Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 APLIKASI KULIT LABU Curcubitaeae sp. SEBAGAI SUMBER STIMULASI UNTUK PROSES NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI DI LINGKUNGAN BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vanname. APPLICATION OF PUMPKIN SKIN Cucurbitaceae sp. AS SOURCE OF STIMULATION FOR NITRIFICATION AND DENITRIFICATION PROCESS IN VANAME SHRIMP CULTIVATION Litopenaeus vannamei Yuni Puji Hastuti1. Muhammad Saifuddin2. Eddy Supriyono1. Wildan Nurussalam1 Dudi Lesmana3. Andri Hendriana4. Ima Kusumanti4 Staf Pengajar Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB University. Jalan Raya Dramaga Kampus IPB-16680 Lulusan Mahasiswa S1 Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB University. Jalan Raya Dramaga Kampus IPB-16680 StafPengajar Program Studi Akuakultur. Fakultas Pertanian. Universitas Djuanda Bogor Jalan Tol Ciawi No. PO Box 3516720 Staf pengajar Sekolah Vokasi IPB University. Jalan Kumbang. Babakan Tengah. Bogor-16128 Korespondensi: Wildan Nurussalam. E-mail: wildan0501@apps. Abstrak Aplikasi tepung kulit labu Curcubitaeae sp. untuk meningkatkan performa kualitas air budidaya dan pertumbuhan udang vaname perlu dianalisis. Kulit labu Curcubitaeae sp sebagai sumber stimulan yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan pada proses nitrifikasi dan denitrifikasi di lingkungan budidaya sebagai salah satu alternatif ujicoba sistem bioremediasi yang ramah lingkungan. Sifat yang cenderung mesofilik dan sumber ion organik untuk pertumbuhan bakteri, kulit labu dapat mendukung pertumbuhan dan aktivitas bakteri nitrifikasi denitrifikasi di lingkungan. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis terbaik tepung kulit labu sebagai bahan biostimulasi untuk pertumbuhan bakteri nitrifikasi denitrifikasi pada pengelolaan kualitas air sehingga mendukung pertumbuhan udang vaname. Perlakuan yang digunakan yaitu pemberian tepung kulit labu dengan dosis 2%, 4%, 6% per 20 L air dan perlakuan Pemberian tepung kulit labu dapat meningkatkan kinerja bakteri dan kelimpahan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Aktivitas bakteri nitrifikasi terlihat dari adanya nilai ammonia yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan perlakuan lain. Ammonia paling baik pada perlakuan 6% nitrit paling baik di perlakuan 4%. Perlakuan tepung labu 4% efektif dalam pemeliharaan selama 30 hari yang dapat menjaga kualitas air tetap stabil dan pertumbuhan udang vaname yang meningkat. Kata kunci: Curcubitaeae sp. Denitrifikasi. Nitrifikasi. Stimulan. Litopenaeus vannamei Abstract Aplication of pumpkin skin flour Curcubitae sp. to improve of the water quality performance and support shrimp Litopenaeus vannamei growth, it necessary to do an analysis. Pumpkin skin Curcubitae sp. source of stimulants needed by bacteria to survive in the nitrification denitrification processes in aquaculture as an alternative to environmental friendly with bioremediation system evaluation. Its mesophilic nature and a organic ions source for bacterial growth. Pumpkin skin can support the growth and activity of nitrifying denitrifying bacteria in the environment. This study aims to determine the best of dose of pumpkin skin as a biostimulator of nitrifying denitrifying bacteria growth. The treatments used were pumpkin doses of 0%, 2%, 4%, 6% for 20 L culture water. Giving pumpkin flour can improve the performance of abundance and activity of nitrification denitrification bacteria. The activity of Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. nitrifying bacteria can be seen from the presence of ammonia value which is relatively more stable compared to other treatments. The best oxidation of ammonia in 6%, and reduction nitrite in the 4% The treatment of 4% was effective in maintenance for 30 days which could maintain the stability of water quality and increase the growth of vaname shrimp. Keywords: Curcubitaeae sp. Denitrification. Litopenaeus vannamei. Nitrification. Stimulant. Yuni Puji Hastuti. Muhammad Saifuddin. Eddy Supriyono. Wildan Nurussalam. Dudi Lesmana. Andri Hendriana. Ima Kusumanti. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. sebagai Sumber Stimulasi untuk Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi di Lingkungan Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vanname. Jurnal Mina Sains 8. : 60 Ae 78. PENDAHULUAN Produksi udang vaname (Litopenaus vanname. di Indonesia setiap tahunnya diharapkan terus meningkat. Sebelum pandemi covid 19 di Indonesia, pada tahun 2018 produksi udang pernah mencapai 587 ton (KKP 2. Keunggulan pengembangan komoditas udang vaname memiliki tingkat kelangsungan hidup tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan pencapaian produktivitas yang lebih tinggi (Hukom et al. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya udang adalah kestabilan dan kualitas air budidaya udang. Kualitas air yang baik dapat menjaga kondisi kesehatan dan pertumbuhan udang yang diperlihara. Salah satu parameter dalam kualitas air yang dianggap penting adalah kelimpahan bakteri terutama bakteri nitrifikasi dan bakteri denitrifikasi dalam rangka pengelolaan lingkungan. Bakteri nitrifikasi dan bakteri denitrifikasi merupakan bakteri menguntungkan yang lingkungan budidaya untuk mengelola sisa pakan dan limbah budidaya, karena senyawa nitrogen (Kumar et al. Hasil akhir aktivitas bakteri nitrifikasi adalah senyawa nitrat anorganik dalam media pemeliharaan budidaya udang. Secara berlangsung adalah perubahan senyawa ammonia/ ammonium menjadi (NH3/ NH4 ) menjadi senyawa nitrit (NO2-) dengan senyawa perantara hidroksilamin (NH2O), dan selanjutnya menjadi nitrat (NO3-) yang terjadi dalam suasana aerobik (Hastuti et al. Bakteri denitrifikasi merupakan agen mikroba dalam proses proses denitrifikasi yang merupakan proses utama dalam pendegradasian senyawa nitrogen dalam kondisi tidak ada oksigen atau anaerob (Hastuti 2. dengan hasil akhir nitrogen bebas (N. penerima electron senyawa nitrat atau nitrit (Hastuti et al. Proses denitrifikasi berupa konversi biologi, senyawa nitrat (NO3-) menjadi nitrit (NO2-), nitrous oksida (N2O) dan (N. Proses dijalankan secara teratur dan bertahap oleh beberapa bakteri anaerobic atau fakultatif Bakteri memerlukan karbon organik seperti gliserol, asam asetat, dan glukosa untuk pertumbuhannya (Texeira dan Oliviera 2002. Hastuti et al. Salah nitrifikasi dan denitrifikasi di lingkungan budidaya adalah menambahkan nutrien spesifik yang berperan sebagai penstimulan bakteri, baik yang bersifat makro dan Bakteri nitrifikasi membutuhkan makro dan mikro nutrien berupa nitrogen dan fosfor di lingkungan budidaya (Effendi et al. Biostimulasi bagian proses dalam teknologi bioremediasi yang merupakan proses yang dilakukan dengan penambahan zat gizi tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di lingkungan sehingga mikroorganisme tumbuh dan beraktivitas dengan baik (Jekti Penambahan bahan stimulasi dalam lingkungan budidaya udang vaname Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 diharapkan dapat membantu pertumbuhan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi dan meningkatkan aktivitas di dalamnya yang kemudian dapat menjaga kualitas air pada lingkungan (Batista et al. Salah satu bahan yang prospektif untuk digunakan sebagai biostimulasi adalah tepung kulit labu. Kulit labu merupakan salah satu produk yang selama ini tidak banyak digunakan dan cenderung dijadikan limbah pangan. Kulit labu mengandung nilai gizi yang tinggi (Batista et al. Menurut See et al. labu kuning yang telah dibuat menjadi tepung memiliki kadar air 10. 96%, lemak 0. 65%, karbohidrat 72. 41%, abu 37%, serat 0. 81%, dan beta karoten 4857AAg. Tepung labu memiliki senyawa kimia antioksidan yang dapat mencegah terjadinya proses oksidasi (Wahyono et al. Penambahan tepung dilakukan untuk menstimulasi bakteri dari kerusakan yang disebabkan oleh lingkungan. Pemberian kulit labu yang dalam bentuk powder/ tepung diharapkan dapat menstimulasi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi indigenous di lingkungan udang, terutama kinerja bakteri dalam proses perubahan senyawa nitrat menjadi gas nitrogen dapat Penelitian menentukan dosis terbaik penambahan tepung kulit labu sebagai bahan biostimulasi dan mengevaluasi kelimpahan dan aktivitas bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi di lingkungan budidaya udang. Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan, (K) : Pemeliharaan udang vaname tanpa pemberian tepung kulit labu . : Pemeliharaan udang vaname pada . %) pemberian tepung kulit labu sebanyak 2% per 20 L air : Pemeliharaan udang vaname pada . %) pemberian tepung kulit labu sebanyak 4% per 20 L air : Pemeliharaan udang vaname pada . %) pemberian tepung kulit labu sebanyak 6% per 20 L air Prosedur Penelitian Wadah pemeliharaan udang yang digunakan adalah akuarium berukuran 30 x 30 x 30 cm2 sebanyak 12 unit. Wadah pemeliharaan untuk perlakuan A (K). B . %). C . %) dan D . %) dilengkapi dengan aerasi kemudian diisi air sebanyak 20 L. Tepung kulit labu dibuat dari kulit buah labu kuning (Curcubitaeae sp. ) yang dikeringkan diterik matahari sampai tidak ada cairan yang terkandung dalam kulit buah labu kuning. Setelah dikeringkan . adar air <12%) kulit tepung labu dihaluskan sampai berbentuk powder/ tepung (Gambar . Telah dilakukan pengujian di laboratorium dihasilkan informasi kandungan dalam tepung kulit labu sebagai bahan uji adalah protein 12%, fosfor 3424 mg/kg, natrium 130mg/kg, kalium 14044 mg/kg, kalsium 1722 mg/kg, vitamin B1 <0,25 mg/kg, vitamin B2 <0,25 mg/kg, dan magnesium 2021 mg/kg. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2020 bertempat di Laboratorium Teknik Produksi dan Manajemen Akuakultur. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Rancangan Penelitian Rancangan digunakan dalam penelitian ini adalah Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. udang menggunakan Gambar 1. Kulit labu kuning dalam kondisi kering . A), kulit labu kuning yang telah di buat powder/ tepung . B) Persiapan Biota Uji Biota uji yang digunakan adalah udang vaname (L. DOC 30 yang diperoleh dari PT. Suri Tani Pemuka Anyer. Banten. Jawa Barat. Jumlah udang yang ditebar pada setiap perlakuan sebanyak 15 ekor setiap wadah. Udang vaname dipelihara selama 30 hari penelitian dan proses pemberian pakan dilakukan setelah udang dipuasakan selama 24 jam pada awal Pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan yaitu berupa pakan komersil dengan ukuran diameter 0,2 mm dan memiliki kandungan protein minimal Pakan diberikan dengan mengacu pada FR 5% sebanyak 4 kali sehari pada 00, 13. 00, 17. 00, dan 22. Pengukuran respon produksi Biota Uji Respon produksi yang diukur dari biota uji terdiri atas bobot dan panjang tubuh udang vaname diukur setiap 15 hari Sebelum dilakukan pengambilan ikan, dilakukan pemuasaan selama 24 jam. Pengambilan contoh dilakukan pada jam 00 WIB. Pengukuran bobot udang menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 g dan pengukuran panjang Analisa Parameter Kualitas air Kelimpahan Bakteri Nitrifikasi dan Denitrifikasi Bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi di tumbuhkan media spesifik. Kelimpahan bakteri dihitung menggunakan metode TPC (Total Plate Coun. Bakteri yang telah dihitung dinyatakan dengan satuan CFU mL-1 (Colony Forming Unit mL-. Penghitungan jumlah koloni yang terbentuk pada media di cawan petri menggunakan rumus (Madigan et al 2. Total bakteri (CFU mL-. = Jumlah koloni bakteri ycu yceycy ycu ycI Keterangan Jumlah Koloni : Jumlah koloni bakteri yang terbentuk di cawan petri (CFU mL-. : Faktor pengencer : Sampel . L) Pengelolaan Kualitas Air Pengukuran parameter kualitas air yang diukur setiap hari meliputi suhu, oksigen terlarut, salinitas, dan pH. Sedangkan parameter kualitas air yang diukur setiap 10 hari sekali sesuai dengan alat ukur adalah Total Ammonia Nitrogen (TAN), nitrat, nitrit, amonia, dan ammonium (APHA Tabel 1 Parameter kualitas air yang akan diukur pada pemeliharaan udang vaname (L. Parameter Satuan Alat Ukur Suhu Oksigen terlarut Total ammonia nitrogen (TAN) Nitrit Nitrat Amonia Amonium Thermometer pH meter DO meter Spektofotometer Spektofotometer Spektofotometer Spektofotometer Spektofotometer Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 Tingkat Kelangsungan Hidup Nilai kelangsungan hidup yang dinyatakan dalam persen (%). Perhitungan kelangsungan hidup dilakukan pada akhir perlakuan dengan rumus (Huissman 1. TKH (%) =Nox100 Keterangan: Nt : Jumlah ikan akhir . No : Jumlah ikan awal . Laju Pertumbuhan Spesifik Laju pertumbuhan spesifik . pecific growth rate/SGR) merupakan tingkat bertambahnya biomassa dari populasi per unit konsentrasi biomassa. Perhitungan SGR udang dilakukan dengan menimbang sampel udang pada setiap perlakuan dengan menggunakan rumus (Bhatia 2. ln ycOycOeln ycOycu SGR = x 100 % yc Keterangan : SGR : pertumbuhan spesifik harian (%/har. W0 : berat tubuh rata-rata awal pemeliharaan . Wt : berat tubuh rata-rata akhir pemeliharaan . : waktu pemeliharaan . Pertumbuhan Bobot Mutlak Pertumbuhan merupakan pertumbuhan bobot akhir pemeliharaan dikurangi bobot awal Perhitungan bobot dilakukan dengan menimbang sampel udang pada awal dan akhir pemeliharaan kemudian dihitung dengan menggunakan rumus (Weatherley 1. W = Wt Ae Wo Keterangan: W : Pertumbuhan bobot mutlak . Wt : Bobot udang pada akhir percobaan Wo : Bobot udang pada awal percobaan Pertumbuhan Panjang Mutlak Pertumbuhan merupakan pertumbuhan panjang akhir pemeliharaan dikurangi panjang awal Perhitungan dilakukan dengan menimbang sampel udang pada awal dan akhir pemeliharaan kemudian dihitung dengan menggunakan rumus (Zonneveld et al. L = Lo Ae Lt Keterangan: L : Pertambahan panjang mutlak . Lt : Panjang tubuh udang pada akhir percobaan . Lo : Panjang tubuh udang pada awal percobaan . Kadar Glukosa Darah Pengukuran kadar glukosa darah dengan cara mengambil plasma darah sebanyak 0,05 mL, kemudian standar glukosa, dan blanko dimasukkan ke dalam tabung uji yang terpisah berisi 3,5 mL color Tabung uji dimasukkan ke dalam water bath yang mendidih selama 10 menit kemudian didinginkan kurang lebih selama 1 jam. OD plasma dan standar glukosa pada = 635 nm. Kalorimeter kemudian Perhitungan menggunakan rumus (Wedemeyer dan Yasutake 1. Glukosa . g/L-. = yayc . yayc Keterangan : : Absorbansi sampel : Konsentrasi sampel : Absorbansi standar Kadar Kolestrol Pengukuran kadar kolestrol dengan cara mengambil plasma darah sebanyak 0,01 mL, kemudian standar kolestrol, dan blanko dimasukkan ke dalam tabung uji yang terpisag berisi 1,0 mL reagent. Tabung uji divortex dan diinkubasi di dalam water bath dengan suhu 37AC selama 10 Volume air dalam water bath tidak boleh lebih tinggi daripada volume reagent. Nilai absorbansi diukur = 500 nm. Pengukuran optimal tidak boleh melebihi 1 Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. Perhitungan menggunakan rumus (Sahu et al. Kolesterol . g/L-. = yayc . yayc Keterangan: : Absorbansi sampel : Konsentrasi sampel : Absorbansi standar Analisis Data Data yang telah diperoleh kemudian akan dianalisis menggunakan metode yang telah ditentukan sebelumnya. Data parameter uji seperti derajat kelangsungan pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan dan produktivitas dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%. Apabila hasilnya adalah berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan pada selang kepercayaan 95% untuk melihat perbedaan antar perlakuan yang diuji. Analisis deskripsi kuantitatif digunakan untuk pemeliharaan yang digunakan terhadap kehidupan udang vaname yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data menggunakan bantuan perangkat lunak Ms. Excel 2013 dan SPSS 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kelimpahan Bakteri Nitrifikasi Kelimpahan dihitung dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) pada awal pemeliharaan (H. dan akhir pemeliharaan (H. Kelimpahan bakteri nitrifikasi pada hari ke 0 dan hari ke 30 disajikan pada tabel Kelimpahan bakteri nitrifikasi setiap perlakuan mengalami peningkatan jumlah koloni bakteri. Perlakuan pemberian tepung kulit labu 2% menunjukkan kelimpahan bakteri paling banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya yakni 32,6 x 107 CFU mL-1. Sedangkan bakteri terendah pada perlakuan kontrol dan 6% yakni 42 x 106 CFU mL-1. Tabel 2 Nilai pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Perlakuan Awal Pemeliharaan (CFU mL-. Kontrol 52 x 105 68 x 105 94 x 105 74 x 105 Akhir Pemeliharaan (CFU mL-. 42 x 106 32,6 x 107 66 x 106 42 x 106 Kelimpahan Bakteri Denitrifikasi Kelimpahan bakteri denitrifikasi dihitung dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) pada awal pemeliharaan (H. dan akhir pemeliharaan (H. Kelimpahan bakteri nitrifikasi pada hari ke 0 dan hari ke 30 disajikan pada Tabel Kelimpahan bakteri denitrifikasi setiap perlakuan mengalami peningkatan jumlah koloni bakteri. Perlakuan pemberian tepung kulit labu 6% menunjukkan kelimpahan bakteri paling banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya yakni 154 x 106 CFU mL1. Sedangkan bakteri terendah pada perlakuan kontrol yakni 42 x 106 CFU mL1. Tabel 3. Nilai pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Perlakuan Awal Pemeliharaan (CFU mL-. Kontrol 62 x 105 116 x 105 50 x 105 176 x 105 Akhir Pemeliharaan (CFU mL-. 42 x 106 48 x 106 112 x 106 154 x 106 Kualitas Air Hasil pengukuran kualitas air DO, suhu, salinitas, dan pH selama pemeliharaan udang vaname berada dalam kisaran nilai Berdasarkan hasil pengukuran menurut (FAO 2. nilai DO pada setiap Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 perlakuan berada di bawah kisaran nilai optimal sedangkan suhu, salinitas, dan pH berada dalam kisaran optimal Tabel 3. Hasil pengukuran kualitas air Perlakuan Parameter Uji Nilai Optimal (FAO DO . g L-. 3,02 Ae 7,60 4,04 Ae 7,48 3,48 Ae 7,64 3,16 Ae 7,88 Ou5 Suhu . C) Salinitas . L-. 26,1 Ae 29,4 7,7 Ae 8,1 26,3 Ae 29,9 23 Ae 29 7,6 Ae 8,2 26,1 Ae 29,9 23 Ae 30 7,7 Ae 8,2 26,3 Ae 29,9 23 Ae 30 7,8 Ae 8,2 25 - 35 20 - 35 7,5 Ae 8,5 Amonium Konsentrasi pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil pada hari ke 10 paling tertinggi yakni 0,492A0,005 mgL-1 pada perlakuan 6% dan paling terendah yakni 0,273A0,04 mgL-1 pada perlakuan 2%. Konsentrasi amonium tertinggi pada hari ke 20 yaitu pada perlakuan kontrol sebesar 0,468A0,02 mgL1 dan terendah pada perlakuan 4% sebesar 0,444A0,01 mgL-1. Sedangkan pada hari ke 30 konsentrasi amonium tertinggi yaitu pada perlakuan 2% sebesar 0,431A0,01 mgL-1 dan terendah pada perlakuan 4% sebesar 0,289A0,03 mgL-1. Amonia Konsentrasi amonia pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil pada hari ke10 paling tertinggi yakni 0,046A0,001 mgL1 pada perlakuan 4% dan paling terendah yakni 0,009A0,002 mgL-1 pada perlakuan Konsentrasi amonia tertinggi pada hari ke-20 yaitu pada perlakuan 6% sebesar 0,042A0,008 mgL-1 dan terendah pada perlakuan 4% sebesar 0,03A0,001 mgL-1. Sedangkan pada hari ke-30 konsentrasi amonia tertinggi yaitu pada perlakuan kontrol sebesar 0,035A0,008 mgL-1 dan terendah pada perlakuan 6% sebesar 0,027A0,002 mgL-1. Amonium mgL-1 H10 H20 Waktu . H30 Gambar 3. 1 Konsentrasi amonium pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. Amonia mgL-1 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 H10 H20 Waktu . H30 Gambar 3. 2 Konsentrasi amonia pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Total Amonia Nitrogen (TAN) Konsentrasi total amonia nitrogen pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata pada pemeliharaan hari ke-0, ke-10, ke-20. Pemeliharaan udang vaname pada hari ke-0 tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan. Konsentrasi total amonia nitrogen pada hari ke-10 tertinggi sebesar 0,531A0,018 mg L-1 pada perlakuan 6% dan terendah sebesar 0,288A0,015 mg L-1 pada perlakuan 2%. Konsentrasi total amonia nitrogen pada hari ke-20 semua perlakuan tidak berbeda nyata. Konsentrasi total amonia nitrogen pada hari ke-30 nilai tertinggi sebesar 0,461A0,017 mg L-1 pada perlakuan 2% dan nilai terendah sebesar 0,319A0,036 mg L-1 pada perlakuan 4%. Nitrit Konsentrasi nitrit (NO2-) pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata pada pemeliharaan hari ke-0, ke-10, ke-20. Pemeliharaan udang vaname pada hari ke-0 dan ke-10 tidak berbeda nyata untuk semua Konsentrasi nitrit pada hari ke30 perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan 2% dan 6%, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 4%. Konsentrasi nitrit tertinggi pada hari ke-30 yaitu perlakuan 2% sebesar 1,374A0,252 mg L-1 dan terendah pada perlakuan kontrol sebesar 0,788A0,023 mg L-1. TAN mgL-1 0,600 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 H10 H20 Waktu . H30 Gambar 3. 3 Konsentrasi TAN pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Nitrit mgL-1 Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 H10 H20 Waktu . H30 Gambar 3. 4 Konsentrasi nitrit pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Nitrat Konsentrasi nitrat (NO3-) pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata pada pemeliharaan hari ke-0, ke-10, ke-20, dan ke-30. Konsentrasi nitrat pada hari ke-10 dan hari ke-30 tidak berbeda nyata. Konsentrasi nitrat tertinggi Nitrat mgL-1 pada hari ke-20 sebesar 0,441A0,023 mg L1 pada perlakuan 4% dan nilai terendah sebesar 0,320A0,016 mg L-1 pada perlakuan Konsentrasi nitrat tertinggi pada hari ke 30 sebesar 0,398A0,102 mg L-1 pada perlakuan 4% dan nilai terendah sebesar 0,326A0,033 mg L-1 pada perlakuan kontrol. H10 H20 Waktu . H30 Gambar 3. 5 Konsentrasi nitrat pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Glukosa Darah Kadar glukosa darah yang diuji pada hari ke-30 pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata pada Perlakuan kontrol paling tinggi yaitu 49,54A0,655 mg L-1 dan nilai terendah pada perlakuan 2% yaitu 42,13A0,655 mg L-. Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. Glukosa . g/100m. Kontrol Perlakuan (%) Gambar 3. 6 Konsentrasi glukosa darah pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Kolesterol Kolesterol pada pemeliharaan udang vaname pada hari ke-30 dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil tidak Perlakuan 2% memiliki nilai tertinggi yaitu 81,82A4,285 mg/dL dan perlakuan 4% memiliki nilai terendah yaitu 69,70A1,428 mg/dL. Kolesterol . g/d. Kontrol Perlakuan (%) Gambar 3. 7 Konsentrasi kolesterol pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu pada hari ke-15 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup masih 100%. Tingkat kelangsungan hidup pada hari ke-30 menunjukkan perlakuan kontrol paling rendah yaitu sebesar 647,135, perlakuan 4% yang paling tinggi sebesar 96,506, perlakuan 2% sebesar 67,506, dan perlakuan 6% sebesar 84,506. Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 SR (%) H15 H30 Perlakuan Gambar 3. 8 Tingkat kelangsungan hidup pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. SGR . r/har. Laju Pertumbuhan Spesifik Laju pertumbuhan spesifik . pecific growth rate/SGR) pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung 0,04 0,035 0,03 0,025 0,02 0,015 0,01 0,005 kulit labu menunjukkan perlakuan 2% paling kecil 0,019A0,06 yakni gr/hari dan pada perlakuan 4% menunjukkan hasil yang paling tinggi yakni 0,032A0,005 g/hari. Perlakuan Gambar 3. 9 Laju pertumbuhan spesifik pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu. Pertumbuhan Bobot Mutlak Pertumbuhan bobot mutlak pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata pada perlakuan 2% dengan kontrol. Perlakuan 2% terendah dengan nilai 1,17A0,307 g sedangkan perlakuan tertinggi pada perlakuan 4% dengan nilai 2,75A0,404 g. Pertumbuhan bobot mutlak . Yuni et al. Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. Perlakuan Gambar 3. 10 Pertumbuhan bobot mutlak pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Pertumbuhan Panjang Mutlak Pertumbuhan panjang mutlak pada pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu menunjukkan hasil berbeda nyata perlakuan 2% dengan Perlakuan kontrol terendah dengan nilai 1,46A0,802 cm sedangkan perlakuan tertinggi pada perlakuan 4% dengan nilai 2,94A0,394 cm. Pertumbuhan panjang mutlak . Perlakuan Gambar 3. 11 Pertumbuhan panjang mutlak pada media pemeliharaan budidaya udang vaname yang diberi penambahan tepung kulit labu Keberadaan populasi bakteri yang memadai dalam perairan budidaya penting sekali untuk menjalankan proses siklus perairan(Iswantari et al. Keberadaan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi dapat diamati jumlahnya melalui parameter kelimpahan bakteri. Kelimpahan bakteri nitrifikasi tertinggi pada akhir pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu yaitu terdapat pada perlakuan 2% sebesar 32,6 x 107 CFU mL-1, sedangkan perlakuan kontrol dan perlakuan 6% yakni sebesar 42 x 106 CFU mL-1. Kelimpahan bakteri denitrifikasi tertinggi pada akhir pemeliharaan udang vaname dengan pemberian tepung kulit labu yaitu terdapat pada perlakuan 6% yakni sebesar 154 x 106 CFU mL-1, sedangkan kelimpahan bakteri terendah pada perlakuan kontrol yakni sebesar 42 x 106 CFU mL-1. Kelimpahan bakteri ini didukung oleh jumlah oksigen, jumlah dan jenis bakteri, jumlah nutrien, pH, suhu, dan salinitas yang terdapat di perairan (Subagiyo et al. Gultom Kelimpahan bakteri yang lebih tinggi di perlakuan tepung kulit labu dapat disebabkan oleh kandungan tepung labu yang memiliki senyawa kimia antioksidan (Wahyono et al. Tepung kulit labu tersebut membuktikan bahwa dapat Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 meningkatkan kinerja bakteri dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi secara efektif. Budidaya udang akan menghasilkan limbah organisme akuatik berupa feses, sisa pakan yang terbuang, dan proses metabolisme Limbah tersebut akan terombak menjadi amonium (NH4 ) dan amonia (NH. dalam perairan (Coldebella et al. Konsentrasi amonium yang dapat ditoleransi untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang yaitu <0,91 mg L-1 (Wasielesky et al. Amonium yang terdapat pada penelitian ini masih dalam batas aman untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Amonia (NH. pada budidaya biota akuatik berasal dari proses amonifikasi bahan organik yang terdapat pada sisa pakan dan ekskresi amonia secara langsung oleh biota akuatik (Yudiati et al. Menurut Boyd . kandungan amonia 0,45 mgL-1 dapat menghambat pertumbuhan pada udang sampai 50%, mengingat senyawa non ion (NH. relatif lebih toksik pada udang daripada yang berbentuk ion (NH4 ). Amonia yang dihasilkan dalam penelitian ini masih dapat dikategorikan aman untuk pertumbuhan udang yang diberi perlakuan. Walau kadar ammonia masih dapat dikategorikan dalam rentang optimal, kadar amonia pada perlakuan kontrol lebih tinggi dibandingkan perlakuan pemberian tepung kulit labu hal ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik bakteri mampu (Ghosh et al. Jumlah nilai amonia (NH. dan amonium (NH4 ) dalam perairan dapat dihitung melalui TAN (Total Amonia Nitroge. Nilai konsentrasi maksimum TAN yang dapat diterima pada budidaya udang yaitu 2 mg L-1 sehingga konsentrasi TAN masih dalam batas wajar untuk budidaya (Boyd 1. Nilai konsentrasi TAN dari semua perlakuan pada hari ke-20 sampai hari ke-30 mengalami penurunan dikarenakan konsentrasi TAN dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi untuk proses metabolisme dan pertumbuhan sel bakteri (Avnimelech 2. Nilai amonium dan amonia mengalami penurunan pada hari ke Hal ini disebabkan aktivitas bakteri dan proses nitrifikasi meningkat sehingga konsentrasi amonia turun (Hargraves dan Kucuk 2. dapat diamati pada perlakuan pemberian tepung kulit labu dapat menurunkan amonia. Bakteri nitrifikasi berperan dalam mengoksidasi amonium menjadi nitrit (NO2-) (Hastuti 2. Nitrit merupakan senyawa anorganik yang berbahaya bagi udang jika terdapat dalam jumlah yang Konsentrasi nitrit yang tinggi absorbsi oksigen dalam darah (Juliette et al. Menurut Widanarni et al. konsentrasi nitrit yang aman bagi pertumbuhan udang sebaiknya tidak lebih dari 4,5 mg L-1. Konsentrasi nitrit meningkat dari H-0 tetapi cenderung stabil di H-10 H-20 dan H-30, konsentrasi nitrit selama pemeliharaan berfluktuatif diduga karena adanya akumulasi bahan organik yang berasal dari pakan yang tidak termakan, dan pengaruh dari DO perairan (Komarawidjaja 2. Nitrat (NO3-) merupakan proses akhir dari nitrifikasi dan termasuk senyawa anorganik yang tidak berbahaya bagi kehidupan udang dibandingkan dengan amonia dan nitrit (Hastuti 2. Konsentrasi nitrat mengalami penurunan di setiap minggunya. Pemanfaatan nitrat dengan penurunan konsentrasi nitrat pada pemeliharaan udang diduga akibat bakteri nitrifikasi dan bakteri denitrifikasi bekerja optimal mengubah nitrat menjadi nitrogen Menurut Jose et al. konsentrasi nitrat yang aman yakni 0,4-0,8 mg L-1 sehingga konsentrasi nitrat termasuk masih aman. Bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi memiliki peran penting merombak bahan organik dalam siklus nitrogen di perairan akuatik yang terbentuk seperti amonium pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang jika dalam konsentrasi tertentu. Yuni et al. Konsentrasi yang melewati ambang batas dapat menyebabkan stress pada udang. Stress dapat dijadikan indikator kesehatan karena dapat mempengaruhi proses fisiologi dan daya tahan terhadap penyakit. Respons stress terjadi jika udang berada mempengaruhi perubahan di luar batas kemampuan toleransi fisik. Menurut Hastuti et al. stress dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa hemolim . Glukosa darah yang dihasilkan selama pemeliharaan berbeda nyata (P<0,. pada setiap perlakuan, nilai glukosa tertinggi pada perlakuan kontrol sebesar 49,54A0,655 mg L- dan nilai glukosa terendah pada perlakuan 2% sebesar 42,13A0,655 mg L-. Menurut Aparicio et al. nilai glukosa optimum sebesar 45 mg/dL dan diduga pada perlakuan kontrol mengalami stress yang melebihi nilai optimum. Perlakuan 2% memiliki nilai tertinggi yaitu 81. 82A4. mg/dL dan perlakuan 4% memiliki nilai terendah yaitu 69,70A1,428 mg/dL yang dimana adanya respons dari luar tubuh dapat merangsang kelenjar otak yang memproduksi hormon steroid yang kemudian akan dapat meningkatkan kolesterol tubuh sebagai bentuk respons stres yang ditimbulkan (Pramudya et al. Tingkat kelangsungan hidup (TKH) dan pertumbuhan biota akuatik merupakan parameter utama dalam kegiatan budidaya untuk memproduksi hasil dari suatu keberhasilan produksi suatu komoditas. Perlakuan dengan penambahan tepung kulit labu memiliki kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan TKH paling rendah yaitu pada kontrol sebesar 64A27,13% dan TKH tertinggi sebesar 96A7,51% pada perlakuan pemberian tepung kulit labu 4%. Pemberian tepung kulit labu juga mempengaruhi laju pertumbuhan spesifik (LPS) udang dengan pemberian tepung kulit labu 4% menghasilkan nilai tertinggi sebesar 0,032A0,003 gr/hari dan menghasilkan Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. bobot mutlak (BM) tertinggi sebesar 2,75A0,40 g dan panjang mutlak . tertinggi dengan nilai 2,94A0,39 cm. Jika hasil pertumbuhan perlakuan pemberian tepung kulit labu berbeda nyata (P < 0,. dibandingkan dengan hasil pertumbuhan dari kontrol, yaitu BM kontrol sebesar 1,53A0,38 g, dan PM kontrol sebesar 1,46A0,80 cm, hal tersebut menunjukkan adanya dugaan pemberian tepung kulit labu dapat menstimulasi bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Keberadaan denitrifikasi berpengaruh positif terhadap perbaikan kondisi kualitas air, yang ditunjukkan dengan kondisi kualitas air selama pemeliharaan di semua perlakuan masih dalam rentang optimal pemeliharaan mendukung pertumbuhan dan produksi udang (Herdianti et al. Budidaya udang akan menghasilkan limbah organisme akuatik berupa feses, sisa pakan yang terbuang, dan proses metabolisme protein. Limbah tersebut akan terombak menjadi amonium (NH4 ) dan amonia (NH. dalam perairan (Coldebella et al. Konsentrasi amonium yang dapat ditoleransi untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang yaitu <0,91 mg L-1 (Wasielesky et al. Amonium yang terdapat pada penelitian ini masih dalam batas aman untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Amonia (NH. pada budidaya biota akuatik berasal dari proses amonifikasi bahan organik yang terdapat pada sisa pakan dan ekskresi amonia secara langsung oleh biota akuatik (Yudiati et al. Menurut Boyd . kandungan amonia 0,45 mgL-1 dapat menghambat pertumbuhan pada udang sampai 50%, mengingat senyawa non ion (NH. relatif lebih toksik pada udang daripada yang berbentuk ion (NH4 ). Amonia yang dihasilkan dalam penelitian ini masih dapat dikategorikan aman untuk pertumbuhan udang yang diberi perlakuan. Walau kadar ammonia masih dapat dikategorikan dalam rentang optimal, kadar amonia pada perlakuan kontrol lebih tinggi Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 8 Nomor 2. Oktober 2022 dibandingkan perlakuan pemberian tepung kulit labu hal ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik bakteri mampu (Ghosh et al. Jumlah nilai amonia (NH. dan amonium (NH4 ) dalam perairan dapat dihitung melalui TAN (Total Amonia Nitroge. Nilai konsentrasi maksimum TAN yang dapat diterima pada budidaya udang yaitu 2 mg L-1 sehingga konsentrasi TAN masih dalam batas wajar untuk budidaya (Boyd 1. Nilai konsentrasi TAN dari semua perlakuan pada hari ke-20 sampai hari ke-30 mengalami penurunan dikarenakan konsentrasi TAN dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi untuk proses metabolisme dan pertumbuhan sel bakteri (Avnimelech 2. Nilai amonium dan amonia mengalami penurunan pada hari ke Hal ini disebabkan aktivitas bakteri dan proses nitrifikasi meningkat sehingga konsentrasi amonia turun (Hargraves dan Kucuk 2. dapat diamati pada perlakuan pemberian tepung kulit labu dapat menurunkan amonia. Bakteri nitrifikasi berperan dalam mengoksidasi amonium menjadi nitrit (NO2-) (Hastuti 2. Nitrit merupakan senyawa anorganik yang berbahaya bagi udang jika terdapat dalam jumlah yang Konsentrasi nitrit yang tinggi absorbsi oksigen dalam darah (Juliette et al. Menurut Widanarni et al. konsentrasi nitrit yang aman bagi pertumbuhan udang sebaiknya tidak lebih dari 4,5 mg L-1. Konsentrasi nitrit meningkat dari H-0 tetapi cenderung stabil di H-10 H-20 dan H-30, konsentrasi nitrit selama pemeliharaan berfluktuatif diduga karena adanya akumulasi bahan organik yang berasal dari pakan yang tidak termakan, dan pengaruh dari DO perairan (Komarawidjaja 2. Nitrat (NO3-) merupakan proses akhir dari nitrifikasi dan termasuk senyawa anorganik yang tidak berbahaya bagi kehidupan udang dibandingkan dengan amonia dan nitrit (Hastuti 2. Konsentrasi nitrat mengalami penurunan di setiap minggunya. Pemanfaatan nitrat dengan penurunan konsentrasi nitrat pada pemeliharaan udang diduga akibat bakteri nitrifikasi dan bakteri denitrifikasi bekerja optimal mengubah nitrat menjadi nitrogen Menurut Jose et al. konsentrasi nitrat yang aman yakni 0,4-0,8 mg L-1 sehingga konsentrasi nitrat termasuk masih aman. Bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi memiliki peran penting merombak bahan organik dalam siklus nitrogen di perairan akuatik yang terbentuk seperti amonium pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang jika dalam konsentrasi tertentu. Konsentrasi yang melewati ambang batas dapat menyebabkan stress pada udang. Stress dapat dijadikan indikator kesehatan karena dapat mempengaruhi proses fisiologi dan daya tahan terhadap penyakit. Respons stress terjadi jika udang berada mempengaruhi perubahan di luar batas kemampuan toleransi fisik. Menurut Hastuti et al. stress dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa hemolim . Glukosa darah yang dihasilkan selama pemeliharaan berbeda nyata (P<0,. pada setiap perlakuan, nilai glukosa tertinggi pada perlakuan kontrol sebesar 49,54A0,655 mg L- dan nilai glukosa terendah pada perlakuan 2% sebesar 42,13A0,655 mg L-. Menurut Aparicio et al. nilai glukosa optimum sebesar 45 mg/dL dan diduga pada perlakuan kontrol mengalami stress yang melebihi nilai optimum. Perlakuan 2% memiliki nilai tertinggi yaitu 81. 82A4. mg/dL dan perlakuan 4% memiliki nilai terendah yaitu 69,70A1,428 mg/dL yang dimana adanya respons dari luar tubuh dapat merangsang kelenjar otak yang memproduksi hormon steroid yang kemudian akan dapat meningkatkan kolesterol tubuh sebagai bentuk respons Yuni et al. stres yang ditimbulkan (Pramudya et al. Tingkat kelangsungan hidup (TKH) dan pertumbuhan biota akuatik merupakan parameter utama dalam kegiatan budidaya untuk memproduksi hasil dari suatu keberhasilan produksi suatu komoditas. Perlakuan dengan penambahan tepung kulit labu memiliki kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan TKH paling rendah yaitu pada kontrol sebesar 64A27,13% dan TKH tertinggi sebesar 96A7,51% pada perlakuan pemberian tepung kulit labu 4%. Pemberian tepung kulit labu juga mempengaruhi laju pertumbuhan spesifik (LPS) udang dengan pemberian tepung kulit labu 4% menghasilkan nilai tertinggi sebesar 0,032A0,003 gr/hari dan menghasilkan bobot mutlak (BM) tertinggi sebesar 2,75A0,40 g dan panjang mutlak . tertinggi dengan nilai 2,94A0,39 cm. Jika hasil pertumbuhan perlakuan pemberian tepung kulit labu berbeda nyata (P < 0,. dibandingkan dengan hasil pertumbuhan dari kontrol, yaitu BM kontrol sebesar 1,53A0,38 g, dan PM kontrol sebesar 1,46A0,80 cm, hal tersebut menunjukkan adanya dugaan pemberian tepung kulit labu dapat menstimulasi bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Keberadaan denitrifikasi berpengaruh positif terhadap perbaikan kondisi kualitas air, yang ditunjukkan dengan kondisi kualitas air selama pemeliharaan di semua perlakuan masih dalam rentang optimal pemeliharaan mendukung pertumbuhan dan produksi udang (Herdianti et al. KESIMPULAN Pemberian mempengaruhi laju pertumbuhan spesifik (LPS) udang dengan pemberian tepung kulit labu 4% menghasilkan nilai tertinggi 0,031A0,006 gr/hari menghasilkan bobot mutlak (BM) tertinggi sebesar 2,62A0,630 g dan panjang mutlak Aplikasi Kulit Labu Curcubitaeae sp. tertinggi dengan nilai 2,94A0,394 cm. Jika pemberian tepung kulit labu dibandingkan dengan hasil pertumbuhan dari kontrol, yaitu BM kontrol sebesar 1,53A0,388 g, dan PM kontrol sebesar 1,46A0,802 cm berbeda nyata (P < 0,. hal tersebut menunjukkan adanya dugaan pemberian tepung kulit labu dapat menstimulasi bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi sehingga pemberian tepung kulit labu sangat efektif untuk pertumbuhan udang DAFTAR PUSTAKA