JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA, 10. , 2025 PROFIL INKOMPATIBILITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK INTRAVENA DI RUMAH SAKIT X KABUPATEN PEKALONGAN Profile of Intravenous Antibiotic Incompatibility at X Hospital. Pekalongan Regency Irda Rizky Wiharti1 *. Musa Fitri Fathiya2 Program Studi D3 Farmasi. Farmasi. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Indonesia Program Studi Profesi Apoteker. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Indonesia *E-mail:irdaarizkyw@gmail. Diterima: September 2025 Direvisi: Oktober 2025 Disetujui: Oktober 2025 Abstrak Pemberian antibiotik secara intravena memiliki resiko inkompatibilitas ketika dicampur atau diberikan bersamaan melalui satu jalur infus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil inkompatibilitas antibiotik intravena pada pasien rawat inap di RS Pekalongan periode MeiAeJuli 2025. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif nonanalitik dengan pendekatan retrospektif melalui data rekam medis, catatan pemberian obat, serta wawancara dengan tenaga farmasi dan perawat. Sebanyak 37 pasien memenuhi kriteria inklusi. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah golongan sefalosporin generasi ketiga, terutama ceftriaxone, cefotaxime, dan ceftazidime. Hasil menunjukkan adanya inkompatibilitas antara ceftriaxone dengan larutan Ringer Laktat. KCl, ketorolac. CaCOCE, dan Dapat disimpulkan bahwa risiko inkompatibilitas intravena cukup tinggi dan diperlukan pemantauan serta pedoman pencampuran yang lebih ketat untuk meningkatkan keamanan terapi pasien. Kata kunci: Inkompatibilitas. Intravena. Antibiotik Abstract Intravenous administration of antibiotics carries a risk of incompatibility when mixed or co-infused through a single intravenous line. This study aimed to determine the incompatibility profile of intravenous antibiotics in hospitalized patients at Pekalongan Hospital during MayAeJuly 2025. A non-analytic descriptive method with a retrospective approach was used, utilizing medical records, medication flow sheets, and interviews with pharmacists and nurses. A total of 37 patients met the inclusion criteria. The most frequently used antibiotics were third-generation cephalosporins such as ceftriaxone, cefotaxime, and ceftazidime. The results revealed incompatibilities between ceftriaxone and RingerAos Lactate. KCl, ketorolac. CaCOCE, and gentamicin. It can be concluded that the risk of intravenous antibiotic incompatibility is relatively high, emphasizing the need for stricter monitoring and standardized mixing procedures to ensure patient safety. Keywords: Incompatibility. Intravenous. Antibiotic PENDAHULUAN Pemberian obat secara intavena memiliki kemungkinan terjadi permasalahan dalam pencampuran obat. Obat yang diberikan secara bersamaan melalui satu jalur yang sama . beresiko mengalami Beberapa obat yang diberikan secara bersamaan melalui intravena dapat meningkatkan resiko inkompatibilitas seperti pada Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Profil Inkompatibilitas Pemberian Antibiotik Intravena Di Rumah Sakit X Kabupaten Pekalongan Intensive Care Unit (PICU) ditemukan lebih dari 100 jenis kombinasi obat yang berbeda (Hanifah, 2. Pencampuran intravena rentan terjadi kesalahan pada proses pemilihan jenis pelarut dan jumlah pelarutnya (Dwijayanti et al. , 2. Pencampuran sediaan obat intravena di rumah sakit sebaiknya dilakukan oleh apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit, namun sebagian besar masih dilakukan oleh tenaga kesehatan lainnya dengan sarana dan pengetahuan yang terbatas (Setiawati. Pemberian obat secara tidak tepat merugikan pasien seperti efek samping yang terjadi langsung dan membahayakan (Hedlund et al. , 2. Kesalahan paling sering terjadi Ketika penyiapan atau pemberian obat yang tidak sesuai dengan prosedur termasuk kurangnya pengetahuan persiapan atau prosedur administrasi yang kompleks (Farhan, 2. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomer 72 Tahun 2016 salah satu tugas pelayanan farmasi klinis adalah melakukan dispensing sediaan steril atau pencampuran sediaan obat suntik. Tugas apoteker dalam pencampuran sediaan obat suntik yaitu melakukan pencampuran obat steril sesuai kompatibilitas dan stabilitas obat maupun wadah sesuai dosis yang ditetapkan. Pengetahuan inkompatibilitas sangat diperlukan untuk pelayanan kesehatan pada pasien. Profil menganalisa pada satu jalur pemberian obat intravena, kemudian dibandingkan dengan literatur (Setiawati, 2. Pada beberapa penyakit infeksi yang serius atau gangguan pencernaan seperti mual dan muntah perlu diberikan obat secara parenteral. Keuntungan pemberian obat secara parenteral adalah efek yang diberikan cepat dan teratur dibandingkan secara oral, dan dapat diberikan kepada pasien yang tidak kooperatif dan tidak sadar serta dapat diberikan pada saat darurat Wiharti I R (Surahman & Mandalas, 2. Sediaan obat secara intravena paling sering diberikan karena penyerapan obat melalui oral yang kurang baik (Begum, 2. Pemberian dua obat atau lebih pada satu jalur infus yang sama atau dicampur bersamaan pada satu tempat harus didukung kompatibilitas campuran infus tersebut, sehingga keamanan terapi obat dapat terjamin (Tomczak et al. , 2. Sekitar 18% kesalahan pengobatan terjadi karena adanya ketidakcocokalan secara fisikokimia, dimana inkompatibilitas obat muncul akibat pencampuran obat yang tidak tepat. (Ramesan, 2. Pengetahuan mengurangi masalah terhadap pencampuran sediaan intravena. Cara menganalisis jenis sediaan berdasarkan zat aktifnya yang parenteral lainnya pada satu jalur, kemudian dibandingkan menggunakan literatur yang ada seperti Handbook on Injectable Drugs (Trissel, 2. dan Injectable Drug Information (ASHP, 2. Penelitian inkompatibilitas yang ditemukan secara potensial berdasarkan literatur yang digunakan dan dikategorikan menjadi compatible (K), incompatible (I). METODE Jenis deskriptif non analitik dengan pengambilan data secara retrospektif dengan teknik sampling purposive sampling dengan pengambilan data dari rekam medis pasien dan wawancara dengan apoteker serta perawat untuk mendapatkan data yang seperti: nama obat antibiotik. pemberian dan pelarut yang digunakan pada periode bulan mei- juli 2025. Subjek pada penelitian ini adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien yang dirawat di rumah sakit dan menerima obat antibiotik secara intravena dan pasien yang diberikan 2 atau lebih obat secara intravena Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Profil Inkompatibilitas Pemberian Antibiotik Intravena Di Rumah Sakit X Kabupaten Pekalongan HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada pasien di bangsal Bedah. Anak, dan Dalam pada RS di Pekalongan pada bulan mei Ae juni 2025 dan telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Universitas Pekalongan dengan nomor Ethical Clearance: 062/B. 01/KEPK/V/2025. Pengambilan data pada penelitian ini dengan pengumpulan sampel data-data obat antibiotik yang dapat digunakan secara intravena sebelumnya. Data yang diambil antara lain: Nama obat, frekuensi pemberian Wiharti I R obat, pelarut yang digunakan, dan obat lain yang diberikan secara bersamaan. Hasil dari data yang diperoleh adalah pasien yang dirawat pada bangsal bedah, anak dan dalam sebanyak 37 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan tabel 1, kelompok diagnose penyakit paling banyak adalah pasien kelompok diagnosa lainnya (Traumatic Subdural Haemorage. Cholecistitis. Hiperplasia Prostate, dan CKD) sebanyak 35%. gangguan metabolik (Diabetes mellitus disertai diabetic foot infectio. sebanyak 32%. troke, penyakit jantung, dan hipertens. sebanyak 22% dan gangguan pernafasan . sma dan PPOK sebanyak 11%. Tabel 1 Distribusi Pasien Menurut Kelompok Diagnosis Kelompok Diagnosa Persentase (%) Gangguan Pernafasan Gangguan Kardiovaskular Gangguan Metabolik Lainnya Total Pada diagnosa subdural haemorage, antibiotik tidak selalu direkomendasikan secara rutin pada pemberiannya, namun biasanya dipertimbangkan pada prosedur invasive . rainage, dan operas. atau trauma terbuka/penetrasi (Ganga et al. , 2. Antibiotik IV umumnya merupakan langkah pertama pada terapi kolesistitis moderat Ae berat dan merupakan pilihan spesifik disesuaikan dengan resistensi pada kondisi pasien dan rencana bedah (Fico et al. , 2. Sedangkan pada diagnosa Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) jika terjadi adanya infeksi saluran kemih yang berat dapat diberikan antibiotik secara intravena (Kuiper et al. , 2. Gangguan diagnosa terbanyak kedua, dan paling banyak yaitu diabetes mellitus dengan diabetic foot infection yaitu infeksi jaringan Jumlah (N) lunak atau tulang pada pasien diabetes mellitus akibat luka yang tidak bisa sembuh dan menjadi ulkus, abses, selulitis bahkan Terapi empiris pada penyakit ini piperacillintazobactam, meropenem dan metronidazole atau sesuai dengan hasil kultur pasien, dan dapat diberikan secara intravena pada infeksi berat (Matheson et al. , 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Setiawati, 2023 gangguan kardiovaskular dan sirkulasi merupakan kelompok diagnosa paling banyak pada pemberian obat secara intravena. Pada penelitian ini didapatkan hasil penggunaan obat antibiotik intravena seperti pada tabel 2 yang menunjukan bahwa paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin ceftadizime dan cefotaxime. Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Profil Inkompatibilitas Pemberian Antibiotik Intravena Di Rumah Sakit X Kabupaten Pekalongan Wiharti I R Tabel 2 Penggunaan Antibotik Intravena dan Golongannya Antibiotik Golongan / Kelas Levofloxacin Fluoroquinolon Meropenem Beta laktat Ceftriaxone Sefalosporin generasi Ceftadizime Sefalosporin generasi Cefataxime Sefalosporin generasi Pelarut / Obat lain (IV) NaCl Ranitidin NaCl NaCl KCL Ketorolac CaCO3 Gentamisin Ranitidin NaCl NaCl Metronidazole Keterangan Keterangan : C : Compatible C* : Conditionally compatible I : Inkompatible RL : Ringer Laktat NaCL : Natrium Clorida CaCO3 : Kalsium Karbonat KCL : Kalium Klorida Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan kejadian saat pengamatan pencampuran sediaan intravena pada beberapa bangsal, dan ditemukan kejadian Menurut Abdelkader et al. , 2020 larutan yang mengandung kalsium seperti ringer laktat dan kalsium klorisa dapat menimbulkan interaksi ionic Ketika diberikan Bersama obat-obatan yang memiliki kandungan ion polivalen, seperti fosfat, karbonat, sulfat dan Interaksi membentuk endapan berupa garam kalsium dikombinasikan dengan ceftriaxone. Pada obat antibiotik ceftriaxone bertanda C* merupakan kompatible dengan syarat tertentu . onditionally compatibl. yang berarti ceftriaxone dapat digunakan Bersama pelarut atau obat tersebut dalam kondisi tertentu, misalnya : (Trissel, 2. Harus pada pelarut atau pH tertentu Konsentrasi tertentu Waktu kontak terbatas . anya beberapa ja. Tidak boleh diberikan secara bersamaan dalam satu jalur infus, bergantian setelah dibilas. Kombinasi dengan ketorolac tidak compatibel jika diberikan secara bersamaan pada satu jalur yang bersamaan akan menyebabkan pengendapan saat dicampur dalam satu sediaan IV (Tobing et al. , 2. Inkompatibilitas injeksi intravena dapat dicegah pada beberapa cara yaitu dengan pemisahan rute pemberian intravena atau Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Profil Inkompatibilitas Pemberian Antibiotik Intravena Di Rumah Sakit X Kabupaten Pekalongan dengan metode flush setiap pemberian intravena (Nygrier et al. , 2. KESIMPULAN Profil inkompatibilitas antibiotik secara intravena menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin generasi ketiga, seperti ceftriaxone, cefotaxime, dan Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat interaksi inkompatibilitas yang cukup signifikan ketika antibiotikantibiotik ini diberikan bersamaan dengan beberapa larutan atau obat lain dalam satu jalur intravena. Jenis inkompatibilitas yang paling sering terjadi adalah antara ceftriaxone dengan larutan Ringer Laktat. KCl, ketorolac. CaCOCE, dan gentamisin, yang berdasarkan literatur dan data lapangan termasuk dalam kategori inkompatibilitas fisik dan kimia. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya inkompatibilitas meliputi : Jenis pelarut dan kandungan ion . isalnya C. pada cairan infus seperti Ringer Laktat dan CaCOCE. Tidak adanya SOP atau acuan pustaka yang konsisten dalam penyiapan dan pemberian kombinasi antibiotik IV di UCAPAN TERIMA KASIH Penulis kepada pihak Rumah Sakit AuXAy di Pekalongan yang telah memberi ijin untuk dilakukan penelitian ini, serta kepada pihak yang telah mendukung terhadap penelitian ini melalui hibah internal Universitas Pekalongan. DAFTAR PUSTAKA