Literat: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume II, No. 1, Februari 2023 ISSN 2963-4342 https://ejournal.unsap.ac.id/index.php/literat ANALISIS KARAKTER DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP TUGAS PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 CIMALAKA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Hasni Mauludy1, Kuswara*2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FKIP Universitas Sebelas April Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 27/1/2023 Disetujui 10/2/2023 Dipublikasikan 22/2/2023 Kata kunci: karakter disiplin, tanggung jawab, tugas. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya disiplin dan tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 2 Cimalaka sebanyak 42 siswa yang diambil 25% dari jumlah populasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa siswa SMP Negeri 2 Cimalaka mempunyai sikap baik terhadap tugas bahasa Indonesia. Mereka mengkategorikan bahasa Indonesia sebagai pelajaran yang menarik serta bermanfaat untuk dipelajari. Cara siswa mengerjakan tugas bahasa Indonesia yaitu dengan cara mengerjakan sesuai dengan intruksi guru (57,1%), sendiri tanpa bantuan orang lain (57,1%), dengan melihat google (57,1%), melihat dari buku paket (76,2%), dan mengerjakan dari yang paling mudah terlebih dahulu (62%). Faktor penyebab siswa terlambat atau tidak mengerjakan tugas, yaitu yang pertama faktor internal siswa karena badan cape dan sakit (59,5%) sehingga siswa menjadi lupa, malas, dan yang kedua faktor eksternal yaitu siswa sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas jika lingkungan sekitar tidak tenang dan berisik (40,5%), sibuk berorganisasi, dan bermain bersama teman. Faktor fisik dan faktor lingkungan sangat penting dalam belajar, karena dengan fisik yang kuat dan lingkungan yang tenang akan membuat siswa berkonsentrasi dalam belajar. ABSTRACT Keywords: discipline character, responsibility, task. This study aims to determine the character of discipline and responsibility for the task of learning Indonesian in grade VII students of SMP Negeri 2 Cimalaka. This research is motivated by the low discipline and responsibility of students towards the tasks given by the teacher. This type of research is a non-experimental research using quantitative descriptive methods. The sample in this study was the seventh grade students of SMP Negeri 2 Cimalaka as many as 42 students taken by 25% of the total population, who had high, medium, and low discipline and responsibility for the tasks given by the teacher. The instruments used in this study were questionnaires and direct interviews with students. Questionnaire data were analyzed using percentage techniques and interview data were analyzed in three stages, namely data reduction, data display, and verification. Based on the results of the analysis, it is known that the students of SMP Negeri 2 Cimalaka have a good attitude towards Indonesian language assignments. Students who have a positive attitude towards Indonesian language assignments, both independent assignments or group assignments and homework assignments (PR) or direct assignments, students will categorize Indonesian as an interesting and useful lesson to learn. The way students do Indonesian assignments is by doing according to the teacher's instructions approved by 57.1% of students, doing their own assignments without the help of others who are approved by 57.1% of students, doing assignments by looking at google which is approved by 57.1 % of students, working on assignments by looking at the textbooks approved 53 54 Mauludy, Kuswara – Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Terhadap Tugas Pelajaran by 76.2% of students, and students preferring to work on the easiest first which was approved by 62% of students. Factors causing students to be late or not doing Indonesian assignments, namely the first because of internal factors students feel the motivation to do assignments decreases when the body is tired, sick, which is approved by 59.5% of students, so students become forgetful, lazy, and the second is due to factors external students find it difficult to concentrate on doing assignments if the surrounding environment is not quiet and noisy which is approved by 40.5% of students, busy organizing, and playing with friends. Physical factors and environmental factors are very important in learning, because a strong physique and a calm environment will make students concentrate on learning. © 2023 Universitas Sebelas April – Sumedang *Corresponding Author: Kuswara, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas April Sumedang, Jl. Angkrek Situ No. 19 Situ, Kec. Sumedang Utara, Kab. Sumedang 453523. e-mail: kuswara@unsap.co.id 1. PENDAHULUAN Pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah dinilai kurang memperhatikan pengembangan karaker pada diri siswa, padahal pengembangan karakter telah lama menjadi aspek belajar yang banyak dibicarakan di dunia pendidikan. Menurut Ramli (2003: 22) “Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak sehingga hal tersebut akan mampu membentuk pribadi siswa yang baik”. Pada dasarnya pendidikan karakter ini dihrapkan bisa membuat siswa memiliki pola piker serta sikap yang baik dalam menghadapi berbagai situasi. Tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk membangun bangsa yang tangguh, dimana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, dan bertoleransi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dalam diri siswa harus ditanamkan nilai kejujuran, disiplin, kemandirian, kreatif, rasa ingin tahu, kerja keras, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter juga mempunyai manfaat diantaranya membentuk karakter siswa, melatih mental dan moral siswa, displin, dan menjadikan siswa untuk lebih bertanggung jawab. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sikap, cara mengerjakan, dan faktor penghambat siswa kelas VII dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Cimalaka. 2. LANDASAN TEORETIS 2.1 Metode Penugasan (Metode Resitasi) Pemberian tugas itu hakikatnya adalah menyuruh siswa melakukan suatu pekerjaan yang baik dan berguna bagi dirinya, dalam memperdalam dan memperluas pengetahuan atau peningkatan pemahaman terhadap suatu materi pelajaran yang sering kali memerlukan pengalaman yang lebih dari sekedar penjelasan yang diberikan oleh guru (Djamarah 2002: 96). Jadi teknik pemberian tugas dilakukan agar siswa ikut secara aktif dalam suatu proses belajar melalui latiha-latihan sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu lebih terintegrasi. Menurut Roestiyah (2012: 133) metode penugasan memiliki tujuan sebagai berikut. Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 53-61 55 1) Membina rasa tanggung jawab yang dibebankan kepada siswa, melalui laporan tertulis atau lisan, membuat ringkasan, menyerahkan hasil keja, dan lain-lain. 2) Menenmukan sendiri informasi yang diperlukan. 3) Menjalin kerja sama dan sikap menghargai hasil kerja orang lain. 4) Memperluas dan memperbanyak pengetahuan dan keterampilan. 5) Siswa terangsang untuk berbuat lebih baik. 6) Siswa terdorong untuk mengisi waktu. 7) Pengalaman siswa lebih terintegrasi dengan masalah yang berbeda dalam situasi baru. 8) Hasil belajar siswa lebih bermutu karena diikuti dengan bermacam model latihan. Djamarah (2002: 97) menyebutkan bahwa jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa, yaitu: 1) Tugas membuat rangkuman (Report) beberapa halaman topik, bab atau buku seperti merangkum beberapa halaman atau topik, merangkum suatu bab (Chapter report), dan merangkum suatu buku atau beberapa buku (Book report). 2) Tugas membuat makalah. 3) Tugas menjawab pertanyaan atau menyelesaikan soal-soal tertentu. 4) Tugas mengadakan wawancara atau observasi. 5) Tugas mendemonstrasikan sesuatu. 6) Tugas menyelesaikan proyek atau pekerjaan tertentu. Menurut Mulyasa (2005: 56) langkah-langkah teknik penugasan harus memperhatikan hal-hal berikut. 1) Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan penugasan dan cara penyajiannya. Sebaiknya tujuan penugasan dikomunikasikan kepada siswa agar tahu arah tugas yang dikerjkan. 2) Tugas yang diberikan harus dapat dipahami siswa, kapan mengerjakannya, bagimana cara mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain. Hal tersebut akan menentukan efektifitas penggunaan metode penugasan dalam pembelajaran. 3) Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok terlihat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut dikerjakan di luar kelas. 4) Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh siswa. jika tugas tersebut diselesaikan di kelas guru bisa berkeliling mengontrol pekerjaan siswa, sambil memberikan motivasi dan bimbingan terutama bagi siswa yang mendapat kesulitan dalam penyelesaian tugas tersebut. Jika tugas tersebut dikerjakan di luar kelas, guru bisa mengontrol proses penyelesaian tugas melalui konsultasi dari para siswa untuk memberikan laporan kemajuan mengenai tugas yang dikerjakan. 5) Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan siswa. Penilaian yang diberikan sebaiknya tidak hanya menitik beratkan pada produk, tetapiperlu dipertimbangkan pula bagaimana proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian hendaknya diberikan secara langsung setelah tugas diselesaikan . hal ini disamping akan menimbulkan minat dan semangat belajar siswa, juga menghindarkan bertumpuknya pekerjaan siswa yang harus diperiksa. Menurut Djamarah Dan Zain (2014: 86) langkah pelaksanaan tugas sebagai berikut. 1) Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru. 2) Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja. 3) Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain. 4) Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik. Menurut Djamarah Dan Zain (2014: 86) hal yang harus dikerjakan pada fase ini: 1) Laporan siswa baik lisan maupun tulisan dari apa yang telah dikerjakannya. 56 Mauludy, Kuswara – Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Terhadap Tugas Pelajaran 2) Ada Tanya jawab atau diskusi di kelas. 3) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara lainnya. 2.2 Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa Pengembangan karakter telah lama menjadi aspek belajar yang banyak dibicarakan di dunia pendidikan. Namun pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah dinilai kurang memperhatikan pengembangan karakter pada diri siswa, dan lebih dominan untuk membekali siswa dengan pengetahuan semata. Karakter siswa merupakan salah satu aspek dari kondisi pengajaran. Aspek ini didefinisikan sebagai aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, tanggung jawab, kedisiplinan, motivasi, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa akan mempengaruhi dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa. Jadi pendidikan karakter itu adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai kebaikan kepada siswa di lingkungan sekolah dengan meliputi komponen-komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, kedisiplinan, dan tindakan untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap suatu kewajiban. 3. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. penelitian ini bertujuan untuk memberikan uraian atau gambaran tentang gejala sosial yang sedang diteliti dengan melihat satu variable atau lebih berdasarkan indikator-indikator dari variabel penelitian tanpa membuat suatu hubungan atau perbandingan antar variabel dan indikator guna menjelaskan variabel yang sedang diteliti. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter disiplin dan tanggung jawab terhadap tugas pelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Cimalaka. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini yaitu angket dan wawancara langsung kepada siswa. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 2 Cimalaka sebanyak 42 siswa yang diambil 25% dari jumlah populasi, yang mempunyai karakter disiplin dan tanggung jawab tinggi, sedang, dan rendah terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket dan wawancara langsung dengan siswa. Data hasil angket dianalisis dengan teknik persentase dan data hasil wawancara dianalisi dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut hasil penelitian data angket yang telah dilakukan terhadap sikap dan tanggung jawab terhadap tugas bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Cimalaka tahun pelajaran 2021/2022. Tabel 1. Hasil Jawaban Pernyataan Siswa Mengerjakan Tugas Sesuai Dengan Instruksi Guru JPenilaian Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Skor (S) 4 3 2 Frekuensi (F) 17 24 1 (S) x (F) 68 72 2 Persentase (%) 40,5% 57,1% 2,4% Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 53-61 Sangat Tidak Setuju Total Skor Maksimal 1 0 42 0 142 57 0,0% 100% 168 Tabel 2. Hasil Jawaban Pernyataan Mengerjakan Tugas Sendiri Tanpa Bantuan Orang Lain Penilaian Skor (S) Frekuensi (F) (S) x (F) Persentase (%) 4 3 12 7,2% Sangat Setuju 3 24 72 57,1% Setuju 2 12 24 28,6% Tidak Setuju 1 3 3 7,2% Sangat Tidak Setuju 42 111 100% Total 168 Skor Maksimal Tugas sekolah yang diberikan oleh guru dituntut untuk bisa diselesaikan oleh siswa. Karena tugas tersebut akan menjadi bentuk penilaian oleh guru untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa tentang materi yang telah dipelajari di kelas. Menurut Djamarah dan Zain dalam syarat-syrat penugasan bahwa tugas itu hendaknya dilakukan oleh siswa. Artinya tugas itu harus diselesaikan dan dikerjakan oleh siswa itu sendiri. Berdasarkan dari hasil analisis data angket yang telah diolah pada hasil penelitian pada Tabel 1 dan Tabel 2 di atas, penulis menganalisis bahwa cara siswa mengerjakan tugas yaitu dengan cara: 1) mengerjakan sesuai dengan intruksi guru, hal ini dipengaruhi oleh kesadaran dan kedisisplinan siswa agar tujuan yang ingin dicapai dari tugas tersebut tercapai dengan baik; 2) mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan orang lain, hal ini dipengaruhi oleh tanggung jawab siswa tehadap tugas, karena siswa tahu penanggung jawab tugas individu adalah dirinya sendiri; 3) mengerjakan tugas dengan melihat google, ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin hari semakin melesat, apapun yang ingin kita ketahui sangat mudah untuk dicari karena kehadiran google; 4) mengerjakan tugas dengan melihat dari buku paket, karena buku paket biasanya digunakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Dan buku paket juga memiliki fungsi dan tujuan salah satunya dijadikan sebagai bahan referensi atau bahan rujukan oleh siswa untuk mengerjakan tugas; 5) mengerjakan dari yang paling mudah terlebih dahulu, karena setiap tugas mempunyai bobot yang berbeda-beda. Mulai dari yang mudah, sedang, sampai ke yang sulit. Tujuan dari pemberian tugas itu diantaranya: 1) membina rasa tanggung jawab yang dibebankan kepada siswa, melalui laporan tertulis ataupun lisan, membuat ringkasan, menyerahkan hasil kerja; 2) menemukan sendiri informasi yang diperlukan; 3) memperluas dan memperbanyak pengetahuan dan keterampilan; 4) siswa terdorong untuk mengisi waktu; 5) hasil belajar siswa lebih bermutu karena diikuti dengan bermacan model latihan. Langkahlangkah pemberian tugas menurut Mulyasa yaitu tugas yang diberikan harus dapat dipahami siswa, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain. Langkah pelaksanaan tugas menurut Djamarah dan Zain yaitu hendaknya tugas dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain. Langkah-langkah tersebut dilakukan agar tujuan dari pemberian tugas itu dapat tercapai dengan baik, karena setiap tugas mempunyai tujuan yang harus dicapai. Fakta di lapangan menunjukan bahwa memang kebanyakan siswa mengerjakan tugas nya sesuai dengan intruksi yang telah diberikan. Karena tugas yang diberikan oleh guru mempunyai tujuan yang ingin dicapai, sehingga tugas yang diberikan harus jelas dan tepat agar siswa mengerti apa yang ditugaskannya tersebut. Misalnya guru memberikan instruksi untuk mengerjakannya di kertas polio, minimal 2 lembar, minimal 5 paragraf, tugas yang 58 Mauludy, Kuswara – Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Terhadap Tugas Pelajaran harus dikerjakan di halaman sekian, atau memberikan tugas langsung di akhir pembelajaran dan deadline pengerjaannya pun harus ditentukan. Dengan begitu akan tertanam sikap tanggung jawab dan disiplin siswa, dan agar tujuan yang ingin dicapai, tercapai dengan baik. Tabel 3. Hasil Jawaban Pernyataan Siswa Mengerjakan Tugas dengan Melihat Google Penilaian Skor (S) Frekuensi (F) (S) x (F) Persentase (%) 4 1 4 2,4% Sangat Setuju 3 24 72 57,1% Setuju 2 17 34 40,5% Tidak Setuju 1 0 0 0,0% Sangat Tidak Setuju 42 110 100% Total 168 Skor Maksimal Tabel 4. Hasil Jawaban Pernyataan Siswa Mengerjakan Dengan Melihat Buku Paket Penilaian Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Total Skor Maksimal Skor (S) 4 3 2 1 Frekuensi (F) 2 32 8 0 42 (S) x (F) 8 96 16 0 120 Persentase (%) 4,8% 76,2% 19% 0,0% 100% 168 Berdasarkan persentase pada Tabel 3 dan tabel 4 di atas maka dapat diketahui bahwa cara siswa mengerjakan tugas dengan cara: 1) mengerjakan sesuai dengan intruksi guru yang disetujui sebanyak 24 siswa atau 57,1% siswa; 2) mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan orang lain yang disetujui sebanyak 24 siswa atau 57,1% siswa; 3) mengerjakan tugas dengan melihat google yang disetujui sebanyak 24 siswa atau 57,1% siswa; 4) mengerjakan tugas dengan melihat dari buku paket yang disetujui sebanyak 32 siswa atau 76,2% siswa; 5) siswa lebih memilih mengerjakan dari yang paling mudah terlebih dahulu disetujui sebanyak 26 siswa atau 62% siswa. Siswa zaman sekarang lebih memilih mengerjakan tugas dengan melihat dari google, karena seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin hari semakin melesat, apapun yang ingin kita ketahui sangat mudah untuk dicari karena kehadiran google. Karena dengan google apapun yang kita cari akan selalu tersedia. Dalam dunia pendidikan juga google kerap dijadikan alat pembantu dalam mengerjakan tugas sekolah. Karena dengan bantuan google mengerjakan tugas akan lebih mudah dan cepat. Tetapi ada juga siswa yang masih menggunakan buku paket sebagai referensi untuk mengerjakan tugasnya, karena buku paket biasanya digunakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Buku paket tidak hanya bisa digunakan untuk siswa tetapi juga bisa digunakan sebagai pegangan guru dalam mengajar. Buku paket memiliki fungsi dan tujuan misalnya dijadikan sebagai bahan referensi atau bahan rujukan oleh siswa untuk mengerjakan tugas, memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulangi pelajaran atau mempelajari materi baru. Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 53-61 59 Tabel 4. Hasil Jawaban Pernyataan Siswa Mengerjakan Tugas dari yang Mudah Dulu Sebelum Mengerjakan Tugas yang Sulit. Penilaian Skor (S) Frekuensi (F) (S) x (F) Persentase (%) 4 14 56 33,3% Sangat Setuju 3 26 78 62% Setuju 2 2 4 4,7% Tidak Setuju 1 0 0 0,0% Sangat Tidak Setuju 42 4 100% Total Skor Maksimal Pada Tabel 4 di atas tampak bahwa siswa akan memilih mengerjakan tugas dari yang mudah dulu sebelum mengerjakan tugas yang sulit. Karena Setiap tugas mempunyai bobot yang berbeda-beda. Mulai dari yang mudah, sedang, sampai ke yang sulit. Tingkatan kemampuan yang diuji biasanya pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu kebanyaka siswa mengerjakan tugas dari yang mereka anggap mudah terlebih dahulu, karena setiap tugas mempunyai deadline nya masing-masing, sehingga untuk mengefektifkan waktu siswa akan mengerjakan dari yang paling mudah, agar semua tugas terselesaikan. Sebaliknya, apabila siswa lebih memilih mengerjakan tugas yang sulit, maka siswa akan kehilangan banyak waktu, energi dan pikiran karena berkutat pada tugas tersebut, sehingga tugas yang lainnya terbengkalai. Maka dari itu untuk dapat mengerjakan semua tugas yaitu dengan cara mengerjakan tugas dari yang paling mudah terlebih dahulu, siswa akan dapat menyelesaikan semua tugas yang ada, dan siswa memliki banyak waktu untuk menyelesaika tugas yang dianggap sulit. Tabel 5. Hasil Jawaban Pernyataan Motivasi untuk Mengejakan Tugas Saya Menurun Ketika Badan Saya Cape. Penilaian Skor (S) Frekuensi (F) (S) x (F) Persentase (%) 4 5 20 12% Sangat Setuju 3 25 75 59,5% Setuju 2 11 22 62% Tidak Setuju 1 1 1 2,4% Sangat Tidak Setuju 42 118 100% Total 168 Skor Maksimal Tabel 6. Hasil Jawaban Pernyataan Siswa Sulit Berkonsentrasi dalam Mengerjakan Tugas jika Lingkungan Sekitar Tidak Tenang dan Berisik. Penilaian Skor (S) Frekuensi (F) (S) x (F) Persentase (%) 4 12 48 28,6% Sangat Setuju 3 17 51 40,5% Setuju 2 10 20 23,8% Tidak Setuju 1 3 3 7,1% Sangat Tidak Setuju 42 122 100% Total 168 Skor Maksimal Faktor penyebab siswa terlambat atau tidak mengumpulkan tugas bahasa Indonesia seperti dipaparkan pada Tabel 5 dan Tabel 6 di atas sebagai berikut: 1) faktor internal yaitu siswa merasa motivasi untuk mengerjakan tugas menurun ketika badan capek yang disetujui oleh 25 siswa atau 59,5% siswa; 2) faktor Ekstenal yaitu siswa sulit berkonsentrasi dalam 60 Mauludy, Kuswara – Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Terhadap Tugas Pelajaran mengerjakan tugas jika lingkungan sekitar berisik dan tidak tenang, ini disetujui oleh 17 siswa atau 40,5% siswa. Setiap siswa tidak selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu, atau bahkan ada siswa yang tidak mengerjakan tugas sama sekali. Menurut Gufhron dan S (2017: 163) faktorfaktor penyebab siswa terlambat atau tidak mengerjakan tugas dibagi menjadi dua yaitu, faktor internal yang berkaitan dengan kondisi fisik individu dan kondisi psikologis individu. Sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan gaya pengasuhan orang tua, dan kondisi lingkungan. Berdasarkan dari hasil data angket dan data wawancara yang telah diolah pada hasil penelitian di atas, penulis menganalisis bahwa terdapat dua hal yang menjadi faktor penyebab siswa terlambat atau tidak mengerjakan tugas. Faktor pertama yaitu karena faktor interal dimana siswa merasa motivasi untuk mengerjakan tugas menurun ketika badan capek. Faktor itu dapat berpengaruh terhadap pengerjaan tugas. Ketika badan capek otomatis fisik kita akan melemah, sehingga saraf sensoris dan motorisnya ikut melemah, seperti mudah lesu, mudah mengantuk, mudah lelah, dan otak pun tidak akan mampu bekerja secara optimal, sehingga akan berpengaruh terhadap proses belajar siswa. Karena orang yang belajar membutuhkan kondisi fisik yang kuat dan badan yang sehat. Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal dimana siswa sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas jika lingkungan sekitar tidak tenang dan berisik, karena lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa yang dapat mempengaruhi belajar siswa. Lingkungan itu bisa lingkungan rumah (keluarga) dan lingkungan masyarakat. Lingkungan rumah ataupun lingkungan masyarakat penting peranannya dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Khususnya di lingkungan rumah atau keluarga hendaknya orang tua dapat menciptakan kegairahan dan minat belajar siswa menjadi meningkat. Sesuai dengan fakta dilapangan, faktor fisik dan lingkungan menjadi faktor yang sangat penting dalam belajar, karena dengan fisik yang kuat dan lingkungan yang tenang akan membuat seseorang berkonsentrasi dalam belajar. Karena konsentrasi belajar memiliki dua faktor pendukung yaitu faktor internal yang berasal dari diri seseorang misalnya keadaan rohani dan jasmaninya, dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri seseorang misalnya seperti lingkungan. Berbeda dengan ketika fisik kita sedang lemah dan keadaan lingkungan berisik maka kita akan kesulitan untuk berkonsentrasi sehingga kita tidak dapat belajar dan mengerjakan tugas dengan optimal. Yang akhirnya tugas kita akan terbengkalai dan kita tidak dapat mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh guru, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap nilai. Berdasarkan data angket yang diolah pada hasil penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa untuk mengetahui sikap siswa terhadap tugas bahasa Indonesia ke dalam tingkatan STB (sangat tidak baik), TB (tidak baik), B (baik), dan SB (sangat baik). Peneliti menggunakan 4 klasifikasi berdasarkan skala Likert, yaitu Sangat setuju dengan nilai 4, Setuju dengan nilai 3, Tidak setuju dengan nilai 2, dan Sangat tidak setuju dengan nilai 1. Selanjutnya dihitung rentang skor, yaitu (Skor maximal – skor minimal) dibagi 5. Jumlah item untuk sikap siswa terhadap tugas bahasa yang diberikan oleh guru sebanyak 5 item Jumlah skor maximal diperoleh dari: 4 (skor tertinggi) x jumlah item pernyataan x jumalah responden, yaitu 4 x 5 x 42 = 840 Jumlah skor minimal diperoleh dari: 1 (skor terendah) x jumlah item pernyataan x jumlah responden, yaitu 1 x 5 x 42 = 210 Rentang skor = (skor maximal – skor minimal) : 5, jadi rentang skor untuk sikap siswa = (840 – 210) : 5 = 630 Dengan demikian sikap siswa terhadap tugas bahasa Indonesia yang diberikan oleh guru, berdasarkan tanggapan 42 responden yaitu (630 : 840) x 100% = 75%, dapat dikatakan baik. Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 53-61 61 Berdasarkan rentang skor tersebut diperoleh tingkat penilaian responden terhadap sikap siswa terhadap tugas bahasa Indonesia yang diberika oleh guru. Hal ini dapat dibuat kategori sebagai berikut: STB I 210 TB I 420 B I 630 SB I 840 Dengan demikian berdasarkan penilaian dari 42 responden, nilai sikap siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia sebesar 630 termasuk kategori baik dengan rentan skor (840 – 210). Nilai 630 termasuk dalam interval baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa sikap siswa kelas VII SMP Negeri 2 Cimalaka terhadap tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia bersikap positif atau tergolong baik. 5. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut. 1. Berdasarkan rentang skor penilaian dari 42 responden, nilai sikap siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia sebesar 630 termasuk kategori baik dengan rentan skor (840 – 210). Nilai 630 termasuk dalam interval baik. Penulis menyimpulkan bahwa pemberian tugas pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Cimalaka sudah memenuhi tujuan dari penugasan karena respon siswa terhadap tugas baik atau positif. 2. Berdasarkan hasil analisis data angket dan wawancara, ternyata cara siswa mengerjakan tugas bahasa Indonesia yaitu dengan cara: 1) mengerjakan tugas sesuai dengan intruksi guru (57,1% siswa), 2) mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan orang lain (57,1% siswa), 3) mengerjakan tugas dengan melihat google (57,1% siswa), 4) mengerjakan tugas dengan melihat buku paket (76,2% siswa), 5) mengerjakan dari yang paling mudah terlebih dahulu (62% siswa), karena setiap tugas yang diberikan memiliki bobot nilai yang berbeda-beda. 3. Berdasarkan hasil analisis data angket dan data wawancara, siswa masih sering terlambat mengerjakan tugas dan tidak mengerjakan tugas. Faktor penyebab siswa terlambat atau tidak mengerjakan tugas bahasa Indonesia, yaitu 1) karena faktor interal siswa merasa motivasi untuk mengerjakan tugas menurun ketika badan cape, sakit (59,5% siswa), sehingga siswa menjadi lupa dan malas, 2) karena faktor eksternal siswa sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas jika lingkungan sekitar tidak tenang dan berisik (40,5% siswa), sibuk berorganisasi, dan bermain bersama teman. REFERENSI Djamarah. S. Y. dan Zain. A. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Djamarah. S. Y. dan Zain. A. (2014). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Parandika. R. W. Muhtarom. dan Sutrisno. (2019). Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa pada Proses Pembelajaran Matematika Kelas XI SMK Palebon Semarang. Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika. Vol 1(6), 364372. Ramli. (2003). Pendidikan Karakter. Bandung: Aksara. Roestiyah. (2012). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.