Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2024, 7. , 190-197 Article review: analysis of factors influencing the incident of pneumonia in infants and Review artikel: analisis faktor yang mempengaruhi kejadian pneumonia pada bayi dan Mally Ghinan Sholih a*. Munir Alinu Mulki a. Nurlia Julianti a. Roudotul Jannah a. Yuni Lili Indriyani a a Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Singaperbangsa Karawang. Karawang. Jawa Barat. Indonesia. *Corresponding Authors: e-mail author: mally. ghinan@fkes. Abstract Pneumonia is an infection of the lower respiratory tract which is the main cause of death in toddlers and Although there is a lot of information about risk factors for pneumonia, there is information that is not presented in detail and specifically. The purpose of this review article is to provide insight into the risk factors that cause pneumonia in babies and toddlers, making us more alert and aware of the importance of preventing and treating pneumonia, especially in babies and toddlers. The review method for this article is a literature review. The database comes from national and international journals via Google Scholar and PubMed databases published in the years 2013-2023. The results and discussion of this review include information about pneumonia, risk factors for pneumonia, and factors causing pneumonia in infants and Based on the articles that have been reviewed, it shows that the factors that influence the incidence of pneumonia are exposure to cigarette smoke. LBW, nutritional status, gender, and history of exclusive Keywords: Pneumonia. infant and toddler pneumonia. risk factors for pneumonia. respiratory tract infection. Abstrak Pneumonia adalah infeksi pada saluran napas bagian bawah yang menjadi sebab utama kematian pada balita dan anak-anak. Meskipun sudah banyak informasi tentang faktor risiko pneumonia, terdapat informasi yang tidak disajikan terperinci dan spesifik. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk memberi wawasan tentang faktor risiko penyebab pneumonia pada bayi dan balita, menjadikan kita lebih waspada dan menyadari pentingnya mencegah dan mengobati pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Metode review artikel ini adalah literatur review. Basis data berasal dari jurnal nasional dan internasional melalui database google scholar dan pubmed yang diterbitkan rentang tahun 2013-2023. Hasil dan diskusi review ini mencakup informasi tentang pneumonia, faktor risiko pneumonia, dan faktor penyebab pneumonia pada bayi dan balita. Berdasarkan artikel yang telah direview, menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi kejadian pneumonia adalah paparan asap rokok. BBLR, status gizi, jenis kelamin, dan riwayat pemberian ASI eksklusif. Kata Kunci: Pneumonia. pneumonia bayi dan balita. faktor risiko pneumonia. infeksi saluran napas Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received:276/12/2023. Revised: 10/06/2024 Accepted: 20/06/2024 Available Online: 30/06/2024 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Pneumonia adalah penyakit berupa peradangan yang terdapat pada parenkim paru, sebagian besar penyebabnya adalah mikroorganisme, yaitu virus . denoviruses, rhinovirus, influenza virus, dan respirator. dan bakteri (Streptococcus dan Mycoplasma pneumoni. Pneumonia dapat menyebabkan gejala seperti sakit dada, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, sulit bernapas, demam dan menggigil, dan kebingungan. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar seluruh dunia pada bayi dan anak-anak usia di bawah 5 tahun dengan jumlah mencapai lebih dari 70%. Pada tahun 2017. Pneumonia memberikan hampir mencapai satu juta kematian setiap tahunnya, totalnya 878. 829 kematian bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun . Berdasarkan UNISEF 2015, sekitar 14% dari 147. 000 anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia meninggal disebabkan karena pneumonia. Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016, 800. anak mengidap pneumonia atau berkisar 3,5% dari seluruh anak di bawah 5 tahun. Pada 2017, pneumonia berada pada urutan ke-2 . ,5%) setelah diare . ,2%) berdasarkan data penyebab kematian utama bayi di Indonesia, sedangkan pneumonia berada pada urutan ke-3 . %) setelah tuberculosis (TB) dan penyakit hati berdasarkan data mortalitas menurut jenis penyakitnya. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang faktor penyebab pneumonia pada bayi dan balita. Diharapkan dapat menjadikan kita lebih waspada dan menyadari pentingnya mencegah dan mengobati pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu literature review dengan dikumpulkannya beberapa hasil penelitian, yaitu berupa artikel yang kredibel serta lengkap. Setelah sumber artikel terkumpul, pengkajian ulang sumber artikel yang telah diterbitkan dilakukan oleh peneliti untuk dihasilkan sebuah analisis yang baru dan valid. Mekanisme pencarian sumber artikel review didapatkan dengan melakukan penelusuran artikel ilmiah. Basis data berasal dari jurnal nasional dan internasional melalui database google scholar dan pubmed yang diterbitkan antara tahun 2013-2023. Kata kunci yang digunakan adalah "Pneumonia", "Faktor Risiko Pneumonia", "Pneumonia balita" "Pneumonia bayi", dan "Faktor Pneumonia". 50 Artikel Nasional (Google Schola. 17 Artikel Internasional (Pubme. 67 Artikel dilakukan skrining 50 Artikel tidak memenuhi kriteria inklusi 10 Artikel memenuhi kriteria Gambar 1. Diagram alir prosedur penyaringan artikel Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil dan Diskusi No. Penulis. Tahun Judul Desain Studi Hasil Berdasarkan hasil dari penelitian ini antara status gizi dengan pneumonia. Faktor Risiko penelitian ini menyoroti pentingnya Berhubungan Efni, dkk. pemberian ASI, perlindungan dari Kejadian Pneumonia Case-Control paparan asap rokok, perhatian terhadap pada Balita di Kelurahan bayi yang memiliki berat lahir rendah. Air Tawar Barat Padang imunisasi pada campak, dan perhatian terhadap status gizi dalam upaya mencegah pneumonia pada balita . Penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa faktor terjadinya Risk pneumonia pada bayi dan balita, di childhood pneumonia at Adama Hospital Medical College. Abebaw, dkk. Adama Hospital Case-Control terdiri . Medical College, pendapatan bulanan, jenis energi yang Adama. Ethiopia: a casedigunakan untuk memasak, malnutrisi, control study dan diare atau infeksi saluran pernapasan atas . Penelitian ini menemukan bahwa factor risiko yang umum dalam kejadian Pneumonia Pada Balita keberadaan perokok di rumah. Hasil Faktor penelitian juga menunjukkan bahwa Nuraeni dan Mempengaruhinya: terdapat adanya hubungan antara Rahmawati. Case-Control Studi Kasus di salah satu riwayat imunisasi, status gizi, dan . Puskesmas keberadaan perokok dengan terkena Indramayu penyakit pneumonia pada balita. Implikasinya adalah bahwa kebiasaan merokok orang tua dapat berdampak buruk pada kesehatan anak . Berdasarkan hasil penelitian ini Hubungan Faktor Risiko pneumonia, yang berjenis kelamin lakiGarina, dkk. dan Karakteristik Gejala laki, dan memiliki kekurangan status Cross-Sectional . Klinis dengan Kejadian Faktor lain seperti riwayat ASI Pneumonia pada Balita eksklusif, imunisasi dasar lengkap, dan berat badan lahir rendah juga terkenanya pneumonia pada balita . Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan faktor risiko Host factors related to Hadisuwarn,dk berat badan lahir rendah (BBLR), pneumonia in children Case-Control pemberian ASI, gizi buruk, imunisasi under 5 years of age yang tidak lengkap, dan penyakit penyerta memiliki hubungan yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. pneumonia pada anak-anak . Penelitian ini menemukan bahwa jenis kelamin, status gizi, dan riwayat ASI dengan fenomena pneumonia pada bayi Afriani, dan Faktor Risiko Kejadian berusia 6-12 bulan yang berkunjung di Cross-Sectional Oktavia. Pneumonia Pada Bayi UPTD Puskesmas Pengadonan Kabupaten OKU pada tahun 2021, dengan p value yang didapat dari analisis bivariat masing-masing faktor yaitu 0,001. 0,000. dan 0,001 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia anak. BBLR, prematuritas, riwayat ASI eksklusif, status gizi, penyakit penyerta dan dugan agen penyebab bakterial berpengaruh terhadap kasus Setyoningrum Faktor Risiko Kejadian pneumonia pada bayi dan anak usia 2dan Mustiko. Pneumonia Sangat Berat Cross-Sectional 59 bulan, ditunjukkan dengan adanya . Pada Anak hubungan bermakna antara variabelvariabel tersebut terhadap kejadian pneumonia yang didapat dari hasil analisis bivariat, p value masing-masing variabel sebesar 0,009. 0,010. 0,007. <0,001. <0,001. dan <0,001 . Analisis multivariat yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin . =0,. , jenis tempat tinggal . =0,. , pendidikan ibu Anwar dan . =0,. , tingkat ekonomi . =0,. Pneumonia pada Anak Dharmayanti. Cross-Sectional letak dapur . = 0,. , budaya Balita di Indonesia membuka jendela . =0,. =0,. merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia pada balita di Indonesia . Status Gizi Hasil yang didapat pada penelitian ini Pemberian Kapsul yaitu status gizi dan vitamin A menjadi Novarianti. Vitamin Sebagai faktor risiko pneumonia pada balita di Case-Control Faktor Risiko salah satu kelurahan yang berada di Pneumonia Balita Usia Kota Jambi dengan nilai OR masing18-59 Bulan masing 3,93 dan 3,12 . Penelitian ini menemukan bahwa pemberian ASI eksklusif (OR, 7,. Risk imunisasi dasar (OR, 4,. , polusi udara childhood pneumonia: a Sutriana, dkk. dalam ruangan (OR, 7,. BBLR (OR, case-control study in a Case-Control , dan status gizi (OR, 2,. adalah high prevalence area in faktor risiko terjadinya pneumonia pada Indonesia anak umur 10-59 bulan di Kabupaten Bojonegoro . Infeksi pada saluran pernapasan bawah, yang dikenal sebagai pneumonia, merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak. Menurut data yang disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. pneumonia menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian pada anak-anak, mencakup sekitar 15% dari total kematian . Dari 10 jurnal artikel yang dipilih, terdapat beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan timbulnya penyakit pneumonia terbanyak diusia bayi dan balita, diantaranya, riwayat pemberian ASI, status gizi imunisasi. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), jenis kelamin, dan paparan asap rokok. Berdasarkan hasil dari tinjauan literatur yang diperoleh terdapat beberapa faktor yang akan dibahas yaitu sebagai berikut: Status Gizi Status gizi yang kurang, yang disertai dengan penurunan tingkat kekebalan tubuh, dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Namun, ketika status gizi kian memburuk, penyakit yang umumnya dianggap ringan dapat menjadi serius dan berpotensi fatal. Di sisi lain, balita yang memiliki status gizi optimal akan memiliki sistem kekebalan pada tubuh yang kuat, sehingga tidak akan mudah terkena penyakit terutama penyakit pneumonia. Anak-anak dengan status gizi baik memiliki kemampuan yang baik untuk melawan infeksi dan menjaga kesehatan tubuh . Berdasarkan peneliatian Nurnajiah dkk . , terdapat hubungan antara kondisi gizi dan tingkat keparahan pneumonia pada bayi dan balita. Anak-anak dengan kekurangan gizi memiliki kecenderungan mengalami pneumonia dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi . Faktor ini dapat disebabkan pada penurunan tingkat kekebalan tubuh akibat kekurangan gizi dan malnutrisi, yang merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan pneumonia pada balita. Penelitian juga menyatakan bahwa, meskipun balita dengan status gizi baik tetap berisiko terkena pneumonia, karena faktor-faktor risiko penyakit ini tidak hanya terkait dengan status gizi, melainkan juga melibatkan variabel lain. Oleh karena itu, kondisi gizi balita memiliki peran penting dalam menentukan risiko pneumonia, dan usaha untuk meningkatkan status gizi dapat berkontribusi dalam mengurangi risiko penyakit pneumonia. Riwayat Pemberian ASI Eksklusif Dibandingkan dengan makanan buatan atau susu hewani seperti susu sapi. ASI adalah makanan paling disarankan untuk bayi dan memiliki nilai gizi yang sangat tinggi. Ketika seorang ibu menyusui bayinya secara eksklusif, artinya bayi tidak menerima makanan atau cairan lain, bahkan air putih . eskipun, dalam kasus tertentu, bayi dapat menerima vitamin dan obat-obatan yang tidak dilarutkan dalam ai. Bayi hanya memerlukan ASI eksklusif hingga enam bulan pertama kehidupannya, karena ASI memberikan semua yang diperlukan pada usia ini. Karena isapan bayi menentukan kebutuhannya, maka bayi diberi kesempatan menyusu sebanyak yang diperlukan . Faktor lain yang meningkatkan risiko pneumonia ialah riwayat pemberian ASI eksklusif. Hasil review yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat beberapa penelitian yang mengaitkan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan fenomena pneumonia pada bayi dan balita. Menurut penelitian Sutriana dkk. anak yang tak memperoleh ASI eksklusif hingga umur 6 bulan mempunyai risiko pneumonia 8 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang memperoleh ASI eksklusif . Penelitian Puspitasari dan Syahrul . , yang menemukan bahwa balita yang tidak memperleh ASI eksklusif mempunyai risiko 7 kali lipat lebih tinggi terjangkit pneumonia daripada dengan balita yang mendapat ASI eksklusif juga mendukung temuan penelitian ini . ASI mengandung beberapa komponen, termasuk vitamin dan protein utama globulin yang dapat memperkuat kekebalan tubuh dan membentengi bayi dan balita dari berbagai penyakit. Globulin bisa memunculkan daya tahan tubuh alami pada bayi dikarenakan protein ini bertindak sebagai antibodi alami untuk melawan infeksi berbagai penyakit. Selain itu, terdapat imunoglobulin A yang diproduksi oleh kelenjar susu dan digunakan untuk membelit mikroorganisme yaitu virus atau bakteri. Kehadiran laktoferin dan lisozim pada ASI dapat membunuh bakteri, leukosit dan makrofag berfungsi untuk produksi imunoglobulin serta faktor antistreptokokus yang melindungi dari penyakit sistem pernafasan seperti pneumonia . Imunisasi Imunisasi merupakan usaha untuk membuat kekebalan pada bayi dan anak-anak dengan menyuntikkan vaksin dalam tubuh, sehingga dapat menghasilkan zat kekebalan tubuh guna memproteksi tubuh dari penyakit tertentu. Di Indonesia, beberapa jenis imunisasi harus diberikan pada anak-anak sebagaimana mengacu pada pedoman WHO dan ditambah dengan hepatitis B. Imunisasi dimaksudkan guna membuat bayi dan anak kebal terhadap penyakit, merendahkan tingkat morbiditas dan mortalitas serta Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. mencegah cacat yang timbul dari penyakit. Oleh karena itu, imunisasi penting diberikan pada anak-anak khususnya bayi dan balita yang fungsi sistem pertahanan tubuhnya belum sempurna . Berdasarkan hasil review, terdapat 6 dari 10 jurnal penelitian yang menemukan bahwa imunisasi menjadi faktor risiko pneumonia pada anak usia 0-5 tahun. Penelitian Sutriana dkk. melaporkan anakanak yang tidak memperoleh imunisasi dasar lengkap mempunyai peluang hampir 5 kali lebih besar terjangkit pneumonia daripada anak-anak yang memperoleh imunisasi lengkap . Bayi dan balita yang sudah memperoleh imunisasi akan terbentengi dari penyakit berbahaya yang menyebabkan kematian. Imunisasi seperti campak dan pertusis, dapat mencegah infeksi penyebab pneumonia beserta komplikasinya. Sementara itu, perkembangan penyakit pneumonia pada bayi dan balita yang mempunyai riwayat imunisasi lengkap diharapkan tak bertambah kompleks . Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berdasarkan hasil review yang telah dilakukan, keberadaan BBLR juga menunjukkan faktor risiko pneumonia pada bayi dan anak. Menurut penelitian Sutriana dkk. , anak-anak yang pernah mengalami BBLR mempunyai kemungkinan 3 kali lebih tinggi terjangkit pneumonia daripada anak-anak yang tidak mengalami BBLR . Risiko kematian pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih besar dibandingkan dengan bayi dengan berat badan lahir normal, khususnya pada bulan awal kelahiran dikarenakan produksi antibodi yang belum sempurna dan fungsi organ tertentu yang belum matang seperti organ pernapasan yang belum sempurna, pola pernapasan yang tidak teratur, dan penyerapan nutrisi yang buruk yang dapat menyebabkan perkembangan yang tidak sesuai dengan usianya. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih sensitif terhadap penyakit infeksius, termasuk pneumonia dan penyakit pernapasan lainnya, karena kekebalan tubuh yang rendah, pertumbuhan yang terhambat, dan fungsi organ tubuh yang belum sempurna sepenuhnya. Perkembangan fisik dan mental anak-anak juga dipengaruhi oleh berat badan lahir . Jenis Kelamin Peran jenis kelamin memainkan peran sebagai faktor dalam peningkatan risiko terkena pneumonia. Penelitian sebelumnya mencatat bahwa risiko pneumonia pada anak laki-laki lebih tinggi sekitar 1,46 kali lipat dibandingkan dengan anak perempuan. Faktor hormonal yang mempengaruhi respon imunologis dan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi pada anak laki-laki juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kerentanan terhadap pneumonia . Penelitian yang dilakukan oleh Sangadji NW. Vernanda LO. Muda CAK . juga menegaskan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian pneumonia pada balita. Analisis data menunjukkan bahwa risiko terkena pneumonia pada balita lebih tinggi pada anak laki-laki jika dibandingkan dengan anak perempuan . Hal ini dapat dikaitkan dengan diameter paru-paru yang lebih kecil pada anak laki-laki, serta temuan bahwa anak laki-laki memiliki saluran pernapasan yang lebih kecil, yang berpotensi meningkatkan frekuensi penyakit saluran pernapasan. Dengan demikian, kesimpulannya adalah jenis kelamin memiliki peran penting dalam menentukan risiko terkena pneumonia pada balita, dengan anak laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan. Paparan Asap Perokok Paparan asap rokok adalah salah satu faktor risiko utama yang dapat menyebabkan risiko pneumonia pada anak yang menjadi perokok pasif. Dampaknya pada anak dianggap lebih serius dibandingkan dengan dewasa. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sistem kekebalan tubuh anak belum mencapai tingkat perkembangan sepenuhnya. Paparan rokok dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap respons imun tubuh, baik dalam hal kekebalan humoral maupun seluler . Pada penelitian Sismanlar Eyuboglu T dkk . menunjukkan bahwa paparan asap rokok yang berasal dari orang tua atau anggota rumah tangga lainnya dapat mengubah aktivitas mukosiliar dan karakteristik lendir, yang secara bersama-sama meningkatkan terjadinya pneumonia pada balita. Faktorfaktor seperti jumlah perokok di rumah dan jumlah rokok yang dihisap per hari juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan risiko tersebut . Faktor perokok mempengaruhi kejadian pneumonia pada bayi dan balita melalui paparan asap rokok yang meningkatkan risiko terkena pneumonia. Penelitian menunjukkan bahwa anak balita yang terpapar asap rokok memiliki risiko 28,463 kali lebih besar terkena pneumonia. Selain Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. itu, prevalensi perokok di Indonesia yang mencapai 70,5% pada tahun 2023 Juga menjadi salah satu risiko yang signifikan dalam terjadinya pneumonia pada bayi dan balita. Oleh karena itu, paparan asap rokok memiliki dampak penting terhadap timbulnya pneumonia pada bayi dan balita . Kesimpulan Pneumonia sebagai infeksi pada saluran napas bagian bawah, merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari sepuluh jurnal penelitian mengenai faktor risiko pneumonia pada bayi dan balita, teridentifikasi beberapa faktor yang terkait dengan kejadian penyakit Pertama, status gizi menjadi faktor signifikan, di mana balita dengan status gizi baik memiliki kekebalan tubuh yang kuat, sedangkan gizi kurang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk Faktor kedua, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga memainkan peran, dengan anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia. Imunisasi, sebagai faktor ketiga, memiliki dampak penting dalam memberikan perlindungan terhadap penyakit, termasuk pneumonia. Berat badan lahir rendah (BBLR), sebagai faktor keempat, juga menjadi risiko karena dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko pneumonia. Faktor kelima, jenis kelamin, memengaruhi kejadian pneumonia, dengan anak laki-laki memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan anak Terakhir, paparan asap rokok, terutama dari orang tua atau penghuni rumah, menjadi faktor risiko utama yang dapat meningkatkan risiko pneumonia pada balita. Oleh karena itu, upaya pencegahan pneumonia pada bayi dan balita perlu mempertimbangkan berbagai faktor risiko tersebut, dengan peningkatan status gizi, promosi pemberian ASI eksklusif, imunisasi, penanganan BBLR, pemahaman peran jenis kelamin, dan eliminasi paparan asap rokok sebagai langkah-langkah untuk mengurangi penyakit pneumonia dan meningkatkan kesehatan anak. Conflict of Interest Semua penulis mengonfirmasi bahwa penelitian ini bebas dari konflik kepentingan. Penelitian dan penulisan artikel dilakukan secara independen, tanpa pengaruh eksternal, serta tidak ada kepentingan pribadi, keuangan, atau profesional yang memengaruhi objektivitas dan integritas penelitian. Acknowledgment Supplementary Materials Referensi