipih berdiameter 5 cm, yang pada mulanya berbentuk persegi panjang dengan ukuran 1520 cm x 3-5 cm. Selain itu, inovasi produk dilakukan dalam bentuk pengemasan yang menarik dan labeling. Beberapa pengusaha juga sudah memiliki legalitas usaha . urat izin edar/PIRT dan sertifikat hala. Penjelasan tersebut menunjukkan penerapan berfikir strategis pengusaha keripik tette dapat meningkatkan penjualan dan meningkatkan nilai jual produk. Penelitian yang dilakukan oleh Musyawarah. , & Idayanti . , menyimpulkan bahwa diversifikasi produk dan pengemasan menarik mampu meningkatkan nilai jual dan penetrasi pasar. Strategi harga Implementasi hasil berfikir kritis selanjutnya adalah harga yang bersaing. Menurut beberapa pengusaha keripik tette desa TaroAoan, penetapan harga jual yang terlalu mahal hanya dapat meningkatkan keuntungan jangka pendek dan sulit dijangkau oleh konsumen sehingga pangsa pasar turun. Harga jual keripik tette dari produsen ditetapkan sebesar Rp. 500/ikat. Satu ikat berisi 100 keping keripik tette. Penetapan harga tersebut dilakukan tanpa perhitungan yang rumit, dengan mempertimbangkan biaya produksi dan hasil produksi serta tidak merugikan mereka. Pelaku usaha menggunakan strategi harga bersaing dengan fleksibilitas pembayaran, seperti diskon untuk pembelian besar dan metode pembayaran kredit. Hasil tersebut menunjukkan penerapan konsep customer-oriented pricing, di mana harga ditentukan tidak hanya berdasarkan biaya produksi, tetapi juga daya beli dan loyalitas konsumen (Zuhroh & Pratiwi, 2. Pendekatan tersebut tidak hanya menjaga daya saing MELATI: Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi Vol. Juni 2023: 11-20 produk di pasar lokal, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui kepercayaan dan keterjangkauan. Dalam konteks usaha mikro, fleksibilitas harga menjadi keunggulan kompetitif yang dapat meningkatkan volume penjualan sekaligus memperkuat posisi produk di pasar yang lebih luas (Saragih, 2018 dan Zuhroh. , & Pratiwi, 2. Dengan demikian, strategi harga yang diterapkan para pengusaha keripik tette menunjukkan pemahaman pelaku usaha terhadap dinamika pasar dan perilaku konsumen, yang menjadi bagian penting dari proses berpikir strategis dalam kewirausahaan. Strategi Distribusi Strategi distribusi keripik singkong melibatkan dua pihak yaitu tengkulak . dan pengecer. Produsen biasanya menjual barangnya langsung ke pengecer di pasar-pasar terdekat. Sedangkan tengkulak membeli langsung pada produsen untuk didistribusikan pada pengecer di luar daerah . eperti Sampang. Sumenep. Bangkalan, dan Sebagian ke luar Madur. Selain itu, beberapa produsen telah melakukan upaya distribusi produk ke luar daerah. Pemasaran ke luar daerah dilakukan melalui marketplace (Shopee dan Tokopedi. dan sistem distribusinya disalurkan melalui ekspedisi JNE dan JNT. Adapun sistem pengambilan keripik tette oleh tengkulak dan konsumen akhir diambil ke rumah produksi, hanya pengecer yang dikirim langsung dengan pendistribusian menggunakan angkutan umum seperti becak dan mobil. Keberagaman jalur distribusi menunjukkan bahwa pelaku usaha keripik tette mampu beradaptasi dengan kondisi pasar secara fleksibel. Strategi distribusi yang bervariasi membantu produk sampai ke konsumen lebih cepat dan dengan biaya lebih Kombinasi antara cara tradisional seperti tengkulak dan pengecer, serta cara modern melalui marketplace dan media sosial, mencerminkan upaya pelaku usaha untuk tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan pasar. Strategi tersebut menunjukkan pemanfaatan multi-channel distribution yang memungkinkan jangkauan pasar lebih luas dan meningkatkan efisiensi saluran distribusi (Ramdhan et al. , 2. Kehadiran di platform digital juga mencerminkan respons adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke belanja online, sebagaimana ditekankan dalam teori digital business model oleh Osterwalder & Pigneur . Lebih lanjut. Prasetyo dan Mulyono . menekankan bahwa integrasi antara distribusi konvensional dan digital . ybrid distributio. pada UMKM terbukti dapat mempercepat penetrasi pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tengah disrupsi digital. Sementara itu. Fauzi et al. menyatakan bahwa digitalisasi dalam distribusi produk memberikan nilai tambah berupa kemudahan akses pasar lintas wilayah, efisiensi biaya, serta peningkatan loyalitas konsumen melalui pendekatan personalisasi dalam platform e-commerce. Hal ini menunjukkan bahwa berpikir kritis adalah kunci dalam merumuskan strategi yang tidak hanya responsif terhadap perubahan, tetapi juga proaktif dalam menciptakan peluang baru di era digital (Purwanti & Suyanto, 2. Strategi Promosi Implementasi berfikir strategis terhadap strategi promosi adalah promosi tidak hanya dari mulut ke mulut melainkan telah dilakukannya promosi pada media sosial whatsapp, facebook, dan Instagram. Beberapa pengusaha juga telah menjalin kerjasama dengan lembaga pemasaran . di luar daerah. Promosi digital ini Penerapan Strategic Thinking dalam Berwirausaha Halimatus Sakdiyah. Moh. DaAoi Bachiar merupakan bentuk adopsi awal dari strategi digital marketing, yang berperan dalam membangun brand awareness. Harjito . menekankan bahwa keberhasilan promosi produk UMKM sangat tergantung pada komunikasi yang efektif dan keterlibatan konsumen di media sosial. Ramadhan et al. menemukan bahwa strategi promosi berbasis digital, termasuk penggunaan konten visual dan testimoni pelanggan di platform digital, terbukti efektif dalam membangun citra merek dan memperluas jaringan distribusi UMKM, khususnya pada sektor makanan ringan. Lebih lanjut. Hasanah & Nugroho . menambahkan bahwa integrasi antara promosi tradisional dan digital marketing memberikan hasil yang lebih optimal, terutama dalam konteks UMKM yang berada di daerah semi-perkotaan maupun pedesaan. Model Strategi SWOT Usaha Keripik Tette Desa TaroAoan Berdasarkan hasil analisis SWOT dari implementasi berpikir strategis pelaku usaha keripik tette di Desa TaroAoan, dapat dirumuskan beberapa alternatif strategi yang bersumber dari kombinasi antara faktor internal . ekuatan dan kelemaha. dan eksternal . eluang dan ancama. Model SWOT UKM Keripik tette desa TaroAoan dituangkan pada Gambar 1 berikut. Gambar 1. Matriks SWOT Usaha Keripik Tette Desa TaroAoan Berdasarkan analisis model bisnis menggunakan pendekatan SWOT yang ditampilkan pada Gambar 1 dapat dirumuskan empat strategi utama. Strategi pertama adalah strategi agresif yang menggabungkan kekuatan internal, seperti konsistensi produksi dan hubungan baik dengan petani singkong, dengan peluang eksternal yang ada, seperti meningkatnya konsumsi makanan ringan dan kemudahan akses pasar melalui teknologi. Dalam hal ini, pengusaha keripik tette dapat mengembangkan produk baru yang berbasis kearifan lokal, seperti keripik tette dengan sambal petis Madura, dan memperluas jaringan distribusi dengan menggandeng toko-toko besar serta menggunakan marketplace untuk meningkatkan jangkauan pasar. Strategi kedua, yaitu strategi diversifikasi, bertujuan untuk mengatasi ancaman dari persaingan produk makanan ringan yang terus berkembang. Dengan memanfaatkan kekuatan internal seperti keberagaman varian rasa dan kualitas produk, pelaku usaha MELATI: Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi Vol. Juni 2023: 11-20 dapat menghadapi tantangan dari produk pesaing dengan mengedepankan diferensiasi produk. Inovasi dalam kemasan, rasa, dan ukuran produk juga dapat menjadi keunggulan kompetitif untuk menarik perhatian konsumen di tengah persaingan yang ketat. Strategi ketiga adalah strategi turnaround, yang berfokus pada pemanfaatan peluang eksternal untuk mengatasi kelemahan internal. Misalnya, meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan manajemen dan pengembangan usaha untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja keluarga yang kurang disiplin. Selain itu, dengan memanfaatkan program pemberdayaan UMKM dari pemerintah daerah, pelaku usaha dapat memperbaiki kelemahan dalam akses pembiayaan dan legalitas usaha, serta meningkatkan pemanfaatan digital marketing untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Keempat, strategi defensif, diterapkan untuk menghadapi ancaman eksternal sambil mengatasi kelemahan internal. Pelaku usaha harus menjaga kualitas bahan baku dengan memperbaiki sistem penyimpanan untuk mencegah kerusakan bahan singkong yang mudah rusak. Selain itu, menjalin kemitraan distribusi yang lebih stabil dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak, serta meningkatkan adopsi digital dalam pemasaran produk secara bertahap akan membantu mengurangi dampak ancaman yang dihadapi dalam pasar yang dinamis. Dengan merumuskan dan melaksanakan strategi-strategi tersebut, pelaku usaha keripik tette di Desa TaroAoan dapat memperkuat posisinya di pasar, mengatasi tantangan yang ada, dan menciptakan keberlanjutan usaha yang lebih baik dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Keempat strategi tersebut menjadi pijakan penting dalam membangun ketahanan dan daya saing usaha keripik tette secara berkelanjutan. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa implementasi strategic thinking pengusaha keripik tette di Desa TaroAoan tercermin dalam model SWOT yang digunakan sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran meliputi aspek produk, harga, distribusi dan promosi, serta ditunjang dengan kemampuan berpikir kritis yang terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan penguatan kapasitas. Penelitian ini berkontribusi secara praktis dalam memperkaya strategi pengembangan usaha mikro berbasis potensi lokal dan secara teoretis memperkuat relevansi pendekatan SWOT dalam konteks kewirausahaan desa. Namun, keterbatasan penelitian ini terletak pada ruang lingkup yang terbatas pada satu desa dan belum menggambarkan dinamika pelaku usaha keripik tette secara lebih luas, serta belum menguji efektivitas strategi yang dihasilkan secara jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan wilayah yang lebih luas, memperdalam analisis terhadap peran aktor eksternal seperti pemerintah dan lembaga keuangan, serta mengkaji dampak implementasi strategi dalam meningkatkan keberlanjutan usaha keripik tette di Pamekasan secara komprehensif. Daftar Pustaka