Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Kesiapan Perawat Dalam Menyusun Media Edukasi Berbasis Video Interaktif Hilmah Noviandry R1* | Abdan Syakura1 | Adinda Nur Brillyana1 | Mohammad Shiddiq Suryadi2 Politeknik Negeri Madura 2 Universitas Nazhatut Thullab Sampang Al Muafa Sampang * Corresponding Author: hilmahnoviandry@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 11 August 2025 Revised 27 September 2025 Accepted 30 September 2025 Keywords Nurse readiness, educational media, interactive video Kata Kunci Kesiapan perawat, media edukasi, vidio interaktif Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: ABSTRACT Introduction: Nurses have an important role in health education, but currently the Pukesmas Banyuanyar still uses printed media such as leaflets that are less attractive and often ignored by clients. This is far behind in development and risks ineffectiveness. Objective: This study aims to determine the readiness of nurses in developing interactive video-based educational media in the Puskesmas Banyuanyar Sampang work area. Method: The study used a descriptive-qualitative method with a survey The population taken was all 43 nurses. Using a total sampling Using a closed-end questionnaire with a Likert scale type. Data processing used coding, editing, scoring, tabulating and interpreting in the form of tables and narratives. Results: Most respondents, 26 people . %), are ready to develop interactive videos, and a small number of respondents, 4 people . %), are very ready to develop interactive videos. Conclusion: Nurses in the Puskesmas Banyuanyar Sampang work area are declared ready to develop interactive video-based educational media, which indicates the potential for developing digital educational media in primary health care ABSTRAK Pendahuluan: Perawat memegang peran penting dalam edukasi kesehatan, namun selama ini pemberian edukasi pada pasien di Puskesmas Banyuanyar masih menggunakan media cetak dalam bentuk leaflet yang kurang menarik dan seringkali diabaikan oleh klien, hal ini masih belum mengikuti perkembangan jaman dan memiliki resiko mengalami penurunan dalam efektifitasnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan perawat dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif di wilayah kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif yaitu jenis penelitian yang menggambarkan suatu fenomena hasil penelitian dengan pendekatan survei, populasi yang diambil seluruh perawat di wilayah kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang berjumlah 43 orang, menggunakan teknik total sampling. penelitian ini menggunakan quesioner closeended dengan jenis skala likert, dengan pengolahan dan analisa data menggunakan coding, editing, scoring, tabulating dan interpretating dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: sebagian besar responden sebanyak 26 orang . %) dikategorikan dalam siap menyusun video interaktif, dan sebagian kecil responden sebanyak 4 orang . %) memiliki kategori sangat siap dalam menyusun video interaktif. Sebanyak 30% responden tidak siap dalam menyusun video interaktif. Kesimpulan: Perawat di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang dinyatakan siap dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif, yang menandakan adanya potensi pengembangan media edukasi digital dalam pelayanan kesehatan primer. Selain untuk pengembangan bagi keperawatan selanjutnya bagi yang siap, pengembangan ini juga akan bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan perawat yang tidak siap Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Pendahuluan Salah satu tantangan utama dalam pelayanan keperawatan saat ini adalah rendahnya penggunaan media edukatif berbasis digital oleh perawat, khususnya dalam bentuk video Padahal, peran perawat dalam memberikan edukasi kesehatan merupakan bagian penting dari pelayanan promotif dan preventif di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sayangnya, masih banyak perawat yang belum memiliki kesiapan optimal dalam menyusun media edukasi yang menarik dan efektif menggunakan teknologi digital, seperti video Media edukasi atau sering disebut juga dengan pendidikan merupakan segala upaya yang dirancang untuk mempengaruhi orang lain baik secara individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Aisah. Pendidikan kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan sendiri, pendekatan yang tepat dan informasi yang sesuai kebutuhan dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan (Fatihatul Husna et al. , 2. pelatihan dan konseling yang diberikan oleh tenaga medis dapat membantu pasien memahamu pentingnya kesehatan (Rahman et al. , n. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua perawat memiliki kesiapan yang memadai dalam menyusun dan memanfaatkan media edukasi video interaktif. Ketidaksiapan tersebut menjadi permasalahan serius dalam meningkatkan kualitas promosi kesehatan berbasis teknologi di layanan primer seperti Puskesmas. Menurut Laporan Kementerian Kesehatan RI . tentang Transformasi Digital Kesehatan, hanya sekitar 38% Puskesmas di Indonesia yang telah mengintegrasikan media digital dalam promosi kesehatan secara rutin. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa kemampuan institusi dalam menyediakan sarana dan pelatihan yang mendukung pemanfaatan media interaktif masih belum merata. Di daerah 3T (Tertinggal. Terdepan, dan Terlua. , kondisi ini bahkan lebih mengkhawatirkan karena akses terhadap pelatihan dan infrastruktur sangat terbatas (Kementerian Kesehatan RI, 2. Selain itu, data dari Balitbangkes Kemenkes tahun 2022 mencatat bahwa hanya 27% tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang secara aktif menyusun atau menggunakan video edukatif dalam kegiatan edukasi. Sisanya masih mengandalkan metode konvensional seperti ceramah langsung, poster, dan leaflet. Peneliti melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Banyuanyar Sampang yang menunjukkan bahwa terdapat 43 perawat. Dalam memberikan edukasi kesehatan, para perawat cenderung menggunakan metode seminar, konseling, leaflet, dan lembar balik. Penggunaan metode tersebut menjadi salah satu penyebab audiens mudah melupakan informasi yang disampaikan oleh perawat (Syakura & A, 2. Berdasarkan beberapa studi, tantangan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik keperawatan disebabkan oleh kesenjangan kompetensi digital dikalangan perawat serta kurangnya pelatihan dan dukungan institusional. Hal ini diperkuat oleh (Yojana, 2. menyatakan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan di Indonesia masih memiliki tingkat literasi digital yang bervariasi, dan ini berdampak langsung pada kemampuan mereka dalam menggunakan media digital untuk edukasi kesehatan. Salah satu penyebab utama rendahnya kesiapan perawat dalam menyusun video interaktif adalah keterbatasan literasi digital. Literasi digital sendiri merupakan kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, memanfaatkan, dan menciptakan informasi melalui media digital (Zahrany et al. , 2. Kondisi ini berdampak pada efektivtas penyampaian informasi kepada pasien yang pada akhirnya mempengaruhi hasil kesehatan (Syakura & Hasanah, 2. Selain keterbatasan literasi digital, faktor penyebab lainnya adalah kurangnya pelatihan yang difokuskan pada pembuatan media edukasi berbasis video interaktif. Menurut Arif et al. , . menyatakan bahwa pelatihan yang terarah dan berkelanjutan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memanfaatkan media digital secara profesional, termasuk dalam konteks edukasi kesehatan. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif metode edukasi yang lebih menarik, interaktif, dan mampu meningkatkan daya ingat serta keterlibatan audiens, salah satunya melalui pemanfaatan media video interaktif yang telah terbukti mampu meningkatkan efektivtas komunikasi Berbagai pihak menyarankan strategi kapasitas perawat sebagai solusi terhadap rendahnya kesiapan dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk edukasi kesehatan. Strategi ini meliputi pelatihan intensif yang berfokus pada aspek teknis, komunikasi edukatif, serta pembuatan konten yang sesuai dengan kebutuhan sasaran. Penggunaan video edukasi dapat meningkatkan pemahaman perawat terhadap proses komunikasi terapeutik, yang merupakan komponen penting dalam penyusunan pesan kesehatan (Intan Pratiwi et al. , 2. Dengan demikian kesiapan perawat dalam menyusun video interaktif menjadi aspek krusial yang harus ditingkatkan melalui pendekatan menyeluruh. Pendekatan ini mengcangkup peningkatan individu, penyedia sarana dan prasarana pendukung, serta pelatihan yang relevan dan Upaya ini sejalan dengan arah transformasi digital di sektor kesehatan yang tengah diupayakan oleh pemerintah, terutama dalam penguatan layanan promotif dan preventif di tingkat puskesmas (Kementrian Kesehatan RI, 2. Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, peneliti tertarik untuk meneliti tentang kesiapan perawat dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di wilayah kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang berjumlah 43 orang, menggunakan teknik total sampling. Variable dalam penelitian ini meliputi kesiapan perawat dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2025 di wilayah kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang sudah baku berjenis quesioner closeended dengan jenis skala likert, dengan pengolahan data menggunakan coding, editing, scoring, tabulating dan interpretating dalam bentuk tabel dan analisa data secara deskriptif narasi sesuai dengan hasil penelitian. Hasil dan Pembahasan Data Umum Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Laki - Laki Perempuan Total Presentase Berdasarkan tabel 1 menunjukkan sebagian besar responden sebanyak 33 orang . %) berjenis kelamin perempuan, dan sebagian kecil responden sebanyak 10 orang . %) berjenis kelamin laki-laki. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi 20 Ae 30 tahun 31 Ae 40 tahun >40 tahun Total Presentase Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Berdasarkan tabel 2 diatas, menunjukkan sebagian besar responden sebanyak 23 orang . %) berusia 26-35 tahun, dan sebagian kecil responden sebanyak 3 orang . %) berusia 46-55 tahun. Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Frekuensi Diploma 3 Profesi Total Presentase Berdasarkan tabel 3 menunjukkan hampir setengahnya responden sebanyak 17 orang . %) berpendidikan Diploma 3, dan sebagian kecil responden 1 orang . %) berpendidikan S2 Data Khusus Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesiapan Perawat Dalam Menyusun Media Edukasi Berbasis Video Interaktif Kesiapan Perawat Frekuensi Presentase Sangat Siap Siap Tidak Siap Sangat Tidak Siap Total Berdasarkan tabel 4. 4 menunjukkan sebagian besar responden sebanyak 26 orang . %) siap dalam menyusun video interaktif, dan sebagian kecil responden sebanyak 4 orang . %) sangat siap dalam menyusun video interaktif. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebagian besar responden siap dalam menyusun video interaktif, dan sebagian kecil responden sangat siap dalam menyusun video interaktif. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh perawat merasa cukup percaya diri dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun video interaktif sebagai media edukasi kesehatan. Temuan ini mencerminkan bahwa inovasi berbasis teknologi sudah mulai mendapat respons positif di kalangan tenaga kesehatan, khususnya perawat yang terlibat langsung dalam edukasi Kesehatan terhadap pasien. Tingginya presentase perawat yang merasa siap menjadi indikator bahwa sebagian besar perawat di wilayah Puskesmas Banyuanyar Sampang memiliki pemahaman dasar yang baik terkait media edukasi anemia dalam kehamilan dan pentingnya media interaktif sebagai sarana penyampaian informasi. Kesiapan perawat dalam menyusun video intetaraktif menunjukkan bahwa tenaga kesehatan atau pendidik kesehatan mulai menyadari pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai media edukasi. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa media interaktif mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan kesehatan, serta mendorong perubahan perilaku positif (Sustiyono, 2. Hal penting dalam keberhasilan perawatan adalah kemandirian pasien Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Kesiapan perawat dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif, ditunjang oleh umur responden. Hasil penelitian menunjukkan Sebagian besar responden berada direntang usia 20 Ae 30 tahun. Usia seseorang berkaitan dengan kematangan, kedewasaan, dan kemampuan dalam bekerja. Seseorang yang semakin dewasa, akan semakin terlihat berpengalaman, dalam mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan, bijaksana, dapat mengendalikan emosi dan mempunyai etika kerja yang kuat dan komitmen terhadap mutu pelayanan (Sekartari et al. , 2. mengatakan Tingkat kepatuhan juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamindan status Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, dan sebagian kecil responden berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dibuktikkan dengan hasil kuesioner hampir setengah dari responden dengan jenis kelamin perempuan menyatakan siap dalam menyusun video interaktif. Fakta ini mencerminkan kondisi umum di Puskesmas Banyuanyar Sampang dimana profesi keperawatan mayoritas diisi oleh perempuan. Hal ini dimana perempuan cenderung lebih teliti, komunikatif, dan empatik dalam menyampaikan informasi kesehatan, yang merupakan elemen penting dalam pembuatan media edukasi. Menurut (Rahim & Irwansyah, 2. menyatakan bahwa kondisi ini sangat menguntungkan, mengingat perawat perempuan cenderung lebih dekat secara emosional dengan pasien sebagai sasaran edukasi, komunikasi dan empati yang baik dari perawat perempuan diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyampaian informasi melalui media edukatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hampir setengah dari responden memiliki latar belakang pendidikan diploma 3 dan sebagian kecil responden memiliki pendidikan magister (S. Hal ini dibuktikan dengan hasil kuesioner sebagian kecil responden berpendidikan diploma 3 menyatakan siap dalam menyusun video interaktif. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas perawat dalam penelitian ini memiliki jenjang pendidikan vokasional, sementara jumlah responden dengan pendidikan pascasarjana masih sangat terbatas. Latar belakang pendidikan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan tenaga kesehatan dalam menggunakan teknologi, termasuk dalam menyusun video interaktif sebagai media edukasi. Perawat dengan jenjang pendidikan lebih tinggi umumnya memiliki eksposur yang lebih luas terhadap teknologi, riset, dan pendekatan pembelajran inovatif yang dapat meningkatkan kesiapan mereka dalam merancang dan mengimplementasikan media edukatif berbasis Sebaliknya, lulusan vokasi seperti diploma 3 cenderung lebih terfokus pada praktik klinis dan teknis, dengan porsi yang relatif lebih sedikit terhadap pembelajaran teknologi informasi dan multimedia. Menurut (Van Der Vaart & Drossaert, 2. tingkat pendidikan berperan penting dalam membentuk literasi digital tenaga kesehatan, termasuk kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi kesehatan berbasis teknologi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula kemungkinan individu tersebut memiliki kepercayaan diri dan kesiapan dalam menggunakan teknologi sebagai alat bantu edukatif, termasuk dalam bentuk video interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah responden memiliki kesiapan komunikasi yang baik dalam menyusun video interaktif. Hal ini didukung dengan kuesioner yang menyatkan bahwa penyampaian materi dengan gestur tubuh yang bagus serta menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dalam video membuat audiens mudah mencerna pesan yang disampaikan. Kesiapan komunikasi merupakan salah satu komponen penting dalam keberhasilan media edukasi, khususnya yang berbasis audiovisual. Komunikasi yang baik mencakup kemampuan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. menyampaikan informasi secara jelas, menyusun kalimat yang sesuai dengan tingkat pemahaman audiens, serta menyesuaikan nada suara dan ekspresi yang mendukung Dalam penyusunan video interaktif, perawat dituntut tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengomunikasikannya secara menarik dan persuasif. Menurut (Aisah, 2. komunikasi yang efektif dalam edukasi kesehatan berperan besar untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien terhadap informasi yang diberikan dalam konteks media video interaktif, komunikasi tidak hanya terbatas pada kontak langsung, tetapi juga melalui pemilihan bahasa visual, suara, dan animasi yang digunakan dalam video. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah responden memiliki kesiapan teknologi yang baik dalam menyusun video interaktif sebagai media edukasi keperawatan. Hal ini di dukung dengan pernyataan kuesioner dalam menyusun video interaktif yang menarik dan sesuai tidak terlepas dari beberapa aspek teknis seperti penggunaan kamera, pengambilan gambar, lighting, editting, dan suara. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian perawat telah memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan perangkat digital seperti komputer, ponsel pintar, dan aplikasi pendukung produksi video, serta terbiasa dengan platform penyuntingan dan distribusi konten edukatif. Kesiapan dalam aspek teknologi sangat penting dalam penyusunan video interaktif karena berkaitan langsung dengan kemampuan teknis perawat dalam mengoperasikan perangkat lunak dan perangkat keras yang mendukung proses produksi konten digital. Perawat yang memiliki kesiapan teknologi yang baik akan lebih percaya diri dan efisien dalam mengembangkan materi edukasi berbasis visual dan audio, serta dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyebarluaskan informasi kesehatan kepada pasien. Pernyataan ini selaras dengan penelitian sebelumnya bahwa pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi dalam dunia keperawatan, di mana perawat diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan klinis, tetapi juga kecakapan teknologi untuk menunjang efektivitas komunikasi dan edukasi pasien, perawat yang memiliki kesiapan teknologi akan lebih mudah mengembangkan video interaktif yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan mudah dipahami oleh pasien dari berbagai latar belakang (Arif et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari total responden memiliki kesiapan materi yang baik dalam menyusun video interaktif sebagai media edukasi Hal ini di dukung dengan kuesioner yang menyatakan bahwa menyusun kerangka dengan materi yang logis, dan terstruktur membuat audiens dapat memahami inti dari materi yang disampaikan. Kesiapan materi menjadi faktor esensial dalam keberhasilan pembuatan media edukatif berbasis video. Materi yang baik adalah materi yang sesuai dengan kebutuhan sasaran edukasi, berpedoman pada evidensi ilmiah, serta disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Perawat yang memiliki kesiapan materi yang baik akan mampu menentukan informasi penting yang perlu disampaikan, menghindari informasi yang tidak relevan, dan menyusun konten yang padat, jelas, serta sesuai dengan waktu tayang video. Menurut (Aisah, 2. , dalam pembuatan media edukatif digital, kualitas materi merupakan indikator utama keberhasilan proses edukasi kesehatan. Materi yang tepat akan meningkatkan pemahaman pasien serta memperkuat pesan-pesan kesehatan yang ingin disampaikan. sebagian besar responden sebanyak 26 orang . %) siap dalam menyusun video interaktif, dan sebagian kecil responden sebanyak 4 orang . %) sangat siap dalam menyusun video interaktif. Kesiapan pengetahuan merupakan komponen mendasar yang memengaruhi sejauh mana seseorang mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik profesional. Dalam konteks penyusunan video interaktif, perawat yang Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. memiliki pengetahuan baik cenderung lebih percaya diri dan terampil dalam menyampaikan informasi secara sistematis, menarik, dan relevan dengan kebutuhan Pengetahuan juga mendukung kemampuan dalam menentukan media, alat bantu visual, serta pendekatan pembelajaran yang sesuai agar pesan edukasi dapat tersampaikan dengan efektif. Hal ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan pemahaman dan retensi informasi pada pasien, yang menunjukkan bahwa perawat perlu memiliki pengetahuan yang memadai dalam menyusun dan menggunakan media video untuk edukasi kesehatan (Aisah, 2. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengah dari total perawat memiliki kesiapan promosi yang baik dalam menyusun video interaktif. Hal ini didukung dengan pernyataan kuesioner yang menyatakan bahwa memanfaatkan platfrom media sosial . acebook, instagram, twitte. untuk menyebarluaskan video interaktif yang dapat mempermudah ibu hamil mengakses dimana saja. Kesiapan promosi mencakup kemampuan perawat dalam merancang strategi publikasi konten, memahami karakteristik media sosial atau platform digital, serta memilih waktu dan cara penyebaran informasi yang efektif. Dalam konteks penyusunan video interaktif, promosi bukan hanya kegiatan akhir setelah video selesai, tetapi bagian integral dari proses komunikasi kesehatan kepada masyarakat. Video yang informatif tidak akan berdampak maksimal jika tidak dipromosikan secara tepat sasaran. Perawat sebagai agen promosi kesehatan perlu memahami teknik digital marketing sederhana, termasuk pembuatan caption menarik, penggunaan tagar . yang relevan, serta pemanfaatan jaringan komunitas untuk memperluas jangkauan pesan kesehatan. Hal ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa keberhasilan media edukasi digital sangat bergantung pada strategi promosi yang dilakukan, baik melalui media sosial, website institusi, maupun platform edukasi daring (Aidha et al. , 2. Hasil penelitian menyatakan bahwa hampir setengah dari responden memiliki kesiapan dalam hal sarana dan prasarana untuk menyusun video interaktif. Hal ini didukung dengan pernyataan kuesioner yang menyatakan bahwa memiliki akses yang cukup terhadap peralatan yang dibutuhkan seperti kamera, microfon, membuat saya mudah untuk memproduksi video bekualitas tinggi. Sarana dan prasarana merupakan komponen penting dalam mendukung proses penyusunan media edukatif, terutama media berbasis video interaktif. Selain sarana dan prasarana yang sudah tersedia di Puskesmas, untuk menunjang kesiapan perawat dalam mengembangkan media edukasi yang efektif dan menarik memerlukan prasarana lain seperti aplikasi pengedit video, koneksi internet yang memadai, ruang kerja yang nyaman, akses terhadap sumber belajar, serta dukungan institusi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk Ketersediaan teknologi dan fasilitas yang mendukung mempermudah perawat dalam menuangkan ide-ide edukatif ke dalam format video yang interaktif. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan perawat dalam menghasilkan media edukasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami oleh penerima edukasi. Tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai, proses produksi media edukatif cenderung terhambat dan dapat menurunkan motivasi serta kualitas hasil yang diperoleh. Penelitian ini sejalan dengan opini yang dikemukan oleh (Holifatus Suaida et al. , 2. yang menyatakan bahwa Dukungan sarana prasarana adalah persepsi perawat tentang dukungan sarana dan prasarana rumah sakit dalam meningkatkan kesiapan perawat. Hasil penelitian ini memperkuat anggapan bahwa kesiapan perawat dalam menyusun media edukatif berbasis video tidak hanya Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sangat bergantung pada tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang. Beberapa Puskesmas terkadang masih menghadapi keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana, khususnya dalam penyusunan media edukatif berbasis video interaktif. Keterbatasan ini mencakup kurangnya perangkat pendukung seperti kamera, komputer dengan spesifikasi yang memadai, perangkat lunak editing video, serta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam produksi konten digital. Minimnya fasilitas tersebut berdampak pada rendahnya inovasi dalam penyampaian materi edukasi kesehatan kepada masyarakat. Padahal, media edukatif berbasis video interaktif terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dibandingkan metode konvensional seperti leaflet atau ceramah. Selain itu, media video juga dinilai mampu menjangkau lebih banyak sasaran melalui platform digital seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Kondisi ini mencerminkan perlunya perhatian lebih dari pihak pengelola puskesmas untuk memperkuat dukungan terhadap pengembangan media edukatif yang modern dan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai, tenaga kesehatan di puskesmas dapat lebih optimal dalam menjalankan fungsi promotif dan preventif melalui media yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas (Krentel et al. Opini ini sejalan dengan penelitian (Khairunnisa & Adisasmito, 2. yang menyatakan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam penerapan sistem informasi dan media digital di puskesmas adalah keterbatasan infrastruktur. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa meskipun sumber daya manusia sudah cukup siap dari sisi manajerial dan motivasi, namun kapasitas teknologi dan operasional masih belum memadai, sehingga menghambat optimalisasi layanan digital, termasuk produksi media edukatif. Oleh karena itu, ketersediaan sarana dan prasarana tidak hanya berperan sebagai pendukung teknis, tetapi juga sebagai indikator kesiapan organisasi secara menyeluruh dalam memasuki era transformasi digital pelayanan kesehatan. Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa sebagian kecil dari total perawat yang menunjukkan kesiapan adaptasi dalam menyusun video interaktif sebagai media edukasi keperawatan. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas perawat masih menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan metode penyampaian edukasi dari konvensional ke berbasis digital. Hal ini didukung dengan kuesioner yang menyatakan bahwa ketidakmampuan menyesuaikan isi membuat tim perawat sulit mengadaptasi konten video berdasarkan perkembangan terbaru / umpan balik yang diterima. Kesiapan adaptasi merujuk pada kemampuan individu dalam menanggapi perubahan lingkungan kerja, teknologi, dan tuntutan profesi dengan cara yang positif dan konstruktif. Dalam konteks penyusunan video interaktif, perawat dituntut untuk mampu belajar hal-hal baru seperti penggunaan aplikasi video editing, teknik pengambilan gambar, hingga penyusunan skrip edukatif berbasis teknologi. Rendahnya kesiapan adaptasi dapat menjadi hambatan dalam implementasi media edukasi digital secara luas. Selaras dengan penelitian sebelumnya bahwa adaptabilitas merupakan salah satu soft skill penting dalam pengembangan literasi digital tenaga keperawatan, terutama di era pandemi dan pasca-pandemi yang menuntut pemanfaatan teknologi secara intensif, hal ini perawat yang memiliki kesiapan adaptasi yang tinggi cenderung lebih mudah menerima perubahan dan memiliki motivasi yang kuat untuk belajar keterampilan baru (Zaharany et al. , 2. Perkembangan era digital yang menuntut tenaga kesehatan, khususnya perawat, untuk mampu beradaptasi dengan teknologi informasi dalam mendukung pelayanan kesehatan yang efektif. Dalam era digitalisasi layanan kesehatan, perawat tidak hanya Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. dituntut untuk memiliki kompetensi klinis, tetapi juga kompetensi dalam menyusun dan menyampaikan informasi kesehatan melalui media yang inovatif dan sesuai perkembangan zaman. Media edukasi berbasis video interaktif dinilai mempermudah perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, video interaktif mampu menyampaikan informasi secara visual dan auditif, sehingga lebih menarik dan mudah dipahami oleh penerima edukasi. Kedua, media ini memungkinkan fleksibilitas dalam penyampaian materi karena dapat diakses kapan saja dan di mana saja, tanpa harus bergantung pada tatap muka langsung. Ketiga, interaktivitas dalam video memungkinkan penerima edukasi untuk lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran, yang dapat meningkatkan pemahaman dan retensi informasi. Selain itu, penggunaan media video juga mampu mengatasi hambatan komunikasi, seperti keterbatasan waktu perawat dalam memberikan edukasi secara langsung atau perbedaan bahasa dan tingkat literasi kesehatan pasien. Dengan adanya video interaktif yang dirancang sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan pasien, proses edukasi menjadi lebih efektif dan efisien sehingga bisa mempengaruhi perilaku pasien ke arah yang lebih baik Kembali. Pendapat ini sejalan dengan penelitian oleh (I. W & Khudsiyah, 2. yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang (Syakura. Hal ini nantinya diharapkan bisa meningkatkan kemandirian klien (Syakura & Hasanah, 2. Terdapat 30% perawat yang tidak siap dalam mencipatakan dan membuat media edukasi berbasis video interaktif, hal ini merujuk pada keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana, khususnya dalam penyusunan media edukatif berbasis video interaktif. Keterbatasan ini mencakup kurangnya perangkat pendukung seperti kamera, komputer dengan spesifikasi yang memadai, perangkat lunak editing video, serta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam produksi konten digital. Minimnya fasilitas tersebut berdampak pada rendahnya inovasi dalam penyampaian materi edukasi kesehatan kepada masyarakat. Padahal, media edukatif berbasis video interaktif terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dibandingkan metode konvensional seperti leaflet atau ceramah. Sebagai sarana pelayanan kesehatan yang kompleks dan berorientasi pada pengembangan jangka panjang, sudah seharusnya pihak manajemen Puskesmas maupun rumah sakit harus selalu mengembangkan metode-metode yang efektif dan efisien dalam pemberian pelayanan kepada klien (Syakura & A, 2. Peningkatan kemampuan SDM, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan aspek wajib yang harus dikembangkan dalam manajemen pelayanan kesehatan agar mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan jaman. Kesimpulan Sebagian besar perawat di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuanyar Sampang dikategorikan siap dalam menyusun media edukasi berbasis video interaktif. hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai penguatan kompetensi perawat dalam bidang edukasi kesehatan berbasis media digital, terutama dalam perencanaan dan pembuatan konten edukatif berbentuk video interaktif. Hal ini akan mendukung pengembangan teori pembelajaran kesehatan berbasis teknologi informasi. Untuk itu pihak manajemen Puskesmas maupun Dinas Kesehatan hendaknya memberikan pelatihan lanjutan dan memberikan fasilitas pendukung untuk pembuatan video interaktif oleh perawat. Video tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi kesehatan masyarakat yang efektif, terutama di era digital saat ini. Selain itu Video interaktif yang dihasilkan juga diharapkan dapat dipublikasikan secara luas melalui media Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. sosial, aplikasi kesehatan, maupun platform lokal Puskesmas agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap isuisu kesehatan Acknowledgments Segala puji Syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena berkat. Rahmat dan karunia serta mukjizat Ae Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar Ae besarnya kepada Politeknik Negeri Madura tempat peneliti bekerja dan mengabdi keilmuwan. Jurusan Kesehatan Program Studi D3 Keperawatan Politeknik Negeri Madura. Kepala Puskesmas Banyuanyar beserta seluruh petugas yang terlibat, responden yang bersedia untuk diambil datanya, serat pendamping hidup saya yang sudah memberikan support material dan spiritual dalam penyelesaian penelitian ini. Daftar Pustaka