Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 45 Ae 53 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Pembelajaran Film Dokumenter terhadap Hasil Belajar pada Materi Sejarah Lokal di SMP Labschool Unesa 1 Martutik Intan Rahayu . Nasution . Niswatin . Ali Imron . 1, 2, 3, . S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Penelitian ini membahas mengenai pengaruh pembelajaran kontekstual berbantuan media pembelajaran film dokumenter terhadap hasil belajar materi sejarah lokal di SMP Labschool Unesa 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar materi sejarah lokal dengan penggunaan pembelajaran kontekstual berbantuan film dokumenter pada kelas VII C SMP Labschool Unesa 1 tahun Pelajaran 2024/2025 dengan jumlah siswa 32 orang, sehingga memberikan inovasi pembelajaran sejarah lokal terbaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan kuasi-eksperimental desain one group pretest-posttest. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalam tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual berbantuan film dokumenter berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar materi sejarah lokal. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan rata-rata peserta didik dari pretest sebesar 49,7 menjadi 86,8 pada posttest, serta hasil uji paired sample t-test yang menunjukkan signifikansi 0,000 < 0,05. Peningkatan pemahaman dalam ranah kognitif ini, mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan menganalisis nilai-nilai sosial perjuangan. Media film dokumenter Arek Suroboyo terbukti memperkuat daya serap peserta didik terhadap materi sejarah lokal melalui penyajian visual yang kontekstual dan relevan dengan lingkungan nyata mereka. Kata kunci: pembelajaran kontekstual. film dokumenter. Hasil belajar sejarah lokal Abstract This study discusses the effect of contextual learning assisted by documentary film learning media on learning outcomes of local history material at SMP Labschool Unesa 1. This study aims to determine the learning outcomes of local history material with the use of contextual learning assisted by documentary films in class VII C SMP Labschool Unesa 1 in the 2024/2025 academic year with 32 students, thus providing the latest local history learning innovation. The method used in this study is quantitative with a quasiexperimental one group pretest-posttest design. Data collection techniques used are tests and documentation. The results of the study showed that the use of contextual learning assisted by documentary films had a significant effect on improving learning outcomes of local history This is shown by an increase in the average of students from the pretest of 49. 7 to 86. 8 in the posttest, as well as the results of the paired sample t-test which showed a significance of 0. 000 <0. Increasing understanding in the cognitive domain is able to foster critical thinking skills and analyze social values of struggle. Arek Suroboyo documentary film media has been proven to strengthen students' absorption of local history materials through visual presentations that are contextual and relevant to their real environment. Keywords: contextual learning. Learning Outcomes of Local history. How to Cite: Rahayu. I,. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Pembelajaran Film Dokumenter terhadap Hasil Belajar pada Materi Sejarah Lokal di SMPLabschool Unesa 1. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 (No. 2025: halaman 45 Ae 53 45 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 PENDAHULUAN Pembelajaran IPS merupakan pembelajaran terpadu yang menggabungkan berbagai ilmu sosial dengan pemahaman yang komprehensif dan mendalam mengenai dinamika kehidupan sosial. Salah satu cabang ilmu sosial yang dipelajari dalam pembelajaran IPS adalah Sejarah, khususnya sejarah lokal. Sejarah lokal adalah kata yang digunakan untuk menceritakan atau mengkarakterisasikan peristiwa sejarah yang terjadi di daerah atau tempat tertentu di masa lalu (Mareta & Jamil, 2. Sejarah lokal mempengaruhi proses peserta didik dalam mengenali peristiwa sejarah lokal seperti kontribusi pahlawan daerah, warisan budaya asli, asal etnis dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam skala lokal. Peristiwa-peristiwa ini sering kali membentuk identitas dan karakter suatu daerah, dan memberikan wawasan mengenai sejarah, tradisi, dan kebiasaan suatu wilayah yang telah diturunkan ke generasi penerusnya (Anwar, 2. Namun, pada pelaksaannya dalam pembelajaran IPS pada materi ini seringkali berfokus pada fakta-fakta abstrak atau peristiwa penting tanpa mempelajari konteks lokal siswa. Pemanfaatan sumber-sumber kontekstual disekitar siswa dalam pembelajaran ini, akan menciptakan hubungan antara materi pembelajaran dan kehidupan nyata peserta didik, sehingga mereka dapat memahami esensi dari apa yang dipelajari, makna dan manfaat yang telah dibangun (Fahira et al. , 2. Berbagai konteks lokal memungkinkan dapat ditemukan disekitar lingkungan kehidupan sosial siswa. seperti situs ataupun cagar budaya seperti makam pahlawan, monument, museum dan tempat bersejarah lainnya dapat digunakan sebagai pembelajaran Sejarah lokal. Pembelajaran harus disesuaikan semirip mungkin dengan keadaan di dunia nyata, sehingga dapat menjadi alternatif pembelajaran IPS yang lebih baik. Sehingga pembelajaran yang semula pasif menjadi aktif serta membangun pemikiran kreatif dan kritis peserta didik. Pembelajaran kontekstual menyatakan bahwa materi pelajaran diangkat dari kehidupan nyata dan pengalaman nyata peserta didik, memiliki potensi yang signifikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Sambonu et al. , 2. Melalui teknik pembelajaran ini, siswa tidak hanya memperoleh teori abstrak tetapi juga memahami bagaimana ide yang telah mereka pelajari dapat digunakan dalam konteks di luar kelas. (Hutapea, 2. Disamping menetapkan metode pembelajaran yang sesuai, penetapan dalam memilih media pembelajaran yang sesuai juga sangat penting. Media pembelajaran berperan vital dalam memberikan pembelajaran lebih mendalam, maka keterlibatan media pembelajaran dalam proses pembelajaran pun sangat diperlukan. Hal ini ditujukan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa (Kaniawati et al. , 2. Media audiovisual ini memberikan kesan muatan materi yang dikemas dalam bentuk berbeda akan memberikan pengalaman yang berkesan dan tidak terikat oleh keterbatasan ruang dan waktu (Hidayatillah & Suprijono, 2. Di antara sumber belajar audiovisual salah satunya adalah film dokumenter. Film pendek Arek Suroboyo merupakan salah satu film dokumenter yang disediakan oleh pemerintah kota Surabaya sebagai media pengenalanan sejarah lokal kota Surabaya dan mengenang pahlawan lokal. Kesediaan sumber daya belajar lokal ini dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, sehingga peserta didik mampu memperoleh pengetahuan yang kontekstual dan relevan terhadap sekitar lingkungannya. Pada pra-observasi yang telah dilakukan oleh peneliti dalam program pengenalan lapangan persekolahan (PLP) di SMP Labschool Unesa 1 mengungkapkan sebuah hasil yang menunjukkan hasil belajar peserta didik masih belum optimal. Hal tersebut dapat terlihat dalam antusiasme peserta didik dalam menerima materi yang disampaikan masih tergolong rendah, sehingga partisipasi aktif dan feedback dari peserta didik masih minim. Materi yang disampaikan dalam pembelajaran di sekolah berfokus pada sejarah nasional dan masih bersifat umum dengan pengenalan tokoh diluar lokalitas peserta didik. Sejarah lokal yang seharusnya diberikan sesuai dengan lokalitas daerah peserta didik ini justru mengesampingkan pemberian penekanan yang cukup pada sejarah daerah tempat siswa tinggal. Dengan hal ini menunjukkan bahwa materi sejarah lokal tidak sepenuhnya merujuk pada kontekstual atau lokalitas yang dekat dengan siswa. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka urgensi dari penelitian ini dibutuhkan model pembelajaran yang tepat dengan yang dibutuhkan peserta didik, khususnya untuk mengoptimalkan hasil belajar dalam materi sejarah lokal. Penggunaan media pembelajaran yang digunakan dalam materi sejarah lokal belum secara maksimal dalam memberikan pemahaman dan memenuhi gaya belajar peserta didik, sehingga diperlukan adanya media yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya dalam materi sejarah lokal. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif kuasi-eksperimental, dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Penelitian ini hanya diberikan perlakuan pada satu kelompok tanpa adanya kelompok pembanding. Objek penelitian ini dilakukan dengan populasi kelas VII SMP Labschool Unesa 1 dengan sampel kelas VII C yang berjumlah 32 siswa. Instrument penelitian yang digunakan berupa tes yang berbentuk esai dan dokumentasi. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas, uji reabilitas, uji normalitas, uji N-gain dan Uji Paired sample t-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang ditujukan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman materi siswa sebelum diberikan perlakuan dan setelah diterapkan perlakuan. Kemudian dari hasil tersebut dianalisis, hasil pertama dari penelitian ini adalah hasil uji validitas Berikut hasil data uji validitas: Tabel 1. Hasil uji validitas No. Soal Soal01 Soal02 Soal03 Soal04 Soal05 r-hitung r-tabel . ata diolah peneliti. April 2. Valid Valid Valid Valid Valid Hasil dari pengujian diatas terdapat soal esai yang berjumlah 5 yang akan digunakan sebagai instrument pengambilan data. Hasil yang didapatkan pada uji tersebut rata-rata r-hitung 0,7 menyatakan seluruh soal dapat dinyatakan valid karena r-hitung lebih besar dari r-tabel sebesar 0,3. Tabel 2. Uji reabilitas CronhbachAos Alpha N of Item . ata diolah peneliti. Mei 2. Pengujian reabilitas didasarkan atas keputusan alpha sebesar 0,60. Variabel dianggap riabel jika nilai variabel tersebut lebih bear dari >0,60 dan sebaliknya jika lebih kecil maka variabel tersebut tidak dapat dipastikan reliabel. Dari hasil uji SPSS diketahui uji reabilitas menunjukkan angka 0. 775 yang berarti lebih besar dari 0. 60, sehingga dapat menunjukkan Tingkat reabilitas yang memadai. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 Nilai Pretest Posttest Tabel 3. Uji normalitas Nilai Signifikansi (Sig. Keterangan Normal Normal . ata diolah peneliti. Mei 2. Berdasarkan table diatas, hasil uji Shapiro-Wilk pada pretest menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,395. Sedangkan hasil uji Shapiro-Wilk pada posttest menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,250 (Sig. >0,. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal pretest dan posttest dalam pembelajaran kontekstual berbantuan media pembelajaran film dokumenter ini berdistribusi normal dengan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. N-Gain 0,738064 Tabel 4. Uji N-gain N-Gain (%) Keterangan Tinggi . ata diolah peneliti. Mei 2. Hasil uji N-gain diatas menunjukkan angka 0,738064 atau 74% yang termasuk kedalam kategori Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbantuan media pembelajaran film dokumenter berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik pada materi sejarah lokal. Tabel 5. Uji paired sample t-test Paired Sample Test Paired Difference 95% confidence interval of the defference Lower Upper Pair 1 Pretestposttest Sig. ata diolah peneliti. Mei 2. Berdasarkan uji yang telah dilakukan, hasil uji menunjukkan nilai t hitung = -54. 396 dengan derajat kebebasan . = 29 dan nilai signifikansi . 2-taile. = 0,000. Sehingga Sig. -taile. < yaitu 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H1 dapat diterima karena terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data penelitian ini, peneliti membuktikan ada atau tidaknya pengaruh dalam penggunaan pembelajaran kontekstual berbantual media pembelajaran film dokumenter terhadap hasil belajar peserta didik pada materi sejarah lokal. Pada penelitian ini sampel yang digunakan yaitu kelas VII C di SMP Labschool 1 Unesa sebagai kelompok yang diberikan perlakuan atau intervensi. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimen yang hanya menggunakan satu kelompok perlakuan. Hasil pretest peserta didik menunjukkan kemampuan pengetahuan peserta didik yang masih lemah dengan nilai rata-rata menunjukkan 49,7. Kemudian dilakukan perlakuan pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual berbantuan media film Arek Suroboyo. Pada Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 saat perlakuan ini diberikan pembelajaran dilakukan lebih terpusat pada pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta didik sebelumnya, kemudian perlakuan dikuatkan melalui pemutaran film sebagai stimulus peserta didik untuk berdiskusi, menganalisis hingga membuat narasi singkat untuk dipresentasikan didepan kelas. Setelah diterapkannya perlakuan tersebut, hasil dari posttest meningkat secara signifikan dengan nilai rata-rata 86,8. Peningkatan hasil belajar peserta didik dibuktikan dengan hasil Uji T paired sample t-test yang menerapkan model pembelajaran kontekstual dengan film Arek Suroboyo diperoleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Dalam penelitian ini terlihat bahwa hasil belajar yang diperoleh Setelah proses pembelajaran perlakuan mengalami kenaikan peningkatan. Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang dilakukan membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model pembelajaran kontekstual berbantuan film Arek Suroboyo pada hasil belajar peserta didik materi sejarah lokal. Pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran IPS pada materi sejarah lokal terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pengetahuan siswa pada materi. Model pembelajaran kontekstual ini menekankan keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini, integrasi materi sejarah lokal yang relevan dengan lingkungan sekitar peserta didik khususnya kota Surabaya divisualisasikan melalui film dokumenter Arek Suroboyo. Filosofi kontrukstivisme yang menjadi pondasi utama pembelajaran kontekstual ini, memposisikan peserta didik tidak hanya sebagai informan secara pasif, namun juga aktif membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang nyata dan bermakna. Dalam pembelajaran berlangsung, peserta didik didorong untuk berpikir kritis, mengeskplorasi dan mengaitkan konsep sejarahdengan kondisi sosial budaya disekitar mereka. dengan demikian, peserta didik lebih mudah memahami makna dari peristiwa pertempuran 10 november 1945 karena konteksnya yang dekat dengan realitas mereka. Pemilihan model pembelajaran yang tepat juga harus diikuti dengan pemilihan media yang tepat Media pembelajaran film dokumenter Arek Suroboyo termasuk kedalam media audio visual yang memiliki peran penting sebagai alat bantu visual yang memperkuat daya serap siswa terhadap materi sejarahperistiwa 10 november 1945. Penyajian peristiwa pertempuran 10 november 1945 yang disajikan dalam bentuk naratif visual memungkinkan peserta didik untuk melihat langsung alur peristiwa, tokoh penting yang terlibat, serta suasana pejuangan masyarakat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Film Arek Suroboyo menggambarkan semangat juang dan keberanian para pemuda Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi. Film ini menggambarkan sosok Sidik. Koesno Wibowo dan Hariyono sebagai tokoh utama yang menjadi pahlawan dalam peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di hotel Yamato. Secara visual, film ini memberikan gambaran nyata mengenai tempat, waktu dan konteks sosial pada masa itu, sehingga peserta didik dapat memahami materi secara lebih konkret dan tidak abstrak. Hal ini ditunjukkan melalui aktivitas pembelajaran yang berlangsung terdapat partisipasi aktif peserta didik dalam sesi diskusi, tanya jawab dan refleksi Setelah menonton film. Respon peserta didik tergolong positif melalui Pendekatan ini, sehingga mereka dapat melibatkan diri secara kognitif maupun emosional. Penelitian ini menggunakan pandangan Jean Piaget pada teori kontrukstivisme, yang menyatakan bahwa peserta didik membangun pengetahuannya sendiri melalui proses aktif yang melibatkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Pada teori ini berfokus pada empat tahapan yaitu Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 skema, asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Metode pembelajaran kontekstual dan film dokumenter Arek Suroboyo menjadi alat bantu penting dalam memfasilitasi proses kontruksi pengetahuan tersebut. Pada tahap pertama yaitu skema, merupakan tahap awal yang menempatkan peserta didik menggunakan struktur pengetahuan yang telah dimiliki untuk memahami informasi baru. Tahap ini berisikan atas konsep, pengalaman atau pemahaman sebelumnya yang menjadikan acuan peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar. Peserta didik disini dibimbing untuk kembali mengulang pengalaman maupun pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, sehingga didapatkan gagasan dasar peserta didik dalam memandang peristiwa pertempuran 10 november 1945. Dalam tahap ini, beberapa peserta didik sudah mengetahui informasi mengenai pertempuran 10 november 1945 sebelumnya dengan melihat teatrikal yang diadakan oleh sekolah setiap memperingati hari pahlawan 10 november. Tahap kedua proses asimilasi, proses untuk mengintegrasikan ide, persepsi atau pengalaman baru ke dalam skema yang telah ada sebelumnya. Pada tahap ini disajikan film Arek Suroboyo sebagai media pembelajaran. Proses ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengintegrasikan informasi baru seperti tokoh, tempat sampai alur peristiwa pertempuran 10 november 1945 ke dalam skema yang telah mereka miliki sebelumnya. Proses ini ditunjukkan peserta didik yang sebelumnya belum mengetahui alur peristiwa dan pada saat siswa menonton film dokumenter Arek Suroboyo, mereka menemukan peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato. Melalui adanya pengetahuan baru yang mereka dapatkan ini, membantu mereka memperluas pemahaman dan pengetahuan mereka. Tahap ketiga proses akomodasi, pada proses ini peserta didik harus dapat menciptakan skema baru yang sesuai dengan stimulus baru atau mengubah skema yang ada sehingga sesuai dengan stimulus. Proses ini terjadi saat peserta didik menemukan fakta atau konsep yang menentang pemahaman lama mereka, sehingga mereka dapat membentuk skema baru atau memodifikasi yang lama. Dalam tahap ini ditunjukkan peserta didik yang mulai menyadari bahwa pertempuran yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh tokoh nasional, namun juga oleh pemuda lokal yang selama ini tidak terkenal yaitu Sidik. Koesno Wibowo dan Hariono. Sehingga dalam tahap ini peserta didik mampu menemui perbedaan atau persamaan dari pengetahuan mereka, dan mulai membentuk pemahaman baru mengenai kontribusi sejarah lokal. Tahap terakhir equilibrasi, yaitu tahap pengintegrasian pengalaman eksternal dan internal yang mereka punya sebelumnya. Dalam proses ini peserta didik berhasil menyesuaikan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru sehingga terbentuk pemahaman yang utuh. Perubahan pengetahuan ini ditunjukkan oleh peserta didik dengan setelah menonton film Arek Suroboyo dan merefleksikan peristiwa sejarah lokal yang disajikan, siswa tidak hanya memperbarui pengetahuannya, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam cara berpikir yang lebih luas dan logis. Ekuilibrasi memungkinkan siswa merasa AupahamAy karena mereka telah melalui proses menghubungkan, menyesuaikan, dan menyelaraskan informasi dengan skema berpikir mereka, sehingga tercipta keseimbangan dalam struktur kognitifnya. Berdasarkan teori konstruktivisme Piaget, proses belajar yang dilalui siswa dalam pembelajaran kontekstual berbantuan film dokumenter mencerminkan tahapan perkembangan kognitif yang sistematis dan bermakna. Setiap tahapan baik skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi secara berurutan berkontribusi langsung dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir kognitif peserta didik, karena mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi membangun makna sendiri berdasarkan pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan dengan lingkungan mereka. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 Dengan demikian, penelitian ini mampu melihat teori kontrukstivisme yang mampu efektif dalam memperkuat pemahaman, meningkatkan kemampuan analisis, dan membentuk pemikiran kritis siswa terhadap materi sejarah lokal khususnya peristiwa pertempuran 10 november 1945. Peningkatan pengetahuan peserta didik terhadap rangkaian peristiwa sejarah lokal dalam pertempuran 10 november 1945 juga menunjukkan hasil yang positif setelah perlakuan diberikan. film Arek Suroboyo berperan dalam membangun pengetahuan baru, karena peserta didik dapat mengamati bagaimana konflik terjadi secara visual. Peningkatan ini ditunjukkan melalui perbandingan jawaban hasil pretest dan posttest juga perbedaan nilai yang signifikan berdasarkan uji t. uraian yang diberikan peserta didik lebih baik dalam menjelaskan latar belakang, tokoh yang terlibat, jalannya peristiwa dan dampak dari peristiwa pertempuran 10 november 1945. Kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi tokoh sejarah lokal setelah diterapkannya pembelajaran kontekstual berbantuan film Arek Suroboyo menunjukkan terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil analisis data. Melalui jawaban pretest dan posttest terlihat bahwa sebelum perlakuan, peserta didik banyak yang belum mampu menyebutkan tokoh-tokoh dalam peristiwa pertempuran 10 november 1945. Setelah diberikan perlakuan pemahaman mereka terhadap tokohtokoh tersebut meningkat, terlihat dari jawaban yang lebih lengkap dan respon positif dalam diskusi kelas. Dalam indikator menganalisis nilai-nilai moral peristiwa pertempuran 10 november 1945, peserta didik mampu merumuskan nilai-nilai tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Ditunjukkan dari beberapa jawaban menyatakan pentingnya semangat pantang menyerah dan gotong royong, yang tidak hanya dalam konteks pertempuran saja namun dapat diterapkan dalam kehidupan sekolah dan bermasyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya mampu menganalisis secara akademik, namun juga menginternalisasi nilai moral sebagai bagian dari sikap hidup mereka. Konsep pemahaman sejarah lokal bagi peserta didik disini tidak hanya bertujuan untuk memahami peristiwa sejarah, namun juga sebagai pembelajaran yang relevan bagi kehidupan masa kini. Nilainilai sosial yang terkandung, seperti semangat juang, solidaritas, tanggung jawab dan nasionalisme dalam peristiwa pertempuran 10 november 1945 dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Sehingga dengan pembelajaran sejarah lokal khususnya peristiwa pertempuran 10 november 1945 ini, dapat direfleksikan oleh peserta didik bahwa peristiwa masa lalu memiliki kesinambungan dengan kondisi masa kini. Peserta didik juga mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai historis dalam sikap, keputusan dan tindakan sehari-hari. sejarah lokal tidak hanya menjadi narasi masa lampau, namun juga sebagai sumber belajar moral dan sosial yang aplikatif dalam membentuk karakter dan kesadaran di masa kini. Keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran ditunjukkan dalam penelitian ini melalui penggunaan pembelajaran kontekstual yang didukung oleh media film dokumenter. Melalui latihan seperti berbagi pendapat, menyelesaikan LKPD, dan berdiskusi dalam kelompok. Siswa dituntut untuk berpikir kritis, menyuarakan pendapat, dan menghubungkan materi yang dipelajari dengan kenyataan di lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan prinsip konstruktivisme yang mendorong siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman langsung. Dalam proses ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi terlibat dalam kegiatan menganalisis, merefleksi, dan merumuskan pemahaman baru, sehingga mendorong tumbuhnya kemandirian Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 Hasil dari pengamatan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbantuan film dokumenter tidak hanya mencakup pada ranah kognitif saja. Pada ranah afektif, pembelajaran ini mampu membangkitkan empati, rasa bangga, dan penghargaan terhadap perjuangan tokoh lokal. Hal ini ditunjukkan melalui semangat berdiskusi dan keinginan mereka untuk tahu lebih banyak tentang sejarah daerahnya. Sementara pada ranah psikomotorik, siswa dilatih untuk aktif menyampaikan pendapat, menulis hasil refleksi, dan berpartisipasi dalam kegiatan penyelesaian LKPD. Ketiga ranah ini saling memperkuat, menunjukkan bahwa pembelajaran yang kontekstual dan berbasis media tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan belajar yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Temuan ini mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang dilakukan oleh (Maskun et al. , 2. bahwa penggunaan film dokumenter secara signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. hal tersebut ditunjukkan pada peningkatan peserta didik dalam memahami konten sejarah dengan membandingkan dengan pengetahuan meeka sebelumnya serta kehidupan sehari-harinya, sehingga memungkinkan peserta didik menghargai pengetahuan mereka dan mengembangkan secara optimal. Hasil penelitian ini menjadi pendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Nadhiroh & Arisona, 2. menunjukkan adanya pengaruh media pembelajaran berbasis film terhadap hasil belajar siswa. Media pembelajaran berbasis film atau audio visual menjadi salah satu alternatif untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan oleh seorang guru. Penggunaan media pembelajaran berbantuan film dokumenter dalam pembelajaran IPS dapat membantu menyajikan suatu peristiwa yang pernah terjadi. Sehingga peserta didik dapat membandingkan pemahaman yang telah didapatkan sebelumnya dan kemudian dikembangkan dengan bantuan film dokumenter ini. Film dokumenter membantu peserta didik siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual tentang peristiwa sejarah, yang menawarkan narasi dan visualisasi yang kuat. Minat dan partisipasi siswa dalam diskusi kelas juga menunjukkan peningkatan, pemahaman mereka tentang konten sejarahmeluas, dan pembelajaran menjadi lebih menarik melalui penggunaan film Setelah pemutaran film, diskusi antar siswa untuk mengevaluasi dan menghubungkan materi dengan pengetahuan sebelumnya, membuat pembelajaran lebih dinamis dan tidak membosankan (Ayu et al. , 2. Hal ini ditunjukkan oleh temuan pembelajaran siswa tentang penggunaan media film dokumenter, yang meningkat pesat. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dipaparkan, pembelajaran kontekstual berbantuan media film dokumenter Arek Suroboyo memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi sejarah lokal. Pembelajaran ini memperkuat aspek kognitif melalui pemahaman yang lebih konkret dan visual, juga membangun kesadaran historis peserta didik terhadap lingkungan lokal mereka. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual berbantuan media film dokumenter Arek Suroboyo berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi sejarah lokal di SMP Labschool Unesa 1. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan rata-rata peserta didik dari pretest sebesar 49,7 menjadi 86,8 pada posttest, serta hasil uji paired sample t-test yang menunjukkan signifikansi 0,000 < 0,05. Media film dokumenter Arek Suroboyo terbukti memperkuat daya serap Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 45-53 peserta didik terhadap materi sejarah lokal melalui penyajian visual yang kontekstual dan relevan dengan lingkungan nyata mereka. DAFTAR PUSTAKA