PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Volume 1 November 2023 . FAKTOR PENYEBAB KESENJANGAN GENDER PADA PEREMPUAN DALAM MENDAPATKAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN MALAKA Frederika Yolanda Bria Universitas Muhammadiyah Kupang. Indonesia Corresponding Author: frederika@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan . kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan di Desa Umalor, . Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan di Desa Umalor. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, metode pengumpulan data menggunakan metode obervasi, wawancara, dokumentasi. Subjek penelitian Kepala Desa. Orang tua dan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Faktor kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan yang terjadi di Desa Umalor Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka adalah . pendidikan perempuan dinomorduakan . , dibandingkan laki-laki . pendidikan perempuan dipinggirkan dan kurang diperhatikan . karena perempuan hanya hanya mengurusi kebutuhan dalam rumah . adanya pelabelan . yang diberikan kepada perempuan sebagai makhluk yang lemah dan tidak mampu memimpin diri sendiri, . beban kerja perempuan lebih banyak dari pekerjaan laki-laki yakni perempuan yang harus bekerja didalam rumah dan diluar rumah. Sedangkan faktor yang menyebabkan kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan antara lain . faktor tradisi budaya yang melarang dan membatasi hak dan kewajiban perempuan untuk mengakses pendidikan, . faktor budaya patrilineal yang menganggap laki-laki lebih mampu dari pada perempuan dan . faktor keterbatasan ekonomi sehingga laki-laki disekolahkan lebih dulu dari pada perempuan. Kata Kunci: Kesenjangan Gender. Perempuan. Pendidikan ABSTRACT The purpose of this study was to describe . the gender gap in women's access to education in Umalor Village, and . to describe the factors that cause gender gaps in women's access to education in Umalor Village. The type of this research was descriptive qualitative, and data collection methods used observation, interviews, and documentation. The research subjects were village heads, parents and children who did not continue their education to a higher level. The analysis technique of the data used data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are . women's education is secondary . , compared to men. women's education is marginalised and given less attention . because women only take care of domestic . there is labelling . given to women as creatures who are weak and unable to lead and . women's workload is more than men's work, namely women who have to work in the house and outside the house. Meanwhile, the factors that cause gender gaps in women's access to education include . cultural tradition factors that prohibit and limit women's rights and obligations to access education, . patrilineal cultural factors that consider men to be more capable than women, and . the economic limitation factor so that boys are sent to school earlier than girls. Keywords: Gender Gap. Women. Education PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu proses fundamental perubahan pembangunan, yang memiliki peran penting dalam gerakan pembangunan. Pendidikan juga memberikan pengaruh E-ISSN: P-ISSN: Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. yang besar terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat itu sendiri, yang ditandai dengan perubahan sikap dan cara berpikir yang dilaksanakan setiap masyarakat ketika berpartisipasi dalam bidang pembangunan (Julyyanti. Yusuf. Saldika. Syahrul, & Ramlah. Syahrul, 2. Namun kenyataannya, pendidikan di Indonesia masih berkualitas rendah. Realitas yang terjadi dalam dunia pendidikan di negara yang begitu besar adalah pendidikan yang belum merata di seluruh nusantara, dan di era pembangunan yang terus menerus ini, perbedaan gender masih terasa dari bentuk diskriminasi dari budaya patriarki (Syahrul. Datuk, & Bora, 2020. Syahrul. Zahrawati, & Nursaptini, 2. Kesetaraan gender di Indonesia mulai diprogramkan pada saat ditetapkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2000 tentang gender, artinya pemahaman terhadap kesetaraan gender di masyarakat. Namun hingga saat ini kesetaraan gender belum terbentuk dengan baik, meskipun sudah ada perubahan akan kesadaran gender oleh laki-laki terhadap perempuan (Syahrul, 2. Partisipasi perempuan dalam parlemen atau politik mengalami kenaikan yang cukup signifikan, tetapi untuk yang lainnya seperti pendidikan dalam hal kepemimpinan dan ekonomi masih terpuruk. Kekerasan seksual masih terus berlanjut, walaupun sudah ada pihak yang melakukan pendampingan dan pelayanan ke seluruh pelosok. Hingga kini sudah banyak perempuan yang mau berbicara menyampaikan apa yang menjadi keresahannya, baik dalam pekerjaannya, rumah tangga maupun kejadian-kejadian di tempat umum dan ruang public (Andersen, 1. Hal ini karena peran perempuan dalam ekonomi dan pendidikan masih terbilang minim atau rendah karena adanya jarak gender yang cukup besar, bahkan ini menjadi sorotan dunia karena laki-laki yang paling banyak mendominasi baik itu dalam urusan politik, ekonomi maupun Pendidikan (Cobb-Clark & Moschion, 2017. Strand. Syahrul & Wardana, 2. Budaya patriarki merupakan suatu sistem dari struktur dan praktik sosial dimana laki-laki lebih mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi kaum perempuan (Hsieh. Chen, & Lin. Salah satu bentuk budaya patriarki ditandai dengan banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang merugikan kaum perempuan. Dikeluarga perempuan hanya dianggap sebagai sumber tenaga domestik yang tak dibayarkan untuk melestarikan pekerja laki-laki . uami merek. serta melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka yang kelak menjadi tenaga kerja generasi baru. Sedangkan ketika perempuan memasuki dunia kerja yaitu dengan menjadi tenaga kerja, perempuan dipandang masih tergantung secara ekonomi kepada suami PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. mereka sehingga diberi upah yang rendah, status yang rendah, dan bekerja hanya separuh waktu (Maguire. Niens. McCann, & Connolly, 2015. Moss & Washbrook, 2. Praktek diskriminasi pada perempuan ini mengakibatkan rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan sehingga menyebabkan suatu kesenjangan gender atau ketidaksetaraan gender. Secara khusus isu-isu kesetaraan gender memainkan peran kunci dalam mendorong partisipasi tenaga kerja bagi perempuan dan memiliki pengaruh penting serta Sifat dan tingkat diskriminasi sangat bervariasi dan diberbagai Negara atau Tidak ada satu wilayah pun di Negara berkembang dimana perempuan telah menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial dan pendidikan. Kesenjangan gender dalam kesempatan dan kendali atas sumber daya, ekonomi dan kekuasaan oleh laki-laki, yang menyebabkan perempuan masih pada tataran objek pembangunan yang belum menyasar namun bukan sebagai pelaku. Budaya patriarkis yang tidak ramah pada perempuan tersebut dibentuk karena adanya konstruksi sosial budaya yang menempatkan perempuan seolah-olah hanya boleh mengurus soal-soal domestik saja. Namun tidak ada hak untuk merambah ke area publik yang lebih luas. Kenyataan ini menunjukkan bahwa keyakinan itu masih tertanam kuat dalam pandangan laki-laki (Dimitrov, 1999. Vergys Bosch. Freude, & Camps Calvet, 2. Permasalahan yang terjadi di Desa Umalor Kecamatan Malaka Barat. Kabupaten Malaka ialah banyak anak perempuan yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang melanjutkan pendidikan hanya sampai pada tingkat sekolah menengah pertama, dan tingkat menengah atas. Kehidupan mereka sehari-hari hanya mengurusi kebutuhan keluarga seperti mencuci dan memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, dan membantu orang tua bekerja baik disawah maupun di kebun untuk meningkatkan sumber pendapatan dan anak perempuan yang sudah menikah ada yang pergi merantau untuk memenuhi kebutuhan Masalah-masalah tersebut terjadi diduga karena kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak perempuannya yang masih terbatas. Sehingga oleh karena keterbatasan pengetahuan terhadap pentingnya pendidikan bagi anak perempuan, orang tua tidak mau menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang yang lebih tinggi (Banele, 2023. Suparman, 2. Untuk mengatasi kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan pemerintah harus membuka kesempatan pendidikan yang lebih merata pada semua jurusan, jenis, dan tingkat pendidikan dengan mempertimbangkan aspek kesetaraan gender, mengeliminasi semua bentuk ketimpangan gender serta memberikan peluang dan kesempatan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam mendapatkan pendidikan. Selanjutnya upaya yang perludilakukan pemerintah adalah dengan memperkuat dan mempercepat perbaikan sumber daya manusia dan status sosial perempuan di masyarakat. Penelitian kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan sebelumya sudah ada beberapa penelitian terdahulu. Penelitian Alisa . dengan judul penelitian AuFenomenologi kesenjangan gender dalam mengenyam pendidikan: studi tentang kesenjangan gender di Desa Cibuntu. Kecamatan Wanayasa. Kabupaten PurwakartaAymenunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam pendidikan yang terjadi pada perempuan termanifestasikan ke dalam empat bentuk yaitu stereotipe yakni pandangan atau penilaian masyarakat terhadap kemampuan perempuan, marginalisasi yakni perempuan tidak dapat berkontribusi pada suatu bidang pekerjaan tertentu, subordinasi yakni penomorduaan peran perempuan dan beban kerja ganda. Selanjutnya, penelitian Chaerunnisyah . yang berjudul AuPersepsi Masyarakat terhadap Kesetaraan Gender di Desa Buku Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi BaratAy menunjukkan bahwa Bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender yang terjadi pada masyarakat Desa Buku adalah masih adanya perempuan dan laki-laki yang tidak mau mengubah/pasrah dengan hidupnya, musyawarah dalam rumah tangga belum diutamakan dan masih ada pembagian peran yang tidak adil antara perempuan dan laki-laki. Penelitian ini penting dilakukan karena selain masalah kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Adapun masalah-masalah lain mengenai kesenjangan gender pada perempuan yang masih terjadi dalam kehidupan masyarakat. Maka dari itu, peneliti tertarik ingin mengetahui lebih mendalam tentang faktokr kesenjangan gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena alam konteks sosial secara alamiah dengan melakukan proses interaksi komunikasi mengenai fenomena yang akan diteliti dengan menceritakan sebuah peristiwa baik dari individu maupun kelompok. Penelitian ini dilakukan di Desa Umalor Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka. Alasan Peneliti memilih lokasi penelitian ini dikarenakan orang tua di Desa Umalor cenderung tidak menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang yang lebih tinggi. Maka yang akan dijadikan sebagai subjek/informan dari penelitian ini adalah Kepala Desa, orang tua anak yang tidak melanjutkan pendidikan sebanyak empat orang, dan anak perempuan yang tidak melanjutkan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. pendidikan sebanyak enam orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Terdapat 4 aktivitas yang dilakukan dalam menganalisis data dengan model Miles dan Huberman sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesenjangan Gender pada perempuan dalam mendapatkan pendidikan merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat. Bentuk-bentuk kesenjangan tersebut yang dapat dilihat dalam pendidikan seperti hak perempuan yang dibatasi untuk mengakses pendidikan yang mana banyak perempuan hanya mengakses pendidikan sampai tingkat sekolah dasar dan menengah, pendidikan anak perempuan yang kurang diperhatikan oleh orang tua karena dianggap beban bagi kehidupan keluarga, pendidikan anak perempuan selalu dinomorduakan dan pendidikan anak laki-laki lebih diutamakan, pendidikan anak perempuan kurang difasilitasi sehingga dapat menyebabkan pendidikan anak perempuan menjadi terhambat dan terkendala untuk mencapai Subordinasi merupakan sebuah usaha yang menomorduakan anak perempuan dalam mendapatkan pendidikan baik itu pendidikan ditingkat sekolah dasar maupun di tingkat menengah hingga perguruan tinggi. Arti lain bahwa subordinasi adalah sebagai penomorduaan yang menganggap anak perempuan lebih lemah atau rendah dari kedudukan laki-laki. Masalah Subordinasi ini sering terjadi dan dijumpai dalam kehidupan masyarakat yang mana niat dan usaha seorang anak perempuan untuk mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kurang diperhatikan oleh orang tua karena orang tua yang selalu beranggapan bahwa pendidikan anak perempuan tersebut menjadi beban hidup keluarga hal inilah yang menyebabkan pendidikan anak perempuan tersebut menjadi terhambat bahkan putus sekolah. Dampak subordinasi pendidikan bagi anak perempuan yaitu hak anak perempuan di batasi sehingga potensi yang ada dalam dirinya tidak dapat dikembangkan dengan baik. Sedangakan dampak lainnya ialah masa depan anak perempuan menjadi tidak jelas dan tidak memiliki tujuan dalam hidup. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Stanisius mengatakan bahwa. Dalam urusan pendidikan, perempuan kerap kali hanya ditempatkan untuk mengurus rumah tangga dan urusan domestik karena mereka beranggapan bahwa anak perempuan walaupun sekolah tinggi-tinggi suatu saat nanti tetap menjadi pendamping dan pembantu laki-laki. Anggapan inilah yang membedakan hak perempuan dalam mendapatkan pendidikan dengan laki-laki (Wawancara, 03 Januari 2. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Wawancara di atas, diperkuat wawancara peneliti dengan Anastasia yang mengatakan demikian bahwa. Perempuan sering tidak diberikan posisi yang strategis dalam pengambilan keputusan dalam mendapatkan pendidikan. Pendapat perempuan kurang dipriotitaskan karena perempuan di anggap emosial sehingga laki-lakilah yang lebih rasional dinilai mampu untuk mengambil keputusan atau memberi pendapat dengan baik dalam menentukan pendidikan (Wawancara, 04 Januari 2. Selain wawancara peneliti dengan dua narasumber di atas, peneliti juga mewawancarai Asti yang mengatakan bahwa: perempuan sering di anggap tidak pantas untuk mendapatkan sebuah pendidikan tinggi. perempuan di anggap memiliki fisik, mental dan pemikiran yang lebih lemah sehingga dinilai tidak dapat mengemban amanah dengan maksimal (Wawancara, 04 Januari 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa subordinasi yang terjadi terhadap perempuan dalam mendapatkan pendidikan adalah karena anggapanmasyarakat yakni keberadaan perempuan hanya untuk mengurus rumah tangga dan urusan domestik, perempuan tidak diberikan kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam hal pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan, pendapat perempuan kurang diprioritaskan karena perempuan dianggap sangat emosional sedangkan laki-laki dianggap lebih rasional dalam hal menentukan, dan memberikan sebuah keputusan, selain itu perempuan juga dianggap tidak memiliki fisik, mental serta pemikiran yang lemah untuk menjalan sebuah tugas yang dipecayakan kepadanya. Beberapa anggapan tersebut merupakan sebuah bentuk subordinasi terhadap gender yakni terhadap perempuan. Karena adanya anggapan seperti inilah yang menyebab perempuan dan laki-laki dalam urusan pendidikan, laki-laki lebih unggul yakni mendapati serta menduduki jabatan-jabatan strategis dalam sebuah organisasi pendidikan dibandingkan dengan perempuan. Hal ini senada dengan pendapat Isram . yang menyatakan bahwa meskipun kesetaraan dalam bidang pendidikan antara laki-laki dan perempuan yang digaunkan oleh Kartini, namun pada kenyataannya budaya patriarki masih ada dan berkembang di tengah Hal tersebut tampak dari hubungan laki-laki dan perempuan yang masih terlihat timpang, dimana kaum perempuan masih diposisikan sebagai bagian dari laki-laki, dimarginalkan, hingga didiskriminasi. Hal inilah yang menyebabkan terbelunggunya kebebasan perempuan dalam mendapatkan pendidikan dan hak-hak perempuan dibatasi. Semua hal itu, mutlak dikuasi oleh laki-laki dan perempuan hanya mengikuti saja. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Marginalisasi adalah sebuah usaha untuk menyudutkan, memingirkan atau memojokkan peran perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Marginalisasi dalam kata lain suatu proses untuk memisahkan atau mengkategorikan sesuatu hal karena perbedaan. Masalah marginalisasi ini juga sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Marginalisasi terhadap perempuan tersebut seperti berprasangka buruk terhadap perempuan yang pulang dari sekolah sampai larut Berikutnya seperti perempuan yang pergi kerja tugas kelompok dirumah temannya pada malam hari dan anak perempuan yang suka bergaul dengan anak laki-laki didalam kompleks sekolah. Penilaian atau prasangka yang buruk inilah yang menyebabkan marginalisasi terhadap perempuan dilarang keluar pada malam hari. Karena anak perempuan yang keluarga kerja tugas pada malam hari adalah anak perempuan yang kurang baik. Wawancara peneliti dengan Yoseph, mengatakan demikian bahwa, perempuan itu tugasnya adalah mengurusi kebutuhan rumah tangga, karena suatu saat nanti menjadi ibu rumah tangga. Makadari itu, perempuan harus lebih banyak belajar mengenai segala macam dalam rumah tangga, dibandingkan harus bersekolah tinggitinggi sama seperti laki-laki. Walaupun sudah seperti itu, namun anak perempuan kami tidak merasa keberatan dan dapat membantu kami dalam melakukan pekerjaan seharihari (Wawancara, 05 Januari 2. Wawancara di atas diperkuat wawancara Peneliti dengan Gaspar yang mengatakan adanya anggapan bahwa perempuan hanya berperan sebagai pencari nafkah tambahan. selain itu, perempuan kurang mendapatkan pendidikan karena prasangka buruk tertentu, inilah yang menimbulkan ketidakadilan dan penindasan terhadap hak dan kewajiba seorang perempuan dalam mendapatkan pendidikan (Wawancara, 04 Januari 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat di ketahui bahwa orang tua masih menganggap bahwa perempuan itu lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa sehingga tugas perempuan adalah hanya untuk kebutuhan rumah tangga. Lebih lanjut bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena perempuan harus lebih banyak belajar mengenai kerja dalam kehidupan keluarga itu seperti apa. Hal ini secara tidak langsung telah mengajarkan anak perempuan untuk mengembangkan pikiran dan wawasannya melainkan mengajarkan anak perempuan untuk belajar hidup berumah tangga bersama suaminya suatu saat nant sehingga anak perempuan dilarang sekolah tinggi-tinggi sama seperti laki-laki. Dian . menyatakan bahwa alasan perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi ialah karena perempuan harus dirumah, memasak, dan mengurus anak saja, selain itu perempuan tidak perlu bekerja dan mengejar karier, perempuan yang seutuhnya adalah perempuan yang PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. telah melahirkan dan memiliki anak perempuan tidak boleh lebih tinggi dari laki-laki dalam hal apapun, perempuan tidak cocok jadi pemimpin. Perempuan tidak perlu menurunkan kualitas diri laki-laki karena pada akhirnya perempuan akan tetap menjadi partner hidupnya laki-laki. Stereotip adalah sebuah pelabelan yang diberikan terhadap perempuan. Perempuan selalu diberikan pelaben yang karena dianggap sebagai makhluk yang lemah dan sebagai penggoda. Pelabelan ini dapat kita jumpai dimana saja, baik pelaben secara langsung maupun tidak Di dalam masyarakat sering kita dengar ada yang mengatakan perempuan itu adalah penggoda dan penganggu, perempuan itu harus bisa masak, perempuan doyan belanja, perempuan itu urusannya didapur, tidak dapat memimpin, perempuan itu identik dengan sekolah keperawatan. Selain itu karena masyarakat selalu memiliki anggapan bahwa perempuan itu lemah dan harus dilindungi dari segala macam ancaman kekerasan, maka mengekspresikannya dirinya dilingkungan pendidikan. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Angela mengatakan bahwa, alasan saya tidak melanjutkan pendidikan karena saya sering dicap sebagai siswa yang bodoh oleh teman-teman saya. saya dicap sebagai orang yang tidak bisa apa-apa. itu saya sering dibilang sebagai perempuan yang lemah, suka perhatian, penggangu, doyan belanja serta perempuan yang tidak dapat memimpin diri sendiri ke arah yang baik (Wawancara, 06 Januari 2. Berikutnya peneliti juga mewawancarai Mersi yang mengatakan bahwa, saya sering mendapatkan nilai ujian yang jelek, dan saya mendengar pembicaran guru di kelas bahwa siswa yang memiliki nilai pas-passan tidak akan sukses jika dewasa. itu, guur-guru sering mengatakan bahwa siswa yang duduk didepan akan lebih pintar ketimbang siswa yang duduk dibelakang, dan anggapan ini juga sering saya dengar dari orang tua saya (Wawancara, 06 Januari 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa Stereotip atau pelabelan gender yang terdapat pada anak tersebut adalah karena sering dicap sebagai anak yang bodoh, tidak bisa apa-apa, perempuan yang lemah serta tidak mampu memimpin diri sendiri. Secara tidak langsung pelabelan semacam ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi perempuan. Dampak yang ditimbulkan terhadap perempuan ialah depresi serta mengalami penderitaan. Kondisi demikian terjadi akibat perempuan merasa sudah tidak sanggup menerima segala bentuk pelabelan negatif yang ditujukan kepadanya. Hal ini senada dengan pendapat Israpil . yang mengatakan bahwa pelabelan sebuah tindakan memberikan tanda, cap, atau julukan terhadap perempuan akibat perilaku, kepribadian, atau kebiasaan seseorang. Pelabelan yang digunakan menggunakan kata positif PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. hal ini dapat membuat perempuan menjadi termotivasi, dan jika memberikan memberikan pelabelan yang buruk maka dapat memberikan dampak seperti pecaya diri rendah. Jika percaya diri rendah hal ini dapat membuat seorang perempuan merasa tidak layak untuk berada dilingkungan, yang dapat menerimanya dengan baik karena ia merasa tidak berdaya sehingga memiliki harga diri yang rendah. berikutnya stress dapat menyebabkan seseorang merasa malu, apalagi ia dipanggil diruang publik. Berikutnya tidak memiliki motivasi, karena selalu mendapatkan label negatif dari orang sehingga ia kurang motivasi untuk mencapai sebuah tujan dalam hidup. Dan yang terakhir adalah gangguan cemas yang dapat menyebabkan dirinya merasa ditekan akibat pemberian label. Beban ganda adalah sebuah pembagian tugas yang tidak seimbang yang mana tugas tersebut lebih dibebankan ke pada perempuan. Perempuan dipaksa harus kerja rangkap didalam rumah dan diluar rumah. Permasalahan mengenai beban ganda gender ini dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang mana waktu kerja perempuan lebih banyak daripada waktu kerja laki-laki-laki. Pembagian kerja yang tidak seimbang inilah yang menyebabkan perempuan yang banyak memiliki tugas dan tanggungjawab seperti memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, juga ikut mencari nafkah. Namun, laki-laki hanya melakukan satu pekerjaan saja yakni mencari nafkah sedangkan pekerjaan rumah adalah tugas perempuan. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Vina mengatakan bahwa. Pekerjaan perempuan itu lebih berat dibandingkan laki-laki. Bangun pagi kami harus sibuk, masak, cuci piring, membersihkan rumah, siapkan sarapan terus buatkan minuman untuk orang tua serta kaka dan adik. Setelah belum lagi harus pergi mencari kayu bakar dihutan jika pas habis, juga pergi ikut kerja dikebun dan disawah bersama orang tua (Wawancara, 7 Januari 2. Selain wawancara peneliti di atas. Peneliti juga mewawancarai sinta yang mengatakan Beban pekerjaan yang saya dapatkan lebih banyak dari saudara laki-laki saya. Padahal saya memiliki saudara laki-laki yang banyak. Mereka hanya kerja diluar rumah saja, sedangkan saya harus bisa kerja banyak hal. Mulai dari urusan dapur hingga urusan mencari nafkah (Wawancara, 07 Januari 2. Berdasarkan wawancara di atas, dapat diketahui bahwa beban ganda perempuan adalah perempuan yang harus melakukan banyak pekerjaan di bandingkan laki-laki. Seperti pernyataan tersebut di atas, bahwa pagi-pagi perempuan harus mengurusi segala pekerjaan rumah, menyiapkan bekal dan ikut membantu pekerjaan dikebun dan disawah bersama orang Karena banyak pekerjaan itulah secara tidak langsung telah terjadi kesenjangan gender PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. terhadap perempuan yang mana pekerjaan perempuan lebih banyak. Beban ganda dianggap sebagai bertanggungjawab secara berlebihan yang mana pekerjaan tersebut bisa dilakukan juga oleh laki-laki. Laki-laki yang hanya tahu mencari nafkah saja tidak sebanding dan jauh berbeda dengan pekerjaan wanita di dalam rumah. Beban ganda menuntut perempuan untuk hadir secara penuh dan melakukan tugasnya secara maksimal sebagai pencari nafkah untuk kebutuhan keluarga maupun sebagai pengasuh dan perawat keluarga. Hal ini senada dengan pendapat Nurchayio . beban ganda adalah pekerjaan yang diterima oleh perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dengan jenis pekeerjaan yang lebih banyak yang dapat dianggap sebagai ketidakaadilan gender. Beban ganda pada perempuan dianggap sebagai ketidakadilan gender karena dapat memicu stres bagi perempuan yang disebabkan beratnya tuntutan di dunia kerja dan dalam dalam rumah tangga, disamping itu juga, tidak jarang perempuan yang bekerja akan mendapatkan stigma dari masyarakat yaitu dianggap bukan ibu dan istri yang baik karena tidak menjalankan perannya di rumah secara Selain itu, kurangnya interaksi sendiri dapat menimbulkan permasalahan baru dan lainnya, misalnya penyimpangan yang dilakukan anak karena kurangnya perhatian orang tua. DAFTAR PUSTAKA